Kamis, 25 Desember 2008

Apakah Manunggaling Kawula Gusti itu?

Apakah Manunggaling Kawula Gusti itu?


Bicara tentang kejawen, tidak lepas dari istilah "Manunggaling Kawula

Gusti". Inilah yang menjadi dasar ilmu Kejawen. Konsep Panunggalan

sebenarnya berpijak pada paham bahwa semua aspek di jagad rat

sebenarnya manunggal.


Nah apakah yang dimaksud Manunggaling Kawula Gusti disini berarti

meleburnya Ciptaan dengan Penciptanya? Melakukan FUSI? Inilah

kekeliruan terbesar para penganut kejawen pada umumnya. Panunggalan

ibarat sesotya lan embane, ibarat mobil lan mesine.



Tidak ada Fusi, tidak ada peleburan, yang ada adalah setiap bagian

menjalankan fungsi masing masing untuk mendukung fungsi yang lebih

besar. SINERGI.



Konsep Panunggalan ini tidak dapat dipisahkan dari faham Sedulur Papat

Kalima Pancer. Orang Jawa memahami bahwa semua bagian di alam raya ini

tersusun atas INTI dan PLASMA. Pancer adalah INTI dan sedulur papat

adalah PLASMA. Benda terkecil yaitu atom terdiri atas Inti Atom

(pancer)dan Kulit Atom (plasma), sel sel yang menyusun tubuh terdiri

atas inti sel dan plasma sel.



Konsep INTI dan PLASMA ini menjadi dasar berputarnya alam semesta.

Agar dapat berfungsi dengan baik maka INTI dan PLASMA harus

bersinergi. Hal ini begitu merasuk di benak orang Jawa. Sampai sampai

dalam berkegiatan ekonomi, diciptakan pasaran. Pasar yang besar dan

komplit serta agak ke pusat kota/ pemerintahan biasanya mengambil

pasaran KLIWON. Kemudian di sekitarnya, di desa desa mengambil Pasaran

yang lain. dan demikian terus sehingga membentuk rantai dengan KLIWON

sebagai inti dan pasaran lainnya sebagai plasma. Bukti ini dapat

dilihat dengan memperhatikan peta pasar di pulau jawa. Tujuannnya apa?

yaitu PEMBERDAYAAN EKONOMI, bahwa Roda Ekonomi tidak hanya berputar di

pusat saja, melainkan di daerah juga ikut bergairah, dus ketika

Pasaran WAGE, semua BUYER & SELLER berbondong bondong menuju Pasar

Wage, dan demikian pula dengan pasaran lainnya.



Dengan demikian tercipta SINERGI antara PUSAT dan DAERAH. PUSAT

sebagai INTI (PANCER) dan DAERAH sebagai PLASMA. Dalam tata kehidupan

yang lain pun demikian BAPAK IBU sebagai Pancer, dan ANAK sebagai

Plasma. Kalau BAPAK IBU dan ANAK bersinergi, yaitu masing masing pihak

menyadari akan fungsi dan peranannya, menyadari akan hak dan

kewajibannya maka akan membentuk keluarga yang sakinah, mawadah, wa

rohmah.



Dalam TATARAN KOSMIS, manusia Jawa lebih GILA lagi. Berprinsip INTI

dan PLASMA, maka GUSTI yaiku GURUNING NGADADI sebagai PANCER dan

SELURUH TITAH GUSTI sebagai Plasma. Oleh karenanya Manusia Jawa

menganggap bahwa SEMUA MAKHLUK / BENDA CIPTAAN GUSTI adalah

BERSAUDARA. Dengan kesadaran ini, maka akan tercipta HARMONI di alam

semesta, satu makhluk tidak menghancurkan makhluk lainnya, maka betapa

indahnya suasana. Manusia tidak akan menjadi sumber polusi yang

menghancurkan kekayaan alam. Hutan nggak akan terbakar, binatang tidak

akan punah, dhemit tidak akan ngganggu.



Kesadaran manusia jawa dalam menghormati alam diwujudkan dalam bentuk

sesaji. Mereka yang tidak mengerti tentu akan menganggap ini musyrik,

sesat, bid'ah, lsp. Namun pahamilah bahwa sesaji mengandung makna

pemeliharaan alam yang luar biasa. Dalam sesaji dibutuhkan bunga

bungaan, tanaman pangan, hewan, dsb. Sesungguhnya ini adalah pelajaran

betapa manusia harus memelihara ekosistem bila ingin berbakti kepada

PANCER-nya. Kalau hewan2 punah, kalau bunga bungaan rusak, maka

Manusia sudah tidak lagi berfungsi sebagai PLASMA, sehingga RUSAKLAH

TATANAN ALAM SEMESTA.



Contoh lain adalah kebiasaan menabur bunga di pertigaan / perempatan

jalan. Sepertinya itu adalah hal yang remeh dan tak berguna. Namun

tahukah rapal mantra ketika menabur bunga? Ini dia rapalnya "Sejatine

aku ORA NYEBAR KEMBANG, nanging NYEBAR KABECIKAN - Duh Gusti muga muga

SEDAYA TITAH PADUKA ingkan nglangkungi prapatan punika tansah wilujeng

lan pikantuk karahayon" (artinya "Sebenarnya aku TIDAK MENYEBAR BUNGA

melainkan MENEBAR KEBAIKAN, Duh Gusti, semoga SEMUA MAKHLUK CIPTAAN-MU

yang melewati perempatan ini selalu selamat dan memperoleh

kesejahteraan"). Kata kata SEMUA MAKHLUK CIPTAAN-MU menunjukkan betapa

jembar segarane, betapa lebar hati seorang Jawa.



Mari bersama sama kita menyadari fungsi dan peran masing masing, serta

hak dan kewajiban masing masing agar tercipta Harmoni dengan alam

semesta, untuk mewujudkan Negara Indonesia yang EKO ADI DASA PURWA,

PANJANG PUNJUNG PASIR WUKIR, GEMAH RIPAH LOH JINAWI, TATA TENTREM

KERTA RAHARJA.



Semarang, 18 Juli 2007



KI SRONDOL RESPATIKASIH



(Disarikan dari sesorah KI SONDONG MANDALI pada Sarasehan Selasa

Kliwonan - Malem Selasa Kliwon 16 Juli 2007)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar