Selasa, 23 Desember 2008

BHAGAWAD GITA

BHAGAWAD GITA
Bab 01
Gundahnya Sang Arjuna

Bermulalah di sini Gita suci yang dituturkan dari Yang Maha Suci Kreshna. Berkatalah Dhristarashtra :
1. Di dataran nan suci ini (dharmakshetra), tanah kebenaran, tanahnya
para Kuru, berkumpullah putra-putraku beserta laskar-laskar mereka, dan
juga putra-putra Sang Pandu (Ayahanda Pandawa) bersiap-siap untuk suatu
yudha. Apa saja yang sedang mereka lakukan beritakanlah kepadaku, wahai
Sanjaya.

(Keterangan) Kurukshetra disebut juga dharmakshetra, terletak di
Hastinapura di utara kota New Delhi yang modern dewasa ini. Tempat ini
di masa yang silam dianggap suci karena sering dipergunakan oleh para
resi, kshatrya untuk bertapa, bahkan kabarnya juga oleh para dewa-dewa.
Salah satu kata pertama yang disebut di sloka pembukaan Bhagavat Gita
di atas ini adalah kata dharma, inilah inti sebenarnya yang harus
diresapkan oleh sidang pembaca. karena inilah salah satu pesan
sesungguhnya Bhagavat Gita. “Bangunlah jiwa dan ragamu dengan dan untuk
dharma.” Kata dharma berasal dari kata “Dhru” yang berarti “pegang.”
Dharma adalah kekuatan yang memegang hidup ini, dharma tidak terdapat
dalam ucapan-ucapan manis. tetapi adalah kesaktian di dalam jiwa kita
yang merupakan inti dari kehidupan kita.

Dan Kshetra berarti padang, ladang atau medan. Seyogyanyalah kita
bertanya pada pribadi kita masing-masing, “apa sajakah yang selama ini
yang telah kutanam dan kupetik dalam hidupku ini, dharma ataukah
adarma? Bagi yang menanam dharma maka hidupnya akan menghasilkan
karunia Ilahi, dan yang telah melakukan adharma maka kita dapat
bercermin kepada para Kaurawa. “Bersiap-siap untuk suatu yudha,”
Kaurawa menginginkan perang, sedangkan para Pandawa sebenarnya
menginginkan perdamaian. Sang Kreshna yang Maha Bijaksana berusaha agar
perdamaian terwujud, tetapi para Kaurawa selalu menolaknya. maka untuk
mempertahankan diri dan menegakkan dharma/kebenaran terpaksalah para
Pandawa berperang walaupun dengan laskar yang sedikit. Tetapi yang
sedikit ini akhirnya akan menang karena mereka berjalan tegak di jalan
kebenaran.

Dalam ucapan Dhritarashtra yang mengatakan di atas “tanahnya para
Kuru” dan juga ‘”putra-putraku,” tersirat adanya rasa egois atau
ahankara (angkara) yang besar. inilah sebenarnya sumber dari segala
tragedi dalam hidup ini.

Berkatalah Sanjaya :
2. Kemudian pangeran Duryodana, setelah melihat barisan laskar para Pandawa yang teratur rapi, menghampiri gurunya dan berkata.
Yang dimaksud guru di sini adalah Dronacharya, guru sang Kaurawa dan
Pandawa. Di Baratayudha ini Drona mendukung Kaurawa sampai akhir
hayatnya.
3. Lihatlah wahai guruku, barisan laskar para Pandawa yang telah siap
untuk berperang, mereka semua dipimpin oleh murid Sang Guru yang
bijaksana, yaitu putra Sang Drupada.
Yang dimaksud “murid yang bijaksana” di sini adalah Dhristadyumna. la
adalah putra Raja Drupada dari kerajaan Panchala. Dia diangkat para
Pandawa menjadi panglima perang untuk pihak Pandawa; Dhristadyumna
sebenarnya masih merupakan saudara ipar para Pandawa Dalam perang ini
Resi Dorna akan membunuh Raja Drupada, kemudian Dhristadyumna akan
membunuh Drona. Disusul putra Drona yang disebut Asvatama kemudian
membunuh Dhristadyumna. Inilah lingkaran karma.
4. Di sinilah para pahlawan-pahlawan besar berkumpul, dari Bima, Arjuna
dan yang tak kalah kehebatannya yaitu Yuyudana, Virata dan Drupada.
5. Juga Dhrishtaketu, Chekitana dan raja besar dari Kashi, Purujit,
Kuntiboja dan Shaibya, semuanya pendekar-pendekar nan sakti wirawan.
6. Juga yang gagah berani yaitu, Yudhamanyu dan Uttamauja, Saubadra dan putra-putra Draupadi.
Bima : Putra kedua dari Pandu. yang kedua dari para Pandawa.
Arjuna : Yang ketiga dari Pandawa bersaudara, dan yang paling dikasihi Sang Kreshna.
Yuyudana : Disebut Juga Setyaki. pahlawan yang gagah perkasa.
Virata: Raja dari Matsya-desha. seorang raja nan arif bijaksana. Selama
pengasingan para Pandawa di hutan (13 tahun lamanya), tahun terakhir
pengasingan ini para Pandawa menyamar dan bersembunyi di istana Raja
Virata. Alkisah putri sang raja kemudian dikawinkan dengan Abimanyu,
putra Arjuna.
Dhristaketu: Putra Sishupala, raja dari Chedi-desha.
Chekitana: Salah satu pendekar yang gagah berani yang memimpin salah satu dari tujuh divisi laskar Pandawa.
Purujit dan Kuntibhoja: Saudara-saudara laki dari ibu Kunti, ibunya sang Pandawa,
Shaibya: Raja suku Sibi. Duryodana menyebutnya sebagai banteng diantara
manusia, karena ia adalah seorang pendekar sakti yang bertenaga luar
biasa.
Yudhamanyu dan Uttamauja: Pangeran-pangeran dari Panchala, juga
merupakan pendekar-pendekar nan sakti-wirawan. Keduanya dibunuh
Ashvathama sewaktu sedang tidur.
Saubhadra: Putra Arjuna dan Subadra (adik sang Kreshna). la dikenal
juga dengan nama Abimanyu. Dalam perang ini ia memperlihatkan
kepahlawanannya yang luar biasa.
Putra-putra Draupadi: Mereka berjumlah lima orang, yaitu Prativindhya, Srutasoma, Srutakirtti, Satanika dan Srutukarman.
Pendekar-pendekar di atas semuanya kalau bekerja untuk perdamaian
niscaya akan menghasilkan suatu suasana damai bagi semuanya, tetapi
rupanya takdir menentukan yang lain, dan itulah misteri Ilahi yang tak
akan mungkin terjangkau oleh kita manusia ini.
7. Ketahuilah juga, oh Engkau yang teragung di antara yang dilahirkan
dua kali, pemimpin-pemimpin dan pendekar-pendekar di pihak kami, akan
kusebutkan mereka demi Engkau yang kuhormati,

“Yang teragung diantara yang dilahirkan dua kali” adalah ungkapan
yang ditujukan kepada Resi Drona, karena sang resi ini adalah seorang
brahmana dan biasanya kaum brahmana dianggap lahir dua kali. Maksudnya:
pertama seorang brahmana harus lahir di dunia fana ini, tetapi di dunia
ini ia harus menjalani kehidupan kebatinan demi Sang Maha Esa, jadi
“lahir” lagi dengan meninggalkan semua nafsu keduniawian demi
pengabdiannya ke masyarakat dan Tuhan Yang Maha Esa. Inilah tugas
seorang Brahmana seharusnya.
8. Pertama-tama Dikau yang mulia Drona, kemudian Bhisma, Karna dan
Kripa yang tak terkalahkan dalam setiap yudha, juga Ashvatama, Vihana
dan putra Somadatta.
9. Dan banyak lagi pahlawan-pahlawan lainnya yang bersedia mengorbankan
jiwa-raga mereka, bersenjatakan berbagai senjata-senjata yang sakti,
kesemuanya ahli-ahli perang yang tiada taranya.
• Bhisma: Pendekar tua yang ditunjuk menjadi panglima tertinggi di
pihak Kaurawa, yang sebenarnya masih “kakek” para Kaurawa dan Pandawa,
Bhismalah sebenarnya yang membesarkan raja Dhristarashtra dan para
Kaurawa-Pandawa. Beliau amat mencintai para Pandawa, tetapi dalam
perang ini beliau berpihak kepada para Kaurawa karena berhutang budi
dan setia kepada Kaurawa sesuai dengan janjinya. Tetapi Bhisma pernah
bersumpah dihadapan Duryodana tak akan pernah membunuh para Pandawa;
dalam perang Baratayudha ini Bhisma membuktikan kehebatannya sampai
akhir hayatnya.
• Karna: Saudara tiri para Pandawa, adalah teman akrab Duryodana. Oleh
Duryodana, Karna diangkat menjadi raja Anga (sekarang disebut daerah
Bengal di India). Sebenarnya Karna adalah seorang kshatrya maha-sakti
yang penuh dengan kasih-sayang kepada sesamanya, tetapi terikat sumpah
setianya kepada Duryodana maka ia memilih pihak Kaurawa, Setelah
matinya Drona, Karna diangkat menjadi panglima tertinggi Kaurawa tetapi
hanya berlangsung dua hari saja, karena kemudian ia mati di tangan
Arjuna, saudara tirinya sendiri. Beginilah kehendak Dewata.
• Kripa: Saudara ipar resi Drona. Ia adalah diantara tiga pendekar dari pihak Kaurawa yang tidak gugur dalam perang Baratayudha.
• Ahsvatama: Putra resi Drona, juga salah seorang panglima perangnya Kaurawa yang terkenal liciknya.
• Vikarna: Putra ketiga raja Dhristarashtra, adik Duryodana.
• Putra Somadatta: Somadatta adalah raja dari negara Bahikas yang membantu Kaurawa.
10. Tak terhitung jumlah laskar kita yang dipimpin oleh Sang Bhisma,
sedangkan dipihak mereka (Pandawa) yang dipimpin oleh Bima, jumlah
laskar mereka sangat mudah untuk dihitung.

Sebenarnya jumlah tentara Kaurawa memang lebih banyak dari pihak
Pandawa, kabarnya Kaurawa mempunyai laskar lebih banyak empat divisi
dibandingkan pihak Pandawa. Ada juga yang menyebutnya berlipat ganda.

11. Dan telah diatur sedemikian rupa sehingga setiap pendekar dan
pimpinan divisi berada pada posisi masing-masing dan menjaga Bhisma
dengan baik.

Oleh sementara ahli, ucapan-ucapan Duryodana di atas dianggap juga
sebagai ungkapan rasa khawatir Duryodana yang merasa di pihak Pandawa
terdapat lebih banyak pahlawan-pahlawan sakti, walaupun jumlah laskar
mereka lebih sedikit.

12. Untuk memberi semangat kepada Duryodana, Sang Bhisma yang
bijaksana meniup sangkalalanya yang mengeluarkan suara seakan-akan
auman dahsyat seekor singa.

13. Kemudian dari segala penjuru tambur-tambur dan sangkalala
dibunyikan oleh semua pihak, dan hiruk-pikuklah suasana waktu itu
dipenuhi suara-suara ini.

14. Kemudian, duduk di kereta perang nan agung, dengan
pasangan-pasangan kuda-kuda putih, Sang Kreshna dan Arjuna
masing-masing meniup sangkalala mereka.

15. Sang Kreshna meniup sangkalalanya yang bernama Panchjanya, dan
Arjuna meniup sangkalalanya yang bernama Devadatta, sedangkan Bhima
yang perkasa meniup sangkalalanya yang nampak besar, kekar dan kuat,
bernama Paundra,
16. Raja Yudhistira, putra ibu Kunti, meniup Anantawijaya, Nakula dan Sahadewa masing-masing meniup Sugosha dan Manipuspaka.
• Raja Yudhistira: Yang tertua di antara Pandawa adalah seorang
maha-raja yang berwatak tenang, penuh kasih-sayang dan amat bijaksana
dalam segala tindak-tanduknya, tak pernah bohong dalam segala hal.
Beliau dikenal lebih sebagai seorang negarawan daripada seorang
pendekar yang gemar berperang. Sangkalala yang dimilikinya disebut
Anantavijaya yang berarti “kemenangan tanpa akhir” atau juga disebut
“suara-kemenangan.”
• Nakula: Putra keempat Pandawa dikenal amat mahir berkuda, sangkalalanya bernama Sagosha yang berarti “bersuara indah.”
• Sahadewa (Sadewa): Putra Pandu yang paling bungsu memiliki sangkalala
yang bernama Manipuspaka yang berarti “mutiara yang mekar” atau
“bunga-bunga mutiara,” karena sangkalala yang satu ini teramat
indahnya, selain bentuknya laksana mutiara ditaburi pula dengan
mutiara-mutiara asli yang indah.

17. Juga yang ikut meniup sangkalalanya masing-masing adalah raja
dari Kashi yang memimpin laskar pemanah, kemudian Sikhandi (Srikandi)
yang gagah perkasa, Dhristadyumna, Virata dan Satyaki (Setiaki) yang
tak terkalahkan.

18. Juga Drupada dan putra-putra Draupadi, dan juga Saubhadra, semuanya meniup sangkalala mereka dari setiap jurusan.

Shikandi (Srikandi) di India sering disebut juga sebagai putra raja
(sebenarnya ia seorang banci) Drupada, di Indonesia ia dikenal sebagai
pahlawan wanita, merupakan titisan dewi Amba yang menuntut balas kepada
Bhisma. Panahnya akan menghabisi nyawa Bhisma dalam perang ini. Satyaki
adalah sais kereta perang pribadi Sang Kreshna.

19. Suara-suara dahsyat sangkalala-sangkalala ini memenuhi langit
dan bumi tanpa henti-hentinya dan menjatuhkan semangat putra-putra
Kaurawa.

20. Kemudian Arjuna yang di kereta perangnya terdapat panji
bergambarkan Hanoman, memandang ke arah putra-putra Dhristarashtra yang
telah siap untuk berperang; dan tak lama kemudian ketika perang akan
segera dimulai, Arjuna memungut busur panahnya.

21. Dan berkata kepada Sang Kreshna:
Berkatalah Arjuna :
22. Ingin kulihat semua yang ada di medan ini, mereka yang telah
bersiap-siap untuk berperang, dengan siapa aku nanti harus berlaga.
23. Ingin kulihat mereka-mereka yang berkumpul di sini, yang berhasrat
untuk mendapatkan sesuatu yang berharga bagi putra-putra Dhristarashtra
yang berhati iblis itu.
Berkatalah Sanjaya :
24. Setelah Arjuna selesai dengan kata-katanya, Sang Kreshna pun
mengarahkan kereta perangnya, kereta yang terbaik diantara semua
kereta-kereta perang, ke tengah-tengah, diantara kedua laskar yang
berbaris rapi.
25. Di hadapan Bhisma, Drona dan pendekar-pendekar lainnya.
Berkatalah Kreshna :
Lihatlah, oh Arjuna, para Kuru yang sedang berkumpul (di sini).
26. Dan Arjuna pun melihat paman-pamannnya, para sesepuh (kakek-kakek),
guru-guru, saudara-saudara dari ibunya, putra-putra dan para cucu,
misan dan sahabat-sahabatnya, berdiri berbaris rapi.
27. Juga terlihat ayah-mertuanya dan para teman yang terdapat di kedua
belah pihak. Melihat jajaran sanak-saudaranya yang berbaris rapi ini,
Arjuna.
28. Tergetar penuh dengan rasa iba dan berkata pilu.
Berkatalah Arjuna :
Melihat jajaran keluargaku ini, oh Kreshna, bersiap-siap untuk berperang.
29. Sendi-sendi badanku terasa lemas dan bibirku terasa rapat, seluruh tubuhku tergetar dan rambutku tegak berdiri.
30. Busur Gandivaku terlepas dari tanganku dan seluruh kulitku terasa
terbakar; tak kuat aku berdiri tegak lagi; kepalaku serasa
berputar-putar.
31. Dan kulihat pertanda iblis, oh Kreshna! Tak kulihat sesuatu apapun
yang baik dengan membunuh sanak-saudaraku dalam perang ini.
32. Tak kuinginkan kemenangan, oh Kreshna, tidak juga aku menginginkan
kerajaan atau pun kesenangan-kesenangan. Apakah arti sebuah kerajaan
untuk kami, oh Kreshna, atau pun apakah arti dari kesenangan bahkan
hidup ini ?
33. Mereka-mereka ini sekarang berjajar rapi untuk mengorbankan hidup
dan harta-benda mereka, sedangkan kami menginginkan kerajaan, kemewahan
dan kesenangan, bukankah sebenarnya semua itu diperjuangkan untuk
mereka juga.
34. Yang terdiri dari para guru, ayah, putra-putra dan para kakek,
paman, mertua, cucu, saudara-saudara ipar dan sanak-saudara lainnya.
35. Aku tak akan membunuh siapapun juga, walaupun aku sendiri boleh
mati terbunuh, oh Kreshna, takkan kuberperang walaupun aku sanggup
mendapatkan ketiga dunia ini; apalagi hanya untuk satu yang bersifat
duniawi ini ?
36. Setelah membantai putra-putra Dhristarastra, kenikmatan apakah yang
dapat kita miliki, wahai Kreshna? Setelah membunuh penjahat-penjahat
ini, kita sendiri akan tercemar oleh dosa-dosa ini.
37. Tak benar bagi kita untuk membunuh sanak-saudara sendiri, yaitu
putra-putra Dhristarashtra. Sebenarnya, wahai Kreshna, mana mungkin
kita ‘kan bahagia dengan membunuh keluarga kita sendiri?
Arjuna adalah seorang pahlawan besar, tetapi menghadapi situasi yang
unik ini, ia terhempas ke dalam suatu keragu-raguan yang dalam. Arjuna
ke Kurukshetra untuk berperang tetapi tiba-tiba ia tak sampai hati
untuk membunuh sanak saudaranya sendiri, walaupun ia tahu mereka-mereka
ini berhati iblis. Tiba-tiba ia ragu untuk maju, gundahlah Arjuna dalam
“ke akuan” nya. Bukanlah kita manusia ini sering juga mengalami
tekanan-batin yang berat dalam mengambil suatu keputusan yang
maha-penting ? Bukankah rasa iba sering kali membuka pintu kelemahan
kita dan mengantarkan kita ke arah kehancuran itu sendiri’1 Itu semua
karena kita terikat akan sanak-keluarga, harta-benda, nama posisi kita
dalam masyarakat. Menjadi budak dari adat-istiadat demi kepentingan
egois orang lainnya.
Arjuna terjebak oleh rasa ibanya, oleh adat-istiadat dan simbol-simbol
duniawi. Ia lupa tugas manusia sesungguhnya adalah demi dan untuk Yang
Maha Esa, dan jalan ke Dia berarti meninggalkan semua milik duniawinya
baik yang berbentuk konkrit (nyata) maupun yang berbentuk abstrak.
Dalam agama Kristen kita menjumpai suatu persamaan dalam hal ini, Nabi
Isa (Yesus) pernah bersabda: “Seandainya seseorang datang kepadaKu
tetapi belum bersedia meninggalkan ayah-bundanya, anak-istrinya, dan
saudara-saudaranya, maka ia tidak akan menjadi muridKu.” Begitu pun
dalam agama Hindu sering kita jumpai tokoh-tokoh spiritual di masa-masa
yang silam yang harus meninggalkan “semua miliknya,” kalau sudah
memilih jalanNya.
Ini bukan berarti Sang Kreshna mengecam “rasa-iba” atau perasaan
“simpati” atas penderitaan seseorang: rasa-iba sebenarnya adalah sifat
seorang yang satvik, tetapi rasa-iba yang sejati menurut versi Bhagavat
Gita adalah yang tanpa moha, yaitu keterikatan secara duniawi. Rasa iba
yang sejati adalah ekspresi dari cinta atau kasih sayang dari seseorang
yang penuh dengan rasa “welas-asih,” dan tidak seseorang pun akan dapat
mencintai sesuatu/seseorang dengan sejati tanpa memasuki “sinar
pengetahuan Ilahi,” dan bersedia berjalan lurus (tanpa keterikatan
duniawi apapun juga) di jalannya sang dharma.
Di atas, untuk sejenak Arjuna rupanya lupa akan dharmanya. Arjuna lupa
dan belum sadar bahwa sanak-saudaranya yang sebenarnya bukanlah yang
lahir secara fisik sebagai adik, kakak, ayah, ibu, paman, kakek, dsb,
tetapi sanak-saudara yang sejati adalah mereka yang mencintai Yang Maha
Esa dan jalan di jalan lurus Sang Dharma. Merekalah sanak-saudara kita
yang sejati, tulus dan seiman dalam naungan Yang Maha Esa.
Arjuna masih hilang dalam kealpaannya. la lupa bahwa dharma
mengharuskan seseorang untuk melaksanakan semua kehendak Yang Maha Esa
tanpa pamrih, sama sekali tanpa imbalan sesuatu apapun juga baik itu
pahala atau pintu surga, tanpa apapun juga, titik. Hanya bekerja untuk
dan demi Dia! Rasa iba yang sejati harus didasarkan atas dharma. Sang
Rama sendiri untuk menegakkan dharma berperang melawan Rahwana, dan di
Bhagavat Gita Sang Kreshna menganjurkan jalan yang sama kepada Arjuna,
agar Arjuna lepas dari choka (kesedihan) dan moha (keterikatan atau
cinta duniawi).
Di dalam Bhagavat Gita ajaran penting yang tersirat adalah “bunuhlah
atau kekanglah pintu-pintu nafsumu.” Agama-agama yang lain pun selalu
mengajarkan hal yang sama: Zoroaster misalnya mengatakan “berperanglah
terhadap iblis tanpa henti-hentinya,” Sang Buddha berperang dengan Sang
Mara, Yesus berperang dengan Syaitan, dan masih banyak contoh dari
agama-agama yang lain. Arjuna di atas masih lupa bahwa ia harus
berperang melawan Duryodana demi tegaknya dharma.

38. Dengan hati yang dikuasai oleh keserakahan, maka tidak
terlihatlah kesalahan ini yang akan mengakibatkan hancurnya keluarga
kita dan penghianatan atas teman-teman dan para sahabat.
39. Mengapa kita tidak memiliki kebijaksanaan untuk menjauhi dosa
semacam ini, wahai Kreshna - bukankah kita melihat kesalahan ini akan
mengakibatkan kehancuran keluarga kita?
Arjuna masih menilai bahwa sesuatu kewajiban harus dilaksanakan dengan
memikirkan imbalan yang duniawi sifatnya. Sedangkan dharma yang sejati
tidak menuntut apa-apa. Dharma harus ditegakkan demi Yang Maha Kuasa,
dan apapun yang diberikanNya sesudah itu, baik yang menyenangkan untuk
kita atau yang membuat kita menderita karenanya, haruslah diterima
sebagai pemberianNya. Dan itu harus ihlas, tanpa pamrih. Semua dharma
kita adalah kewajiban dan persembahan kita kepadaNya, bahkan harus
penuh dengan tanggung-jawab yang tulus kepadaNya bukan kepada kehendak
unsur-unsur duniawi yang banyak terdapat disekitar kita, yang kalau
dihitung seakan-akan tiada habisnya.
40. Dengan hancurnya sebuah keluarga, hancurlah juga semua
tradisi-tradisi lama kita (kuladharma), dan dengan hancurnya
tradisi-tradisi, larangan dan segala peraturan-peraturan nenek-moyang
kita, maka kekacauan akan menguasai keluarga kita semuanya.
41. Dan kalau kekacauan ini (adharma) berkelanjutan, maka wahai
Kreshna, wanita-wanita dalam keluarga ini akan berjalan serong. Dan
kalau para wanita kita telah berlaku serong, oh Kreshna akan terjadi
percampuran dalam sistim kasta.
Arjuna amat khawatir bahwa kehancuran dalam keluarga besar mereka akan
menghancurkan juga nilai-nilai lama tradisi mereka, dan lebih dari itu,
juga akan menghancurkan sistim kasta yang mereka pegang teguh.
Di dalam Bhagavat Gita, kita akan menemukan bahwa sistim kasta yang
dianut secara diskriminasi adalah salah, suatu yang tidak senafas
dengan inti ajaran Bhagavat Gita. Peranan wanita dalam agama Hindu
sebenarnya sangat vital dan suci, nasib sesuatu bangsa maupun keluarga
sering sekali ditentukan oleh peranan seorang wanita yang dalam hal ini
bisa berupa seorang ibu, istri, dan sebagainya. Tidaklah mengherankan
kalau Arjuna sangat gundah akan hancurnya moral para wanita dalam
keluarga besar mereka. Semenjak masa silam, para wanita dalam agama
Hindu selalu mendapatkan posisi yang agung dan suci, penuh tugas untuk
dharma. Derajat mereka sebenarnya lebih suci dari para pria dan nilai
mereka lebih tinggi. Ini dapat dibuktikan dari kedudukan para dewa-dewi
dalam legenda-legenda Hindu, juga suatu upacara suci tidak akan sah
kalau tidak dihadiri seorang wanita, juga peranan gadis-gadis yang
masih suci amatlah vital dalam upacara untuk para leluhur dan tentunya
masih sekian banyak contoh-contoh lainnya yang dapat kita baca sendiri
di epik Mahabarata dan Ramayana di mana peranan wanita amat menonjol
penuh kebajikan.
42. Dan kekacauan ini akan menjerumuskan, baik keluarga kita maupun
yang menghancurkan nilai-nilai tradisi, ke neraka. Dan arwah para
leluhur pun akan terabaikan karena tak akan mendapatkan air dan sesajen
(yang berbentuk bulatan terbuat dari beras).
Arjuna amat khawatir kalau peperangan ini akhirnya malah merusak
nilai-nilai tradisi lama dan agama mereka, sehingga arwah para leluhur
pun ikut makan getahnya dengan tidak mendapatkan sesajen lagi. Biasanya
para wanitalah yang mengatur sesajen ini pada upacara-upacara keagamaan
tertentu. Kalau wanita-wanita dalam keluarga mereka sudah tidak setia
lagi kepada leluhur mereka tentu akan timbul kekacauan dalam tradisi
ini, pikir Arjuna. Upacara sesajen untuk para leluhur disebut shraddha.
43. Karena ulah yang menghancurkan keluarga kita ini, terciptalah
kekacauan dalam sistim varna (kasta) yang ada dalam tradisi kaum kita
dan hancurlah keluarga ini.
44. Dan kami dengar, wahai Kreshna, bahwa barang siapa kehilangan nilai-nilai tradisi keluarga, mereka akan tinggal di neraka.
45. Aduh, Betapa besarnya dosa yang harus kita pikul dengan membunuh sanak-keluarga hanya demi kemewahan sebuah kerajaan.
46. Lebih baik aku dibantai putra-putra Dhristarastra dengan senjata mereka, dan tak akan kulawan mereka.
Berkatalah Sanjaya :
47. Setelah mengatakan hal-hal tersebut (di medan perang), Arjuna
terjatuh ke sandaran kursi (kereta perangnya), dan menghempaskan panah
serta busurnya; seluruh jiwanya tercekam dengan rasa gundah-gulana.
Arjuna sebenamya adalah seorang kshatrya yang bersih, tetapi pada saat
ini hatinya diselimuti awan tebal. la sebenarnya, seakan-akan berbicara
tentang vairagya (penyerahan diri secara total), tetapi hal ini
dilakukannya karena keterikatannya kepada sanak-keluarga dan harta
duniawi, bukan vairagya kepada Yang Maha Esa.
Banyak yang bertanya apa perbedaan antara cinta (moha) dan
cinta-sejati? Yang pertama adalah kulit luarnya yang selalu terikat
pada sesuatu benda atau seseorang secara duniawi, sedangkan
cinta-sejati adalah suatu ekspresi dari suatu kesadaran yang
dianugerahkan oleh Yang Maha Esa kepada kita semuanya yang sebenarnya
penuh dengan rasio, pertimbangan, dan perhitungan yang penuh tanggung
jawab baik kepada masyarakat maupun Yang Maha Pencipta.
Cinta sejati tidak terikat pada batas-batas pribadi seseorang. Arjuna
tidak dapat berperang karena ia masih terikat dalam batas-batas
“miliknya,” ia masih mencintai semua sanak-keluarganya dalam batas
duniawi. Arjuna lupa akan akhir hidup kita semuanya, tidak ada sesuatu
apapun yang akan kita bawa kembali ke alam sana, karenanya Arjuna masih
harus belajar tentang nishkama-karma (sesuatu tindakan atau pekerjaan
tanpa mengharapkan pamrih).
Sang Kreshna maklum Arjuna sedang mengalami depresi mental yang sangat
berat, Beliaupun memulai ajaran-ajaranNya demi membangun lagi jiwa-raga
Arjuna agar terjun lagi penuh semangat dan vitalitas untuk menghadapi
hidup ini yang penuh dengan segala cobaan tetapi juga tugas-tugas dari
Yang Maha Pencipta untuk kita semua.
Inti ajaran Bhagavat Gita adalah, pembinaan mental diri kita sendiri
secara batin. Gita mengingatkan dan sekaligus mengajarkan bahwa
kelemahan adalah dosa; sesuatu kekuatan diri haruslah dibina dengan
disiplin yang kuat dan tanpa pamrih. Kekuatan ini harus bersih dari
segala unsur-unsur duniawi dan penuh dengan gairah hidup demi dharma
kita kepadaNya. Pesan Sang Kreshna dalam Bhagavat Gita adalah
“berdirilah dan berperanglah melawan kebatilan.” Hidup adalah
perjuangan demi nilai-nilai kebenaran; hidup juga adalah sebuah kuil
atau pura dari pemujaan kita kepadaNya tanpa pamrih. Maju terus pantang
mundur demi dharma-bhaktimu kepadaNya, bukan kepada hasrat-hasrat
pribadimu dalam bentuk apapun juga.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, bab yang pertama ini disebut sebagai
Ilmu-Pengetahuan tentang Ilahi, sebuah Karya Sastra yang berbentuk
dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna yang disebut juga Arjuna Vishada
Yoga atau Yoga Sang Arjuna dalam Kedukaannya.
Bab pertama disebut “Vishada Yoga.” Vishada berarti depresi (karena
duka), yoga di sini berarti bagian atau bab. Vishada yoga adalah
permulaan dari Bhagavat Gita. Sebenarnya kalau ditelaah secara
mendalam, maka rasa depresi atau Vishada ini adalah anak tangga pertama
menuju ke kehidupan spirituil atau kebatinan. Setiap manusia harus
mengalaminya setelah tersandung dalam berbagai aspek kehidupannya yang
gagal, dan masuklah ia kemudian ke dalam suatu kegelapan seakan akan
tanpa jalan keluar, kemudian barulah ia meniti secara perlahan dari
gelap menuju ke terang. Dalam setiap depresi ini kalau sudah tidak
terlihat jalan keluar maka kita akan berteriak dalam kedukaan yang amat
dalam: “Apakah arti kehidupan ini? Apakah arti semuanya ini? Mengapa
kita harus dilahirkan? Kemana kita akan pergi sesudah mati nanti? Dan
sering sekali kita mengucapkan, “Oh Tuhanku mengapa Kau lupakan daku?”
Mengapa Kau tinggalkan daku sendiri dalam duka ini?” dan “Oh Tuhan
Dikau tak adil pada ku?” dan lain sebagainya, sebagai tanda-tanda
frustrasi dalam diri kita,
Setiap manusia kemudian harus masuk ke dalam suatu keheningan sebelum
ia kemudian melangkah masuk dalam suatu bentuk ilmu pengetahuan tentang
dirinya sendiri. Dalam keheningan ini setelah membunuh atau menguasai
semua bentuk rasa egonya baik yang berbentuk positif (baik) maupun
negatif (buruk), ia akan menemukan bahwa ia tidak berdiri sendiri dan
semua ini ada yang mengatur. la akan menemukanNya, yang selalu
mengayominya, menuntunnya dan kasih-sayang kepadanya. la (Yang Maha
Esa) selalu hadir dalam setiap agama dengan bentuk dan versi yang
berlainan sesuai dengan kepercayaan masing-masing individu; dalam
Hindhu Dharma Ialah Sang Kreshna (Ilahi dalam bentuk manusia), Sang
Penuntun jalan kehidupan kita. Camkanlah bahwa untuk mendapatkan
penerangan, seseorang melalui jalan takdir biasanya harus mengalami
kegelapan dulu. Begitu juga Arjuna dan begitu juga kita manusia, sampai
suatu saat nanti, kita pun, seperti Sang Arjuna akan mengucapkan:
Engkaulah yang Terutama,
Engkaulah Tujuan yang Tertinggi,
Dari ujung ke ujung Kau penuhi alam semesta ini,
Oh Dikau Bentuk yang Tanpa Batas (Anantarupam). [XI, 38]

Bab 02 - Dimulailah Ajaran Bhagavat Gita
Berkatalah Sanjaya :
1. Sang Kreshna pun penuh dengan perasaan iba bersabda kepada Arjuna
yang sedang dalam keadaan gundah, dan kedua matanya penuh dengan
linangan air mata dan merasa dirinya tanpa semangat dan harapan lagi.
Berkatalah Sang Kreshna Yang Maha Pengasih :
2. Dari manakah timbulnya depresi batinmu ini, pada saat-saat yang
penuh dengan krisis seperti ini? Menolak berperang adalah tidak pantas
untuk seorang Aryan. Penolakan ini akan menutup pintu masuk ke sorga.
Penolakan ini adalah puncak dari kehinaan, oh Arjuna!
3. Janganlah bertindak sebagai seorang pengecut, oh Arjuna! Tiada laba
yang akan kau petik dari kelakuanmu ini. Buanglah jauh-jauh kelemahan
hatimu. Bangkitlah, wahai Arjuna!
Berkatalah Arjuna :
4. Bagaimana mungkin, wahai Kreshna, daku menyerang Bhisma dan Drona
dengan panah-panahku dalam perang ini? Bukankah mereka sebenarnya layak
untuk dijunjung tinggi, oh Kreshna?

5. Lebih baik hidup sebagai pengemis di dunia ini, daripada
membantai para guru yang agung ini. Dengan membunuh mereka, yang
kudapatkan hanyalah kepuasan yang bergelimang darah!

6. Juga kami tak tahu manakah yang lebih baik - kami mengalahkan
mereka atau mereka mengalahkan kami. Dengan membunuh putra-putra
Dhristarashtra, yang berdiri sebagai lawan, berarti juga menghilangkan
sendi-sendi kehidupan (keluarga besar mereka).

7. Seluruh svabhavaku (jiwa-ragaku), serasa sedang dirundung rasa
lemas dan rasa iba, dan hatiku bimbang untuk melaksanakan kewajibanku
ini. Maka kumohon kepadaMu. Ajarilah daku, sesuatu yang pasti, yang
manakah yang lebih baik. Daku adalah muridMu.* Daku berlindung di dalam
diriMu. Ajarilah daku.**

Arjuna terombang-ambing di antara kesedihannya dan rasa tanggung
jawabnya dalam menunaikan kewajibannya sebagai seorang kshatrya. Dan
puncak dari keragu-raguannya ini adalah berpasrah diri kepada Sang
Kreshna agar ditunjukkan jalan yang benar dan pasti.

* Aku adalah muridmu dan aku sedang mencari penerangan’: inilah
kira-kira yang dimaksud oleh Arjuna. Dalam hidup ini ada tiga tahap
untuk seorang jignasu (seseorang yang mencari): pertama-tama ia akan
masuk dalam tahap “mencari,” kedua ia akan menjadi seorang murid,
seorang yang ingin sekali belajar sesuatu dan pada tahap ketiga ia
menjadi seorang “anak” dari sang Guru untuk kemudian dituntun.
Selanjutnya sang jignasu akan masuk kedalam suatu tahap yang “tenang”
dan tidak lagi dalam keadaan “depresi.”

** ‘Ajarilah daku’ dalam bahasa Sansekertanya adalah “shadhi mam”
yang juga dapat berarti pengaruhilah daku. Seorang Guru kebatinan tidak
saja mengajari muridnya dengan ajaran secara verbal maupun tertulis
tetapi juga akan menimbulkan suatu “shakti atau “energi” di dalam diri
seorang murid. Dalam pengembaraan kita dari setitik atom sampai ke
Atman (Inti-Jiwa kita), kita semua memerlukan sebuah jembatan, dan
jembatan ini adalah seorang Guru yang sejati. Carilah dia dan
berlindunglah di dalamnya, niscaya kau akan berhasil melalui jembatan
ini ke tujuanmu. Tetapi ingat seorang guru bukan untuk
berbantah-bantah, seorang guru adalah penuntunmu, dan engkau harus
tulus jiwa- dan ragamu dalam pengabdianmu kepadanya, dan barulah jalan
akan terbuka, bukan dengan berdebat kepadanya.
8. Rasa bimbang ini merubah seluruh indraku menjadi layu. Aku tak
melihat masa depan, walau seandainya aku berkuasa tanpa batas atas
seluruh permukaan bumi ini atau pun atas para Dewa-Dewa.
Berkatalah Sanjaya :
9. Setelah ucapan-ucapan Arjuna ini selesai, Arjuna berkata kepada Sang
Kreshna: “Aku tak akan berperang.” Dan dengan kata-kata ini Arjuna pun
langsung berdiam diri.

Arjuna bersikap diam diri. Diam atau pun hening sebenarnya adalah salah satu “guru” kita.
10. Kemudian Sang Kreshna penuh dengan senyuman bersabda kepada Arjuna
yang masih diliputi kedukaannya (masih terduduk) di kereta yang berada
di antara kedua laskar ini.

Kreshna tersenyum karena ia mengetahui bahwa kesedihan Arjuna
sebenarnya adalah proses cinta-duniawi yang terpengaruh oleh ilusi Sang
Maya. Arjuna sedih karena belum memiliki ilmu pengetahuan yang sejati.
Arjuna harus melewati dulu semua rasa egonya baik yang buruk maupun
yang baik, untuk mencapai suatu “pengertian” tentang hidup ini.

Sang Kreshna tersenyum karena Ia sadar bahwa Arjuna harus melalui
proses “habis gelap terbitlah terang.” Arjuna harus disadarkan dan
diluruskan jalan pikirannya bahwa tradisi lama memang tidak boleh
dibunuh tetapi sebaliknya harus dimanfaatkan sebagai alat bagi
langgengnya kebenaran untuk segalanya. Keadilan harus ditegakkan kalau
tidak agama dan tradisilah yang akan menuju ke arah kehancuran total.

Sang Kreshna tersenyum karena apa yang diutarakan oleh Arjuna adalah
kulit-luar dari kitab-kitab shastra dan Upanishad. Arjuna lupa akan isi
ajaran-ajaran semua itu dalam bentuk yang sebenarnya. Apakah dharma itu
sebenarnya? Arjuna alpa akan hal itu, baginya dharma adalah tradisi dan
peraturan yang sesuai dengan adat-istiadat ritual; bagi Sang Kreshna
dharma adalah suatu peraturan atau tata-cara atau hukum yang
menganjurkan/mewajibkan seseorang untuk bekerja demi Yang Maha Esa,
sesuai dengan segala kehendakNya, untuk mereka-mereka yang menderita
dan tersiksa dan diperlakukan tidak adil, dan semua itu tanpa pamrih
dalam bentuk apapun juga, tetapi diserahkan kembali kepada Yang Maha
Esa.
Berkatalah Sang Maha Pengasih :
11. Dikau bersedih hati untuk mereka yang seharusnya tidak perlu dikau
risaukan, tetapi dikau bertutur seakan dikau amat bijaksana. Seseorang
yang bijaksana tak pernah bersedih baik untuk yang hidup maupun untuk
yang telah tiada.

Kesedihan Arjuna adalah berdasarkan kebodohan, Arjuna tidak sadar
akan arti hidup dan mati yang sebenarnya, kedua-duanya adalah permainan
Sang Maya (Ilusi-Ilahi), Inti-Jiwa (Atman) kita tak akan pernah mati.
Seseorang yang bijaksana akan terus jalan dalam hidup ini penuh dengan
dedikasi akan tugas-tugasnya bagi Yang Maha Esa tanpa perduli akan
ilusi yang beraneka-ragam bentuknya yang selalu mencoba mencengkeram
kita dengan berbagai cara yang baik maupun yang buruk, baik dengan
jalan kekerasan maupun kasih-sayang (moha). Bukankah Columbus yang
terserang badai dalam suatu pelayarannya pernah berteriak, Lajulah
terus, terus dan terus. Di dunia ini tidak ada jalan mundur, yang ada
hanyalah jalan terus baik kita mau atau tidak. Tidak ada jalan lain.
Bab ini disebut Sankhya Yoga yang berarti yoga Kebijaksanaan,
kebijaksanaan yang disarikan dari seluruh Upanishad-Upanishad. Sloka
11-38, akan banyak mengupas soal kebijaksanaan ini.

12. Tiada waktu di mana Aku tak pernah hadir dan juga engkau, juga
mereka-mereka ini, dan juga semuanya, dan kita semua akan selalu terus
hadir.

Badan atau raga kita akan selalu hidup dan mati sesuai dengan masa
pakainya, tetapi Inti-Jiwa (Atman) akan selalu mengembara dari satu
raga ke raga yang lainnya, tanpa henti sesuai dengan karmanya. Inilah
yang harus disadari Arjuna. Seseorang sebenarnya tidak pernah mati,
yang mati adalah raganya, suatu permukaan kasar yang merupakan medium
belaka. Raga selalu menikmati semua kesenangan dan juga merasakan
penderitaan yang diakibatkan oleh kesenangan itu, tetapi Atman akan
jalan terus tanpa terkontaminasi sedikitpun. Arjuna dalam kebodohannya
mencampur-adukkan antara yang “nyata” dengan yang “tidak nyata.”

13. Sang Inti Jiwa ini berkelana dari satu raga ke raga lainnya
sambil melewati masa kanak-kanaknya, masa remaja dan masa tuanya.
Seorang yang bijaksana akan maklum akan semua ini dan tidak terpengaruh
oleh ilusi ini.

Timbul pertanyaan mengapa Sang Jiwa selalu berkelana dari satu raga
ke raga yang lainnya, tidak lain karena harus melalui berbagai
perjalanan yang sudah digariskan oleh Yang Maha Pencipta, dan merupakan
pengalaman untuk memperkaya diri Sang Atman ini, dan pada akhirnya
kembali ke Sang empuNya sesuai dengan tugas dan siklus yang sudah
diatur. Sedangkan raga itu sendiri sebagai suatu medium harus juga
melalui berbagai tahap seperti masa kanak-kanak, remaja dan masa tua,
sesudah itu binasa dan Atman berpindah ke raga lainnya, dan begitulah
siklus ini berputar terus seakan-akan tidak ada akhirnya.

14. Setiap hubungan kita dengan berbagai obyek (duniawi), oh Arjuna,
menimbulkan dingin dan panas, kesenangan dan penderitaan. Semua ini
datang dan pergi, dan tidak abadi. Hadapilah semua ini, Arjuna (sebagai
sesuatu fakta).

Atman sendiri sebenarnya tidak terpengaruh oleh semua obyek sensual
duniawi ini, yang terpengaruh dan merasakannya ini adalah raga yang
ditumpangi Atman. Raga ini setelah ditumpangi Atman akan merasakan
dingin dan panas, kesenangan dan penderitaan, dan sebagainya. Semua ini
harus kita maklumi dan kita jalani sebagai sesuatu yang datang dan
pergi. Kita harus bersikap tidak terikat kepada semua ilusi ini tetapi
juga tidak menutup mata, bahkan harus kita hadapi dan rasakan semua itu
sebagai dedikasi kita kepadaNya, demi dan untukNya.
15. Seseorang yang tenang dalam kesenangan dan penderitaan –tidak
terusik oleh kedua-duanya — ia hidup dalam suatu kehidupan yang tak
pernah mati, oh pemimpin diantara anak-anak manusia (Arjuna)!
16. Yang tidak sejati tidak mempunyai bentuk, Yang Sejati tak pernah
ada habis-habisnya. Kebenaran kedua hal ini telah dirasakan oleh para
pencari Kebenaran.
Yang sejati di sini adalah Atman (Inti Jiwa Kita), yang tidak sejati
adalah raga kita yang selalu habis dan binasa, sedangkan Atman terus
berkelana tanpa ada batas-batasnya. Raga kita berbentuk asat: tidak
abadi, dapat rusak atau mati dimakan waktu atau keadaan. Sedangkan
Atman adalah sat: Kesejatian yang Abadi, dalam Sat selalu tercipta yang
baru, tanpa henti-hentinya, terus-menerus, abadi dan langgeng. Bukankah
Itu sama saja dengan Yang Maha Pencipta. Seorang penyair Barat yang
terkenal di dunia pernah menulis:
Yang Satu Abadi, yang banyak berganti dan berlalu,
Cahaya Ilahi bersinar tanpa habis, bayangan bumi hilang berterbangan.
Hidup, bagaikan sebuah rumah kaca yang memantulkan pelangi berwarna- warni,
Sebenarnya bersumber pada warna putih yang abadi. (Percy Bysshe Shelley)
17. Tiada seseorang pun mempunyai kekuatan untuk menghancurkan Yang Tak
Pernah Binasa, Yang menunjang semua ini. Ketahuilah Ia tak akan pernah
bisa dihancurkan.
Yang dimaksudkan Yang Tak Pernah Binasa di sini adalah Atman (Yang
sebenarnya adalah sepercik kecil dari Brahman). Raga kita akan hancur
dan berganti raga lain, tetapi Atman tak akan pernah binasa karena Ia
abadi.
18. Raga yang ditumpangi Sang Jiwa yang abadi, dan yang tak bisa
dihancurkan atau terjangkau oleh pikiran, dikatakan tidak abadi. Jadi
berperanglah, oh Arjuna!
19. Seseorang yang berpikir bahwa ia membunuh, atau seseorang yang
berpikir ia terbunuh kedua-duanya tidak memahami dengan baik arti dari
kebenaran. Tiada seorangpun yang sebenarnya dapat membunuh atau
terbunuh.
20. Tak ada seseorangpun yang pernah dilahirkan atau pun suatu saat
nanti harus mati. Tak ada seorangpun sebenarnya yang hilang atau
terhenti proses hidupnya (eksistensinya). Ia tak pernah dilahirkan,
bersifat konstan, abadi dan telah ada semenjak masa yang amat silam. Ia
tak pernah mati walau raga habis terbunuh.
Emerson seorang penyair terkenal dari Barat pernah mengatakan tentang
Atman sebagai berikut: “Aku datang, lewat dan berputar lagi.” Sedangkan
Yesus pernah bersabda kepada orang-orang Yahudi, “Ye are gods” (Engkau
semuanya adalah dewa-dewa). “Barangsiapa mengenal dirinya sendiri tahu
akan Cahaya ini,” kata filsuf terkenal Lao Tse dari Cina, sedangkan
seorang sufi terkenal pernah berkata, “Inti dirimu adalah inti Tuhan
itu sendiri.”
21. Seseorang yang mengenal bahwa Jati Dirinya tak akan dapat
dihancurkan dan selalu abadi, tak pernah dilahirkan dan tak pernah
berganti-ganti, bagaimana mungkin orang seperti itu membunuh, oh
Arjuna, atau bahkan mengakibatkan orang lain jadi pembunuh?
“Seseorang yang mengenal Jati Dirinya,” sadar Dirinya hanyalah saksi
dan bukan yang melakukan sesuatu tindakan atau aksi, inilah arti yang
tersirat dari mukti atau penerangan yang sesungguhnya.
22. Seperti seseorang yang mengganti baju usangnya dengan baju yang
baru, begitupun Jiwa ini berganti-ganti raga dari yang lama ke yang
baru.
Dalam Shanti Parwa yang terdapat di kitab Mahabarata, ada perumpamaan
lain dari proses jalannya Jiwa ini yang diibaratkan sebagai seseorang
yang pindah dari rumahnya yang usang ke rumahnya yang baru; inilah
jalan kehidupan Sang Jiwa dari raga ke raga lainnya. Tetapi harus
diingat bahwa yang dimaksud ini bukan raga manusia saja tetapi bisa
juga berbagai ragam raga yang ada di alam semesta ini, seperti hewan,
manusia, tumbuh-tumbuhan, raga-raga lainnya yang bertebaran di laut,
bumi di sistim planet-planet lainnya atau di mana saja di seluruh alam
semesta yang tanpa batas ini. Dan bentuk raga ini bisa saja yang
berbentuk abstrak, atau pun dewa-dewi, makhluk-halus, dll, semuanya
sesuai kehendakNya dan alur karma kita sendiri.
23. Tidak ada senjata yang dapat memisah-misahkanNya, tidak juga api
dapat membakarNya, atau air membuatNya basah, bahkan anginpun tak dapat
mengeringkanNya,
24. Tak terpisahkan Ia. Tak terbakarkan Ia. Tak terbasahkan dan
terkeringkan Ia. Ia abadi dan hadir di mana saja. Ia selalu konstan dan
tak tergoyahkan. Ia hadir semenjak masa yang amat silam, dan selalu
sama selama-lamanya.
Inilah gambaran dari Atman (Inti Jiwa) kita, yang karena bentuknya yang
sangat unik, tak dapat digambarkan secara duniawi, tetapi dapat kita
fahami sebagai sesuatu yang berbentuk Ilahi dan selalu konstan dan
abadi. Tak akan rusak atau pun binasa.
25. Tak terterangkan, tak terpikirkan dan tak dapat diubah-ubah -
begitulah Ia disebut. Setelah mengenalNya seperti itu, seharusnya
engkau (Arjuna) tak perlu lagi merisaukan hatimu.
Diri ini harus bersih dulu dari segala keterikatan duniawi ini yang
aneka-ragam corak dan bentuknya, setelah itu kita akan lebih mengerti
akan hadirNya Sang Atman dalam diri kita dan mengenalNya lebih baik.
Selama kita masih diliputi rasa-ego (apa saja bentuknya), rasa
ketakutan duniawi, dan selalu terikat kepada unsur-unsur disekitar
kita; dan tak pernah menyerahkan semua ini kepadaNya secara tulus,
selama itu juga yang dekat akan terasa amat jauh. Sebenarnya la amat
dekat di dalam diri kita sendiri. Kenalilah Dia !
26. Pun sekiranya kau pikir Sang Jiwa (Atman) ini bisa mati dan hidup,
dan tidak bersifat abadi, wahai Arjuna, tak perlu juga dikau harus
risau dan bersedih hati.
27. Karena sudah pasti yang lahir harus binasa dan yang binasa harus
lahir. Jadi janganlah dikau bersedih untuk sesuatu yang sudah pasti dan
semestinya ini.
Sesuatu yang sudah digariskan Ilahi tak akan bisa berubah, jadi
sebenarnya tak perlu dirisaukan lagi, que sera sera, apa yang akan
terjadi terjadilah. Mati-hidup kemudian hidup-mati, dan seterusnya
sudah semestinya begitu, jadi apa yang harus dirisaukan lagi. Tidak ada
jalan lain, yang mau tak mau harus kita terima karena sudah tidak ada
jalan lain, takdir sudah mengaturnya begitu. Yang penting adalah
kesadaran untuk menerimanya sebagai kewajiban kita kepada Ilahi, bukan
karena terpaksa.
28. Keadaan dari mereka-mereka yang belum dilahirkan tak dapat
diterangkan dalam bentuk duniawi ini. Tetapi pada periode antara
kelahiran dan kematian situasi mereka dapat kita lihat dan fahami.
Setelah mati mereka kembali lagi ke suasana yang tak dapat diterangkan
ini lagi. Jadi untuk apa dikau harus bersedih hati, wahai Arjuna?
Jadi sebenarnya yang diketahui oleh kita manusia ini hanyalah bentuk
kehidupan yang terjadi antara kelahiran sampai dengan kematian kita dan
orang-orang disekitar kita saja. Sebelum dan sesudah itu gelap dan
tidak terang bagi kita. Yang kita rasakan atau kita lihat hanya sedikit
yang ditengah-tengah saja, ujung dan pangkalnya kita tak akan pernah
tahu. Lalu untuk apa kita bersedih hati, toh kita datang dari suatu
alam yang tidak kita ketahui dan kemudian harus kembali ke sana juga,
dan ini berlangsung terus tanpa henti-hentinya. Lalu untuk apa risau
akan semua masalah yang harus kita hadapi, bukankah kita ini sebenarnya
hanya alatNya saja di dunia ini, yang dikirimkan untuk melakukan
tugas-tugasNya saja, jadi berbaktilah kita seharusnya sesuai dengan
kehendakNya. Itulah dharma-bhakti yang semestinya.
29. Ada yang mengesankanNya sebagai sesuatu yang amat menakjubkan, ada
yang membicarakanNya sebagai sesuatu yang amat menakjubkan, dan ada
juga yang mendengarkanNya sebagai sesuatu yang amat menakjubkan, tetapi
tak seorang pun yang benar-benar dapat mengenalNya (mengetahuiNya)
dengan pasti apa Ia sebenarnya.
Kebenaran tentang Atman sebenarnya terbuka untuk kita semuanya; dan
mereka-mereka yang merasakanNya menjadi takjub sendiri. Toh tidak semua
kita ini dapat merasakan ketakjuban ini, karena sudah tersandung dalam
perjalanan sebelum mencapaiNya. Ada yang ragu-ragu, ada yang terhadang
oleh kesulitan-kesulitan dan hanya sedikit yang sampai ke Tujuan yang
menakjubkan ini.
Timbul pertanyaan kalau Dia memang mengasihi kita lalu mengapa banyak
yang harus tersandung sebelum mencapaiNya? Sebenarnya Yang Maha Kuasa
memberikan kita kebebasan untuk memilih. Sering sekali kita-kita ini
lebih condong untuk terikat dengan segala unsur-unsur duniawi ini yang
seakan-akan sudah jadi milik kita atau sudah menjadi urusan pribadi
kita yang tak dapat diganggu-gugat. Seharusnya kita melepaskan semua
unsur ego baik yang positif maupun yang negatif, dan menyerahkannya
semua kepadaNya untuk kemudian dibimbing olehNya sesuai dengan
kehendakNya. Jadilah seperti seorang anak kecil yang bersandar pada
orang-tuanya, polos, bersih dan jujur dalam segala aspeknya. Dan
seperti juga orang-tua kita yang akan selalu membimbing kita dalam suka
dan duka, maka Yang Maha Kuasa pun akan selalu menunjukkan jalan kita
dalam setiap tindak-tanduk kita. Ia sebenarnya setiap hari mengetuk
pintu hati kita dan tersenyum penuh cinta-kasih, yang menjadi masalah
adalah kita menganggapNya Ia berada di tempat yang amat jauh. Bukankah
Ia tersirat dalam keheningan, bahkan Ia sebenamya dapat ditemui setiap
saat dalam diri pribadi kita masing-masing yang juga adalah DiriNya
sendiri. la hadir selalu dalam diri kita, tak usah jauh-jauh mencarinya
di hutan atau di laut, di bulan atau di matahari, carilah Dia dalam
ketenangan dirimu senidiri.
30. Ia yang bersemayam dalam setiap makhluk - adalah Kehidupan dalam
setiap makhluk — Ia tak tersentuh senjata apapun juga. Jadi Arjuna,
seharusnya dikau tidak bersedih hati untuk makhluk apapun juga.
Yang dimaksud Sang Kreshna di sini, adalah Sang Arjuna boleh saja
memikirkan dan memperhatikan semua makhluk di dunia ini, malahan itulah
salah satu aspek penting dalam dharma. Tetapi juga harus tahu bahwa
yang bersemayam dalam setiap makhluk ini, yang disebut Atman tak akan
bisa binasa walau apapun yang terjadi. Jadi sebenamya Arjuna tidak
perlu sedih, karena kesedihan itu sia-sia belaka, takdir sudah
menentukan jalan hidup setiap makhluk ciptaanNya sesuai kehendakNya dan
bukan sesuai kehendak Arjuna atau kita semuanya.
31. Dedikasikan dirimu kepada kewajibanmu dan jangan kau ingkari itu.
Karena tidak ada imbalan yang lebih baik untuk seorang kshatrya,
daripada suatu perang demi kebenaran.
Dharma demi kebenaran adalah tugas suci untuk siapa saja, apalagi kalau
ia seorang kshatrya yang seharusnya membela nusa dan bangsa serta
negaranya dari segala kezaliman dan angkara-murka. Dalam salah satu
kisah Mahabarata tertulis, “Barangsiapa menyelamatkan suatu kehancuran
adalah seorang kshatrya” dan juga tertulis di bagian lainnya, “Hanya
ada dua tipe manusia yang dapat mencapai alam Brahman setelah melewati
konstelasi matahari: yang pertama adalah para sanyasin (orang-orang
suci) yang telah dalam ilmu pengetahuannya dan yang kedua adalah para
kshatrya yang mati dalam peperangan membela kebenaran.” Bukankah itu
berarti bahwa kalau kita selamanya berjalan/berperang demi kebenaran
maka kita sedang menuju ke arahnya, Yang Maha Pencipta.
32. Berbahagialah mereka para kshatrya, yang harus berperang demi kebenaran — terbukalah kesempatan ke sorga tanpa mereka minta.
Sang Kreshna di sini menegaskan bahwa berperang/mati demi kebenaran
membawa kita langsung ke alam sorga; ini berarti bahwa berperang demi
kebenaran adalah tugas yang maha suci bagi kita dari Yang Maha Esa.
Kalau direnungkan dengan baik-baik bukankah kita dikelilingi oleh
berbagai bentuk tidak kebenaran dalam hidup ini, dari segala bentuk
nafsu-nafsu pribadi kita yang negatif sampai ke penindasan yang tidak
berprikemanusian dalam prilaku manusia. Sesuatu bentuk pcmerintahan,
diskriminasi, dan berbagai aspek tidak benar lainnya yang seakan-akan
tidak ada habis-habisnya dan semua itu bertebaran di sekeliling kita
setiap saat.
33. Dan seandainya dikau tak maju berperang di jalan yang suci ini,
dikau akan mengabaikan kewajiban dan kehormatan, dan dikau akan
dikejar-kejar oleh perasaan salahmu itu.
Seseorang yang berjalan atau berjuang di jalan kebenaran harus siap
mengorbankan segala miliknya. Bukan saja sanak-saudara dan harta
bendanya tetapi juga nyawanya sendiri. Apalagi untuk suatu tugas yang
besar dan suci. Sebagai seorang kshatrya, seandainya Arjuna mengingkari
kewajibannya ini, maka ia akan kehilangan segala kehormatannya.
34. Setiap orang akan menghinamu, dan bagi seorang yang terhormat, penghinaaan adalah lebih buruk dari suatu kematian.
35. Para pendekar-pendekar yang besar akan mengira dikau mundur dari
peperangan ini karena rasa ketakutanmu. Dan mereka-mereka yang
menghormatimu akan memandang rendah padamu.
36. Belum lagi hinaan-hinaan lainnya yang diucapkan oleh musuh-musuhmu,
semua itu akan membuatmu lebih lemah lagi. Adakah yang lebih
menyakitkan dari semua itu?
37. Seandainya dikau terbunuh, maka dikau akan ke sorgaloka. Sekiranya
dikau perkasa dalam peperangan ini, maka dikau akan menikmati bumiloka
ini.
Jadi bangkitlah wahai putra Kunti (Arjuna) dan angkatlah senjata untuk yudhamu ini.
38. Samakanlah rasa nikmat dengan derita, laba dengan rugi, menang
dengan kalah, bersiaplah untuk yudha ini. Dengan begitu dikau tak akan
tercemar oleh dosa.
Pada sloka-sloka sebelumnya Sang Kreshna menyindir rasa ego dan
tanggung-jawab Arjuna pada dharma yang sebenarnya. Di sloka atas ini
Sang Kreshna meminta agar Arjuna melaksanakan kewajibannya yang
tertinggi yaitu berperang menegakkan kebenaran. Tugas ini merupakan
tugas yang amat suci bagi seorang kshatrya demi Yang Maha Esa dan
kebenaran.
39. Sejauh ini Aku telah menerangkan tentang ajaran Sankhya. Sekarang
dengarkanlah ajaran mengenai Yoga (llmu pengetahuan), dengan mengikuti
ajaran ini dikau akan lepas dari ikatan-ikatan perbuatanmu.
Yang dimaksud dengan ajaran Sankhya ini adalah ajaran Bhagavat Gita
mengenai KeTuhanan yang Maha Esa, secara khusus Tentang Sang Jati Diri
(Sang Atman). Yang diajarkan adalah hubungan Sang Atman dan raga kita,
di sini ditekankan bahwa Sang Atman yang merupakan inti dari jiwa kita
itu tak mungkin dapat binasa, walau raga kita hancur sekali pun. Sedang
yang dimaksud dengan Yoga di sini, adalah llmu pengetahuan yang sejati.
Ajaran Sankhya ini tidak dapat ditelaah begitu saja, melainkan harus
disertai atau didasarkan pada yoga tentang dharma-bhakti kita kepada
Yang Maha Esa secara benar. Tetapi semua dharma-bhakti ini harus
dilakukan dengan menyamakan rasa kita terhadap dua sifat dualisme yang
saling berkontradiksi, yaitu memandang atau merasa sama akan senang dan
susah, untung dan rugi, panas dan dingin, dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana seseorang dapat mencapai tingkat kesadaran semacam ini?
Caranya adalah dengan menggabungkan daya-intelek (budhi) kita dengan
jalan pikiran kita. Setelah intelek kita sadar bahwa semua unsur
dualisme yang kelihatannya amat berlawanan ini sebenarnya sama saja,
dan hanya merupakan permainan pikiran kita belaka, maka secara tahap
demi tahap kesadaran kita akan meningkat dan kita akan melaju ke arah
Yang Maha Esa dengan baik, dan jadilah kita seorang Buddhi-Yukta
(seorang yang telah mencapai kesadaran).
Seorang Buddhi-Yukta yang baik adalah ia yang telah berhasil
mengendalikan hawa-nafsunya yang bersifat aneka-ragam. Ia juga adalah
seorang yang bersikap sama dan tenang dalam setiap keberhasilan maupun
kegagalan, bersikap tenang dalam segala tugas-tugasnya, dan tidak
memiliki ambisi pribadi tertentu atau nafsu duniawi lagi. Semua
perbuatannya sudah menjadi kewajibannya untuk Yang Maha Esa semata.
Seseorang semacam ini tidak perlu harus dapat melihat Sang Atman yang
bersemayam di dalam dirinya, tetap sudah pasti ia akan dapat merasakan
kehadiran Sang Atman ini. Seorang Buddhi-Yukta yang sempurna akan
selalu tenang tindak-tanduknya, dan stabil jiwanya, akibat dari
pengaruh Sang Atman yang bersemayam di dalam dirinya.
40. Di jalan ini tidak ada usaha yang akan sia-sia, dan tak ada
rintangan yang akan bertahan lama. Sedikit saja usaha dharma ini akan
melepaskan seseorang dari rasa takut yang besar.
Sedikit saja usaha ke arah dharma (jalan kebenaran) ternyata akan
melepaskan kita dari samsara, yaitu penderitaan di dunia ini yang tak
ada habis-habisnya. Karena jalan akhir dari dharma adalah kebebasan
mutlak dan kembali ke Ilahi Yang Tanpa Batas.
41. Budhi (Kesadaran Intelektual) ini, Arjuna, sifatnya tegas dan hanya
menunjuk ke satu arah saja. Tetapi mereka yang tidak tegas dalam
dharma-bhaktinya, maka cara berpikirnya akan berjalan keberbagai arah
seakan-akan tiada habis-habisnya.
Budhi adalah suatu kesadaran total seseorang; yang memilikinya akan
selalu bersifat satu arah saja, yaitu bekerja demi Yang Maha Esa semata
tanpa pamrih sekecil apapun juga. Sedangkan bagi mereka yang belum
sadar, maka cara atau pola berpikirnya pasti didasarkan oleh
kebutuhan-kebutuhan nafsu, keinginan, selera, ego dan
pertimbangan-pertimbangan duniawi lainnya dan efek-efeknya, jadi nafsu
mereka pasti tidak akan ada habis-habisnya karena didasarkan oleh
banyaknya kebutuhan atau tujuan mereka. Budhi bersifat eka sedangkan
nafsu bersifat ananta (aneka ragam tanpa habis-habisnya).
42. Kata-kata manis diucapkan oleh seseorang yang tidak dapat
membedakan, yang tidak bijaksana, yang lebih tertarik dan bahagia
dengan kata-kata yang terdapat di Veda-Veda yang memuat: “yang ada
hanyalah ini saja!”
Disinilah kita harus mencamkan sabda Sang Kreshna di atas ini yang
merupakan peringatan bagi kita-kita yang lebih mementingkan ritus-ritus
atau tradisi agama atau dogma, daripada Yang Maha Esa itu sendiri.
Karena semua itu bukan jalan yang sebenarnya ke arah Yang Maha Esa.
Kata-kata indah dalam weda yang dianggap suci dan indah tidak akan
bermakna kalau tidak didasari dengan dharma-bhakti kita kepada Yang
Maha Esa.
43. Mereka-mereka ini penuh dengan keinginan duniawi. Tujuan akhir
mereka adalah sorga. Akibatnya mereka ini akan lahir kembali. Mereka
melakukan berbagai upacara keagamaan hanya untuk mendapatkan
kesentosaan dan kekuatan duniawi.
Mereka-mereka yang melakukan upacara-upacara keagamaan dengan tujuan
tertentu akan mendapatkan keinginan mereka masing-masing, tetapi
tindakan keagamaan ini tidak akan membebaskan mereka dari samsara,
melainkan membuat mereka lahir kembali ke dunia ini sesuai dengan
karma-karma mereka. Sedangkan seorang karma-yogi yang bekerja
semata-mata demi Yang Maha Esa, maka karmanya akan merupakan
pengorbanan yang tulus dan tanpa pamrih kepada Yang Maha Esa (merupakan
yagna, pengorbanan atau sesajen).

44. Budhi ini bukan untuk mereka yang hidupnya hanya untuk agama
yang dipraktekkan demi kesenangan duniawi, yang berdasarkan kata-kata
Veda, karena pengetahuan ini memerlukan tekad yang keras demi
melepaskan unsur-unsur duniawi (seseorang).
45. Di dalam Veda terdapat ajaran mengenai tiga jenis guna (kualitas
atau sifat manusia). Bebaskanlah dirimu, oh Arjuna dari ketiga kualitas
ini. Bebaskanlah dirimu dari kedua sifat yang saling berkontradiksi.
Tegak dan berakarlah ke dalam kebersihan jiwamu, dalam sifat kebenaran
yang abadi, tanpa merasa memiliki suatu apapun: milikilah Dirimu
sendiri - Gurumu!
Veda mengajarkan tentang guna, yaitu tiga sifat atau jenis kualitas
manusia. Yang pertama sattva, yaitu sifat yang penuh dengan unsur-unsur
kebajikan, kecerdasan, kesucian, kejernihan dan berbagai hal-hal
lainnya yang penuh dengan unsur kebaikan. Yang kedua disebut sifat
raja, yaitu sifat atau aktivitas yang sifatnya menggebu-gebu, juga
suatu bentuk sifat yang selalu ingin memiliki atau mengetahui hal-hal
yang baru, dan sifat-sifat lain yang pada dasarnya selalu penuh dengan
energi dan aktivitas. Sifat ini identik dengan pikiran kita pada
umumnya yang selalu menerawang tanpa henti-hentinya, tanpa batas. Sifat
yang ketiga disebut Jama, yaitu sifat-sifat manusia yang selalu
menjurus ke arah kebobrokan mental seperti sifat-sifat pemalas,
peminum, penjudi, seks-maniak, sifat yang penuh dengan unsur-unsur
gelap yang lengkap sifatnya. Ketiga sifat ini hadir dalam pikiran dan
raga kita, sedangkan Sang Atman atau Sang Jati Diri kita duduk
bersemayam terpisah dari mereka ini semuanya. Sang Atman adalah saksi
Ilahi dalam diri kita sendiri, suatu bentuk Kesadaran Ilahi yang sukar
diterangkan dengan kata-kata, yang bagi yang telah merasakan atau
menyadariNya merupakan Keberkahan Nan Abadi.
Sebenarnya di sini Sang Kreshna sedang menganjurkan kita semua agar
mencari dan menemukan Sang Atman dalam diri kita masing-masing dan
menyembah dan memujaNya penuh dengan dedikasi dan dharma bhakti.
Caranya adalah dengan membebaskan diri kita dari sifat atau rasa
dualisme yang saling berkontradiksi yang hadir dalam setiap aspek
kehidupan kita. Juga membebaskan diri kita dari rasa ego, dari rasa iri
dan benci, dari segala perhitungan-perhitungan atau rencana yang
bersifat amat duniawi, dan hanya memfokuskan diri kita ke suatu jalan
yang penuh dengan sattva, tetapi bukan yang bersifat sattva duniawi
tetapi Sattva Ilahi. Dengan kata lain jadilah seorang manusia sejati
bagi dirimu sendiri, bagi masyarakat banyak dan yang terutama bagi Yang
Maha Esa. Jadilah manusia yang lepas dari segala unsur duniawi dan
hiduplah secara cukup dan sederhana saja, puas dengan apapun yang
diberikan oleh Yang Maha Esa, puas dengan diri dan Diri mu sendiri,
sadar akan DiriNya (Sang Atman), yang hadir di dalam diri kita semua
dan bekerja atau hidup demi Ia semata.
46. Kegunaan Veda-Veda untuk seorang Brahmin yang telah mendapatkan
penerangan Ilahi adalah ibarat sebuah kolam air yang terletak
ditengah-tengah genangan air banjir (bah).
Seorang Brahmin atau Brahmana yang sejati bukanlah yang dinyatakan
secara kastanya, melainkan adalah seorang yang secara sejati menemukan
kesadaran Ilahi dan bekerja untukNya tanpa pamrih. Bagi orang semacam
ini atau yang sudah sampai ke taraf ini, semua ajaran-ajaran Veda
termasuk semua tradisi agama atau pun upacara-upacara ritual menjadi
sekadar simbol saja. Di sloka di atas , diibaratkan seperti sebuah
kolam air tawar ditengah-tengah air bah atau banjir. Dengan kata lain
bagi seorang Brahmin yang sejati, ajaran-ajaran Veda sudah tidak
berarti lagi untuknya karena ia telah melewati semua itu, dan telah
mencapai suatu ajaran Ilahi yang sejati atau dengan kata lain telah
mencapai penerangan Ilahi yang tak terbatas sifatnya.
47. Engkau hanya berhak untuk bekerja, tidak untuk hasilnya. Jangan
sekali-kali motif pekerjaanmu mengarah ke hasil akhir (imbalan dari
pekerjaan ini), dan jangan juga sekali-kali engkau tidak bekerja.
Jangan mengharapkan suatu imbalan/buah/hasil untuk setiap tindakan atau
perbuatan atau pekerjaan kita dengan harapan duniawi kita, tetapi
pasrahkanlah hasil-akhir atau efek dari semua perbuatan ini kepadaNya
semata. Semua hasil atau efek dari perbuatan ini adalah la yang
menentukan dan akan terjadi sesuai dengan kehendakNya tanpa lebih
maupun kurang. Setiap tindakan atau perbuatan kita harus didasarkan
atas kesadaran bahwa semuanya demi dan untuk Ia semata. Dengan bekerja
untukNya tak mungkin kita diarahkan ke jalan yang salah atau merugikan
orang lain. Semua hasil tindakan harus diambil hikmahnya dengan tulus.
48. Lakukan tindakanmu, oh Arjuna! dengan hati yang terpusat pada Yang
Maha Esa, tanpa keterikatan dan bersikaplah sama untuk semua kesuksesan
dan kegagalanmu. Hati yang damai dan penuh rasa bimbang adalah suatu
yoga.
Yoga di sini jadi lebih terang dan luas artinya. Yoga itu disebut
samatvan, yaitu pikiran dan hati yang selalu seimbang dalam setiap
situasi baik menghadapi sesuatu kegagalan maupun kesuksesan, buruk atau
yang baik dan seterusnya. Seandainya seseorang di dalam setiap
tindak-tanduknya dapat selalu balans atau seimbang dan tak terpengaruh
oleh emosinya, maka ia akan mencapai rasa ketenangan di dalam dirinya
dan inilah yang disebut oleh orang-orang Hindu sebagai yoga yang sejati.
49. Pekerjaan demi suatu imbalan itu lebih rendah derajatnya daripada
Buddhi-yoga, oh Arjuna! Maka selalulah bernaung dibawah buddhi
(intelek)mu. Kasihan mereka yang bekerja untuk suatu imbalan tertentu.
Pekerjaan yang benar dan bersih dari segala unsur-unsur duniawi akan
melajukan perjalanan kita ke arah Yang Maha Kuasa karena memang itulah
yang diajarkan oleh Sang Kreshna. Janganlah seseorang bekerja demi
nama, rumah-tangga, dan kedudukannya dalam masyarakat, bekerjalah semua
itu tetapi berdasarkan dedikasi kita kepada Yang Maha Esa semata,
sebagai bhakti kita kepadaNya. Dan jenis pekerjaan itu bisa apa saja,
dari pekerjaan seorang pembersih sampai ke pekerjaan seorang pendeta,
tetapi harus bermotifkan dedikasi yang tulus dan bukan didasarkan pada
imbalan atau efek yang akan diterima. Semuanya terserah Ia yang
menentukan, kita bekerja tanpa pamrih.
50. Ia yang telah menjadikan dirinya seorang Buddhi-Yukta (yang telah
sadar dan mendapatkan kesadaran Ilahi) akan mengesampingkan semua yang
baik dan buruk dalam hidup ini. Jadi berjuanglah untuk Yoga; Yoga ini
lebih bermanfaat dari suatu tindakan yang penuh harapan akan suatu
imbalan.
Seorang yang telah sadar akan peranannya dalam hidup ini suatu saat
akan mengerti bahwa kebaikan dan keburukan sebenarnya hanyalah berupa
ilusi dari Sang Maya (Kekuatan dari Yang Maha Esa juga). Sesuai dengan
tugas-tugas maka kita hidup di dunia ini hanyalah sekedar sebagai
alat-alatNya. dan tentu saja terserah kepada Yang Maha Kuasa apakah
kita ini jadi alat yang baik atau alat yang buruk. Seorang yang telah
mencapai tingkat kesadaran yang benar akan memandang sama, dengan mata,
hati dan pikiran yang sama kepada semua makhluk, semua unsur baik dan
buruk pada setiap makhluk. Orang semacam ini akan selalu tunduk atas
segala kehendakNya, dan tindak-tanduk maupun pikirannya akan selalu
bersandar pada Yang Maha Esa, dan selalu minta dituntun sesuai dengan
kehendakNya semata. Orang semacam ini akan selalu bergairah untuk
bekerja: bukan malahan tidak bekerja karena berpikir semua sudah jadi
kehendakNya,
51. Mereka-mereka yang bijaksana dan telah mendapatkan penerangan
menyerahkan semua imbalan dari setiap pekerjaan (tindakan) mereka;
lepas dari siklus kelahiran, mereka pergi ke alam yang tanpa derita.
Seandainya hati dan pikiran kita telah bersih dari segala nafsu duniawi
dan budhi (daya intelektual) kita penuh dengan kesadaran atau
penerangan, maka setiap tindakan kita malahan akan merupakan ekspresi
kebebasan jiwa kita. Dan jiwa kita akan menanjak dalam perjalannya dari
bhakti dan gnana (kesadaran) ke arah Berkah Sang Ilahi, kemudian
menyusul kepembebasan jiwa kita dari siklus hidup dan mati di dunia ini
(moksha). Di bawah ini terdapat beberapa anak-anak tangga yang lebih
terperinci sifatnya:
1. Karma-yoga : menyerahkan semua imbalan/hasil dari setiap pekerjaan
atau perbuatan baik secara mental maupun secara fisik kepadaNya.
2. Bangkitnya kesadaran intelektual kita (buddhi), dan timbullah kebijaksanaan Ilahi.
3. Lepas dari ikatan lahir dan mati.
4. Mencapai berkah Ilahi, lalu terus ke moksha.
52. Sewaktu kesadaranmu melewati putaran kegelapan (moha), maka dikau
akan mencapai suatu kesadaran tentang apa yang telah kau dengar dan apa
lagi yang akan kau dengar.
Sewaktu kesadaran kita telah mencapai suatu tahap di mana segala nafsu
telah berhenti berfungsi dan tidak penting lagi artinya, maka di situ
kita akan merasakan perbedaan-perbedaan atau arti sebenarnya akan semua
tradisi, upacara keagamaan, dan lain sebagainya yang dianjurkan di
weda-weda.
53. Sewaktu kesadaranmu, yang salah mengerti tentang shruti (ayat-ayat
Veda), mencapai suatu tahap yang kukuh dan tak tergoyahkan dan jiwamu
tenang dalam samadi, disitulah dikau akan mencapai yoga (penerangan ke
dalam).
Samadi adalah konsentrasi jiwa kita ke Inti Jiwa (Sang Atman atau Sang
Jati Diri) yang berada di dalam jiwa kita sendiri. Samadi adalah dialog
atau pertemuan diantara kita dan Sang Atman. Pertemuan atau sentuhan
ini dapat tercapai bila seseorang lepas dari segala keterikatannya
dalam melakukan setiap tugas-tugas duniawinya, termasuk di dalamnya
tugas-tugas keagamaannya. Semua tugas-tugas ini harus dilakukan dengan
pikiran yang sinkron atau selaras dengan kehendakNya. Bagaimana mungkin
kita tahu bahwa apa yang kita kerjakan itu selaras dengan kehendakNya;
dengan menyerahkan hasil dari perbuatan ini kepadaNya secara total dan
kemudian terserah Ia akan efek-efeknya kemudian. Orang semacam ini yang
menyerahkan hasil pekerjaannya bulat-bulat kepada Yang Maha Esa akan
tegak dan kokoh merasakan semua hasil dari pekerjaan atau perbuatannya
yang berefek baik atau buruk, negatif atau positif baginya atau bagi
yang lainnya sebagai kehendakNya. Ia lebih bertindak sebagai alat atau
petugas Yang Maha Esa dan jauh dari hasil perbuatan-perbuatannya.
Karena ia tidak mengharapkan pamrih dari pekerjaan/perbuatannya, maka
selalu ia berpikir semua terserah kehendak Ilahi. Selamanya ia akan
teguh menghadapi apapun juga, dan kalau sudah mencapai tahap ini,
komunikasi atau samadinya dengan Sang Atman akan tercipta dan terjalan
dengan amat baik.
Berkatalah Arjuna :
54. Apa saja ciri-ciri seseorang yang telah mencapai kebijaksanaan yang
stabil ini, yang teguh dalam segala hal, dan telah bersatu dengan Sang
Brahman, oh Kreshna? Bagaimanakah seseorang yang telah mendapatkan
kesadaran Ilahi ini berbicara? Bagaimanakah cara duduknya? Dan
bagaimana cara ia berjalan?
Arjuna seperti juga kita semuanya ingin sekali mengetahui ciri-ciri
khas seseorang yang telah bijaksana dan mencapai kesadaran Ilahi ini.
Sang Kreshna pun menjawabnya satu persatu dengan senang hati, misalnya
di sloka 55, 61 dan 64 yang mendatang ini diterangkan tentang cara
orang bijaksana ini duduk. Di sloka 56 diterangkan tentang caranya
berbicara dan di sloka 58 tentang caranya ia bergerak dalam hidupnya.
Berkatalah Sang Maha Pengasih :
55. Sewaktu seseorang mengesampingkan semua nafsu-nafsu duniawi yang
ada di dalam pikirannya dan merasa puas dalam DiriNya oleh DiriNya,
akan ia disebut sthita-prajna, seorang yang melihat kebijaksanaan
secara tegar.
Seseorang yang merasa puas dengan DiriNya (Sang Atman) dan semua
sentuhan Sang Atman terhadap dirinya adalah seorang yang sudah mencapai
suatu penerangan Ilahi, dan telah berubah tegar dalam setiap hal yang
dihadapinya.
56. Ia yang bebas pikirannya dari rasa gelisah di kala duka dan sakit,
merasa tenang saja di kala senang, lepas dari nafsu duniawi, dari rasa
ketakutan dan marah, adalah seorang yang telah mendapatkan penerangan.
57. Ia yang tak terikat dari sisi mana pun juga, yang tidak pernah
benci maupun cinta pada suatu obyek, yang bertindak secara netral
terhadap suatu yang adil maupun yang tidak adil, orang semacam itu
mempunyai pengertian yang tegar dalam kebijaksanaannya.
Orang yang telah tegar dalam penerangan atau kesadaran adalah seseorang
yang menjadi saksi dalam kehidupannya dan kehidupan di sekitarnya. la
berdiri di atas semua faktor baik yang negatif maupun positif. Baginya
semua itu hanya ilusi saja dan merupakan proses dalam kehidupan setiap
orang. Bukannya lalu berarti ia sudah lemah jalan pikiran atau tindak
tanduknya, tetapi ini justru merupakan ekspresi sejati dari
kebebasannya yang tulus, kuat dan penuh dengan semangat dedikasi
kepadaNya. Ia puas dengan apapun yang diberikanNya, dan setiap hal yang
menimpanya dianggap biasa-biasa saja baik itu berupa kesenangan maupun
kedukaan.
58. Ia yang menarik seluruh organ-organ nafsunya dari semua obyek-obyek
nafsunya dari segala jurusan, ibarat seekor kura-kura yang menarik
semua kaki-kakinya ke dalam tempurungnya, adalah seorang yang telah
tegar rasa pengertiannya dan teguh dalam kebijaksanaan.
Perumpamaan seekor kura-kura adalah suatu contoh yang amat baik, karena
sekali seekor kura-kura menarik semua kaki-kakinya ke dalam tempurung,
maka ia tenang-tenang saja menghadapi reaksi atau ancaman dari luar,
karena sudah merasa aman di dalam tempurungnya ini. Dengan kata lain
dapat diibaratkan sebagai “bersemedi di dalam tempurungnya tanpa rasa
keterikatan dengan apapun di luarnya.”
59. Obyek-obyek sensual akan menjauh dari seseorang yang tidak mau
memberikan umpan kepada mereka, tetapi akan menetap pada mereka yang
menyenanginya. Bahkan sisa-sisa keinginan pun akan pergi dari seseorang
yang telah melihatNya (Yang Maha Esa).
Penyerahan total kepada Yang Maha Kuasa bukan saja berarti menjauhi
semua unsur-unsur duniawi saja tetapi juga berarti menghilangkan
sisa-sisa selera yang masih ada dalam diri seseorang. Bagi yang telah
merasakan sentuhan Ilahi, tidak sedikit pun selera duniawi yang
dirasakannya. Baginya Yang Satu itulah segala-galanya dan Yang Terindah.
60. Oh Arjuna! Organ-organ sensual yang terangsang akan segera
menggerakkan pikiran seseorang, walaupun ia seorang yang bijaksana dan
sedang jalan menuju ke arah sempurna.
Walaupun seseorang telah bertahun-tahun berusaha menuju ke arah
penerangan dan mengabaikan semua kebutuhan sensualnya, tetapi selama ia
masih menyimpan selera untuk hal-hal yang bersifat duniawi, maka setiap
waktu ia bisa saja jatuh bangun oleh hal-hal yang bersifat duniawi ini.
Maka janganlah heran atau tertawa mengejek melihat seorang yang
dianggap bijaksana atau suci tersandung oleh hal-hal yang berbau
duniawi, karena organ-organ sensual dan pikiran kita memang sangat peka
dan mudah dipermainkan oleh Sang Maya.
61. Dengan mengendalikan semua organ-organ sensualnya, ia harus duduk
secara harmonis dan menjadikan Aku sebagai Tujuannya yang Terakhir.
Seorang yang telah berhasil mengatasi semua organ-organ sensualnya,
akan segera mencapai kesadaran yang tegar.
Duduk dan bermeditasi dengan teratur, mengendalikan semua unsur-unsur
duniawi kita (organ-organ sensual kita) baik lahir maupun batin, dan
selalu memfokuskan pikiran dan tindak-tanduk kita ke Yang Maha Kuasa
secara konstan akan menghasilkan suatu penerangan Ilahi atau kesadaran
Ilahi yang tegar. Semua ini memerlukan disiplin pribadi yang kuat dan
salah satu cara untuk membentuk disiplin ini adalah dengan bermeditasi
secara tekun.
62. Seandainya seseorang mengarahkan pikirannya ke arah obyek-obyek
sensual, maka ia akan menghasilkan keterikatan pada obyek-obyek ini.
Dari keterikatan ini timbullah hawa-nafsu. Dari hawa nafsu timbullah
rasa amarah.
Seseorang yang berpikir senantiasa akan hal-hal yang duniawi akan
terikat kepada hal-hal ini, dan sekali terikat akan menjadi kebiasaan.
Dan kebiasaan ini kalau sekali-kali tak didapatkannya akan menimbulkan
rasa amarahnya, rasa-kesal, dan memuncak menjadi angkara-murka. Jadi
yang penting bukan saja penyerahan total dari nafsu-nafsu atau berbagai
keinginan kita tetapi juga pikiran-pikiran kita, karena di dalam
pikiranlah sebenamya terdapat benih atau asal dosa.
63. Dari marah timbullah angkara-murka, dan keangkara-murkaan akan
menghilangkan akal-sehat, dan dengan hilangnya akal-sehat ini hancurlah
daya intelek dan kesadaran (buddhi) kita, dan dengan hilangnya buddhi
ini maka ia akan binasa.
Kalau pikiran sudah kacau maka lupalah kita akan pengalaman-pengalaman
pahit kita yang lampau, karena hilang sudah akal-sehat kita dan rasio
kita porak-poranda jadinya. Lupalah kita akan hal yang baik dan buruk,
dan pada skala besar kalau kita jadi tersesat karenanya, maka lupalah
kita akan tujuan kita lahir ke dunia ini. Itu berarti binasalah kita
secara spiritual.
64. Tetapi seseorang yang penuh dengan disiplin, yang bergerak di
tengah-tengah obyek-obyek sensual tanpa suatu keterikatan kepada
obyek-obyek sensual ini dan dapat mengendalikan dirinya dengan baik,
akan pergi ke suatu kedamaian yang luhur.
Bhagavat Gita menganjurkan kita semua untuk mengendalikan (bukan
menghentikan) semua organ-organ sensual (indra-indra) kita dengan
mengendalikan jalan pikiran kita melalui suatu proses disiplin. Ini
berarti belajar mengendalikan diri, pikiran dan indra-indra kita. Lari
dari kenyataan dunia ini (hal-hal yang bersifat duniawi) adalah percuma
atau sia-sia saja, jadi dianjurkan untuk hidup ditengah-tengah
obyek-obyek duniawi ini dengan mengendalikan diri kita sendiri, maka
akan sampailah rasa perdamaian atau ketenangan yang luhur. Rasa
perdamaian ini akan timbul dari suatu hati yang penuh dedikasi
kepadaNya semata, hati yang betul-betul luhur dan bersih.
65. Setelah mencapai kedamaian, maka berakhirlah derita seseorang, dan
seorang dengan kedamaian semacam ini akan segera mencapai keseimbangan
yang stabil.
Bagi yang tak mau atau takut mengendalikan dirinya, maka jalan ke arah
damai atau ketenangan tidak akan pernah terbuka. Sedangkan bagi yang
penuh disiplin, daya-juang dan tekad, yang penuh dengan kendali, maka
mereka ini akan menuju ke arah Yang Maha Esa, dan karena konsentrasinya
ini maka mereka ini akan mencapai tahap berkah Ilahi dalam bentuk
kedamaian yang abadi dan tak tergoyahkan. Dalam suka dan duka mereka
ibarat timbangan yang stabil dan tidak condong menurun ke satu arah.
66. Untuk yang tak pernah mengendalikan diri, tak akan ada buddhi,
untuk yang tak pernah mengendalikan diri tak akan ada konsentrasi. Dan
kalau tak ada konsentrasi maka tak akan ada kedamaian, dan kalau
seseorang tak memiliki kedamaian maka bagaimana mungkin ia akan
memiliki kebahagiaan?
67. Sewaktu pikiran mengejar obyek-obyek sensual, maka pergi jugalah
prajna (kebijaksanaan, kesadaran), ibarat arus yang menyeret sebuah
perahu di lautan.
68. Jadi, oh Arjuna, ia yang seluruh indra-indranya telah terkendali
dari obyek-obyek sensual, maka buddhinya telah mencapai keteguhan.
69. Apa yang merupakan malam bagi semua insan, bagi seorang yang penuh
disiplin dirasakan sebagai pagi hari. Dan apa yang merupakan pagi bagi
semua insan merupakan malam untuk seorang muni (seorang yang telah
mencapai kesadaran penuh).
Semua manusia mungkin atau sedang larut dalam tidurnya Sang Maya,
tetapi seorang muni akan tegar terbangun dan bernafas dalam
kesadarannya. la acuh saja terhadap ilusi Sang Maya. Sebaliknya ia akan
tertidur untuk hal-hal yang bersifat duniawi yang bagi manusia pada
umunya akan merupakan kebutuhan yang amat vital, karena mereka
mengikuti indra-indra mereka tanpa kendali. la terpejam untuk duniawi
tetapi matanya terbuka selalu ke arah Ilahi dan cinta-kasihNya Yang
Agung, yang tak pernah kunjung habis.
70. Seseorang yang kemauan-kemauan indranya, ibarat sungai-sungai
mengalir ke lautan yang selamanya tenang-tenang saja menerima
aliran-aliran sungai ini. Orang ini akan mencapai kedamaian, bukan ia
yang memeluk erat-erat nafsu-nafsunya.
Sungai-sungai mengalir dari berbagai arah ke lautan yang lepas, tetapi
sang lautan tak pernah mengeluh atau goncang karenanya dan selalu
dengan tenang dan tegar menerima semua aliran-aliran air yang telah
tercemar ini, bahkan dikembalikannya dalam bentuk uap yang bersih untuk
dijadikan hujan oleh alam itu sendiri. Begitu pun pikiran seseorang
yang telah tegar jiwa-raganya demi dedikasinya kepada Yang Maha Esa. la
akan selalu kuat menghadapi semua cobaan dan kemauan-kemauan
indra-indranya dalam kedamaian yang abadi.
71. Seseorang yang melupakan semua keinginannya dan bertindak lepas
dari segala hasrat, tanpa rasa egoisme dan tanpa rasa memiliki apapun
ia pergi ke arah damai.
72. Inilah daerah suci (brahmishiti), oh Arjuna! Setelah mencapai
daerah ini tak ada seorangpun yang kacau pikirannya. Barangsiapa,
bahkan pada detik-detik akhir hayatnya mencapai daerah (kondisi) ini,
maka ia akan pergi ke brahma-nirvana, di mana terdapat Berkah Sang
Ilahi.
Yang dimaksud dengan daerah ini sebenamya adalah kondisi atau status
seseorang. Dalam kondisi atau status yang dimaksud ini seseorang pemuja
dan Sang Brahman telah mencapai suatu kesatuan yang tak dapat
dipisahkan lagi. Seseorang yang telah mencapai kondisi ini akan
kehilangan semua ilusi duniawi dan Sang Atman akan bersinar di dalam
dirinya, dan sampailah manusia ini ke arah sempurna dan kesucian.
Bersatu dengan Yang Maha Esa (Sang Atman) berarti lepas sudah semua
kemauan duniawi kita, dan kalau seseorang dapat bertahan dalam status
semacam ini, atau bahkan baru saja mencapainya, dan langsung berakhir
hidupnya di dunia ini, maka ia langsung akan menuju ke Yang Maha Esa,
yang menjadi tujuan akhirnya, dan perlu kembali lagi ke dunia yang
penuh dengan penderitaan ini.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, llmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya
Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka karya ini
adalah bab kedua
yang disebut Sankya Yoga atau yoga mengenai ilmu pengetahuan.

Bab 03 - Jalan Aksi (atau Tindakan)
Berkatalah Arjuna :
1. Sekiranya Engkau berpikir, oh Kreshna bahwa kesadaran (atau
pengetahuan) itu lebih baik daripada suatu tindakan (aksi), lalu
mengapa pula Dikau menyarankan aku untuk berperang?
Di sini terlihat bahwa Arjuna telah salah menafsirkan ajaran Sang
Kreshna, pertanyaan Arjuna ini mungkin tidak berbeda dengan pikiran
yang ada di benak kita sendiri karena setelah membaca dua bab permulaan
ini biasanya timbul pikiran mengapa ajaran Sang Kreshna ini nampak
berkontradiksi. Arjuna berpikir bahwa kesadaran yang dicapai seseorang
akan Sang Brahman adalah lebih baik daripada suatu tindakan yang
bersifat destruktif seperti peperangan. Arjuna lupa dan tidak sadar
akan pesan-pesan Sang Kreshna akan dharma-bhakti setiap orang kepadaNya
dan masyarakat pada umumnya.
2. Dengan kata-kata yang saling bertentangan ini, Dikau mengacaukan
pengertianku. Beritahukanlah kepadaku akan suatu jalan yang jelas,
dengan apa aku dapat mencapai yang terbaik.
Menjawab pertanyaan di atas ini Sang Kreshna pun lalu mengajar
ajaranNya mengenai jalan dari aksi atau tindakan, sebagai berikut:

3. Di dunia ini ada dua ajaran yang telah Kuajarkan semenjak masa
yang amat silam, oh Arjuna! Yang pertama adalah ajaran tentang ilmu
pengetahuan (gnana-yoga) yang disebut ajaran Sankhya, untuk
mereka-mereka yang penuh dengan ketekunan untuk mempelajarinya; dan
yang kedua adalah ajaran mengenai tindakan (aksi, perbuatan pekerjaan,
atau karma-yoga), jalannya para yogi, yaitu yang hidupnya harus bekerja
dan selalu penuh dengan aksi.

Skripsi-skripsi kuno Hindu mengajarkan tentang ajaran Sankhya dan
ajaran Yoga. Sankhya adalah ilmu pengetahuan tentang Ilahi, sedangkan
Yoga adalah ajaran tentang perbuatan, pekerjaan atau yang disebut aksi.
Banyak orang membeda-bedakan kedua ajaran ini seperti halnya Arjuna,
tetapi sebenarnya intisari atau tujuan dari keduanya adalah satu, yaitu
Yang Maha Esa. Jadi sebenarnya sama saja, tergantung pemakainya saja.
Ilmu pengetahuan (gnana) dan karma-yoga sebenarnya selaras, tidak ada
konflik atau perbedaannya. Yang ada hanyalah masalah disiplin. Yang
satu disiplinnya condong ke arah gnana dan yang satu lagi condong ke
arah karma. Mereka yang menganut gnana disebut penganut Sankhya atau
Sankhya Yogi dan mereka yang jalan di nishkama-karma (tindakan bukan
untuk diri pribadi) disebut Karma-yogi. Gnana yoga disebut juga sanyasa
yoga (yoga-disiplin), karena ilmu pengetahuan yang sejati sebenarnya
mengarah ke sanyasa. Sri Shankar Acharya, seorang filsuf Hindu yang
besar pernah berkata tentang Bhagavat Gita sebagai berikut: “Seorang
penganut ilmu pengetahuan yang sejati (gnani) seharusnya juga adalah
seorang sanyasi sekaligus,” tetapi menjadi seorang sanyasi tidak
berarti lalu kita semua harus menanggalkan kewajiban duniawi kita,
kewajiban kita kepada masyarakat di sekeliling kita dan mengembara atau
bertapa di hutan seorang diri tanpa acuh lagi kepada orang hidupnya
sebagai seorang sanyasi dalam dirinya sendiri, dalam tindak-tanduknya
sehari-hari. Yang dimaksud adalah kendalikan nafsu-nafsu indra kita,
dan itu hanya bisa dilakukan sambil melakukan kewajiban kita sesuai
dengan pekerjaan dan status kita dalam masyarakat. Seperti misalnya
Raja Janaka, yang adalah seorang Maha-Raja yang amat kaya-raya dan
berkuasa, tetapi dalam hidupnya sehari-hari ia tak pernah merasa
memiliki apapun juga. la bertindak sebagai raja karena sudah merupakan
kewajibannya pada Yang Maha Esa dan masyarakatnya. Raja Janaka di dalam
epik Hindu dikenal sebagai seorang gnani yang mempraktekkan sanyasa,
yaitu tidak keterikatan pada hal-hal yang bersifat duniawi, atau dengan
kata lain menjauhi hal-hal yang bersifat duniawi.
Dengan kata lain, Gnana-yoga, Sanyasa-yoga dan Sankhya-yoga adalah
sininimus, atau sama saja artinya. Menurut para guru agama Hindu, gnana
tidak berarti ilmu pengetahuan yang didapatkan dari buku-buku. Seorang
gnani bukanlah seorang kutu-buku, karena seseorang boleh saja membaca
banyak buku bahkan mengutip dari buku-buku suci, tetapi belum tentu ia
menghayati isi buku-buku ini dan berubah langsung menjadi seorang
gnani. Gnana atau ilmu pengetahuan yang sejati didapatkan secara
langsung, bukan dari buku-buku. Seorang gnani sejati adalah seorang
pertapa, seorang yang dapat melihat kebenaran. la bukan seorang penyair
atau pengarang yang berbicara atau menulis dari apa yang ia dengar atau
lihat. la berbicara atau menulis karena ia merasakan dan melihat
kebenaran itu secara langsung dan sendiri. la memiliki sakshatkara,
yaitu persepsi atau intuisi langsung.
Tidak ada kebijaksanaan yang dapat kita ambil dari buku-buku begitu
saja, tetapi harus melalui proses di dalam hidup kita ini. Gnana
berarti menyadari diri kita sendiri. Hargailah ketenangan dan
keheningan, karena kesadaran atau kebijaksanaan biasanya datang pada
waktu-waktu yang hening. Makin banyak ketenangan dan keheningan di
dalam diri kita, makin banyak timbul kesadaran dan kebijaksanaan.
4. Seseorang tidak akan mendapatkan kebebasan dengan menelantarkan
pekerjaannya, juga seseorang tidak akan mendapatkan kesempurnaan dengan
hanya berpasrah diri.

Idealnya seorang yang berjalan di jalannya karma-yoga adalah bekerja
sesuai dengan tugasnya tanpa terpengaruh oleh tugas itu secara duniawi.
Dan kondisi semacam ini tidak dapat dicapai dengan tidak mengacuhkan
atau menelantarkan pekerjaan itu sendiri. Aktiflah, sabda Bhagavat
Gita, tetapi tanpa pamrih atau mengharapkan suatu imbalan sekecil
apapun juga. Yang penting bukan tidak acuh pada pekerjaan, tetapi tidak
acuh pada nafsu-nafsu indra kita yang serakah dan tidak terkendali.
Bekerjalah, berproduktiflah dalam setiap hal, tetapi janganlah kita
menciptakan kekacauan atau hal-hal yang buruk atau negatif. Ciptakanlah
sesuatu yang indah, yang positif untuk dirimu dan semua di sekitarmu
dan semua perbuatanmu selama tidak dilakukan dengan nafsu egois, dan
selama tidak bermotifkan pamrih akan indah dan berguna untuk semuanya.
Siddhi adalah kesempurnaan, dan kesempurnaan biasanya tercapai dari
suatu ketenangan atau keheningan. Dan ciri-ciri khas seorang yang penuh
dengan siddhi ini adalah:
a. la memiliki disiplin yang kuat sekali dalam mengendalikan keinginan
indra-indranya, bahkan sampai ke hal-hal yang terkecil sekali pun.
b. la telah belajar dan sadar bahwa “egonya harus dibunuh, apapun bentuk ego itu.” Ada dua jalan ke arah siddhi ini:
i. tidak mengikuti jalan pikiran yang duniawi, dan
ii. tidak mementingkan hal-hal yang bersifat duniawi.
Agar pikiran kita selalu tenang dan tak tergoyahkan, maka perlu sekali
untuk mengesampingkan semua unsur-unsur duniawi yang ada di sekitar
kita. Seseorang yang tekun bermeditasi harus selalu mengatakan pada
dirinya: uang, rumah, keluarga, istri, anak, harta milik, kekuasaan,
rasa hormat dan lain sebagainya adalah milik Sang Maya, dan bersifat
tidak abadi, hanya Sang Atman yang abadi. Dan pikiran semacam ini harus
betul-betul dihayati dan tertanam di dalam benak kita sehari-hari.
Seseorang yang stabil meditasinya tak akan terganggu oleh berbagai
pikiran yang keluar masuk dalam kepalanya. Semua itu dipikirkannya
secara santai dan tenang dan tidak secara serius. Meditasi yang benar
akan menghasilkan seseorang yang selalu gembira, bercahaya
roman-mukanya, penuh dengan enersi dan dinamik tindak tanduknya.
Pikiran-pikiran yang negatif tak akan membantunya sama sekali, tetapi
positif dan mengesampingkan kepentingan pribadi dan tak terpengaruh
duniawi akan menghasilkan energi yang positif bagi seorang yang gemar
bermeditasi.
Bagi seorang yang ingin mencapai ketenangan, maka dianjurkan untuk
belajar bermeditasi pada seorang guru yang telah mencapai suatu
kesempurnaan, karena dari sang guru ini akan terpancar keluar getaran
yang amat positif bagi sang murid. Tanda-tanda seorang spiritual yang
telah mencapai ketenangan jiwa ini adalah selain jiwanya betul-betul
telah tenang tak tergoyahkan, juga ia tak akan pernah berpengaruh oleh
semua kejadian-kejadian di dunia ini.
5. Tak seoranq pun dapat lepas dari suatu aksi, walaupun hanya sejenak;
karena setiap orang tanpa dikuasainya harus bertindak sesuai dengan
guna-guna (sifat-sifat alami pembawaannya) yang lahir dari prakriti
(alam).
6. Seseoranq yang nampak tenang, tidak bertindak apapun dengan
organ-organ sensualnya (indra-indranya), tetapi di dalam benaknya yang
terpikir justru obyek-obyek sensual, orang yang kacau dan dalam
kegelapan ini disebut orang yang munafik.
Aksi perbuatan atau karma adalah suatu hal yang tak terelakkan lagi
bagi manusia yang hidup; manusia bahkan tak bisa hidup dengan baik
kalau tidak bertindak atau bekerja. Hidup berarti bekerja, bertindak
atau berbuat atau berpikir. Tidak-bekerja yang sejati adalah dengan
tidak berpikir tentang hal-hal yang negatif mengendalikan indra-indra
kita dan mematikan ego kita pribadi yang selalu menghubungkan setiap
tindakan kita dengan “aku” dan “punyaku.” Menyerahkan secara total
semua bentuk ego, cinta, dan segala keterikatan kita kepadaNya adalah
bekerja dalam tidak bekerja. Mengelak dari pekerjaan adalah suatu hal
yang tidak mungkin. Mata kita tak dapat bekerja selain melihat, kuping
tak dapat bekerja lain selain mendengar, dan badan kita tak dapat
bekerja selain merasakan, dan otak kita tak dapat bekerja selain
berpikir. Jadi mau tak mau seseorang harus bekerja atau bertindak
sesuai dengan karmanya. Seandainya kita tidak mau bekerja dan ingin
duduk diam saja sebagai patung, maka bukankah kita juga telah bertindak
sebagai patung? Dengan mengelak dari tindakan/aksi, kita tak akan pergi
ke jalan penerangan/kesempurnaan, tetapi kembali ke “alam” (prakriti)
dan tindakan alami.
Dalam “alam” ini ada tiga chakra atau tiga pusat energi. Dari ketiga
pusat ini datanglah pekerjaan-pekerjaan untuk badan kita secara
otomatis tanpa kita sadari. Ketiga chakra ini dengan kata lain disebut
sifat sattva, raja dan tama yang merupakan pusat-pusat dari aksi kita
masing-masing. Dan sekiranya diluar badan kita, kita dapat
mengendalikan semua unsur-unsur indra kita, tetapi dalam benak kita
justru tak dapat lepas dari selera-selera duniawi ini, maka orang
semacam ini disebut oleh Sang Kreshna sebagai manusia yang munafik.
Contoh: seorang yang dianggap suci seperti pendeta, misalnya, yang
sehari-hari nampak bertindak suci, tetapi sekali melihat gadis cantik
langsung terangsang gairah seksualnya. Walaupun mungkin ia tidak
bertindak lebih lanjut, tetapi itu sudah menunjukkan betapa
tindak-tanduknya sudah tidak sesuai dengan hati dan pikirannya, dan
inilah yang disebut munafik, karena tidak jujur pada diri dan
masyarakat sekelilingnya, apalagi kepada Yang Maha Esa. Organ-organ
sensual kita (indra-indra) adalah sebagian dari prakriti, begitu pun
pikiran-pikiran kita; untuk menjalani hidup yang sejati ini kita harus
dapat menaklukkan bukan saja indra-indra kita, tetapi juga pikiran
kita, dan itu berarti menaklukkan prakriti itu sendiri secara tidak
langsung.
Salah satu contoh yang baik untuk mengalahkan avykta ini adalah dengan
tinggal bersama-sama dengan seorang suci. Juga sebaiknya setiap orang
tidur dikamarnya masing-masing yang dilengkapi dengan gambar-gambar
orang-orang suci, dewa-dewi, dan ayat-ayat suci. Mengoleksi buku-buku
suci dan membakar wewangian untuk pujaan. Sebelum tidur bermeditasilah,
dan memfokuskan diri pada hal-hal yang positif dan suci seperti
mantra-mantra suci, atau pada suatu dewa tertentu, atau pada sang guru,
dan lebih baik lagi kalau dapat memfokuskan diri pada Sang Atman, Sang
Kreshna atau Sang Brahman secara langsung (Yang Maha Esa).
7. Tetapi barangsiapa yang mengendalikan indra-indranya dengan
pikirannya, oh Arjuna, dan tanpa keterikatan mempekerjakan
organ-organnya demi karma-yoganya (aksi atau pekerjaannya), maka ia
disebut berhasil.
Dalam karma-yoga (pekerjaan kita), lakukanlah karma atau pekerjaan kita
sesuai dengan kewajiban kita tetapi tanpa keterikatan secara duniawi.
Kita bekerja sebenarnya karena demi dan untukNya dan tanpa pamrih,
tanpa rasa memiliki, atau ego atau imbalan, dan sadar bahwa apapun yang
dikerjakan adalah manifestasi dari Yang Satu itu, Yang Abadi
selama-lamanya.
8. Lakukan pekerjaan yang telah menjadi kewajibanmu, karena bekerja
adalah lebih baik daripada tidak bekerja, bahkan ragamu saja tak
mungkin stabil tanpa suatu aktifitas.
Aktifitas adalah lebih baik daripada bermalas-malas tanpa suatu
pekerjaan. kita duduk tanpa bekerja, maka raga atau badan kita bisa
sakit karenanya.
9. Pekerjaan merupakan suatu keterikatan di dunia ini, kecuali kalau
dilakukan demi pengorbanan (demi Yang Maha Kuasa). Seyogyanyalah, oh
Arjuna, dikau aktif untuk pengorbanan ini, bebas dari segala
keterikatan.
Setiap manusia di dunia ini telah terkurung oleh pekerjaan, dan setiap
orang sibuk dan menjadi budak dari pekerjaan ini. Untuk penggantinya,
maka dianjurkan agar kita tidak menjadi budak dari pekerjaan-pekerjaan
ini, yaitu dengan bekerja demi Yang Maha Esa semata. Dengan kata lain
secara mental kita berpikir bahwa semua pekerjaan atau kewajiban
sebenarnya hanyalah untuk Dia semata. Dengan demikian kita bisa bekerja
dan merencanakan sesuatu secara tanpa keterikatan duniawi. Dengan ini
akan timbullah suatu rasa kebebasan dari hal-hal yang bersifat duniawi,
karena semua hasil akhir juga diserahkan kepadaNya untuk diolah dan
ditentukan akibat-akibatnya, atau hasil maupun buahnya.
Di sloka diatas ada kata-kata, lakukan pekerjaanmu demi pengorbanan
ini, yang dimaksud dengan pengorbanan ini adalah yagna. Menurut
Shankara, ahli dan filsuf Hindu yang terkenal di masa silam, yagna
dapat berarti Vishnu, Sang Maha pengasih. Yagna dengan demikian
disimpulkan sebagai Yang Maha Esa dan juga pengorbanan untuk Yang Maha
Esa. Kemudian mungkin timbul pertanyaan, pekerjaan apakah yang dapat
disebut sejati? Semua pekerjaan yang bermotifkan dedikasi atau semata
untuk Yang Maha Esa adalah pekerjaan yang sejati. Pengorbanan selalu
berarti “mengorbankan diri sendiri untuk orang atau hal lain,” dan
berkorban berarti menemukan diri sendiri yang sejati; tuluskah diri
ini, atau masih tertutup oleh hawa-hawa nafsu dan ego?
10. Pada masa yang lalu, Prajapati, Dewanya para makhluk-makhluk,
menciptakan” manusia dengan suatu itikad yang penuh dengan pengorbanan
dan berkatalah dewa ini: “Dengan pengorbanan ini engkau akan sejahtera.
Dan pengorbanan ini adalah ibarat Kamakhuk (sapi kemakmuran yang
beranak-pinak yang akan menghasilkan kemauan-kemauanmu).
Dewanya para makhluk yang dalam epik-epik Hindu kuno disebut Prajapati,
yang menciptakan para makhluk di dunia ini; sewaktu menciptakan
makhluk-makhluk ini ia mendasarkan pekerjaan ini pada suatu sifat
pengorbanan yang tulus demi Yang Mata Esa karena Sang Dewa ini sadar
bahwa semua tugas atau pekerjaan sebenarnya adalah kehendak dan demi
Yang Maha Esa semata. la mengibaratkan pengorbanan ini sebagai
Kamadhuk, yaitu seekor sapi yang dianggap suci dan terkenal sekali
karena selalu beranak-pinak tanpa hentinya. Sang Dewa ini selalu
menganjurkan manusia agar dalam segala tindak-tanduk manusia apakah itu
suatu pekerjaan sehari-hari atau pekerjaan yang lain, agar selalu
mendasarkan setiap tindakan manusia itu dengan rasa pengorbanan yang
tulus. Jadi tidak bekerja demi diri semata tetapi demi suatu kehendak
yang tersembunyi, demi suatu rahasia yang ada di belakang setiap
tindakan kita, dan rahasia atau kehendak ini tidak lain dan tidak bukan
adalah la semata. Setiap pengorbanan yang tulus merupakan hal yang
vital untuk perkembangan hidup kita, karena akan membersihkan jiwa-raga
kita, dan hal ini betul-betul merupakan suatu tindakan spiritual yang
tidak disadari oleh pelakunya. Secara lambat laun pelaku yagna ini akan
dijauhkan dari segala mara-bahaya dan hal-hal yang bersifat negatif,
dan banyak hal-hal diluar dugaan dan pikirannya akan terjadi pada
seseorang yang aktif dan tulus beryagna ini. Tetapi ingat ini bukan
untuk digembar-gemborkan, tetapi harus dilakukan dengan tulus dan tanpa
banyak cerita!
Yagna sebenarnya bukan untuk mendapatkan harta-benda duniawi, inilah
kesalahan, sementara orang yang lebih aktif beryagna secara duniawi,
tetapi lebih bersifat untuk melajukan seseorang ke arah Yang Maha Esa.
Semakin banyak yagna kita yang spontan dan tulus sehari-hari semakin
dekat kita kepadaNya dan menyatu denganNya. Dan pengorbanan ini bukan
satu jenis saja, misalnya dalam gnana-yoga yang dikorbankan adalah
ketidak-tahuan kita. Dalam karma-yoga yang dikorbankan adalah imbalan
atau hasil kerja dan aktivitas kita. Dalam bhakti-yoga yang dikorbankan
adalah keterikatan atas dua rasa atau sifat yang saling berlawanan
seperti senang-susah, suka-duka, benci-cinta, panas-dingin, dsb.
11. Dengan yagna, atau pengorbanan, berikanlah kepada para dewa, dan
para dewa akan memberikannya kembali kepadamu yang kau pinta. Dengan
saling memberikan kepada mereka ini dikau akan mencapai Kebaikan Yang
Utama.
12. Dengan mendapatkan pengorbanan, para dewa akan memberkahimu dengan
yang kau pinta. Dan barangsiapa yang menerima berkah dari para dewa
tanpa berkorban kembali kepada mereka adalah betul-betul seorang
pencuri.
Di salah satu kitab suci Hindu Kuno yang disebut Vishnu Purana, dapat
kita baca suatu kisah di mana para dewa menurunkan hujan kepada manusia
yang melakukan upacara korban kepada dewa-dewa ini. Hal yang sama masih
kita lakukan juga pada waktu-waktu tertentu dewasa ini di mana ada
kepercayaan agama Hindu. Para dewa ini sebenarnya diciptakan Yang Maha
Esa untuk menjadi pelindung atau partner dari manusia, dan sebaliknya
manusia yang memuja dewa-dewa ini dengan tujuan tertentu diharuskan
untuk berkorban kepada dewa-dewa ini. Dengan ini akan tercapai
kerja-sama yang baik antara dewa-dewa dan manusia demi langgengnya
kehidupan dunia ini dengan segala kesibukannya. Para dewa tidak saja
dapat memberikan harta-benda duniawi, tetapi juga dapat dipanggil
melalui mantra-mantra tertentu baik untuk penyembuhan atau untuk
meminta melawan perbuatan jahat. Tetapi ingat dari dewa untuk dewa,
dari Yang Maha Esa untuk Yang Maha Esa, dan setiap tindakan untuk Yang
Maha Esa berarti lebih dekat lagi denganNya. Juga terdapat makna lain
dari pengorbanan ini yaitu, agar apa yang kita lakukan itu hasilnya
dapat kita bagi juga untuk yang lainnya dan tidak hanya untuk diri
sendiri. Di Manava Dharma Shastra tertulis: “Seseorang hanya memakan
dosa, sekiranya la memasak untuk dirinya sendiri!”
Sekiranya sewaktu kita makan, alangkah baiknya kalau dimulai dulu
dengan doa dan kita serahkan dulu yang kita makan kepadaNya dan
kemudian kita bagi juga bagi sesama makhluk lain, misalnya dengan
membuang sedikit nasi yang kita makan untuk semut-semut di halaman
rumah, atau untuk anjing dan kucing piaraan di rumah, dan lebih dari
itu kalau ada kelebihan dibagi kepada fakir-miskin atau orang lain yang
membutuhkannya. Memberikan sesuatu yang berlebihan di rumah kita adalah
pekerjaan sosial yang dianjurkan setiap agama, karena merupakan titipan
dariNya juga untuk orang-orang lain yang membutuhkannya. Dan ingatlah
setiap orang yang kikir selalu kehilangan sebagian dari harta-bendanya
atau kebahagiannya karena hukum alam akan berlaku atas orang yang
berlebih-lebihan miliknya baik itu dalam bentuk materi atau yang
bersifat abstrak seperti pikiran atau rasa.
13. Mereka yang baik, adalah yang memakan sisa-sisa dari yang telah
dikorbankannya, dan mereka-mereka ini akan lepas dari dosa-dosa. Tetapi
yang tak beriman hanya memikirkan diri mereka sendiri yang mereka makan
hanyalah dosa!
Dengan membagi makan atau kelebihan harta-benda kita kepada sesamanya
yang membutuhkannya dan menyerahkan setiap tindakan dan posesi kita
kepadaNya, maka lambat laun akan terjadi proses pembersihan dan
pemurnian diri kita pribadi.
14. Dari makanan terbentuklah makhluk-makhluk, dari hujan terbentuklah
makanan; hujan terbentuk dari yagna atau pengorbanan; dan pengorbanan
lahir dari aksi (karma).
Di sini terlihat bahwa roda kosmik berputar secara sistimatis
berdasarkan yagna atau pengorbanan. Dengan ini kita seharusnya sadar
bahwa betapa besarnya sebenarnya nilai dari suatu yagna atau amal yang
tulus, yang demi Ia semata-mata tanpa mengharapkan pahala atau pamrih.
15. Ketahuilah oleh dikau bahwa karma (aksi) timbul dari Sang Brahma,
dan Sang Brahma datang dari Yang Maha Esa (Yang Tak Terbinasakan). Jadi
Sang Brahma yang selalu ada selalu hadir pada setiap pengorbanan.
Dunia diciptakan oleh Sang Purusha Tunggal (Sang Brahma) dengan penuh
pengorbanan besar yaitu dirinya sendiri. Tangan-tangan dan kaki-kakinya
tersebar ke seluruh dunia (di alam semesta). Berkat pengorbanan inilah
dunia diciptakan dan berkat pengorbanan-pengorbanan dari berbagai
dewa-dewa, para pahlawan-pahlawan, manusia-manusia suci sepanjang masa,
maka dunia ini sampai sekarang masih bisa bertahan. Lihatlah di sekitar
kita, kalau ada yang berbuat jahat maka pasti ada individu lain yang
berbuat baik untuk menetralisir keadaan ini. Ini berarti sebenarnya
tanpa kita sadari setiap pengorbanan yang mengorbankan dirinya sendiri
sedang atau sudah berusaha menstabilkan alam dan unsur-unsur yang ada
di alam ini sendiri.
16. Seseorang yang hidup di dunia ini tanpa mau menggerakkan roda-roda
pengorbanan, adalah seorang yang penuh dengan dosa dan nafsu-nafsu
duniawi. Orang semacam ini, oh Arjuna, hidup secara sia-sia.
Seorang yang hidupnya adalah untuk diri-pribadinya sendiri, sebenarnya
kehilangan nilai-nilai kehidupan yang berarti. Yang rugi sebenarnya
adalah dirinya sendiri.
17. Tetapi seseorang yang bahagia di dalam Sang Atmannya sendiri, yang
merasa cukup dengan Dirinya, dan selalu puas oleh Dirinya untuk orang
semacam ini sebenarnya tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Seseorang yang telah menemukan kebahagian dan kedamaian di dalam Sang
Atman (Jati Dirinya sendiri), yang bersemayam di dalam dirinya sendiri,
tidak perlu menyelesaikan pekerjaannya, ujar Sang Kreshna penuh makna.
Maksudnya di sini bukan lain orang semacam ini lalu bermalas-malasan
tanpa kerja. Tetapi semua aktivitias baginya bahkan merupakan pekerjaan
yang membahagiakan dan menimbulkan rasa damai baginya, karena ia
berpikir sebagai alat ia dipakai oleh Yang Maha Kuasa, dan setiap
pekerjaan atau problema bukanlah jadi beban lagi tetapi kewajiban yang
ditunggu-tunggu olehnya. Secara mental ini berarti sama saja tidak ada
pekerjaan untuknya semata. Bukankah Yang Maha Esa sendiri mengorbankan
DiriNya sendiri untuk menjadi seorang manusia, yaitu Sang Kreshna agar
dapat secara langsung dan pribadi mengajarkan Bhagavat Gita kepada kita
semuanya. Tidak ada suatu bentuk pekerjaan yang kotor bagi yang telah
menemukan Jati Dirinya, karena Ia selalu akan dituntun oleh Sang Atman
sesuai dengan kehendakNya.
18. la tidak punya kepentingan pribadi di dunia ini baik ia melakukan
sesuatu maupun ia tidak melakukan sesuatu. la tidak bersandar kepada
siapapun untuk mencapai (atau mendapatkan) sesuatu dalam hidupnya.
Orang yang telah mencapai taraf kejiwaan ini benar-benar adalah seorang
manusia yang amat bebas hidupnya. Baik ia melakukan sesuatu maupun
tidak, ia tidak pernah merasa rugi atau untung karena tindakan itu,
benar-benar alat sifat dan statusnya, karena semua tindakan tidak
disangkut-pautkan dengan pribadinya. la bebas dari segala beban duniawi
dan tidak bersandar pada siapapun maupun pada suatu keadaan atau
benda-benda dan sekelilingnya, ia hanya bersandar pada Yang Maha Esa
semata. Baginya sehari-hari apa saja yang dimakan atau disandangnya
walau hanya sedikit sudah terasa amat cukup. Hidupnya sudah menyatu
dengan Yang Maha Kuasa, dan segala kejadian-kejadian duniawi seperti
huru-hara, peperangan, musibah dan lain sebagainya, walaupun di
perhatikannya secara manusiawi sekali sebenarya tidak lagi berpengaruh
terhadapnya. Tanpa disadarinya maupun disadarinya lepas sudah
kewajiban-kewajiban duniawi dari dirinya, yang ada hanya kewajibannya
terhadap Yang Maha Kuasa. Bekerja atau tidak sama saja baginya, tetapi
ia akan selalu bekerja terus tanpa henti dan tanpa pamrih, karena
setelah mengenal Sang Atman, ia akan sadar bahwa semua adalah satu, dan
apapun yang dilakukannya atau dikorbankannya adalah dari Dia, oleh Dia
dan untuk Dia semata.
19. Seyogyanyalah dikau selalu mengerjakan kewajibanmu tanpa rasa
keterikatan, karena dengan bekerja tanpa pamrih seseorang akan mencapai
Parama Yang Tertinggi.
Bekerjalah selalu tanpa pamrih, inilah pesan inti dari Bhagavat Gita
yang tidak bosan-bosannya diulang-ulang oleh Sang Kreshna bagi kita
semua. Dengan dedikasi yang berkesinambungan, yang secara konstan
dilakukan oleh seseorang terhadapNya, maka suatu saat pasti orang atau
pemuja ini akan mencapai kebenaran Yang Sejati, Yang Tertinggi
sifatnya. Janganlah ragu dan bimbang akan hasil pekerjaan itu, mereka
yang bekerja secara murni untuk Yang Maha Kuasa tidak akan gentar
dengan segala hasil yang diperolehnya. Orang semacam ini tidak akan
memaksakan suatu pekerjaan tertentu, tetapi selalu akan bekerja sesuai
dengan kehendakNya, dan bekerja tanpa keterikatan akan sukses atau
tidaknya pekerjaan itu, bahkan tanpa pamrih. Dan bekerja tanpa pamrih
ini akan melepaskan kita dari ikatan-ikatan duniawi ini, dan bebaslah
kita sesungguh-sungguhnya bebas.
20. Janaka dan juga yang lain-lainnya benar-benar mencapai kesempurnaan
dengan bekerja. Dan dikau pun seharusnya bekerja dengan dasar
kesejahteraan dunia ini.
Raja Janaka Dari Mithila, adalah seorang raja yang amat kaya-raya dan
agung sifatnya. la juga adalah seorang karma-yogi yang ideal, karena ia
memerintah kerajaannya demi Yang Maha Kuasa tanpa sedikit pun ambisi
pribadi atau merasa semua itu miliknya pribadi. la berhasil menguasai
egonya dan pernah berkata, “Seandainya kerajaan Mithila ini terbakar
tidak ada sesuatu pun punyaku yang hilang.” Raja Janaka berkuasa
dikerajaannya sampai akhir hayatnya karena ia merasa bekerja demi yang
lainnya dan menjadi contoh atau model untuk raja-raja yang lainya agar
bekerja demi Yang Maha Kuasa semata. Suatu saat kemudian Sang Raja ini
mencapai kesempurnaannya dengan bekerja terus-menurus, tanpa pamrih
demi Yang Maha Kuasa. Boethius seorang filsuf Barat pernah berkata:
“Seseorang tak akan pernah pergi ke sorga kalau hanya ia sendiri yang
ingin ke sana.”
21.Apapun yang dilakukan oleh seorang pemimpin, maka masyarakat akan
mengikutinya. Masyarakat akan meniru sama kaidah-kaidah yang
dilaksanakan oleh pimpinan itu.
Masyarakat selalu cenderung untuk meniru tingkah-laku dan kehidupan
seorang pemimpin bangsa. Seandainya seorang pemimpin atau pemuka
masyarakat bertindak religius, bijaksana, rendah-hati, hidup sederhana
dan tidak serakah pada kekuasaannya, maka masyarakat akan
menghormatinya dan bertindak sama dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Tetapi seandainya seorang pemimpin mulai bertindak serakah,
menyalah-gunakan kekuasaannya, memerintah dengan angkara-murka, dan
korupsi, maka jajaran menteri-menteri dan para bawahan-bawahan menteri
sampai ke pamong-praja dan masyarakat akhirnya, akan bertindak sama.
Karena itulah pola atau kaidah-kaidah yang telah diterapkan oleh sang
pemimpin, yang lambat laun menjalar ke semuanya dan terasa biasa oleh
para pelaku-pelakunya.
22. Tidak ada sesuatu apapun di ketiga loka ini yang Kukerjakan, oh
Arjuna, atau pun ingin mencapai sesuatu yang belum tercapai, tetapi Aku
selalu aktif bekerja.
Yang Maha Kuasa sebenarnya tidak perlu bekerja untuk menunjang alam
semesta ini beserta seluruh isinya, tetapi la memberikan contoh yang
baik dengan menitis menjadi Sang Kreshna dan mengajarkan Bhagavat Gita
kepada manusia agar jalan lurus ke arahNya.
23. Karena, kalau Aku tidak aktif, maka mereka-mereka yang aktif dan penuh pengorbanan tidak akan mencontoh Diriku, oh Arjuna!
Sekali lagi Yang Maha Kuasa memberikan keteladanan yang amat agung,
agar mereka-mereka yang bekerja demi dan untukNya semata makin aktif
saja untuk bekerja demi sesamanya dan demi Yang Maha Kuasa. Di sini
terlihat bahwa Bhagavat Gita tidak menganjurkan siapa saja untuk
berdiam diri tanpa berbuat sesuatu karena merasa semua sudah diatur
Yang Maha Kuasa. Tetapi sebaliknya setiap insan dianjurkan untuk selalu
bekerja, tetapi harus tanpa pamrih.
24. Seandainya Aku berhenti bekerja, maka dunia ini akan runtuh, dan
Aku jadi penyebab kekacauan, dan semua manusia-manusia ini akan binasa.
25. Ibarat seorang bodoh yang bekerja demi hasilnya, oh Arjuna, maka
seyogyanyalah seorang yang bijaksana juga bekerja, tetapi tanpa pamrih,
dan dengan tujuan untuk kelangsungan hidup di dunia ini.
Kontradiksi antara yang bodoh (jurang pengetahuannya) dan yang
bijaksana jelas sekali di sloka atas ini. Yang pertama bekerja demi
suatu motif dan untuk kepentingan dirinya sendiri, sedangkan yang
bijaksana bekerja tanpa pamrih dan untuk sesamanya. Pekerjaannya sama,
motif dan tujuannya lain.
26. Janganlah seorang vidvan (bijaksana) mencegah pikiran mereka-mereka
yang terikat kepada pekerjaan mereka. Tetapi bertindaklah berdasarkan
ilmu pengetahuan ini sesuai dengan kehendakKu dengan begitu memberikan
inspirasi (atau mengajarkan) mereka untuk bertindak yang betul.
Jangan mengusik atau mengkritik mereka-mereka yang terikat pada
kehidupan dan pekerjaan mereka, karena kesadaran yang sejati harus
datang dari hati-nurani mereka sendiri. Kewajiban seorang yang
bijaksana adalah memberikan contoh-contoh kepada orang-orang semacam
ini, dengan begitu menimbulkan kesadaran atau inspirasi kepada mereka,
bahwa bekerja atau hidup ini sebenarnya untuk Yang Maha Esa semata dan
bukan untuk kepentingan diri pribadi sendiri. Dengan bertindak begitu
seorang yang bijaksana akan bertindak sesuai dengan kemauan atau
kehendak Yang Maha Kuasa yang tak pernah memaksakan kehendak atau
keinginanNya untuk diikuti seseorang. Setiap orang bebas untuk memuja
atau tidak memujaNya, untuk berperi-laku baik atau buruk.
Jangan sekali-kali kita meremehkan kepercayaan orang-orang lain, apapun
kepercayaan dan keyakinan mereka, bahkan seharusnya kita harus
menghormatinya dan kemudian membantunya untuk lebih mengenal Yang Maha
Esa dan bertugas demi Yang Maha Esa. Setiap simbol yang dipuja atau
tindakan atau kepercayaan seseorang sebenarnya merupakan suatu proses
atau tindakan atau anak-tangga dari setiap individu untuk ke Yang Maha
Esa juga, tetapi karena “kebodohan” seseorang maka ia berjalan atas
konsep atau pengertian yang salah, pada hal yang ditujunya adalah
kekuatan Yang Abadi juga. Dan setiap individu ini suatu saat secara
perlahan tetapi pasti akan menuju ke Yang Maha Esa juga. Jadi sebaiknya
seorang yang bijaksana memperbaiki dan membantu mengarahkan orang-orang
ini ke jalan yang benar, dan tidak sekali-kali memaksa atau
menertawakan kepercayaan orang lain.
27. Sebenarnya semua tindakan (aktifitas) dilakukan berdasarkan
sifat-sifat alam (ketiga guna), tetapi seseorang yang penuh dengan rasa
egois (ahankara) akan berpikir: Akulah yang melakukannya.”
28. Tetapi seseorang, oh Arjuna, yang sadar benar akan perbedaan antara
Sang Jiwa dan sifat-sifat alam serta cara kerja sifat-sifat alam ini,
tak akan terikat pada pekerjaannya, karena ia sadar bahwa yang bekerja
sebenarnya adalah sifat-sifat alam ini.
Seseorang yang bijaksana sadar bahwa Sang Atman (yang bersemayam di
dalam diri kita), tak akan tercemar oleh pekerjaan-pekerjaan yang
dilakukan orang tersebut. Seperti juga halnya Sang Atman ini tidak
dapat dibakar, dibunuh atau dihancurkan. Orang bijaksana ini pun sadar
bahwa yang bertindak dengan aktif sebenarnya bukan Sang Atman tetapi
adalah ketiga sifat alam yang disebut guna, dari Sang Prakriti.
Sedangkan seseorang yang tidak bijaksana atau yang kurang
pengetahuannya merasa semua tindakan yang dilakukannya berasal dari
dirinya semata. Secara sadar seorang yang bijaksana mengorbankan segala
tindakannya kepada Yang Maha Esa, dan secara otomatis ia akan selalu
bekerja melawan segala dosa dan cobaan agar dirinya makin bersih dan
dapat lepas dari segala kegelapan, penderitaan dan kekotoran duniawi
ini. Jalan ini menuju ke jalan “tanpa-pamrih.” Karena seseorang yang
bijaksana sadar bahwa yang bekerja sebenarnya bukan Sang Atman tetapi
sifat-sifat prakriti yang menimbulkan berbagai ragam aktivitas atau
tindakan. Sifat berinteraksi dengan sifat, dan benda berinteraksi
dengan benda, Sang Atman sendiri selalu teguh sebagai saksi.
29. Mereka-mereka yang di dalam kegelapan akibat sifat-sifat alam ini
terikat pada pekerjaan-pekerjaan yang ditimbulkan oleh sifat-sifat ini.
Seorang yang sadar semuanya itu tak akan menggoyahkan pikiran seseorang
lain yang hanya mengerti sebagian kecil.
Seseorang yang bijaksana akan membantu tanpa pamrih kepercayaan atau
tindakan positif orang lain yang kurang mengerti ini, dan tidak
sekali-kali menimbulkan kekacauan dalam hati orang yang ditolongnya
ini. Dengan memberikan contoh-contoh yang baik seseorang yang bijaksana
akan membantu orang yang lain sesuai pengabdiannya kepada Yang Maha Esa.
30. Serahkan semua tindakan-tindakanmu kepadaKu, dengan
pikiran-pikiranmu bersandar pada Yang Maha Esa, lepas dari segala
kemauan dan egoisme, sadarlah dari penyakit (mental) mu, berperanglah
dikau, oh Arjuna!
Dengan menyerahkan semua imbalan atau pamrih dari segala
tindakan-tindakan kita kepada Yang Maha Esa, maka seyogyanyalah
seseorang berdoa kepadaNya agar Ia memberkahi alam semesta beserta
segala isinya ini dengan segala karuniaNya. Jangan mencari kebahagian
pribadi, tetapi berkorbanlah selalu demi sesamamu dan semuanya, demi
Yang Maha Esa pada hakikatnya. Serahkanlah semua milikmu kepadaNya,
serahkan semua itu dengan jiwa yang penuh dedikasi dan suatu waktu
kelak kita pun dapat merasakan datangnya karunia Ilahi Yang Sejati
(Brahmananda). Serahkan semua yang menjadi milikmu, apapun bentuknya,
baik secara mental maupun harta duniawi dan sadarlah bahwa Ia juga yang
hadir di setiap benda dan makhluk di alam semesta ini, dan Yang Maha
Esa pun akan turun kepada diri kita dan lengkaplah lalu diri kita ini.
Dalam setiap tindakan selalulah berdoa, “Terjadilah KehendakMu, Yang
Maha Kuasa.”
31. Barangsiapa menjalankan ajaran-ajaranKu ini penuh dengan
kepercayaan dan lepas dari mencari-cari kesalahan (ajaran ini) maka
mereka juga akan lepas dari keterikatan kerja.
32. Tetapi mereka yang mencari-cari kesalahan dalam ajaranKu ini dan
tidak bertindak seharusnya; ketahuilah mereka-mereka ini buta tentang
kebijaksanaan, sesat dan tak berpikiran sehat.
Bhagavat Gita mengharuskan kita untuk menjalankan ajaran-ajaran Sang
Kreshna ini dengan konsekuen dan penuh kesadaran, bukan dengan
mencari-cari kesalahan dalam ajaran ini. Bukan juga dengan
menyalah-gunakan ajaran ini untuk maksud-maksud duniawi tertentu.
Mengetahui saja ajaran-ajaran ini tidak cukup, tetapi harus dihayati,
dipraktekkan dan dipelajari secara tekun dan berulang-ulang karena
selalu merupakan sumber inspirasi yang tak ada habis-habisnya bagi diri
kita, dan kemudian selalu diamalkan untuk sesamanya. Tidak berjalan
sesuai dengan ajaran-ajaran ini lambat laun malahan akan menyesatkan
seseorang yang menganut agama Hindu atau ajaran Sang Kreshna ini.
33. Seorang yang penuh dengan ilmu pun bertindak sesuai dengan
sifat-prakritinya. Setiap makhluk mengikuti sifat-sifatnya
masing-masing. Menentang sifat-sifat ini tidak akan berarti apa-apa!
34. Keterikatan dan rasa-dualistik yang bertentangan pada obyek-obyek
selalu hadir di setiap hal. Janganlah seseorang terbius oleh kedua hal
ini. Karena kedua-duanya adalah musuh dan hambatan-hambatan dalam
perjalanannya,
Adalah kenyataan bahwa kita dilahirkan dengan sifat-sifat tertentu yang
dominan. Tetapi sifat-sifat ini menjadi amat kuat kalau selalu
dikaitkan dengan keterikatan duniawi dan rasa dualistik kita, sehingga
sering misalnya kita menyukai hal-hal yang terlarang dan tidak menyukai
kewajiban-kewajiban tertentu karena terasa tidak menyenangkan untuk
dikerjakan. Semua ini dapat di atasi secara lambat laun kalau mau kita
mendisiplinkan dan belajar secara bersama dengan orang-orang lain
tentang hal-hal yang spiritual dan dengan penuh dedikasi bertindak dan
melihat kedalam diri kita sendiri, Prakriti itu sendiri bukanlah
sesuatu kekuatan yang dinamik. Memang betul dalam kehidupan ini
prakriti memainkan peranan yang amat penting dan kuat pengaruhnya pada
kita semua, tetapi selama kita mau menceburkan diri di dalamnya dan mau
terseret oleh arusnya, maka selama itu juga kita akan terbenam di dalam
prakriti ini. Tetapi sekali kita menentangnya maka akan timbul
kesadaran untuk mengatasinya. Mengatasinya tidak dengan berperang
dengan prakriti ini, karena sukar untuk mengalahkannya, tetapi dengan
merubah diri kita yang terbenam ini menjadi ibarat sebuah perahu yang
melayarinya. Jadi masih dengan prakriti juga karena memang tidak bisa
lepas darinya selama kita masih hidup, tetapi sudah tidak terseret lagi
tetapi malahan berlayar dengannya sampai ketujuan. Sekali sudah
menyeberang maka selamatlah kita, beginilah orang-orang Hindu
mengibaratkan prakriti, sebagai sebuah sungai yang amat kuat arusnya,
yang tak perlu ditentang tetapi sebaliknya dilayari saja untuk sampai
ke tujuan kita, yaitu Yang Maha Esa.
Keterikatan dan rasa dualistik adalah musuh-musuh kita yang harus
dikalahkan. Caranya adalah dengan karma-yoga, kuasailah rasa dualistik
seperti suka dan tak suka. Organ-organ sensual atau indra-indra kita
dapat dikalahkan oleh tekad yang kuat. Tetapi jangan menelantarkan atau
menjadikan indra-indra kita ini lapar. Tanpa terganggu oleh rasa
dualistik ini, yang hadir dalam berbagai bentuk apapun juga, lakukanlah
kewajiban-kewajibanmu. Kita bukanlah boneka-boneka ditangan sang
prakriti. Prakriti hanya bisa menghambat kebebasan kita tetapi tidak
mungkin bisa merampas kebebasan kita kecuali itu mau kita sendiri.
Setiap orang memang hanya bisa mengikuti alur-alur sifat-sifatnya
belaka, tetapi seyogyanyalah seseorang meneliti dirinya sendiri,
melihat sifat-sifat apa saja yang dimilikinya, karena setiap manusia
sebenarnya bersifat balans, ada segi negatif dan positifnya.
Kembangkanlah yang positif dan kurangilah yang negatif. Sia-sia saja
melawan semua itu, sebaiknya menyesuaikan diri dulu, kemudian
merubahnya secara perlahan tetapi pasti.
35. Lebih baik mengerjakan kewajiban atau pekerjaan (svadbarma)
seseorang, walaupun mengerjakannya kurang sempurna, daripada melakukan
kewajiban orang lain, walaupun pelaksanaannya sempurna. Lebih baik mati
dalam mengerjakan kewajiban seseorang. Mengerjakan kewajiban orang lain
itu penuh dengan mara-bahaya.
Adalah lebih baik kalau kita mengerjakan pekerjaan yang sudah jadi
kewajiban kita walaupun dalam mengerjakannya mungkin saja tidak
sempurna, daripada melakukan kewajiban orang lain, walaupun dalam
pelaksanaannya mungkin sangat sempurna. Mati dalam melakukan kewajiban
kita adalah sesuatu hal yang agung dan sebaliknya dharma yang
seharusnya menjadi hak orang lain malahan akan menimbulkan bahaya
spiritual bagi kita, seandainya kita memaksakannya juga. Jadi seorang
yang bersifat brahmana tidak perlu melakukan pekerjaan seorang waishya,
dan begitupun sebaliknya.
Tidak ada masalah bagi Yang Maha Esa mengenai tinggi-rendahnya nilai
suatu pekerjaan atau kewajiban, semuanya bagi Yang Maha Esa sama saja
sifatnya. Tetapi mengerjakan kewajiban kita masing-masing secara baik
dan penuh dedikasi nilainya lebih baik untuk kepuasan batin kita
sendiri, dan secara spiritual berkatanya ditentukan olehNya sesuai
dengan kehendakNya juga. Seorang tukang sepatu membuat sepatu yang
baik, seorang pendeta mengarahkan umatnya dengan penuh dedikasi dan
iman, dan seorang raja memerintah dengan bijaksana. Jika semua orang
bekerja dengan baik sesuai dengan kewajiban dan sifatnya yang asli
tanpa menyerobot usaha atau pekerjaan orang lain dengan alasan apapun
juga, maka semuanya akan stabil dan harmonis dalam kehidupan ini.
Berkatalah Arjuna:
36. Oleh sebab apakah seseorang tertarik untuk berbuat dosa padahal itu
bertentangan dengan pikirannya, oh Kreshna, seakan-akan dihela oleh
daya yang amat kuat?
Arjuna bertanya seperti juga yang sering kita tanyakan pada
diri-sendiri maupun kepada guru-guru kita, mengapa seseorang berbuat
dosa padahal di dalam hatinya mungkin sekali ia tidak ingin melakukan
dosa tersebut? Apa yang ada dibalik semua rahasia ini? Seakan-akan ada
sesuatu kekuatan yang dahsyat yang menarik manusia untuk terjerumus ke
dalam dosa. Apakah manusianya yang lemah, ataukah memang ada semacam
musuh manusia yang tidak terlihat oleh mata, dan apakah musuh ini dapat
dihilangkan atau dikalahkan?
Dalam jawabannya di sloka-sloka mendatang, Sang Kreshna menunjuk bahwa
manusia ini sebenarnya bukan mesin-otomatis. Dharma atau kewajiban
seseorang telah digariskan berdasarkan kehidupan atau karmanya semasa
lampau. Seseorang bisa saja lahir untuk menjadi seorang guru, polisi,
pedagang, tukang-kayu, pendeta, pegawai negeri, atau mengabdi kepada
fakir-miskin, dan sebagainya. Kewajiban itu sudah digariskan, kita
harus menemukannya sendiri sesuai dengan bisikan hati nurani kita.
Sedangkan kesucian atau perbuatan dosa seseorang, kedua hal ini tidak
digariskan, jadi terserah kepada orang atau individu yang bersangkutan
untuk memilihnya sendiri, mau berbuat dosa atau hal yang baik-baik
saja. Memang karma dan kehidupan sebelumnya akan cenderung untuk
menentukan jalan yang kita pilih, tetapi Yang Maha Kuasa pun memberikan
kita kekuatan batin, tekad, dan ratio, dan semua ini dapat menentukan
jalan apa yang harus kita ambil. Kalau seseorang maunya tersandung
terus, lama kelamaan ia harus jatuh juga, tetapi kalau tekadnya kuat
untuk berjalan lurus, ia tak akan pernah jatuh, atau kalau jatuh ia
akan lebih berhati-hati selanjutnya.
Arjuna bertanya, “mengapa seseorang berbuat dosa padahal belum tentu ia
mau melakukannya,” Sebenarnya hal tersebut tidak benar, setiap orang
yang berbuat dosa sebenarnya di dalam hatinya sudah kalah lebih dahulu
dengan cobaan-cobaan yang dihadapinya, baru kemudian ia terjerumus ke
dosa itu. Seseorang yang dasarnya memang terikat-erat pada benda-benda
dan nafsu-nafsu duniawi ini akan mudah jatuh setiap ada cobaan.
Sebaliknya jika ia penuh tekad untuk bertindak suci dan jauh dari
keterikatan duniawi, maka ia akan menang. Dengan kata lain semuanya
itu, sebenarnya kembali ke disiplin manusia itu sendiri.
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
37. Keinginan (kama), kemarahan (krodha), yang lahir dari rajoguna
(berbagai ragam nafsu dan keinginan), semua ini serba penuh dengan
keserakahan dan penuh dengan pencemaran. Inilah musuh kita di bumi ini.
Ada dua musuh manusia yang utama di dunia ini, yaitu: kama atau nafsu
dan keinginan, dan yang kedua kemarahan (krodha). Kedua-duanya ini
adalah dua wajah dari sang rajoguna, dan kedua-duanya adalah musuh yang
mematikan bagi manusia. Berhati-hatilah terhadap mereka!
Kita sebaliknya tidak memusatkan pikiran kita pada hal-hal yang duniawi
yang kelihatannya menyenangkan. Sekiranya pikiran selalu terpusat ke
arah suatu obyek yang menyenangkan ini, maka akan timbul suatu
pengalaman atau kejadian yang akan membangkitkan nafsu atau keinginan
kita, kemudian timbul hasrat untuk mendapatkan obyek tersebut dan,
menguasainya secara total, dan jatuhlah kita ke dalam cengkraman sang
Maya. Dan seandainya sebaliknya keinginan tersebut tidak tercapai atau
kita tidak puas akan hasil yang tercapai, maka akan timbul rasa amarah,
dan rasa amarah ini kalau tidak terkendali dapat menghancurkan
segala-galanya. Cara yang terbaik untuk keluar dari cobaan kama ini
adalah dengan mengembangkan tekad kita ke jalan yang penuh disiplin dan
dedikasi kepada Yang Maha Esa. Bekerja aktif sesuai kewajiban kita
kepada Yang Maha Esa akan banyak menolong kita membentuk tekad itu
sendiri, dan tekad ini akan tumbuh terus dengan tegar di dalam diri
kita.
38. Seperti bara-api yang terbungkus oleh asap, seperti cermin yang
terlapis oleh debu dan ibarat embrio (janin bayi) yang terbungkus oleh
kulit perut— begitu juga ini terbungkus oleh itu.
Asap selalu melingkup bara-api, debu selalu menutupi permukaan kaca
atau cermin, dan sang jabang bayi selalu berbungkus oleh kulit perut
ibunya semasa ia masih belum dilahirkan, begitu pun nafsu ini
membungkus Sang Atman kita sehingga tak nampak cahayaNya dari luar.
39. Kebijaksanaan, oh Arjuna, juga terbungkus oleh api nafsu yang tak
terpuaskan ini yang jadi musuh tetap orang-orang yang bijaksana.
Nafsu atau kama yang lapar dapat menjadi musuh dari mereka-mereka yang
bijaksana, karena sering sekali nafsu ini dapat menutupi sinar Sang
Atman yang bersemayam di hati seseorang yang tidak kuat imannya. Salah
satu ucapan Sang Manu (manusia pertama) yang terkenal adalah: “Nafsu
tidak pernah puas oleh obyek-obyek sensual yang didapatkannya. Semakin
banyak yang dicapainya semakin besar ia tumbuh bagaikan bara-api yang
tersiram minyak.”
40. Indra-indra, pikiran dan intelegensia (buddhi) adalah tempat-tempat
nafsu itu bersemayam. Mencegah kebijaksanaan dengan ini, nafsu
menggelapkan sang jiwa yang ada di dalam tubuh.
Apa saja yang dilakukan oleh kama? Kama atau nafsu ini mencegat selalu
di pintu-gerbang indra-indra kita, kemudian kama ini meruntuhkan
benteng pikiran kita dan kemudian masuk ke daerah buddhi (intelegensia)
dan menghancurkan kekuatan batin dan tekad kita. Seorang yang bijaksana
akan selalu menjaga baik-baik gerbang indranya dari segala cobaan.
Setiap kenikmatan indra kita baik itu dari mulut, mata, sex dan
sebagainya walaupun sedikit sebaiknya menjadi lampu-merah dan
peringatan akan bahaya, atau sang musuh yang akan menyelip masuk di
saat-saat kita lengah. Begitu kama menguasai segala indra-indra kita,
pikiran kita dan ratio kita, maka seseorang akan menuju ke arah
kehancuran dirinya. Itulah nafsu yang telah menghancurkan banyak
pahlawan-pahlawan besar, orang-orang bijaksana yang tercatat dalam
sejarah baik di Asia, Eropa maupun di mana saja di dunia ini.
41. Seyogyanyalah, oh Arjuna, kendalikan indra-indramu dan bantailah nafsu berdosa ini yang menghancurkan gnana dan vignana,
Gnana dan vignana telah dijelaskan artinya dalam bab-bab yang lalu
dengan berbagai arti. Disini yang penting adalah bahwa jalan pikiran
kita harus bersih dan murni dalam setiap tindakan yang kita ambil.
Jalan pikiran atau buddhi kita harus dikendalikan dengan baik,atau sang
nafsu keinginan akan segera menghancurkan pengetahuan dan kebijaksanaan
(gnana dan vignana) yang telah kita bina sedikit demi sedikit.
42. Indra-indra kita itu besar kadarnya. Tetapi pikiran itu lebih besar
kadarnya dibandingkan dengan indra-indra itu. Lebih besar lagi kadar
buddhi. Tetapi yang lebih besar lagi kadarnya adalah Ia (Sang Atman,
Sang Inti Jiwa kita).
Jadi bagaimana jalan keluar dari dosa? Serahkan saja yang lebih ringan
kadarnya kepada yang paling berat. Lepaskan semua itu dan berpalinglah
kepada yang paling Inti, dan jalanlah seperti yang selalu dianjurkan
Bhagavat Gita secara berulang-ulang yaitu: Jangan sekali-kali jatuh
pada keinginan atau rasa dualisme yang saling bertentangan seperti
suka-duka, senang-susah, dsb. Dan bertindaklah selalu dalam setiap hal
karena rasa kewajibanmu kepada Yang Maha Esa semata. Bergeraklah dalam
kesadaran mulai dari tangga yang pertama yaitu indra-indra kita dulu,
lalu ke pikiran kita, dan lambat laun dari buddhi ke Sang Atman dan
suatu saat kelak ke Yang Maha Esa. Sekali kita tak terikat lagi pada
nafsu-nafsu duniawi dan telah bersih dari segala kekotoran duniawi, dan
sekali kita berubah jernih maka akan terjadi peleburan diri kita ke
Sang Atman dan tahap selanjutnya diantar untuk menyatu dengan Yang Maha
Pencipta.
43. Dengan mengetahui Dirinya (Sang Atman) lebih agung dari buddhi,
maka kuasailah dirimu (strata yang lebih rendah) dengan Dirimu (Sang
Atman, yang lebih tinggi). dan bunuhlah musuhmu yang bernama nafsu ini,
musuh yang sukar untuk dikalahkan.
Musuh dalam bentuk nafsu ini tidak harus dikalahkan saja, tetapi juga
harus dihancurkan. Kalau tidak ia akan kembali sewaktu ia kuat lagi
untuk menyerang kita. Maka jangan sekali-kali lengah begitu anda
mengira bahwa anda sudah kuat, karena musuh yang satu ini sukar untuk
dikalahkan. Pasrahkan dan serahkan dirimu kepadaNya dan bertindaklah
selalu tanpa pamrih; tanpa suatu usaha atau tindakan yang positif maka
hidup ini akan gagal. Yang harus diperhatikan dari sabda-sabda Sang
Kreshna ini adalah bahwa sang musuh ini selalu hadir sebagai musuh
dalam selimut dan akan menyerang kita di saat kita lengah atau merasa
kuat. Bersatulah dengan Sang Atman, dan bertekadlah untuk membantai
musuh nomor wahid ini, dan Ia akan menuntunmu ke jalan yang benar.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan yang Abadi, Karya
Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka karya ini
adalah bab ketiga yang disebut Karma yoga atau Ilmu Pengetahuan tentang
tindakan (atau pekerjaan).

Bab 04 - Doktrin (ajaran) Rahasia
Berkatalah Yang Maha Pengasih:
1. Ilmu pengetahuan yang tak dapat habis ini Kusabdakan pada Vivasvan;
Vivasvan menyabdakannya kepada Manu; dan Manu menyabdakannya kepada
Ikshvaku.

2. Begitulah pada masa yang silam para guru (resi) agung mengenal
ilmu pengetahuan ini, dari satu ke yang lainnya, tetapi dalam kurun
waktu yang lama kemudian, ilmu pengetahuan ini hilang (dilupakan) dari
dunia, oh Arjuna.
Sri Kreshna menyatakan di sini, bahwa Beliaulah Adiguru yang Pertama
yang mengajarkan ilmu pengetahuan sejati ini kepada mereka-mereka yang
pantas menerimanya di masa-masa yang lampau. Yang pantas menerima
disebut adhikari, dan adhikari yang pertama adalah Vivasvan (Batara
Surya), Dewa Cahaya. Dari Vivasvan ajaran ini turun ke Manu (manusia
yang pertama) yang dianggap menjadi cikal-bakal bangsa Aryan. Manu
kemudian menurunkan ajaran ini kepada Ikshvaku, seorang raja Hindu di
India pada masa yang amat silam. Ajaran sejati ini amat kuno sifatnya,
tetapi amat relevan sampai masa kini, dan hanya diajarkan kepada para
adhikari yang terpilih. Itu sudah suatu ketentuan spiritual Ilahi. Para
guru atau resi-resi yang agung dan suci, para pemikir atau filsuf dan
raja-raja di masa silam menjadikan ajaran ini sebagai pegangan hidup
mereka, sampai suatu saat dimana manusia melupakan ajaran ini.
3. Dan yoga (ilmu pengetahuan) yang sama ini Kubukakan kepadamu hari
ini, karena dikau adalah pemujaKu dan sahabatKu. Inilah rahasia yang
amat agung sifatnya.
Berkatalah Arjuna:
4. Kelahiran Dikau berlangsung kemudian, sedangkan Vivasvan terlahir
lebih awal. Lalu bagaimana mungkin daku dapat memahami bahwa Dikaulah
yang pertama kali menyabdakan yoga ini pada masa awal dunia ini
dibentuk?

Tentu saja Arjuna kebingungan, karena menurut pengetahuan duniawinya
Sang Kreshna yang sebenarnya adalah pamannya sendiri berasal atau lahir
pada kurun waktu yang sama dengannya, sedangkan Vivasvan atau Batara
Surya lahir berjuta-juta tahun yang silam. Lalu bagaimana mungkin Sang
Kreshna mengajarkan ilmu pengetahuan sejati ini kepada Vivasvan pada
awal mula terbentuknya sistim tata-surya itu. Sebagai balasan atas
pertanyaan ini, Sang Kreshna pun mengajarkan mengenai inkarnasi
(avatarvad) dalam ajaranNya yang agung di bawah ini.
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
5. Banyak kelahiran yang telah Kualami dan juga olehmu, oh Arjuna! Aku
mengetahui semua itu, tetapi engkau tak pernah tahu akan
kelahiran-kelahiran itu.

Kelahiran Sang Kreshna tidak seperti kelahiran manusia biasa,
kelahiranNya bebas dari segala nafsu dan keinginan duniawi, dari segala
karma dan selalu dimaksudkan untuk suatu tujuan yang agung dan suci,
yaitu penyelamatan makhluk-makhluk dan dunia ciptaanNya. Sebaliknya
jiwa manusia selalu dibatasi oleh hadirnya ketiga guna (sifat
prakriti), dan akibatnya tak pernah bisa ingat akan masa atau
kehidupannya yang lampau. Dilain sisi, raga kita ini harus menjalani
karmanya. Tetapi bagi Yang Maha Esa, tak ada masa lampau, masa sekarang
atau masa yang akan datang. Baginya semua adalah sekarang, karena Ia
hadir sepanjang waktu, dan kelahiranNya sebagai manusia atau makhluk di
bumi ini selalu karena terdorong faktor KasihNya pada makhluk-makhluk
yang harus dilindungiNya.
6. Walaupun Aku tak pernah dilahirkan dan DiriKu tak terbinasakan, dan
walaupun Akulah Pencipta (Penguasa) semua makhluk; menghadirkan DiriKu
kedalam SifatKu, Aku lahir melalui kekuatanKu.

Ia tak pernah lahir dan tak dapat dibinasakan. la juga Pencipta
semua makhluk dan alam semesta ini, dan la juga yang mengendalikan Sang
Maya dan bereinkarnasi sesuai dengan kehendakNya yang bebas, dengan
kekuatanNya semata. Yang Maha Pencipta ini sempurna dalam segala hal,
tetapi mau juga Ia bereinkarnasi sebagai manusia yang sifat-sifatnya
tidak sempurna dan penuh dengan keinginan-keinginan duniawi. Sebenarnya
tidak pantas ditinjau dari sudut duniawi untukNya menjadi manusia
tetapi Ia melakukannya juga demi makhluk-makhluk dan manusia yang
dikasihNya. Inilah kebesaranNya.
Di dalam salah satu pustaka kuno Hindu yang disebut Bhagavatta dapat
kita baca kelahiran Sang Kreshna sebagai manusia itu ibarat terbitnya
bulan purnama di ufuk timur. Jadi seperti sesuatu episode yang sudah
direncanakan secara khusus dan indah, dan bukan karena suatu efek karma.
7. Pada saat-saat dharma (kebenaran) turun ke titik yang rendah, dan
kezaliman (tindakan adharma) menanjak mencapai puncaknya, maka
Kuproyeksikanlah DiriKu.

Dikala adharma mengalahkan dharma, dan suatu saat manusia mencapai
puncak dari kejahatannya, dan dunia penuh dengan kezaliman dan rasa
keangkara-murkaan, maka Yang Maha Pengasih pun lalu memanifestasikan
DiriNya, dalam bentuk manusia atau makhluk lainnya untuk kemudian
meluruskan lagi jalannya Sang Dharma dengan ajaran-ajaran atau
tindakan-tindakannya. Contoh-contoh ini banyak terdapat dalam
pustaka-pustaka Hindu Kuno, seperti Sang Rama yang menghancurkan
keangkara-murkaan sang Rahwana, dan lain sebagainya. Semua ini
dilakukan oleh Yang Maha Kuasa untuk menyelamatkan manusia dari
kehancuran moral secara total.
Dalam sloka ini Sang Kreshna mengucapkan kata, “Kuproyeksikan DiriKu .
. . ,” ini berarti Sang Kreshna atau Yang Maha Esa turun ke bumi ini,
yang lebih rendah derajatnya dibandingkan dengan tempat la bersemayam.
Karena kasihNya kepada kita agar dapat bangkit lagi ke jalan yang
benar, jalan dharma yang lurus dan suci. la turun sebagai titisan dari
Sang Hyang Vishnu dari masa ke masa. Inilah Kasih-Ilahi yang selalu
tulus untuk manusia dan segala makhluk-makhlukNya di alam semesta
ciptaanNya ini. Om Tat Sat.
8. Demi membela kebaikan, demi hancurnya yang zalim, dan demi teguhnya kebenaran, Aku selalu lahir dari masa ke masa.

Ia selalu menghukum yang jahat dan yang zalim dari masa ke masa,
tetapi hukumanNya ini pun penuh dengan hikmah, penuh dengan
kasih-sayangNya, karena sebenarnya dengan menghukum ini Ia menginginkan
agar mereka-mereka yang tersesat ini kembali ke jalan dharma yang lurus
dan suci. Hukuman dariNya sebenarnya dapat disiratkan sebagai suatu
karunia yang terselubung bagi yang berdosa. Karena seyogyanyalah
setelah selesai menjalani masa-hukumannya maka seseorang seharusnya
sadar dan kembali ke jalan yang benar. Bayangkan kalau seseorang tidak
dihukum untuk mempertanggung-jawabkan kesalahan-kesalahannya, atau
dihukum secara abadi tanpa ampun, maka habislah harapan orang tersebut
untuk bertobat atau kembali ke jalan yang benar.
Berbeda mungkin dengan ajaran-ajaran yang lain, maka dalam agama Hindu,
Yang Maha Esa selalu hadir dari masa ke masa untuk menyelamatkan
evolusi manusia ini dan mengarahkan lagi umat manusia ke jalan yang
benar, baik itu dalam skala kecil maupun dalam skala besar. Bhagavat
Gita sebenarnya kalau ditelaah dengan baik adalah suatu ajaran yang
penuh dengan harapan untuk mereka-mereka yang salah jalan; penuh dengan
pengampunan dan Kasih-Ilahi yang tak terbatas. Om Tat Sat.
9. Barangsiapa mengetahui hal ini (Maksud Sang Kreshna: Kelahiran dan
PekerjaanNya yang Suci ini) secara benar, maka ia tak akan lahir
kembali setelah meninggalkan raganya, tetapi ia datang kepadaKu, oh
Arjuna!
10. Bebas dari nafsu, ketakutkan dan kemarahan; penuh dengan DiriKu,
berserah total kepadaKu, bersih oleh kebijaksanaan yang penuh disiplin
dan dedikasi… maka banyak orang-orang semacam ini yang telah mendapat
DiriKu.

Setiap menitis (atau reinkarnasi) misiNya sudah jelas, yaitu
mengajak kita manusia untuk bersatu lagi dengan Yang Maha Esa, agar
lepas dari beban lahir dan mati di dunia ini. Seseorang yang sudah
lepas dari nafsu dan rasa amarah adalah yang jiwanya sudah penuh dengan
Kenikmatan Ilahi. Orang semacam ini kalau melepaskan raganya akan lepas
dari perputaran karma, dan langsung menyatu dengan PenciptaNya
(madbhava magatah).
Sang Kreshna tidak saja lahir sebagai manusia, sering sekali Ia pun
datang kepada kita pada saat-saat tertentu dalam hidup setiap individu
yang membutuhkanNya, yang memujaNya secara tulus dan tanpa pamrih. Ia
datang dan berbisik, menuntun ke arah yang benar, sering sekali jalan
dan cara menuntunNya ini terasa aneh, misterius dan tak masuk akal,
tetapi dibalik itu semua selalu tersembunyi hikmah dan akhir yang baik
untuk sang pemuja ini. Bagi yang menyayangiNya dan yang disayangiNya
maka bersihlah jiwa orang ini lambat laun dan akhirnya bersatu dengan
DiriNya. Om Tat Sat.
11. Jalan apapun yang diambil seseorang untuk mencapaiKu, Kusambut
mereka sesuai dengan jalannya, karena jalan yang diambil setiap orang
di setiap sisi adalah jalanKu juga, oh Arjuna!

Jalan kepercayaan atau agama apapun juga yang diambil seseorang
untuk mencapai Yang Maha Esa adalah jalanNya juga. Jadi setiap manusia
menurut Bhagavat Gita berhak untuk menentukan jalan apa saja yang
diinginkannya untuk mencapai Yang Maha Esa, dan di ujung jalan itu
berdiri Yang Maha Esa menyambutnya, karena bagiNya semua jalan itu akan
berakhir pada suatu ujung. Jadi tidak ada agama yang dibeda-bedakan
oleh Sang Kreshna atau Yang Maha Esa, karena tujuannya baik, yaitu ke
arahNya semata, walaupun dalam pengertiannya manusia sering salah
mengartikannya.
Bagi seorang Hindu yang sejati semua kepercayaan terhadap Yang Maha Esa
dan agama adalah sama, yaitu jalan ke Yang Maha Esa semata, dan tidak
ada alasan lain untuk merubah atau mempengaruhi orang yang beragama
atau berkepercayaan lain untuk masuk ke agama Hindu. Seorang Hindu yang
baik akan selalu tunduk dan hormat melihat tempat-tempat pemujaan agama
lain, karena baginya yang ia lihat adalah jalan dan tujuan yang Satu,
yaitu jalannya Yang Maha Esa.
12. Mereka yang mengingini sukses di muka bumi ini memberikan
pengorbanan kepada para dewa (dan merekapun mendapatkan imbalan dari
para dewa), karena di dunia ini sesuatu tindakan itu cepat mendapatkan
tanggapan (hasil).

Tidak semua orang mau maju ke arah Yang Maha Esa, banyak yang memuja
para dewa agar dipenuhi keinginan duniawi mereka, dan para dewa ini pun
segera memberikan tanggapan atau respons kepada para pemuja-pemuja
mereka ini dan memenuhi permintaan mereka. Sebenarnya para pemuja ini
secara tidak langsung dan tidak sadar memujaNya juga melalui proses
yang panjang. Suatu waktu kemudian di dalam hati mereka nanti akan
timbul suatu kesadaran akan perlunya Yang Maha Esa dan mereka pun
mencari dan memujaNya secara tulus dan penuh kesadaran. Yang Maha Esa
dalam Bhagavat Gita tidak melarang seseorang untuk memuja para dewa,
karena para dewa juga datang dan berasal dariNya. Semua ini hanya
merupakan suatu proses panjang dalam tahap-tahap evolusi kehidupan
manusia itu sendiri, bermula pada pemujaan kepada para dewa untuk
maksud-maksud tertentu dan setelah itu berakhir dengan kesadaran penuh
dan tulus bahwa seharusnya yang dipuja adalah Yang Maha Esa itu sendiri
tanpa perlu melalui jalan yang panjang. Seharusnyalah Bhagavat Gita
menyadarkan kita semua agar tidak lagi melalui dedikasi yang tulus,
sesuai dengan ajaran-ajaran Sang Kreshna ini kita bisa langsung menuju
ke arahNya.
13. Kuciptakan keempat sistim kehidupan (chaturvarnyam), sesuai dengan
pembagian guna (sifat-sifat prakriti) dan karma (aksi dan kerja).
Walaupun Aku yang mencipta keempat sistim kehidupan ini, tetapi
ketahuilah bahwa Aku tidak bekerja dan tak pernah berganti-ganti
(sifat).
Keempat varna adalah empat tipe kehidupan, masing-masing merupakan
produk asli dari pikiran dan tindakan manusia itu sendiri yang sudah
ada semenjak ia dilahirkan. Ada manusia yang ingin menjadi seorang
brahmin, ada yang ingin menjadi tentara (keshatria), dan ada yang ingin
menjadi pedagang dan ada yang memilih menjadi seorang buruh. Semua ini
sebenarnya adalah manifestasi dari karma, pikiran dan bakat
masing-masing sesuai dengan keinginan sejatinya. Harus dicamkan secara
serius oleh kita semua bahwa di dalam masing-masing individu ini
bersemayam Satu Tuhan dan adalah bebas bila seseorang memilih menjadi
brahmin, kshatria, vaishya atau sudra, dan semua ini bukanlah seperti
anggapan atau tradisi yang salah yang berlaku selama ini, yaitu seorang
ditentukan kastanya karena status atau garis keturunnya, tetapi
kastanya ditentukan kemudian setelah ia menentukan dengan sadar garis
dan tujuan hidupnya dan sebagai apa ia akan bekerja sesuai dengan bakat
dan kemauannya yang sejati.
Sistim varna atau kasta ini sebenarnya adalah pembagian kerja dengan
konsep yang modern yang disebut kelas di negara-negara Barat. Tetapi
banyak masyarakat Hindu malahan menyalah-gunakan ini demi kepentingan
pribadi yang akibatnya menimbulkan diskriminasi sosial yang serius yang
mengacaukan agama Hindu itu sendiri, dan menjadi bahan tertawaan
orang-orang luar. Di satu pihak orang-orang Hindu menjunjung tinggi
nilai-nilai Sang Atman dan yakin terdapat satu Atman yang sama di dalam
semua makhluk, di lain sisi banyak orang Hindu yang memutar-balikkan
fakta-fakta tentang kasta ini dan menimbulkan diskriminasi sosial yang
rawan. Sistim yang sebenarnya diciptakan untuk fungsi-fungsi sosial
masyarakat ini seharusnya dijalankan secara sejati dengan membiarkan
seseorang untuk memilih profesi kesukaannya secara sama derajatnya
dengan profesi-profesi lainnya. Konsep Sang Kreshna bukanlah meninggi
atau merendahkan derajat seseorang tetapi secara demokratis membiarkan
setiap individu berkehendak masing-masing. Karena bisa saja seseorang
yang lahir dengan kasta Brahmana secara duniawi ini mempunyai jiwa
patriotik dan ingin mengabdi sebagai seorang keshatria dan begitu pun
sebaliknya. Semua manusia didasarkan pada karma, sifat-sifat prakriti
dan jalan hidupnya, bukan berdasarkan pada sistim kasta yang
diskriminatif, atau jenis kelamin yang berbeda. Yang Maha Esa sendiri
di sloka ini menegaskan bahwa la sendiri walaupun sebagai pencipta
sistim kasta ini tidak terlibat pada sistim ini maupun pada sifat-sifat
prakriti.
14. Tidak ada tindakan yang dapat mengotoriKu; dan tidak pula Aku
mengingini suatu imbalan dari suatu tindakan. Barangsiapa yang
mengenalKu seperti itu tak akan terikat oleh karma (aksi).
Sang Kreshna menerangkan sebuah paradox di sloka ini, yaitu tanpa
bekerja pun Ia tetap saja mampu menciptakan karma dan guna. Tetapi
setiap tindakanNya tidak seperti tindakan manusia yang selalu
mengharapkan sesuatu pamrih untuk setiap tindakannya. Bagi Sang Kreshna
setiap tindakan adalah cetusan dari rasa Kasih-SayangNya terhadap
manusia atau makhluk-makhluk lainnya. Dan tidak ada satu pun dari
tindakanNya ini yang dapat mengikatnya ke jalur karma karena Ia memang
tidak terikat oleh karma yang diperuntukkan untuk manusia dan
makhluk-makhluk di dunia ini. Dan barangsiapa menyadari akan status
Sang Kreshna yang unik ini, maka orang yang sadar ini akan lepas juga
dari lingkaran karma (hidup dan mati) ini. Sebenarnya Yang Maha Kuasa
adalah dasar dari setiap tindakan kita, tetapi di mata manusia Ia tak
pernah terlihat bahkan sukar untuk disadari kehadiranNya di dalam diri
kita karena kegelapan yang menyelubungi diri dan jiwa kita. Walaupun Ia
bertindak melalui diri kita, Ia sendiri sebenarnya tidak terlibat atau
terpengaruh oleh tindakan-tindakan ini, yang merupakan tindakanNya
Sendiri.
15. Mengetahui akan hal ini maka orang-orang dahulu kala telah
bertindak sesuai dengan hal tersebut. Maka seyogyayalah dikau pun
bertindak seperti orang-orang di masa silam ini.
16. Apakah aksi (tindakan) itu? Dan apakan tidak bertindak (akarma)?
Kaum yang bijaksana pun kalut memikirkannya. Dengan ini akan
Kuberitahukan kepadamu apakah aksi itu; dengan mengetahuinya engkau
dapat terhindar dari dosa (kesalahan).
17. Seseorang seharusnya tahu apakah aksi itu (perbedaan antara satu
aksi dengan yang lainnya), dan aksi apakah yang salah sifatnya
(vikarma) dan apakah non-aksi (akarma) yang sebenamya.
Ketiga bentuk hal tersebut di atas harus diketahui secara benar agar
tidak terjadi penyalahgunaan tindakan oleh yang tidak mengerti atau
yang tidak mau mengerti dan memutar-balikkan ajaran-ajaran Sang Kreshna
ini. Pekerjaan atau aksi apa saja yang benar dan harus dilakukan
seseorang dalam hidupnya, dan apa saja yang harus dihindarkannya, dan
bagaimanakah seseorang harus bertindak agar mencapai suatu bentuk aksi
dalam non-aksi misalnya?
18. Seseorang yang melihat non-aksi di dalam aksi, dan aksi di dalam
non-aksi, maka diantara manusia orang ini disebut bijaksana
(buddhiman). Hidupnya penuh dengan keharmonisan (yutkah), walaupun ia
selalu penuh dengan berbagai aksi (atau perbuatan dan tindakan).
Seseorang yang tenang ditengah-tengah aktivitasnya, dan aktif dalam
ketenangannya adalah seorang yang bijaksana. Dalam setiap tindakannya
ia selalu secara stabil dan tenang bersandar pada Sang Atman yang
bersemayam di dalam dirinya, dan untuk setiap pekerjaan atau
tindakannya ia tak pernah mengharapkan sesuatu pamrih, jadi walaupun
bekerja ia sebenarnya “tidak bekerja.” Karena setiap tindakan atau
perbuatannya sekecil apapun juga selalu menjadi sembahan bagi Yang Maha
Esa, ia selalu melakukan pengorbanan atau pekerjaan demi dan untukNya
semata (ini disebut yagna atau aksi yang sebenarnya).
Acapkali kalau kita naik kereta-api atau kendaraan lain, maka pepohonan
di kiri dan kanan kita seakan-akan bergerak padahal yang bergerak
adalah kendaraan yang kita tumpangi. Jadi yang nampak adalah ilusi.
Sebaiknya kita pun dalam setiap tindakan kita berprinsip bahwa
pekerjaan yang kita lakukan itu sebenarnya adalah ilusi, dan kita
sendiri sebenarnya tidak bekerja.
Dalam aksi marilah kita lihat non-aksi, dan dalam non-aksi kita
praktekkan aksi. Non-aksi (akarma) sejati tidak berarti tidak bekerja
sama-sekali. Misalnya kalau ada tetangga yang amat miskin sedang
membutuhkan sesuatu bantuan, dan walaupun ia tidak memintanya,
seharusnya kita tidak diam-diam saja tidak berbuat sesuatu kalau memang
kita mampu melakukan sesuatu untuknya; berdiam-diam saja tak mau tahu
itu bukan non-aksi tetapi adalah vikarma (aksi yang salah). Akarma atau
non-aksi yang sejati itu penuh dengan keharmonisan jiwa sang pelaku,
orang semacam ini selalu nampak tenang dan tidak tergesa-gesa dalam
setiap tindakannya. Akarma yang sejati selalu penuh dengan kepasrahan
total yang tulus kepadaNya, dan ciri-ciri khas dari tindakan akarma
yang sejati ini selalu merupakan tindakan yang positif bagi sesamanya,
walaupun secara duniawi bisa saja ia disalahkan. Tetapi secara moral
tindakan manusia semacam ini selalu bermotifkan kemanusiaan yang agung
sifatnya.
Raja Janaka dan Suka adalah contoh dari dua orang manusia agung di masa
yang silam, yang betul-betul mempraktekkan ajaran ini, dan selalu
melihat aksi dalam non-aksi dan non-aksi dalam aksi. Non-aksi yang
sejati akan melepaskan diri seseorang dari semua nafsu-nafsu dan cinta
duniawinya, juga dari rasa egoisme pribadi tanpa kehilangan
tanggung-jawab untuk setiap kewajiban dan pekerjaannya. Inilah yang
disebut pasrah total kepadaNya secara spiritual.
19. Seseorang yang bertindak bebas dari segala bentuk nafsu (kama
sankalpa), seseorang yang setiap tindakannya terbakar bersih oleh api
kebijaksanaan (gnana-agni) — orang semacam inilah oleh orang-orang yang
bijaksana, disebut seorang pandita (seorang yang suci, yang sadar akan
pengetahuan yang sebenarnya).
Sankalpa adalah rasa egoisme, dan merupakan dasar dari kama dan nafsu.
Pandit atau pandita adalah seorang yang bekerja demi dunia dan
sesamanya (loka-sangraho) di dunia ini, dan hanya merasa cukup dengan
apa yang didapatkannya untuk dirinya, sekedar untuk pakai dan makan
saja, itu pun sebagai kelangsungan hidupnya demi Yang Maha Esa.
Gnana-agni adalah api ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan apakah itu ?
Ilmu pengetahuan yang mengatakan bahwa setiap tindakan sebaiknya
dikerjakan tanpa suatu nafsu atau keinginan pribadi dan berdasarkan
pada penerangan Sang Atman yang ada dalam diri kita sendiri. Api dari
ilmu pengetahuan ini akan membersihkan semua tindakan kita dan membunuh
nafsu-nafsu duniawi kita yang selalu butuh imbalan atau pamrih. Pandita
semacam ini amat bijaksana, karena ia melihat aksi dalam non-aksi. Raga
dan pikirannya selalu bekerja demi Yang Maha Esa dan sesamanya, tetapi
untuk dirinya sendiri ia tak pernah bekerja.
20. Seseorang yang telah menanggalkan rasa-keterikatannya pada setiap
tindakannya, selalu merasa cukup dengan apa adanya, tidak bersandar
pada orang lain, orang semacam ini tidak melakukan apa-apa walaupun ia
selalu aktif bekerja.
21. Tidak mengharapkan apapun juga, hati dan dirinya terkendali,
menanggalkan semua keserakahannya, dan bekerja dengan raganya saja -
orang semacam ini tidak bertindak dosa.
22. Selalu merasa cukup dengan yang didapatkannya, bebas dari rasa
dualisme yang bertentangan (dvandas), tanpa rasa iri atau cemburu,
bersikap sama (balans) untuk setiap sukses atau kegagalan - walaupun ia
bekerja ia tak terikat.
Orang semacam ini menerima apa saja dalam hidupnya dengan rasa tentram,
tenang, damai dan selalu merasa cukup dengan apa adanya. Suka dan duka,
sukses dan kegagalan, rugi dan untung, lahir dan mati, dianggap sama
saja olehnya. Tak pernah ia merasa iri, dengki atau cemburu melihat
kesuksesan atau kekayaan atau pun kejayaan orang lain. Baginya apa saja
yang diberikan oleh Yang Maha Esa terasa cukup dan selalu ia haturkan
terima-kasih kepadaNya untuk segala-galanya baik suka maupun duka.
Semua tindakan orang semacam ini tak akan mengikatnya lagi ke dunia
yang fana ini, karena orang semacam ini telah mendapatkan Karunia Ilahi
yang tak terhingga dalam bentuk ketentraman batin dan spiritual.
23. Seorang yang keterikatannya telah mati, yang telah bebas dari
duniawi (mukta), pikirannya telah teguh berdiri dalam kebijaksanaan,
yang mengerjakan pekerjaannya sebagai persembahan — maka mencairlah
semua tindakan orang semacam ini.
Sang Kreshna berulang-ulang menekankan di Bhagavat Gita bagaimana
seseorang dapat lepas dari kegelapan duniawi ini, yaitu dengan
melakukan suatu atau setiap tindakannya berdasarkan rasa tanpa pamrih.
Atau dengan kata lain semua pekerjaan yang kita lakukan haruslah
berbentuk persembahan bagiNya. Rasa ego kita selalu mengatakan ini
punyaku dan itu pekerjaan hasil kerjaku, sehingga yang tercipta selalu
adalah suatu keterikatan duniawi, dimana kita sendiri terikat dengan
ke-aku-an ciptaan kita sendiri. Padahal semua ini bukan milik kita,
karena dari mana kita datang dan kemana kita akan pergi pun sebenarnya
tidak ada manusia yang mengetahuinya secara pasti. Yang hadir hanyalah
ilusi, dan tanpa kehendakNya tak ada yang mungkin bisa terjadi. Jadi
sebaiknya secara sadar bekerjalah selalu secara aktif, tetapi
jadikanlah pekerjaan itu sebagai suatu yagna (persembahan atau ibadah
pengorbanan) baginya.
24. Seseorang yang terpikir bahwa tindakan pengorbanan itu Tuhan
adanya. Yang dikorbankannya juga Tuhan. Dan oleh Tuhan pengorbanan itu
dikorbankan ke Api Tuhan. Maka ke Tuhan jugalah pergi orang yang sadar
akan Ketuhanan dalam pekerjaannya.
Sloka di atas ini merupakan suatu pesan yang amat dalam artinya. Secara
amat sederhana dapat diartikan bahwa apa yang kita kerjakan, yang kita
lihat, yang kita korbankan adalah Ia juga. Jadi semuanya di dunia ini
berasal dari Ia, untuk Ia, dan oleh Ia. Jadi dalam segala hal
sebenarnya hadir Yang Maha Esa, dan tanpa la tak ada apapun di dunia
ini. Secara langsung menurut Bhagavat Gita, semua itu Ia juga adanya.
Seorang yang secara sejati bekerja demi Yang Maha Esa akan dapat
melihat fakta ini dalam setiap tindakannya. (Biasanya sloka di atas ini
dipakai oleh orang-orang Hindu sebelum menyantap makanan mereka).
25. Sementara yogin (para pemuja) mempersembahkan sesajen kepada para
dewa, (tetapi) ada juga sementara yogin yang mempersembahkan “diri”
mereka ke Api nan Agung.
Ada pemuja-pemuja yang membakar sesajen di bara-api, menaikkan
puja-puji bagi para dewa agar diberikan kepada mereka imbalan-imbalan
tertentu. Tetapi ada juga pemuja-pemuja yang mempersembahkan ego diri
mereka sendiri ke Api Abadi Sang Maha Kuasa (Sang Brahman). Para pemuja
ini mempersembahkan semua tindakan mereka kepada Yang Maha Esa dengan
tulus dan tanpa mengharapkan sesuatu imbalan. Mereka berkata terjadilah
kehendakNya sesuai dengan kehendakNya.
26. Ada pemuja yang mempersembahkan pendengaran dan indra-indra lainnya
ke api pengorbanan (menjauhi kontak-kontak sensual indra-indra mereka
dari obyek-obyek indra-indra ini). Ada yang mempersembahkan suara dan
obyek-obyek sensual mereka ke api indra-indra mereka.
Banyak pemuja yang mengorbankan pendengaran mereka dan juga indra-indra
lainnya dari kontak-kontak sensual indra-indra ini dengan obyek-obyek
kontaknya. Usaha ini sebagai disiplin pribadi mereka dalam mengekang
atau mengendalikan kegiatan-kegiatan indra-indra mereka seperti mulut,
hidung, kuping, dan organ-organ seksual mereka. Disiplin ini dimaksud
untuk pemujaan kepada Sang Atman yang bersemayam di dalam diri mereka
masing-masing.
27. Ada juga pemuja yang mempersembahkan semua tindakan-tindakan
indra-indra mereka dan semua fungsi tenaga vital (prana) mereka ke api
yoga pengendalian yang diterangi oleh ilmu pengetahuan (gnana).
28. Tetapi ada juga yang mepersembahkan harta-benda mereka atau, dengan
menyakiti diri mereka sendiri, atau dengan disiplin yoga; sedangkan
mereka yang mempunyai tekad (atau iman) yang kuat mempersembahkan
pengetahuan dan ajaran mereka sebagai pengorbanan mereka.
29. Ada lagi mereka yang penuh dedikasi dalam pengendalian nafas
(pranayama), yang mengendalikan jalan prana (nafas) yang dikeluarkan
dan jalan apana (nafas yang dimasukkan), dan mengalirkan prana ke apana
dan apana ke prana, sebagai persembahan mereka.
30. Ada lagi yang sangat membatasi makanan mereka dan mengalirkan nafas
kehidupan (prana) mereka ke dalam prana mereka sebagai persembahan.
Mereka semua ini tahu apa arti dari pengorbanan, dan dengan pengorbanan
mereka menghapus dosa-dosa mereka.
31. Mereka-mereka yang memakan sisa-sisa makanan suci yang tersisa dari
suatu persembahan (atau pengorbanan) akan mencapai Sang Brahman Yang
Abadi (Tuhan). Dunia ini bukan untuk orang yang tak mau mempersembahkan
suatu pengorbanan, apa lagi dunia yang lainnya, oh Arjuna.
32. Begitulah banyak ragam cara pengorbanan yang dipersembahkan
dihadapan Yang Maha Abadi (cara-cara untuk mencapai Tuhan Yang Maha
Esa). Dan ketahuilah dikau bahwa semua itu lahir dari tindakan (atau
perbuatan). Dengan mengetahui hal ini dikau akan bebas.
33. Lebih baik dari pengorbanan materi adalah gnana-yagna, yaitu
pengorbanan dalam bentuk kebijaksanaan, oh Arjuna! Karena semua
tindakan, tanpa kecuali memuncak dalam kebijaksanaan (pengetahuan).
Sang Kreshna menyebut berbagai cara persembahan atau pengorbanan yang
dilakukan manusia kepadaNya. Semua yagna ini timbul berdasarkan tingkat
kesadaran manusia-manusia itu sendiri berdasarkan evolusi manusia itu
sendiri dalam hidup ini. Setiap manusia berdasarkan sifat-sifat
prakritinya membentuk varna (tujuan hidupnya sendiri) secara pribadi
masing-masing dan kemudian mempersembahkan pengorbanan kepada Yang Maha
Esa sesuai dengan kondisi-kondisi yang disandangnya ini.
Ada yang mengendalikan pendengaran mereka dengan tapasya (displin diri
berupa tapa atau meditasi) yang ketat. Ada yang melepaskan semua
selera-selera indra mereka dan menjauhi obyek-obyek duniawi ini. Ada
yang mempersembahkan harta-benda mereka, ada juga yang mempersembahkan
berbagai tindakan atau kegiatan spiritual seperti meditasi, swadhaya
(membaca secara hening), ilmu, prananyama (pengendalian nafas), dan ada
yang mengendalikan cara makan mereka dengan berpuasa atau berpantang
sesuatu seperti daging atau benda hidup, dan lain sebagainya. Semua
pengorbanan ini kalau dilaksanakan secara tulus akan mengantar
seseorang ke arah jalan yang benar, dan semua pengorbanan ini merupakan
tangga-tangga ke arah kebebasan karma-karma kita. Semua tindakan
pengorbanan ini lahir dari karma (aksi) dan oleh orang-orang sadar
banyak dilakukan untuk upaya pembersihan diri guna mencapai Yang Maha
Esa. Dan barangsiapa dengan jujur, tulus dan tanpa pamrih bekerja demi
Yang Esa maka lambat laun seluruh upaya-upayanya akan terpusat
kepadaNya semata. Seluruh tindak-tanduk maupun perbuatannya kemudian
akan dikerjakannya secara otomatis dan tanpa sadar demi Yang Maha Esa,
dan sesudah itu secara sadar.
Tetapi pengorbanan dalam bentuk kebijaksanaan (gnana-yoga) adalah
dianggap sebagai pengorbanan yang suci untuk Yang Maha Esa, dan
pengorbanan ini nilainya lebih tinggi dan luhur dibandingkan dengan
pengorbanan-pengorbanan bentuk lainnya. Tetapi jangan menganggap remeh
atau rendah bentuk-bentuk pengorbanan yang lainnya, karena semua itu
hanya merupakan tangga-tangga dalam evolusi seorang pemuja ke arah
spiritual yang lebih tinggi sifatnya. Secara otomatis, bagi seorang
pemuja yang tulus semuanya akan diatur olehNya.
Lalu pasti ada yang bertanya mengapa gnana lebih tinggi dari karma?
Karena karma selalu menghasilkan imbalan atau pamrih, sedangkan gnana
(pengetahuan atau kebijaksanaan) sekali tercapai akan menuju ke Yang
Maha Esa, karena gnana yang lulus itu berdasarkan tanpa pamrih. Dalam
kebijaksanaan terdapat kebaikan atau kebebasan dari duniawi ini untuk
kita semuanya. Orang-orang bijaksana tak akan mcnyimpan ilmu
pengetahuannya untuk dirinya saja, tetapi akan membagi-bagikannya
kepada yang lain-lain agar tercapai kesentosaan untuk semuanya, dan
semua itu dilakukannya tanpa pamrih. Karena sudah merupakan kewajiban
orang-orang bijaksana ini untuk membantu sesamanya untuk menyeberangi
lautan luas duniawi ini ke ujung pantainya Yang Maha Esa. Inilah
gnana-yagna, yaitu pengorbanan agung dan suci ilmu pengetahuan sejati
mereka demi Yang Maha Esa.
34. Pelajarilah kebijaksanaan dengan merendahkan-diri, dengan bertanya
(studi) dan dengan bekerja demi seorang guru yang bijaksana).
Orang-orang yang bijaksana yang telah melihat Kebenaran - akan
mengajarimu dengan penuh kebijaksanaan.
Kebijaksanaan akan diajarkan oleh mereka-mereka yang telah mencapai
kebijaksanaan ini, yang penting bagi seorang yang ingin mempelajarinya
adalah dengan mengikuti tiga faktor berikut ini: pertama, harus
memiliki rasa rendah-diri (pranipaia) dalam segala hal, dan ia akan
dapat banyak belajar dari seorang guru yang bijaksana. Kedua disebut
pariprashna, yaitu dengan studi atau penyelidikan yang seksama. la
harus mencari sendiri kebijaksanaan ini dengan aktif dan dengan rajin
mempelajari ajaran-ajaran para gurunya. Untuk mengerti sendiri arti
dari kebijaksanaan ini haruslah menghayatinya secara pribadi. Ketiga,
Seva, yaitu bekerja demi sang guru spiritual ini, yaitu sifatnya
melayani segala kebutuhan hidup sang guru dengan bekerja untuknya tanpa
pamrih, dan menganggap sang guru ini sebagai orang-tuanya sendiri yang
harus diperhatikan segala bentuk kehidupannya. Seorang guru yang baik
dan tulus sebaliknya akan selalu menolak bakti dari muridnya secara
halus, tetapi sang murid harus sadar akan kewajibannya, karena inilah
salah satu tangga dari bakti kepada Yang Maha Esa dan sesamanya di
dunia ini.
Sebenarnya Guru yang sejati yang disebut Adhi Guru ada dan bersemayam
di dalam diri kita masing-masing, tetapi sebagai manusia kita lebih
condong kepada bentuk duniawi daripada mendengar suara hati nurani kita
sendiri, sehingga selalu diperlukan seorang guru spiritual pada awalnya
untuk kita semua agar kita dapat lebih memahami apa yang sedang kita
pelajari. Pada tahap lanjut nanti seorang guru spiritual hanya
berfungsi sebagai jembatan, dan mengantarkan kita ke Sang Adhi Guru
yang sebenarnya tidak jauh berada dari kita semua.
Sebenarnya dalam kepercayaan agama Hindu, seorang yang tulus dan ingin
menuju ke jalan Yang Maha Esa, tidak perlu kesana-kemari secara
mati-matian untuk mencari seorang guru spiritual baginya. Yang penting
adalah menyiapkan diri dan batinnya secara tulus dan memohon kepada
Yang Maha Esa agar dituntun jalannya, maka pada bentuk seorang guru dan
membimbingnya kearah Yang Maha Esa. Percaya atau tidak, tetapi seorang
guru spiritual pasti akan datang atau bertemu sendiri dengan murid
pilihannya sendiri pada suatu waktu yang tepat. Seorang pemuja yang
tulus dengan ini bukan berarti lalu diam-diam saja; tidak, ia harus
berusaha dengan tulus untuk menemukan guru ini, tetapi semuanya akan
terjadi pada saatnya yang tepat. Kemudian kalau ini terjadi belajarlah
sang murid dengan tulus dan penuh dengan kerendahan hatinya, dan pada
suatu waktu yang tepat sang guru ini akan menurunkan kebijaksanaannya
kepada sang murid ini. Ada guru-guru yang begitu luar biasa kharismanya
sehingga dalam sekejap dapat membuka pintu hati sang murid dengan satu
sentuhan spiritual saja. Semua ini tentunya berdasarkan persiapan
mental yang tulus dari sang murid dan atas berkah Yang Maha Esa semata.
Sebenarnya semuanya sudah diatur olehNya juga, tidak lebih dan tidak
kurang. Om Tat Sat.
35. Dan setelah mengenal kebijaksanaan ini (gnana) dikau, oh Arjuna,
tak akan jatuh lagi kedalam kekalutan. Karena dalam kebijaksanaan ini,
dikau akan melihat semua makhluk, tanpa kecuali, berintikan pada Sang
Atman, dan lalu dalam DiriKu.
Kebijaksanaan ini sebenarnya adalah ilmu pengetahuan spiritual, ilmu
pengetahuan yang sejati yang membuka kenyataan tentang kesatuan antara
kita dengan Yang Maha Esa. Kesatuan antara semua makhluk dengan Sang
Atman, dengan jiwa kita, dengan Yang Maha Esa. Dan kalau suatu waktu
kita betul-betul sadar sendiri akan kesatuan ini, maka tercapailah
kesadaran-diri atau kesadaran akan hadirNya dan kesatuanNya Yang Maha
Esa dengan diri kita.
Kebijaksanaan ini adalah melihat atau mengerti dalam arti yang
sebenarnya, bahwa semua di dunia ini jatuh dalam satu garis atau suatu
kesatuan, yaitu Yang Maha Esa. Kita tidak hanya harus percaya atau
merasa atau mengerti, tetapi setelah mencapai kebijaksanaan ini
seseorang akan melihat bahwa semua makhluk, benda, susunan kosmos atau
alam semesta ini beserta seluruh isinya berada dalam suatu kesatuan
yang Esa, yaitu kesatuan Sang Atman. Para ilmuwan mengatakan bahwa
setiap benda ada dan bergerak di alam semesta ini. Seseorang yang sadar
melihat bahwa setiap benda ada dan bergerak dalam suatu kesatuan Ilahi.
36. Walaupun dikau ini adalah seorang yang paling berdosa di antara
mereka-mereka yang berdosa, tetapi dikau dapat menyeberangi semua
dosa-dosa ini hanya dengan berperahu kebijaksanaan saja.
Kata-kata atau sabda Sang Kreshna ini penuh dengan pesan-pesan harapan
bagi kita, manusia, coba bayangkan bahkan seorang yang paling
berdosapun dapat langsung mencapai Yang Maha Kuasa dengan dedikasi yang
tinggi. Kalau dipikir-pikir siapa di dunia ini yang tak pernah berdosa
atau pernah sesat dalam hidupnya, dan tak seorangpun ini harus
kehilangan harapannya, selama ia mau mengoreksi kehidupannya dan
berjalan penuh dedikasi dan kesadaran kepadaNya. Ia akan mengangkat
kita semua dari lembah dosa dan menuntun tangan kita kearahNya selalu.
Semua rasa keterikatan duniawi adalah dosa, dan bukan saja keterikatan
pada hal-hal yang tidak baik, tetapi keterikatan pada hal-hal yang
dianggap baik seperti dharma itu sendiri, atau pada rasa egoisme yang
dianggap positif. Seseorang yang merasa dirinya adalah orang berdosa.
Jadi sebelum meneliti seseorang lain, sebaiknya hilangkan dulu rasa
egoisme pribadi kita.
37. Ibarat api yang membara membakar kayu-kayu menjadi abu, oh Arjuna,
begitu pun api kebijaksanaan membakar semua aksi (tindakan) menjadi abu.
Gnana (kebijaksanaan) membakar semua karma kita yang telah terkumpul
maupun yang akan datang menjadi abu, maksudnya gnana itu begitu tinggi
nilainya sehingga semua karma kita termasuk yang akan datang dapat
tumpas karenanya. Dan hanya karma yang telah membuahkan hasil saja yang
harus dilewati.
38. Sebenarnya tidak ada yang lebih menyucikan diri selain
kebijaksanaan. Seseorang yang telah sempurna dalam yoga (ilmu
pengetahuan)nya, akan menemukan kebijaksanaan ini di dalam dirinya
sendiri — Sang Atmannya, sesuai dengan waktunya.
39. Seseorang yang mempunyai iman dan telah bersatu dalam kebijaksanaan
dan telah menguasai indra-indranya - ia akan mendapatkan kebijaksanaan
ini. Dan setelah mencapai kebijaksanaan ini maka segera ia menuju ke
Kedamaian Yang Abadi (Ketenangan Ilahi, dimana tidak ada kematian lagi.)
40. Tetapi barangsiapa yang tidak tahu, tidak memiliki kepercayaan,
yang selalu ragu-ragu sifatnya, akan pergi ke kehancuran. Untuk
seseorang yang ragu-ragu tak akan ada dunia ini atau dunia yang lebih
tinggi iagi, bahkan baginya tidak ada kebahagiaan.
Kepercayaan yang sifatnya penuh dengan keragu-raguan pada yang akan
menyesalkan seseorang dalam perjalanannya mencari kebenaran. Rasa
ragu-ragu mengisi jiwa seseorang dengan keputus-asaan, dan terhambatlah
sinar yang menerangi orang ini.
41. Seseorang yang telah menyerahkan semua aksi atau
tindakan-tindakannya dalam yoga (bekerja tanpa pamrih), yang telah
menebas keragu-raguannya dengan kebijaksanaannya, dan selalu memiliki
Sang Atman (yang selalu dibawah raungan atau perintah Sang Atman) -
maka untuk orang semacam ini tidak ada aksi yang mengikatnya, o Arjuna!
Seseorang yang sesuai dengan karma-yoga bekerja tanpa pamrih walau
apapun statusnya dalam masyarakat, dan telah bulat tekadnya ke arah
Yang Maha Esa, dan telah hilang sama sekali keragu-raguannya, maka
orang semacam ini hanya bekerja demi Yang Maha Esa sesuai dengan
bisikan Sang Atman; untuk yang telah mencapai status ini tak ada karma
atau aksi yang mengikatnya. Orang semacam ini dikatakan telah
mempersembahkan karmanya kepada Yang Maha Esa sebagai persembahan
kasih-sayangnya pada Ilahi. Dan ia pun akan memiliki Sang Atman dalam
dirinya secara sadar. Ia akan dituntun dalam segala aksinya, dijauhkan
dari kegelapan duniawi. Secara benar dan sadar ia akan merasakan semua
bisikan dan tuntunan Sang Atman di dalam dirinya, dan ini merupakan
suatu tahap yang sangat tinggi dalam kehidupan spiritual seseorang. Dan
tidak ada lagi tahap yang lebih tinggi dalam kehidupannya sebagai
manusia, karena ia telah mencapai status yang terpilih olehNya.
42. Dengan demikian, tebas dan buanglah jauh-jauh keragu-raguan dalam
hatimu, yang timbul dari kekurang-pengetahuanmu, teguhkan dirimu dalam
yoga (ilmu pengetahuan sejati) dan berdirilah, oh Arjuna!
Seseorang yang penuh dengan kebijaksanaan adalah seorang manusia yang
bebas dan tak ada aksi atau tindakan yang dapat mengikatnya lagi,
karena setiap ia bertindak ia selalu menyerahkannya kepada Yang Maha
Esa secara sadar dan tulus; orang semacam ini telah menebas habis
keragu-raguannya dengan imannya yang tebal terhadap Yang Maha Esa.
Pesan Sang Kreshna untuk Arjuna di atas ini sebenarnya berlaku untuk
kita semua dan bermakna bangkitlah dan maju berperang, dikau
prajurit-prajurit Yang Maha Esa, bangkitlah dan bekerja demi
kewajibanmu sebagai seorang karma-yogi, bekerjalah tanpa pamrih. Adalah
kewajibanmu (dharma) untuk berperang melawan angkara-murka, nafsu dan
keinginan duniawi yang sebenarnya adalah kegelapan yang melilitmu dari
jalan kembali ke Yang Maha Pencipta.
Demikianlah dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu pengetahuan yang abadi,
Karya Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka karya
ini adalah bab keempat yang disebut Gnana Yoga atau Ilmu Pengetahuan
tentang Kebijaksanaan.

Bab 05 - Jalan Penyerahan
Berkatalah Arjuna:
1. Dikau memuji karma-sanyasa (penyerahan total sesuatu aksi kepada
Yang Maha Esa) oh Kreshna, dan juga Dikau menganjurkan bekerja secara
benar (karma-yoga). Di antara keduanya ini yang manakah yang lebih
baik? Beritahukanlah daku akan kepastiannya.

Arjuna mulai ragu-ragu lagi akan ucapan-ucapan Sang Kreshna dan
dengan jujur ia mengemukakan keragu-raguannya ini kepada Sang Kreshna.
Di bab-bab yang telah lalu, Sang Kreshna berbicara tentang gnana dan
karma, yaitu tentang ilmu pengetahuan sejati dan tentang cara bekerja
yang baik dan benar. Bagi Arjuna kedua hal ini nampak saling
bertentangan sifatnya, karena baginya doktrin atau ajaran tentang ilmu
pengetahuan yang sejati dianggapnya menganjurkan pekerjaan atau dharma
yang benar. Bagi Arjuna ini nampaknya dua jalan yang berbeda, bagi Sang
Kreshna kedua-duanya adalah sama. Tetapi bagi Arjuna rupanya semua
keterangan Sang Kreshna terasa masih belum memuaskan batinnya, dan ia
masih memerlukan pengarahan yang lebih pasti.
Kembali ke Sang Kreshna, maka kedua ajaran ini kalau dilakukan dengan
benar dan tulus maka akan mengangkat si pemuja ke strata spiritual yang
lebih tinggi, tetapi bagi Arjuna yang masih kurang pengetahuannya ini
malahan merupakan tanda-tanya. Dan ini wajar sekali! Arjuna menanyakan
apakah ia harus melepaskan karmanya sebagai seorang kshatria dan
mengabdi seterusnya ke jalan sanyasa (ajaran Sankhya) atau ia harus
bekerja sesuai dengan karmanya sebagai seorang kshatria dan berperang
sampai tuntas (seperti ajaran yoga!). Yang mana yang harus dipilihnya?
la menjadi ragu-ragu sendiri. Banyak orang-orang Hindu beranggapan
bahwa kehidupan sanyasa (lepas dari segala aksi) dapat menghasilkan
kebebasan. Dan dalam hal ini Arjuna berpikir kalau ia tetap jadi
seorang kshatria maka ia akan terhambat dalam perjalanan spiritualnya,
dan ia bersiap-siap untuk berubah haluan menjadi seorang sanyasin
(pertapa), tetapi sebelumnya ia ingin minta kepastian dulu dari Sang
Kreshna, Sang Adhi Guru.
Berkatalah Sang Maha Pengasih:

2. Sanyasa (lepas dari segala aksi) dan karma-yoga (bekerja tanpa
pamrih), kedua-duanya menuju ke Yang Maha Esa. Tetapi diantara
keduanya, karma-yogalah yang lebih baik daripada sanyasa.

Sebenarnya inti kedua ajaran ini tidak berbeda, dan menurut Sang
Kreshna karma-yoga lebih baik. Seorang karma-yogi sebenarnya di dalam
batinnya adalah seorang sanyasi, karena secara mental ia telah dan
selalu memasrahkan (mempersembahkan) setiap aksi atau pekerjaan dan
perbuatannya kepada Yang Maha Esa semata, walaupun ia sibuk bekerja
seaktif apapun juga. Dan dengan jalan ini ia lepas dari segala ikatan
mati dan hidup, dan lebih cepat mencapai yang Maha Esa. Sedangkan jalan
sanyasa atau gnana-marga (jalan ilmu pengetahuan) itu sifatnya sulit
dan berbelit-belit, jadi menurut Sang Kreshna lebih baik untuk berjalan
menganut ajaran karma-yoga yang lebih mudah.

3. Seseorang yang tidak membenci atau bernafsu (menginginkan segala
sesuatu) adalah seorang sanyasi yang konstan. Karena seorang yang telah
lepas dari dvandas (dua rasa yang saling berlawanan), akan cepat lepas
dari keterikatan duniawi, oh Arjuna!

Dvandas seperti yang sudah disebut dan diterangkan pada bab-bab yang
lalu, adalah dua sifat atau rasa yang berlawanan yang mengikat setiap
manusia. Kedua rasa atau sifat ini adalah musuh-musuh besar seorang
manusia. Seorang karma-yogi tidak akan mengacuhkan kedua-duanya lagi
dan memasrahkan semua yang dialaminya kepada KehendakNya semata, dan
sekiranya ini dilakukan penuh kesadaran dan dengan jiwa yang tulus maka
ia pun terlepaslah dari keterikatan karma-karmanya. Seorang sanyasi
yang konstan, adalah seorang yang tidak pernah menginginkan sesuatu
ataupun tidak bernafsu akan sesuatu, dan sifatnya ini konstan, jadi
terus-menerus ia akan berpikir dan bertindak demikian karena sudah
menjadi itikadnya yang tegas dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Hal
ini timbul dari kesadarannya yang tinggi. Hidupnya adalah suatu hal
yang netral, semua suka dan duka, untung dan rugi sama saja harkat atau
artinya, dan baginya semua ini selalu datang dan pergi tidak pernah
abadi, jadi ia selalu tidak acuh lagi kepada dua sifat yang berlawanan
ini. Dengan begitu lepaslah ia dari semua ilusi duniawi ini karena
memang ia secara sadar tidak mau terikat olehnya, walaupun sebenarnya
ia tinggal dan bekerja di dunia ini yang penuh dengan segala aktivitas
yang tak kunjung habis-habisnya.
4. Hanya anak-anak, dan bukan orang-orang bijaksana, yang mengatakan
bahwa ajaran Sankhya dan ajaran yoga sebagai dua hal yang berbeda.
Seseorang yang telah mapan dalam salah satu ajaran ini mendapatkan
imbalan dari kedua-duanya.
5. Tingkat tertinggi yang dicapai oleh para penganut Sankhya juga
dicapai oleh penganut ajaran Yoga. Barangsiapa melihat (menyadari)
bahwa ajaran Sankhya dan Yoga adalah satu benar-benar melihat dengan
mata yang terang.
Ilmu pengetahuan yang sejati dan aksi atau tindakan tanpa pamrih
sebenarnya bagi Sang Kreshna adalah dua hal yang sama saja arti dan
maknanya, dan lebih dari itu satu saja tujuannya, yaitu Yang Maha Esa.
Ambillah salah satu jalan yang berkenan di hati dan sesuai dengan
keinginan pribadi kita yang tulus, dan berjalanlah di jalan tersebut
dengan tulus dan pada suatu saat nanti kita akan mendapati bahwa ujung
jalan ternyata berakhir pada titik yang sama. Kedua penganut
masing-masing jalan yang nampak berbeda ini pada hakikatnya sama-sama
bebas dari nafsu-nafsu duniawi ini dengan segala ikatan-ikatan dan
ilusi-ilusinya.
6. Tetapi tanpa Yoga, oh Arjuna, penyerahan diri (secara total) itu sukar dicapai
Seorang yang suci yang telah terbiasa dengan Yoga (jalan aksi), segera
mencapai Sang Brahman, Yang Maha Esa.
Penyerahan diri secara total tidak begitu saja dapat dicapai seseorang.
Tetapi harus dengan kerja keras, dan proses ini berlangsung secara
progresif (maju terus) bagi orang-orang yang telah melepaskan egonya
dan berdedikasi kepada Yang Maha Esa. Ego pribadi adalah salah satu
elemen yang paling sukar dikendalikan dalam diri kita dan selalu hadir
pada setiap orang dalam bentuk yang berganti-ganti dan beraneka-ragam,
seakan-akan tidak ada habis-habisnya. Dan semua itu butuh kesabaran dan
dedikasi dan proses yang lama, baru dapat dikurangi tahap demi tahap
dan kemudian sama sekali dihilangkan. Dan tanpa karma-yoga, sabda Sang
Kreshna, jalan kearah Sanyasa atau gnana-marga ini akan jadi lebih
sulit karena bisa-bisa seseorang jatuh sebelum mencapainya. Jalan
karma-yoga menyucikan dan melicinkan langkah kita ke arah Yang maha
Esa, semuanya kemudian menjadi lebih cepat untuk mencapaiNya.
Seseorang boleh saja berpikir bahwa ia sudah sadar, bahwa semua di
dunia ini hanya ilusi Sang Maya, dan ia sendiri sudah mencapai
kesempurnaan dalam kebijaksanaan. Tetapi kalau ia tidak mempraktekkan
dan menghayati karma-yoga dengan baik dan benar, maka ia akan jatuh
karena egonya, atau karena nafsu-nafsu dan kemarahannya. Dan Sang Maya
kemudian menjadi lebih kuat lagi baginya. Tetapi sekali ia tersucikan
oleh karma-yoga, maka cepat ia akan lepas-landas ke arah Yang Maha Esa.
Jadi seyogyanyalah seseorang selalu berjalan dijalannya karma-yoga
dengan teguh.
7. la yang penuh dedikasi dalam tindakannya dan suci jiwanya, yang
merupakan tuan bagi dirinya sendiri dan telah menguasai indra-indranya,
yang sadar bahwa Dirinya adalah Diri yang sama dalam setiap makhluk -
walaupun ia bekerja (bertindak), ia tak akan tersentuh sedikit pun oleh
pekerjaan atau tindakan itu.
Mengapa ia tak tersentuh sedikitpun oleh tindakan-tindakannya? Karena
ia tidak kerja untuk diri pribadinya sendiri. Sang Atman, Sang Jati
Diri — Sang Kreshna yang ada di dalam jiwalah yang melakukannya. Ia
melihat, mendengar, menyentuh, mencium., makan, bergerak, tidur,
bernafas, berbicara, tetapi Ia sadar semua itu hanya tindakan-tindakan
alamiah ke obyeknya masing-masing. Ia sadar sebenarnya ia tidak
melakukan apa-apa, ia hanya alatNya saja, dan dipakai olehNya sesuai
dengan KehendakNya.
8. Seseorang yang telah bersatu dengan Yang Maha Suci, yang sadar akan
Kebenaran akan selalu berpikir, “aku tak melakukan apa-apa.” Karena
dikala melihat, mendengar, menyentuh, mencium, memakan, bergerak,
tidur, bernafas.
9. Dikala berbicara, memberi, mengambil, membuka dan manutup-mata, ia
sadar bahwa yang bergerak hanyalah indra-indranya dan diantara
obyek-obyek indra-indra itu sendiri.
10. Seseorang yang bertindak (bekerja), sambil melepaskan
keterikatannya, menyerahkan semua tindakan-tindakannya kepada Yang Maha
Esa, tidak akan tersentuh oleh dosa, ibarat bunga teratai yang tak
tersentuhkan oleh air.
Di sloka delapan dan sembilan di atas diterangkan dengan baik mengenai
disiplin pribadi seseorang yang melakukan gnana-yoga. Orang semacam ini
tidak pernah merasa bahwa ialah “pelaku semua tindakan.” Di sloka
sepuluh di atas, diterangkan sekali lagi bahwa seorang karma-yogi
sejati akan selalu bekerja tanpa pamrih, karena semua tindakannya
adalah demi Yang Maha Esa.
11. Para yogi, sambil melepaskan keterikatannya, bekerja mempergunakan
tubuh, pikiran, intelektual (buddhi), atau dengan indra-indra mereka
demi penyucian jiwa mereka.
Seorang karma-yogi yang sejati merasa bahwa tindakan-tindakan raganya,
pikirannya, intelektualnya dan indra-indranya bukanlah tindakan atau
perbuatan dirinya, melainkan hanyalah ekspresi dari dirinya, yang
sebenarnya adalah alat saja dari yang Maha Esa. Kemudian ia sadar bahwa
ia sebenarnya bukan raga, bukan pikiran, bukan intelektual, bukan
indra-indra tetapi dirinya sendiri sebenarnya adalah Sang Atman, Sang
Jati DiriNya Yang Sejati. Dengan menyadari hal tersebut dan bekerja
demi Yang Maha Esa tanpa pamrih, maka ia selalu gembira dan dapat
bekerja demi Yang Maha Esa tanpa merasa bosan atau tanpa habis-habisnya.
12. Seseorang yang telah bersatu denganNya, yang telah mengesampingkan
semua imbalan dari tindakan-tindakannya, mencapai ketenangan yang
abadi. Tetapi seseorang yang jiwanya tidak bersatu denganNya, didorong
oleh nafsu-nafsunya dan terikat pada pamrih-pamrihnya, maka
terbelenggulah ia.
Sekali mencapai persatuan dengan Yang Maha Esa, maka seseorang langsung
mendapatkan ketenangan yang abadi, karena lepas sudah ia dari
beban-beban imbalan kerjanya. Tetapi seseorang yang tidak dapat bersatu
denganNya, akan selalu terkurung atau terpenjara oleh aksi dan hasil
dari aksi ini, yang dilakukannya berdasarkan dorongan nafsu dan
keinginannya yang beraneka-ragawi. Hasilnya pun tentu beraneka-ragam.
13. Melepaskan semua tindakan secara mental, jiwa yang memiliki raga
ini bersemayam secara tenang di kota yang memiliki sembilan pintu
gerbang, tidak bekerja maupun memerintahkan suatu pekerjaan.
Untuk mencapai status “yang bersemayam di dalam tubuh kita tanpa kerja
atau memerintahkan suatu pekerjaan,” adalah seseorang yang jiwanya
telah mencapai suatu tahap tertinggi dalam kebijaksanaannya. Ia tidak
terlibat akan suatu pekerjaan dan ia pun tak mau melibatkan orang lain
— ia hidup dan bekerja tanpa suatu nafsu atau keinginan pribadi, dengan
kata lain semuanya dilakukannya tanpa pamrih - ia adalah seorang
karma-yogi yang sejati.
Kota yang berpintu gerbang sembilan adalah raga kita sendiri, yaitu
dengan dua mata, dua telinga, dua lubang hidung, satu mulut, satu
lubang anus dan satu lubang kemaluan, semuanya berjumlah sembilan
lubang atau pintu gerbang raga kita.
14. Sang Maha Kuasa Pemilik Seluruh Alam Semesta ini (Sang Prabhu)
tidak menciptakan manusia sebagai agen-agen DiriNya, tidak juga Ia
bertindak. Tidak juga Ia mengaitkan pekerjaan dengan imbalannya. Semua
ini dilakukan oleh Svabhaba (alam).
Sang Prabhu adalah Diri Yang Sejati dari setiap hal di dunia ini. Diri
Yang Sejati ini adalah Sinar yang bersemayam di raga setiap makhluk. Ia
tidak bekerja maupun mengakibatkan sesuatu pekerjaan manusia atau
makhluk, juga tidak tersentuh kebaikan maupun keburukan. Dan di dalam
Sinar inilah para pencari Kebenaran Sejati atau Kebenaran Hidup ini
mencari perlindungan demi melawan segala cobaan Sang Maya yang selalu
hadir menghadang. Di dalam sinar ini kemudian timbullah kesadaran
seseorang yang mencari kebenaran yang sejati bahwa hidup ini sebenarnya
adalah persembahan demi Yang Maha Kuasa oleh sekalian makhluk-makhluk
ciptaanNya.
15. Yang Maha Pengasih tidak mengambil baik maupun buruk untuk DiriNya
sendiri. kebijaksanaan itu terbungkus oleh kekurangan-pengetahuan, dan
para makhluk pun jadi kalut karenanya.
Yang Maha Esa itu hadir dimana saja dan selalu sempurna adaNya. Ia tak
pernah tersentuh oleh dosa-dosa dan perbuatan baik manusia, karena Ia
bersemayam jauh dari dosa dan kebaikan ini. Ia lah Sang Atman, Sinar
Ilahi. Ini terbungkus oleh kegelapan yang ditimbulkan oleh ilusi, dan
kalut atau bingunglah manusia karenanya. Dibawah pengaruh ilusi (bahwa
kita ini terpisah dari Yang Maha Esa), maka jiwa kita senantiasa
berpikir bahwa jiwa kita atau tubuh kitalah yang bertindak dalam segala
sesuatu hal. Dan kalau pengaruh ilusi ini dapat disingkapkan, maka para
pencari kebenaran hidup ini, akan masuk ke dalam ruang-dalam nurani
kita di mana bersinarlah kebijaksanaan ~ Kebijaksanaan Sang Atman.
Disinilah seorangjignasu (pencari kebenaran hidup ini) sadar bahwa ia
sebenarnya satu dengan semuanya, dan kepadanyalah akan terlihat Yang
Maha Esa, Yang Tanpa Nama dan Abadi (Tat), yang tidak pernah tersentuh
oleh kebaikan maupun keburukan yang diakibatkan oleh pekerjaan manusia.
16. Seseorang yang kekurang-pengetahuannya (kegelapannya) telah
dihancurkan oleh kebijaksanaan Sang Atman, maka di dalam diri mereka,
kebijaksanaan ini bersinar laksana Sang Surya, mamancarkan keagungan
Yang Maha Esa.
Berbahagialah mereka yang telah mencapai tahap kebijaksanaan, yaitu
ilmu pengetahuan mengenai Sang Atman, Sang Jati Diri, Sang Kreshna
sendiri yang bersemayam di dalam diri mereka sendiri, karena
kebijaksanaan ini memancarkan cahaya Ilahi di dalam diri mereka laksana
terangnya Sang Surya, menyibak semua kegelapan duniawi, dan menerangi
jiwa mereka.
17. Mereka yang intelektual (buddhi) dan pikirannya sudah bersatu utuh
denganNya, yang selalu berada dalam naungan Yang Maha Esa, dan akhirnya
menyatu denganNya — orang-orang semacam ini pergi ke tempat dimana
mereka tak kembali lagi, karena dosa-dosa mereka hapus oleh
kebijaksanaan.
Para yogi yang sejati ini selalu hidup dalam naungan Yang Maha Esa dan
mendasarkan setiap tindakan mereka sesuai dengan kehendak Ilahi — hidup
mereka selalu dalam Ilahi, begitupun jalan pikiran dan tujuan mereka
tak pernah lepas dariNya. Sewaktu orang-orang semacam ini meninggalkan
raga mereka (meninggal-dunia) maka mereka pergi ke tempat dimana mereka
tak kembali lagi kedunia ini, lepas dari kehidupan dan kematian
selanjutya.
18. Orang-orang suci ini memandang secara sama pada seorang Brahmin
yang terpelajar dan yang penuh rasa rendah-diri, atau pada seekor sapi,
atau pada seekor gajah, bahkan pada seekor anjing dan pada seorang
pariah (kasta yang dianggap terendah diantara semua kasta).
Para yogi yang sejati yang telah suci ini tidak mempunyai diskriminasi
sedikitpun; bagi mereka semua makhluk ciptaan Tuhan itu sama saja
derajatnya, karena dalam setiap makhluk sebenarnya bersemayam Sang
Atman yang Tunggal. Bagi mereka diskriminasi kasta adalah tidak wajar,
bahkan seekor anjing pun bagi mereka derajatnya sejajar.
19. Bahkan di sini (di bumi ini) semua hal-hal duniawi dapat teratasi
bagi mereka-mereka yang jiwanya telah bersatu dalam suatu kesamaan.
Yang Maha Esa adalah nirdosha, yaitu tak tersentuh oleh dosa, dan Ia
sama bagi semua makhluk. Mereka yang sadar hal ini telah bersatu
denganNya.
20. Dengan inteleknya yang teguh dan tidak terombang-ombing, bersatu
dengan Yang Maha Esa, maka seseorang yang telah mengenal Sang Brahman
tidak akan gembira dikala senang dan tidak akan bersedih dikala dilanda
kesusahan.
21. Tidak terikat pada kontak-kontak eksternal (luar) dan mendapatkan
kebahagiaan di dalam DiriNya (Sang Atman), seorang yoga-yukta yang tak
bersatu dengan Yang Maha Esa, merasakan keberkahan tanpa habis-habisnya.
22. Kesenangan yang lahir dari kontak-kontak (dengan obyek-obyeknya)
sebenarnya permulaan (asal) dari penderitaan. Kesenangan-kesenangan ini
ada awalnya dan juga ada akhirnya, oh Arjuna! Seorang yang bijaksana
tak akan bergembira dengan kesenangan-kesenangan ini.
Para yogi yang bijaksana tak akan bergembira dengan hal-hal duniawi
yang menyenangkan (priyam) ataupun bersedih dengan hal-hal keduniawian
yang penuh dengan penderitaan atau kesedihan. Karena semua kebahagiaan
mereka sudah terpusat sepenuhnya pada Sang Atman, pada Sang Kreshna
yang bersemayam di dalam diri mereka. Mereka sadar kesenangan dan
kesedihan duniawi bersifat sementara saja semua itu datang dan pergi,
sedangkan Yang Maha Esa sifatnya abadi dan tak ada habis berkahNya.
Dan mereka ini pun sadar bahwa semua kesenangan duniawi itu sebenarnya
adalah awal atau asal dari berbagai penderitaan yang beraneka-ragam
sifatnya, seperti kehilangan seseorang yang amat disayangi, sakit atau
penderitaan ragawi, masa tua, dan banyak hal lainnya, yang kalau
ditelaah merupakan kesenangan pada awalnya tetapi selalu berakhir
dengan kesedihan atau penderitaan. Dan semua penderitaan ini kemudian
akan menimbulkan kama (nafsu) dan krodha (kemarahan), dan masuklah
seseorang kemudian ke dalam lingkaran setan dari penderitaan ini, yang
nampaknya tak ada habis-habisnya.
23. Seseorang yang di dunia ini (di bumi ini), sebelum meninggalkan
raganya berhasil menahan gejolak nafsu dan kemarahannya, maka ia telah
bersatu dengan Yang Maha Esa. Orang ini adalah orang yang bahagia.
Seorang yogi yang bahagia secara murni, adalah orang yang penuh dengan
kendali diri. Dan pengendalian diri ini dipelajari di bumi ini, karena
memang bumi-loka ini tempatnya setiap manusia belajar berbagai aspek
Ketuhanan dan mengenal dirinya sendiri secara spiritual, bukan di
tempat lain. Dan sekali pengendalian diri ini tercapai secara utuh dan
tulus, maka akan didapatkan berkahNya yang tak kunjung habis-habisnya.
Maka seyogyanyalah setiap manusia belajar untuk mengendalikan nafsu dan
keinginan-keinginannya, pertahankanlah tekad ke arah ini dan bangkitlah
lagi setiap tersandung jatuh, kemudian tegak maju lagi secara lebih
tegar. Di mana ada tekad di situ pasti ada jalan. Perangilah nafsu dan
kemarahan dan pada suatu saat yang tepat, dengan tekad yang kuat, dikau
pasti akan berhasil mandapatkan kebijaksanaan ini.
24. Barangsiapa memiliki kebahagiaan di dalam dirinya, barangsiapa
memiliki kegembiraan di dalam dirinya, barangsiapa memiliki sinar di
dalam dirinya, maka yogi semacam ini berubah sifatnya menjadi suci dan
mencapai keindahan Yang Maha Esa (Brahmanirvana).
Seseorang yogi yang sejati selalu mencari kebahagiaan di dalam diriNya
(Sang Atman) dan merasa bahagia dengan apa saja yang didapatkannya dari
Sang Atman. Yogi semacam ini sudah berdiri di atas ketiga guna
(sifat-sifat alami atau prakriti) dan telah mencapai suatu sifat yang
suci yang merupakan karunia Ilahi yang tak ternilai sifatnya. Ia
langsung berasimilasi dengan Yang Maha Esa. Brahma nirvana adalah suatu
status dimana meleburlah semua nafsu-nafsu pribadi seseorang dalam
sinarNya Yang Maha Esa, dan seorang yogi yang telah mencapai tahap ini
menjadi seorang resi (seorang yang dianggap suci), yang jiwanya sudah
dipasrahkan secara total kepadaNya, Yang Maha Abadi.
25. Para Resi (orang-orang suci) yang dosa-dosanya telah hapus, yang
keragu-raguannya (rasa dualismenya yang bertentangan) telah tertebas
habis, yang pikirannya penuh dengan disiplin, dan yang bahagia dalam
kesejahteraan semua makhluk, mencapai Brahma nirvana.
Para orang-orang suci yang dosa-dosanya telah tertebas habis, begitupun
dengan keragu- raguannya mereka akan hal-hal yang menyenangkan maupun
yang sebaliknya, yang indra-indranya telah terkendali dengan baik; maka
setiap tindakan mereka adalah demi kesejahteraan semua makhluk di dunia
ini. Mereka ini bersatu dengan Yang Maha Esa (Sang Brahman) dan mereka
ini mengenal yang disebut nirvana, yaitu Kedamaian Yang Abadi
(Keindahan Ilahi).
26. Keindahan Ilahi terletak dekat dengan mereka yang suci, yang telah
lepas dari nafsu dan kemarahan, yang telah mengendalikan pikiran mereka
dan telah sadar akan DiriNya.
27. Menutup diri dari kontak-kontak eksternal (luar), memusatkan
pandangan pada sela kedua alis-mata, dan menyelaraskan nafas yang masuk
dan keluar dari lubang-lubang hidung.
28. Dengan mengendalikan indra-indranya, pikirannya dan intelektualnya,
seseorang yang yang suci yang berkeinginan bebas dan telah berhasil
menyingkirkan nafsu, ketakutan dan kemarahan, akan benar-benar terbebas.
29. Dan mengetahui Aku sebagai Yang Menikmati semua persembahan dan
pengorbanan, sebagai Yang Maha Memerintah seluruh isi alam, Yang
Mencintai semua yang hidup, maka orang suci semacam ini akan menuju ke
kedamaian.
Setiap insan yang mengenal Sang Jati Diri (Sang Atman), akan menemui
Kedamaian Yang Abadi (Brahma-nirvana). Pengetahuan tentang hal ini
disebut kebijaksanaan, yang mengusir semua nafsu dan
keinginan-keinginan kita dan membuat seorang berubah sifatnya menjadi
sederhana dan stabil jalan pikirannya (terkendali, atau dalam kendali).
Proses ini menjadi lebih mudah lagi kalau ditambah dengan latihan
pranayama (yaitu pernafasan yang terkendali atau meditasi). Dan yang
ingin mencoba pranayama atau meditasi ini harus:
1. Membebaskan atau mengeluarkan atau menjauhkan semua bentuk
pikiran-pikiran yang datang mengganggu. Jadi tidak memikirkan apapun
juga selain Sang Atman yang ada di dalam dirinya. Dapat dimulai dengan
membayangkan wajah seorang Dewa atau sang guru yang dihormatinya. Ini
yang dinamakan menjauhi kontak-kontak eksternal.
2. Memusatkan pandangannya pada titik yang terletak di tengah-tengah kedua alis mata, dan
3. Menyelaraskan masuk dan keluaraya nafas dari dan ke lubang hidung
kita. Baik irama, panjang dan lama nafas yang masuk dan keluar ini
harus seimbang mungkin, Sebaiknya perlahan-lahan saja, setelah lama
berlatih, maka masuk-keluar nafas ini membebaskan indra-indra, pikiran
dan intelektual kita dari kekuasaan nafsu dan berbagai keinginan, dari
rasa takut dan berbagai pikiran yang selalu silih-berganti. Lebih dari
itu seorang yang melakukan meditasi ini harus sadar bahwa Yang Maha Esa
adalah sebagai Asimilator atau Sang Penerima semua bentuk yagna dan
tapa, dan juga orang atau pemuja ini harus mengenal Yang Maha Esa
sebagai Yang Maha Memiliki alam semesta ini beserta seluruh isinya,
mengenalnya sebagai Yang Maha Pengasih semua makhluk-makhluk
ciptaanNya, mengenal Yang Maha Esa dalam bentuk manusiaNya sebagai Sang
Kreshna.
Dan barang siapa yang mengenal Dirinya yang tinggi (Sang Atman) dan
melalui Sang Atman mi dapat menguasai dirinya yang rendah yaitu
indra-indra, pikiran dan intelektualnya, maka orang semacam ini akan
mendapatkan suatu bentuk kedamaian yang abadi.
Dari ajaran-ajaran di atas terulang lagi, bahwa yang paling penting
bagi kita ini adalah mengendalikan semua indra kita, pikiran kita dan
juga buddhi kita. Seseorang tanpa kendali tidak mungkin dapat
menghayati ajaran Bhagavat Gita atau pun mencapai Yang Maha Esa. Ia
boleh saja bermeditasi dengan aktif, boleh saja ia menguasai berbagai
ajaran atau teori-teori dan teknik-teknik spiritual, tetapi kalau belum
berhasil mengendalikan indra, keinginan, nafsu, pikiran dan buddhinya
dengan baik maka sia-sia saja upayanya, bahkan dapat merusak atau
menyesatkan dirinya. Tanpa penghayatan dan perbuatan nyata, maka
sia-sia atau rusaklah orang semacam ini. Teori saja tidak perlu dalam
peningkatan spiritual, yang paling penting adalah praktek atau
usaha-usaha pengendalian hawa-nafsu kita secara sejati dan total,
karena semua pengetahuan spiritual ini akan menjadi mentah sifatnya
tanpa penghayatan yang tulus dan sejati, tanpa dedikasi dan disiplin
yang penuh dengan tekad yang kuat. Semua ini butuh waktu dan tak dapat
dicapai dalam sekejap mata, maka dari itu dibutuhkan kesabaran yang
luar biasa.
Dan apakah yang akan terjadi seandainya seseorang memaksakan dirinya ke
jalan yoga, padahal dirinya masih mentah atau belum siap untuk itu?
Meditasinya yang prematur akan membawanya ke jalan atau arah yang
berbahaya. Membawanya ke situasi yang neurotik, membawanya ke pemecahan
jiwanya (personalitasnya) dan bahkan kekacauan jiwanya yang dapat
menghasilkan gangguan jiwa (menjadi gila misalnya). Seyogyanyalah
meditasi diajarkan dan dibimbing dan ditentukan oleh seorang guru yang
bijaksana, yang dapat menilai sudah sejauh manakah kadar dari sang
murid ini. Tanpa pembersihan ego pribadi, pengendalian indra-indra dan
pikirannya, maka jalan meditasi akan berbahaya sekali.
Meditasi yang matang sifatnya, kemudian akan menghasilkan suatu
pertemuan antara sang pemuja dengan Sang Atman, Sang Kreshna Yang Abadi
Yang bersemayam di dalam jiwa sang pemuja ini, Yang juga adalah Kuasa
dari alam semesta ini, Yang juga adalah Pengasih semua makhluk. Ia
bukan saja jauh dari jangkauan kita tetapi juga merupakan Teman kita
yang benar-benar sejati dan dekat dengan kita dan bersifat Maha
Penolong kapan dan dimana saja. Teman yang membantu kita mengatasi
segala situasi yang kita hadapi. Seseorang yang pintu imannya telah
berbuka lebar, maka pintu kebijaksanaannya pun akan terbuka lebar-lebar
dan ia pun akan mencapai kedamaian yang abadi yang menjadi dambaan
setiap pencari kebenaran. Kedamaian Nan Abadi ini, yang penuh dengan
Sinar llahi, disebut Brahmanirvana.
Demikianlah dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahltan yang
Abadi, Karya Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka
karya ini adalah bab ke lima, yang disebut Karma Sanyasa Yoga atau Yoga
Tentang Penyerahan Tindakan (Aksi).

Bab 06 - Jalan Meditasi
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
1. Seseorang yang mengerjakan kewajiban yang harus dilakukannya, tetapi
tanpa menuntut keuntungan, tanpa pamrih, maka orang itu adalah seorang
sanyasi dan seorang yogi; bukan ia yang tak mau menyalakan api
pengorbanan dan tak mau melakukan upacara apapun.
Sang Kreshna mengulang lagi sebuah fakta kebenaran bahwa seorang
sanyasi yang sejati adalah seorang yogi sekaligus karena telah
mempersembahkan (mengorbankan) semua pekerjaan dan hasil-hasil dari
pekerjaannya kepada Yang Maha Esa. Sanyasa sendiri juga berarti tidak
terikat atau tidak berkeinginan. Seseorang yang hidupnya selalu
berkeinginan tanpa habis-habisnya dan selalu terikat pada obyek-obyek
duniawi dianggap tidak pernah berkorban untuk Yang Maha Esa (tidak
menyalakan api pengorbanan) atau berbuat suatu apapun demi Yang Maha
Esa.
2. Sebenarnya, Sanyasa yang sejati (penyerahan total) itu adalah Yoga,
oh Arjuna! Dan seseorang bukanlah yogi yang sejati kalau belum
mengesampingkan sankalpa-sankalpanya (keinginan-keinginannya yang
bermotifkan sesuatu atau suatu tekad untuk mendapatkan sesuatu yang
bersifat duniawi di masa depan).

Segi-segi penting dari sanyasa juga terdapat di dalam karma-yoga.
Seorang sanyasi yang sejati sama halnya dengan seorang yogi yang sejati
tidak akan terganggu oleh nafsu. Seorang karma-yogi yang sejati tak
akan terusik oleh imbalan apapun untuk setiap perbuatan atau
tindakannya.

Sankalpa harus dikesampingkan. Semua rencana yang bermotifkan
keserakahan pribadi, rencana yang penuh dengan nafsu-nafsu egoisme
harus dikesampingkan, karena rencana-rencana semacam ini timbul dari
avidya (kekurang-pengetahuan), lahir dari suatu perasaan bahwa “akulah”
pelakunya. Seorang karma-yogi yang sejati akan melenyapkan rasa
“akunya” (egoisme dan ahankara) dari dirinya Yang dimaksudkan Sang
Kreshna di atas bukannya mengesampingkan pekerjaan seseorang, tetapi
sebaliknya bekerja dengan mengesampingkan tekad-tekad atau rencana dan
itikad yang punya motif atau tujuan yang tertentu untuk kepentingan
diri atau egonya; biasanya setiap pekerjaan kita selalu disertai dengan
pengharapan akan suatu hasil dan imbalan, bukan saja dari Yang Maha
Esa, dari dewa-dewa tetapi dari orang-orang lain, maupun dari pekerjaan
itu sendiri. Seyogyanyalah semua pekerjaan dilakukan dengan tekad untuk
Yang Maha Esa semata, itu berarti kesatuan dengan Sang Atman dalam
segala tindak-tanduk kita sehari-hari dan dalam hidup kita ini. Seorang
yogi yang sejati tidak akan berjalan seirama dengan
sankalpa-sankalpanya tetapi selalu bekerja tanpa pamrih selama hidupnya
dan meditasi (atau dhyana) baginya adalah suatu faktor penunjang yang
amat membantunya.
3. Untuk seorang suci yang ingin mencapai yoga, maka jalannya adalah
dengan bertindak, untuk orang suci yang sama ini sekali ia telah
mencapai yoga, maka ketenangan adalah jalannya.
Untuk mencapai yoga, maka seseorang yogi yang sejati harus bekerja
selalu tanpa pamrih, dan setelah ia berhasil menyatu denganNya, maka
tindakan sudah tidak penting baginya karena yang bertindak kemudian
adalah kehendak Ilahi, dan ia hanyalah alatNya saja. Orang semacam ini
akan bekerja dengan dan dalam segala ketenangan dan bagi kesejahteraan
semua makhluk. la tak akan mempunyai sankalpa atau rencana-rencana
formatif untuk dirinya. Semua pekerjaan atau tindakannya akan selalu
sinkron atau sesuai dengan dhyana (meditasiNya), dengan kehendak Sang
Atman yang bersemayam di dalam dirinya, dan ini bukan suatu hal yang
fiktif atau penuh dengan imajinasi, tetapi betul-betul akan terjadi
pada seorang yogi semacam ini dalam kehidupan ini sebenarnya. Om Tat
Sat.

4. Seseorang yang sudah lepas dari obyek-obyek sensualnya atau dari
tindakan-tindakan dan telah mengesampingkan semua sankalpa-sankalpanya,
maka orang ini dianggap telah bersemayam dalam yoga (yogarudha).

Sankalpa adalah dasar dari semua aktivitas yang penuh dengan
rencana-rencana egoistik, dalam bab IV/10 Sang Kreshna bersabda:
“Seseorang yang pekerjaannya bebas dari nafsu dan sankalpa disebut
seorang suci.” Maka seyogyanyalah seorang yogi yang baik
mengesampingkan semua sankalpanya dan tetap bekerja demi kewajibannya
yang benar, tanpa nafsu, tanpa rasa egoisme, dan tanpa rasa keterikatan
pada dua rasa atau sifat yang berlawanan. Bekerjalah dan terimalah apa
saja yang dihasilkan oleh pekerjaan itu sebagai pemberian dari Yang
Maha Kuasa. Rantailah ego pribadi dengan memasrahkan diri kepada
kehendak Sang Ilahi. Dalam Mahabarata tertulis sebagai berikut: “Oh
nafsu, aku tahu akar-akarmu. Engkau lahir dari Sankalpa atau
pikiran-pikiran egoistik. Aku tak akan memikirkan engkau, dan kau akan
mati karenanya.”

5. Sebaiknya seseorang mengangkat dirinya sendiri dengan Dirinya
(Sang Atman), dan jangan sampai ia menjatuhkan dirinya. Karena
sebenarnya, Dirinya adalah temannya sendiri, dan Dirinya juga adalah
musuhnya sendiri.

Angkatlah dirimu sendiri oleh Diri Mu (Sang Atman), bagaimana
caranya? Dengan mengejar atau menjalani ajaran-ajaran spiritual seperti
karma-yoga atau gnana-yoga atau bhakti-yoga. Jangan kau jatuhkan dirimu
ke dalam nafsu-nafsu duniawi yang gelap. Sekali anda mau memperbaiki
dan mengangkat diri sendiri, maka jalan ke arahNya akan terbuka lebar.
Sang Atman yang bersemayam dalam diri kita ini dapat menjadi musuh atau
pun teman dari ego kita sendiri. Sang Atman jadi sahabat kalau kita
menjalin hubungan denganNya dan mengesampingkan semua nafsu-nafsu
duniawi kita. Sang Atman yang universal sifatNya ini lalu menjadi
sahabat, penuntun, penunjuk jalan dan guru kita (Adhi Guru). Tetapi
kalau kita jauh dariNya, maka Sang Atman pun jadi “musuh” dan jauh dari
kita. Tanpa tuntunan dan jauh dari kasih-sayangNya, kasih-sayang Sang
Atman ini, maka apalah arti kehidupan ini.

6. Diri (Sang Atman), adalah teman bagi seseorang yang dirinya (yang
rendah) telah dikalahkan oleh Dirinya (yang Tinggi). Tetapi bagi diri
yang belum terkendali, maka Sang Diri (Sang Atman) akan bertindak tidak
ramah, ibarat seorang musuh.

Yang disebut diri yang rendah adalah indra-indra dan pikiran kita.
Seseorang yang berhasil menaklukkan semua ini telah mencapai tahap
kesadaran-diri. Kalau diri kita sudah terkendali dengan baik dan
menyatu dan bekerja sebagai alatnya Sang Atman, maka Sang Atman pun
menjadi sahabat baik kita, menjadi sumber ilham, inspirasi, intuisi,
dan guru kita secara spiritual (guru spiritual) dalam segala hal.
Tetapi kalau diri kita tetap saja bersifat egois, sombong dan bertahan
pada keinginan-keinginan duniawi, maka Sang Atman tidak akan menjadi
sumber inspirasi atau penerangan hidup kita melainkan menimbulkan
ketidak-harmonisan dalam diri kita, karena hati nurani akan selalu
bertentangan dengan tindak-tanduk yang tidak baik dan tidak mengikuti
dharma atau kewajiban-kewajiban kita di dunia ini.
7. Seseorang yang telah menguasai dirinya (yang rendah) dan telah
mencapai ketenangan dalam mengendalikan dirinya, maka Sang Dia Yang
Agung yang bersemayam di dalam dirinya akan bersemayam dengan penuh
keseimbangan. la (orang ini) akan selalu merasa damai baik dalam panas
maupun dingin, dalam kesenangan dan penderitaan, dan baik dihormati
atau tidak dihormati.
Orang yang telah dapat mengendalikan dirinya adalah orang yang tenang
dan damai jiwanya dalam arti yang sesungguh-sungguhnya. la adalah orang
yang sadar bahwa ia hanyalah alat bagiNya dan sebuah alat fungsinya
adalah sama saja baik sewaktu dipakai maupun sedang tidak dipergunakan.
Bagi suatu atau sebuah alat, panas dan dingin, dihormati atau tidak
adalah sama saja, tidak lebih dan tidak kurang karena ia hanya sebuah
alat.
8. Seorang yogi, yang jiwanya telah puas dengan kebijaksanaan dan ilmu
pengetahuan (gnana dan vignana) dan tidak terombang-ambing, yang
indra-indranya telah dikalahkan (terkendali), yang merasa bahwa
segumpalan tanah-liat, sebuah batu dan sebongkah emas adalah sama saja
nilainya, maka orang ini disebut yukta (seorang yang harmonis
pengendalian yoganya).
Gnana adalah pengetahuan tentang Nirguna, yaitu Yang Tak Terlihat,
sedangkan vignana adalah pengetahuan tentang Saguna, yaitu Yang
Terlihat. Seseorang yang telah sadar dan penuh dengan kedua ilmu
pengetahuan ini (gnana dan vignana), merasa puas dengan kebenaran Sang
Brahman sesuai dengan pengalamannya selama ini, sehingga ia tergoyahkan
atau terombang-ambing oleh pengalaman-pengalaman duniawi yang nampak
dan terasa sehari-hari. Baginya tanah-liat, batu ataupun emas itu sama
saja nilainya. la sudah mencapai keharmonisan dalam hidupnya. Orang
semacam ini disebut yukta.
9. Seseorang yang memandang sama terhadap teman-temannya,
sahabat-sahabatnya dan terhadap musuh-musuhnya, terhadap orang-orang
yang tak dikenalnya dan terhadap pihak-pihak yang netral, terhadap
orang-orang asing dan sanak-saudaranya, terhadap orang-orang suci dan
terhadap orang-orang yang berdosa - orang ini telah mencapai
kesempurnaan (kebaikan).
Orang yang telah mencapai kesempurnaan melihat Satu Pencipta (Tuhan) di
dalam setiap benda, makhluk dan manusia. Ia bebas secara total dari
rasa diskriminasi karena ia sadar bahwa semua ciptaan Yang Maha Esa
sebenarnya adalah alat-alatNya belaka.
10. Sebaiknya seorang yogi duduk di suatu tempat yang tenang dan
tersendiri, dan secara konstan mengkonsentrasikan pikirannya pada (Jati
Dirinya Yang Agung), dan dengan mengendalikan dirinya, lepas dari
segala nafsu dan rasa memiliki.
Sang Kreshna menerangkan sebagian teknik meditasi kepada Arjuna.
Sebenarnya seluruh proses teknik meditasi tak dapat diterangkan dalam
bentuk tulisan. Prosesnya berbeda dari satu orang ke orang lain dan
sebaiknya dipelajari dari seorang guru yang bijaksana. Ibarat belajar
melukis yang tidak dapat dipelajari begitu saja, maka yoga pun tak
dapat dipelajari dari buku-buku meditasi saja. Garis besar atau yang
terpenting dalam metode meditasi haruslah disertai dengan kendali atas
pikiran kita, sehingga setiap saat pikiran kita dapat diperintahkan
untuk diam sesuai kehendak atau tekad kita. Sangat baik kalau seseorang
yang ingin belajar meditasi dapat melakukannya di tempat yang
tersendiri dan lepas dari gangguan-gangguan suara dan sebagainya. la
harus lepas dari pikiran-pikiran egois dan rasa memiliki harta-benda,
keluarga dan hal-hal duniawi lainnya, juga ia harus lepas dari
keinginan-keinginan indra-indranya. la harus secara konstan setiap
harinya menyisihkan sejumlah waktu tertentu dan berusaha dengan tekad
yang tulus untuk mengkosentrasikan diri dan pikirannya kepada Sang
Atman, dan sebaiknya waktu yang disediakan untuk meditasi ini tidak
terganggu oleh kesibukan-kesibukan lainnya, agar meditasi berjalan
tanpa gangguan secara mental maupun secara psikis, juga tempat
bermeditasi haruslah bersih dan tidak terganggu oleh suara, bau busuk
dan gangguan nyamuk dan sebagainya.
11. Di tempat yang bersih sebaiknya ia duduk secara tetap, tidak
terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah, tertutup oleh
rumput-rumput kusha, kulit menjangan dan kain, yang satu melapisi yang
lainnya.
12. Di situ, duduk secara tegak di tempatnya, mengarahkan pikirannya
pada suatu titik dan mengekang pikiran dan indra-indranya, sebaiknya ia
berlatih yoga demi pembersihan jiwanya.
Sang Kreshna secara langsung mengajarkan teknik-teknik bermeditasi:
1) Carilah suatu tempat bermeditasi yang baik dan bersih dari segala
kotoran, dan juga hal-hal yang kurang baik. Suatu tempat dekat sungai,
di gunung, di pura, di taman bahkan di dalam kamar pribadi yang resik
dan tenang suasananya akan amat bermanfaat untuk bermeditasi, karena
memberikan suasana yang tenteram dan nyaman dalam hati sanubari kita.
2) Tempat duduk untuk bermeditasi ini boleh dibuat atau terdiri dari
batu yang rata, atau sepotong papan yang rata, atau bantal dan apa saja
yang cukup nyaman sebagai alas duduk. Tetapi harus diusahakan letaknya
tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, karena kalau terlalu
tinggi bisa saja ia terjatuh kalau meditasinya memasuki trans atau
tertidur sewaktu melakukan meditasi ini, dan kalau jatuh bisa-bisa
melukai dirinya secara serius. Juga diusahakan tidak terlalu rendah
agar tidak diganggu oleh serangga yang berbisa, atau nyamuk dan semut.
Ini tentu saja berlaku untuk tempat di alam bebas atau di tempat-tempat
yang banyak serangganya. Di dalam kamar pribadi yang tenang, sebenamya
semuanya dapat diatur dengan baik.
3) Kusha adalah sejenis rumput. Kusha, kulit menjangan dan kain
diperlukan pada zaman dahulu. Kusha diletakkan terbawah, kemudian di
atas dilapisi dengan kulit menjangan, dan kemudian kain diletakkan
teratas. Kalau menggunakan kulit harus diperhatikan bahwa kulit ini
berasal dari seekor binatang yang meninggal dunia atau mati secara
alami dan bukan terbunuh oleh manusia. Semua ini untuk memberikan rasa
nyaman di masa-masa yang lalu. Sekarang ini dapat disesuaikan dengan
keadaan; yang penting sederhana dan jauh dari keperluan duniawi yang
serba luks, dan cukup kalau sudah terasa nyaman dan baik. (Contoh: kain
yang tebal dan hanya selembar pun sebenarnya sudah cukup.)
4) Pikiran harus tenang dan lepas dari nafsu, ego, dan keserakahan.
Bermeditasi sebenarnya berarti masuk ke dalam keheningan diri kita
sendiri.
13. Tegakkanlah tubuh, kepala, leher, dan pandangan dipusatkan pada ujung hidung, tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri.
14. Tenang dan tanpa rasa takut, teguh dan jauh dari perasaan seksual
(brahmacharya), dengan mengendalikan diri dan duduk secara harmonis,
pikirannya terpusat padaKu dan mencariKu terus.
Seseorang yang ingin bermeditasi kepadaNya harus duduk tegak, tanpa
bergerak dan sebisa mungkin meluruskan kepala dan lehernya secara tegak
dengan badannya, dan memusatkan pikirannya seakan-akan memandang ujung
hidungnya. Tanpa menoleh ke manapun juga, tanpa rasa takut dan dengan
hati yang tenang dan stabil; lepas dari segala macam pikiran harus
memusatkan pikiran dan dirinya kepada Yang Maha Esa tanpa
henti-hentinya.la harus lepas dari pikiran seksual pada waktu
bermeditasi. Bahkan untuk seorang yang ingin menjadi bramacharya ada
kriteria-kriteria tertentu yang harus diikutinya, dan kriteria-kriteria
ini telah digariskan oleh Manu (manusia yang pertama di bumi) seperti
berikut ini:
Seorang bramachari (yang menganut ajaran tidak melakukan hubungan
seksual) harus mandi untuk membersihkan dirinya, dan ini harus
dilakukannya sccara konstan. Harus pantang memakai perhiasan dan tidak
ikut-ikutan dansa-dansi dan pertunjukan musik yang penuh dengan
hura-hura. Pantang berjudi dan harus belajar tidur di lantai dan tidak
memandang ke arah wanita. la harus sederhana cara makannya dan tidak
mengenakan baju-baju yang mewah seperti sutra atau kain-kain yang
lembut dan halus yang berkesan mahal, dan selalu harus memuja Yang Maha
Esa dan hormat kepada para resi dan berdedikasi kepada guru-gurunya. la
harus pantang berdebat dan berdiskusi dengan siapa saja atau mencampuri
urusan orang-orang lain. la juga harus selalu berbicara yang jujur dan
tidak menghina siapapun. la harus menganut ajaran ahimsa (tidak merusak
atau membunuh atau melukai siapa dan apapun dengan cara apapun juga).
la harus mengendalikan dirinya sampai lenyap semua rasa nafsu, amarah
dan egonya. la harus menjaga agar spermanya tidak terpancar keluar, dan
sebisa mungkin tidur seorang diri. Sperma yang terjaga baik di dalam
badan seseorang akan menimbulkan sejenis aliran yang misterius di dalam
tubuhnya dan cahaya dari aliran ini akan membuat prana dan pikiran
orang tersebut itu menjadi stabil, dan akibatnya pikiran pun secara
otomatis menjadi terarah dengan baik dan stabil ke arah Yang Maha Esa.
Obyek dan meditasi (dhyana-yoga) adalah meditasi kepadaNya (Yang Maha
Pengasih) dan bertujuan mencapai kesatuan denganNya. Dalam melakukan
meditasi seseorang harus secara teguh beraspirasi kepadaNya atau
bisa-bisa (sering sekali ini terjadi) pikiran kita terbawa oleh ilusi
yang aneh-aneh dan menyesatkan. Yang penting adalah menyatukan atau
memfokuskan diri pada Sang Atman, “melihat Sang Atman melalui Sang
Atman.” Pikiran harus terang, tetapi itu saja tidak cukup. Pikiran juga
harus selalu dipusatkan kepadaNya. Dan pemusatan pikiran ini harus
tulus dan bersih.
15. Sang Yogi ini akan selalu harmonis jiwanya, bersatu dengan Sang
Atman, dengan pikiran yang terkendali, menuju ke Damai - ke Nirvana
atau Berkah Yang Agung yang ada di dalam DiriKu.
Yang disebut Nirvana, atau Kedamaian, atau Berkah (Kebebasan) ini
adalah pemberian atau karunia dari Yang Maha Esa untuk seorang yogi
yang penuh dedikasi kepadaNya. Tidak ada kesatuan yang dapat dicapai
dengan Yang Maha Esa tanpa ada tekad yang kuat dari sang jiwa itu
sendiri, dan Yang Maha Kuasa akan datang menolong mereka yang
mencariNya dan membawa mereka ke arah Nirvana ini (kedamaian yang
suci). Maka seyogyanyalah seseorang terus menerus berusaha dengan
kepasrahan total kepadaNya dan dengan penuh disiplin dan dedikasi ke
arahNya. Dan berkahNya akan turun dan menyatukan diri kita dengan
DiriNya, dan kesatuan atau persatuan inilah yang disebut moksha
(pembebasan).
16. Yoga ini sebenarnya bukan untuk seseorang yang makan terlalu
banyak, dan juga bukan untuk seseorang yang terlalu menghindari
makanan. Yoga ini pun bukan untuk seseorang yang tidur terlalu banyak
atau yang tidak terlalu banyak tidur, oh Arjuna!
17. Yoga ini menghapuskan semua penderitaan seseorang yang berimbang
(temperamen) dalam cara ia makan dan berekreasi, yang terkendali
tindakan-tindakannya dan teratur bangun-tidurnya.
Seseorang yang mempunyai kebiasaan bermeditasi harus ingat bahwa ia
harus hidup secara teratur dan seimbang dalam segala tindak-tanduknya
sehari-hari. Adalah salah kalau ia makan terlalu banyak, karena
bukannya ia akan makin kuat karenanya tetapi malahan fungsi
pernafasannya dalam meditasi akan menjadi kacau, dan bagi seorang
bramacharya kelebihan gizi malahan akan merusak semua usahanya untuk
mengekang hasrat-hasrat seksualnya. Terlalu banyak makan dan (atau)
kekurangan makan selalu akan menghasilkan kekacauan dalam fungsi-fungsi
tubuh kita dan hilanglah keharmonisan dalam raga dan usaha spiritual
kita. Semua yang kita lakukan sebaiknya tidak terlalu banyak dan tidak
terlalu sedikit, cukup-cukup sajalah, yang wajar-wajar dan tidak
melebihi porsi maupun menguranginya secara drastis. Ini namanya
harmonis dalam segala-galanya.
Makanan yang dimakan pun sebaiknya yang sesuai dengan kebutuhan tubuh
kita dan cocok dengan pencernaan setiap individu secara masing-masing,
tidak ada yang boleh dipaksakan ataupun memakan makanan yang sebenarnya
tidak perlu untuk tubuh kita. Juga secara mental dan spiritual harus
diperhatikan dengan amat sangat agar tidak memakan sesuatu hasil dari
perbuatan tidak baik atau negatif, seperti hasil dari korupsi atau uang
haram lainnya, tetapi betul-betul harus hasil keringat yang halal dan
suci.
Puasa yang amat berkepanjangan harus dicegah, puasa itu perlu tetapi
harus teratur dan tidak merusak tubuh kita, puasa yang teratur akan
meningkatkan vitalitas dan tingkat spiritual jiwa dan raga kita.
Begitupun dengan rekreasi, ini pun penting untuk kita asal yang sehat
dan teratur, untuk pikiran, mental dan raga kita agar segar dan penuh
dengan dinamika yang sehat. Rekreasi dalam bentuk olah-raga, perjalanan
ke alam bebas seperti ke hutan, gunung, ke sungai dan lain sebagainya
ini amat menyehatkan dan sangat menyegarkan tubuh dan pikiran kita,
tetapi semua ini harus dilakukan secara teratur dan konstan, sehingga
tidak merugikan diri kita maupun lingkungan kita dalam arti yang
seluas-luasnya.
Cara-cara kehidupan lainnya seperti berdagang, bekerja, berdoa, memuja
Yang Maha Esa, berbuat amal, menolong yang harus ditolong, menghormati
orang-tua dan yang pantas dihormati, dan lain sebagainya harus
dilakukan dalam batas-batas kewajaran dan tidak berlebih-lebihan.
Bangun-tidur pun harus diatur yang seimbang, tidur sebaiknya cukup enam
jam saja, tetapi dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan usia seseorang.
Seorang yang ingin tekun bermeditasi harus selalu jalan
ditengah-tengah, maksudnya penuh disiplin dan seimbang dalam segala
perbuatannya. Setiap aksi atau perbuatannya sebaiknya tidak berlebihan,
terkendali dan wajar-wajar saja. Tidak usah terburu tetapi juga tidak
lambat. la selalu stabil dan berimbang baik dalam bertutur-kata maupun
dalam setiap pekerjaannya. la dengan demikian secara lambat laun akan
bebas dari segala penderitaan yang diakibatkan oleh perbuatannya
sendiri yang terlalu banyak atau yang terlalu sedikit, dan juga oleh
akibat-akibat dari perbuatan itu sendiri seperti rasa kurang puas,
marah, kesukaran, ketakutan, keresahan dan banyak lainnya.
18. Sewaktu pikiran yang penuh disiplin dipusatkan pada Jati DiriNya
(Sang Atman) sendiri (dan tidak pada hal-hal yang lainnya), bebas dari
semua nafsu, maka disebutlah orang ini harmonis dalam yoganya.
Inilah intisari dari meditasi, seseorang yang menyerahkan dirinya
secara total atau penuh kepada Sang Atman, maka ia akan mengenal Sang
Atman secara lebih jelas, dan seperti yang kita ketahui dari Bhagavat
Gita maka Sang Atman yang bersemayam di dalam diri kita ini merupakan
saksi dari setiap tindakan kita, bahkan dari pikiran dan pancaindera
kita sendiri. la mengetahui semua kejujuran, kepalsuan dan kemunafikan
kita, tidak ada yang terhindar dari penglihatanNya, maka dikatakan
kalau kita bebas dari segala nafsu-nafsu kita, rnaka Sang Atman akan
nampak lebih jelas dan terasa semua instruksi dan nasehat-nasehatnya
untuk kita. Maka disebut, seseorang yang disiplin dengan meditasinya,
dan puas dengan dirinya sendiri, dan pikirannya tidak menerawang pada
obyek-obyek indranya yang terdapat di luar dirinya sendiri, maka sekali
ia mencapai kestabilan harmonislah meditasi atau yoganya.
19. Seperti pelita yang terletak di suatu tempat yang tak berangin,
tidak berkedip, begitulah juga seorang yogi yang telah mengendalikan
pikirannya, bersatu dengan Sang Atman, Sang Jati Dirinya Sendiri.
Lampu pelita tidak mungkin dapat bertahan dari terjangan angin kalau
diletakkan di tempat yang bertiup banyak angin (atau tempat yang
terbuka), begitupun pikiran dan hati kita tak akan mungkin stabil kalau
setiap saat selalu diterjang oleh angin-angin nafsu dan pikiran kita.
Maka sebaiknya pelita ini diletakkan jauh dari nafsu-nafsu ini agar
tidak terganggu pancaran cahayanya. Seseorang yang ingin mantap dan
stabil meditasinya harus menjauhi obyek-obyek nafsunya, dan
mengendalikan dirinya sesuai dengan keburuhan-kebutuhannya yang cukup
saja, tidak lebih dan tidak kurang; jangan mengumbar-umbar nafsu tanpa
kendali dan hilang ditelan oleh gelombang-gelombang nafsu ini, yang
sifatnya amat dahsyat dan menyesatkan, dan menggelapkan pikiran dan
jiwa kita. Bangkitlah ke tingkat intelektual (buddhi) kita dan
tinggalkan tingkat yang rendah di mana ego dan nafsu kita meraja-lela
tanpa kendali. Dan sekali kita bekeija dengan intelektual kita yang
penuh dengan ‘rasio,’ maka meditasi kita akan stabil dan tercapailah
persatuan dengan Sang Atman.
20. Sewaktu pikiran yang terkendali oleh upaya-upaya konsentrasi
menjadi stabil, sewaktu seseorang melihat (sadar akan) Dirinya oleh
dirinya dan merasa bahagia dengan Dirinya;
21. Sewaktu ia menemukan kebahagiaan Nan Agung (tak ada
taranya)—-kebahagiaan yang dapat terjangkau oleh buddhi (intelektual)
tetapi jauh dari indra-indra sekali tercapai tahap ini, maka seseorang
tak akan pergi jauh dari kebenaran ini.
22. Dan setelah mendapatkan sesuatu yang begitu besar labanya itu, ia
berpikir tak ada hal-hal lain yang lebih menguntungkan dari hal
tersebut, dan sekali ia merasa mantap, ia tak tergoyahkan oleh
kepedihan yang amat sangat sekalipun.
23. Dan hal itu disebut yoga, yang memutuskan hubungan dengan kedukaan
(penderitaan). Yoga ini harus ditekuni sepenuh hati dan tanpa
henti-hentinya (dengan hati yang tak tergoyahkan).
Melalui meditasi yang berkesinambungan, pikiran akhirnya akan dapat
dikendalikan dan teguh tertanam dalam hadirat Yang Maha Esa semata.
Sang yogi yang sudah mencapai tahap seperti ini kemudian tinggal di
dunia ini tanpa terpengaruh oleh hal-hal duniawi untuk selama-lamanya.
Yang dimilikinya hanyalah satu, yaitu kebahagiaan yang sadar akan ke
Maha EsaanNya. Ia tak memerlukan bentuk-bentuk kebahagiaan duniawi
lainnya, baginya Yang Maha Esa adalah semuanya. Kebahagian semacam ini
sukar dan tak dapat diterangkan atau berada di luar jangkauan
indra-indra kita, karena hanya dapat dihubungkan oleh buddhi kita yang
telah bersih dan jernih, dan sifatnya ini amat abadi, suci, nyata, dan
agung.
Seorang yogi yang telah mencapai kebahagiaan ini akan berpikir bahwa
tidak ada keuntungan atau laba yang lebih tinggi nilainya daripada
kebahagiaan ini di dunia. Baginya semua bentuk kekayaan duniawi seperti
harta, kedudukan, kekuasaan, kehormatan, kebanggaan atau keterkenalan
dan lain sebagainya adalah bersifat hanya sementara saja, jauh, tak
menentu dan sia-sia saja untuk dipertahankan atau dianggap milik
pribadi. Bahkan kebahagiaan di svarga-loka pun dianggapnya tidak ada
gunanya sama sekali. Dalam keadaan menderita sekalipun ia tegar seakan
batu-karang. Badannya boleh hancur tetapi jiwanya tak tergoyahkan.
Halilintar, panas, hujan dan dingin boleh menyentuh dan merusak
raganya, tetapi jiwanya tak akan tersentuh sedikitpun. Kehinaan dan
penderitaan bisa saja menyerang dirinya tetapi jiwanya tak akan
terganggu atau terusik, rasa damai di dalam jiwanya akan berjalan
terus, karena yogi ini telah bangkit jauh dari tubuhnya, dari raga
duniawinya. Di dunia ini ia dianggap memiliki raga, tetapi sebenamya
bagi ia sendiri raga itu telah mati dan bersifat spiritual karena
digunakannya untuk tujuan-tujuan bersatu denganNya. Tak ada seorangpun
atau kekuatan apapun yang dapat mendominasinya, karena ia telah tegar
di dalam Yang Maha Esa dan bekerja di dunia ini dalam kehidupan yang
bersifat abadi, yaitu semata-mata untuk Yang Maha Esa.
Keadaan semacam ini — yang disebut kebebasan dari semua penderitaan
adalah yoga yang sejati, yang merupakan kesadaran akan Yang Maha Kuasa
secara nyata. Tetapi kondisi yoga semacam ini tidak mudah dicapai,
harus dilalui dengan praktek-praktek nyata yang tegar dan tanpa mudah
putus asa, atau dengan kata lain tanpa henti-hentinya. Seorang pemula
biasanya selalu patah-semangat kalau tidak langsung melihat hasil
meditasinya, dan setelah beberapa hari, beberapa minggu, atau pun
beberapa bulan yang penuh meditasi dan disiplin yang ketat ia tak
melihat sesuatu hasil, maka ia akan ragu-ragu dan mulai berpikir:
“Derita disiplin ini sudah terlalu banyak bagiku, tak kulihat suatu
akhir (hasil) dari usaha-usahaku ini. Aku jadi ragu apakah disiplin ini
akan menghasilkan sesuatu?” Dan bisa saja pemula itu patah semangat di
tengah jalan. Maka sebaiknyalah meditasi dan disiplin yang ketat
dihayati, diyakini dan dicintai, dan jangan sekali-kali ada perasaan
kalah untuk seorang pemula, sebab jalannya memang panjang dan harus
selalu yakin akan petuah-petuah gurunya bahwa akhir jalan memang
menghasilkan sesuatu yang menakjubkan. Untuk itu buktinya adalah sang
guru atau orang-orang suci lainnya. Suatu hari lambat atau cepat ia
pasti akan mencapai tujuannya, yaitu Yang Maha Esa.
24. Menanggalkan semua nafsu (keinginan-keinginan) yang lahir dari
sankalpa (tekad atau imajinasi yang penuh dengan keserakahan),
mengendalikan semua indra-indranya dari semua segi dengan pikirannya;
25. Sedikit demi sedikit, ia mencapai ketenangan dengan bantuan
buddhinya yang dikendalikan oleh ketegarannya dan memusatkan pikirannya
pada Jati Dirinya, janganlah ia berpikiran hal-hal yang lainnya.
Dalam dua sloka di atas terlihat intisari ajaran Sang Kreshna mengenai Sadhana (disiplin) untuk yoga ini:
a. Menanggalkan semua bentuk nafsu dan keinginan, karena semua ini
lahir dari sankalpa dan membuat atau pikiran tidak tenang. Dengan
menanggalkan nafsu-nafsu ini, kita diajak untuk bertenang-diri.
b. Pengendalian atau penghentian keinginan-keinginan indra adalah tahap
yang berikutnya. Dengan tekad kita, maka pikiran kita harus dicoba
untuk menguasai indra-indra kita dari setiap sisi dan sudut.
c. Dan setelah gelombang-gelombang nafsu atau keinginan kita sudah
mereda, maka dengan bantuan buddhi kendalikan lagi gelombang-gelombang
ini dengan ketegaran intelektual kita. Dengan kata lain belajar untuk
menghilangkan rasa takut. Karena mereka yang telah berhasil
mengendalikan indra-indra mereka akan diserang oleh rasa takut seperti
“pikiranku terkendali, dapatkah aku berpikir dengan baik sekarang?”;
“indra-indraku terkendali, dapat kah aku bekerja atau berfungsi dengan
baik?”; dan lain sebagainya. Semua rasa takut itu akan hilang kalau
seorang guru yang baik dan bijaksana ada di sisi anda dan selalu
memberikan semangat, wejangan dan berkahnya tanpa bosan-bosannya. Dan
di atas semua guru-guru di dunia ini siapa lagi yang Maha Bijaksana dan
Maha Mengetahui kalau bukan Sang Atman, Sang Adhi Guru sendiri yang
bersemayam dalam diri kita ini.
d. Pikiran kita (mana) harus selalu bersandar pada Sang Atman. Jangan
lupa bahwa obyek meditasi adalah Yang Maha Esa, dan sekali duduk
bermeditasi kendalikan pikiran-pikiran yang selalu terbang ke
obyek-obyek yang lain. Tariklah pikiran yang lari ini ke obyek utama
yang semula, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Caranya jadikanlah pikiran itu
bersifat menerima dengan sadar kehadiran Yang Maha Esa dalam segala
aspek kehidupan kita, dan disiplin ini penting sekali untuk tujuan
spiritual. Sekalipun telah tercapai stabilitas dalam pikiran kita bisa
saja, pikiran ini melayang lagi ke arah yang lainnya, jadi selalulah
berlatih tanpa bosan dan henti, dan dedikasi dan iman yang kuat.
Kuasailah sang pikiran ini dan bawalah ia kembali ke jalan Yang Maha
Esa, inilah seninya meditasi.
e. Seorang yogi harus bertindak seperti seorang polisi, dan sang
pikiran diibaratkan seperti seorang pelarian. Maka, pekerjaan seorang
polisi haruslah selalu mengejar para pelarian ini dan mengembalikan
mereka ke jalan yang benar, dan sudah tugas seorang polisi untuk dengan
tanpa bosan-bosannya bekerja seumur hidup menangkap para pelarian ini.
Ketekunan semacam ini disebut abhyasa dan merupakan suatu tindakan yang
amat positif dalam meditasi. Tangkaplah selalu pikiran-pikiranmu dan
giringlah mereka ini ke jalan yang satu itu, yaitu jalan ke Jati Diri
kita sendiri (Sang Atman). Dengan kata lain abhyasa berarti, “giringlah
kembali pikiran itu dari pengembaraannya dan tunjukkanlah jalan ke Sang
Atman.”
Abhyasa ini seharusnya dilakukan setiap hari, dan bukan soal satu atau
dua jam meditasi yang penting saja, tetapi kesadaran dan pengendalian
diri yang dicapai dalam meditasi ini seharusnya terlaksana juga
sepanjang hari dalam segala tindak-tanduk kita seharian itu, bahkan
pada waktu tidur sekalipun. Jagalah baik-baik dan kendalikan diri dan
pikiran kita, sehari-hari sama seperti waktu kita mengendalikan pikiran
kita sewaktu bermeditasi. Jangan sampai kontrol diri kita lepas, karena
lima menit saja kita marah atau kehilangan kesabaran karena sesuatu
hal, maka sia-sialah satu atau dua jam meditasi kita. Jadi siaga dan
siaplah selalu; dengan penuh ketekunan dan dedikasi sadarlah bahwa
meditasi itu ibarat sebuah gunung yang tinggi dan penuh dengan tanjakan
dan halangan-halangan yang berat dan ibarat sebuah pendakian maka jalan
itu masih jauh dan puncaknya sukar untuk ditaklukkan. Tetapi seseorang
yang penuh dengan dedikasi dan iman pasti akan mencapainya, karena
hukum alam (kosmos) akan berlaku di dalam dunia spiritual ini, yang
selalu mendorong usaha seseorang ke tujuanNya, sekali hal itu telah
ditetapkan oleh yang bersangkutan. Tak ada usaha yang sia-sia kalau
dilakukan demi Yang Maha Kuasa, percayalah dan yakinlah akan hal ini!
Yang diperlukan adalah kesabaran yang penuh dengan iman dan dedikasi!
26. Semakin sering pikiran yang tidak stabil dan gemar mengembara ini
lari jauh, semakin sering jugalah seseorang seharusnya menahan dan
menariknya kembali ke arah Jati Dirinya (Sang Atman).
Tentu saja usaha menarik kembali pikiran kita yang gemar lari
kesana-kemari mencari obyek-obyek indranya adalah usaha yang amat sulit
dan memerlukan tekad yang amat kuat. Sering sekali seseorang merasa
amat letih dan sia-sia saja dan febih baik menyerah saja. Dan sedikit
saja kita lengah dan kalah sang pikiran ini sudah mengatur siasat baru
dan bingunglah orang yang sedang berusaha ini. Dan pada saat itulah
kita harus berteriak minta tolong pada Sang Adhi Guru, Sang Atman agar
dikaruniakan rahmat dan karuniaNya, dan dengan jalan ini seseorang ini
akan kembali lagi ke arah dhyana-yoga.
27. Kebahagiaan yang tertinggi (suci dan agung) datang pada seorang
yogi yang pikirannya damai, yang nafsu-nafsunya tenang, dan yang telah
lepas dari dosa dan telah bersatu dengan Yang Maha Esa.
28. Yogi semacam ini, yang selalu harmonis dengan dirinya, telah
menjauhi dosa, dengan mudah ia merasakan Rahmat dan Karunia abadi yang
dihasilkan oleh hubungannya dengan llahi (Yang Maha Abadi).
Berbahagialah seorang yogi yang telah mencapai tahap ini, setelah
bergulat dengan hidup ini selama bertahun-tahun, bahkan mungkin melalui
berbagai kehidupan di masa-masa yang silam, kemudian ia menyatu dengan
Yang Maha Esa pada suatu hari; dan Bhagavat Gita menyebut hal ini
dengan nama brahma-samsparsham, yaitu kontak dengan llahi. Baginya
Tuhan itu bukan suatu hal yang tak nampak dan abstrak, tetapi baginya
tuhan itu adalah suatu kontak yang nyata dan itu berarti sang yogi
telah sampai ke suatu titik di mana waktu sudah tidak berarti lagi.
Sinar llahi telah mekar di dalam dirinya, dan jiwanya telah menyatu
dengan kenikmatan llahi yang tiada taranya. Di dalam agama Islam salah
satu nama Yang Maha Kuasa adalah Azh Zhaahir (Yang Maha Nyata), di
dalam keterangan di bawah nama tersebut kami temukan catatan seperti
berikut: “Allah SWT Nyata Kebenaran, Perbuatan dan Ada-Nya bagi
orang-orang yang berakal yang mau merenungkan ciptaan-ciptaanNya.”
29. Dirinya telah harmonis dalam yoga, ia melihat satu Jati Diri
bersemayam dalam semua makhluk dan semua makhluk dalam satu Jati Diri,
di mana pun ia melihat yang sama (Satu Jati Diri yang ada dan hadir
semenjak masa silam).
Ada tiga faktor utama dalam evolusi manusia yang sedang menuju ke arah jalan spiritual:
a. Sewaktu seseorang mulai berhasrat memasuki hal-hal kebatinan dan
mulai menyelami dirinya sendiri. Dan setelah beberapa waktu kemudian ia
sadar akan hadirnya Sang Atman yang berdiri dan abadi sifatnya.
b. Dalam tahap kedua ini orang tersebut sadar bahwa Sang Atman tidak
saja hadir dalam dirinya sendiri, tetapi juga bersemayam secara sama
rata pada makhluk-makhluk lainnya sama halnya seperti dalam dirinya
sendiri. Dengan kata lain ia sadar bahwa Sang Atman (Yang Maha Esa atau
Sang Kreshna) hadir di mana saja dan kapan saja.
c. Seperti disebut di sloka 29 di atas, maka orang ini sadar bahwa Yang
Maha Esa itu adalah Inti dari setiap makhluk dan benda di alam semesta
ini. Dengan kata lain Yang Maha Esa (Sang Atman dalam hal ini) hadir
dalam setiap jiwa dan benda dan semua itu sebaliknya juga hadir dan ada
di dalam Yang Maha Esa.
Tahap kesadaran ini kalau dicapai seseorang secara benar dan tulus,
maka ibaratnya adalah seperti baru saja sadar dari suatu mimpi. la
tiba-tiba sadar bahwa matahari, rembulan, planet bumi, bintang-bintang,
siang dan malam, waktu, langit, udara, indra-indra, buddhi, dan lain
sebagainya, hanyalah hasil pekerjaan Yang Maha Pencipta. Hanya ialah
satu-satuNya Yang Menguasai dan Mengendalikan semua ini sesuai
kehendakNya, dariNya dan untukNya semata.
Seseorang yang telah sadar ini akan selalu mendoakan kesejahteraan
orang lain dan ia selalu berhasrat untuk membahagiakan orang lain
seperti kebahagiaan yang ia dapatkan dari Yang Maha Kuasa untuk dirinya
sendiri. Seorang yang berorientasi pada hal-hal keduniawian selalu
memuaskan indra-indranya. Berbeda dengan ini, maka seseorang yang telah
mencapai samadhrishti (kesadaran) ini sadar bahwa kebahagiaannya tak
mungkin tercapai dengan penderitaan pada orang lain.
Tetapi mengapa ajaran Bhagavat Gita yang sederhana ini sukar untuk
diikuti atau dipraktekkan? Karena umumnya kita manusia selalu menganut
prinsip bahwa “semua ini milikku,” dan tak mau menganut prinsip bahwa
“semua ini bukan milikku” dan bahwa “Satu adalah semua ini dan semua
ini adalah Satu.” Dengan membeda-bedakan antara “milikku” dan “milik
orang lain,” maka Arjuna pun masuk dan terhunjam ke . depresi yang maha
dahsyat, begitupun kita manusia ini dalam hidup kita sehari-hari. Dan
selama hidup kita masih terombang-arnbing tanpa kendali, selama itu
pula manusia akan merupakan sumber tragedi bagi dirinya sendiri dan
juga lingkungannya. Dan untuk menyembuhkan penyakit ini Bhagavat Gita
mengajarkan “kekanglah pikiranmu, kendalikanlah pikiranmu, stabilkanlah
pikiranmu, pusatkanlah pikiranmu pada Sang Atman! Sadarlah dan lihatlah
Sang Atman yang hadir pada setiap makhluk!” Obat dari penyakit manusia
ini di mana saja adalah sama, yaitu samadrishti (kesadaran).
30. Seseorang yang melihatKu di mana pun juga dan melihat setiap hal
dalam DiriKu, maka orang itu tak pernah hilang dari DiriKu dan Aku tak
pernah hilang darinya.
Bagi seorang yang telah sadar, setiap makhluk baginya adalah baju atau
manifestasi yang beraneka-ragam dari Yang Maha Esa itu sendiri.
Semuanya di alam semesta ini tanpa kecuali adalah la dan kebesaranNya
semata. Sang yogi ini tak sekejappun akan kehilangan kontak dengan
DiriNya, ia selalu dituntun olehNya. Yang Maha Kuasa tak akan hilang
sekejapun dari pandangan, perasaan, pikiran Sang Yogi ini. la adalah
selalu hadir di dalam dirinya setiap saat, setiap detik. Begitulah
besar kasih-sayang Tuhan kepada diri kita ini sebenarnya, dan semua
kebutuhan kita dicukupiNya dengan caraNya sendiri, tanpa perlu kita
memintanya lagi. Om Tat Sat.
31. Seorang yogi yang telah tercipta kesatuannya, memujaKu sebagai yang
berada dalam setiap ciptaan, ia hidup di dalamKu, betapapun aktifnya ia
(bekerja).
Di manapun ia berada dan apapun jenis pekerjaannya, sang yogi ini telah
bersatu dengan Yang Maha Esa dalam segala tindak-tanduknya. Apapun yang
nampak dari luar tentang diri dan pekerjaan maupun kesibukannya
tidaklah penting, yang terutama adalah kesatuan yang telah terjalin
antara orang ini dengan Sang Penciptanya. Di dalam dirinya telah tumbuh
kasih sayang Ilahi yang tanpa batas. Musuh boleh menghina dan menghujam
dirinya, sahabat boleh menyanjung dan tersenyum kepadanya, tetapi
baginya semua itu adalah tidak lain dan tidak bukan variasi-variasi
dari Sang Pencipta yang bersemayam dalam semua bentuk-bentuk ciptaanNya
sendiri. la melihatNya di mana-mana tanpa kecuali, dan tanpa
diskriminasi. Bagi yogi semacam ini pemujaan kepada Yang Maha Esa bukan
dalam bentuk upacara-upacara atau mantra-mantra suci, tetapi
pengorbanan yang tulus dan suci demi dan untuk Yang Maha Esa
semata-mata adalah dengan bekerja tanpa pamrih.
32. Seorang yogi yang sempurna adalah seseorang yang melihat dengan
pandangan yang sama semua benda dan makhluk, seperti terhadap dirinya
sendiri, baik dalam suka dan duka. (Contoh: suka dan dukanya makhluk
lain juga terasa olehnya sebagai suka dan dukanya).
Seorang yang telah mencapai tingkat tertinggi selalu akan sedih dan
senang setiap ia menjumpai kesedihan atau kesenangan orang lain, bahkan
makhluk lain sekalipun, karena ia merasa sebagai satu kesatuan dengan
alam semesta ini beserta segala isinya. Dan bagaimana mungkin orang
semacam ini melukai atau membunuh tubuh makhluk lain, toh ia merasakan
semua suka dan duka makhluk lainnya; ia merasakan persaudaraan
universal di antara sesama makhluk ciptaan Yang Maha Esa.
Berkatalah Arjuna:
33. Yoga untuk menenangkan pikiran yang telah Dikau terangkan ini, oh
Kreshna, di dalamnya tak terlihat fondasi yang stabil, karena pikiran
itu penuh dengan keresahan (dan tak menentu).
34. Karena pikiran itu sangat mudah berubah-ubah, oh Kreshna! Pikiran
itu liar, kuat dan keras-kepala. Kukira pikiran itu sukar dikendalikan
ibarat mengendalikan angin.
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
35. Tentu saja, oh Arjuna, pikiran itu sukar untuk dikendalikan dan
memang pikiran itu resah sifatnya. Tetapi dengan usaha yang
terus-menerus (abhyasa) dan dengan menjauhi godaan-godaan (vairagya)
maka pikiran itu dapat dikendalikan.
Abhyasa, yaitu secara tekun dan terus-menerus berusaha mengendalikan
pikiran ke arah yang positif dan tidak ikut-ikutan dengan
pikiran-pikiran negatif yang selalu berusaha secara licik menjerumuskan
kita ke arah yang lain. Abhyasa juga berarti secara berulang-ulang
menguatkan diri dengan membaca mantra-mantra suci, mendengarkan dan
bergaul dengan para rohaniwan dan orang-orang suci seperti para guru,
pendeta, resi dan sebagainya. Juga berarti untuk selalu mempelajari
buku-buku dan hal-hal yang bersifat rohani, selalu berdoa dengan tulus
dan memanggil namaNya dengan hati yang bersih dan tanpa pamrih sehingga
air-mata kita turun tanpa terasa.
Vairagya, melepaskan ikatan-ikatan kita dengan nafsu, indra dan
sifat-sifat duniawi kita yang selalu berada dalam cengkeraman sang
prakriti dan guna. Dengan selalu melakukan abhyasa secara tekun, maka
secara tahap demi tahap segala godaan akan teratasi dan seseorang akan
sadar bahwa hal-hal duniawi ini hanya sementara saja sifatnya dan
merupakan pentas penderitaan yang tak kunjung habis-habisnya.
36. Yoga ini sukar tercapai oleh ia yang tak dapat mengendalikan
dirinya. Tetapi seseorang yang berjuang dengan jalan yang benar dan
penuh kendali diri akan mencapainya. Itulah keputusan Ku.
Yang Maha Pengasih, Sang Kreshna menegaskan di sini bahwa walaupun yoga
ini sukar untuk dicapai oleh mereka yang dirinya kurang disiplin,
tetapi bagi yang mampu mengendalikan dirinya dengan baik, maka jalan
ini tidaklah sukar, dan itu sudah menjadi keputusanNya yang tidak dapat
diganggu-gugat lagi.
Ada beberapa cara sadhana (metode-metode disiplin) lagi yang harus
diikuti oleh mereka yang telah belajar mengendalikan diri mereka,
seperti berikut ini:
a. Lepaskanlah atau jauhilah semua obyek-obyek kesenangan duniawi, lepaskan juga keinginan-keinginan untuk obyek-obyek ini.
b. Pusatkan pikiranmu selalu ke arah Yang Maha Esa.
c. Yakinlah bahwa hanya Satu Tuhan yang memenuhi kita dan alam semesta
ini beserta seluruh isinya. Yakinilah bahwa jiwa kita, semua benda dan
makhluk di alam semesta ini tersambung dalam satu untaian kesatuan
Ilahi yang nyata.
d. Selalu menyadarkan diri bahwa setiap tindakan diri kita, atau
aktivitas pikiran dan indra-indra kita adalah bukan perbuatan Diri
kita, tetapi diri kita yang dilakukan oleh guna (sifat-sifat alami),
Diri kita sendiri bertindak sebagai saksi.
e. Tanamkanlah pada diri kita bahwa semua tindakan pikiran dan obyek
sifatnya hanya sementara dan selalu tidak abadi. Yang Abadi hanya Yang
Maha Esa dan la bersemayam dalam diri kita sendiri. Yesus pernah
berkata, “Kerajaan Sorga itu ada di dalam dirimu.”
f. Pilihlah salah satu manifestasi Yang Maha Kuasa dan
berkonsentrasilah dengan penuh kepadaNya secara mental. Bagi seorang
Hindu misalnya pada Sang Kreshna atau Sang Rama atau pada Shiva,
Vishnu, Ganesha dan sebagainya. Bagi yang beragama Buddha pada Sang
Buddha, dan bagi yang menganut agama lain masing-masing pada obyek yang
seharusnya diperbolehkan oleh agama-agama tersebut, Kemudian selalulah
berpikir bahwa Yang Maha Kuasa dalam manifestasi yang dipilih ini,
selalu hadir sifatNya. Hormatilah la dan pujalah la dengan cara kita
masing-masing sesuai dengan aturan dan hati nurani. Bagi seorang Hindu
misalnya memuja dengan mempersembahkan secara tulus kasih-sayang kepada
sesamanya, mempersembahkan sekuntum bunga atau sehelai daun, atau apa
saja yang tulus dan bermanfaat bagi sesamanya dan Yang Maha Esa dalam
tindak-tanduk setiap hari.
g. Adalah perlu dihayati bahwa semua tindakan ini selalu harus bersifat
tulus dan murni, dan selalu menjadi kebiasaan dan kenyataan dafam
kehidupan kita sehari-hari, dan tanpa pamrih. Jangan sekali-kali
melakukannya demi kepentingan pribadi sekecil apapun kepentingan itu.
Dalam setiap sukses maupun kegagalan selalulah bersifat tenang tanpa
terusik jiwanya, dan selalulah berpedoman bahwa kita ini hanya alat
belaka ditanganNya dan setiap tindakan dan pengorbanan kepada semuanya
adalah atas kehendakNya sesuai dengan yang la kehendaki!
Berkatalah Arjuna:
37. Seseorang yang dirinya tak dapat dikendalikan, tetapi memiliki
shraddha (kepercayaan), yang pikirannya pergi jauh dari yoga dan tak
dapat mencapai kesempurnaan yoganya, ke arah manakah ia akan pergi, oh
Kreshna?
Pertanyaan Arjuna ini singkat tetapi sangat bermakna. Bukankah itu
sebenarnya masalah kita semua juga, yang sering penuh dengan
kepercayaan pada Yang Maha Kuasa, tetapi sering tindak-tanduk kita tak
sehat dan tidak terkendali, dan ini berlangsung sampai kita mati suatu
saat. Sering pikiran kita menerawang ke soal-soal duniawi tanpa kendali
padahal pada waktu yang bersamaan kita yakin akan kekuasaan Yang Maha
Esa. Lalu ke mana ia akan pergi, kalau ia mati dalam perjalanan
hidupnya, padahal keyakinanNya pada Yang Maha Esa belum sempuma dan ia
masih jauh dari kebijaksanaan spiritual? Bagaimana nasibnya
selanjutnya? Pertanyaan-pertanyaan ini amat menarik untuk dipelajari!
38. Bukankah ia lalu binasa ibarat segumpalan awan yang terpecah-pecah,
oh Kreshna, kehilangan kedua-duanya, tidak tegar dan kacau jalannya
dari Yang Maha Esa.
39. Oh Kreshna, hilangkanlah secara tuntas keragu-raguanku ini, karena
tiada seorangpun yang dapat kucari selain Dikau, yang dapat
menghancurkan keragu-raguan ini.
“Kehilangan kedua-duanya” — yang dimaksud Arjuna, bukankah orang
semacam itu akan kehilangan dua kesempatan yang amat baik, yaitu
kehidupan ini dan kemudian juga kehidupan yang abadi, yaitu kesatuan
dengan Yang Maha Esa. Pertanyaan Arjuna amat wajar dan merupakan
pertanyaan kita semua. Bagaimana nasib seseorang yang sedang berusaha
ke arahNya, dan belum apa-apa sudah mati di tengah jalan, karena memang
pendek umurnya atau karena musibah-musibah tertentu. Bukan kah ia lalu
ibarat segumpalan awan yang terpecah-pecah tertiup angin, lalu
bagaimana nasib selanjutnya dari orang ini? Contoh lain seseorang
selama ini ia merasa bekerja tanpa pamrih demi Yang Maha Esa, tetapi
pada saat-saat kematiannya karena sesuatu dan lain hal maka ia menjadi
lemah mentalnya dan terikat pada ikatan-ikatan duniawinya, apakah yang
akan terjadi padanya?
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
40. Oh Arjuna, orang semacam itu tak akan hancur baik di dalam hidup
ini maupun di dalam kehidupan yang akan datang; karena seseorang yang
bekerja demi kebenaran tak akan mengarah ke jalan penderitaan.
Sang Kreshna menegaskan bahwa seseorang yoga-bhrista (yang mengamalkan
yoga atau yang belajar yoga ini) tak akan pernah menuju ke arah yang
salah (jalan penderitaan) selama ia bekerja demi dharma (kebenaran demi
Yang Maha Esa). Jadi janganlah khawatir karena Yang Maha Esa itu
bukanlah seorang tiran, sebaliknya Ia adalah Maha Pengasih dan
Penyayang, dan la selalu tahu akan kelemahan-kelemahan manusia yang la
ciptakan ini; selamanya la akan selalu mengarahkan kita ke arah benar.
Inilah salah satu inti ajaran Bhagavat Gita yang amat penting bahwa
Yang Maha Esa tidak pernah membiarkan pemujaNya atau ciptaan-ciptaanNya
terjerumus ke lembah dosa secara terus-menerus dan selalu mendorong
kita semua dan para makhluk-makhluk lainnya ke arahNya Sendiri.
Pesan-pesan Bhagavat Gita adalah pesan-pesan yang penuh dengan harapan
dan cinta-kasih antara Yang Maha Esa dan kita semuanya. Langkah demi
langkah, tetapi pasti seseorang aka diangkatnya dari dosa dan dituntun
ke arahNya, jadi selalu berimanlah kepadaNya di kala suka dan duka,
selalu bekerja demi Yang Maha Esa dalam segala aspek kehidupan kita.
Bergaullah selalu dengan orang-orang yang dianggap suci agar selalu
mendapatkan petunjuk-petunjuk ke arahNya. Penting sekali untuk tidak
melupakan kehadiranNya setiap saat dalam kehidupan kita.
Apapun cobaan-cobaan yang kita hadapi, kegagalan-kegagalan yang kita
rasakan dan jatuh-bangun yang kita alami, jangan sekali-kali kita lupa
bahwa yang kita tuju adalah persatuan dengan Yang Maha Esa. Sering
sekali terjadi dalam segala kebenaran dan kebaikan yang kita lakukan,
bahkan sesudah memujaNya dengan sepenuh hati, dan sudah bergaul dengan
orang-orang yang suci, toh ada saja dosa-dosa yang kita lakukan dengan
atau tanpa sadar. Janganlah lalu ragu-ragu akan dirimu pada saat-saat
ini, tapi bangkitlah lagi dan mohonlah kepadaNya untuk menuntun kita
lagi. Ia pasti akan menuntun kita ke arah yang benar. Langkah demi
langkah kita akan menjadi bersih sesuai dengan kehendakNya. Selama kita
berusaha keras untuk membersihkan diri, maka suatu saat kita pasti akan
bersih dan kita akan meningkat ke tahap evolusi spiritual yang
berikutnya, yang lebih tinggi sifatnya, sampai kita akan belajar untuk
menjadi sadar dan pasrah secara total dan tulus, dan hanya bekerja
sesuai dengan bisikan-bisikan Sang Atman yang Maha Pengasih dan
Penyayang. Pada tahap ini kita akan menyerahkan jiwa-raga kita secara
utuh, dan sesudah itu hanya ada jalan yang makin menanjak ke atas dan
tak ada jalan turun lagi, dan jalan naik yang disebut tangga evolusi
ini banyak ragam dan coraknya, semuanya sesuai kehendakNya semata yang
mungkin bagi setiap individu terasa lain pengalaman-pengalamannya,
tetapi bagi Yang Maha Kuasa sama saja sifatnya.
41. Setelah mencapai loka-loka di mana hidup orang-orang yang suci dan
setelah tinggal di tempat ini bertahun-tahun lamanya, maka sang
yoga-bhrista ini akan lahir kembali di sebuah keluarga (rumah) yang
suci dan makmur.
Seorang yoga-bhrista (yang meniti jalan ke Yang Maha Esa) tidak pergi
ke neraka sewaktu ia meninggal-dunia, tetapi pergi ke punyakritamlokan,
yaitu loka-loka di mana hidup orang-orang yang selama ini hidupnya
bekerja demi kebenaran. la pergi ke tempat yang lebih tinggi “status”
nya dibandingkan bumi ini. Dan kemudian setelah menjalani kehidupan
selama bertahun-tahun (sesuai dengan karmanya), ia kembali lagi ke bumi
ini sebagai manusia yang lahir di suatu tempat yang suci dan makmur, di
mana sang yogi ini mendapatkan kesempatan lagi untuk meniti lebih
mantap lagi ke arah Yang Maha Esa. (Orang-orang Hindu percaya bahwa
bumi ini sebenarnya tempat yang paling tepat untuk mengenal Yang Maha
Esa dengan baik, dan adalah tugas manusia untuk mengenalNya di bumi
ini. Hidup sebagai manusia dianggap sebagai hidup yang paling sempurna,
bahkan para dewa-dewa sangat menginginkannya). Bumi ini menyediakan
segala sarana untuk kita agar lebih cepat mencapai moksha,
seyogyanyalah manusia tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini dan
menyesatkan dirinya ke dalam ilusi sang Maya.
42. Atau ia akan lahir di sebuah keluarga yang telah menerima
kebijaksanaan. Tetapi kelahiran semacam ini amatlah sukar untuk
didapatkan di dunia ini.
Seorang yang lahir dalam keluarga yogi yang bijaksana mempunyai
kesempatan yang amat besar untuk meniti jalan evolusinya ke arah Yang
Maha Kuasa, karena kesempatan semacam ini tidak didapatkan di sorga
maupun di loka-loka lainnya. Seorang yang lahir di tengah-tengah
keluarga yogi akan belajar mengenai Yang Maha Esa secara langsung
semenjak amat dini.
43. Di situ ia mendapatkan penerangan akan (pengetahuan batin tentang
kesatuannya dengan Yang Maha Esa) yang telah dicapainya pada kelahiran
yang sebelumnya, oh Arjuna, dan ia pun berjuang sekali lagi untuk
mencapai kesempurnaan.
Kemajuan di jalan kesempurnaan seseorang manusia itu bisa saja lambat
jalannya. Seseorang mungkin saja harus berjuang selama berkali-kali
(lahir berulang-ulang) sebelum mencapai kesempurnaan. Tetapi tidak ada
usaha yang akan sia-sia sekali kita berjalan menuju Yang Maha Esa.
Apapun yang dicapai seseorang ini selama hidupnya tak akan hilang
sewaktu raganya binasa, tetapi malahan sebaliknya akan bertambah
frekwensi dan kekuatannya pada kelahiran yang berikutnya, ia akan
melaju lebih pesat lagi ke arah Yang Maha Esa. Seseorang yang misalnya
lahir diantara keluarga yogi ini, secara otomatis akan terbuka
penerangan batinnya semenjak ia masih kanak-kanak karena suasana
rumah-tangga dan kehidupan orang-tuanya yang penuh dengan unsur-unsur
kesucian dan pemujaan terhadap Yang Maha Esa; sehingga tanpa
disadarinya terdorong oleh karmanya yang lampau ia akan tambah
bersemangat melaju ke arah Yang Maha Esa-otomatis perjuangan dan
kemampuan spiritualnya akan berlipat-ganda; jalan ke Yang Maha Esa akan
dicapainya dengan lebih cepat dan mudah.
44. Karena usaha-usahanya pada kehidupannya yang lalu, maka tanpa
dikuasainya lagi ia terus melaju. Seseorang yang mencari pengetahuan
yoga bahkan (melaju) melampaui Shabda-Brahman (tata-cara dan
peraturan-peraturan Veda).
Shabda-Brahman adalah tata-cara dan peraturan-peraturan keagamaan Hindu
yang tertulis di buku-buku suci Veda. Veda-Veda ini sebenarnya amat
penting pada permulaan pelajaran spiritual kita, tetapi setelah seorang
yogi mencapai penerangan dan kesatuan dengan Yang Maha Esa, maka
Veda-Veda ini ibarat sebuah perahu yang menyeberangkan sang Yogi ini ke
sisi lain sebuah sungai. Begitu selesai menyeberang dan mencapai
penerangan maka perahu tersebut sudah tidak dibutuhkan lagi, karena
tujuan itu, yaitu Yang Maha Esa, telah tercapai.
45. Sang Yogi ini yang bekerja dengan tekun, bersih dari dosa, dan
telah menyempurnakan dirinya dengan melalui berbagai kehidupan akan
mencapai tujuannya yang suci.
Seseorang yang berusaha dan berjuang keras, sambil menyucikan dirinya,
secara perlahan tapi pasti akan mencapai kesempurnaan setelah melalui
berbagai kehidupan dan pengalaman selama perjuangannya dalam hidup ini.
Tujuan yang suci adalah kesadaran dan kesatuan dengan Yang Maha Esa,
pencapaian akan Kedamaian yang Abadi. Kalau dipelajari dan dimengerti
dengan baik, maka bukankah sloka-sloka di atas ini menunjukkan betapa
agungnya ajaran Sang Kreshna dalam Bhagavat Gita, karena setiap makhluk
dan manusia betapapun besar dosanya, la secara perlahan tetapi pasti
ditarik kembali kepada Yang Maha Esa tanpa kecuali. Inilah sebenarnya
evolusi dalam kehidupan spiritual kita, dengan karuniaNya semua
ciptaanNya ditarik kembali kepadaNya.
Pesan suci dalam Bhagavat Gita adalah bahwa walaupun seseorang jatuh
100 kali dalam hidup ini, ia akan dibangkitkan lagi ke arah yang sudah
tujuannya. Kegagalan-kegagalan adalah sementara sifatnya. la akan jalan
terus dalam hidup ini, karena yang dinamakan hidup ini sebenarnya amat
komplek dan penuh dengan lingkaran kehidupan dan kematian yang
berulang-ulang sifatnya, sampai suatu saat ia ditentukan untuk menuju
ke tujuannya yang sejati, yaitu Yang Maha Esa. Raga atau sthula-sarira
setiap makhluk dan insan lahir dan binasa, begitupun dengan raganya
yang halus yang tak nampak oleh mata, yaitu sukhshama-sarira, tetapi
karena sariranya (raga mumi yang menjadi penyebab hidup ini) akan
selalu menyertai setiap makhluk atau insan sampai akhirnya tercapai
moksha atau penyatuan dengan Yang Maha Esa. Di dalam karana-sarira ini
terkoleksi (terkumpul) semua usaha dan perbuatan (sansakarci) manusia
dan makhluk-makhluk ini. Karana-sarira sifatnya tak akan pernah mati,
tetapi ia selalu mengumpulkan dan mengevaluasi semua yang baik dan
buruk yang dilakukan oleh sthula-sarira kita. Maka seyogyanyalah kita
harus ingat pada karana-sarira ini; setiap pikiran (vichara) dan
perbuatan (achara) kita seharusnya bersih dan suci, atau kita harus
berjuang lagi dan lagi membersihkan kotoran-kotoran ini dari
karana-sarira kita pada kehidupan-kehidupan yang mendatang.
Jadi jalan mudahnya, adalah pasrahkanlah secara total kehidupan ini
kepada Yang Maha Kuasa, usahakanlah semua ini dengan penuh kesungguhan,
ketulusan, kejujuran dan iman yang teguh, dan bekerja demi dan untukNya
semata tanpa pamrih. Jadilah saksi atau alatNya semata dan jauhkanlah
kekotoran-kekotoran dari karana-sarira kita, yang akan selalu melaju
lebih cepat ke Tujuan yang Abadi, kalau saja kita tanpa noda-noda dalam
kehidupan ini.
46. Seorang yogi itu lebih agung daripada seorang yang meninggalkan
kehidupan duniawi ini secara total; seorang yogi itu lebih agung
daripada seorang ahli Veda, dan seorang yogi itu lebih agung daripada
seorang yang bekerja sesuai dengan ritus-ritus. Maka seyogyanyalah
dikau menjadi seorang yogi, oh Arjuna!
47. Dan diantara semua yogi, ia yang memujaKu penuh dengan keyakinan,
dengan menyatukan Jati Dirinya dalam DiriKu — ialah yang kuanggap
sebagai seorang yogi yang amat sempurna keharmonisannya.
Seorang tapasvi (seorang yang mengasingkan dirinya untuk bertapa di
hutan-hutan atau di gunung-gunung dengan menyiksa dirinya dan
melepaskan semua nafsu-nafsu duniawinya masih dianggap kurang agung
dedikasinya dibandingkan dengan seorang yogi, begitupun halnya dengan
seorang ahli Veda; dan seorang yogi itu lebih agung juga dari seseorang
yang bekerja dan bertindak sesuai ritus-ritus agama. Inilah nilai yang
diberikan langsung oleh Sang Kreshna. Maka sebaiknya seseorang menjadi
seorang yogi yang tetap hidup di dalam masyarakat, bekerja sesuai
dengan kodratnya, dan dengan tanpa pamrih demi Yang Maha Esa semata.
Seorang yogi yang terkendali semua indra-indranya, yang tetap berfungsi
sebagai seorang manusia yang berguna untuk sesamanya, untuk
lingkungannya, untuk negara dan bangsanya itu lebih agung nilainya di
mata Yang Maha Esa.
Inilah ajaran Bhagavat Gita yang sesungguhnya, bekerja demi Yang Maha
Esa tanpa pamrih dan menyatu denganNya, dengan DiriNya sambil berjalan
mengarungi hidup ini ke tujuan yang abadi, yaitu Yang Maha Esa itu
sendiri. Dan semua itu tanpa harus menanggalkan kewajiban kita sebagai
manusia terhadap keluarga, masyarakat lingkungan dan Tuhan Yang Maha
Esa. Dan diantara semua yogi, yang terbaik menurut Sang Kreshna adalah
yang menyerahkan dirinya secara total kepadaNya, yang memujaNya penuh
kasih, dan keyakinan, bakti dan dedikasi yang tanpa henti-hentinya,
tanpa pamrih dan penuh kendali-diri.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu pengetahuan Yang Abadi, Karya
Sastra Yoga, dialog antara Shri Kreshna dan Arjuna, maka karya ini
adalah bab keenam, yang disebut:
Dhyana Yoga atau Yoga mengenai Meditasi.

Bab 07 - Lingkaran Manifestasi
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
1. Dengarkanlah olehmu, oh Arjuna, bagaimana mempelajari yoga dengan
pikiran yang selalu terpusat kepadaKu, dan Aku sebagai tempat dikau
berlindung, dengan demikian tanpa ragu-ragu lagi engkau mengenalKu
secara utuh.
1. Dengarkanlah olehmu, oh Arjuna, bagaimana mempelajari yoga dengan
pikiran yang selalu terpusat kepadaKu, dan Aku sebagai tempat dikau
berlindung, dengan demikian tanpa ragu-ragu lagi engkau mengenalKu
secara utuh.
2. Seutuhnya akan Kuajarkan (Kubukakan) kepadamu apakah itu
kebijaksanaan (gnana) dan apakah itu pengetahuan (vignana), yang
setelah dipelajari, tak ada lagi hal-hal lainnya perlu untuk dipelajari
lagi.
Bab ketujuh ini disebut yoga gnana dan vignana. Lalu apakah perbedaan
antara gnana dan vignana ini? Mempelajari intisari dari Yang Maha Esa
(Nirguna Nivakara Paramatman) adalah gnana; untuk mempelajari atau
mengetahui “keajaiban” atau “permainan”-Nya adalah vignana, Di dalam
bab ketujuh ini akan kita pelajari tentang Yang Maha Esa (Para Brahman)
dan tentang aspek-aspek manifestasiNya dalam bentuk manusia (Bhagavan),
contoh: Sang Kreshna dan Sang Rama. Pengetahuan tentang Brahman adalah
gnana, dan pengetahuan tentang manifestasiNya, kekuatanNya, dan
keajaibanNya disebut vignana. Dalam Bhagavat Gita Yang Maha Esa
memanifestasikan DiriNya sebagai Sang Kreshna dan langsung mengajarkan
manusia ilmu pengetahuan (yoga) ini yang setelah dipelajari seseorang
tak perlu lagi ia mempelajari ajaran-ajaran Bhagavat Gita dan
meresapinya dengan benar akan lepas dari lingkaran dan alur-alur
karmanya. Sayang sekali kalau kita mengabaikan ajaran ini dan tetap
terikat pada hal-hal yang bersifat duniawi.
3. Diantara beribu-ribu manusia, belum tentu seorangpun berjuang untuk
kesempurnaan, dan di antara yang berjuang dan sukses belum tentu
seorangpun mengenalKu secara benar.
Seseorang yang benar-benar berdedikasi kepadaNya secara lahir dan batin
atau secara total itu dapat dihitung jumlahnya dengan jari. Karena
biasanya manusia itu lupa mengapa ia dilahirkan di dunia ini, yang
menjadi ajangnya untuk mencapai Yang Maha Kuasa. Manusia kemudian
tenggelam dalam ilusi Sang Maya, dan begitu ia sadar maka terasa
perjuangannya ke arah Yang Maha Kuasa menjadi sulit, tetapi secara
perlahan dan pasti kalau ia penuh iman, maka betapapun terjalnya
perjalanan ia akan dituntunNya dengan baik dan suatu saat pasti sampai
ke Tujuan yang abadi ini.
Bahkan para dewa-dewa pun ingin menjadi manusia, karena hanya dengan
mengalahkan raga beserta seluruh indra-indranya sajalah seseorang dapat
mencapaiNya. Sedangkan dewa-dewa itu tidak memiliki raga. Manusia yang
memiliki raga malahan menyalah-gunakan raga ini dan melupakan
nilai-nilai luhur yang sesungguhnya dari kehidupan yang dikaruniakan
olehNya kepada kita semua. Seyogyanyalah kita memuja dan berdedikasi
kepadaNya dan menjauhi nafsu-nafsu duniawi ini yang makin lama makin
menjerumuskan seseorang ke dalam lembah tak ada ujungnya.
4. Bumi, air, api, udara, ether, pikiran, pengertian dan rasa “aku” — adalah delapan bagian dari sifatKu.
Sang Kreshna sekarang sedang menerangkan tentang DiriNya seperti apa
adaNya. Sifat-sifat (atau prakriti) Sang Kreshna sebenarnya terdiri
dari dua bagian, yaitu sifat luar dan sifat dalam, di ajaran ini
dikatakan terdiri dari dua sifat, yaitu sifat bagian bawah (rendah) dan
sifat bagian atas (tinggi). Sifat atau prakriti yang rendah terdiri
dari benda (apara-prakriti) yang terbagi dalam delapan unsur; yaitu
tanah, air, api, ether dan udara, dan tiga lagi, yaitu pikiran (mana),
pengertian (buddhi) dan ego (ahankara). Kedelapan unsur ini semuanya
dapat binasa, dan semua unsur-unsur ini terdapat juga sebagai
unsur-unsur inti dalam diri manusia, yang dengan kata lain dapat binasa
juga.
5. Inilah sifatKu yang di bawah (rendah). Dan ketahuilah sifatKu yang
lain, yang bersifat lebih tinggi - kehidupan atau jiwa, dengan apa
dunia ini ditunjang, oh Arjuna!
SifatNya yang tinggi atau yang superior adalah yang disebut
para-prakriti, yaitu Jiwa, yang jadi inti atau kekuatan atau penunjang
hidup ini, yang terdapat dalam semua makhluk-makhluk ciptaanNya, yang
menyatukan dunia ini; tanpa Sang Jiwa ini dunia ini tak akan ada. Sang
Jiwa inilah sebenarnya nafas dari kehidupan atau inti atau asal-mula
dari semua makhluk di alam semesta ini (yonini bhutani).
6. Ketahuilah bahwa ini (Sang Jiwa) adalah asal-mula semua makhluk Aku
adalah asal-mula seluruh alam semesta dan juga pemusnahnya.
Semua benda dan makhluk dalam alam semesta ini datang dari Yang Maha
Esa, tanpa Yang Maha pencipta ini tak akan ada apapun di dunia ini;
Sang Maya adalah “Ibu” dan Sang Kreshna adalah sebagai “Ayah” dari
semua manifestasiNya ini. (”Akulah Sang Ayah yang meletakkan benih!”).
Ibarat cahaya Sang Surya yang datang dari Sang Surya tetap merupakan
bagian dari Sang Surya, begitupun semua makhluk dan benda-benda di
dunia ini adalah berasal dari Yang Maha Esa dan tetap merupakan bagian
dariNya, merupakan sebagian dari cahayaNya. Setiap jiwa adalah sebagian
cahaya dari Yang Maha Esa dan Yang Maha Esa adalah sumber atau inti
dari setiap jiwa ini. Alam semesta ini bergerak terus dalam gerakan
melingkar atau memutar. Ada lingkaran manifestasi dan ada juga
lingkaran kemusnahan kehidupan, dan semua itu terserah kepadaNya untuk
mengaturnya sesuai dengan kehendakNya, ibarat awan yang lahir atau
tercipta di angkasa, bergerak atau tinggal di angkasa, maka begitupun
semua makhluk dan benda di alam semesta ini datang, tinggal dan kembali
kepadaNya lagi. Dengan kata lain Yang Maha Esa itu Satu untuk semuanya
dan hadir di dalam semuanya.
Sesuatu manifestasi bermula kalau Yang Satu ini menjadi dua, yaitu
benda dan kehidupan (raga dan jiwa yang menyatu). Raga atau benda
adalah bentuk fisik, sedangkan kehidupan adalah jiwa, dan semua makhluk
yang ada dalam manifestasi akan bergerak dan hidup karena ada motornya,
yaitu Sang Jiwa. Di mana ada permulaan kehidupan di situ kemusnahan
akan kehidupan ini pun pasti akan datang, itu sudah hukumnya. Dan
tahap-tahapnya adalah melalui tahap kanak-kanak, kemudian meningkat ke
masa muda, masa tua dan masa di mana seseorang atau sesuatu harus
binasa. Selama menjalani kehidupan maka hidup ini ibarat terisi oleh
musim semi, musim kemarau, musim rontok dan musim dingin. Di musim
dingin bekulah semua nilai-nilai moral dan keyakinan dan lain
sebagainya terhadap yang Maha Esa, dan di musim dingin inilah Yang Maha
Esa kembali meluruskan dan mencairkan yang beku ini ke asalnya lagi dan
mulailah lagi nilai-nilai luhur yang baru di musim semi yang kemudian
datang menyusul.
Maka disebutlah bahwa alam semesta ini memiliki “pagi” dan “malam.” Di
kala pagi bangkitlah kehidupan dengan segala aspek-aspeknya seperti
peradaban, kebudayaan, seni, ilmu pengetahuan, kerajaan, sejarah, dan
lain-lainnya. Dan setelah pagi maka akan timbul malam yang berarti
kehancuran dan kemusnahan dari segala sesuatu ini, di mana semua benda
dan makhluk musnah kecuali mereka-mereka yang telah mengabdi kepadaNya
tanpa pamrih. Mereka-mereka ini dibebaskan dari hidup dan mati, dan tak
akan menyatu dengan manifestasi lagi atau bahkan dengan kebinasaan,
mereka menyatu denganNya, Yang Maha Abadi. Dan begitulah cara
permainanNya (lila).
7. Tak ada sesuatupun yang lebih tinggi dariKu, oh Arjuna! Semua yang
ada di sini tertali padaKu, ibarat permata-permata yang teruntai
disehelai benang.
8. Aku adalah rasa segar di dalam air, oh Arjuna, dan cahaya dalam sang
Chandra dan sang surya. Aku adalah Satu Kata Pemuja (OM) di dalam semua
Veda. Aku adalah suara di dalam ether dan benih kekuatan dalam diri
manusia.
9. Aku adalah wewangian yang sejati di dalam bumi dan warna merah di
dalam bara api. Akulah kehidupan di dalam segala yang hidup dan
disiplin yang amat keras di dalam kehidupan para pertapa.
10. Kenalilah Aku, oh Arjuna sebagai inti yang abadi dari semua
makhluk. Aku adalah kebijaksanaan mereka yang bijaksana. Aku adalah
kemegahan dalam setiap hal yang bersifat megah.
11. Aku adalah kekuatan dari yang kuat, bebas dari nafsu dan keinginan.
Tetapi Aku adalah keinginan yang benar yang tak bertentangan dengan
dharma, oh Arjuna.
12. Dan ketahuilah bahwa ketiga guna (sifat-sifat prakriti), ketiga
tahap (sifat) setiap makhluk - kesucian (sattvika), nafsu (rajasa) dan
kemalasan (tamasa)—adalah dariKu semata. Kupegang mereka semua, bukan
mereka yang memegangKu.
Yang Maha Kuasa adalah motor dari sifat-sifat alami ini (gund), tetapi
la berada di atas sifat-sifat ini dan tak terpengaruh oleh mereka
(sifat-sifat ini).
13. Seisi dunia ini terpengaruh oleh ketiga guna ini, dan tak
mengenalKu yang berada di atas semuanya itu dan yang tak dapat
berganti-ganti sifat.
14. Sukar benar, untuk menembus ilusi MayaKu yang agung ini, yang
tercipta akibat sifat-sifat prakriti. Tetapi mereka-mereka yang
mempunyai iman kepadaKu semata, akan berhasil menembus ilusi ini.
Manusia kebanyakan tertipu oleh ilusi Sang maya yang juga adalah
ciptaan Yang Maha Esa, sehingga manusia lebih mementingkan obyek-obyek
duniawi dan dunia ini sendiri. Bagi kebanyakan manusia maka
harta-benda, kekasih, keluarga dan milik maupun kehormatan dianggap
nyata dan seakan-akan sudah menjadi milik mereka secara abadi yang
tidak dapat diganggu-gugat atau dipisahkan lagi dari sisi mereka.
Lupalah kita bahwa dengan berpendapat seperti itu maka makin lama kita
makin jauh dariNya, Yang Maha Nyata dan Maha Abadi. Terikatlah kita
makin lama dengan isi dunia ini, tetapi Yang Maha Kuasa selalu
memberikan berkahNya, karena di dunia ini masih saja ada
manusia-manusia yang beriman kepadaNya, dan manusia-manusia semacam ini
dapat berhasil menembus tirai ilusi dan bersatu denganNya.
15. Mereka yang (gemar) berbuat dosa, yang telah tersesat, tenggelam ke
bawah dalam evolusi manusia ini, mereka yang pikiran-pikirannya telah
terbawa jauh oleh kegelapan, dan telah memeluk sifat-sifat iblis —
mereka tidak datang kepadaKu.
Mereka yang telah bertekuk-lutut dihadapan ilusi Sang Maya, akan makin
jauh diseret dari Yang Maha Kuasa, dan makin lama makin rengganglah
jarak antara mereka ini dengan Yang Maha Esa. Sedangkan mereka yang
ingin ke jalanNya harus secara total menyerahkan semua milik mereka
dalam ilusi ini secara tulus kepadaNya. Dan ini berarti menyerahkan
dengan mental yang tulus semua milik duniawi seperti anak-anak, istri,
kekasih yang tercinta, harta-benda, raga, pikiran, ketenaran,
kemashyuran, dan lain sebagainya, dan menjadikan semua itu ibarat
sesajen atau pengorbanan untukNya, tanpa pamrih. Pemuja seperti inilah
yang akan dibimbing untuk keluar dari ilusi dan kegelapan Sang Maya,
Ilusi yang diciptakanNya sendiri untuk menyeleksi “bibit-bibit unggul
ciptaanNya juga.”
16. Ada empat golongan manusia beriman yang memuja Ku: manusia yang
menderita, manusia yang ingin mempelajari ilmu pengetahuan, manusia
yang menginginkan harta-benda dan manusia yang bijaksana, oh Arjuna!
Yang Maha Kuasa (Sang Kreshna) membagi pemuja-pemujaNya dalam empat
kategori atau golongan, dan mereka semua ini dianggap bersifat baik
atau beriman. Mereka-mereka ini terdiri dari para bhakti (pemuja)
sepert berikut ini:
a. Para artha-bhakta — mereka yang hidupnya menderita dan memohon perlindungan kepadaNya.
b. Parajignasu-bhakta — mereka-mereka yang memujaNya agar mendapatkan
kesadaran dan penerangan Ilahi. Para jignasu ini tidak memerlukan
harta-benda atau kenikmatan duniawi, bagi mereka yang penting adalah
penerangan Ilahi.
Hidup mereka ini amat sederhana dan selalu mencari guru yang dapat
mengajarkan mereka ilmu pengetahuan tentang Yang Maha Esa. Hidup mereka
adalah pemujaan tanpa henti-hentinya kepada Yang Maha Esa.
c. Para arthaarthi-bhakta — yaitu mereka-mereka yang memujaNya demi
suatu sukses dalam hidup mereka seperti sukses dalam pekerjaan, atau
untuk mendapatkan harta-benda, kedudukan dan kebahagiaan duniawi yang
beraneka-ragam sifatnya, bahkan demi untuk mendapat kebahagiaan
sorga-loka setelah kematian mereka. Tetapi mereka-mereka ini bukan tipe
manusia perusak makhluk sesamanya. Mereka memujaNya tanpa henti demi
kesuksesan duniawi belaka, tetapi juga memujaNya dengan penuh
kepercayaan.
d. Para gnani-bhakta — mereka yang bijaksana dalam segala-galanya.
Dalam setiap makhluk, bangsa, negara, suku dan agama, dalam diri
nabi-nabi dan orang suci, maka terdapatlah kaum bijaksana yang sudah
melupakan ego duniawinya, dan yang mereka miliki hanyalah la dan la
semata, dan la hadir dalam segala-galanya tanpa kecuali. Bhakta semacam
ini telah meresap ke dalam Yang Maha Esa dan bertindak sesuai dengan
kehendakNya semata. Bagi seorang yang bijaksana dunia ini adalah
manifestasi dari Yang Maha Esa dalam bentuk alam semesta beserta segala
isinya. Orang-orang yang bijaksana ini merasakanNya dalam rasa air yang
mereka minum. MelihatNya sebagai cahaya abadi dalam rembulan dan
matahari, melihatnya sebagai ajaran agung dan suci di dalam Veda-Veda.
MelihatNya sebagai kata inti “OM” dalam setiap pustaka suci. lalah inti
dari ether, kejantanan dalam diri laki-laki yang perkasa. Di juga yang
menjadi inti dari wewangian yang sejati atau asli di dalam bumi (bumi
ini dianggap keramat dan suci oleh orang Hindu). la juga menjadi inti
dari api, dan segala-galanya yang hidup dan bergerak. la juga sifat
disiplin yang ketat dan keras para pertapa dan para resi. la juga akal
sehat dan buddhi dari orang-orang yang bijaksana. Pokoknya tidak ada
sesuatupun yang lepas dari Yang Maha Esa, la lah sumber dan
segala-galanya di alam semesta ini, la juga Yang Maha Kuasa, Yang Maha
Pengasih dan Pecinta semua makhluk ciptaanNya ini. (Orang-orang Hindu
mempunyai seribu nama untuk Tuhan Yang Maha Esa).
17. Di antara mereka ini, ia yang bijaksana (gnani), yang hidup dalam
suatu kesatuan yang konstan dengan Yang Maha Suci, yang dedikasinya
terpusat ke satu arah, adalah yang terbaik. Aku paling dikasihinya dan
Aku pun paling mengasihiNya.
Di antara keempat tipe pemuja, Sang Kreshna hanya mengutamakan salah
satu saja sebagai yang terbaik, karena ketiga lainnya lagi memujaNya
dengan motif-motif dan keinginan-keinginan tertentu. Mereka ini
sebenarnya terbius oleh obyek-obyek duniawi dan terlelap dalam ilusi
Sang Maya. Sebaliknya seorang gnani (yang bijaksana) mengasihi dan
bekerja untukNya tanpa pamrih.
Kebijaksanaan atau gnana ini adalah pencetusan atau emansipasi yang
amat khusus sifatnya. Bagi seseorang yang telah mencapai gnana atau
kebijaksanaan ini, maka akan terlihat beberapa sifat-sifat khususnya
seperti:
a. Lepasnya orang ini dari berbagai rasa sensasi.
b. Orang bijaksana ini tindak-tanduknya dan pikirannya berada jauh di
atas hal-hal duniawi pada umumnya seperti logika, mekanisme yang
berlaku secara umum, bentuk, intelek, dan,
c. Orang ini langsung memasuki cara hidup yang tinggi, yaitu suatu
situasi yang penuh dengan kesatuan dengan Yang Maha Esa, tenang dan
damai. Baginya tak nampak sesuatu apapun selain Yang Maha Esa, Inti
dari segala-galanya di alam semesta ini beserta seluruh aspek-aspekNya.
Ia pun sadar bahwa semua makhluk dan benda bergerak dan bertindak
sesuai dengan ketiga sifat alam (Prakriti), dan Yang Maha Esa adalah
Inti dari semua itu, tetapi la tetap di atas semua itu. Semuanya datang
dan pergi tetapi Yang Maha Esa abadi dan tetap ada selama-lamanya.
18. Semua (pemuja) ini agung, tetapi Kutegaskan bahwa pemuja yang
bijaksana adalah sebenarnya DiriKu Sendiri. Karena setelah harmonis
secara sempurna, ia memandangKu sebagai Tujuan Nan Agung.
19. Pada akhir berbagai kelahiran, seseorang tumbuh menjadi bijaksana
dan datang kepadaKu, mengetahui bahwa Tuhan (Vasudeva) adalah semuanya
ini. Mahatma (jiwa yang besar) semacam ini sukar didapatkan (di dunia
ini).
Sang Kreshna dengan rendah hati tetap memandang pemuja-pemujaNya yang
lain sebagai agung, tetapi sekaligus menegaskan bahwa pemuja yang
bijaksana adalah ibarat DiriNya Sendiri. Kedua-duanya, yaitu sang
pemuja yang bijaksana dan Yang Maha Esa adalah yuktaatma (yaitu, kembar
tetapi satu). Yang Maha Esa mencintainya dan ia pun mencintai Yang Maha
Esa. Orang bijaksana (gnani) semacam ini disebut seorang tatva-gnani
atau mahatma, yaitu seorang yang berjiwa sangat agung (besar), dan
adalah amat sukar untuk mendapatkan seorang mahatma di dunia ini.
Seorang mahatma adalah produk dari evolusi yang panjang. la adalah
ibarat buah matang akibat kelahiran yang berulang-ulang, jatuh-bangun
dalam berjalan (yatra) sucinya ke arah Yang Maha Esa. Dan Sambil
membersihkan antah-karannya ia melanjutkan dedikasinya kepada Yang Maha
Esa. Pada suatu saat ia dengan karuniaNya akan berubah menjadi seorang
mahatma.
20. Tetapi mereka yang kebijaksanaannya telah terbawa oleh
keinginan-keinginan (nafsu-nafsu) berpaling pada dewa-dewa yang lain,
mengikuti berbagai upacara (dan peraturan), yang terpusat pada
sifat-sifat mereka sendiri.
21. Apapun bentuk yang ingin dipuja oleh seseorang pemuja dengan
kepercayaannya — maka kepercayaan tersebut akan Kuteguhkan tanpa
ragu-ragu.
22. Dengan dasar kepercayaan itu, ia kemudiaan mencari dan memuja
bentuk tersebut, dan darinya ia mendapatkan apa yang diingininya,
tetapi manfaatnya hanya Aku yang menentukan.
23. Tetapi orang-orang yang berpikiran pendek ini hanya mendapatkan
hasil yang bersifat sementara saja. Mereka ini, pemuja para dewa akan
pergi ke dewa-dewa. Tetapi yang memujaKu — pemuja-pemujaKu — akan
datang kepadaKu.
Sang Kreshna sendiri mengakui bahwa ketiga tipe pemuja yang memujaNya
dalam bentuk dewa-dewa dan dengan tujuan pribadi tertentu bukan berarti
orang yang tidak baik. BagiNya itu hanyalah suatu proses saja, setelah
beberapa kelahiran maka pemuja-pemuja ini pada suatu saat akan langsung
memujaNya juga pada waktunya nanti. Memuja para dewa sebenarnya adalah
pemujaan terhadapNya juga tetapi secara tidak langsung dan salah,
karena berdasarkan pada motif-motif pribadi. Seharusnya diketahui bahwa
dunia para dewa ini terbatas masanya, dan para dewa-dewa itu juga
terbatas mandatnya dari Yang Maha Esa.
Maka para pemuja dewa-dewa hanya mendapatkan hasil yang sementara saja
sifatnya, tetapi para pemuja ini karena sering memuja dewa-dewa, maka
setelah beberapa kehidupan mereka pun langsung meningkatkan pemujaannya
ke arah Yang Maha Esa, dan pemujaan semacam ini hasilnya abadi dan
tidak sementara. Inilah pesan yang harus dihayati. Yang memujaNya tanpa
pamrih langsung menuju kepadaNya, Yang memujaNya dengan pamrih secara
tidak langsung akan dituntunNya juga, tetapi melalui jalan yang
berliku-liku dan lebih panjang, penuh dengan berbagai kelahiran dan
kematian.
24. Mereka yang kurang pengertiannya (buddhi) mengenalKu — yang tak
berbentuk ini — sebagai berbentuk. Mereka tak kenal SifatKu Yang Maha
Suci Yang Tak Dapat Binasa dan Teramat Agung.
Sang Kreshna manifestasi dari Yang Maha Kuasa tak dapat dikenal oleh
orang-orang yang berpikiran cupat dan sempit, yang memandangNya sebagai
seorang dewa atau manusia super yang dapat menghasilkan harta-benda
duniawi dan keajaiban-keajaiban. Mereka tidak melihatNya sebagai
manifestasi Yang Maha Esa Yang Sebenarnya, Tanpa Bentuk Dan Tak
Terbinasakan. Memang bagi yang memiliki nafsu dan keinginan duniawi
Sang Kreshna tak akan terlihat dalam wujud asliNya, karena mereka ini
telah terbius oleh ilusi Sang Maya.
25. Terselimut oleh yoga-maya, Aku tak terlihat oleh semuanya. Dunia
yang kacau ini tak mengenalKu, Yang Tak Pernah Dilahirkan, Yang Tak
Terbinasakan.
26. Aku mengetahui, oh Arjuna, akan makhluk-makhluk yang telah lalu,
yang terdapat sekarang ini, dan yang masih akan datang. Tetapi tak
seorangpun mengetahui tentang Aku.
27. Setiap manusia dilahirkan dalam ilusi, oh Arjuna, terpengaruh oleh
sifat dualisme yang bertentangan yang lahir dari keterpikatan (pada
obyek-obyek) dan ketidak-terpikatan (pada obyek-obyek).
Dunia tidak mengenal Sang Kreshna secara sejati, tetapi Sang Kreshna,
Yang Maha Esa, sesungguhnya mengetahui akan setiap hal, setiap makhluk
yang ada pada masa silam, sekarang, dan yang akan datang. Bukankah
semuanya datang dariNya juga? Bukankah la juga yang tak nampak tetapi
bersemayam di dalam diri kita semuanya ini, dalam setiap makhluk
ciptaanNya. Tetapi banyak yang tak sadar akan hal ini, karena telah
terpengaruh sehari-hari oleh rasa dualisme, yaitu suka dan tak suka,
punyaku dan bukan punyaku, panas dan dingin, untung dan rugi, dan lain
segainya yang semuanya ini di atas disebut sebagai keterpikatan dan
tak-keterpikatan akan obyek-obyek duniawi, yang semuanya sebenarnya
adalah ilusi Sang Maya.
28. Tetapi mereka yang bertindak secara murni, di mana di dalam diri
mereka dosa-dosa telah berakhir, lepas dari kegelapan sifat dualisme,
memujaKu teguh dengan tekad mereka.
29. Mereka yang memintaKu jadi tempat-tempat mereka berlindunq,
berjuang demi kebebasan dari usia tua dan kematian - mereka mengenal
Sang Brahman (Yang Abadi), mereka mengenal Sang Adhyatman (Sang Atman,
Sang Jati Diri), dan mereka juga semua tentang karma (tindakan atau
aksi).
30. Mereka yang mengenalKu sebagai Yang Esa dalam setiap elemen
(Adhibhuta), dalam setiap dewa (Adhidaiva) dan dalam semua pengorbanan
atau persembahan (Adhiyagna) - mereka ini yang telah harmonis
pikirannya mengenalKu bahkan pada saat-saat kematian (mereka).
Yang mengenalNya, yang mengenal Sang Kreshna secara murni itu di dunia
ini jumlahnya hanya sedikit. Mereka ini adalah orang-orang yang murni
tindak-tanduknya, bersih dari segala dosa dan telah lepas dari pengaruh
dvandvas yaitu rasa dualisme yang bertentangan. Mereka-mereka ini kenal
dan tahu (1) Sang Brahman yang Maha Abadi (2) Sang Atman (Adhyatman)
dan (3) semua karma (tindakan dan akibatnya) Mereka pun mengenalNya
sebagai Yang Hadir dalam setiap benda atau elemen (Adhibhuta), Yang
Hadir dalam setiap dewa (Adhidaiva) dan Yang Hadir dalarn setiap
upacara atau tindakan pengorbanan, sesajen, atau persembahan
(Adhiyagna). Orang-orang yang betul-betul telah sadar akan ke-EsaanNya
Kemaha TunggalanNya ini dalam setiap elemen atau unsur di alam semesta
ini, betul-betul secara sejati memujaNya, tanpa pamrih!
Dalam Upanisad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya Sastra
Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka karya ini adalah bab
ke tujuh yang disebut : Gnana Vignana Yoga atau Yoga tentang ilmu
pengetahuan mengenai Nirguna Brahman dan Saguna Brahman.

Bab 08 - Jalan Penerangan
Berkatalah Arjuna:
1. Apakah Brahman itu (Yang Abadi)? Apakah itu Adhyatman’? Dan apakah
itu karma (aksi), oh Kreshna? Apakah itu yang disebut Adhibhuta yang
dikatakan sebagai inti semua elemen? Dan apakah Adhidaiva yang disebut
sebagai inti dari para dewa?
2. Siapakah yang mendasari pengorbanan (adhiyagna) di dalam raga ini
dan bagaimanakah caranya, oh Kreshna? Dan dengan cara apa Dikau dapat
dikenali oleh seseorang yang penuh kendali di saat kematian?
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
3. Yang Tak Dapat Dihancurkan, Yang Maha Agung disebut Sang Brahman.
Svabhava (Sang Jati Diri atau Sang Atman yang bersemayam dalam jiwa
kita) disebut Adhyatman. Tenaga (atau kekuatan) kreatif yang
menciptakan semua makhluk dan benda disebut Kama.
4. Yang menjadi inti dari semua benda dan makhluk (yaitu Adhibhuta)
sifatnya dapat binasa. Yang menjadi inti para dewa adalah Jiwa Kosmos.
Dan Arjuna, di dalam raga ini, Aku Sendiri (sebagai Saksi di dalam)
adalah Adhiyagna.
Pada bab tujuh yang baru lalu, diterangkan tentang para kaum bijaksana
(gnani) yang mengenal Sang Kreshna sebagai Yang Maha Utuh. Mereka ini
telah berhasil mengalahkan kematian dan mendapatkan kebijaksanaan
(gnana) atau ilmu pengetahuan sejati. Mereka-mereka ini tahu dan kenal
apa itu: (1) Sang Brahman, (2) Adhyatman, (3) Adhiyagna, (4) Karma, (5)
Adhibhuta, (6) Adhidaiva dan (7) Abhyasa Yoga. Dan sekarang ketujuh
istilah ini diterangkan Sang Maha Pengasih, Sang Kreshna. Berikut
adalah penerangan dari istilah-istilah ini:
Brahman Adalah Yang Maha Agung dan Suci, Yang Tak Terbinasakan, atau
Tuhan Yang Maha Esa dan Abadi. Yang Maha Esa berada di atas semua
veda-veda suci dan sifat-sifat alami (Prakriti). la berada di atas
semua benda, makhluk dan obyek-obyek duniawi (alam semesta).
Adhyatman Di manakah seseorang dapat menemui Brahman? Temuilah Sang
Brahman di dalam dirimu sendiri, di dalam relung jiwamu yang disebut
Atman atau Adhiyatman, Sang Inti Jiwa yang berada di dalam jiwa kita
sendiri, dengan kata lain, dapat disebut Sang Jati Diri. (Perhatikanlah
bahwa Sang Atman sebenarnya adalah Jiwa di dalam jiwa kita sendiri Sang
Inti Jiwa),
Karma Bagaimanakah Sang Adhyatman dapat masuk dan bersemayam di dalam
diri kita ini? Prosesnya disebut Visarga, yaitu energi murni yang
dipancarkan oleh Yang Maha Esa. Inilah yang disebut karma yang murni
dan sejati, pancaran yang penuh dengan pengorbanan, kasih-sayang dan
pemberian dariNya (tyaga) untuk kita semuanya. Yang Maha Esa memberikan
(mengorbankan) DiriNya melalui Sankalpa, yaitu dengan berkehendak -
“Aku menjadi banyak!” Dan terjadilah proses, dan dariNya bermulalah
semua bentuk benda dan kehidupan-kehidupan ini. Yang Maha Esa lah
sumber dari semua ini, dan inilah yang dimaksud dengan karma yang
sejati, yaitu asal-mula sesuatu benda atau makhluk, sebuah proses
kehidupan dengan segala pola-pola yang beraneka-ragam tanpa ada
habis-habisnya dan juga reinkarnasi. Dan karma ini menjadi suatu
peraturan atau tata-cara dalam kehidupan di alam semesta ini. Karma
adalah suatu peraturan alami yang tegas: “Apa yang kita tabur itu juga
yang akan kita tuai,” dan peraturan ini berlaku untuk semua
tindak-tanduk dan proses kehidupan kita di mana saja dan kapan saja.
Karma adalah energi dari evolusi, dan karma inilah yang melahirkan
makhluk-makhluk (bhuta) dan evolusi kehidupan mereka selanjutnya lagi.
Karma menciptakan suatu proses kemajuan yang berkesinambungan melalui
penderitaan. Kemajuan ini adalah salah satu anak tangga manifestasi
untuk menemukan Jati Diri kita sendiri. Begitulah seseorang dituntun
langkah demi langkah ke arah kesempurnaan. Dan kesempurnaan itu dicapai
melalui penderitaan dulu, dengan kata lain melalui suatu pengorbanan
dalam arti yang amat luas (yagna).
Salah satu rahasia dalam sejarah atau evolusi kehidupan ini adalah
pengorbanan, dan Sang Pemberi Inspirasi atau PemulaNya adalah Yang Maha
Esa yang disebut dengan nama
Adhiyagna Korbankanlah jiwamu demi mendapatkan jiwa yang baru,
begitulah inti dari ajaran-ajaran para nabi (orang suci) di zaman
dahulu. Adhiyagna berarti Pemula atau Asal-Usul dari semua tindakan
pengorbanan di dunia ini. RagaNya adalah Pengorbanan Kosmos dan dari
pengorbanan ini bermula dan hiduplah semua makhluk di alam semesta ini,
dan la hadir dalam semuanya dalam bentuk yang tak terlihat oleh mala,
sebagai saksi dan penuntun kita semuanya, la Abadi. Suci, Agung dan
selalu penuh dengan pengorbanan yang didasari oleh cinta-kasih, dan
kalau dipikirkan dengan baik maka sebenarnya semua raga ini adalah
“kuil-kuil yang suci” yang di dalamnya terdapat pelita yang hidup oleh
apiNya, api Yang Maha Kuasa.
Adhibhuta adalah Adhipati, yaitu Yang Maha Esa, yaitu inti dan dasar
dari segala makhluk, unsur, benda yang dapat binasa, Ishavasyam idam
sarvam sebut kitab suci Ishopanishad yang berarti semua ini adalah baju
atau pakaian Yang Maha Esa. Alam semesta beserta seluruh isinya
sebenarnya adalah suci dan adalah kuil kita untuk mencapai Yang Maha
Esa, Sang Maha Pencipta. Dunia ini adalah ajang kita untuk kembali lagi
kepadaNya.
Adhidaiva adalah Adhipati, yaitu kekuatan Ilahi yang bersinar dalam
dewa-dewa dan merupakan inti dari dewa-dewa ini. la jugalah Purushanya
para dewa. la juga Prathama Purusha yang bercahaya di dalam diri
mereka. la Tuhannya para dewa, la disebut juga Hiranyagarbha Puntsha
(yaitu, Purusha Emas nya) para dewa. la juga Prajapati yang Suci, la
juga Sutra-Atma, yaitu Nafas AgungNya para dewa (Prana-Purushd). Para
dewa adalah “organ” tubuhNya, Ialah Kekuatan Kreatif, Ialah Jiwa Yang
Maha Suci — Ialah semuanya yang bercahaya di alam semesta ini dari
ujung ke ujung tanpa ada habis-habisnya.
Keenam pertanyaan Arjuna di atas telah terjawab oleh Sang Kreshna, dan
sekarang Sang Kreshna masuk ke pertanyaan yang ke tujuh, yaitu apakah
Yoga itu yang dilakukan oleh seseorang pada saat anlakala (saat
kematian menjelang tiba), dan bagaimana mencapai Yang Maha Esa?
5. Seseorang pada saat meninggalkan raganya, maju terus, bermeditasi
terpusat kepadaKu semata; pada saat kematian, ia akan mencapai TempatKu
Bersemayam (Madbhavam). Jangan kau ragukan itu.
6. Barangsiapa, oh Arjuna, sewaktu meninggalkan raganya, memikirkan
sesuatu benda (bhavam) tertentu, maka ia akan pergi ke benda itu,
terserap selalu dalam pikiran itu.
Inilah hukum atau peraturan kosmos (atau Yang Maha Esa) yang berlaku di
dalam agama Hindu, yang sekali lagi ditegaskan oleh Sang Kreshna.
Yaitu, barangsiapa pada saat-saat akhir ajalnya memikirkan Yang Maha
Esa semata maka kepadaNya ia akan pergi dan bersatu denganNya.
Barangsiapa memikirkan benda-benda atau unsur-unsur lainnya yang
bersifat duniawi atau sorgawi maka ke sanalah ia akan pergi. Apapun
yang terpikirkan pada saat-saat kematian itulah yang akan dicapainya
pada kelahiran yang berikutnya. Misalnya seseorang pada saat-saat
kematiannya, pikirannya terikat pada bentuk duniawi seperti ayah, ibu,
saudara, teman, istri, harta-benda, kemashuran, laba dan lain
sebagainya, maka ia akan kembali lagi ke dunia ini untuk menyelesaikan
karma-karmanya yang berhubungan dengan yang dipikirkannya itu. Misalnya
ia berpikir akan sorga dan segala kenikmatan-kenikmatan yang ada di
sana, pada saat menjelang ajalnya, maka ia akan ke sorga untuk
menjalani karmanya di sana. Misalnya pada saat akhir kematiannya, ia
berpikir dan terpusat seluruh pikirannya dengan tulus ke pada Yang Maha
Esa, maka ke sana juga ia akan pergi selama-lamanya.
Inilah hukumnya: bhava (atau pikirannya) yang mendominasi pada saat
akhir akan menjadi tujuan terakhir orang yang meninggal dunia ini.
Seandainya setiap hari atau setiap saat dalam hidup, kita selalu
memusatkan tindak-tanduk dan pikiran kita ke arahNya dan demi Ia
semata, maka pada saat akhir pun semua pikiran secara otomatis akan
terpusat kepadaNya, dan denganNya kita pasti akan bersatu.
7. Maka seyogyanyalah, setiap saat, berpikirlah tentang Aku dan
berperanglah! Kalau pikiran dan pengertianmu terpusat kepadaKu, dikau
pasti akan datang kepadaKu.
Karena sudah hukumnya begitu; bahwa seorang yang pada akhir hayatnya
berpikir akan suatu obyek duniawi maka akan pergi ke situ juga setelah
habis kehidupannya, maka di sloka di atas ini Sang Kreshna bersabda
pada Arjuna sebagai berikut: (1) “Setiap saat (senantiasa) berpikirlah
tentang Aku” dan (2) “Berpikirlah tentang Aku dan berperanglah!”
Diuraikan sebagai berikut:
1. Setiap saat berpikirlah tentang Aku — berarti dunia ini atau
kehidupan ini bagi manusia sifatnya sebenarnya tidak langgeng, dan kita
tak pernah tahu bila kita akan mati dan kalau saat-saat kematian
tiba-tiba datang, dan seandainya kita sudah bersiap-siap dengan selalu
memikirkan Yang Maha Esa, maka kita pun akan segera pergi ke arahNya
dengan lurus. Dan sebaliknya kalau sehari-hari yang menjadi pikiran
hanya obyek-obyek duniawi dengan segala kesenangan dan penderitaan
saja, maka kita pun akan pergi ke obyek-obyek duniawi ini, saat sang
kala tiba-tiba datang meyergap tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
2. Berpikirlah tentang aku dan berperanglah! — pada Sang Arjuna, Sang
Kreshna menganjurkan untuk berperang! Mengapa? Karena Arjuna adalah
seorang Kshatrya yang berkewajiban untuk berperang demi nusa-bangsanya,
dan demi tegaknya kebenaran. Dan cara berperang itu harus berdasarkan
dedikasinya kepada Yang Maha Esa (”Berpikirlah tentang Aku”)- Itulah
tugas atau dharma atau svadharma kita semua, berjuang sesuai dengan
tugas dan status kita di dunia agar tercapai pembersihan batin kita.
Seorang guru bekerja semestinya sebagai guru dan seorang pedagang
sebagai pedagang dan tidak mencampur-adukkan status dan kewajibannya,
sesuai panggilan nuraninya.
Yang paling penting untuk diperhatikan adalah bahwa kita harus dan
selalu berpikir akan Ia dan bekerja sesuai dengan kewajiban kita;
mengingkari kewajiban atau lari dari kewajiban seberapa kecilpun
berarti dosa. Sedangkan tidak berpikir akan Yang Maha Esa akibatnya
adalah kerugian yang maha besar bagi kita juga, karena lingkaran karma
akan membelit kita terus-menerus.
8. Seseorang yang pikirannya tidak mengembara (kesana-kemari), yang
selalu bermeditasi, jalan pikirannya selaras dengan usahanya yang
terus-menerus, ia, oh Arjuna, pergi ke Paraman Pususham Divyam, yaitu
la Yang Maha Agung dan Maha Suci.
9. Ia memujaNya sebagai Yang Maha Mengetahui, sebagai Yang Selalu Hadir
Semenjak Masa Yang Amat Silam, sebagai Yang Maha Penguasa, sebagai Yang
Maha Tercepat, sebagai Yang Maha Memelihara kita semua, sebagai Yang
BentukNya Tak Dapat Dimengerti oleh manusia dan makhluk-makhluk
lainnya, tetapi la Terang Benderang bagaikan Sang Surya dan jauh dari
semua kegelapan.
10. Pada saat kematiannya dengan tekad dan pengabdian yang kuat, dengan
tenaga yoganya, ia menahan nafas kehidupan pada spasi diantara kedua
alis matanya, dan ia mencapai Yang Maha Agung dan Yang Maha Suci.
Cara mencapai Yang Maha Esa (Saguna Avyakta Divyarupa) diterangkan
sebagai berikut: Sang Yogi harus selalu mengendalikan jalan pikirannya,
dan memusatkannya kepada Yang Maha Esa, dengan senantiasa berbuat ini,
maka secara konstan ia akan mengenal yang Maha Esa dan merasakan
kehadiranNya senantiasa dalam suka dan duka, dan akibatnya tidak akan
pergi ke dewa-dewa atau obyek-obyek lainnya. Disebutkan bahwa seseorang
yang senantiasa terpusat kepada Yang Maha Esa, rnaka pada waktu ajalnya
dapat dilihat dari wajahnya yang diibaratkan seperti cermin dari Yang
Maha Esa. Dikatakan bahwa orang semacam ini telah terserap jiwa-raganya
ke dalam Yang Maha Esa. Yang Maha Kuasa (Paramam Puntsham Divyam)
disebut juga Svampa, yaitu Yang memiliki berbagai nama (ada 1.000 nama
untuk Yang Maha Esa di dalam agama Hindu). Misalnya la disebut Kavi
(Yang Maha Bijaksana), Sarvagna (Yang Maha Mengetahui), Yang Maha
Hadir, Tuhan dari para resi dan penyanyi lagu-lagu suci. la disebut
juga Pranam (Yang Mula), la disebut juga Sarva Shaktivan (Yang Maha
Pengatur Segala-galanya). la lah Yang Terlembut diantara yang
terlembut, la lah Yang Terkecil diantara yang terkecil. la lah Maha
Penunjang, Pemelihara, Yang Menjadi Tempat kita tinggal, Yang Menjaga
kita semua. la lah Bentuk Yang Tak Dapat Digambarkan (Achintatyarupam),
Yang tak dapat dibayangkan oleh seorang pun, sebuah Bentuk diluar
pikiran dan daya intelektual manusia, tetapi la juga yang bersinar
seperti mentari yang paling terang diantara jajaran mentari-mentari
lainnya. la bersemayam jauh dari segala kegelapan baik kegelapan dalam
bentuk duniawi maupun dalam bentuk spiritual.
Pada saat kematian sang yogi ini, maka ia dengan penuh ketulusan dan
iman yang tanpa dibuat-buat memusatkan nafas kehidupannya diantara
kedua alis matanya. Yogi semacam ini akan meninggal dunia dengan amat
tenang dan dalam ketenangan ini ia menuju ke Yang Maha Suci. la tak
akan kembali ke dalam lingkaran hidup dan mati !agi, kecuali memang ia
sendiri yang menghendakinya untuk tujuan-tujuan kemanusiaan tertentu
yang diingininya.
11. AkanKu beritahukan kepadamu sesuatu dengan jelas - yaitu sesuatu
yang oleh para pengenal Veda disebut Aksharam (Tak Terbinasakan),
sesuatu yang dituju oleh para pengendali nafsu (atau yang telah bebas
dari nafsu), sesuatu yang diperjuangkan dan dituju oleh para
bramacharin (yang tidak menikah).
12. Menutup semua pintu-pintu raga (lubang-lubang indra), memusatkan
pikiran di dalam hati, nafas dipusatkan di kepala, bertindak teguh
dalam konsentrasi yoga.
13. Menyebut satu kata OM–Sang Brahman Yang Abadi - hidup di dalamKu
(dalam aspekKu yang sempurna, yaitu aspek Sang Brahman), maka ia yang
pergi meninggalkan raganya, pergi ke Tujuan Yang Tertinggi.
Diterangkan di sini cara-cara mencapai Yang Maha Esa (Nirguna Para
Brahman) pada saat-saat kematian seseorang. Para ahli Veda menyebut
Yang Maha Esa sebagai Yang Tak Terbinasakan, dan ke dalamNya menujulah
para resi dan orang-orang suci dan orang-orang yang mengendalikan
nafsunya. Semuanya menuju arah yang sama untuk mencapaiNya. Para yogi
ini pada saat-saat kematian mereka menutup pintu-pintu indra mereka
(yaitu lima gnana-indra dan lima karma-indra), dan jalan pikiran
dipusatkan ke dalamNya, dan inilah yang disebut pratyahara. Mereka
mengunci pikiran dan nafsu mereka di dalam hati mereka yang disebut
hridaya kamala (di antara nabhi dan kantha). Para yogi ini juga
memusatkan nafas kehidupan di kepala dan ini disebut dharana. Dengan
konsentrasi yoga yang penuh mereka ini menyebut dan memuja secara
mental satu patah kata OM yang menjadi simbol dari Yang Maha Esa (Para
Brahman). Mereka ini memuja Sang Kreshna sebagai manifestasi dari Sang
Brahman, dan melepaskan raga mereka dengan tenang. Para yogi yang
meninggal dunia ini menuju ke Brahma-Nirvana, dan bersatu denganNya.
14. Arjuna, seseorang yang senantiasa berpikir tentang Aku dengan
pikiran yang tak tertuju kepada yang lain - ia, sang yogi ini yang
disebut nitya-yuktah (selalu harmonis dan terserap di dalam Ku) - akan
mudah mencapaiKu.
15. Orang-orang yang sempurna ini — jiwa-jiwa yang agung, para mahatma
ini — sekali mencapaiKu, tak akan lahir kembali, ke tempat duka, yang
tak abadi. Mereka ini telah mencapai Karunia Yang Tertinggi
(Kesempurnaan Yang Tertinggi).
16. Arjuna, semua loka ini, sampai ke Brahmaloka — muncul dan hilang;
loka-loka ini datang dan pergi. Tetapi seseorang yang datang kepadaKu,
ia tak akan mengenal kelahiran lagi.
Apakah yoga-yoga di atas oleh para pembaca dianggap sukar? Apakah yoga
atau cara mencapai Yang Maha Esa (Nirguna Para Brahman atau Saguna
Parameshvaram, banyak nama untukNya, tetapi la Maha Tunggal) ini sukar
untuk dicernakan? Maka ambillah jalan yang paling mudah seperti yang
diajarkanNya, yaitu, “Berpikir tentang Aku tanpa memikirkan dewa-dewa
atau tuhan lainnya. Lihatlah Aku penuh dengan iman dan kasih.
Terseraplah selalu di dalam DiriKu.”
Dan barangsiapa sekali mencapaiNya maka tak akan ia lahir kembali ke
dunia ini, yang penuh penderitaan dan tak abadi ini. la yang pergi
kepadaNya akan mencapai kesempurnaan yang abadi dan penuh dengan
karuniaNya. Barangsiapa memuja para dewa mereka akan pergi ke loka-loka
para dewa ini, tetapi loka yang tertinggi seperti Brahmaloka saja tak
lepas dari karma, dapat timbul dan dapat tenggelam (hilang) karena ada
masa-masanya. Tetapi Yang Maha Esa tak terpengaruh oleh waktu dan
karma, maka barangsiapa mencapaiNya maka akan bersatulah ia denganNya
dan tak lahir dan hidup kembali ke dunia yang penuh dengan derita ini.
17. Mereka-mereka yang tahu (dari kesadaran) bahwa satu hari Brahma
sama dengan seribu yuga, dan satu malam Brahma sama dengan seribu yuga
lainnya — hanya mereka saja yang tahu akan hari dan malam (maksudnya,
hanya mereka yang tahu akan kebenaran waktu).
18. Pada harinya Brahma, semua yang nyata ini mengalir keluar dari
tubuh halus Sang Brahma yang tidak nyata. Dan menjelang malamnya Sang
Brahma semua ini kembali menyerap ke tubuh halus Sang Brahma yang tidak
nyata (tubuh Sang Brahma yang sama juga).
19. Arjuna, makhluk-makhluk yang melimpah-ruah ini pergi secara
terus-menerus (lahir dan lahir lagi), dan tanpa daya terserap lagi
menjelang tibanya malam (Sang Brahma). Dan lagi pada pagi harinya
makhluk-makhluk yang melimpah-ruah ini mengalir keluar lagi.
Semua loka-loka termasuk loka-loka para dewa, dan bahkan loka yang
tertinggi Sang Brahma terbatas pada hukum ‘ada’ dan ‘tidak ada,’ yaitu
hukum karma. Semua loka ini terikat pada tahap-tahap tertentu yang
berkaitan dengan hukum kosmos (alam semesta). diantaranya adalah tahap
atau waktu tertinggi, yaitu waktunya Sang Brahma yang dikatakan dalam
agama Hindu sebagai berikut: satu hari atau satu malam waktu di
Brahmaloka sama dengan seribu yuga, dan satu yuga sendiri adalah suatu
kurun waktu yang amat luas jika dibandingkan dengan waktu di bumi ini;
suatu kurun waktu yang seakan-akan tidak ada batasnya, mungkin
bermilyar-milyar tahun atau berjuta-juta tahun. Toh kurun waktu ini
(Brahmaloka) masih saja berada dalam lingkupan karma, jadi masih dapat
datang dan pergi atau dengan kata lain masih dapat mati dan hidup lagi.
Barang siapa menyadari fakta ini, betul-betul akan menghayati kehadiran
Yang Maha Esa secara sejati. Yang dimaksud dengan datang dan pergi dari
tubuh Sang Brahma ini adalah: dunia ini beserta isi dan makhluknya yang
terbentuk pada pagi harinya Sang Brahma, yang adalah dewa pencipta
dunia ini beserta segala isinya, dan kemudian kembalinya para makhluk
ke dalam diri dewa ini disebut pralaya, yaitu hari kiamat. Jadi dengan
kata lain dari penciptaan dunia sampai ke akhirnya dunia ini memakan
waktu satu hari dan satu malamnya Sang Brahma. Untuk ukuran bumi, hanya
Yang Maha Esa yang tahu sebenarnya betapa luasnya kurun waktu tersebut.
Dan begitulah seterusnya, setelah pralaya maka diciptakan lagi dunia
yang baru beserta segala isinya pada hari berikut Sang Brahma, dan ini
berulang-ulang sesuai dengan kehendak Yang Maha Esa. Dikatakan juga
bahwa di dunia ini semua makhluk hidup dan mati lagi secara
berulang-ulang (reinkarnasi), dan dengan begitu sebenarnya tak ada
kreasi kehidupan yang baru, yang ada hanyalah daur-ulang saja dari
elemen yang sama, yang itu-itu juga, sesuai dengan karma
makhluk-makhluk ini, sampai suatu saat mereka lepas dari lingkaran
karma dan mencapai Yang Maha Esa, di mana tak akan ada kehidupan dan
kematian lagi. Dan selama belum mencapai Yang Maha Esa, maka semua
makhluk ini akan selalu berada dalam lingkaran Sang Prakriti dan akan
selalu mengalami suka dan duka yang diakibatkan oleh guna (sifat-sifat
alami), dan masa karma ini bisa berlangsung amat lama.
20. Sebenarnya lebih tinggi dari yang tidak nyata (Sang Brahma) ini ada
lagi Yang TIDAK NYATA, yaitu Yang Maha Suci dan Abadi, Yang tak dapat
hancur sewaktu yang lain-lainnya dihancurkan.
21. Yang TIDAK NYATA ini disebut Yang Tak Terbinasakan, la lah yang
disebut sebagai Tujuan Yang Tertinggi. Mereka yang mencapaiNya tak akan
pernah kembali. Itulah tempatKu bersemayam nan agung.
22. Ia, Purusha Yang Tertinggi (Jiwa), oh Arjuna, hanya dapat dicapai
dengan dedikasi yang tak tergoyahkan. Di dalamNya semua makhluk-makhluk
ini berdiam dan olehNya semua ini (alam semesta beserta isinya)
terpelihara.
Sang Brahma Disebut sebagai yang tidak nyata, tetapi ia pun masih
berada dibawah pengaruh prakriti. Di atas Sang Brahma ini hadir Yang
TIDAK NYATA, yaitu yang sifatNya lebih tinggi dari Sang Brahma dan
tidak terpengaruh oleh prakriti. la lah Yang Maha Esa, Sang Pencipta
dari prakriti itu sendiri, Yang mencipta seluruh alam semesta ini
beserta segala isinya, Yang Maha Abadi, yang Maha Kuasa. Ia lah tujuan
terakhir kita semuanya, yang mempunyai bermacam-macam nama tetapi
Tunggal dalam penghayatan. Yang Maha Esa ini mudah dicapai hanya dengan
cinta-kasih dan dedikasi yang tulus yang terpancar dari sanubari kita
senantiasa tanpa henti hentinya.
23. Sekarang akan Kusabdakan kepadamu, oh Arjuna, waktu-waktu di mana
para yogi yang meninggal dunia dan tak kembali lagi, dan waktu-waktu
para yogi yang meninggal dunia hanya untuk kembali lagi.
24. Api, cahaya, siang-hari, dua minggu yang terang, enam bulan di kala
mentari bergerak ke Utara — meninggalkan (raga) pada saat-saat ini,
mereka yang kenal pada Yang Maha Abadi (Brahman) pergi ke Yang Maha
Abadi.
25. Asap, malam-hari, begitu juga dua minggu yang gelap, enam bulan
sewaktu mentari bergerak ke arah Selatan - meninggalkan (raga) pada
saat-saat ini para yogi ini akan mencapai cahaya sang rembulan dan
kembali lagi.
26. Terang dan kegelapan - kedua ini adalah jalan-jalan dunia ini yang
abadi. Melalui jalur yang satu seseorang pergi untuk tidak kembali, dan
melalui jalur yang lain seseorang pergi untuk kembali.
27. Seorang yogi kenal akan kedua jalan ini, dan ia tak akan kebingungan. Seyogyanyalah, oh Arjuna, teguhlah selalu dalam yoga.
28. Seorang yogi yang mengetahui semua hal ini, maka jasanya dianggap
melampaui semua jasa yang didapatkannya dari mempelajari Veda-Veda,
dari pengorbanan (yagna), dari bertapa, dari dana (pemberian atau
amal), dan ia akan pergi ke Yang Maha Agung Dan Abadi (pergi ke alam
yang penuh dengan karunia dan kedamaian).
Ada dua jalan yang diterangkan di sini: (1) jalan yang pertama ini
adalah jalan yang terang dan sekaligus merupakan jalan kebebasan dari
dunia ini, dan (2) jalan keterikatan dan ini berarti kembali lagi ke
kehidupan duniawi ini. Jalan yang pertama disebut patama-dharma (yaitu
tempat kediaman yang utama, tempat bersemayam Sang Brahman, atau Sang
Kreshna. Sekali mencapai ini seseorang tak kembali lagi ke dunia.
Banyak sekali sebenarnya nama untuk loka yang satu ini, tetapi yang
terpenting di loka Sang Brahman ini, seorang yogi yang mencapainya akan
bersatu denganNya dan akan abadi bersamaNya. Jalan yang lainnya adalah
jalan kegelapan, di mana sesorang yang masih terikat pada karmanya akan
menjalani jalan ini dan setelah menyeberangi Chandra loka (loka para
leluhur) maka ia akan sampai ke chandra-loka dan setelah mendapatkan
inti kesucian Sang Chandra (disebut sari soma), orang ini akan memasuki
sorga. Di sorga-loka ini ja menikmati buah dari perbuatannya yang baik
dan lalu kembali lagi ia ke dunia ini setelah masanya selesai.
Seorang yogi yang sadar akan arti kedua jalan ini, tak akan kebingungan
memilih jalan kehidupannya. la tak akan terikat pada moha
(kasih-duniawi). Maka seyogyanyalah kita semua tidak terikat pada moha
dan tidak terikat pada hasil atau buah dari semua perbuatan baik kita
juga. Lakukanlah semuanya demi Yang Maha Esa semata dan tanpa pamrih,
sebagai kewajiban kita kepadaNya. Semua tindakan baik atau positif
seperti pengorbanan, sesajen, doa, yagna, dana, dan tapa, dan lain
sebagainya akan menghasilkan buah, tetapi persembahkan kembali buah ini
kepadaNya tanpa pamrih dan selalulah bertindak tanpa keinginan agar
jalan yang kita tuju kelak tidak menyimpang dari tujuan kita, yaitu
Brahman-loka (ingat, bukan Brahma-loka). Semua Veda memang mengajarkan
hal-hal yang baik, tetapi kebijaksanaan akan Yang Maha Esa adalah lebih
tinggi nilainya dari semua yang tertulis dan yang diajarkan Veda-Veda.
Kebijaksanaan ini lebih tinggi sifatnya dari semua dana, yagna, tapa
dan lain sebagainya. Karena kebijaksanaan yang benar akan membawa kita
kepada Sang Brahman, Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan kebijaksanaan yang
salah (perbuatan baik demi tujuan-tujuan tertentu, demi pamrih) akan
mengantar kita kembalik ke dunia ini. Bertindaklah senantiasa secara
benar dan tanpa pamrih, tanpa henti-hentinya.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya
Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka karya ini
adalah bab ke delapan yang disebut : Aksharabrahman Yoga atau Yoga Sang
Maha Nyata Yang Tak Terbinasakan.

Bab 09 - Misteri Nan Agung
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
1. Kepadamu, yang tak memiliki berbagai keinginan, akanKu sabdakan
rahasia yang paling dalam ini, gnana dengan vignana yang tergabung
(pengetahuan tentang Nirguna Brahman — Yang Maha Gaib, digabung dengan
pengetahuan tentang Cinta-Kasih nan Suci dari Sakara Brahman -
manifestasiNya Yang Abadi). Mengetahui ini, engkau akan lepas dari
dosa-dosa (keterikatan sansara).
Di bab ini Sang Kreshna menyabdakan tentang rahasia sejati, rahasia
yang paling misterius dan suci dari Yang Maha Gaib. Arjuna dipercayai
untuk mendapatkan ajaran ini karena Arjuna tidak mempunyai keinginan
atau nafsu-nafsu yang negatif dalam dedikasinya terhadap Sang Kreshna.
la tak membantah ajaran-ajaran Sang Kreshna selama ini, tetapi selalu
ingin lebih tahu lagi dariNya. Hati Arjuna ibarat hati seorang murid
yang tulus dan penuh pengabdian. Dalam bab kedelapan-belas Bhagavat
Gita yang menyusul nanti, akan kita pelajari bahwa ajaran Sang Kreshna
ini tidak boleh diajarkan kepada orang-orang yang hanya ingin membantah
ajaran-ajaranNya. Kebenaran Bhagavat Gita hanya untuk mereka-mereka
yang berdedikasi tanpa pamrih kepadaNya semata.
Memang Arjuna banyak sekali bertanya, tetapi pertanyaan-pertanyaannya
malahan mencerminkan keinginannya untuk mempelajari dan menghayati
ajaran-ajaran Sang Kreshna lebih dalam lagi. Sang Kreshna pun dengan
senang hati dan penuh kasih mengajarkan ajaranNya lebih lanjut, karena
Arjuna dianggapNya penuh dengan bhakti yang tulus terhadap Yang Maha
Esa. Seharusnya seorang murid yang baik selalu bertanya kepada guru
spiritualnya dan seorang guru yang baik seharusnya bertindak seperti
Sang Kreshna dengan tidak segan-segan menuntun seseorang ke jalan yang
benar dan sejati. Ajaran apakah yang maha sejati dan rahasia ini, yang
disebut sebagai gabungan dari kehadiran Sang Maha Gaib dan Cinta-Kasih
SuciNya, yang juga menurut Sang Kreshna adalah gabungan antara gnana
dan vignana. Apakah itu gnana, dan apakah itu vignana? Dan apakah
perbedaan antara keduanya?
Gnana adalah ilmu pengetahuan tentang Nirguna-Brahman, yaitu tentang
Yang Maha Gaib, tetapi dalam kegaibanNya la adalah realitas yang
absolut. Suatu realitas yang tak dapat ditentang kehadiranNya, walau
tak diketahui bentukNya yang nyata, karena tak mungkin kita
mengungkapkanNya secara harafia apa Ia itu sebenamya, dan tak mungkin
pikiran kita mampu menjangkau atau menafsirkanNya, atau bahkan
menerangkan secara pasti dan konkrit apakah Ia sesungguhnya. Suatu hal
yang pasti adalah Ia itu yang Ada dan Hadir dan ini benar-benar
realistis. la adalah realita yang abadi dan absolut tanpa bisa
ditawar-tawar lagi KehadiranNya. Mayoritas manusia berpikir bahkan
mengangan-angankan Seorang Tuhan yang berbentuk (Sakara Brahman).
Vignana adalah ilmu pengetahuan atau pemujaan akan Sakara Brahman.
Menurut Dattatrya, seorang resi agung di masa yang silam, pemujaan
terhadap Nirguna Brahman hanya dapat dilakukan oleh mereka-mereka yang
asarira (tak berbadan). Yang dimaksud di sini bukan makhluk-makhluk
halus tetapi adalah kiasan dari seseorang yang sudah tak terikat pada
dvandvas, yaitu nafsu atau sifat dualisme yang bertentangan. Seseorang
yang telah mengatasi semua keinginan dan nafsu-nafsunya, yang telah
berada di atas rasa suka dan duka, walaupun dibakar hidup-hidup tak
akan merasakan apa-apa lagi. Mayoritas manusia tidak bisa mencapai
kesadaran Ilahi seperti ini, dan memujaNya dalam bentuk Sakara Brahman,
yaitu Tuhan Yang Berbentuk, seperti pemujaan pada Sang Kreshna, Vishnu,
Shiva, dan sebagainya.
Sang Kreshna sendiri disebut juga sebagai Purusha Uttama dan DiriNya
adalah manifestasi dari Yang Maha Esa (Nirguna Brahman). Jadi gnana
adalah pemujaan kepada Yang Maha Esa Yang Tidak Berbentuk sedangkan
vignana adalah pemujaan kepadaNya dalam bentuk-bentuk manifestasiNya,
seperti Sang Kreshna, Sang Rama, dan lain sebagainya. Yang pertama ini
lebih sukar untuk rata-rata manusia sepert kita ini, Yang kedua karena
berbentuk manusia maka lebih mudah bagi kita untuk memujaNya. Dalam
manifestasiNya yang berbentuk maka bisa saja Yang Maha Esa dipuja dalam
bentuk dewa-dewi, aspek-aspek alam seperti sang surya, rembulan,
sungai, sapi atau bentuk-bentuk kosmos lainnya. Bisa juga la dipuja
sebagai seorang guru, pahlawan, pendeta-suci, resi, dan simbol-simbol
yang dianggap suci. Atau la dipuja dan dihayati dalam bentuk
orang-orang yang menderita dan bentuk fakir-miskin yang hina-papa.
Contoh: ibu Theresia yang melihatNya dalam bentuk manusia-manusia yang
sangat menderita di Calcutta dan di seluruh dunia. Pemenang hadiah
Nobel untuk perdamaian in berbakti kepada Yang Maha Esa dalarn
dedikasinya, tanpa pamrih untuk la semata. Kata-kata ibu Theresia yang
pantas dicatat adalah: Berpikirlah akan apa yang sedang kau lakukan
kepadaNya, Berpikirlah akan apa yang sedang kau lakukan untukNya,
Berpikirlah akan apa yang sedang kau lakukan denganNya,
2. Raja-vidya (ilmu pengetahuan yang paling agung) ini, raja-guhyam
(rahasia yang paling agung) menyucikan dan amat tinggi nilainya. Dan
ilmu ini bercahaya gemerlapan, harmonis dengan dharma (kewajiban);
sangat mudah untuk dipergunakan dan tak dapat dibinasakan.
Ilmu ini disebut raja-vidya, karena tak dapat dipelajari di sekolah,
tapi hanya dipelajari dan dihayati oleh mereka-mereka yang benar-benar
terpilih untuk itu, yang ingin menguasai pikiran dan indra-indranya.
Raja-vidya ini, kalau bukan diterangkan olehNya, tak mungkin kita
ketahui sendiri dengan benar. Karena apakah Tuhan itu sebenarnya, hanya
Ia Yang Maha Tahu. Yang kita ketahui hanyalah seperti yang diuraikan di
sini sesuai dengan KasihNya pada Arjuna dan kita semuanya. Pada sloka
di atas disebutkan bahwa raja-vidya ini menyucikan rasa dan pikiran
kita (pavitram) dan juga amat berharga (uttaman = tinggi nilainya),
karena dengan menghayati dan sadar akan arti ilmu ini, seseorang lalu
tahu akan nilainya yang amat tinggi dan sebenarnya tak ternilai untuk
ukuran duniawi ini yang serba materialistis.
Dikatakan juga di atas bahwa ilmu pengetahuan ini gemerlapan cahayanya
(pratyakshavagamam) dengan kata lain, seseorang yang memujaNya dengan
tulus akan diberkahi cahaya ilmu pengetahuan ini yang bersinar amat
gemerlapan, dan juga ilmu ini harmonis atau sejalan dengan semua
dharma-bhakti dan kewajiban kita kepadaNya dan masyarakat di sekitar
dan di sekeliling kita, bahkan dikatakan harmonis dengan hukum kosmos
yang berlaku. Ilmu pengetahuan ini juga mudah untuk diusahakan,
dijalankan dan dilaksanakan. Ilmu ini mudah dipelajari karena bentuk
ajarannya sebenarnya tidak memakan biaya mahal, dan mudah difahami.
Juga menurut Sang Kreshna, ilmu ini tidak dapat binasa, habis atau
surut, tetapi kebijaksanaan ini akan langgeng dan abadi. (Setelah
beribu-ribu tahun Bhagavat Gita diturunkan di Kurukshetra maka sampai
saat ini ajaran Bhagavat Gita masih relevan dan dianggap sebagai inti
dari semua ajaran spiritual di dunia. Inilah salah satu bukti dari
kata-kata Sang Kreshna di atas.)
3. Orang-orang yang tak beriman pada ilmu pengetahuan ini, oh Arjuna,
tidak akan mencapai Aku, kembali ke jalan dunia yang binasa ini.
Ilmu pengetahuan atau kebijaksanaan ini membebaskan mereka-mereka yang
beriman dari semua sifat-sifat prakriti dan kegelapan yang ditimbulkan
oleh Sang Maya. Para yogi yang beriman ini tidak kembali lagi ke dunia
yang penuh dengan ketidak-abadian ini, tetapi bersatu bersemayam di
dalam Diri Yang Maha Esa untuk selama-lamanya. Yang jadi titik penting
di sini adalah iman atau kepercayaan yang teguh dan tak tergoyahkan
kepada Yang Maha Esa, dan ini harus tanpa pamrih sedikitpun. Tanpa iman
semacam ini tak mungkin kita mencapaiNya.
4. OlehKu dalam bentukKu Yang Tak Nyata seluruh alam semesta ini
tertunjang. Setiap makhluk berakar padaKu, tetapi Aku tak berakar pada
mereka.
5. Dan (tetapi) sebenarnya semua makhluk tak berakar padaKu.
Saksikanlah misteriKu Yang Suci. DiriKu menciptakan semuanya, menunjang
semuanya, tetapi tidak berakar pada semuanya.
Sang Kreshna dalam bentuk aslinya, yaitu Sang Brahman adalah asal-mula
dari semua makhluk dan seisi alam semesta ini, dengan kata lain semua
ini berakar padaNya, tinggal di dalamNya, ditunjang olehNya dan
terpelihara olehNya, tetapi la sendiri tak terpengaruh oleh semua
ciptaanNya ini, karena Yang Maha Esa berada di atas semua
ciptaan-ciptaanNya, di ataspralaya (kiamat), di atas alam semesta.
Semua sebaliknya bersandar atau bertumpu padaNya, inilah yang dimaksud
sebagai Misteri Yang Agung (Yogam-aishvaram) dari Yang Maha Esa. Tuhan
Yang Maha Esa, Yang Maha Abadi adalah juga Sang Atman (Jati Diri Yang
Sejati) yang secara universal menunjang seluruh alam semesta ini. Kita
harus menyadari bahwa semua obyek dan unsur di alam semesta seperti
dewa, manusia, makhluk, jin, tata-surya, tumbuh-tumbuhan, fauna,
mineral, atom, elektron, ether, dan lain sebagainya adalah sebagian
dari Yang Maha Suci ini. Semua yang kita dengar, lihat, rasa, adalah
dariNya semata, dari Yang Maha Suci ini. Semua yang kita dengar, lihat
atau rasa adalah dariNya semata, dari ide-ideNya dan gagasan-gagasanNya
(sankalpa), dari yoga-mayaNya, dari ShaktiNya Yang Maha Suci.
Seyogyanyalah alam semesta ini berharga dan tinggi nilainya karena
berasal dariNya juga, maka seharusnya kita melestarikan semua ciptaan
Yang Maha Esa ini. Semua berasal dariNya dan akan kembali kepadaNya.
6. Ibarat angin yang dahsyat, bergerak ke setiap arah, tetapi selalu
berada di angkasa (akasha), begitupun ketahuilah olehmu, semua makhluk
bersandar padaKu.
Angin selalu bergerak dan bertiup di angkasa, di langit dan di setiap
spasi di bumi ini, tetapi selalu berada di situ-situ juga dan tidak
pernah berupa angkasa atau langit atau spasi itu sendiri. Begitu juga
halnya dengan semua ciptaanNya selalu di situ-situ juga, yaitu
bersemayam di dalamNya tetapi tidak pernah mengikatNya. la yang menjadi
sumber ciptaan dan kehidupan alam semesta ini dan bukan sebaliknya.
7. Pada penutupan setiap kalpa (umur dunia), oh Arjuna, semua makhluk
kembali ke Sifat (Prakriti) Ku. Dan pada permulaan kalpa yang
berikutnya, Ku kirim mereka kembali keluar.
8. Melalui PrakritiKu, Ku ciptakan berulang-ulang semua makhluk yang
(amat besar jumlahnya ini), yang tak berdaya, karena berada di bawah
kendali Sang Alam (Prakriti).
Semua makhluk datang dari Sang Maya, dari Sang Prakriti, pada saat
diproyeksikan (evolusi) dan kembali ke Sang Prakriti lagi pada saat
akhir setiap kalpa, dan keluar atau tercipta lagi selanjutnya pada
penciptaan baru berikutnya, dan kembali lagi dan begitulah seterusnya.
Semua ini adalah pekerjaan Sang MayaNya Sang Kreshna, Sang Brahman
dalam bentuk asliNya. Semua terikat pada hukum alam yang diciptakanNya
tetapi la sendiri tak pernah terikat pada semua itu.
9. Semua tindakan ini, oh Arjuna, tidak mengikatKu, karena Aku
bersemayam jauh dari mereka (perbuatan ciptaan-ciptaan ini dan
karma-karma mereka), tak terikat pada perbuatan-perbuatan ini.
10. Begitulah, diperintahkan olehKu, maka alam menciptakan semuanya,
yang bergerak maupun yang tak bergerak, dan begitulah, oh Arjuna, dunia
ini pun berputar.
Begitulah Yang Maha Esa menjadi sumber, pimpinan akan alam semesta ini,
dan dengan perintahNya alam ini pun berputar sesuai dengan kehendakNya,
tanpa Ia sendiri terlibat lagi dengan alam semesta ini dengan seluruh
gerakan-gerakannya. Seluruh jajaran dewa-dewa agung seperti Vishnu,
Shiva, Brahma dan lain sebagainya akan masuk kepralaya suatu saat
nanti, tetapi Sang Kreshna (Sang Brahman) tak akan tersentuh oleh
kejadian ini, karena Ia lah Yang Maha Mencipta dan Yang Maha
Menghancurkan.
11. (Melihat Ku) dalam bentuk manusia, orang-orang yang bodoh tidak
memperdulikanKu, (mereka) tak sadar akan SifatKu yang lebih tinggi,
Yang memerintah sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala
makhluk-makhlukNya.
Inilah salah satu rahasia abadi dari Yang Maha Esa. Dalam bentuk
manifestasiNya sebagai manusia dari zaman ke zaman. la selalu tidak
diacuhkan atau tidak diperdulikan oleh mereka-mereka yang tak beriman
kepadaNya. Orang-orang bodoh atau yang tak sadar ini tidak mengetahui
bahwa Yang Maha Pencipta ini sebenarnya adalah Yang Maha Kuasa dan
memerintah atas segala makhluk-makhluk ciptaanNya, dan atas alam
semesta beserta segala isinya. la adalah sesuatu Yang gaib, Yang tak
nyata dan tak berbentuk, sesuatu kekuatan Yang amat dahsyat dan tak
dapat dilukiskan atau diterangkan oleh manusia. Lalu timbul pertanyaan,
mengapa manusia ini tersesat dan bodoh sehingga tidak sadar akan Yang
Maha Esa dalam berbagai bentuk manifestasiNya? Karena nafsu, ego, dan
kegelapan (boleh juga dikatakan “iblis”) yang bersarang di dalam hati
mereka, karena ulah Sang Maya dan “permainannya,” sehingga mata-hati
mereka tertutup untukNya.
12. Harapan-harapan mereka sia-sia saja, tindakan mereka pun sia-sia
saja, ilmu pengetahuan mereka pun sia-sia saja. Jauh dari kesadaran,
mereka mengambil sebagian dari sifat-sifat buruk iblis dan syaitan.
13. Tetapi jiwa-jiwa yang agung (paramahatma), oh Arjuna, yang
mengambil sebagian dari sifat-sifatKu Yang Suci, memujaKu dengan iman
yang teguh. Mereka sadar bahwa Aku adalah Yang Tak Terbinasakan, Asal
dari segala makhluk.
Ada dua sifat atau prakriti di dunia ini, yaitu mohini-prakriti (sifat
iblis) dan daivi-prakriti (sifat suci). Mereka-mereka yang memiliki
sifat yang pertama akan menjalani hidup mereka penuh dengan nafsu,
dosa, polusi, sesuai dengan sifat-sifat syaitan dan iblis. Sedangkan
mereka-mereka yang mengambil sifat prakriti yang kedua akan berjalan
sesuai dengan sifat-sifat Yang diturunkan oleh Yang Maha Esa. Dan
mereka yang terakhir ini akan memujaNya secara tulus dan sadar, dan
akhirnya terserap kedalamNya.
14. Mereka selalu mengagungkan Aku, sangat tegar dan tak kenal lelah
dalam tekad mereka; mereka mendatangiKu, diri mereka selalu terkendali,
mereka memujaKu dengan cinta-kasih yang penuh hormat.
15. Yang lain-lainnya pun, mengorbankan pengorbanan dalam bentuk
kebijaksanaan, memujaKu, sebagai Yang Esa, sebagai Yang Jauh, dan Yang
Banyak JumlahNya (karena mereka melihat Ku) hadir di mana-mana.
Mereka-mereka yang bijaksana dalam pemujaan mereka kepada Sang Kreshna
Yang Maha Esa, mengorbankan pengorbanan dalam bentuk gnana (ilmu
pengetahuan), mereka ini melakukan gnana-yagna. Mereka sadar dan
memusatkan perhatian mereka pada Yang Maha Esa sebagai Yang Tunggal dan
juga sebagai Yang Banyak karena Yang Maha Esa ini hadir dalam
segala-galanya tetapi la bersifat Esa.
16. Akulah pemujaan, Akulah pengorbanan, Akulah yang dikorbankan untuk
para leluhur, Akulah tumbuh-tumbuhan yang menyembuhkan (penyakit),
Akulah mantra, Akulah minyak (untuk pelita di kuil), Akulah Api, dan
Akulah sesajen yang diapikan.
Sang Kreshna meneruskan keterangan-keterangan tentang DiriNya Yang
Sejati, yang pada hakikatnya adalah Inti dari segala yang ada dan yang
dilakukan oleh manusia atau alam dan isinya. Ia hadir misalnya dalam
suatu yagna dan setiap aspek-aspeknya. Dan mereka yang memuja
dewa-dewa, Veda-Veda dan lain sebagainya dengan ini diberi kesadaran
bahwa sebenarnya mereka ini memujaNya juga secara tidak langsung.
17. Akulah Bapak dunia ini, Ibunya, Penunjangnya dan juga Kakek
(Leiuhurnya). Aku lah Yang suci dan tunggal Yang harus diketahui (oleh
manusia). Akulah OM, dan juga Veda-Veda, Rig, Sama dan Yajur.
Sang Kreshna atau Yang Maha Esa adalah Inti-Murni dari segala ilmu-ilmu
pengetahuan suci, dan hal ini seharusnya disadari oleh manusia. la juga
kata inti OM yang terdapat di Veda-Veda dan kitab-kitab suci Hindu
lainnya.
18. Akulah Jalan, Penunjang, Penguasa (Tuhan), Saksi, Tujuan, Tempat
Berlindung, dan Sahabat. Akulah Asal-Mula dan Akhir (Pralaya), Fondasi,
Tempat Penyimpan Harta-Benda, dan Inti (Sari) Yang Tak Pernah Binasa.
Sang Kreshna adalah semua aspek dan penunjang kehidupan ini. la juga
segala-galanya. la juga harta-benda sesungguhnya dan kehidupan yang tak
dapat binasa. la sekaligus sahabat dan saksi kita di dalam diri kita
sendiri. Ia lah permulaan kita dan akhir kita dalam arti yang
sebenar-benarnya.
19. Aku memberi panas. Aku menahan dan mengirimkan hujan. Akulah
Keabadian dan juga Kematian. Aku lah yang telah berlalu (tidak abadi =
asat) dan keabadian (sat).
Sang Kreshna lah yang mengendalikan semua elemen-elemen di dunia ini.
Ia lah Sat yang dapat disebutkan sebagai suatu zat atau keadaan yang
selalu abadi. Tetapi Ia juga yang bersifat tidak abadi dan dapat binasa
(asat). Semuanya Ia dan Ia semata.
20. Mereka yang mengenal ketiga Veda-Veda, yang meminum sari soma
(sakramen suci) dan telah dibersihkan dosa-dosanya, memujaKu dengan
pengorbanan, memohon jalan untuk ke svarga. Setelah sampai ke dunia
suci Sang Indra ini (svarga-loka), mereka menikmati
kenikmatan-kenikmatan suci (yang biasa dinikmati para dewa).
21. Setelah menikmati svarga-loka yang luas ini, dan setelah habis masa
dan hasil pemujaan mereka, mereka kembali lagi ke dunia kebinasaan ini.
Begitulah mengikuti kata-kata dalam ketiga Veda dan menikmati
kesenangan-kesenangan, mereka mendapatkan sesuatu yang berlalu sifatnya
(tidak abadi dan terpengaruh hukum karma).
Mereka-mereka ini tidak bisa lepas dari hukum karma. Sorgaloka
(svarga-loka) bukanlah akhir dari perjalanan hidup kita, akhir tujuan
kita adalah Yang Maha Esa. Yang Maha Abadi, di mana tidak ada mati dan
hidup lagi untuk selanjutnya. Veda-Veda amat penting untuk dihayati,
tetapi lebih merupakan jembatan ke Yang Maha Esa, dan bukan tujuan.
22. Tetapi mereka yang memujaKu dan bermeditasi kepadaKu semata, kepada
mereka ini yang dirinya terkendali, Ku berikan mereka apa yang mereka
tak punya dan menjamin dengan aman apa yang mereka miliki.
Hanya kepada para pemuja-pemujaNya, kepada para bhakta ini Yang Maha
Esa (Sang Kreshna) memberikan kekuatan untuk mendapatkan ilmu
pengetahuan tentang DiriNya dan meniti mereka ke tangga sukses demi
mencapai dan bersatu denganNya. Juga dijanjikan kepada para pemujaNya
bahwa Sang Kreshna menjamin kehidupan mereka secara penuh, Ia menjaga
kehidupan mereka dan memberkahi mereka dengan kebahagiaan yang abadi.
Harap diperhatikan para pemuja Sang Kreshna (Yang Maha Esa) yang tulus
dan sejati, secara lambat laun akan melepaskan semua kemewahan dan cara
hidup mereka secara perlahan tetapi pasti akan mengarah jauh dari semua
unsur duniawi, bagi mereka ini apa saja yang diterimanya terasa cukup;
hidup dan pekerjaan mereka semata berupa dedikasi tanpa pamrih
kepadaNya. Anehnya dalam segala kesederhanaan, penderitaan dan cobaan
mereka, mereka ini selalu tampil berkecukupan dalam segala hal. Inilah
yang benar-benar menakjubkan sesuai dengan janji Sang Kreshna di atas.
Inilah berkahNya yang sesungguhnya di dunia fana ini. Mereka selalu
tampil penuh karisma dan wibawa, menyejukkan untuk dipandang dan
diikuti kata-katanya.
Para pemuja yang telah mendapatkan berkahNya ini betul-betul menjalani
hidup mereka dengan hal-hal yang penuh mukjizat. Misalnya mereka tidak
mungkin dapat diteluh atau diguna-gunai, mereka selalu jauh dari
cobaan-cobaan yang bersifat negatif, dan bahkan alam-lingkungan
disekitar mereka beserta seluruh unsur-unsur yang hadir di situ akan
bersahabat dengan mereka ini. Roh-roh halus, jin, pepohonan, fauna dan
lain sebagainya akan bersahabat dengan mereka dalam arti yang
sesungguhnya, dan ini bisa saja dirasakan ajaib bagi orang awam yang
duniawi; bagi para pemuja ini biasa-biasa saja karena mereka mi telah
bersahabat dengan Yang Maha Esa secara tulus dan merasa sebagian
dariNya, mereka ini juga merasa dimiliki dan jadi alatNya, maka untuk
orang-orang seperti ini sudah tidak ada lagi rasa takut akan apapun
juga baik secara duniawi maupun secara spiritual. Yang mereka segani
hanya Yang Maha Esa, dan barangsiapa bersahabat denganNya tentunya
bersahabat dengan seluruh alam semesta ini secara otomatis dan ini
betul-betul suatu pengalaman yang penuh dengan “mukjizat”Nya, yang
disebutkan Sang Kreshna sebagai “menjamin dengan aman apa yang mereka
punyai” dan “Kuberikan kepada mereka apa yang mereka tidak miliki.”
Berjuanglah untuk menjadi yogi semacam ini agar jauh kita dan tujuan
yang salah. Para pemuja ini juga mendapatkan banyak ilmu spiritual dan
pengetahuan yang menakjubkan dari Yang Maha Esa tanpa mereka minta, dan
semua itu kemudian mereka pergunakan untuk tujuan-tujuan tanpa pamrih.
Sekali mereka terbius dengan ilmu atau pengetahuan ini dan
menggunakannya secara salah atau penuh dengan nafsu dan egoisme maka
hancurlah meditasi dan yoga mereka. Ini disebut Siddhi, dan harus
diwaspadai oleh para pemuja Yang Maha Esa karena berbentuk cobaan juga
dalam bentuk spiritual.
23. Bahkan pemuja-pemuja dewa-dewa lainnya yang dengan iman mereka
memuja dewa-dewa ini, mereka juga memujaKu, oh Arjuna, walau tidak
dengan cara yang benar.
Bhagavat Gita adalah suatu ajaran yang unik, dan penuh dengan kebebasan
memuja. Setiap orang tidak dilarang untuk memuja apa saja tetapi juga
tidak dianjurkan demikian karena yang ingin diluruskan adalah pemujaan
kepada Yang Maha Esa semata, tanpa menjalani jalan yang salah. Tetapi
seandainya seseorang tetap mengambil jalan yang salah maka ia diberi
kesadaran agar mengubah jalur yang ditempuhnya. Pesan ini
berulang-ulang ditekankan di Bhagavat Gita.
24. Karena Aku ini adalah Penikmat dan Tuhan dari semua pengorbanan.
Tetapi orang-orang ini tidak mengenalKu, yaitu sifatKu yang sejati, dan
jatuhlah mereka ini (ke lingkaran hidup dan mati lagi).
Karena tidak mengenal sifat-sifat sejati Sang Kreshna, Yang Maha Esa,
dengan baik maka banyak pemuja yang memuja dewa-dewa dan merasa sudah
cukup dengan itu. Padahal dalam hakikat Yang Maha Esalah yang
seharusnya dipuja agar lepas kita dari lingkaran karma dan samsara
(penderitaan ini).
25. Barangsiapa yang memuja para dewa pergi ke dewa-dewa, yang memuja
leluhur pergi ke leluhur, yang memuja jiwa-jiwa (roh-roh) yang rendah
sifatnya (bhuta) pergi ke para bhuta ini, tetapi pemujaKu datang
kepadaKu.
Dijelaskan dan ditegaskan sekali lagi oleh Sang Kreshna secara bebas
dan amat demokratis tujuan pemujaan para pemuja yang bebas memuja.
Silahkan dengan demikian menentukan pilihan, karena Yang Maha Esa sudah
jelas sabda-sabdaNya.
26. Barangsiapa mempersembahkan kepadaKu dengan dedikasi, sehelai daun,
sekuntum bunga, ataupun air, Ku terima persembahan penuh kasih itu
sebagai persembahan dari hati yang suci-murni.
Sloka ini adalah salah satu sloka yang amat penting untuk dipelajari
dan dihayati oleh orang yang beragama Hindu. Di sini diperlihatkan
betapa besarnya Jiwa Yang Maha Esa yang tak pernah menuntut apapun juga
dari kita semua untuk apa saja yang telah diberikannya kepada kita
semua. BagiNya yang penting dari kita hanyalah dedikasi, iman dan kasih
untukNya, dan semua itu dapat disimbolkan dalam bentuk-bentuk sederhana
saja seperti daun, bunga dan lain sebagainya. la tidak menuntut
harta-benda atau yang mewah-mewah dan yang bukan-bukan. Hanya yang
kecil-kecil saja yang diingatkanNya kepada kita. Maka seyogyanyalah
berbakti kepadaNya dengan yang sederhana dan kecil saja seperti
memperhatikan fakir-miskin dan mereka yang kesusahan di sekitar kita
dengan dana yang berupa apa saja dalam bentuk yang sederhana saja kalau
tidak bisa yang bentuknya malahan menyusahkan. Dengan sedikit perhatian
terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan, maka setiap saat kita sudah
berbakti untukNya tanpa pamrih. Nyalakan sebuah lilin kecil setiap hari
dalam dirimu atau dengan kata lain jadikanlah anda sebuah batu-bata
kecil untuk membangun kuilNya yang suci, atau berikanlah segenggam
beras kepada sesama makhluk setiap harinya; semua
pengorbanan-pengorbanan kecil demi Yang Maha Kuasa ini akan meniti kita
ke pemasrahan total dan pembersihan atau pemurnian hati kita suatu
waktu, dan jatuhlah kemudian berkah dan karunia Sang Maha Pengasih,
Sang Maha Penyayang atas diri kita yang ‘bodoh’ dan ‘gelap’ ini, dan
teranglah tujuan kita ke arahNya.
27. Apapun yang kau lakukan, apapun yang kau santap, apapun yang kau
persembahkan, apapun yang kau danakan, apapun puasa (atau disiplin
spiritual) yang dikau lakukan — lakukanlah itu semua, oh Arjuna,
sebagai persembahan bagiKu.
Berdedikasilah kepada Yang Maha Kuasa sepenuh hatimu, dan dalam setiap
tindakanmu yang merupakan tindakan demi Yang Maha Esa semata-mata tanpa
parnrih. Apapun tindakan anda, apakah itu pekerjaan sehari-hari di
rumah atau di kantor atau di mana saja, lakukanlah sebagai kewajiban
anda kepadaNya semata dan harus tanpa pamrih yang setulus-tulusnya.
Bukankah pada hakikatnya kita semua diutus ke dunia ini untuk suatu
tugas, maka laksanakanlah tugas dan kewajiban kita sesuai dengan
kehendakNya dan memujalah demi Ia semata. Berkata seperti di atas
amatlah mudah, tetapi melaksanakan sesuatu tanpa pamrih atau keinginan
pribadi adalah amat sukar. Juga seseorang dengan mudah dapat berkata
bahwa semua tindakannya sehari-hari telah dikerjakannya demi Yang Maha
Esa, tetapi secara sejati bekerja seratus persen demi Yang Maha Esa itu
harus sesuai dengan hati-nuraninya, dan inilah faktor yang amat sukar
untuk dilaksanakan. Menghayati tindakan-tindakan demi Yang Maha Esa
hanya dapat dicapai dengan latihan mental yang intensif selama masa
yang cukup lama (mungkin bertahun-tahun), sampai suatu saat kita
betul-betul menghayati dan menyadari akan arti ajaran ini secara mumi.
Dalam berbagai ajaran spiritual maupun dalam berbagai ajaran agama
sebenarnya ajaran di atas ini sudah disiratkan secara nyata, tetapi
sering sekali kita lupa akan inti hal ini sebenamya. Kita lebih condong
untuk bekerja, berbuat atau bertindak atau beraksi karena didorong oleh
suatu pikiran agar mendapatkan apresiasi atau penghargaan dari
orang-orang di sekitar kita, bahkan sering sekali sesuatu perbuatan
kita lakukan agar mendapatkan status sosial yang lebih tinggi dari
masyarakat di sekitar kita, biasanya perbuatan atau upacara semacam ini
tidak ubahnya seperti suatu pertunjukan saja. Banyak juga tindakan kita
yang didasarkan pada kebutuhan dan ego kita pribadi, pada kewajiban
kita pada keluarga dan diri sendiri, dan semuanya itu kita lakukan
tanpa adanya kesadaran bahwa itu sebenamya harus dilakukan demi
kewajiban kita kepada Yang Maha Esa. Orang-orang yang disayangi di
sekitar kita tidak lain dan tidak bukan juga sebenamya hanyalah
alat-alatNya belaka, sama seperti kita juga.
28. Dengan bertindak demikian, dikau akan bebas dari tali-ikatan
tindakan, dari buah baik dan buruk (hasil tindakan seseorang). Dengan
pikiranmu yang teguh di jalan pemasrahan-total ini, engkau akan bebas
dan datang kepadaKu.
29. Aku ini sama untuk setiap makhluk. BagiKu tak ada yang tersayang
atau yang Kubenci. Tetapi mereka yang memujaKu dengan setia, mereka ada
di dalamKu, dan Aku pun ada di dalam mereka.
Yang Maha Kuasa itu begitu Maha AdilNya sehingga bagiNya tak ada
makhluk yang tersayang atau yang paling dibenciNya. Semuanya sama saja
bagiNya, tinggal terserah kita sendiri ini mau mendekatiNya atau
menjauhiNya. Ada suatu contoh yang baik, yaitu cahaya. Cahaya ini jika
direfleksikan ke sebuah cermin yang kotor dan berdebu maka cahaya yang
memantul kembali itu buram atau tidak baik, sedangkan jikalau cerminnya
bersih dan licin permukaannya, maka cahaya yang dipantulkannya pastilah
sangat baik dan jernih. Yang Maha Kuasa adalah ibarat cahaya ini, dan
kita semua adalah cermin-cermin ini. la selalu bersinar atau bercahaya
ke arah kita semua sepanjang waktu dan setiap saat dengan adil dan
merata, tanpa pandang bulu atau suku atau kasta. Dan sekarang tentunya
terserah kita semua, ingin menjadi cermin yang berdebu dan kotor atau
cermin yang kotor akibat ulah kita sendiri. Di sloka atas ini la telah
menegaskan bahwa Ia sama saja kasih-sayangNya terhadap semuanya tanpa
ada diskriminasi sedikit pun.
30. Walaupun seseorang yang tenggelam amat dalam di dalam dosa-dosanya,
memujaKu dengan hati yang teguh, ia pun harus dikenali sebagai orang
yang benar, karena ia telah beritikad secara benar.
Di dalam dosa-dosa pun bersinar Yang Maha Tak Berdosa; Yang Maha Kuasa
secara adil dan merata. Ia bercahaya juga di dalam orang-orang yang
kita anggap berdosa dan tak dapat diampuni. Sekali seorang semacam ini
beritikad untuk mengubah dirinya ke jalan yang benar dan tunduk kepada
Yang Maha Kuasa, maka ia harus dihormati dan dibantu, didoakan ke arah
Yang Maha Esa, karena ia telah beritikad secara benar, dan suatu saat
nanti sewaktu masanya tiba maka ia akan disucikan dan diterima di
Tujuan Nan Abadi, yaitu Yang Maha Esa itu Sendiri.
31. Dan segera ia akan berubah menjadi benar dan mencapai kedamaian nan
abadi. Oh Arjuna, harus kau ketahui secara pasti bahwa pemujaKu tak
pernah binasa.
Seseorang yang mencintai Tuhan Yang Maha Esa “tak akan pernah tersesat
jalannya,” lambat laun ia akan dituntun ke arahNya, dan kalau
tersandung ia akan diangkat kembali agar lebih bergairah ia melaju ke
arahNya. Walaupun orang ini mungkin pernah menjadi seseorang yang amat
berdosa, tetapi sekali ia bertobat dan lurus hatinya maka ia akan
kembali kepadaNya dan dibersihkan dari segala dosa-dosanya. Dalam diri
orang ini akan timbul revolusi batin yang mendorongnya ke arah
spiritual dan melajulah ia kemudian menegakkan kebenaran dan dharma.
Tujuan Yang Abadi selalu menanti orang-orang seperti ini.
32. Mereka yang datang dan meminta perlindunganKu, oh Arjuna, walau
mereka itu lahir dari sesuatu yang berdosa, walau mereka ini wanita
atau vaishya atau sudra, mereka pun mencapai Tujuan Yang Tertinggi.
Disinilah tercermin Kerendahan Hati Yang Maha Kuasa, tercermin juga
KemurahanNya dan KasihNya. Memang Yang Maha Esa ini Maha Pemurah dan
Penyayang sehingga jalan kepadaNya terbuka untuk siapa saja yang
menginginkannya secara tulus. Adalah salah kalau ada anggapan bahwa
hanya kasta Brahmana atau Kshatrya saja yang dapat mencapaiNya. Itu
hanya ilusi dan peraturan buatan manusia saja, yang penuh dengan rasa
egois, keserakahan, dan angkara, yang justru bertentangan dengan ajaran
Bhagavat Gita dan ajaran-ajaran Hindu lainnya. Semua orang maupun
makhluk tanpa kecuali dapat pergi kepadaNya, karena Ia milik semuanya
tanpa diskriminasi, apalagi seseorang yang menyalakan pelita di dalam
hatinya untukNya semata tanpa pamrih.
33. Apa lagi para pendeta suci dan para aristrokrat yang suci! Setelah
tiba di dunia fana dan tanpa kebahagiaan ini, (seyogyanyalah) dikau
memujaKu.
34. Pusatkan pikiranmu kepadaKu; berdedikasilah kepadaKu; pujalah Aku,
bersujudlah padaKu. Demikianlah dengan mengendalikan dirimu, dan
menjadikan Aku sebagai Tujuanmu Yang Agung, maka dikau akan datang
kepadaKu.
Kepada Arjuna (dan kita semua) Sang Kreshna bersabda, bahwa sebaiknya
tidak lupa kita ini hidup di dunia yang fana dan tak stabil keadaannya,
di mana sebenarnya kebahagiaan yang hakiki itu tidak ada secara
duniawi. Jadi sebaiknya memuja Yang Maha Esa, karena dibalik pemujaan
inilah terletak rahasia kebahagiaan yang hakiki ini, yang sebenarnya
tertutup di dalam DiriNya, yang disebut Tujuan Yang Agung. Kita semua
akan bersatu dan bahagia di dalamNya, kalau mau kita memujaNya,
menyerahkan diri dan hati kita bulat-bulat sepenuhnya kepada Yang Maha
Esa — yaitu Yang Maha Pencipta, Penyayang Dan Pengasih, akhir dari
perjalanan panjang hidup kita, Tujuan kita Yang Agung Dan Suci. Om Tat
Sat.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya
Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, inilah bab ke
sembilan yang disebut:
Rajavidya Rajaguhya Yoga atau Ilmu pengetahuan dan Rahasia nan Agung

Bab 10 - Alam Semesta nan Suci dan Agung
1. Dengarlah lagi, oh Arjuna, sabda-sabdaKu yang agung dan suci.
Terdorong oleh keinginanKu untuk berbuat baik bagimu, akan Ku
beritahukan kepadamu, karena engkau adalah kesayanganKu.
2. Bukan saja para dewa tetapi para resi yang suci dan agung pun tidak
tahu akan asal-usulKu, karena semua dewa-dewa dan orang-orang suci itu
datang dariKu.

3. Seseorang yang mengenalKu - sebagai Yang Tak Dilahirkan, sebagai
Yang Tak Bermula, Yang Maha Penguasa seluruh alam semesta ini — orang
ini di antara, mereka yang dapat binasa, adalah seseorang yang tidak
sesat dan bebas dari segala dosa.

Di bab sepuluh ini Sang Kreshna melanjutkan keterangan mengenai
DiriNya Yang Sejati, yaitu Yang Maha Esa yang tak dapat diketahui
asal-usulNya, bahkan para dewa dan orang-orang suci baik di masa silam
maupun sekarang ini tidak pernah akan tahu akan hal ini. Tetapi
seseorang yang sadar akan KekuasaanNya, maka diantara mereka yang dapat
binasa di dunia ini (para dewa, manusia dan makhluk-makhluk lainnya),
orang yang bijaksana ini dianggap Yang Maha Esa sebagai seorang yang
sadar dan bebas dari segala dosa. Suatu pengakuan dan penghormatan yang
besar sekali nilainya dari Yang Maha Esa. Yang Maha Esa adalah asal
dari segala-galanya, termasuk para dewa dan orang-orang suci. Dalam
ajaran Kristiani dikatakan tentang St. Paul yang pernah berkata, “Ia
adalah tanpa kelahiran dan tanpa asal-mula.” MengenalNya dari sudut
berbagai agama dan ajaran sebagai Yang Maha Agung Dan Suci berarti
membebaskan diri kita dari segala dosa-dosa duniawi.

4. Melihat (menilai) dengan benar, ilmu pengetahuan, tidak-berilusi,
pemaaf, tidak-berbohong, kendali-diri dan ketenangan, penderitaan dan
kenikmatan, kelahiran dan kematian, ketakutan dan keberanian.

5. Tak menyakiti, kedamaian dalam segala situasi, rasa puas dengan
apa yang ada, tekad ke arah spiritual, keinginan untuk memberi,
kemasyhuran dan kehinaan — semua hal-hal yang berbeda dari
makhluk-makhluk ini terpancar dariKu semata.

Yang Maha Esa bukan saja merupakan asal-usul alam semesta ini, Yang
Tak Terlihat dan Tak Terbayangkan oteh kita, tetapi juga merupakan
Kekuatan Maha Dahsyat Yang Tak Terbatas di alam semesta ini. Bukan saja
Ia merupakan asal-usul yang baik-baik saja tetapi la juga pencipta yang
tidak baik dan negatif sifatnya yang berada di dalam pikiran dan ulah
para makhluk-makhluk dan manusia ciptaanNya. Apakah itu pikiran atau
situasi yang menyenangkan dan menikmatkan ataukah itu yang menyusahkan
dan membawa penderitaan. Apakah itu bersifat positif maupun sebaliknya,
semua itu secara jujur diakui oleh Yang Maha Esa, bahwa Ia lah sumber
dari segala-galanya tanpa diskriminasi. Bukan lalu berarti bahwa Yang
Maha Esa ini buruk atau negatif sifatnya, tidak! Semua itu adalah
ciptaan-ciptaanNya yang diperankan atau ditugaskan pada Sang Maya,
Ilusi Yang Maha Esa. la sendiri bersemayam di atas semua ilusi ini,
jauh di atas Sang Maya dan tak terpengaruh sedikitpun dengan pekerjaan
Sang Maya ini. Dengan semua “permainanNya,” maka Yang Maha Esa ini
menunjang dan menjalankan dunia ini, memang Maha Misterius Dan Maha
Gaib lah Yang Maha Kuasa ini dengan segala Kekuatan dan Kasihnya Yang
Tak Terbatas itu. Om Tat Sat. Om Shanti, Shanti, Shanti.

6. Ketujuh orang suci yang agung, keempat orang pada masa yang
silam, juga para Manu, dilahirkan dari sifat dan pikiranKu, dari
merekalah mengalir ras manusia ini.

Dari sifat-sifat dan pikiran agung dan suci Sang Kreshna inilah
mengalir manusia-manusia agung dan dewa-dewa yang kemudian menjadi
cikal-bakal dari manusia dewasa ini. Ketujuh orang yang disebut di atas
adalah orang-orang suci yang penuh dengan kesadaran Ilahi, nama dari
yang pertama adalah Bhrigu dan yang terakhir disebut Washita, dan
dianggap dalam agama Hindu sebagai para guru kebijaksanaan di masa yang
silam. Dan keempat orang yang disebut sebagai manusia-manusia di masa
silam adalah empat orang Kumara (yaitu perjaka-perjaka yang tak pernah
melakukan hubungan seksual), yang lahir dari pikiran Yang Maha Esa, dan
disebut juga nama-nama mereka: Sanata, Sanaka, Sanatana dan Sanandana.
Para orang suci (resi), para Manu (asal kata dari manusia pertama), dan
para Kumara ini adalah cikal-bakal dari manusia di dunia ini. Merekalah
alat-alat Yang Maha Kuasa di dunia pada masa yang silam, pada masa
permulaan peradaban manusia.

7. Seseorang yang tahu dengan benar akan keagungan dan kekuatanKu
ini akan terhubung denganKu oleh yoga yang tak tergoyahkan; dan hal ini
sudahlah pasti dan tak usah diragukan lagi.
Vibuthi adalah kata Sansekerta yang digunakan di atas untuk mengartikan
kekuatan, kata ini sebenarnya dapat diartikan dua, yaitu kekuatan atau
kekuasaan Yang Maha Esa dan juga dapat berarti kelanggengan atau
kehadiran yang abadi atau juga berarti “mengalir dari.” Dalam bab ini
Sang Kreshna menerangkan kepada Arjuna tentang keagungan dan kekuatan
serta kekuasaanNya di alam semesta ini, tentang kehadiranNya Yang
Langgeng Dan Abadi dalam setiap unsur di dunia ini, tentang DiriNya
Yang Selalu berada di dalam posisi tertinggi yang berhubungan dengan
setiap hal dan unsur, ini berarti suatu bentuk keagungan Yang Tiada
Taranya. Sang Kreshna pun menjelaskan akan kehadiranNya sebagai suatu
unsur Shakti (Kesaktian) dalam segala hal dan faktor di alam semesta
ini, yang tanpa itu tak mungkin setiap faktor bisa melanjutkan
fungsinya masing-masing.

8. Akulah Sumber dari segala-galanya; dariKu datang seluruh
penciptaan ini. Menyadari hal ini, mereka yang bijaksana memujaKu
dengan dedikasi yang penuh dengan kebahagiaan.

9. Pikiran mereka terpusat kepadaKu, hidup mereka meresap dalam
DiriKu, sambil saling menolong di antara mereka, mereka ini selalu
memperbincangkan Aku, (mereka ini) selalu merasa cukup dengan apa
adanya dan penuh dengan rasa kesentosaan.
10. Kepada mereka ini, yang selalu bersemayam secara menyatu denganKu
dan memujaKu dengan cinta-kasih, Ku berikan ilmu pengetahuan (yang
dapat membedakan antara satu hal dengan yang lain), dan (mereka ini)
melalui yoga ini datang kepadaKu.

11. Didorong oleh rasa kasih-sayangKu yang murni kepada mereka, Aku
bersemayam di dalam hati mereka, Ku hapus kegelapan mereka yang timbul
karena kekurangan-pengetahuan dengan pelita kesadaran yang bercahaya
terang-benderang.

Mereka-mereka yang sadar akan kehadiran Yang Maha Esa, (walaupun
kehadiran ini tak nampak dalam setiap hal dan unsur di alam semesta
ini) dan mereka ini yang sadar juga akan kekuatan dan kekuasaanNya Yang
Abadi, lambat laun akan makin dekat dan akhirnya bersemayam atau
menyatu denganNya, dan mereka ini, hidup mereka selalu terlihat
bahagia, sentosa dan cerah, walau musibah apapun yang datang melanda
mereka. Hidup mereka sehari-hari terserap dalam kebahagiaan dengan
Ilahi, dan percaya atau tidak yang Maha Esa secara benar-benar
menerangi kegelapan apapun yang timbul dalam diri mereka dengan pelita
Ilahi yang terang-benderang. ini adalah suatu fakta yang dapat
dirasakan oleh mereka-mereka yang secara total telah memasrahkan diri
mereka dan segala perbuatan mereka kepada Yang Maha Esa secara tulus
dan tanpa pamrih. Om Tat Sat.

Berkatalah Arjuna:
12. Dikau adalah Sang Brahman Yang Agung dan Suci, Tujuan Yang Agung
dan Suci. Dikau adalah Yang Abadi, Seorang Manusia Yang Agung dan Suci,
Tuhan Yang Terutama, Yang Tak Dilahirkan dan Yang Maha Hadir di mana
pun juga.

13. Dengan Nama-Nama itu DiKau telah disebut dan dipuja oleh para
resi, juga oleh resi Narada yang agung, juga oleh Asita, Devala dan
Vyasa. Dan sekarang (oh Kreshna), DiKau Sendiri pun menyabdakanNya
kepada ku.
Narada disebut juga Dewa Resi, gurunya para dewa. Narada adalah salah
seorang bhakta (pemuja) Yang Maha Esa yang sifatnya agung dan suci, dan
Sang Batara Narada ini selalu bernyanyi dan memuja-muji nama Yang Maha
Esa ke mana pun ia pergi. Devala adalah putra Vishvamitra dan kisahnya
terdapat di Vishnu-Purana, sedangkan Asita terkisah di Lalita-vistara
(semua ini buku-buku suci kuno agama Hindu). Vyasa menyebut Kreshna
sebagai Swipayana, demikian terdapat di dalam Veda-Veda. Vyasa dikenal
sebagai pengarang Mahabarata dan beberapa Purana-Purana Hindu. Kata
Vyasa sendiri berarti “editor” atau “yang mengatur.”

14. Aku yakin akan semua kata-kata yang DiKau ucapkan padaku ini, oh
Kreshna. Bukan saja para dewa tetapi para syaitan dan iblis pun tak
dapat menjabarkan manifestasiMu, oh Tuhan.
Jangankan para resi dan dewa yang ditakuti manusia, tetapi para setan
dan iblis pun tak pernah bisa menerangkan apakah Tuhan Yang Maha Esa
itu sebenarnya, dan manifestasi-manifestasiNya di alam semesta ini.
Hanya Sang Kreshna Sendiri yang dapat mengenal DiriNya sebagai Manusia
Yang Agung, Utama dan Suci (Purushottama).

15. Sebenar-benarnya, hanya Dikau Sendiri Yang Mengetahui DiriMu
Sendiri melalui DiriMu Sendiri, oh Manusia Nan Agung, Sumber dari semua
yang ada, Tuhan dari semua makhluk, Tuhan dari segala dewa-dewa,
Penguasa dunia ini.

16. Tanpa kecuali harus Dikau beritahukan kepadaku, semua
bentuk-bentukMu yang suci, yang mana dengan bentuk-bentuk ini, Dikau
menunjang dunia (alam semesta) ini dan di mana Dikau Sendiri berada di
daiamnya dan bahkan lebih jauh dari itu.

17. Bagaimanakah aku harus mengenalMu , oh Yogin, apakah dengan
meditasi yang berkesinambungan? Dengan (dalam) bentuk apakah Dikau, oh
Tuhan Yang Pengasih, harus kubayangkan Dikau ini?
Arjuna ingin sekali mengenal dan mengetahui manifestasi dan aspek-aspek
yang berhubungan (Vibhuti) dengan Sang Kreshna, yang penuh dengan
Kekuasaan Yang Maha Esa yang tak terbatas sifatNya itu. Arjuna haus
akan pengetahuan Ilahi ini karena ia benar-benar ingin agar meditasi
dan pemujaannya terhadap Yang Maha Esa dapat dijalankan dengan benar
dan dapat membantunya untuk lebih mengenalNya dengan sejati. la ingin
agar pemujaannya kepada Yang Maha Esa terarah dengan baik dan benar.

18. Beritahukan juga kepadaku secara terperinci tentang kekuatan
yogaMu dan tentang KeagunganMu, karena aku tak akan pernah puas dengan
minuman suci dalam bentuk sabda-sabdaMu itu.
Berkatalah Yang Maha Pengasih:

19. Jika demikian, baiklah Arjuna! AkanKu sabdakan kepadamu sebagian
dari bentuk-bentuk suciKu, tetapi hanya bentuk-bentuk yang telah
dikenal dan mudah difahami, karena keberadaanKu tak ada batasnya.
Sang Kreshna dengan senang hati memenuhi permintaan Arjuna. Beginilah
sifat Yang Maha Esa, tak pernah menolak permintaan kita walaupun
diajukan berulang-ulang tanpa bosan. Yang Maha Pengasih adalah Yang
Maha Penyayang dan selalu memenuhi aspirasi dan keinginan para
pemuja-pemujaNya, dimana dan kapan saja. Dan di sini Sang Kreshna mulai
memaparkan sebagian dari vibhuti-vibhutiNya, yaitu bentuk-bentukNya
yang telah ada dan dapat dengan mudah difahami manusia. Karena bentuk
dan sifat Yang Maha Esa itu Maha Tidak Terbatas, maka kalau hal ini
diterangkan kepada manusia pasti kita manusia ini tak akan pernah
mengerti akan keagunganNya ini. Oleh karena itu dipakailah bahasa dan
contoh-contoh yang mudah dimengerti kita semuanya.

20. Aku adalah Jati Diri, oh Arjuna, Yang bersemayam di dalam hati
setiap makhluk. Aku adaiah permulaan, Yang ditengah-tengah dan juga
akhir dari setiap yang ada.
Sang Kreshna atau Yang Maha Esa adaiah Sang Atman Yang Ada di dalam
diri kita, di dalam setiap insan dan makhluk ciptaanNya. la juga yang
sebenarnya menjadi asal-usul kita semuanya, yang menunjang kita selama
ini dan yang juga menentukan hidup dan akhir kita semuanya.
21. Di antara para Aditya Aku adalah Vishnu; di antara cahaya Aku
adaiah Sang Surya yang terang-benderang. Di antara para Marut Aku
adalah Marici, di antara bintang-bintang Aku adalah sang rembulan.
Yang disebut Aditya ini adaiah dewa-dewa cahaya, dan Batara Vishnu
adalah pimpinan tertinggi para dewa cahaya ini. Sedangkan Marichi
adalah pemimpin para Marut, dewa-dewa badai, angin-topan dan
mala-petaka.

22. Di antara Veda-Veda Aku adalah Sama-Veda, di antara para dewa
Aku adalah” Indra, di antara indra-indra Aku adalah pikiran; dan Aku
adalah kesadaran di antara para makhluk-hidup.
Sama-Veda adalah Veda yang paling musikal dan indah, sedangkan Indra
adalah raja atau pemimpin para dewa. Dewa Indra adalah juga dewa
angkasa. Pikiran adalah raja diantara semua indra-indra kita. Dalam
tubuh atau raga kita, pikiran ini yang paling sukar untuk dikendalikan.
Dalam ilmu-psikologi (jiwa) Hindu kuno disebutkan bahwa semua
indra-indra kita kendalikan, dimotori dan dikuasai oleh pikiran (mana).

23. Di antara para Rudra Aku adalah Shankara (Shiva), di antara para
Yaksha dan Rakshasa Aku adalah Kubera (dewa kekayaan), di antara para
Vasu Aku adalah Agni(dewa api), dan di antara puncak-puncak gunung Aku
adalah Meru.
Rudra adalah dewa-dewa atau makhluk-makhluk halus yang tugasnya adalah
menghancurkan dan membinasakan semua yang ada dan lahir. Yaksha adalah
setan-setan dedemit dengan perut yang besar, dan Meru adalah puncak
gunung tertinggi di bumi ini, di mana dipercaya tinggal para dewa-dewi,

24. Di antara para pendeta (pendeta setiap rumah-tangga), oh Arjuna,
kenalilah Aku sebagai Brihaspati, sang pemimpin; di antara
jenderal-jenderal di peperangan Aku adalah Skanda; di antara
danau-danau Aku adalah Samudra.
Brihaspati adalah pendeta tertingginya para dewa. Skanda adalah putra
Shiva dan Parvati, dan ia dikenal sebagai pemimpin atau jenderalnya
para jenderal dan pahlawan-pahlawan di Svarga-loka.

25. Di antara para resi yang agung Aku adalah Bhrigu, di antara
kata-kata Aku adalah satu patah kata OM, di antara yang dipersembahkan
Aku adalah persembahan dalam bentuk japa (mengulang-ulang mantra atau
puja-puji kepada Yang Maha Esa, atau bisa juga meditasi yang dilakukan
secara diam-diam dan tenang), di antara yang tak dapat
dipindah-pindahkan Aku adalah Himalaya.

26. Di antara pepohonan Aku adalah pohon Asvattha, di antara para
resi suci Aku adalah Narada, di antara para ghandharva Aku adalah
Citraratha, dan di antara yang telah disempurnakan Aku adalah resi
Kapila.
Asvattha adalah pohon beringin yang suci. Narada adalah resi (dan juga
dewa) yang dianggap amat agung dan suci sifatnya, dan dikenal karena
sangat menggemari musik. Menurut ajaran Sang Narada ini, guna mencapai
penerangan Ilahi, seseorang dapat saja menggunakan logika dan filosofi.
Ghandharva adalah penyanyi-penyanyi di sorga-loka dan Chitraratha
adalah pemimpin para musisi sorgawi ini.

27. Di antara kuda-kuda Aku adalah Uchaishvara yang lahir dari
air-suci (tirta), di antara gajah Aku adalah Airavata, dan di antara
manusia Aku adalah Raja.
Uchaishvara adalah kuda sorgawi yang didapatkan sewaktu para dewa dan
para iblis (raksasa dan lain sebagainya) mengaduk lautan suci. (Ada
kisahnya tersendiri di buku suci Hindu kuno.) Airavata adalah gajah
sakti tunggangan Sang Batara Indra.

28. Di antara senjata Aku adalah halilintar, di antara sapi Aku
adalah Kamadhuk, Sapi Kemakmuran; di antara leluhur (nenek-moyang) Aku
adalah Kandarpa, Kasih Nan Kreatif; dan di antara ular Aku adalah
Vasuki.

29. Di antara Naga Aku adalah Ananta, di antara makhluk-makhluk
lautan Aku adalah Varuna, diantara pitri (arwah leluhur) Aku adalah
Aryaman, dan di antara para penguasa Aku adalah Yama, Raja Maut.
Dalam mitologi Hindu, naga adalah sejenis ular raksasa dengan kepala
manusia. Raja para naga ini adalah Ananta yang disebut juga Sesha, Sang
Vishnu selalu duduk beristirahat di atas lingkarannya. Varuna, atau di
Indonesia dikenal dengan nama dewa Baruna, adalah dewa laut. Sedangkan
Aryaman adalah pemimpin para leluhur yang telah meninggal dunia. Yama
dan saudari perempuannya Yami adalah pasangan manusia-manusia pertama.
Setelah Yama meninggal dunia, maka ia pergi ke dunia yang lain untuk
mendapatkan tugas sebagai pembuat hukum, sebagai hakim dan pemimpin
mereka-mereka yang telah meninggal-dunia. la dikenal sebagai hakim yang
amat adil dan tak memilih bulu dalam menjatuhkan putusannya, ia sering
disebut juga dengan nama Dharmaraja.

30. Di antara Daitya Aku adalah Prahlada, di antara benda-benda yang
mengukur Aku adalah Sang Waktu, di antara binatang yang buas Aku adalah
raja-hutan (singa), dan di antara burung-burung Aku adalah putra sang
Vinata (Garuda).
21. Di antara para Aditya Aku adalah Vishnu; di antara cahaya Aku
adaiah Sang Surya yang terang-benderang. Di antara para Marut Aku
adalah Marici, di antara bintang-bintang Aku adalah sang rembulan.
Yang disebut Aditya ini adaiah dewa-dewa cahaya, dan Batara Vishnu
adalah pimpinan tertinggi para dewa cahaya ini. Sedangkan Marichi
adalah pemimpin para Marut, dewa-dewa badai, angin-topan dan
mala-petaka.

22. Di antara Veda-Veda Aku adalah Sama-Veda, di antara para dewa
Aku adalah” Indra, di antara indra-indra Aku adalah pikiran; dan Aku
adalah kesadaran di antara para makhluk-hidup.
Sama-Veda adalah Veda yang paling musikal dan indah, sedangkan Indra
adalah raja atau pemimpin para dewa. Dewa Indra adalah juga dewa
angkasa. Pikiran adalah raja diantara semua indra-indra kita. Dalam
tubuh atau raga kita, pikiran ini yang paling sukar untuk dikendalikan.
Dalam ilmu-psikologi (jiwa) Hindu kuno disebutkan bahwa semua
indra-indra kita kendalikan, dimotori dan dikuasai oleh pikiran (mana).

23. Di antara para Rudra Aku adalah Shankara (Shiva), di antara para
Yaksha dan Rakshasa Aku adalah Kubera (dewa kekayaan), di antara para
Vasu Aku adalah Agni(dewa api), dan di antara puncak-puncak gunung Aku
adalah Meru.
Rudra adalah dewa-dewa atau makhluk-makhluk halus yang tugasnya adalah
menghancurkan dan membinasakan semua yang ada dan lahir. Yaksha adalah
setan-setan dedemit dengan perut yang besar, dan Meru adalah puncak
gunung tertinggi di bumi ini, di mana dipercaya tinggal para dewa-dewi,

24. Di antara para pendeta (pendeta setiap rumah-tangga), oh Arjuna,
kenalilah Aku sebagai Brihaspati, sang pemimpin; di antara
jenderal-jenderal di peperangan Aku adalah Skanda; di antara
danau-danau Aku adalah Samudra.
Brihaspati adalah pendeta tertingginya para dewa. Skanda adalah putra
Shiva dan Parvati, dan ia dikenal sebagai pemimpin atau jenderalnya
para jenderal dan pahlawan-pahlawan di Svarga-loka.

25. Di antara para resi yang agung Aku adalah Bhrigu, di antara
kata-kata Aku adalah satu patah kata OM, di antara yang dipersembahkan
Aku adalah persembahan dalam bentuk japa (mengulang-ulang mantra atau
puja-puji kepada Yang Maha Esa, atau bisa juga meditasi yang dilakukan
secara diam-diam dan tenang), di antara yang tak dapat
dipindah-pindahkan Aku adalah Himalaya.

26. Di antara pepohonan Aku adalah pohon Asvattha, di antara para
resi suci Aku adalah Narada, di antara para ghandharva Aku adalah
Citraratha, dan di antara yang telah disempurnakan Aku adalah resi
Kapila.
Asvattha adalah pohon beringin yang suci. Narada adalah resi (dan juga
dewa) yang dianggap amat agung dan suci sifatnya, dan dikenal karena
sangat menggemari musik. Menurut ajaran Sang Narada ini, guna mencapai
penerangan Ilahi, seseorang dapat saja menggunakan logika dan filosofi.
Ghandharva adalah penyanyi-penyanyi di sorga-loka dan Chitraratha
adalah pemimpin para musisi sorgawi ini.

27. Di antara kuda-kuda Aku adalah Uchaishvara yang lahir dari
air-suci (tirta), di antara gajah Aku adalah Airavata, dan di antara
manusia Aku adalah Raja.
Uchaishvara adalah kuda sorgawi yang didapatkan sewaktu para dewa dan
para iblis (raksasa dan lain sebagainya) mengaduk lautan suci. (Ada
kisahnya tersendiri di buku suci Hindu kuno.) Airavata adalah gajah
sakti tunggangan Sang Batara Indra.

28. Di antara senjata Aku adalah halilintar, di antara sapi Aku
adalah Kamadhuk, Sapi Kemakmuran; di antara leluhur (nenek-moyang) Aku
adalah Kandarpa, Kasih Nan Kreatif; dan di antara ular Aku adalah
Vasuki.

29. Di antara Naga Aku adalah Ananta, di antara makhluk-makhluk
lautan Aku adalah Varuna, diantara pitri (arwah leluhur) Aku adalah
Aryaman, dan di antara para penguasa Aku adalah Yama, Raja Maut.
Dalam mitologi Hindu, naga adalah sejenis ular raksasa dengan kepala
manusia. Raja para naga ini adalah Ananta yang disebut juga Sesha, Sang
Vishnu selalu duduk beristirahat di atas lingkarannya. Varuna, atau di
Indonesia dikenal dengan nama dewa Baruna, adalah dewa laut. Sedangkan
Aryaman adalah pemimpin para leluhur yang telah meninggal dunia. Yama
dan saudari perempuannya Yami adalah pasangan manusia-manusia pertama.
Setelah Yama meninggal dunia, maka ia pergi ke dunia yang lain untuk
mendapatkan tugas sebagai pembuat hukum, sebagai hakim dan pemimpin
mereka-mereka yang telah meninggal-dunia. la dikenal sebagai hakim yang
amat adil dan tak memilih bulu dalam menjatuhkan putusannya, ia sering
disebut juga dengan nama Dharmaraja.

30. Di antara Daitya Aku adalah Prahlada, di antara benda-benda yang
mengukur Aku adalah Sang Waktu, di antara binatang yang buas Aku adalah
raja-hutan (singa), dan di antara burung-burung Aku adalah putra sang
Vinata (Garuda).
41. Makhluk-makhluk apapun yang memiliki sifat-sifat yang agung, indah
dan penuh kekuatan, ketahuilah bahwa semua itu mengalir dari sebagian
kecil kebesaranKu.

42. Tetapi apa gunanya untukmu, oh Arjuna, pengetahuan yang
terperinci ini? Ku sanggah seluruh alam semesta ini.Ku tunjang dengan
hanya sebagian (setitik) kecil dari DiriKu, dan Aku tetap hadir dan ada.
Sang Kreshna telah menerangkan kepada Arjuna tentang manifestasi dan
sifat-sifatNya (vibhuti) secara singkat tetapi juga sekaligus
terperinci dengan penjelasan mengenai semua aspek-aspekNya seperti
aspek fenomena, fungsi, aksi dan bentuk-bentukNya, semuanya dijelaskan
dalam bahasa yang gamblang dan mudah dimengerti. Setelah panjang-lebar
la menerangkan semua ini, lalu diakhiriNya dengan suatu pernyataan
bahwa seluruh alam semesta ini hanyalah sebagian kecil saja dari
DiriNya Yang Tak Terbatas dan sekaligus merupakan asal, penunjang dan
akhir dari semuanya ini, dan la Yang Maha Esa tetap saja berkuasa dan
nadir dalam segala-galanya, walaupun alam semesta ini berasal dari
DiriNya juga. Semua yang terhebat, terbaik, tercantik dan terbusuk,
terjahat adalah sebagian dari penciptaanNya, dan semua ini baru setitik
saja atau sebagian kecil dari Yang Maha Kuasa. Jadi dapatkah kita
membayangkan Apakah dan Betapa AgungNya Sang Pencipta ini? Dibalik
pernyataan ini, sebaiknya kita harus belajar sesuatu yang tersembunyi
di belakangnya, yaitu bukankah dengan kata lain Sang Kreshna ingin
mengajar kita semua untuk mengenalNya lebih baik; dan untuk belajar
mengenalNya bukankah sebaiknya kita belajar untuk mengenal alam ini
dahulu. Kita seharusnya belajar mengenal ciptaan-ciptaanNya di alam
sekitar kita dan di alam semesta dan baru kemudian belajar mengenalNya
Yang penuh dengan mukjizat dan kegaiban yang tak dapat di bayangkan apa
adaNya ini.
Coba saja perhatikan, jangan jauh-jauh, perhatikan tubuh kita sendiri,
bukankah raga ini sebuah ciptaan yang maha hebat? Belum lagi
ciptaan-ciptaanNya yang tersebar di seluruh alam semesta yang tak
terbatas ini. Dan kalau kita mengenal dan sadar akan segala Kebesaran
dan KeagunganNya ini, maka seyogyanyalah kita memujaNya dengan tulus
dan rendah hati, dan bekerja sesuai dengan dharma-bhakti yang murni,
tulus, yaitu demi dan untuk la semata dan tanpa pamrih. Dan seandainya
seorang bhakta (pemuja) bersikap tulus semacam ini, maka Sang Kreshna
pun akan hadir di dalam dirinya, memberkahinya dan memberikannya
kekuatan untuk lebih mengenalNya, dan lebih mengenal ajaran-ajaranNya
yang Agung dan Suci. Yang Maha Kuasa pun akan menghilangkan rasa takut
dan khawatir bhakta ini, menghilangkan kebodohannya dan mengisi jiwa
sang pemuja ini dengan Penerangan dan Keagungan serta Kesucian Ilahi.
Om Tat Sat. Yang Maha Esa bahkan menjamin segala kebutuhan hidupnya,
menjauhkannya dari segala mara-bahaya, dan percaya atau tidak Sang
Kreshna akan hadir secara pribadi dengan caraNya yang misterius
mengantar Sang Pemuja ini ke HadiratNya, tempat Yang Maha Esa
bersemayam. Banyak sekali pengalaman-pengalaman dari para resi dan
Orang-orang suci baik di zaman dahulu maupun pada abad modern ini, yang
menunjukkan bahwa Yang Maha Kuasa hadir dengan caraNya Yang Unik dan
terasa kehadiranNya oleh para pemujaNya, pada saat-saat tertentu dalam
hidup kita dari masa ke masa. Sebelum diakhiri bab ini ada baiknya kita
merenungkan diri pada untaian kata-kata yang dapat sering kita jumpai
dan dapat dihayati oleh siapa saja, yang isinya kira-kira seperti
berikut:
“Di mana ada iman,Di situ ada kasih. Di mana ada kasih, Di situ ada kedamaian.
Di mana ada kedamaian, Di situ ada kekuatan. Di mana ada kekuatan, Di
situ ada Yang Maha Esa Di mana ada Yang Maha Esa, Di situ tak
diperlukan sesuatu apapun lagi.”
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya
Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka bab ini adalah
yang kesepuluh dan disebut:
Vibhuti Yoga atau Yoga Manifestasi Yang Agung dan Suci.

Bab 11- Transformasi Sang Kresna
1. Dengan kasih-sayangMu Dikau telah menyibakkan rahasia nan agung
mengenai Jati Diri (Sang Atman), dan sabda-sabdaMu telah menghapus
kebodohanku.
Sang Arjuna rupanya telah mulai sadar, dan pupus atau hapus sudahlah
kebodohannya yang berbentuk moha (keterikatan, pada sanak-keluarga).
Sabda-sabda Sang Kreshna bahwa Ia lah Sang Brahman, Sang Atman Yang
Hadir dalam setiap unsur dan makhluk dan selalu bersifat abadi, membuat
Sang Arjuna dipenuhi oleh rasa aman, damai, tentram dan sentosa.
Sadarlah ia dari kegelapan yang selama ini menyelimutinya, dan tak
ragu-ragu lagi ia menghadapi perang Baratayudha yang ada dihadapannya.
Bukankah sebenarnya setiap saat, setiap hari adalah perang besar antara
kita manusia dengan lingkungan disekitar kita, dengan hati-nurani kita,
dengan keserakahan kita dan orang lain dalam berbagai bentuk seperti
moha, loba, ahankara dan sebagainya.
2. Aku telah mendengar dariMu secara penuh, oh Kreshna, tentang
kelahiran dan kematian yang ada, dan juga tentang keagunganMu yang tak
terbinasakan.

3. Dikau adalah, oh Tuhan, Yang Maha Kuasa, seperti yang Dikau
katakan tentang DiriMu. Tetapi aku berhasrat melihat bentukMu yang
agung dan suci, oh Purushottama (manusia yang terutama).

4. Seandainya Dikau menghendaki, oh Tuhan, bahwa olehku dapat
terlihat, maka bukakanlah kepadaku, oh Yang Maha Memiliki llmu
pengetahuan (yoga), bentuk diriMu yang tak terbinasakan.
Arjuna yang selama ini telah mendengarkan sabda-sabda suci Sang Kreshna
mengenai kelahiran dan kematian semua yang ada di dunia ini dan juga
mengenai diri Sang Kreshna sendiri yang tak lain dan tak bukan adalah
Yang Maha Esa Sendiri dengan segala-segala tindakan-tindakanNya yang
kreatif dan penuh kasih terhadap semua makhluk, sekarang ini berhasrat
sekali untuk melihat sendiri atau untuk membuktikan apa yang telah
didengarkannya selama ini. Melihat dan membuktikan memang lebih
meyakinkan daripada mendengarkan, maka Arjuna pun memohon Sang
Yogeshwara (Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Pemilik Semua Ilmu
Pengetahuan) agar sudi diperlihatkan kepadanya bentukNya yang suci dan
agung itu, yang tak terbinasakan. Arjuna ingin sekali melihat Sang
Kreshna dalam bentukNya sebagai Parameshvaram dan Purushottama, yaitu
sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa dan Agung, dan juga sebagai Manusia Yang
Maha Kuasa dan Agung (Vishnu).

Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
5. Saksikanlah, oh Arjuna, bentukKu yang beratus-ratus dan beribu-ribu
jumlahNya (rupaNya), yang suci, yang tak terhitung warna-warni dan
bentuk-bentukNya.

6. Saksikanlah para Aditya, para Vasu, para Rudra, kedua Ashvin, dan
para Marut. Saksikanlah, oh Arjuna, keajaiban-keajaiban yang tak pernah
terlihat sebelum ini.

7. Saksikanlah hari ini, oh Arjuna, seluruh alam semesta dan isinya
yang bergerak dan yang tak bergerak, dan apapun juga yang ingin dikau
saksikan - semua terpusat pada tubuhKu.
Sang Kreshna segera menerangkan kepada Arjuna tentang bentuk-bentuk dan
rupa-rupa yang akan segera disaksikan oleh Arjuna, yaitu yang tak
terhitung jumlahnya dan bentuknya, maupun warna-warninya, yang
merupakan gabungan dari para dewa seperti Aditya, yaitu dewa-dewa yang
ada hubungannya dengan matahari, Vasu, Rudra (dewa-dewa malapetaka),
Ashvin (dewa penolong orang-orang sakit yang dikenal sebagai
tabib-tabib suci), Marut dan ciptaan-ciptaanNya yang terkecil dan tak
terlihat oleh manusia. Sang Kreshna pun dengan senang hati ingin
memperlihatkan kepada Arjuna bentuk-bentukNya yang bergerak dan tak
bergerak bahkan seluruh kosmos (alam semesta) yang terkonsentrasi atau
terpusat pada DiriNya Tetapi penyaksian Ilahi semacam ini tidak mungkin
terlihat dengan mata duniawi, maka Sang Kreshna pun segera memberikan
mata suci (divyam chakshuh) kepada Arjuna agar terlihat olehnya semua
bentuk-bentuk suci dari Yang Maha Esa olehnya. Mata suci sebenarnya
adalah matanya seorang mistik, seorang yang sudah sadar dan dapat
“melihat kedalam.” Ini mengingatkan kita kepada salah seorang nabi
bangsa Yahudi yang pernah memohon kepada Yang Maha Esa, “Tuhan, bukalah
matanya agar ia dapat melihat.” Dan hal ini berlaku untuk kita
semuanya, mohon dan berdoalah selalu kepada Yang Maha Esa agar
dibukakan mata dan hati kita agar dapat kita melihat dan menyadari atau
mengenalNya secara sejati. Sebenarnya semua jalan ke arah Yang Maha Esa
sudah tersedia di sekitar kita, yang diperlukan hanyalah “membuka mata”
kita sedikit saja.

8. Tetapi, sebenarnya, dikau tak akan dapat meyaksikanKu dengan mata
duniawimu ini, makaKu berkahkan kepadamu mata suci. Saksikanlah yogaKu
Yang Maha Dahsyat (kekuatan yang suci dan agung).
Sekarang tibalah saatnya Arjuna melihat bentuk Yang Maha Suci dan Agung
di dalam diri Sang Kreshna. Di dalam diri Sang Kreshna nampak terpusat
seluruh alam semesta dan semua itu terbuka untuk dilihat oleh Arjuna,
dengan mata Ilahi yang dikaruniakan oleh Sang Kreshna.

Berkatalah Sanjaya:
9. Setelah bersabda demikian, oh raja, Yang Maha Agung dan Maha
Menguasai Yoga, Hari (Sang Kreshna) kemudian membukakan diriNya Yang
Maha Agung, Suci dan Perkasa kepada Arjuna.
Sang Kreshna yang disebut Mahayogeshvara (Yang Maha Mengetahui Yoga)
kemudian memperlihatkan diriNya Yang Amat Dahsyat dan Penuh dengan
keajaiban-keajaiban yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

10. Dengan jumlah mulut dan mata yang tak terhitung banyaknya,
dengan jumlah keajaiban-keajaiban yang tak terhitung nampaknya, dengan
jumlah hiasan badan nan suci yang tak terhitung jumlahnya dan dengan
senjata-senjata Ilahi yang tak terhitung banyaknya yang semuanya
terlihat terangkat;

11. Dengan memakai kalungan-kalungan bunga dan jubah-jubah sorgawi
semerbak mewangi dengan wewangian sorgawi, penuh dengan kemukjizatan,
terang-benderang, tanpa batas dan wajah yang memandang ke setiap arah.
Sang Kreshna nampak kepada Arjuna sebagai suatu bentuk yang tanpa batas
dan dalam manifestasiNya yang beraneka ragam, yang mulut dan mataNya
tersebar di mana-mana tanpa dapat dihitung jumlahnya, yang juga nampak
memakai jubah-jubah dan kalungan-kalungan bunga-bunga suci sorgawi.
Juga nampak mengenakan hiasan-hiasan badan dan memegang senjata-senjata
simbolis sorgawi di mana-mana dalam jumlah yang tak terhitung dan
nampak semua senjata-senjata ini siap terangkat ke atas.

12. Kalau saja dapat seribu mentari bersinar pada saat yang sama,
mungkin demikianlah kedahsyatan yang terpancar dari Makhluk Itu.
Terang-benderangnya atau kemerlapanNya begitu dahsyat sehingga
dibandingkan dengan seribu mentari yang bersinar sekaligus, bayangkan
bagaimana dahsyat Yang Maha Esa ini dengan segala kekuasaan dan
keperkasaanNya.

13. Di situlah Arjuna menyaksikan seluruh alam semesta beserta
segala isinya yang beraneka-ragam teruntai menjadi satu, di dalam raga
Tuhan nya para dewa-dewa.
Dengan mata sucinya, Sang Arjuna melihat Yang Maha Esa, Tuhan dari
segala tuhan dan dewa-dewa, melihat seluruh untaian kehidupan kosmos
yang beraneka-ragam jumlahnya tanpa akhir tetapi teruntai menjadi suatu
kesatuan di dalam Yang Maha Esa.

14. Kemudian, ia, Arjuna, penuh takjub, bulu-bulunya tegak berdiri,
menundukkan kepalanya dan menyembahNya dengan kedua tangannya yang
terkatub, ia berkata:
Arjuna yang penuh takjub dan gentar melihat penyajian Ilahi segera menyembahNya dan berkata:
Berkatalah Arjuna:
15. Yah! Kulihat sekarang bagaimana semua ini terselimut olehMu! Para
dewa terdapat di dalam ragaMu yang agung, oh Tuhan! Sang Brahma
bersemayam di singgasana-teratai, dan semua resi, ular-ular dan
kekuatan suci!
Arjuna yang takjub dan ketakutan ini mulai menyenandungkan puja-puji
kepada Yang Maha Esa dalam bentuk puisi atau syair. Ia melihat dan
menerangkan semua pandangan di hadapannya. Dalam raga Sang Kreshna ia
melihat semua bentuk-bentuk dewa-dewi suci dan seluruh alam-kosmos.
Terlihat oleh Arjuna, Sang Brahma yang bersemayam di singgasana teratai
(dianggap bunga suci oleh umat Hindu) yang berasal dari pusar Sang
Vishnu, juga terlihat olehnya ular-ular suci, orang-orang yang
bijaksana dan suci yang ditemuinya di dunia.

16. Dikau lah Tuhan dari semuanya ini.
Kulihat tangan-tangan dan dada-dadaMu,
Dalam bentuk yang beraneka-ragam, tetapi tak kulihat bagian tengahMu atau permulaan dan akhirMu!
Terlihat oleh Arjuna bentuk Sang Kreshna yang tanpa batas, dan hadir
dalam berbagai bentuk sorgawi dan duniawi di setiap penjuru alam
semesta, dan setiap bentuk ini lengkap dengan wajah, mulut, dada, dan
sebagainya dalam suatu kesatuan kehidupan yang berlainan dan amat
bervariasi. Dalam bentuk kaleidoskopik ini, Yang Suci dan Agung, Sang
Kreshna hadir sebagai Yang Tak Bermula atau Berakhir. Semua aspek-aspek
ini hadir dalam bentuk suciNya.
17. Kulihat Dikau dengan chakraMu, mahkota dan gada,

Kulihat Dikau gilang-gemilang di setiap arah sebagai satuan cahaya:
terang-benderang bagaikan api yang membakar, bagaikan mentari yang
bersinar di setiap sisi!
Kata-kata Arjuna di sini bisa juga berarti bahwa Sang Kreshna atau Yang
Maha Esa hadir di mana-mana tanpa batas dan diskriminiasi, ibarat sinar
matahari yang bersinar di setiap sisi dan sudut bumi ini secara adil
dan merata.
18. Dikaulah Yang Aksharam - Yang Maha Esa,

Dikaulah tempat beristirahat semuanya yang ada di dunia ini,
Dikaulah penjaga dharma yang tak pernah binasa,
Dikaulah seseorang yang tak akan terlupakan!
Aksharam berarti yang tak terbinasakan. ia juga tempat bersemayam kita
semua, sekaligus asal-usul dan akhir kita semuanya, beserta semua
rencana dan hasil-hasil rencana kita. la juga Yang selalu menjaga agar
dharma (kebenaran dan hukum kebenaran) selalu abadi dan langgeng dan
selalu ditegakkan kembali pada saat-saat kezaliman berkuasa. la juga
yang tak akan pernah terlupakan atau faktor utama di alam semesta ini,
dan akan selalu hadir dan ada walaupun yang lainnya sudah binasa semua.

19. Kulihat Dikau, Tuhan! Sebagai Yang tunggal tanpa asal, tanpa
tengah, tanpa akhir. Kulihat Dikau sebagai kekuatan dahsyat,
tangan-tanganMu yang tak terhitung jumlahnya, rembulan dan mentari
sebagai mata-mataMu, wajahMu bak api yang membara!
Arjuna melihatNya sebagai yang tak bermula, tak terlihat juga masa
tengah maupun akhirNya, karena memang la tak pernah dilahirkan dan tak
akan binasa. Yang Maha Kuasa banyak tangannya, ini menandakan
kekuasaanNya dan kehadiranNya yang tanpa batas. Dan api yang membara
yang terlihat oleh Arjuna adalah api pengerobananNya yang menghangatkan
dunia ini dengan kebesaran dan kasih-sayangNya.

20. Dunia ini dari batas ke batas, dari kutub ke kutub, penuh dengan
Dikau semata, seisi alam ini penuh! Melihat pemandangan yang
menggetarkan dan menakjubkan dariMu ini, ketiga dunia ini tenggelam, oh
Yang Maha Perkasa!
Seluruh alam semesta yang tanpa batas ini penuh dengan Yang Maha Esa
semata, dan dengan penuh takjub dan gentar ketiga dunia beserta segala
isi dan makhluk-makhluknya menunduk dan bersujud hormat kepada Yang
Maha Esa.
21. Jajaran para dewa mendekat dan menyatu denganMu, mereka mengatubkan kedua telapak tangan mereka dengan ketakutan, MemujaMu!
Para Resi dan Siddha (mereka yang telah sempurna) berteriak, “Hidup, hidup!”
Dan menyanyikan puja-puji kebesaran untukMu!

22. Para Rudra, dan para Aditya, juga para Vasu, para Sadhya,
Siddha, Vishva, Usmapa, para Marut, Ashvin, Yaksha, Asura, dan para
Gandharava — semuanya memandangMu dengan takjub!
Semua dewa-dewi dan penghuni sorgaloka dan loka-loka lainnya takjub
akan kebesaranNya yang tanpa batas ini. Rudra (dewa-dewa bencana dan
maut), Vasu (dewa-dewa kekayaan), Sadhya (dewa-dewa yang tinggal
diantara sorga dan bumi), Aditya (dewa-dewa matahari), Vishva
(dewa-dewa yang berhubungan dengan ketabahan), Marut (dewa-dewa yang
berhubungan dengan udara), Ushamapa (dewa-dewa peminum hawa panas),
Gandharva (para penyanyi sorgawi), Yaksha (dewa-dewa harta), Asura
(setan-setan).

23. (Melihat) bentukMu yang perkasa dengan mulut dan mata,
benda-benda dan kaki yang tak terhitung jumlahnya, dan tangan-tangan
yang begitu luasnya, perut dan gigi yang tak terhitung banyaknya,
seluruh loka-loka ini melihat dan tergetar, begitu pun daku!

24. Kulihat Dikau menyentuh langit-langit, membara dengan
warna-warni mulutMu terbuka lebar dan mataMu bersinar-sinar, kala
kulihat Dikau seperti ini; Kalbuku tergetar, kekuatanku sirna, dan aku
tak memiliki kedamaian lagi.

25. Oh, tajam seperti baranya api Waktu, kulihat mulut-mulutMu yang bertaring menakutkan!
Aduh! Aku kehilangan semua akalku dan tak tahu di mana aku berada.
Tak kudapatkan kedamaian! Ampuni daku, Tuhan!
Oh, Tempat berlindung seluruh alam semesta ini!
Alam semesta dan isinya semua seakan-akan terkena “teror” yang
maha-dahsyat melihat Yang Maha Esa dalam bentuk yang demikian ini,
begitu ujar Arjuna yang kehilangan semua akalnya; takjub dan penuh
gentar ia kini. la melihat Yang Maha Esa yang berdiri dan ubun-ubunNya
mencapai lapisan tertinggi langit, seluruh alam semesta ini terlihat
penuh dengan diriNya semata, dan terlihat juga la ibarat api kiamat,
ibarat seorang raksasa yang bertaring dan menakutkan penuh dengan daya
hancur yang maha-dahsyat. Yang Maha Esa tampak kepada Arjuna dalam
bentukNya yang maha menghancurkan dan menggetarkan, yang dapat
diartikan di sini sebagai juga hukum karma yang akibatnya amat
menakutkan; seyogyanyalah kita sadar akan arti dan hakikat kehidupan
ini dan selalu bertindak positif dalam setiap tindakan kita.

26. Ke dalam mulutMu yang terbuka lebar, dan bergigi menyeramkan dan terlihat menakutkan, masuklah mereka dengan amat cepat -

27. Semua putra-putra Dhritarastra, dan beserta mereka, para
raja-raja, dan Bhisma, Kama, Dronacharya, dan semua pendekar-pendekar
agung tuan-rumah kami, banyak terperangkap diantara gigi-gigi dan
terlihat kepala-kepalanya, terjepit dan pecah dan berjatuhan menjadi
debu dan binasa. Diantara geraham-gerahamMu tergeletak
-pahlawan-pahlawan terbaik dari kedua laskar ini!

28. Bagaikan air bah sungai yang mengalir deras dan menyatu dengan
lautan, begitulah para orang-orang kuat ini, pahlawan-pahlwawan agung
ini, melaju deras masuk ke dalam mulutMu yang penuh dengan api yang
membara! Melaju, dalam arus yang tak putus-putusnya dan hilanglah
mereka!

29. Ibarat kawanan laron yang melaju cepat ke arah sebuah pelita —
ke api yang membara - untuk mati didalamnya, begitu juga
manusia-manusia ini, dengan kecepatan yang tinggi, melaju deras ke arah
kematian mereka di dalam mulut-mulutMu yang membara.

30. Pada setiap sisi, dengan mulut-mulutMu yang membara dan
menakutkan, Dikau menjilat loka-loka ini, melahap semuanya. CahayaMu
yang terang-benderang, oh Vishnu, masih mengisi bumi ini dari ujung ke
ujung: terbakarlah alam semesta ini!
Berputar-putar dengan roda Sang Waktu, para pendekar dan pahlawan dunia
ini pun terjepit diantara gigi-gigiNya, yaitu perumpamaan dari Hukum
Karma. Semua jajaran Kaurawa dan Pandawa melaju dengan kencang ke
arahNya tanpa daya. Seperti sungai-sungai yang penuh air-bah yang
melimpah mengalir deras ke arah lautan-lepas tanpa kendali, maka kita
semua pun tanpa daya melaju kencang ke arahNya kembali begitu kita
lahir di dunia ini. Perumpamaan yang kedua adalah ibarat kawanan laron
(sejenis serangga) yang selalu mengorbankan dirinya dengan menabrak api
atau lampu pada malam hari, begitu pula dengan kita manusia ini yang
tanpa sadar sebenarnya sedang mengarah ke kematian kita setiap hari,
setiap menit, setiap detik dan setiap saat, dan semua ini tanpa kita
sadari. Yang kita “sadari” hanyalah menikmati semua kenikmatan duniawi
selama mungkin, dan tidak pernah terbetik di dalam benak kita untuk apa
sebenarnya kita ini lahir atau hidup, atau dilahirkan atau dihidupkan?
Dan Yang Maha Esa di sini diibaratkan dengan mulut Yang Penuh dengan
bara api yang membakar kita semua akhirnya. la menjilat dengan
bara-apiNya seluruh alam semesta ciptaanNya Sendiri, dan akhirnya
terbakar atau musnahlah alam semesta ini dalam DiriNya Sendiri. Dengan
kata lain, semua yang berasal dari Dia kembali kepadaNya, tanpa kecuali.
31. Aduh Vishnu! Beritahukanlah daku siapakah DiKau ini. Mengapa
bentukMu begitu menakjubkan? Aku memujaMu: Ampuni daku, Tuhan Yang Maha
Agung! Aku ingin mengetahuiMu, Yang Maha Esa! Karena Tak kuketahui akan
jalan-jalanMu!
Arjuna, pada saat ini ibarat telah kacau pikirannya, bukan saja ia amat
takjub pada penampilan yang maha-dahsyat ini, tetapi juga sekaligus ia
ketakutan dan gemetar akan kebesaran Yang Maha Kuasa yang tak ada
tandinganNya ini. la pun bertanya-tanya bagaimana cara kerja sebenarnya
dari Yang Maha Kuasa menunjang kehidupan di alam semesta ini, dan
ketakutanlah ia melihat para pahlawan-pahlawan nan sakti dari kedua
laskar di Barata-Yudha ini, semuanya melaju deras ke mulut Sang Kreshna
(Sang Vishnu) yang amat menakutkan ini. Bukan saja mereka yang bersifat
iblis, tetapi mereka yang dianggap baik pun melaju deras ke arah
kematian. Segera ia memohon ampun kepadaNya karena gentarnya menghadapi
Yang Maha Esa dalam bentukNya yang sukar dimengerti ini. Bukankah kita
manusia ini sering sekali ingin melihat bentuk Yang Maha Kuasa, tetapi
siapakah sebenarnya di dunia ini yang mampu melihatNya? Baru sebagian
kecil dari bentukNya saja sudah menyeramkan, apa lagi bentukNya yang
maha tak terbatas. Arjuna sendiri yang disebut pahlawan utama saja
tidak mampu menahan gentarnya, apa lagi kita manusia awam.
Tuhan Yang Maha Esa, memang Maha Indah tetapi Ia juga Maha Menakutkan,
ini adalah sebuah fakta yang harus kita terima. Ia adalah Maha Pengasih
dan Penyayang tetapi juga adalah Maha membinasakan, terimalah ini
sebagai suatu fakta untuk pelajaran dan penghayatan kita, agar hormat
kita kepadaNya menjadi lebih sempurna lagi. Arjuna yang gemetar
ketakutan dan merinding, bulu-bulu di sekujur raganya, jatuh berlutut
dan memohon kepadaNya agar diberikan pengampunan. Ia juga memohon
keterangan apa arti dari semua penampilan Yang Maha Esa ini? Apakah
arti dari kebinasaan semua pahlawan dan manusia ini? Dan Sang Kreshna
Yang Maha Pemurah pun mengabulkan permintaan Arjuna yang sedang dilanda
rasa takjub yang luar biasa ini.

Bersabdalah Yang Maha Esa:
32. Aku adalah Sang Waktu, yang menghancurkan dunia ini! Sang Waktu
Yang menumpas, saatnya telah tiba kini, dan matang bagi hancurnya para
laskar ini: walaupun engkau lari, semua ini akan tetap binasa.
Sang Kreshna adalah Sang Kala (Waktu), Sang Waktu yang mematikan para
laskar, pendekar dan pahlawan di Kuruksetra. Di alamNya Sang Kreshna
tak ada waktu, atau kondisi-kondisi yang terikat pada waktu. Tetapi di
dunia ini terciptalah waktu, yang sebenarnya adalah hasil ilusi manusia
itu sendiri, seperti pagi dan malam, hari-hari, dan jam-jam,
bulan-bulan dan tahun-tahun dan lain sebagainya, sehingga manusia itu
sendiri terjebak di dalam waktu yang menjadi hasil karyanya sendiri.
Sehingga semuanya oleh manusia diukur dengan waktu, baik itu pekerjaan
maupun itu usia seseorang. Akibatnya manusia itu selalu berpacu dengan
sang waktu, sehingga terciptalah juga kondisi-kondisi seperti
waktu-kelahiran dan waktu-kematian. Kalau saja manusia tidak terikat
pada waktu maka kita pun tak akan terikat kepada dunia ini dan segala
ekses-eksesnya dan segala aspek-aspeknya seperti mati, lahir, hidup,
dan lain sebagainya. Apakah sebenarnya yang kita cari di dunia ini,
mengapa manusia selalu terburu-buru berpacu dengan sang waktu,
seakan-akan semua akan menjadi berlarut-larut? Padahal semua ini
hanyalah ilusiNya saja. Kita seharusnya sadar bahwa Sang Waktu Yang
Sejati adalah Yang Maha Esa, Ia lah Yang Maha Tahu bila seseorang atau
makhluk harus lahir dan harus mati, dan bila ia (seseorang) harus
bekerja dan berfungsi semestinya seperti yang telah Ia atur.

33. Bangkitlah dikau, ayo! Dapatkanlah yang sudah diketahui!
Berperanglah dengan musuh-musuhmu! Kerajaan ini menantimu. OlehKu, dan
bukan olehmu, semua ini telah terbantai, seakan-akan dikau yang
membantainya! Jadilah alat Ku! Seranglah, wahai Kshatrya!
Arjuna boleh lari dari kenyataan ini, dan ia boleh saja melepaskan
tanggung-jawabnya sebagai seorang pahlawan dan kshatrya dan ingkar dari
kewajibannya, tetapi Yang Maha Kuasa yang menentukan apakah ia harus
berperang, bekerja, bertindak atau tidak berbuat sesuatu apapun juga.
Yang Maha Esa lah yang menentukan lahir dan matinya para Pandawa dan
Kaurawa. Ia juga yang menentukan lahir dan mati kita semuanya beserta
seluruh ekses-ekses kehidupan kita. Ia juga lah Sang Waktu Yang Sejati
Yang Maha Mengetahui dan Menentukan Segala-galanya. Seyogyanyalah kita
sadar akan hal ini. Om Tat Sat.

34. Menyeranglah dikau terhadap Drona! Dan seranglah Bhisma! Juga
Kama, dan Jayadratha — semua pahlawan di sini. Ketahuilah sudah
Kuputuskan mereka binasa! Janganlah gentar! Berperanglah dikau dan
tumpaslah yang telah tertumpas ini!
Arjuna hanya diminta untuk menjadi alat atau instrumen Sang Maha Kuasa
saja, karena kematian semuanya di Kurukshetra telah ditakdirkanNya
sesuai dengan kehendakNya semata. Yang penting bagi Arjuna (dan kita
tentunya) adalah usaha atau perjuangan yang ’simbolis’ saja. Seyogyanya
kita pun berperang terhadap hawa-nafsu dan angkara-murka yang
meraja-lela di sekitar kita, dan kita pasti akan berhasil selama kita
bekerja demi dharma-bhakti kita terhadapNya semata. Serahkan semua
hasil atau buah dari setiap tindakan ini kepadaNya untuk ditentukan
sesuai dengan keinginanNya, karena la juga Yang Maha Menentukan
semuanya ini, kita hanya bertindak sebagai alat-alatNya saja.

Berkatalah Sanjaya:
35. Setelah mendengar kata-kata ini dari Sang Kreshna, Arjuna sambil
mengatubkan kedua tangannya, dalam keadaan gemetar, membungkukkan
badannya untuk bersujud. Penuh rasa gentar dan bersuara sengau, Arjuna
sekali lagi menyapa Sang Kreshna.

Berkatalah Arjuna:
36. Oh Kreshna! Benar-benar dunia ini berbahagia menyaksikan
kekuasaanMu yang tanpa Batas, dan memujaMu! Para raksasa yang ketakutan
akan bentukMu lari tunggang-langgang, dan para Siddha bersujud kepadaMu.

37. Bagaimana mungkin mereka tak menghormatiMu, Tuhan! Oh Dikau Yang
Agung dan Esa! Dibandingkan dengan Sang Brahma yang agung dan pencipta
pertama, Dikau lah Yang Maha Agung! Dikau Tuhan para dewa! Yang Maha
Pasti! Ada - dan Tiada, Yang berbentuk Makhluk dan Yang bukan Berbentuk
makhluk, dan Yang lebih lagi dari keduanya ini - Itu Yang Maha Gaib -
Yang Maha Esa!

38. Dikau adalah di atas para dewa. Dikaulah Manusia Abadi. Di
dalamMu alam semesta terjamin kelestariannya! Yang Mengetahui dan Yang
Diketahui -dua dalam satu adalah Dikau! Tujuan Yang Agung dan Suci,
semuanya ada di dalamMu!

39. Oh, Dikau adalah Sang Vayu (Sang Bayu)! Dan Dikau adalah Yama
(Kematian)! Agni (Api) dan Dikau adalah Sang Ombak! Dan Dikau adalah
Sang Rembulan! Prajapati adalah Dikau. Bapak dari semuanya! Seribu kali
aku berseru memujaMu!
40. Seru puja kepadaMu dari depan dan belakang! Dan seru puja di setiap
sisi! Oh Semua! Dengan kekuatanMu, Oh Yang Tanpa Batas! Sendiri, Dikau
mengelilingi semuanya.
Dikau Yang Esa di dalam semuanya, dan seyogyanya, Dikaulah SemuaNya!
Begitu kagum dan takjubnya Arjuna ini, maka mulailah ia bersenandung,
memuja Yang Maha Esa sambil berpuisi. Bab ini adalah satu-satunya yang
disusun dengan bentuk puisi karena ulah Sang Arjuna yang sedang
tergetar jiwa-raganya melihat kebesaranNya Yang Tak Terbatas itu.
Menurut Arjuna (di sloka-sloka di atas), seluruh alam semesta penuh
dengan rasa kasih, hormat dan kesentosaan melihat dan menyaksikan
kebesaran Yang Maha Besar ini. Di satu pihak para raksasa, syaitan dan
iblis beserta sekalian kuasa-kuasa gelap berlarian jauh dengan penuh
rasa ketakutan, maka di pihak lain para resi, orang-orang suci,
dewa-dewi dan kuasa—kuasa yang terang datang bersujud di hadapanNya,
memuja-muji Yang Maha Kuasa tanpa henti-hentinya.
Bukankah Ia lebih agung dari Dewa Brahma, sang pencipta dunia ini?
Bukankah Ia juga Tuhan dari segala dewa-dewi dan tuhan-tuhan lainnya
yang disembah manusia? Dan bukankah Ia juga yang memelihara alam
semesta ini, dan bukankah semua yang bergerak dan dan yang tidak
bergerak, semuanya datang dan pergi dari dan ke DiriNya juga? Ia juga
yang disebut Sat (Abadi) dan yang disebut juga Asat(yang tidak abadi).
Dan Ia juga yang disebut Tat Para, yaitu Itu Yang Maha Agung dan Suci.
Ia juga Pemilik Semua Ini. Ia juga Maha Mengetahui dan Yang Maha
Diketahui. Ia lah tempat tujuan kita yang maha agung dan suci, dan di
dalam bentukNya seluruh alam semesta ini tersebar. DariNya juga
terbentuk fenomena-fenomena alam seperti angin, hujan, kematian, api,
rembulan, dan juga Prajapati dan para dewa-dewi. Arjuna juga melihatNya
dari aspek-aspek lain seperti aspek kasih dan cinta Ilahi, sebagai
bapak dari seluruh alam semesta dan kita semuanya, guru, teman, yang
melindungi semuanya, sebagai Cinta-Kasih Yang Abadi, Kebenaran Yang Tak
Terbinasakan, sebagai Kehidupan Yang Tak Pernah Sirna. Dan akhirnya,
Arjuna dengan penuh takjub dan ekstasi menyatakan, “Dikaulah SemuaNya,
Oh SemuaNya.”

41. Sering aku berbicara kepadaMu secara gegabah, dan kupikir Dikau
sebagai ‘teman’ dan tak kusadari akan kebesaranMu ini, dan kupanggil
Dikau ‘Kreshna,’ ‘Pangeran’ atau ‘Sahabat’!

42. Karena sayang dan juga karena ingin bercanda denganMu, sering
kuberbuat salah terhadapMu, pada saat-saat kita sedang berbaring,
duduk, bersantap atau sedang berduaan, atau sedang dengan yang
lain-lainnya! Oh Yang Tak Berdosa, untuk ini (semua) kumohon kepadaMu!
Maafkan! Maafkan kesalahan-kesalahan ku, Yang Maha Abadi!
Arjuna yang baru sadar bahwa Sang Kreshna yang selama ini dianggapnya
teman bercanda (hubungan keduanya amat akrab) di bumi ini, ternyata
adalah penjelmaan Yang Maha Esa, dan karena takut dan takjubnya,
langsung secara amat spontan dan jantan ia pun meminta dimaafkan semua
kesalahan-kesalahannya. Bukankah sering sekali hal-hal yang serupa kita
alami juga. Kita sering memuja Yang Maha Esa dengan harapan la akan
datang menolong kita dari penderitaan yang kita alami. Sebenarnya
setiap saat la hadir dan menolong kita, tetapi dalam bentuk orang lain,
atau makhluk lain, bahkan dalam bentuk sesuatu kejadian, yang tidak
kita sadari, dan sering sekali kita mencemoohkan atau mengacuhkan semua
ini. Kita sering lupa akan Dia karena kehidupan kita sehari-hari hanya
diperhitungkan secara duniawi dan berdasarkan yang ilmiah-ilmiah saja,
bahkan yang kita anggap rasional saja. Lupa kita akan kehidupan dan
kemukjizatan spiritual, ke-gaiban-Nya yang maha tak terkirakan atau
terpikirkan itu. Semua sering sekali kita anggap suatu kebetulan
belaka, di dunia ini tiada sesuatu pun yang serba kebetulan, semuanya
secara spiritual sudah terencana dan terkoordinir dengan baik, sampai
ke hal-hal yang sekecilnya, ini harus dicamkan oleh kita semuanya.
Kalau sadar akan hal ini, maka segeralah memohon maaf kepadaNya, karena
Ia Maha Pemaaf dan Pengasih dan Penyayang kita semuanya.

43. Karena sekarang kuketahui Dikau adalah Bapak Agung dari semua
yang dibawah dan semua yang di atas, dari semua loka-loka di seluruh
alam semesta ini! Dikau adalah guru yang paling dikagumi dan tak
tertandingi di seluruh loka-loka ini. Bagaimana mungkin ada seseorang
di dunia ini yang lebih agung dari kebesaranMu? Dikau lah Yang
Tertinggi, Tuhan, kupuja Dikau!

44. Dengan tubuh yang membungkuk dan menunduk, aku bersujud dan
memohon karuniaMu, Oh Tuhan Yang kukagumi! Tunjanglah daku, ibarat
seorang ayah yang menolong putranya, ibarat seorang sahabat yang
menolong sahabatnya, ibarat seorang kekasih yang menolong yang
dikasihinya!
Arjuna di sloka-sloka di atas menyebut Sang Kreshna sebagai ‘Ayah atau
Bapak semua loka-loka,’ sebagai seorang guru yang tanpa tandingannya,
dan Arjuna pun memohon kepadaNya agar Sang Kreshna sudi membantu,
menolong dan menunjangnya ibarat seorang ayah yang menolong
anak-anaknya, dan beberapa contoh-contoh lainnya seperti di atas.
Dengan kata lain, sebenarnya Arjuna yang telah sadar akan KebesaranNya
mohon agar sudi di kasihi dan dikaruniai oleh Yang Maha Kuasa. Barang
siapa sadar akan kasih-sayang Ilahi Yang Tak Ada Taranya itu, maka
orang ini pastilah seseorang yang telah mendapatkan penerangan dan
kebijaksanaan yang tak ada taranya. la betul-betul telah sadar secara
sejati akan Yang Maha Esa dan Segala KebesaranNya.

45. Telah kulihat Itu yang tak pernah terlihat sebelum ini —
bentukMu yang menakjubkan! Hatiku bahagia tetapi penuh dengan
ketakutan! Oh Tuhannya tuhan-tuhan! Gunakanlah tubuh duniawiMu, agar
terlihat oleh mata duniawi (ini)!
Jiwa Arjuna tergetar terus melihat Kebesaran Yang Maha Kuasa ini, Yang
Tanpa Batas dan tak pernah terlihat oleh siapapun sebelum ini. Tetapi
karena ketakutan akan WujudNya ini, ia berseru memohon agar Sang
Kreshna sudi kembali ke WujudNya yang semula seperti wujud manusiaNya,
yaitu Sang Kreshna, agar Arjuna dapat menyaksikannya lagi dengan mata
manusianya tanpa merasa gentar lagi.

46. Kuharap melihatMu seperti yang dahulu, berhiaskan mahkota, gada
dan cakra di tangan, Oh Yang Bertangan Seribu, Oh bentuk Yang
Universal, Mohon perlihatkan bentukMu sebagai Vishnu Yang Bertangan
Empat!
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:

47. Yah! Telah kau lihat, Arjuna! Dengan karuniaKu dan melalu kekuatan Yoga, bentukKu yang agung dan suci, Yang Maha Luas,

48. Dan menakjubkan, sangat terang-benderang, tak ada
habis-habisNya, Yang utama (pertama), Yang mengisi semuanya—Yang selain
dikau tak pernah terlihat oleh yang lainnya sebelum ini!
Penglihatan ini tak dapat terlihat oleh Veda-Veda, atau para pangeran!
Atau dengan pengorbanan, atau amal, atau dengan mantra-mantra, atau
dengan puja-puji suci, atau dengan puasa yang berkepanjangan. Tak
seorang pun di dunia ini dapat melihatnya, karena penglihatan ini hanya
disimpan untuk dikau semata!
Sang Kreshna menerangkan kepada Arjuna bahwa penglihatan Ilahi yang
dikaruniakanNya kepada Arjuna memang khusus telah disediakan untuknya
semata dan tidak diperlihatkan kepada dewa-dewa atau yang lain-lainnya.
Suatu penghormatan yang luar biasa bagi Arjuna karena dianggap murid
dan pemujaNya yang sangat setia dan berdedikasi, bahkan puasa yang
berkepanjangan atau penyiksaan diri yang diluar-batas pun tak dapat
menghasilkan penglihatan Ilahi ini, juga tidak yagna atau amal dan
perbuatan perbuatan baik lainnya. Hanya yang terpilih olehNya akan
mendapatkan Karunia ini, seperti yang dikaruniakan kepada Arjuna yang
disayangiNya.

49. Janganlah kalut! Janganlah dikau gentar, karena melihat bentuk
yang menakutkan ini! Bebaslah dari rasa takutmu! Berbahagialah hatimu!
Saksikanlah lagi bentukKu yang telah lama dikau kenal!
Berkatalah Sanjaya:

50. Setelah bersabda demikian kepada Arjuna, Sang Kreshna sekali
lagi kembali ke bentukNya yang semula. Yang Maha Agung, setelah kembali
ke bentuk yang lembut, menghibur Arjuna yang sedang ketakutan.
Berkatalah Arjuna:
51. Sekali lagi kulihat bentuk manusiaMu yang lembut, oh Kreshna, dan jiwaku berubah tenang. Aku kembali ke sifatku yang semula.
Mulailah hilang rasa takut dan gentar sang Arjuna, setelah melihat
vujud lembut Yang Maha Pengasih. Yang dimaksud dengan wujud lembut Sang
Kreshna adalah wujudNya sebagai manusia. Di versi lain Bhagavat Gita
yang diterjemahkan oleh pengarang-pengarang lainnya, maka di
sloka-sloka di atas diterangkan bahwa Yang Maha Esa, mengubah DiriNya
dari bentukNya yang menyeramkan ke bentuk Sang Batara Vishnu yang
lembut dan bertangan empat, dan langsung kemudian merubah DiriNya lagi
ke bentuk lembut Sang Kreshna. Walaupun oleh penterjemah buku ini XL
Vaswani tidak disebutkan secara jelas hal di atas ini, tetapi sudah
terang maksudnya demikian, karena pada sloka-sloka di bawah ini ada
hubungannya dengan bentuk Sang Vishnu tersebut.

Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
52. Sukar sekali untuk melihat bentukKu yang telah kau saksikan ini
(bentuk Sang Vishnu bertangan empat). Bahkan para dewa mendambakan
sekali melihatKu dalam bentuk ini.

53. Tetapi tak dapat Aku terlihat dalam bentuk yang telah kau
saksikan ini, walaupun dengan (mempelajari) Veda-Veda, dengan puasa,
dengan pemberian-pemberian atau dengan pengorbanan-pengorbanan.
Sang Kreshna menegaskan sekali lagi kepada Arjuna, bahwa tidak mungkin
la dapat terlihat dalam bentuk agungNya seperti yang disaksikan oleh
Arjuna baru saja, walaupun seseorang menyiksa dirinya setengah-mati,
atau beramal sebanyak apapun juga, atau bahkan dengan mempelajari
Veda-Veda selama apapun juga. Mengapa Sang Kreshna mengulang semua
pernyataan ini kepada Arjuna? Karena dibalik itu tersirat suatu jalan
untuk melihatNya dalam bentukNya yang mulia dan maha suci ini, dan
jalan itu juga terbuka untuk kita semua. Perhatikanlah sloka-sloka yang
menyusul di bawah ini, karena sebenarnya yang dikenhendaki oleh Yang
Maha Esa dari kita semuanya ini amat sederhana sifatnya dan bukan yang
sukar-sukar atau yang menyiksa diri sendiri. Lihat sloka yang
berikutnya ini.

54. Tetapi hanya dengan kesetiaan kepadaKu semata — kesetiaan
(dedikasi) yang tak terpecah-pecah — maka Aku akan diketahui dan
terlihat dalam intisariKu dan bahkan dimasuki ke dalamNya, oh Arjuna!

55. Seseorang yang bekerja untukKu, yang menjadikan DiriKu sebagai
tujuan yang suci dan agung — ia, pemujaKu, lepas dari keterikatan,
tanpa rasa-jahat kepada sesama makhluk, ia datang kepadaKu, oh Arjuna!
Jadi sebaiknya seseorang tak perlu untuk mencari-cari kekuatan-kekuatan
gaib untuk dirinya agar menjadi sakti atau berpengaruh secara duniawi.
Yang Maha Esa dan yang peneranganNya tidak dapat dicapai dengan
kesaktian jenis apapun juga, karena kesaktian yang sejati diberikanNya
sendiri kepada mereka-mereka yang memenuhi kriteria-kriteriaNya untuk
hal-hal tersebut; penggunaan kesaktian-kesaktian ini umumnya harus
bersifat kemanusiaan dan untuk sesamanya dan demi pengabdian kepadaNya
semata. Kesaktian semacam ini umumnya timbul atau datang tanpa diminta
dan merupakan karuniaNya yang khusus untuk pemuja-pemujaNya yang tulus
dan beriman dan tanpa-pamrih. Maka seyogyanyalah berdedikasi kepadaNya
tanpa terpecah-pecah iman maupun pikiran kita, terpusat seluruhnya
kepadaNya semata, dan jadikanlah Ia tujuan kita yang suci dan agung,
dan cintailah, hormatilah, dan tolonglah sesama makhluk di dunia ini
secara merata dan tanpa diskriminasi, karena bagaimana mungkin sesorang
mencintaiNya dengan tulus kalau ia tidak mencintai atau mengasihi semua
ciptaanNya di alam semesta ini secara tulus. Jangan sekali-kali
menyakiti hati orang lain, atau mengusik makhluk lainnya yang tidak
berdosa maupun yang berdosa tanpa seseuatu alasan yang pasti dan dapat
dipertanggung-jawabkan kepadaNya. Dengan begitu kita akan meniti jalan
ke arahNya. Jadi intisari ajaran-ajaran Sang Kreshna adalah kalau
seseorang ingin melihatNya atau ingin mencapaiNya atau dengan kata lain
ingin mengetahui dan mengenal ilmu pengetahuan yang agung dan suci dan
kebijaksanaan yang agung dan suci ini, maka jalannya amat sederhana,
yaitu “dedikasi dan kesetiaan yang tulus kepadaNya semata.” Benar kata
Sri Shankar Acharya, seorang guru besar Hindu di masa yang lalu, bahwa
sloka 55 pada bab ini sebenarnya adalah “intisari dari seluruh Bhagavat
Gita.”
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi,
Karya-Sastra Yoga, dialog antara Sang Kresnha dan Arjuna, bab ini
adalah bab yang kesebelas yang disebut:
Vishvarupa Darshana Yoga atau Ilmu pengetahuan Tentang Penglihatan Bentuk Kosmos.

Bab 12 - Jalan Dedikasi (Bhakti)
Berkatalah Arjuna:
1. Para pemuja yang selalu harmonis, memujaMu, dan para pemuja lainnya
yang memuja Yang Tak Terbinasakan, Yang Tak Berbentuk - di antara
mereka ini, yang manakah yang lebih terpelajar dalam ilmu
pengetahuannya (dalam yoganya.)
Pertanyaan ini mungkin telah menggelitik kita selama ini, karena pasti
merupakan salah satu pertanyaan di dalam hati sidang para pembaca yang
terhormat. Yang manakah yang lebih baik atau sempurna, memuja Sang
Kreshna dalam bentuk manusiaNya, atau memuja Yang Maha Esa (Para
Brahman), Yang Maha Agung dan Abadi, Yang Tak Berbentuk, Yang Maha
Hadir dan Yang Tak Terbinasakan. Jalan manakah yang terbaik: berbhakti
kepada Sang Kreshna atau berkonsentrasi kepada Sang Brahman Yang Tak
Terlihat oleh mata duniawi kita? Dalam pemujaan terhadap Sang Kreshna
terdapat dua faktor penting, yaitu bhakti dan/atau dedikasi, dan kedua
seva atau pekerjaan/pemujaan yang dipersembahkan kepadaNya. Dengan kata
lain: bekerja untukNya. Tetapi dalam pemujaan kepada Yang Maha Esa Para
Brahman, bhakti atau seva tidaklah dianggap penting, yang penting
adalah meditasi secara terus-menerus (berkesinambungan) atau pemfokusan
pikiran (mental) yang terus-menerus kepada Yang Maha Esa (kontemplasi).
Tentu saja bagi Arjuna di masa itu, dan bagi kita di masa kini,
pertanyaan akan timbul, pemujaan yang manakah yang terbaik, sebenarnya
bukankah Sang Kreshna dan Para Brahman ini sama saja, dua dalam satu,
atau satu yang menjadi dua.
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
2. Mereka yang memusatkan pikirannya kepadaKu, memujaKu, yang selalu
harmonis dan terlapis dengan iman yang tertinggi - merekaKu anggap
sebagai yogi-yogi yang terbaik.
3. Mereka yang memuja Yang Maha Tak Terbinasakan, Yang Tak
Terterangkan, Yang Tak Berbentuk, Yang Selalu Hadir, Yang Tak
Terpikirkan, Yang Tak Berganti-ganti, Yang Tak Bervariasi, Yang Konstan
-
4. (Mereka yang memuja dengan cara demikian), menahan indra-indranya,
memandang setiap benda secara sama-rata, bahagia dengan kesentosaan
setiap makhluk — mereka pun datang padaKu.
5. Mereka yang pikirannya terpusat kepada Yang Maha Esa (Yang Tak
Berbentuk), berusaha secara susah-payah (untuk mencapaiNya); karena
jalan ke arah Yang Maha Esa ini sukar bagi mereka yang memiliki raga.
Sang Kreshna mengatakan bahwa kedua bentuk methode dedikasi atau
pemujaan di atas adalah benar, tetapi dengan memuja Sang Kreshna dalam
bentuk manusia itu lebih efisien atau mudah, karena manusia cenderung
memilih bentuk yang mudah dimengerti, sedangkan Yang Maha Esa dalam
bentukNya yang tak terlihat dan tak berwujud, tentu saja sukar untuk
dihayati dan dijangkau oleh rata-rata manusia, apa lagi yang masih
gemar akan kenikmatan duniawi, tetapi ini tidak berarti lalu tidak ada
manusia yang mampu langsung mencapaiNya (Para Brahman). Sebenarnya
dalam sejarah agama Hindu terdapat banyak bukti bahwa banyak sekali
individu-individu suci yang mampu menjangkauNya (mencapai Yang Maha
Esa) dan bersatu denganNya. Bagaimana pun juga setelah tahap pemujaan
kepada Sang Kreshna maka pemuja ini pada kesempatan berikutnya akan
diteruskan kepada Sang Brahman juga. Di sini Sang Kreshna bertindak
amat demokratis dan fleksibel, la memperbolehkan para pemuja untuk
memuja dengan jalan apa saja sesuai dengan keinginan kita.
6. Mereka yang mengkonsentrasikan setiap tindakan mereka kepadaKu,
memandangKu sebagai Tujuan Yang Agung dan Suci, dan yang dengan
dedikasi yang tunggal, memujaKu dan bermeditasi kepadaKu,
7. Mereka ini, oh Arjuna, dengan segeraKu selamatkan dari samudra
kematian dan kehidupan, mereka yang pikirannya selalu terpusat kepadaKu.
Di sini terlihat Sang Kreshna menganjurkan Arjuna untuk memilih jalan
bhakti kepada Sang Kreshna, karena sebagai manusia yang memiliki raga,
jalan ini lebih cepat dan mudah. Dan dengan jalan ini pun asalkan
dedikasinya tak terpecah-pecah, maka pasti akan diselamatkan dari dunia
yang penuh dengan derita ini.
8. Pusatkan padaKu semata pikiranmu dan letakkan pengertianmu di
dalamKu. Dan tanpa ragu lagi sesudah ini dikau akan tinggal denganKu
semata.
9. Tetapi jika dikau tak mampu secara teguh memusatkan pikiranmu
padaKu, sebaiknya dikau berusaha untuk mencapaiKu, oh Arjuna, dengan
yoga yang penuh konsentrasi dan usaha yang terus-menerus.
10. Dan juga sekiranya dikau tak mampu untuk mengusahakan konsentrasi,
beritikadlah untuk bertindak demi Aku. Bekerjalah demi Aku, dan dikau
akan mencapai kesempurnaan.
11. Dan sekiranya dikau tak bersemangat untuk bertindak demikian, maka
lepaskan hasrat untuk mendapatkan hasil dari tindakan-tindakanmu,
carilah perlindungan dan berdedikasilah kepadaKu, dengan cara
mengendalikan dirimu.
Sang Maha Pemurah Hati, Sang Kreshna mulai menerangkan cara-cara atau
tahap-tahap dedikasi menuju Sang Kreshna, dan semua keterangan ini
diberikan dengan cara yang amat demokratis dan tidak mengikat atau
memaksa Arjuna atau pun kita semua. Cara-caraNya amat mudah dan dapat
disarikan sebagai berikut ini:
a. Pusatkan pikiran kepadaNya semata dan usahakan agar pengertian kita
ada dalam DiriNya (Sang Kreshna atau Yang Maha Esa). Konsentrasi
pikiran dan daya intelek kita pada Sang Kreshna, Yang Maha Esa, secara
perlahan, terarah dan pasti, adalah cara yang terbaik. Berkonsentrasi
kepadaNya walaupun ditengah-tengah kesibukan pekerjaan kita menandakan
makin matangnya kita dan dedikasi kita kepadaNya. Pikiran (mind) dan
buddhi (intelek atau pengertian yang benar) kalau digabung dan
dipusatkan kepadaNya pasti akan menghasilkan keajaiban-keajaiban atau
pengalaman-pengalaman yang menakjubkan dan tak dapat dipercaya oleh
orang lain. Dengan jalan lain semua ini mengajurkan kita untuk
bermeditasi atau bersemedi barang sejenak setiap harinya dengan
meluangkan sekedar waktu yang khusus untuk dan kepada Sang Kreshna,
Yang Maha Esa dengan penuh bhakti dan dedikasi, dan kasih yang tulus.
b. “Dengan ilmu pengetahuan (yoga) yang penuh usaha, cobalah untuk
mencapaiKu,” kalau pertama di atas tadi seseorang dianjurkan
bermeditasi atau memusatkan pikiran dan inteleknya kepada Sang Kreshna,
maka pada anjuranNya yang kedua disabdakan kepada mereka yang tidak
mampu melakukannya untuk mencoba dengan usaha-usaha untuk mencapaiNya,
dan ini disebut abhyasa-yoga (yoga usaha atau disiplin kebebasaan),
yang merupakan tahap yang lebih mudah bagi seseorang. Abhyasa atau
kebiasaan memujaNya pasti lambat laun akan meningkat menjadi suatu yang
teguh, dan kemudian proses ini lambat laun akan berubah menjadi
meditasi pada suatu saat. Untuk menjadi meditasi maka Yang Maha Kuasa
pasti akan menunjukkan jalannya waktu saat untuk itu tiba.
c. “Berkemauanlah bekerja demi Aku,” kalau samadhi atau meditasi belum
dapat dilaksanakan maka sebaiknya abhyasa, tetapi kalau yang kedua ini
pun masih sukar untuk dilaksanakan, maka cobalah jalan ketiga yang
bersifat tahap yang lebih awal lagi dari dua jalan di atas tadi, yaitu
kita sebaiknya mencoba bekerja demi Sang Kreshna, Yang Maha Esa, dalam
setiap tindakan kita. Secara mental kita berusaha untuk menyerahkan
semua hasil pekerjaan kita kepadaNya. Apapun yang kita lakukan, apakah
itu makan dan minum, tidur, bekerja demi keluarga, kewajiban apapun
yang kita lakukan, lakukan demi pemujaan terhadap Yang Maha Esa semata,
jadikanlah Ia tujuan atau cita-cita akhir kita semuanya.
d. “Serahkan atau pasrahkan semua hasil pekerjaanmu kepadaNya,” dan
kalau bekerja unrukNya masih terasa sukar, maka Sang Kreshna dengan
amat demokratis dan banyak kompromi, dan dengan kasihNya menganjurkan
agar hasil atau efek atau buah dari setiap tindakan, pekerjaan, aksi
atau perbuatan kita dipersembahkan kepadaNya. Tidak berlebihan bukan
anjuran Yang Maha Pengasih ini? Kita tetap saja bekerja demi keluarga
dan kewajiban kita, tetapi semua hasil atau efek dari pekerjaan ini
secara mental kita persembahkan kepadaNya, dan terserah kepadaNya
apapun hasil pekerjaan itu, karena bukankah semua ini dariNya, untukNya
dan olehNya juga! Pasrahkanlah semua nya kepada Yang Maha Esa, dan
terjadilah apa yang harus terjadi sesuai dengan kehendakNya semata.
Berimanlah kepadaNya selalu, dan semuanya akan berakhir dengan baik
sesuai dengan rencana-rencanaNya yang telah diaturNya secara cermat dan
terperinci masing-masing untuk setiap individu dan makhluk dan lain
sebagainya. Sekali semuanya sudah dipasrahkan dan dipersembahkan
kepadaNya, maka semua itu bukan masalah atau kenikmatan kita lagi,
tetapi sudah menjadi persoalan Yang Maha Esa kembali, jadi terjadilah
apa yang harus terjadi. Yang penting adalah iman kita kepadaNya dalam
segala-galanya. Serahkanlah setiap sukses dan kegagalan kita kepadaNya,
dan jangan sekali-kali meminta atau mengharapkan apapun dariNya kecuali
kehendakNya, dan bekerjalah selalu sesuai dengan kewajiban kita.
Terimalah semua kehendakNya dengan senang, pasrah, tulus dan jujur dan
tanpa pamrih. Berterima-kasihlah untuk semua yang telah diberikanNya
kepada kita, apapun itu sifatnya. Sloka-sloka berikutnya banyak
menyiratkan pemberian dan kasih-sayang Yang Maha Esa kepada kita semua.
12. llmu pengetahuan itu lebih baik sifatnya daripada usaha konsentrasi
yang terus-menerus, meditasi itu lebih baik daripada ilmu pengetahuan,
dan yang lebih baik dari meditasi adalah persembahan semua hasil
perbuatan karena setelah itu menyusullah kedamaian,
Secara bertahap sebenarnya Sang Kreshna menganjurkan kita meniti jalan
ke arah kedamaian dalam hidup ini, yaitu melalui abhyasa (usaha dan
konsentrasi) lalu menanjak ke ilmu pengetahuan, alau naik lagi ke
meditasi, dan lalu yang lebih tinggi lagi, yaitu pemasrahan secara
total semua hasil dari perbuatan kita, dan setelah pemasrahan total ini
maka akan ditemui kedamaian. Sebenarnya semua tahap atau jalan yang
diajarkan Sang Kreshna itu penting bagi kehidupan spiritual kita,
tetapi yang paling penting adalah pemasrahan secara total semua hasil
dari perbuatan kita secara sadar dan tulus, dan tanpa pamrih yang
diikuti oleh mental atau pikiran dan buddhi kita secara paralel. Inilah
sebenarnya rahasia agung dan suci yang tersirat dalam ajaran-ajaran
Sang Kreshna dalam Bhagavat Gita, dan kalau kita secara tulus, suci dan
sadar melaksanakan semua ini, maka yang dikembalikan kepada kita ini
adalah rasa kedamaian yang tak ada taranya, dan apa lagi yang lebih
penting untuk sesuatu makhluk hidup di dunia ini kalau bukan rasa damai
yang tanpa disertai rasa takut atau khawatir dalam menjalani hidup ini!
13. Seseorang yang tak mempunyai itikad buruk terhadap siapapun (dan
apapun), bersikap bersahabat dan selalu simpatik, bebas dari rasa
egoisme dan rasa memiliki, dalam suka dan duka bersikap tenang, selalu
memaafkan;
14. Sang yogi ini yang selalu menerima apa yang didapatkannya, selalu
harmonis dan menjadi tuan (yang berkuasa) atas diri pribadinya sendiri,
tegas, dengan pikiran dan intelek yang didedikasikan kepadaKu — ia,
pemujaKu ini, adalah yang Kukasihi.
Sang Kreshna menyambung ajaran-ajaran dan keterangan-keterangan
spiritual yang penting untuk dipelajari Arjuna dan kita semua. Kita
kemudian sekarang ini dapat menilai diri-pribadi kita masing-masing,
menilai karakter dan jiwa kita masing-masing apakah jalan-hidup kita
sudah sesuai dengan yang dianjurkan Sang Kreshna Yang Maha Pengasih ini
atau masih jauh dari itu semua? Dan kalau sudah memenuhi semua
kriteria-kriteria di atas maka, apakah ungkapan itu jujur dan tulus dan
disertai rasa kesadaran yang sejati, atau hanya dibuat-buat atau
dirasakan saja? Berkarakter atau bersifat seperti yang dianjurkan Sang
Kreshna ini tidaklah mudah dilakukan oleh manusia yang duniawi
sifatnya, walaupun nampaknya anjuran-anjuran Sang Kreshna ini mudah dan
sederhana. Diperlukan latihan, penghayatan dan kesadaran yang harus
dilalui dengan proses yang memakan waktu dan disiplin spiritual yang
ketat dan tegar.
15. Seseorang yang tidak mengusik dunia ini dan tidak terusik oleh
dunia ini, yang bebas dari rongrongan rasa nikmat, marah, dan takut —
ia adalah yang Kukasihi.
Yang dimaksud Sang Kreshna di atas ini adalah seseorang yang tak
mengusik, mengganggu dan menyusahkan orang lain, makhluk-makhluk lain
dan alam serta benda-benda di mana pun juga tanpa sesuatu alasan yang
dapat dipertanggung-jawabkan; dan tindakan semacam ini tidak dapat
ditolerir olehNya walaupun sekecil apapun tindakan ini. Juga orang ini
(pemujaNya) sebaliknya tidak merasa susah atau merasa diganggu atau
terusik oleh orang maupun makhluk lain, karena sadar bahwa semua ini
adalah ciptaan-ciptaanNya dan terjadi karena kehendakNya dan pada
dasarnya adalah la juga. Orang yang sadar ini disebut harmonis
sifatnya. la telah lepas dari segala bentuk rasa takut, senang, marah
dan penampilannya selalu harmonis dan tenang dalam menghadapi segala
sesuatu baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Orang semacam
ini adalah “kekasihNya” (Yang dikasihiNya).
16. Seseorang yang tak berambisi, yang bersih, cekatan dan cerdik dalam
tindakan, tak bernafsu, bebas dari rasa takut, yang mempersembahkan
hasil dari setiap keputusannya kepadaKu - ia, pemujaKu adalah yang
Kukasihi.
17. Seseorang yang tidak bergembira, tidak membenci, tidak bersedih,
tidak bernafsu (berangan-angan untuk memiliki atau menikmati sesuatu),
yang mempersembahkan buah dari kebaikan dan keburukan - pemujaKu yang
setia adalah yang Kukasihi.
Seseorang yang tak berambisi untuk diri-pribadinya sendiri dan tak
mengharapkan apapun juga dari segala tindakan-tindakannya, baik secara
fisik, mental maupun spiritual dan material; yang tegas, peka, ahli dan
bekerja dengan cekatan demi kebenaran dan hal-hal yang positif; yang
secara cepat mengambil keputusan dalam suatu keadaan darurat, dan yang
selalu memasrahkan hasil dari setiap keputusan dan perbuatannya baik
yang buruk maupun yang baik kepadaNya semata, tidak akan mempunyai rasa
takut untuk menghadap masa depan dan semua yang dihadapiNya. Yang tak
mementingkan atau menginginkan sesuatu dan tak bersedih hati untuk
apapun yang dihadapinya adalah yang “dikasihiNya,” yang dikasihi oleh
Sang Kreshna. Andaikan sang pemuja yang penuh dedikasi dan kesetiaan
ini sudah mempersembahkan dirinya secara total sebagai alat kepada Yang
Maha Esa, maka sang alat ini lalu sadar bahwa ia seharusnya
berkewajiban untuk dipergunakan oleh Yang Maha Esa sesuai dengan
kehendakNya, apapun kehendakNya itu, dan semua hasil pekerjaan yang
dilakukannya bukan miliknya tetapi milik Yang Maha Menentukan, jadi
lalu apa lagi yang harus disedihkan dan apa lagi yang harus
digembirakan? Apa lagi yang harus membuatnya marah, benci atau dendam
dan bebagainya? Tidak ada lagi! Semua adalah pekerjaanNya, dan semua
adalah alat-alatNya semata yang memainkan peranannya masing-masing di
dunia ini; dalam kehidupan kita ini! Semakin ia sadar akan hal ini,
semakin dikasihi ia olehNya, Yang Maha Pengasih dan berbahagialah ia
yang merasa dikasihi dan dilimpahi oleh kasih Yang Maha Kuasa, karena
mencapai status ini tidaklah mudah dan boleh dikatakan amat langka
dalam dunia yang penuh dengan ilusi duniawi ini. Yang Maha Esa Sendiri
sebenarnya Amat Pengasih, terserah pada kita ingin mendapatkan limpahan
kasihNya yang bersinar terus secara sama rata untuk setiap
makhluk-makhlukNya, atau terserah kita untuk menolak kasih ini dan
lebih erat lagi merangkul nafsu-nafsu duniawi kita dan terikat erat
kepada nafsu-nafsu ini.
18. (Seseorang) yang bersikap sama terhadap seorang teman atau seorang
musuh, sama terhadap dingin dan panas, terhadap kenikmatan dan
penderitaan, bebas dari keterikatan,
19. Menerima secara sama rata pujian dan fitnah, bersikap diam, merasa
cukup dengan apa yang diterimanya, tak memiliki rumah, berpikiran
stabil, ia pemujaKu yang setia, adalah orang yangKu kasihi.
Andaikan seseorang bersikap sama terhadap semua kejadian yang
menimpanya, seperti senang dan susah, pujian atau hinaan, panas atau
dingin, dan merasa semua itu sama saja kadarnya, dan selalu merasa
cukup dengan apa yang melandanya dan apa yang diterimanya dan
menganggapnya sebagai pemberianNya jua, maka orang suci semacam ini
adalah orang yang dikasihiNya. Andaikan ia tenang dan damai dalam
menghadapi segala sesuatu dan menyebarkan kedamaian ini pada
orang-orang di sekitarnya dan pada dirinya secara senantiasa, maka
jadilah ia seorang mauni (yang tenang dan damai secara lahir dan
batin). Andaikan ia merasa tak memiliki rumah atau tempat-tinggal
(aniketah), yaitu dengan kata lain berarti ia merasa dunia ini bukan
milik atau rumahnya yang sejati, tetapi ia hanya seorang musafir yang
sedang melakukan perjalanannya (yatra) demi suatu kewajiban yang
disandangnya demi Yang Maha Esa, dan merasa bahwa rumah atau
tempat-tinggalnya yang abadi ada di dalam Sang Kreshna, Yang Maha Esa,
maka jadilah ia seorang yang paling dikasihi oleh Sang Kreshna, dan
manusia suci semacam ini selalu tersenyum penuh arti dalam segala
tindakannya; ia selalu bersikap tenang-tenang saja penuh arti.
20. Mereka, yang benar-benar memuja dharma (hukum) yang abadi ini,
seperti yang diajarkan ini, dan penuh dengan iman, mempercayaiKu
sebagai Yang Maha Agung dan Suci — mereka, para pemujaKu, adalah yangKu
kasihi.
Dan seorang pemuja yang tulus yang memuja dan menjalani dharma atau
hukum yang diajarkan Sang Kreshna ini, yang adalah suatu bentuk dharma
yang abadi dan tak akan pernah sirna sepanjang masa, dan yang
mengantarkan kita semua kepada tujuan Yang Agung dan Suci, yaitu Sang
Kreshna atau Yang Maha Esa itu Sendiri; pemuja semacam ini adalah yang
dikasihiNya. Jelas sudah pesan-pesan Sang Kreshna untuk kita semuanya.
Om Tat Sat.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi,
Karya-Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka bob ke
dua-belas ini disebut: Bhakti Yoga Atau Ilmu pengetahuan Tentang
Dedikasi.

Bab 13 - Falsafah Kehidupan
Berkatalah Arjuna:
Oh Kreshna, daku berhasrat sekali untuk mempelajari hal-hal tentang
Prakriti (alam) dan Purusha (Sang Jiwa), tentang ladang dan tentang
Yang Mengetahui ladang ini (Sang Pengenal ladang), tentang ilmu
pengetahuan (kebijaksanaan) dan tentang hal-hal yang perlu untuk
diketahui.
Sloka di atas ini tak bernomor, dan sering tak diterjemahkan karena dianggap sebuah sisipan.
Berkatalah Yang Maha Pengasih:
1. Raga ini, oh Arjuna, disebut sebagai ladang. Seseorang yang sadar
(tahu, mengenal) akan hal ini disebut sebagai sang pengenal ladang ini,
oleh mereka yang mengetahuinya (para resi).
2. Kenalilah Aku sebagai Yang Mengetahui ladang dari semua
ladang-ladang, oh Arjuna! Ilmu pengetahuan tentang ladang dan yang
mengetahuinya -adalah ilmu pengetahuan yang Ku anggap sebagai ilmu
pengetahuan yang sejati.
Dalam bab ini Sang Kreshna menerangkan tentang filsafat (falsafah)
kehidupan ini; ibaratnya menilai suatu kehidupan di atas batu-karang
yang kering dan gersang, maka setiap manusia sebenarnya memerlukan
suatu filsafat-kehidupan (suatu pegangan) agar kehidupan dapat
dijalaninya dengan sempurna. Dan untuk itu, pertama-tama amat penting
untuk menyadari atau memahami dua sifat dominan — manusia dan alam
semesta kedua sifat ini disebut — Prakriti dan Purusha. Prakriti adalah
benda atau raga, dan diibaratkan sebagai ladang (kshetrari), dan
Purusha adalah Sang Jiwa yang disebut dan dikenal sebagai Yang
mengetahui tentang ladang ini (Kshetragnd).
Bahkan dalam Injil pun Yesus Kristus pun sering menyebut tentang ladang
dan penabur benih dalam parabel-parabelnya. Jadi bukan saja hal ini
disiratkan dalam agama Hindu saja tetapi dapat juga dilihat dan
dihayati dalam agama-agama lainnya. Di sini dapat dikatakan bahwa yang
disebut ladang adalah raga kita sendiri dan Sang Penabur Benih adalah
Sang Kreshna, Yang Maha Mengetahui ladang ini, la bersemayam di dalam
diri kita. Dan yang disebutkan sebagai benih di sini adalah
kebijaksanaan (gnanam), yang selalu ditaburkan olehNya untuk kita semua
agar sadar dan kembali ke jalanNya. Sang Kreshna di sini berbicara
tentang ladang, tentang yang mengenal ladang dan tentang ilmu
pengetahuan dalam bentuk kebijaksanaan. Prakriti adalah ladang: di
dalamnya setiap benda dan makhluk tumbuh dan berkembang, lalu layu dan
akhirnya binasa, dan hidup dan tumbuh baru lagi. Prakriti adalah suatu
bentuk aktivitas. Di dalam Prakriti dituai buah atau hasil dari setiap
tindakan dan perbuatan kita ~ ibarat sebuah ladang saja. Fungsi
Prakriti adalah aktivitas tanpa dilandasi oleh kesadaran sejati.
Gnanam (kebijaksanaan) adalah benih yang ditabur dan dituai dari ladang
ini; kebijaksanaan ini adalah ilmu pengetahuan tentang ladang dan
tentang Yang Mengetahui atau Yang Mengenal ladang ini. Di alam semesta
ini apapun yang kita lihat adalah gabungan atau kombinasi dari Purusha
dan Prakriti, antara Sang Jiwa dan benda, antara roh dan raga. Sang
Jiwa, Sang Purusha adalah Kshetragna (Yang Mengetahui Ladang) dan Yang
Mengetahui adalah Sang Kreshna, yang dengan kata lain adalah Yang Maha
Esa itu Sendiri.
3. Dengarkanlah secara terperinci, dariKu, apakah ladang itu, dan
apakah sifatnya, apakah modifikasi-modifikasinya, bilakah la (ada),
apakah la (Yang Mengetahui tentang ladang) itu, dan apa sajakah
kekuatan-kekuatanNya?
4. Para resi telah meyabdakannya dengan berbagai cara, dengan berbagai
mantra, dengan sabda-sabda dalam Brahma-Sutra — disabdakan dengan penuh
alasan dan kata-kata yang konklusif, penuh dengan kebijaksanaan Yang
Maha Abadi.
Ajaran mengenai ladang dan yang mengetahui ladang ini, bukan ajaran
baru, tetapi sudah muncul dalam pustaka-pustaka dan ajaran-ajaran Hindu
kuno, dan sudah dikenal oleh orang-orang yang mempelajarinya di zaman
dahulu.
5. Lima elemen kasar, dan rasa “ke-aku-an,” juga pengertian akan yang
tak berbentuk kesepuluh indra dan pikiran, dan kelima indra yang utama,
6. Keinginan (nafsu) dan rasa-benci, kenikmatan dan penderitaan, bentuk
kolektif, intelegensia, keteguhan - semua ini, secara terperinci
diterangkan, sebagai yang mencakup ladang ini dan
modifikasi-modifikasinya.
Kshetra (atau ladang) ini terdiri dan 24 prinsip, yaitu:
1. Avyakta - yang tak berbentuk. Ini adalah Sang Maya (Ilusi-Ilahi), di
mana semua akan terserap sewaktu terjadi pralaya atau kiamat.
2. Ahankara — rasa ego, rasa ego yang didasarkan kepada
pengalaman-pengalaman pribadi, pada personalitas, pada diri-pribadi,
merupakan kesadaran dari dan untuk diri pribadi saja.
3. Buddhi — alasan-alasan, pemahaman, pengertian yang membedakan antara
yang benar dan salah, intuisi, kekuatan untuk langsung mengetahui
sesuatu.
4. Mana — sering disebut juga sebagai ekam atau satu;
(5-14) Terdiri dari sepuluh bentuk indra, yaitu terbagi dua. Yang lima
pertama adalah gnana-indra yang terdiri dari mata (penglihatan), kuping
(pendengaran), hidung (penciuman), lidah (rasa), sentuhan atau organ
aksi. Kemudian lima indra yang berikutnya adalah karma-indra atau juga
disebut indra-indra fungsi yang terdiri dari tangan, kaki, mulut
(wicara), anus dan penis (kemaluan).
(15-19) Kemudian yang disebut lima indra yang penting
(indriyah-gocharah) adalah sparsha (sentuhan), rasa (merasakan), rupa
(pengetahuan), gandha (penciuman) dan shabda (suara).
(20-24) Lima elemen kasar (mahabhuta) adalah bhum (tanah), apa (air) anala (api), vayu (udara) dan khan (ether).
Kshetra atau ladang ini mempunyai lima vikara, yaitu bentuk atau
transformasi, atau bisa disebut juga penggantian atau modifikasi, dan
sebagainya. Yang masing-masing adalah:
a. iccha dan dvesha — yaitu keinginan dan aversi (rasa dualisme yang
saling bertentangan seperti suka-tak suka, panas-dingin, benci-sayang,
dan lain sebagainya);
b. sukham dan dukham — yaitu kenikmatan dan penderitaan;
c. sanghata — yaitu bentuk kolektif tubuh atau raga;
d. chetana — yaitu kesadaran, intelegensia, pikiran dan pengetahuan;
e. dhriti — yaitu keteguhan, ketegaran dan tekad yang kuat.
Harus diketahui bahwa fungsi psikological seperti nafsu (keinginan) dan
aversi, kenikmatan, dan penderitaan, intelegensia, keteguhan adalah
sifat-sifat yang berhubungan dengan kshetra (ladang) dan bukan pada
Sang Atman. Kshetra atau ladang ini terbentuk dari raga dan pikiran dan
bukan dari Sang Atman. Sebaliknya kshetra ini merupakan tempat
bersemayam Sang Atman ini. Vikara atau modifikasi timbul dalam kshetra
karena sang jiwa kita berhubungan dengan Sang Maya; Sang Maya kemudian
mempermainkan jiwa kita dan timbullah gelombang-gelombang dan
pergantian-pergantian dalam pikiran dan jiwa kita, yang selalu
terombang-ambing oleh permainan atau ilusi Sang Maya ini. Sekali
terlibat dan tenggelam dalam manis dan pahitnya Sang Maya maka sukarlah
bagi seorang manusia untuk lepas dari cengkeramannya dan jadilah kita
budak duniawi ini. Jiwa kita dengan statusnya yang suci (Sang Atman)
tidak ditakdirkan sebagai tuan dari Sang Maya ini, lain dari para
Avatar a, yaitu Yang Maha Esa yang menjelma menjadi manusia seperti
Sang Kreshna dan Sang Rama, mereka ini masing-masing pada zamannya
sewaktu bereinkarnasi sebagai manusia tidak dapat dikuasai oleh Sang
Maya, sebaliknya merekalah yang menguasai atau menjadi tuan dari Sang
Maya ini.
7. Rendah-diri, tidak berpura-pura, tidak menyakiti makhluk lainnya
kesabaran, bertindak berdasarkan kebenaran, merawat dan bekerja demi
guru-spiritual, pembersihan diri (raga dan pikiran), ketegaran dan
kendali-diri,
8. Bersikap tidak acuh pada benda-benda atau hal-hal yang berhubungan
dengan indra-indra, tak mempunyai rasa egois, mengenal akan sifat-sifat
buruk dari kelahiran, kematian, masa-tua, penyakit dan penderitaan.
9. Tanpa keterikatan, tidak mengidentifikasikan dirinya dengan
putra-putrinya, dengan istri dan rumahnya, dan selalu bersikap sama
rata secara konstan terhadap hal-hal dan kejadian-kejadian yang
menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan.
10. Dedikasi kepadaKu tanpa henti-hentinya, melalui yoga (ilmu
pengetahuan), menyepikan diri ke tempat-tempat yang tenang, tak
berkeinginan untuk berkumpul secara duniawi.
11. Selalu berusaha untuk mempelajari ilmu pengetahuan tentang Sang
Atman, intuisi langsung dengan maksud untuk mengenal Kebenaran - inilah
yang disebut kebijaksanaan. Semua hal yang berlawanan dengan ini adalah
kebodohan (tak-berpengetahuan).
Pelajaran atau jalan kebijaksanaan dipaparkan dengan baik dan
terperinci oleh Sang Kreshna di atas. Semuanya berjumlah 20 karakter
atau sifat, dan kedua-puluh sifat ini adalah akar atau fondasi dari
kebijaksanaan yang akan mengantarkan seseorang kepada Yang Maha Esa, ke
ilmu pengetahuan sejati tentangNya. Kebijaksanaan ini kalau dipelajari
dengan seksama adalah indikasi dari sifat-sifat moral yang amat super
atau prima, yang menjadi dasar dari tindakan-tindakan kita yang baik
dan benar, yang lepas dari rasa duniawi, dan rasa memiliki, dari
nafsu-nafsu dan malahan menjadi dasar yang kokoh dan benar dari setiap
tindakan kita dan mendorong kita untuk lebih banyak melihat ke dalam
diri kita sendiri. Kedua-puluh sifat ini menunjukkan arah seseorang
kepadaNya tanpa pamrih dan penuh dedikasi dan kebenaran bagiNya semata.
12. Akan Ku sabdakan tentang sesuatu yang harus diketahui, yang setelah
diketahui, maka tercapailah keabadian — Sang Brahman, Yang Tak bermula,
Suci dan Agung, Yang dapat disebut Sat (Berbentuk) dan juga dapat
disebut Asat (Tidak Berbentuk).
Yang mengetahui ladang ini disebut Kshetmgna, lalah Yang Maha Suci dan
Agung Para Brahman. la tak dapat dikualifikasikan karena Yang Maha Esa
ini di luar kualifikasi yang dibuat manusia, seyogyanyalah la lalu
disebut sat dan asat (berbentuk dan tidak berbentuk). la diluar kedua
faktor ini dan Maha Agung dan Suci. Ia hadir dan ada tetapi pada saat
yang bersamaan Ia pun tak hadir dan tak ada atau tak terlihat. Yang
Maha Esa tak dapat dikualifikasikan atau digambarkan karena dengan
begitu malahan membatasiNya, dan tak mungkin Ia dapat dibatasi karena
Maha Tak Terbatas Yang Maha Esa ini.
13. Di mana pun Sang Brahman ini mempunyai tangan-tangan dan kaki-kaki,
di mana pun Ia bermata, berkepala dan bermulut. Ia mendengar di setiap
tempat, dan Ia tinggal di dunia ini, menyelimuti (meliput) semuanya.
14. Ia bersinar di semua fungsi indra-indra, tetapi lepas dari
indra-indra ini. tak terikat, tetapi Ia lah penunjang semuanya. Ia
bebas dari segala kualitas (Nirgunam), tetapi Ia juga yang menikmati
semua kualitas.
Sang Brahman ada tapi tak ada. Ia hadir dalam Prakriti tetapi tak
terlihat oleh kita. Ia sukar menemukan istilah yang tepat tentang Yang
Maha Esa ini dan Ia hanya dapat dijelaskan secara minim dalam
paradoks-paradoks saja. Ia hadir dalam setiap hal, sifat, bentuk atau
aksi, tetapi tak pernah terlibat secara langsung.
15. Di luar dan di dalam semua makhluk Ia hadir dan juga bergerak.
Terlalu sukar untuk dipersepsikan Ia ini. Ia dekat tetapi juga Ia amat
jauh.
Benar kata filsuf Meister Eckhart, “Semakin dalam Tuhan di dalam diri
sesuatu, semakin di luar Ia berada dari sesuatu tersebut.” Ia bergerak
tetapi tanpa gerak, Ia dekat tapi jauh. Ia tak dapat diterangkan tetapi
Ia dapat dirasakan kehadiranNya ditengah-tengah kita
16. Ia hadir tak terbagi-bagi di dalam makhluk-makhluk, tetapi Ia
bersemayam secara sama rata (di dalam diri makhluk-makhluk seakan-akan
terpisah-pisah). Ia penunjang semua makhluk dan benda. Ia pemusnah
kehidupan, tetapi Ia juga pemberi kehidupan.
Di atas sudah cukup tergambar atau terbayang atau terasa dan terlihat
oleh kita akan semua kebesaranNya., sebagai pemusnah sekaligus pemberi
kehidupan, sebagai yang tak ada di dalam setiap yang ada, sebagai yang
beraksi dalam setiap tak-aksi, atau pun sebaliknya.
17. Ia adalah Cahaya dari semua cahaya. Ia yang dikatakan sebagai di
luar kegelapan. Ia adalah kebijaksanaan, tujuan dan kebijaksanaan yang
dicapai dengan kebijaksanaan. Ia bersemayam di dalam hati semuanya.
Salah satu sifatNya adalah Cahaya atau Nur, Sang Surya Yang Eka, tetapi
bersinar dalam hati setiap insan dan makhluk. Ia juga adalah ilmu
pengetahuan yang sejati, sekaligus obyek dan tujuan ilmu pengetahuan
sejati tersebut. Para pencariNya melakukan perjalanan spiritual guna
mencariNya, justru dari luar ke dalam diri mereka sendiri karena Ia
bersemayam dalam diri setiap insan dan makhluk ciptaanNya. Ia hadir di
mana-mana, tangan-tangan dan kakinya tersebar di setiap sudut dan
penjuru dunia. Ia adalah satu-satuNya yang berada di kegelapan, karena
Ia lah Cahaya dari semua cahaya.
18. Begitulah telah Ku katakan kepadamu, secara singkat dan terperinci,
tentang ladang ini, tentang ilmu pengetahuan dan obyek dari ilmu
pengetahuan ini. PemujaKu, setelah mengetahui ini, memasuki DiriKu.
Tiga hal yang penting untuk diketahui, yaitu ladang (kshetra); ilmu
pengetahuan (gnana), yang dimaksud ini bukan ilmu pengetahuan yang
ilmiah, tetapi justru yang gaib dan dianggap sejati; obyek dari ilmu
pengetahuan ini (gneya). Mengenal, mengetahui atau menghayati ketiga
prinsip ini dalam kehidupan kita sehari-hari berarti mencapai Yang Maha
Esa, Yang Agung dan Suci lepas dari segala penderitaan. Seseorang yang
memiliki ilmu pengetahuan ini akan mencapai cinta-kasih (bhakti). Yang
Maha Esa dapat dicapai oleh mereka yang sederhana, rendah-hati dan
penuh kasih, yang telah memurnikan jiwa dan hatinya. Yang ingin
mengenalNya dengan baik harus belajar terlebih dahulu untuk mencintai
semuanya, sadar bahwa semua orang dan makhluk dan benda adalah
alat-alatNya belaka yang harus memainkan peranannya masing-masing di
kehidupan ini. Setelah sadar akan hakikat cinta-kasih yang sejati maka
orang ini akan meningkat untuk ‘bercinta-kasih denganNya.” Hidup ini
lalu berubah penuh dengan cinta-kasihNya. Hidup tidak seharusnya
dihitung dari tahun-ke-tahun atau hari-ke-hari, tetapi dari dalamnya
cinta-kasih kita terhadapNya dan terhadap semua ciptaan-ciptaanNya.
Bagaimana seseorang yang suci-murni dapat merusak atau mencederai
ciptaan-ciptaanNya yang lain, sekiranya la betul-betul telah murni
cinta-kasihnya pada Yang Maha Esa?
Seorang mistik bernama Bayazid sekali masa pernah ditanya umurnya, dan
ia menjawab baru berusia empat tahun. Padahal usianya telah mencapai 74
tahun. Tentu saja para penanya menjadi heran karenanya. Tetapi Bayazid
dengan rendah hati menerangkan bahwa selama 70 tahun ia jauh dari
Tuhan, dan dekat dengan dunia. Baru empat tahun terakhir ini ia
merasakan dekat kepadaNya dan merasakan kasih-sayangNya yang tak
terhingga, mendengarkanNya Yang tak pernah didengarNya sebelum ini,
merasakanNya Yang tak pernah tersentuh olehNya selama ini. “Jadi baru
empat tahun ini aku betul-betul hidup!” seru Bayazid.
19. Ketahuilah bahwa Prakriti (unsur benda atau sifat) dan Purusha
(sang Jiwa), kedua-duanya tidak bermula. Dan ketahuilah bahwa semua
modifikasi dan guna (kualitas) lahir dariNya.
Prakriti dan Purusha tak bermula dan sudah hadir sebelum penciptaan
dunia. Tetapi semua pergantian, modifikasi dan sifat-sifat alam ini
berasal dari Prakriti, yang lahir dariNya.
20. Benda atau alam dikatakan sebagai yang menjadi penyebab yang
memancarkan sebab dan akibat; sang Jiwa dikatakan sebagai penyebab dari
pengalaman suka dan duka.
21. Sang Jiwa yang bersemayam di dalam benda mencicipi
kualitas-kualitas (guna) yang lahir dari benda. Keterikatannya terhadap
guna inilah yang menjadi penyebab kelahirannya secara baik dan buruk.
Kita lihat sekarang dalam sloka 19-23 tersirat adanya pemikiran baru
yang terbagi pada tiga prinsip, yaitu Prakriti-Benda-Alam,
Purusha-Jiwa-Roh dan Purusha-Parah, Sang Jiwa Yang Maha Agung dan Maha
Suci. Purusha dan Prakriti, kedua-duanya bersifat anadi (yaitu tanpa
mula) dan terpancar atau berasal dari Yang Maha Abadi, Yang Maha Esa,
Sang Jiwa Yang Maha Agung dan Maha Suci. Sang Purusha, atau Jiwa yang
telah tergabung dan bersatu dengan Sang Prakriti, menikmati semua
pengalaman-pengalaman duniawi seperti suka-duka dan lain sebagainya.
Karena Jiwa bebas berkehendak maka ia sudah menyalah-gunakan
kehadirannya dalam raga dan ia hanya tenggelam dalam kenikmatan duniawi
ini dan terjebak oleh ikatan waktu dan ruang.
Jiwa sebenarnya adalah bentuk spiritual tetapi ia diberikan kebebasan
untuk menuju kepada Yang Maha Esa. la dapat memberikan kasih dan
dedikasinya kepada Yang Maha Esa atau kepada Sang Maya (Sang
Ilusi-Ilahi). Sekali ia menjadi budak Sang Maya ia akan
bertolak-belakang dari Yang Maha Esa. Dan sekali ia terjebak dalam
ilusi ini, maka ia akan timbul-tenggelam di dalamnya, terjebak dalam
ikatan waktu dan spasi duniawi ini.
22. Dalam raga (yang dimaksud di sini adalah raga manusia) bersemayam
Sang Jiwa Yang Maha Agung dan Suci. la disebut sebagai Pengamat, Yang
Mengabulkan, Yang Menunjang, Yang Menikmati Pengalaman, Tuhan Yang
Agung, dan Sang Jati Diri Yang Agung dan Suci.
Dalam raga setiap makhluk terdapat Sang Jati Diri (Sang Atman) Yang
dikenal atau disebut juga sebagai Purusha Parah, Sang Purusha Yang Maha
Agung dan Suci. Ia lah sebenarnya Tuhan yang Maha Esa dan Agung dengan
nama dan sebutan yang beraneka-ragam. Yang Maha Esa bersemayam dalam
diri kita masing-masing sebagai Pengamat, dari setiap tindakan dan
pikiran kita; dari sang Jiwa atau Roh kita. la membiarkan tindakan kita
untuk kemudian dikoreksi yang salah (teguran hati nurani selalu hadir
sebenarnya dalam setiap tindakan kita yang salah, tetapi sering sekali
kita mengabaikannya karena faktor-faktor ego duniawi kita). Ia, Yang
Maha Kuasa, sebenarnya hadir dalam setiap makhluk. Seandainya Sang Jiwa
atau Roh kita jatuh ke jalan Sang Maya, maka Sang Paratman atau Sahabat
Pengamat kita ini pun mengikutinya, menegurnya, menjaganya, memberikan
peringatan-peringatan kepada sang Jiwa kita ini, dan tak sekalipun Sang
Paratman ini mengabaikannya, Ia bahkan menuntun sang Jiwa ini kembali
ke jalannya yang benar. Dengan caraNya Sendiri Sang Paratman ini
mengajari, mempengaruhi dan mengajak sang Jiwa yang tersesat ini
kembali ke arahNya. Maha Besar dan Pengasih, Ia sebenarnya, karena
selalu menyelamatkan kita semua dari jalan kesesatan dalam hidup ini,
agar tercapai misi kita yang seharusnya kita lakukan, yaitu bersatu
kembali denganNya. Sang Paratman adalah “bintang-harapan” kita yang
akan selalu menuntun kita dalam kegelapan duniawi ini, sehingga
akhirnya tak ada satu jiwa pun yang akan tersesat, semuanya akan
dituntun ke arahNya. Sebenarnya Ia adalah tujuan kita semuanya, kalau
saja kita mau menyadari hal ini secara sejati.
23. Seseorang yang mengetahui (menyadari) tentang Purusha dan Prakriti
dengan segala kualitas-kualitasnya, apapun keadaannya — ia tak akan
lahir kembali.
Seseorang yang sadar tentang pengetahuan Purusha dan Prakriti ini
dengan ketiga guna (sifat atau kualitas) nya, akan menuju ke arah
pembebasan, yaitu lepas dari dunia ini dan bersatu denganNya. Seseorang
yang benar-benar sadar siapa Sang Purusha Yang Maha Agung dan Suci ini
betul-betul adalah seorang yang telah bebas.
24. Sementara orang menyaksikan Sang Atman melalui Sang Atman dengan
jalan meditasi (dhyana), sementara orang lagi menyaksikan melalui jalan
Sankhya-yoga (jalan ilmu pengetahuan), dan sementara orang lagi melalui
Yoga perbuatan (tindakan, aksi atau pekerjaan)
25. Yang lainnya lagi, tidak mengenal jalan-jalan yoga ini, memuja,
karena pernah mendengarkannya dari yang lain-lainnya; dan mereka pun
lepas dari kematian, pedoman mereka adalah skripsi-skripsi (shruti).
Ada empat metode yang menuntun kita ke arah Yang Maha Esa, atau yang
disebut juga Purusha Yang Maha Agung dan Suci dan juga boleh disebut
Kebebasan atau Penerangan. Masing-masing metode terurai di bawah ini:
a. Meditasi (dhyana) — Banyak yang melakukan metode ini, dan menemukan
Sang Jati Diri di dalam dirinya sendiri. Dengan bermeditasi kita
mencoba untuk berhubungan dengan Sang Atman secara konstan dan penuh
konsentrasi, dengan menjauhkan segala gangguan. Yang penting dalam
meditasi adalah ketenangan, dan makin kita tenang dan tak terusik oleh
pikiran dan keadaan-keadaan di sekitar kita, maka makin mendekatlah
kita kepadaNya. Berbicara tanpa henti malahan membuang-buang energi.
Sebaliknya ketenangan dalam meditasi menjauhkan kita dari hal-hal yang
buruk dan kesalahan-kesalahan duniawi. Sebaiknya dan seharusnya setiap
hari kita menyediakan sedikit waktu kita untuk berdiam diri dan menyatu
denganNya. Dapat kita mulai dengan lima menit saja dahulu, kemudian
meningkat sampai setengah atau satu jam secara bertahap. Janganlah jadi
budak dari pekerjaan-pekerjaan kita, dari kenikmatan dan penderitaan
kita, dan dari kesibukan kita yang tak kunjung ada habisnya.
Sisihkanlah sejenak waktu setiap pagi dan malam untukNya, dan
dapatkanlah kenikmatan yang tak dapat diperoleh di semua kesibukan,
kenikmatan dan penderitaan duniawi kita. Sekali tercapai komunikasi
denganNya, kita akan mengalami keajaiban-keajaiban yang akan mengubah
cara hidup kita, dan makin tabah dan tegarlah kita dalam menghadapi
kehidupan yang unik ini. Ketenangan yang utama adalah dengan memulainya
dalam kehidupan dan diri kita sendiri, dan jalan terbaik adalah dengan
berlatih meditasi dan selalu berusaha untuk bersatu denganNya, Yang
sebenarnya bersemayam tidak jauh, tetapi dalam diri kita masing-masing,
agar tercapai jalan kehidupan yang suci dan sempurna.
Ada yang perlu dilakukan dalam bermeditasi, yaitu mengucapkan japa
secara berulang-ulang. Japa atau mantra ini dapat bermacam-macam sesuai
yang diberikan oleh sang guru meditasi, tetapi semakin pendek japa ini,
semakin efektif hasilnya. Misalnya satu kata OM atau Tuhan atau Allah
atau Hari atau Rama atau Kreshna atau Yesus, dan lain sebagainya yang
sebaiknya dipilih sendiri yang sesuai dengan diri kita pribadi, yang
sesuai dengan hati sebaiknya dipilih sendiri yang sesuai dengan diri
kita pribadi, yang sesuai dengan hati nurani dan panggilan jiwa kita
sendiri. Pilihlah atau temukanlah sendiri satu kata atau beberapa
kalimat puja-puji yang menggambarkan kebesaran Yang Maha Esa, dan
sewaktu bermeditasi ucapkanlah berulang-ulang penuh konsentrasi,
dedikasi dan kasih. Lama-kelamaan kata yang spesifik tersebut atau juga
japa dan mantra yang telah teringat itu akan terus mengiang atau
terucap dalam kita melakukan pekerjaan kita sehari-hari, bahkan di
tengah-tengah kesibukan atau sedang berolah-raga misalnya. Kalau ada
problem yang datang mengganggu ucapkan kata sakti tersebut, memohon
Yang Maha Esa untuk melindungi kita semua, dan usahakanlah untuk
menyatu denganNya selalu di mana saja dan kapan saja dan lama-kelamaan
perhatikanlah efeknya. Seluruh hidup kita akan berubah menjadi lebih
stabil dan tenang, dan kita jauh dari segala gejolak nafsu kita dan
juga jauh faktor-faktor buruk dan negatif, secara bertahap tetapi pasti
hidup akan bertambah tenang, stabil dan kesadaran akan menyusup masuk
ke dalam diri kita berkat kasihNya yang tak terbatas.
Bagi sementara orang atau para pemula, bermeditasi dengan membayangkan
atau memusatkan pikiran pada suatu bentuk juga sangat bermanfaat;
contoh, membayangkan wajah atau figur Sang Kreshna, Rama, Shiva, Buddha
untuk mereka yang beragama Hindu dan Buddha. Dan untuk mereka yang
beriman Kristiani dengan membayangkan figur Tuhan Yesus, dan lain
sebagainya sesuai dengan masing-masing kepercayaannya.
b. Metode Sankhya - metode dengan dasar intelektual atau ilmu
pengetahuan yang mencoba atau mempelajari tentang Sang Jati Diri,
sebagai sebagian dari Yang Maha Esa.
c. Karma-yoga — yaitu metode kerja atau tekad tanpa pamrih dan penuh
dengan pengorbanan dan disiplin bagiNya semata. Sang karma-yogi dalam
hal ini melakukan semua perbuatan, tugas dan pekerjaan duniawinya dalam
bentuk dedikasinya kepada Yang Maha Esa dan tak mengharapkan apapun
juga dari hasil pekerjaannya ini, yang semuanya diserahkan secara utuh
dan bulat-bulat kembali kepadaNya. Hidup sang karma yogi jadi suci dan
bersih karena setiap tindakan dan efeknya dipasrahkan kepada Yang Maha
Esa dan ia selalu berpikir dan berkata terjadilah kehendakNya” dan ia
pun menerima semua kehendakNya tanpa protes dan penuh ketenangan,
walaupun yang ia terima itu dalam bentuk suka dan duka, nikmat atau
penderitaan, baik atau buruk, positif atau negatif, semuanya diterima
dengan kasih dan dedikasi sebagai kehendak Yang Maha Kuasa juga.
Hidupnya adalah pencetusan dari kehendak Yang Maha Kuasa, dan
diterimanya tanpa pamrih.
d. Metode upasna — dalam metode ini seseorang memuja Yang Maha Esa
sesuai dengan yang dipelajarinya atau yang didengarkannya dari sang
guru atau orang-orang lain. Cara ini dilakukan oleh para pemula. Dan
lama-kelamaan mereka pun terangkat ke permukaan pemujaan mereka dan
mendapatkan penerangan Ilahi. Ternyata Yang Maha Pengasih secara amat
bebas membuka berbagai jalan untuk mencapaiNya, jalan atau metode apa
saja yang diambil seseorang, yang penting adalah dedikasi, kesetiaan,
dan kasih yang tulus kepadaNya, dan Ia akan selalu beserta kita
menuntun kita ke jalanNya yang terang dan suci.
26. Benda atau makhluk apapun yang dilahirkan, oh Arjuna, baik ia
bergerak maupun tidak bergerak, ketahuilah itu datang dari gabungan
antara ladang dan Yang Mengetahui ladang ini.
Setiap benda atau makhluk, atau apapun saja yang diciptakan oleh Yang
Maha Kuasa di alam semesta ini tercipta karena gabungan atau kombinasi
dari Kshetra (ladang) dan Kshetragna (Sang Pengenal Ladang), gabungan
dari Purusha dan Prakriti, dari Sang Jiwa dan benda atau alam dan
sifat-sifatnya.
27. Seseorang yang melihat Tuhan Yang Maha Agung dan Suci bersemayam
secara sama di setiap benda dan makhluk, Yang Maha Tak Terbinasakan
dalam setiap benda atau makhluk yang dapat binasa — ia benar-benar
melihat.
Yang Maha Esa bersemayam dalam setiap bentuk ciptaannya secara adil
sama rata, jadi lupakanlah pendangan atau rasa yang penuh diskriminasi
atau yang merendahkan martabat orang lain atau sifat melecehkan makhluk
lain. Diskriminasi akan kasta atau orang-orang yang dianggap berdosa
dan buruk harus dijauhi, ingat Yang Maha Kuasa hadir dalam semuanya
tanpa diskriminasi! Ia hadir di setiap sisi dan sudut alam semesta ini
dalam berbagai ciptaan-ciptaanNya. Jangan sekali-kali memandang tinggi
kasta kita, kedudukan atau pun martabat dan kekayaan kita, apalagi
kemampuan kita berbuat sesuatu, karena semua itu sebenarnya tidak
berarti sama-sekali di mataNya. Yang berarti hanyalah la dan
kehadiranNya di mana saja, baik yang di kecil maupun yang di besar.
Siapakah kita ini sebenarnya yang hanya bisa membeda-bedakan saja, yang
hanya bisa melihat baik dan buruk seseorang tanpa mau tahu akan hakikat
dari kebenaran kehidupan ini. Mengetahui kehadiran Yang Maha Esa di
setiap ciptaanNya berarti menghilangkan rasa takut, benci,
diskriminasi, iri-hati pada sesama kita, dan sebaliknya kemudian
menimbulkan kasih-sayang kepada sesama kita baik itu berupa manusia,
makhluk-makhluk di alam semesta ini, pepohonan, batu-batuan dan semua
unsur-unsur alam di sekeliling kita.
Ia Yang Maha Kuasa adalah Yang Tak Terbinasakan tetapi Ia hadir dalam
setiap ciptaan-ciptaanNya yang tak pernah abadi, yang selalu binasa dan
lahir lagi. Ini mengingatkan kita kepada dialog antara St. Catherine
dari Sienna dalam komuninya dengan Yesus Kristus. la bertanya kepada
Tuhan Yesus, “Siapakah daku, Tuhan? Dan beritahu daku siapakah Engkau?”
Dan Yesus menjawabnya, “PutriKu, engkau adalah yang tiada dan Aku
adalah yang Ada.” Yang Ada ini selalu hidup dalam yang tiada, yaitu
kita semuanya ini, dan sadarlah akan sesuatu hal, mengapa Yang Ada ini
mau dan bersedia tinggal dalam diri-diri kita ini, yang sering oleh
kita sendiri dianggap sebagai tubuh-tubuh atau raga-raga yang penuh
dengan dosa-dosa dan nafsu-nafsu iblis? Betulkah semua perkiraan kita
ini? Ataukah pernah terpikir oleh kita semua, bahwa Yang Maha Esa
menciptakan raga ini sebagai suatu tempat bersemayam yang sifatnya
agung dan suci, kalau tidak mengapa pula Ia (Sang Atman) mau bersemayam
di dalam diri setiap makhluk-makhlukNya?
Lihatlah sisi lain dari alam semesta dan ciptaan-ciptaanNya ini,
bukankah semua ini adalah refleksi atau cermin dariNya semata, dari
keindahanNya, dari kesucian dan keagunganNya. Dan kalau anda setuju
akan konsep ini, maka bernyanyilah, memujalah, berbahagialah dalam
DiriNya. la hadir dalam diri kita dan kita ada dalam DiriNya,
seharusnyalah kita berorientasi kepadaNya dan jangan mempergunakan
kebebasanNya secara salah dan kemudian terseret dan terjebak oleh Sang
Maya. Satukan diri kita dengan alur Ilahi Yang Murni dan Suci,
bergembiralah kepadaNya. Ingat kita ini adalah kuil-kuil suci tempat la
bersemayam, dan seharusnya kita bertindak suci dan murni. Renungkanlah
pemikiran ini. Om Tat Sat.
28. Melihat, secara benar, Tuhan Yang Sama hadir di mana pun juga,
seseorang tak akan merusak Diri ini dengan dirinya, dan dengan berbuat
demikian ia mencapai Tujuan Yang Suci dan Agung.
Seperti kita ketahui sekarang, maka di dalam setiap makhluk yang
bernyawa hadir bentuk “diri” yang rendah dan kecil sifatnya, dan juga
bentuk “Diri” Yang Agung dan Tinggi sifatNya, yaitu yang disebut Sang
Atman, Yang Maha Esa itu Sendiri dalam bentuk yang bersifat sebagian
dariNya juga. Menyadari hal ini, seseorang tak akan membiarkan
jiwa-raganya membunuh atau mengotori dan menodai DiriNya Yang Agung dan
Suci yang bersemayam di dalam jiwa-raga itu sendiri, dan kesadaran
semacam ini akan menuntun kita ke arah Yang Maha Esa atau dengan kata
lain ke Tujuan Yang Suci dan Agung.
29. Seseorang yang melihat bahwa semua perbuatan dilakukan oleh
Prakriti (alam) dan bahwa Sang Atman itu tak bertindak - ia melihat
secara benar.
Alam atau Prakritilah yang bertugas untuk bekerja, beraksi atau
bertindak dan berbuat, tetapi Sang Atman tak pernah melakukan apapun
juga. la hadir sebagai saksi, penuntun, pengamat, tetapi ditegaskan
Sang Kreshna, Sang Atman tidak berbuat suatu tindakan apapun juga.
Semua perbuatan kita terjadi akibat dari ikatan kita pada guna-guna
yang berkaitan dengan Prakriti. Sang Jiwa mengikuti kita terus selama
kita mengembara di dunia fana ini sebagai saksi, penuntun dan pengamat
kita dan dengan kasihNya melepaskan kita dari ikatan Prakriti ini yang
diakibatkan oleh ulah kita sendiri yang terlalu bebas untuk ‘bermain’
dengan Sang Maya.
30. Bila seseorang menyadari bahwa berbagai bentuk kehidupan ini
berakar pada Yang Esa dan terpancar (tersebar) keluar dari Yang Maha
Esa, maka ia mencapai Brahman.
Menyadari seluruh alam semesta ini berasal dariNya secara sejati,
apapun bentuk atau manifestasinya, maka seseorang yang benar-benar
sadar secara sejati dan menghayati kesadarannya itu dalam kehidupannya
sehari-hari langsung juga akan segera menyadari akan hakikat Yang Maha
Esa. Melihat atau menyadari Yang Maha Esa adalah mencapaiNya.
31. Sang Atman Yang Tak Terbinasakan, Yang Agung dan Suci ini, oh
Arjuna, tak bermula dan tanpa guna (sifat-sifat Prakriti). Dan walaupun
la bersemayam di dalam raga, tetapi la tak bertindak atau pun
terpengaruh oleh tindakan (raga ini).
Sang Paratman, Yang bersemayam secara Agung dan Suci dalam diri kita
ini, dikatakan oleh Sang Kreshna sebagai tak bermula, dan tanpa
sifat-sifat Prakriti. Walaupun Ia selalu hadir, Ia tidak bertindak
sedikit pun, dan walaupun Ia hadir di dalam raga kita Ia juga tak
tercemar oleh tindakan-tindakan kita yang buruk dan negatif, begitupun
Ia tak tersentuh oleh perbuatan-perbuatan kita yang baik dan positif.
Ia tak terpengaruh sedikit pun oleh kita, sebaliknya makin kotor
perbuatan kita maka makin jauhlah kita ini dariNya, dan makin positif
tindakan kita, maka makin teranglah Ia hadir ke hadapan kita. Maka
ibaratkanlah diri kita sebagai cermin yang bersih, agar refleksi atau
bayanganNya tersingkap atau jatuh secara jelas di raga kita ini.
Renungkan ini dengan seksama. Ia jauh kalau kita jauh, Ia dekat kalau
kita dekat. Padahal sebenarnya Ia selalu dekat di dalam diri kita.
32. Bagaikan ether, walau hadir di mana pun juga, tak pernah ternoda,
karena bentuknya yang lembut (tak terlihat), begitu pun Sang Atman,
walau hadir di raga mana pun, (la) lepas dari segala noda-noda.
Bagaikan ether yang terdapat di seluruh alam semesta ini dan menjadi
penunjang hidup kita yang amat vital, tetapi tak pernah terlihat oleh
mata kita karena sifat-sifat alaminya yang demikian lembut, maka begitu
juga Sang Atman Yang Mana Hadir di mana saja dan kapan saja dalam
setiap ciptaan-ciptaanNya tak pernah nampak oleh mata duniawi kita
karena kebodohan dan kekurangan-pengetahuan kita, maka singkapkanlah
semua kebodohan kita ini agar dapat kita mengenalnya lebih terang lagi,
dan masuk menyatu kedalamNya. Om Tat Sat.
33. Bagaikan satu mentari yang menyinari seluruh dunia ini, maka begitu
juga Penguasa dari ladang ini menyinari seluruh ladang ini, oh Arjuna!
Perumpamaan satu mentari dengan Sang Atman Yang Juga Eka (satu)
sifatnya adalah suatu perumpamaan yang menarik, karena Sang Surya
walaupun hanya satu yang terlihat dari bumi ini (dunia ini), ternyata
mampu menyinari seluruh bumi kita bahkan juga rembulan dan spasi-spasi
diantara bumi dan bulan dan juga sekitarnya. Sang Surya dari kejauhan
nampak kecil dan amat terang-benderang, tetapi sebenarnya ia amat jauh
letaknya dari bumi kita ini. Begitupun Sang Atman, la dekat tapi jauh,
la jauh tetapi dekat, bahkan sangat dekat dan menerangi kita semua. Dan
seperti juga Sang Surya yang menerangi kita tetapi tak tercemar oleh
perbuatan kita, maka Sang Atman pun tak pernah tercemar atau ternoda
oleh perbuatan-perbuatan kita yang buruk atau terpengaruh oleh
perbuatan-perbuatan yang baik.
Suatu saat, Sokrates, seorang filsuf terkenal dari Yunani di masa lalu,
pernah ditanya oleh salah seorang muridnya tentang ‘kebaikan,’ yang
selalu diajarkan Sokrates kepada murid-muridnya, dan Sokrates menunjuk
kepada matahari sebagai suatu contoh dari ‘kebaikan’ yang selalu hadir
dari masa ke masa, dari waktu ke waktu, tetapi tak pernah tercemar oleh
bumi dan manusia. Mungkin pemikiran atau ajaran Sokrates ini pun baik
untuk kita renungkan untuk lebih menghayati akan kebesaran dan
kehadiran Sang Atman dalam diri kita. Sang Surya selalu bersinar tanpa
bosan-bosannya demi alam yang harus ditunjangnya. Bukankah Yang Maha
Esa itu Sendiri bersifat atau berkarakter demikian juga, selalu
mengasihi tanpa bosan-bosannya dan tanpa henti-hentinya kepada kita
semuanya, walaupun sering sekali kita tersesat dalam perjalanan hidup
kita ini. Tetapi Ia Maha Penunjang dan Penuntun kita semuanya. Om Tat
Sat.
34. Mereka yang melihat perbedaan antara ladang dan Sang Pengenal
Ladang ini, dengan mata kebijaksanaan, dan yang sadar bagaimana
makhluk-makhluk maupun benda-benda dapat lepas dari Prakriti - bebas
dari bentuk alam - mereka benar-benar pergi ke Yang Maha Agung dan Suci.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi,
Karya-Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka bab
ketiga-belas ini disebut:
Kshetra Kshetragna Vibhaga Yoga Atau Ilmu Pengetahuan tentang Perbedaan antara Ladang dan Sang Pengenal Ladang.

Bab 14 - Penguasaan Atas Ketiga Sifat
Bersabdalah yang maha pengasih
1.Sekali lagi akan Ku sabdakan kepadamu kebijaksanaan Yang Suci dan
Agung –kebijaksanaan yang terbaik dari semua kebijaksanaan- mengetahui
hal mana, para resi kemudian menuju kearah kesempurnaan yang paling
tinggi.
2.Berlindung pada kebijaksanaan ini, mereka lalu bersifat sama dengan
Ku. Mereka tidak lahir pada waktu penciptaan dan tidak binasa pada
waktu penghancuran (kiamat).
Sang Kreshna di Bab ini menguraikan mengenai pengetahuan tentang ketiga
guna (sifat-sifat alami), kemudian hubungan guna ini dengan prakriti
dan penguasaan atas guna ini oleh para resi dan orang-orang suci di
zaman dahulu kala. Dengan menguasai ketiga guna ini maka akan
tercapailah kebijaksanaan yang agung dan suci dari hidup ini. Dan
dengan mencapai kebijaksanaan ini para resi dan orang-orang suci itu
telah mencapai kesempurnaan yang agung dan suci yang disebut nirvana
atau pari-nirvana.
Berlindung dibawah kebijaksanaan ini para orang-orang suci ini lalu
diberkahi oleh yang maha esa sifat-sifat identik dari diri Sang Kreshna
dan merekapun lalu tumbuh dan hidup dalam bentuk Sang Kreshna yang suci
dan agung. Inilah hasil mengikuti dengan setia dan penuh dedikasi
ajaran-ajaran Sang Kreshna. Dengan kata lain mereka ini, para
orang-orang suci, berasimilasi dengan sari atau inti Sang Kreshna itu
sendiri; atau dengan bahasa singkat dan sederhana, menyatu dengan Sang
Kreshna.
Dan sekali bersatu denganNya, mereka ini lepas dari kehidupan duniawi
ini, lepas juga mereka ini dari siklus lahir dan mati yang
berulang-ulang, bahkan penciptaan dan penghancuran kehidupan-kehidupan
berikutnyapun mereka tidak diikut sertakan lagi karena dianggap Yang
maha Esa mereka ini telah mencapai status pari-nirvana, yaitu menyatu
denganNya kembali secara abadi. Om Tat Sat.
3.KandunganKu adalah Sang Brahma yang agung; dan disitu aku letalkan
benih ini, dari kandungan ini lahirlah setiap benda dan mahluk, Oh
Arjuna.
4.Dalam setiap kandungan apapun juga, lahir berbagai bentuk kehidupan,
Oh Arjuna, dan Sang Brahma Agung adalah kandungan mereka ini, dan Aku
adalah Sang Ayah yang menabur benih-benih ini.
Yang dimaksud dengan Sang Brahma Agung di sini adalah mahad-brahma,
yaitu Sang Maya yang juga diibaratkan atau disamakan dengan kandungan
di mana Sang Kreshna sebagi seorang Ayah menaburkan benih-benihNya,
yang kemudian tumbuh menjadi berbagai bentuk ciptaan-ciptaanNya.
Mahad-Brahma atau Sang Brahma yang agung ini juga sama dengan Prakriti
atau alam ini, dan Sang Kreshna adalah Ayah atau Bapak dari setiap
benih yang ditaburkanNya. Jadi hanya Ia yang dapat menentukan lahirnya
seseorang atau makhluk atau benda di alam semesta ini dan ingat di
dalam setiap ciptaanNya terdapat Sang Jiwa atau juga benih kehidupan
yang bersal dariNYa. Dan menurut Bhagawat Gita, maka benih yang
ditaburkan ini berasal dari Sang Kreshna, Yang Maha Esa, jadi dengan
kata lain dalam setiap ciptaanNya hadir sebagian dari Yang Maha Esa,
atau Yang Maha Esa itu sendiri ada di dalam setiap Ciptaan-ciptaanNya
Sendiri. Sayang sekali, kita manusia sering sekali lupa bahwa kita
berasal dari benih Yang Agung dan Suci, dan kita lebih suka tenggelam
dalam alur kehidupan duniawi ini, dalam kandungan Sang Maya itu
sendiri. Padahal Sang Maya atau Prakriti ini hanyalah alat yang
mengandung kita dan menumbuhkan kita agar kita tumbuh dan lahir untuk
kembali kepadaNya lagi. Bukanlah itu maksud dan tujuan Yang Maha Esa,
tetapi kita diberikan kebebasan untuk memilih maka kebanyakan kita
memilih untuk terus tinggal di dalam kandungan Sang Maya yang penuh
ilusi kenikmatan, padahal itu semua berada di dalam kegelapan.
Pikirkanlah dengan seksama, bukankah kita semua harus kemnbali dan
berbakti pada Ayah kita Yang Agung dan Suci dan menyatu kembali
denganNya? Pikirkanlah secara seksama dan menurut hati-nurani anada
mana yang benar dan mana yang salah? Dengan kasih Sang Ayah yang suci
dan Agung ini pasti kita akan dituntun kembali kepadaNya. Om Tat Sat.
5. Ketiga kualitas (guna), yaitu sattva, raja dan tama lahir dari
Prakriti. Mereka ini mengikat erat di dalam raga, Oh Arjuna, Yang Tak
Terbinasakan yang bersemayam di dalam raga.
Ketiga guna atau kualitas alami ini yang lahir dari Prakriti dan
merupakan sifat-sifat dominan dari Sang Prakriti itu sendiri, selalu
hadir dalam diri kita. Setiap tindakan kita sebenarnya didasarkan pada
ketiga sifat Prakriti ini, dan ketiga sifat ini sedemikian dominannya
di dalam raga kita sehingga diibaratkan mengikat Sang Atman (Yang Tak
Terbinasakan) yang bersemayam di dalam diri kita. Ikatan erat ini
begitu gelap sifatnya, sehingga kita yang sudah mabuk duniawi ini tidak
dapat melihat Sang Atman yang sebenarnya hadir bercahaya terang di
dalam diri kita sendiri.
6. Diantara sifat-sifat ini, sattva, karena kesuciannya, membawa
penerangan dan kesehatan. Sifat ini mengikat dengan ikatan kebahagiaan
dan ikatan ilmu pengetahuan, oh Arjuna.
Apakah sattva itu? Sattva adalah sifat-sifat kesucian atau kemurnian
atau penerangan. Tetapi walaupun disebut kemurnian toh sifat ini dapat
mengikat jiwa kita ke raga dan menimbulkan keterikatan. Sifat sattva
membuat kita selalu berorientasi pada tindakan-tindakan yang baik dan
pencarian ilmu pengetahuan yang benar. Tetapi sering sekali sattva pun
mengarahkan kita kepada keterikatan-keterikatan dalam bentuk ilmu
pengetahuan ini sehingga terikatlah seseorang pada pikiran-pikiran,
analisis dan metode-metode dan lain sebagainya, dan semua ini menjadi
tujuan ilmu pengetahuan mereka yang mempelajarinya, bukan jalan untuk
mengenalNya, Yang Maha Pencipta. Semua ini membuat seseorang yang
bersifat Sattva terikat pada pekerjaan dan kebaikan-kebaikannya, tetapi
tidak membuat orang-orang ini berorientasi kepada Yang Maha Esa secara
murni, padahal sifat dasar mereka ini sattvik.
Di dunia barat misalnya banyak terdapat ilmuwan yang bersifat sattvik,
tetapi tujuan mereka hanya terpusat pada ilmu pengetahuan itu dan
pemecahannyasecara ilmiah saja, mereka sama sekali tidak berpikir
tentang Yang Maha Esa, Sang Pencipta ilmu-ilmu ini. Sebaliknya di
timur, Yang Maha Esa masih manjadi tujuan atau akhir dari semua ilmu
pengetahuan ini, sehingga tidak mengherankan kalau pada abad modern
dewasa ini masih banyak orang yang dianggap pandai atau terpandang
melepaskan jabatan mereka dan terjun ke dunia spiritual dan melepaskan
semua ikatan-ikatan dan unsur-unsur duniawi mereka untuk mencari
penerangan ilahi. Mereka ini benar-benar jalan dengan sifat-sifat
sattva dan mengarahkan sifat-sifat suci ini untuk tujuan yang mulia dan
tak mau terikat oleh sifat-sifat ini. Dengan kata lain, sifat-sifat
sattva ini hanyalah alat-alat belaka bagi orang-orang suci ini.
7. Ketahuilah olehmu, oh Arjuna, bahwa sifat raja, yang berciri
emosional ini adalah sumber dari keterikatan dan rasa tak puas. Dan
sifat raja ini mengikat jiwa yang ada di dalam raga dengan
keterikatan-keterikatan aksi atau perbuatan.
Sifat-sifat raja adalah energi, mobilitas, emosi dan raja juga berati
keinginan atau kehausan untuk hidup. Dengan kata lain, sifat raja dapat
diartikan energi yang penuh dengan keinginan dan nafsu-nafsu yang tak
terpuaskan. Sifat ini adalah anak dari nafsu-nafsu yang kuat dan juga
dari keterikatan itu sendiri. Raja mengikat kita, mengikat jiwa kita
erat-erat ke Sang Prakriti melalui aktivitas dan aksi.
Di kala seseorang penuh dengan keserakahan atau penuh dengan
kegelisahan eksternal yang dikarenakan aktivitas-aktivitasnya, maka
dapat dipastikan sifat-sifat raja sedang berkuasa atas diri orang itu.
Seseorang yang amat aktif, ambisius dan penuh semangat kerja atau daya
juang yang tinggi untuk kebutuhan-kebutuhan duniawinya juga menunjukan
sifat-sifat raja yang sedang dominan dalam dirinya.
Seseorang yang bersifat raja atau rajasik ini bekerja keras bagi
dirinya sendiri, bukan untuk Sang Kreshna atau Yang Maha Esa. Ia ingin
selalu berkuasa atau berpengaruh atas orang-orang disekitarnya. Seorang
dengan sifat raja ini penuh dengan aksi, inisiatif, ambisi pribadi yang
tinggi dan penuh dengan keresahan. Sebaiknya jika ia ingin keluar dari
lingkaran raja ini, maka cara terbaik adalah bertindak, bekerja,
beraksi atau berbuat demi Sang Kreshna atau Yang Maha Esa semata tanpa
pamrih. Tetap bekerja apa saja sesuai dengan profesi dan kewajibannya,
tetapi demi Yang Maha Esa, pekerjaannya kemudian dengan cara ini akan
berubah menjadi yagna.
8. Tetapi sifat tama (kegelapan total yang penuh kekacauan) ketahuilah
olehmu, lahir dari kebodohan dan adalah sifat yang memperbodoh jiwa.
Sifat ini mengikat dengan ketidakperdulian, kemalasan dan tidur, oh
Arjuna.
Sifat-sifat tama bukanlah bersifat energi atau penerangan, atau
aktivitas atau kesucian. Sebaliknya adalah sifat-sifat kemalasan, ilusi
kosong dan kebodohan yang berkepanjangan sifatnya. Sifat ini mengikat
jiwa seseorang dengan kebodohan, kemalasan, dengan ketidak-acuhan
terhadap setiap hal yang positif. Dengan kata lain di mana terlihat
kegelapan total dalam diri seseorang maka sudah pasti sifat tama sedang
berkuasa.
Seseorang yang bersifat tama hidup tak ubahnya seperti binatang saja.
Ia makan, tidur, minum dan memenuhi hasrat-hasrat raganya saja dari
saat ke saat. Tidak ada idealisme atau cita-cita dalam dirinya. Ia
malas, bodoh, tak perduli dan selalu tak acuh pada hal-hal yang
bersifat baik. Tetapi sifat tama ini juga bisa didobrak dan seseorang
yang terjerat dalam lingkaran kebodohan ini dapat keluar juga. Caranya
adalah dengan berdharma bakti kepadaNya semata, meminta perlindunganNya
semata dan bekerja tanpa pamrih untuk Yang maha Esa. Sang Bayu (angin)
tidak saja merambah dan bertiup diantara dedaunan pohon-pohon yang
besar dan tinggi saja, tetapi Sang bayu juga bertiup diantara
rerumputan liar dan kecil yang berada di bawah pohon-pohon besar ini.
Yang penting adalah kemauan kita sendiri untuk merasakan tiupan ini,
merasakan kehadiranNya diantara kita semuanya dan mau mengikuti
ajaran-ajaranNya.
9. Sattva mengikat (seseorang) kepada kebahagiaan, raja mengikat kepada
aksi, oh Arjuna. Dan sifat tama membungkus kebijaksanaan, mengikat
seseorang kepada ketidak-perdulian.

10. Sewaktu sattva berada diatas raja dan tama, maka berkuasalah
sattva, oh Arjuna! Di kala raja berada diatas sattva dan tama, maka
berkuasalah raja. Dan di kala tama berada diatas sattva dan raja, maka
berkuasalah tama.
11. Di kala sinar kebijaksanaan mengalir keluar dari semua gerbang sang
raga, maka ketahuilah bahwa sattvalah yang berkuasa, oh Arjuna!

12. Di kala keserakahan, aktivitas eksternal, ambisi untuk bekerja,
keresahan, nafsu-nafsu iri terlihat jelas, ketahuilah bahwa rajalah
yang berkuasa, oh Arjuna!

13. Di kala kegelapan, non-aksi ketidakperdulian dan kegelapan
terlihat jelas, ketahuilah bahwa tamalah yang berkuasa, oh Arjuna!
14. Kalau seseorang meninggal dunia di kala sattva berkuasa didalamnya,
maka ia akan pergi ke loka-loka yang tak ternoda di mana tinggal mereka
yang mengenal Yang maha Tinggi.
Seorang sattvik, setelah meninggal dunia maka jiwanya akan pergi ke
loka-loka yang tak ternoda oleh dosa-dosa dan kebodohan. Tetapi ia
masih harus bekerja keras untuk mencapai Yang Maha Esa. Karena setelah
habis karmanya di tempat-tempat ini (Devachana), ia harus kembali lagi
ke dunia ini, tetapi ia akan lahir di tengah-tengah keluarga pencinta
Yang Maha Esa, dan jalan ke arahNya akan makin lembut saja sesudah itu.
15. Meninggal dunia sewaktu sifat raja masih berkuasa, maka orang itu
akan lahir diantara orang-orang yang terikat pada aksi; dan sekiranya
seseorang meninggal dunia sewaktu sifat tama masih berkuasa maka ia
akan lahir di dalam kandungan-kandungan yang tak berindra.
Yang tak berindra disini mungkin dimaksudkan dengan ciptaan Yang Maha
Kuasa seperti pepohonan, tumbuh-tumbuhan atau juga jenis
makhluk-makhluk lainnya yang tak memiliki ratio dan intelektual.

16. Hasil dari perbuatan sattvik disebut harmonis dan suci, hasil
dari sifat raja disebut penderitaan dan hasil dari sifat tama adalah
kedunguan dan kebodohan.
Setiap pekerjaan maupun tindakan yang dibuat dalam pengaruh sattva akan
lepas dari noda-noda dan dosa-dosa. Sedangkan setiap pekerjaan dibawah
pengaruh sifat raja akan menghasilkan dhuka, yaitu efek yang penuh
dengan penderitaan. Dan setiap tindakan atau perbuatan di bawah
pengaruh tama akan membuahkan yang lebih buruk dari penderitaan, yaitu
kebodohan atau kedunguan (agnana), yang berarti menjadi lebih jauh lagi
dari Yang Maha Esa.
17. Dari sattva lahirlah ilmu pengetahuan, dari raja lahir keserakahan,
dan dari tama lahir sifat acuh tak acuh, kemalasan dan agnana
(kebodohan).
18. Mereka yang telah tegar dalam sattva menanjak ke atas; mereka yang
dalam raja berdiam di tempat yang paling tengah; dan mereka yang
bersifat tama pergi kebawah terikat pada sifat-sifat paling rendah.

19. Bila seseorang yang melihat, menyadari bahwa tidak ada unsur
yang lain selain ketiga guna ini dan mengenal Ia yang hadir di atas
ketiga guna ini, ia akan masuk ke dalam diriku.
20. Bila seseorang (jiwa yang terbungkus oleh raga ini) telah melampaui
ketiga guna ini –di mana semua bentuk raga diproduksi—maka ia
benar-benar lepas dari kelahiran dan kematian, dari usia tua dan
penderitaan, ia lalu meneguk air kehidupan yang abadi (tak dapat binasa
lagi).
Di sloka-sloka di atas ini tersirat pesan Sang Krishna bagi Arjuna dan
kita semuanya, yaitu kuasailah ketiga sifat ini, dan jadilah seorang
yang sadar atau yang dapat melihat dengan jelas dan benar. Seorang yang
melihat atau sadar ini melihat (a) bahwa keterbatasan dari semua unsur
duniawi ini dapat dicapai jika seseorang benar-benar sadar bahwa hanya
ketiga sifat guna itu sajalah yang sebenarnya bertindak, bekerja,
beraksi atau berbuat dan bukan Sang Atman yang bersemayam di dalam diri
kita bahkan bukan raga kita juga, dan (b) bahwa ada Ia yang lepas dari
semua unsur–unsur Prakriti ini, Yang Maha Suci dan Agung. Ia lebih
tinggi sifatNya dari ketiga guna ini yang sebenarnya lahir dari
Prakriti, dan dari ketiga guna ini lahirlah bentuk-bentuk dan
sifat-sifat alam, raga-raga kita dan juga makhluk-makhluk lainnya yang
tak terbilang banyak jumlah dan ragamnya.
Orang-orang yang bijaksana yang telah menyeberangi ketiga guna ini
malahan dapat mengendalikan sifat-sifat ini pada diri mereka, karena
mereka telah sadar bahwa sifat-sifat inilah penyebab semua tindakan dan
perbuatan baik dan buruk di dunia ini, sedangkan Sang Atman hanya
bertindak sebagai saksi saja di dalam raga kita masing-masing. Mereka
ini oleh Sang Kreshna diibaratkan sebagai yang telah meminum air
keabadian dan tak perlu lagi menjalani kehidupan dan kematian lagi.
Mereka telah bersatu di dalamNya secara abadi.
Berkatalah Arjuna:
21. Apakah ciri-ciri dari seseorang yang telah melampaui ketiga guna
ini? Bagaimana cara hidupnya? Dan bagaimana caranya ia melampaui ketiga
guna ini?
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
22. Seseorang yang tidak menghindar (atau menolak) cahaya (pengetahuan)
atau aktivitas atau kebodohan di kala faktor-faktor ini timbul, dan
tidak mengharapkan faktor-faktor ini di kala tidak hadir.
23. Seseorang yang duduk tanpa khawatir tak terusik oleh guna,
terpisah, tanpa goyah, dan mengetahui bahwa hanya guna-guna ini yang
bertindak.
24. Seseorang yang merasakan kenikmatan dan penderitaan adalah serupa,
yang terpusat pada Sang Atman, dan baginya tanah liat atau batu ataupun
emas adalah satu, yang sama kepada yang dicintainya dan yang tidak
dicintainya, yang jalan pikirannya tak goyah, yang bersikap sama di
kala terhina dan dalam kemasyuran.
25. Yang memandang sama rata akan rasa dihormati dan tidak dihormati,
dan yang bersikap sama terhadap sahabat dan musuhnya, yang telah
melepaskan semua ambisi—orang ini disebut telah melewati semua
guna-guna ini.
Seseorang yang telah melewati, melampaui atau mengatsi ketiga guna
(sifat-sifat Prakriti) akan berubah cara hidup dan cara berpikirnya. Ia
akan menjadi ibarat seorang tuan atau majikan yang sudah dapat
menguasai atau memperalat sifat-sifat alam ini, dan tanda-tanda atau
ciri-ciri orang ini adalah:
a. Ia bersikap sama saja kepada ketiga sifat-sifat atau kualitas
Prakriti ini di kala sifat-sifat ini hadir dan sedang beraksi baik
dalam dirinya maupun dalam diri orang lain, karena ia sadar bahwa
setiap sifat ini mempunyai evolusi atau naik turunnya sendiri.
b. Ia tak terganggu atau terusik oleh efek atau hasil atau karma dari
setiap tindakan, apakah itu tindakan baik maupun tindakan buruk. Ia
sadar bahwa setiap perbuatan atau aktivitas adalah milik guna-guna ini,
milik dan merupakan alat permainan sang Prakriti. Baginya alam dan
sifat-sifatnya selalu sedang bekerja dan ia sendiri sedang duduk di
tengah-tengahnya, merasa tak asing tetapi juga tak khawatir. Tak dapat
ia digoyahkan dari jalan pikirannya ini oleh sifat-sifat Prakriti.
”Hanya sifat-sifat ini saja bergerak” katanya, dan ”semua objek adalah
benda-benda mainan yang dipermainkan oleh guna-guna ini”. Ia merasakan
dirinya sebagai musafir yang sedang melakukan perjalanan atau
pekerjaannya saja di dunia ini, ibarat mimpi yang tak dapat mengganggu
mereka yang tidak tidur, maka guna atau sifat-sifat inipun tidak dapat
mengganggu sang musafir ini, yang tenang dengan tugas atau
perjalanannya kearah Yang Maha Esa.
c. Baginya setiap benda, makhluk dan kejadian adalah hal yang sama atau
satu sifatnya. Ia Bersikap selalu sama rata terhadap hal-hal,
kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman yang berlawanan seperti
suka-duka, panas-dingin, teman-musuh, penghormatan penghinaan,
cinta-benci dan lain sebagainya. Emas atau tanah liat baginya sama saja
nilainya, sama-sama ciptaan Yang Maha Esa yang tak ada bedanya dan
mempunyai fungsi masing-masing di dunia ini, tidak lebih tinggi dan
tidak lebih rendah.
d. Ia tidak berambisi lagi dengan tujuan-tujuan tertentu dalam
melakukan pekerjaannya. Baginya setiap aksi, perbuatan, tindakan dan
pekerjaan adalah dharma baktinya kepada Yang Maha Esa, yang tidak
diiringi oleh pamrih sama sekali. Baginya pekerjaan apapun sama saja
kadar atau sifatnya, tidak ada yang lebih agung dan tidak ada yang
lebih hina, apapun jenis pekerjaan itu harus didedikasikan secara tulus
dan tanpa pamrih kepada Yang Maha Esa semata.
26. Seseorang yang mengabdi kepadaKu dengan dedikasi yang tanpa pamrih,
melampaui semua sifat-sifat alami ini dan bersatu dengan Sang Brahman.
Apakah caranya agar seseorang dapat melampaui ketiga guna ini dan
bersatu dengan Yang Maha Esa, Yang Maha Abadi. Caranya: (a) pengabdian
yang terus-menerus tanpa henti dan tanpa pamrih, dan (b) mengabdi
kepadaNya dengan cinta kasih yang tulus. Dalam cinta kasih terhadapNya
yang tulus ini dan tanpa henti ini maka secara lambat laun ia akan
menyatu dengan yang dikasihiNya, dan ia sendiri berubah menjadi nol
untuk dirinya sendiri, tetapi menjadi Satu dengan Yang Maha Esa. Ini
disebut Atma-Svarupa, yaitu menyatu dengan Sang Kreshna dan bersatu
dengan Yang Maha Esa. Om Tat Sat.
27. Karena Akulah tempat bersemayam Sang Brahman, Air Kehidupan Abadi
yang tak ada habis-habisnya. Akulah fondasi dari kebenaran yang abadi
dan sumber dari keberkahan yang tak ada akhirnya.
Mengasihi atau mencintai Sang Kreshna adalah upaya untuk menyatu dengan
Sang Brahman, karena Sang Kreshna dan Sang Brahman adalah Satu. Kreshna
itu Brahman, dan Brahman itu Kreshna. Sang Kreshna adalah sumber dari
(a) keabadian dan (b) Hukum Dharma (Hukum Kebenaran) yang abadi dan (c)
berkah yang tak ada duanya dan tak kunjung berakhir—keberkahan yang
absolut. Sekali lagi Sang Kreshna menegaskan bahwa Ia lah Sang Brahman
yang menitis menjadi Kreshna (manusia utama) karena kasihNya kepada
para pemujaNya. Sang Kreshna adalah manifestasi dari Sang Brahman,
Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Agung dan Suci. Om Tat Sat.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, karya
sastra yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, bab ini adalah yang
keempat-belas dan disebut:
Guna Traya Vibhaga Yoga atau Yoga mengenai Perbedaan Ketiga Sifat Alam.
Bab 15 - Pohon Dunia
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
1. Dengan akar-akarnya yang tumbuh ke atas dan cabang-cabangnya yang
menurun, Ashvattha (pohon beringin yang abadi) ini dikatakan sebagai
yang tak dapat dihancurkan. Dedaunannya adalah mantra-mantra Veda.
Seseorang yang kenal akan pohon ini, kenal akan Veda-Veda.
Di sini Sang Kreshna menerangkan atau menggambarkan Prakriti (kosmos,
alam semesta, atau dunia) sebagai pohon beringin yang abadi, yaitu
Ashvattha. Kata Asvattha berarti ‘tidak stabil’ atau ’selalu bergoyah.’
Pohon ini dipercaya oleh orang-orang Hindu sebagai sebuah pohon
beringin yang mempunyai akar-akar yang tumbuh ke atas, dan
cabang-cabangnya tumbuh ke bawah. Sebenarnya bukahkah dunia ini sama
saja ibarat pohon beringin ini, yang abadi tetapi selalu tak pernah
stabil, karena ia lahir dari Sang Maya. Akar-akar pohon ini tumbuh ke
atas, ini diartikan terpusat kepada Yang Maha Esa. Jadi dunia atau alam
kosmos atau Prakriti atau Sang Maya adalah ibarat pohon beringin yang
tak stabil ini, yang sebenarnya terpusat atau berakar pada Yang Maha
Esa, Yang Maha Abadi dan Stabil. Yang Maha Abadi inilah sebenarnya
Unsur Yang Abadi dan Stabil dan bukan alam semesta dengan segala
efek-efeknya. Tetapi hanya manusia yang penuh dengan vairagya (lepas
dari keterikatan duniawi) saja yang dapat melihat ‘pohon-dunia’ ini di
dalam Yang Maha Esa dan sadar bahwa dunia ini sebenarnya berakar atau
terpusat pada Yang Maha Pencipta dan Abadi.
Akar-akar pohon ini adalah Sang Maya, pohon beringin adalah Prakriti
atau alam kosmos ini, dan tempat akar pohon ini berasal adalah Yang
Maha Esa. Daun-daun dari pohon ini adalah mantra-mantra Veda-Veda.
Dedaunan yang rindang ini diartikan sebagai ilmu pengetahuan sejati
atau kasih Yang Maha Esa yang memberikan naungan atau keteduhan kepada
mereka-mereka yang ingin berlindung dibawah pohon beringin yang rindang
ini. Dengan kata lain dalam perjalanan hidup di dunia ini, kita semua
dapat mencari keteduhan dan perlindungan dengan mempelajari
mantra-mantra atau ajaran-ajaran Veda, ajaran atau pikiran-pikiran
agung para resi dan orang-orang suci pada masa-masa yang telah lama
silam, ajaran-ajaran ini tercakup dalam Veda-Veda dan kitab-kitab suci
lainnya.

2. Ke bawah dan ke atas tersebar cabang-cabang pohon ini. Pohon ini
mendapatkan sarinya dari guna-guna. Obyek-obyek indra adalah
putik-putiknya. Menurun ke bawah, tumbuh lagi akar-akarnya yang lain,
akar-akar ini menjadi pengikat setiap tindakan di dunia manusia ini.
Pohon ini mempunyai banyak cabang yang tumbuh ke atas dan juga tumbuh
ke bawah. Cabang-cabang ini diartikan sebagai jiwa-jiwa Cabang-cabang
yang mencuat ke atas adalah para dewa, yang ke bawah adalah manusia,
fauna, flora, reptil, serangga, dsb. Semua cabang-cabang ini
mendapatkan hidupnya dari sari atau makanan, dan makanan ini adalah
air, udara, dan lain sebagainya. Yang disebut sari atau makanan ini
adalah ketiga guna (sifat-sifat alam dari Prakriti). Sayang sekali kita
manusia sering sekali atau setiap kali lebih tertarik akan sari atau
makanan pohon kehidupan ini dan tidak sadar akan fungsi akar-akar yang
ke atas yang terpusat pada Sang Pencipta. Kita lebih tertarik atau
terikat pada guna, padahal itu hanyalah makanan atau penunjang dari
cabang-cabang dari pohon kehidupan ini. Subyek utamanya malahan
terlepas dari perhatian kita, karena enak dan nikmatnya makanan ini.
Sang Pohon ini juga memiliki putik-putik bunga dan ini diartikan
sebagai obyek-obyek luar atau eksternal (vishaya). Pohon beringin
kehidupan ini juga mempunyai bentuk akar-akar yang lain yang menjuntai
ke bawah. Akar-akar ini menurun dan mengikat pohon ini ke tanah.
Akar-akar yang ke bawah ini diartikan sebagai vasana, trishna,
raga-dvesha, semuanya ini adalah keinginan-keinginan dan nafsu-nafsu
duniawi dan badani, yang mengikat pohon atau kehidupan ini pada karma
(aksi) dan hukum-karmanya, mengikat kita semua pada kelahiran dan
kematian yang tak ada henti-hentinya. Akar-akar yang tersembunyi di
dalam tanah ini (vasana) mengikat manusia dunia ini ke dalam
lingkaran-lingkarannya yang tak ada putus-putusnya.

3. Di sini tak dapat dibedakan bentuk asli Pohon ini, juga tidak
akhir, asal, dan dasarnya. Tertancap kuat pohon Ashvattha ini. Tebaslah
pohon ini sampai tumbang dengan senjata tak-keterikatan.

4. Dengan begitu dikau akan meniti jalan ke mana tak ada jalan
kembali, dan dengan begitu dikau akan mencapai Yang Maha Utama Yang
dariNya terpancar keluar Proses Kosmos ini (energi yang telah ada
semenjak masa yang amat silam).
Sayang manusia tidak melihat atau menyadari Pohon ini secara
keseluruhannya, dan tak mengerti akan kepentingan pohon ini. Manusia
lebih terserap kepada daun-daunnya, pada buah-buah dan putik-putiknya,
dengan kata lain manusia terjebak pada rasa manis dan kenikmatan yang
dikeluarkan pohon ini dan langsung terjebak di dalamnya, dalam ilusi
duniawi. Pohon ini sendiri tampaknya tidak bermula dan tak ada
akhirnya; siapa pula yang akan pernah tahu akan asal-mulanya dan
akhirnya? Bukankah Pohon ini berasal dari Sang Maya? Tetapi Sang Maya
ada asal dan akhirnya, yaitu Yang Maha Pencipta. Sedangkan Sang Maya
atau pohon Kehidupan ini sebenarnya hanyalah pantulan atau ilusi. Dan
selama kita sibuk berkelana di hamparan luasnya pohon kehidupan ini,
selama itu juga kita akan sesat di dalamnya tanpa jalan keluar karena
begitu luas dan banyaknya jalan-jalan yang salah di dalamnya
seakan-akan tanpa akhir. Maka di situ-situ juga kita akan berkelana
tanpa pernah tahu akan hal-hal yang berada di luar itu, yaitu Sang
Empunya pohon ini. Jalan satu-satunya untuk keluar dari pohon ini
adalah menebasnya sama-sekali dan jalan atau metode ke arah penebasan
ini adalah dengan menebas rasa keterikatan duniawi kita secara total
dan pasrahkan hasilnya kepada Sang Kreshna, kepada Yang Maha Esa, dan
la akan menyelamatkan kita semua dan menyatukan yang menebas pohon
kehidupan ini, denganNya. Jalan ketidakterikatan duniawi ini
berulang-ulang ditekankan dalam Bhagavat Gita karena inilah faktor yang
amat vital untuk menyadari atau menyingkapkan kebodohan kita, agar
terbuka ilmu pengetahuan yang sejati, ilmu tentang arti dan hakikat
dari kehidupan ini yang sebenarnya, agar tercapailah kesatuan antara
kita denganNya, yang menjadi tujuan utama mengapa kita dilahirkan
sebagai manusia yang berakal-budi, tidak seperti ciptaan-ciptaan yang
lainnya yang berbentuk fauna, flora dan benda-benda tak bergerak.
“Seseorang yang dirinya tak terikat pada obyek-obyek luar, mendapatkan
kebahagiaan yang ada di dalam dirinya sendiri,” kata Bhagavat Gita, dan
lagi, “Seseorang yang telah melepaskan semua keinginan, dan hidup bebas
dari keterikatan, mendapatkan ketenangan.”
Kebebasan dari keterikatan adalah penting dan perlu dihayati bagi
seseorang yang ingin kenal dengan Yang Maha Esa, karena ini sudah
merupakan syarat yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, dan kebebasan
dari keterikatan ini harus dilaksanakan secara sadar dan tulus dan
tidak dapat dibuat-buat. Sang Jiwa di dalam raga kita harus disadarkan
dari ilusinya dan sang jiwa ini (bukan Sang Atman yang bersemayam di
dalam jiwa ini!) harus melepaskan keterikatannya akan uang,
harta-benda, berbagai miliknya seperti rumah, keluarga, negara, posisi,
kedudukan, kemasyhuran dan sebagainya. Bukan berarti semua ini harus
diabaikan atau ditinggalkan tanpa tanggung-jawab, tetapi rasa memiliki
semua itu harus ditanggalkan, dan orang ini harus hidup secara amat
sederhana saja, dengan merasa semua itu hanyalah titipan atau ilusi
yang dapat datang dan pergi setiap saat. Bukankah agama-agama besar
lainnya juga menyiratkan hal yang sama, bahwa harta-benda duniawi ini
sebenarnya hanyalah pengikat jiwa kita ke dunia ini, dan selama jiwa
kita terikat pada dunia ini, bagaimana mungkin sang jiwa membersihkan
dirinya agar menjadi suci dan bersih dan mengenal Tujuannya Yang Sejati?
Jadi usahakanlah semaksimal mungkin untuk tidak terikat kepada dunia
atau pohon kehidupan ini, bekerjalah demi dharma-bhakti kita kepadaNya
semata. Hidup dan bekerjalah demi Ia semata dengan motto atau semboyan,
“Aku ini sebenarnya tak memiliki apa-apa, dan aku ini sebenarnya bukan
apa-apa.” Dengan menjadikan diri kita nol-besar dan tak memiliki apapun
juga di dunia ini, maka akan turunlah Berkah Yang Maha Besar, yang
kemudian akan menuntun pemuja ini ke arahNya yang abadi dan pasti. Ia
hanya dikenal oleh mereka yang tak memiliki apapun di dunia fana ini
selain dari DiriNya Yang Sejati. Cobaan yang maha berat sebenarnya
bukan harta-benda, milik atau rasa hormat atau pun keluarga, tetapi
adalah diri kita sendiri. Pengorbanan atau tak-keterikatan yang sejati
sebenarnya adalah pemasrahan total dari diri kita sendiri. Kita mungkin
bisa tak terikat pada harta-benda duniawi, tetapi selama kita belum
melepaskan rasa ego kita, maka jalan kepadaNya masih terasa amat jauh
atau bahkan nampak sia-sia saja. Kata seorang sufi yang suci, “Percuma
saja mengganti baju dan cara makanmu, percuma saja engkau menyantap
sehelai rumput selama hidupmu atau hanya memakai sehelai baju selama
hidupmu, atau mengasingkan dirimu jauh dari masyarakat kalau engkau
masih terbius oleh ego juga. Rasa ego sebenarnya juga salah satu
keinginan atau nafsu diri yang amat licik dan lincah mempermainkan dan
menipu seseorang.” Seseorang yang benar-benar tak terikat pada dunia
ini adalah yang secara lahir dan batin telah berpasrah total kepadaNya.
Orang semacam ini tak meminta atau bernafsu apapun juga, ia hanya
menerima apa yang diberikan oleh Yang Maha Esa, ia hanya menerima semua
kehendak Yang Maha Esa secara utuh dan tulus dan merasa puas dengan apa
saja yang diterimanya. la selalu berdoa kepada Yang Maha Kuasa, “Tuhan,
Engkau Maha Tahu, akan apa terbaik dan pantas untukku.” Om Tat Sat.
Seseorang pernah bertanya kepada seorang sufi mistik yang bernama
Junayd Baghadi, agar memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, supaya sang
sufi dapat melihat Tuhan Yang Maha Esa. Orang itu yakin bahwa Yang Maha
Esa akan memenuhi permintaan sang sufi yang suci ini. Tetapi apa jawab
sufi ini? la berkata dengan tenang, “Aku telah beritikad tidak meminta
atau menginginkan sesuatu. Bukankah Nabi Musa pernah meminta melihat
Tuhan dan doanya tak terkabul, sedangkan Nabi Muhammad mendapatkanNya
tanpa pernah memintanya? Suatu waktu nanti kalau sudah tiba saatnya,
maka Yang Maha Kuasa akan menghapus semua rintangan dan memperbolehkan
aku melihatNya sendiri tanpa aku harus memintanya.” Dengan cara
berpasrah total kepadaNya, tanpa keterikatan duniawi, tebaslah pohon
kehidupan yang penuh dengan ilusi ini, agar tampak Sinar Terang Ilahi
menuntun kita kepadaNya juga. Caranya dengan sekali lagi bertekad untuk
tidak terikat kepada semua unsur atau obyek-obyek duniawi ini dan hanya
berpasrah total kepadaNya dan menerima semua kehendakNya sebagai
pemberian dariNya.

5. Mereka pergi ke Rumah Yang Tak Dapat Dihancurkan, mereka ini tak
memiliki rasa keangkuhan dan rasa moha (cinta-kasih yang mengikat),
yang telah menang dan bangkit atas keterikatan yang baik dan buruk,
yang selalu terpusat pada Sang Adhyatman, yang telah meninggalkan
nafsu-nafsunya, yang telah bebas dari rasa dvandva (rasa dualisme yang
saling bertentangan), dari kenikmatan dan penderitaan.

6. Tiada surya atau pun chandra atau agni yang bersinar di sana;
tiada juga yang setelah sampai di sana kembali lagi. Itulah kediamanKu
yang suci dan agung.
Maka mereka ini pun pergi ke tempat yang tak ada jalan kembali ke dunia
ini. Mereka-mereka ini yang hati dan hidupnya sederhana dan tak
terpengaruh oleh noda-noda duniawi. Mereka yang telah mengalahkan semua
ikatan-ikatan duniawi, nafsu dan emosi, yang hidupnya terfokus atau
terpusat pada Sang Adhyatman, Yang Bersemayam di dalam diri mereka
masing-masing, Sang Atman. Mereka ini hidup di dalam Rumah Abadi Sang
Kreshna, dan di Rumah ini tak diperlukan cahaya mentari, rembulan atau
pun cahaya api untuk meneranginya karena cahaya Sang Kreshna Sendiri
sudah tak tertandingi terangnya di sana.

7. Sebagian dari DiriKu Yang Abadi ditransformasikan dalam dunia
kehidupan, ke dalam jiwa yang hidup, dan menarik melingkupi dirinya
dengan indra-indra yang mana sang pikiran adalah indra yang keenam —
yang terbungkus dalam bentuk benda.
Dalam Pohon Kosmosnya Sang Prakriti terlahir jiwa-jiwa,
individu-individu, dan lain sebagainya. Dan siapakah mereka semua ini
dan juga kita? Setiap jiwa dan setiap makhluk adalah salah satu fragmen
kecil dari Sang Kreshna Yang Maha Esa itu Sendiri, dan setiap fragmen
atau bagian kecil ini timbul atau lahir ke dunia ini sebagai makhluk
atau individu (jiwa-bhuta), sebagai jiwa yang berkelana dalam raga-raga
yang berlainan bentuk dan ragamnya. Ditegaskan di sini bahwa semua
jiwa-jiwa ini baik yang nampak maupun yang tak terlihat oleh mata kita,
berasal dari Sang Kreshna juga, Yang Maha Abadi dan Esa. Inilah
fakta-fakta yang dilupakan oleh manusia, dan manusia kebanyakan
cenderung untuk tenggelam dalam dunia ini dengan segala kenikmatan dan
penderitaannya, tetapi tidak mau mengenali diri dan jiwanya yang agung,
yang merupakan sebuah fragmen dari Yang Maha Esa. Manusia cenderung
mementingkan buah, cabang dari pohon kehidupan ini daripada asal pohon
ini.
Fragmen-fragmen atau jiwa-jiwa ini kemudian diatur sedemikian rupa oleh
Prakriti (Alam) agar terbungkus oleh indra-indra kita yang jumlahnya
semua adalah lima indra organ dan satu indra pikiran. Sang Jiwa ini
kemudian diatur sedemikian rupa sehingga bebas memilih terjerumus ke
dalam nafsu-nafsu duniawi atau menyibak pembungkus Prakriti ini
sehingga dapat melihat Sinar Terang yang sebenarnya ada di dalam
dirinya sendiri, yaitu Sang Adhyatman, Sang Jati Diri, atau Yang Maha
Esa iru Sendiri dalam bentukNya yang kecil. Sang Kreshna adalah Adi
Purusha (Manusia Yang Terutama) di dalam (1) setiap jiwa yang berbentuk
aneka-ragam dan (2) dan sebagai Alam Semesta secara keseluruhan. Ia lah
Sang Jati Diri, Sang Jiwa dalam yang besar dan kecil, dalam alam
semesta dan dalam makhluk-makhluk, roh-roh atau jiwa-jiwa, secara
menyeluruh dalam setiap yang hidup ini. Ia adalah Adhyatman (Sang Atman
Yang Tertinggi, Terutama dan menyeluruh dan sumber dari semua jiwa-jiwa
ini)!

8. Sewaktu Yang Maha Esa (Sang Jiwa) memasuki sebuah raga dan
sewaktu la meninggalkannya, la membawa serta semua indra dan pikiran
ini dan pergi bersama mereka, ibarat sang angin yang menerbangkan
wewangian dari tempat asalnya. (Contoh: wewangian bunga yang terbangkan
jauh dari sang bunga itu sendiri.)
Sang Jiwa yang mengembara di alam kosmos ini dari satu tubuh ke tubuh
yang lainnya, selalu membawa serta semua indra-indra ini dalam tubuh
halusnya. Semua ini kemudian jadi asal-mula karma barunya lagi dalam
kelahiran yang berikutnya.

9. Secara suci bersemayam di telinga, di mata, di kulit dan di
hidung - dan juga di dalam pikiran — la menikmati obyek-obyek sensual.
10. Mereka yang tidak sadar (kurang pengetahuannya) tidak menyadariNya
sewaktu la berpisah atau beristirahat atau merasa, sesuai dengan
kerja-samaNya dengan guna-guna. Tetapi mereka yang memiliki mata
kebijaksanaan dapat melihat.

11. Para yogi pun yang berusaha melihatNya di dalam diri mereka;
tetapi mereka yang tidak sadar, yang tidak bersih, mereka berjuang
tetapi tidak melihatNya.
Bagi mereka-mereka yang bijaksana dan berpengetahuan (dalam agama Hindu
selalu dipergunakan kata berpengetahuan untuk mereka yang sadar akan
Yang Maha Esa dan kata bodoh atau kurang-pengetahuan untuk mereka yang
masih jauh dariNya, dan masih bergelimang akan dosa-dosa. Kata dosa
jarang dipergunakan), maka terlihatlah oleh mereka Sang Atman yang
bersemayam di dalam raga kita dengan menikmati obyek-obyek indra, Ia
terlihat hadir di telinga, di mata, di kulit, di lidah, di hidung dan
di pemikiran (pikiran) kita. Bagi yang masih kurang sadar (agnana),
maka kenyataan ini tidak nampak oleh mereka, walaupun sebenarnya banyak
di antara mereka yang berjuang ke arah Yang Maha Esa. Mengapa begitu?
Karena sebenarnya mereka-mereka ini masih terselimut oleh ego mereka,
sehingga tidak sucilah diri mereka ini. Ingatlah! Sedikit saja ego itu
masih tersisa di dalam diri kita maka masih jauh kita ini dari Yang
Maha Esa, ingat juga walaupun itu ego yang baik sifatnya, selama
namanya masih ego dan bukan demi Yang Maha Kuasa, maka selama itu pula
jauh kita ini dari Yang Maha Esa!

12. Ketahuilah bahwa gemerlapnya cahaya sang surya yang menerangi
dunia ini, dan cahaya rembulan dan api, semua kebesaran itu datang
terpancar dariKu.

13. Memasuki bumi ini, Kutunjang semua makhluk dengan energi vitalKu
dan, dengan menjadi cairan lembut dari Sang Chandra (sari Soma) yang
nikmat, Kuhidupi semua tumbuh-tumbuhan.

14. Dengan menjadi api-kehidupan, yang bersemayam di dalam raga
setiap makhluk yang bernafas, dan menyatu dengan kehidupan (nafas yang
ditarik dan yang dikeluarkan), Kucernakan semua bentuk makanan (empat
jenis makan).

15. Dan Aku bersemayam di dalam hati semuanya; dan dariKu timbul
memori (ingatan) dan gnana (pengetahuan atau kesadaran) dan kekuatan
yang menangkis dan menolak keragu-raguan atau pikiran-pikiran yang
negatif. Akulah yang dimaksud dalam Veda-Veda, dan Akulah yang
dimengerti oleh Veda-Veda ini, dan juga Akulah Pengarang Vedanta -
‘akhir’ dari Veda.
Sang Kreshna atau Yang Maha Esa adalah kehidupan total dari alam
semesta ini. Setiap unsur dari alam semesta ini berasal dariNya atau
dengan kata lain Ia juga semuanya ini. Ia juga sumber dari energi di
alam semesta ini, Ia juga cahaya yang bersinar di dalam matahari,
rembulan dan api. Ia juga sari Soma dalam rembulan yang menghidupi
tumbuh-tumbuhan di bumi ini. Ia juga api-kehidupan dalam setiap manusia
dan makhluk-makhluk lainnya, Ia lah sumber tanpa batas dari
segala-galanya. Ia juga yang bersemayam dalam pikiran kita yang
membedakan antara pikiran yang jahat dan yang baik. la juga yang selalu
disebut-sebut dalam Veda-Veda dan kitab-kitab suci lainnya sebagai
Tujuan Yang Abadi, Tuhan Yang Maha Esa, bahkan Ia sendiri adalah Sang
Pengarang dari Vedanta, yaitu kitab suci Hindu yang terakhir dalam
jajaran kitab-kitab Veda.

16. Ada dua Purusha (energi) di dunia ini, yaitu yang dapat binasa
dan yang tak dapat binasa. Yang dapat binasa adalah semua makhluk dan
benda-benda, yang tak dapat binasa disebut Kutashta (duduk secara
tegar, terbungkus oleh misteri dan bersemayam dalam Sang Maya).

17. Ada lagi seorang Purush — Yang Maha Tinggi - Yang disebut
Purushottama (Sang Jati Diri Yang Suci dan Agung). la menunjang
semuanya; la menghidupi ketiga loka-loka ini. Ia lah Yang Maha Abadi
(Yang Tak Dapat Binasa).

18. Karena Aku berada di atas yang dapat binasa, dan juga Aku lebih
tinggi dari yang tak dapat binasa, maka baik di dunia ini maupun di
dalam Veda Aku dikenal sebagai Manusia Yang Maha Agung dan Suci.
Ada tiga bentuk Purusha, atau orang atau energi di alam semesta ini:
(1) Disebut Kshara-prakriti atau berarti yang tidak abadi, yang dapat
berganti-ganti, sama dengan semua makhluk dan benda-benda yang dapat
binasa.
(2) Akshara-prakriti atau Kutashta (yang duduk tegar bagaikan batu di
dalam Sang Maya) — yaitu Sang Jiwa atau Chaitanya-shakti yang
melahirkan bentuk purusha yang pertama tadi.
(3) Uttama Purusha, atau Purushottama, Paramatman, atau Sang Jati Diri
Yang maha Agung dan Suci. Ia adalah Yang Maha Esa Yang menunjang,
menghidupi, menghadirkan alam semesta ini. Ia lah Sang Kreshna Yang
Maha Pengasih dan Penyayang. Om Tat Sat.
Di bab VII, oleh Sang Kreshna, kedua bentuk energi ini disebut Purusha
dan Prakriti, sebagai dua buah bentuk dari PrakritiNya. Di bab XV ini,
Sang Kreshna menyebut kedua-duanya sebenarnya bermakna sama, yaitu dua
bentuk Energi (atau Upadhi) dari Satu Purusha Yang Maha Agung dan Suci,
yaitu Yang Maha Esa, Sang Purushottama, Sang Kreshna, Yang Hadir dan
Berkuasa di atas Kshara dan Aksara.
19. Seseorang yang telah sadar, mengenalKu sebagai Purushottama, orang
ini tahu akan semua hal dan ia memujaKu dengan seluruh jiwanya, oh
Arjuna!
20. Demikian telah ku beritahukan kepadamu ajaran yang amat rahasia
ini, oh Arjuna! Seseorang yang tahu akan hal ini, adalah orang yang
telah mencapai penerangan dan tugas-tugasnya selesai sudah, oh Arjuna!
Ilmu pengetahuan tentang Sang Kreshna sebagai Purushottama menuntun
seseorang ke arah bhakti (dedikasi tulus tanpa pamrih). Ilmu atau
pengetahuan ini memberikan rasa pengertian atau penerangan akan Yang
Maha Esa dan segala aspek-aspekNya yang terlihat di alam semesta dan
diri kita. Dan seseorang yang telah sadar akan hal ini adalah orang
yang telah mendapatkan penerangan Ilahi, dan menurut Sang Kreshna
selesai sudahlah tugas-tugas dan kewajibannya di dunia ini. Orang ini
lalu sadar bahwa semua yang manis dan baik dalam hidup ini, seperti
sahabat-sahabat, orang-orang yang dikasihinya, kekayaan, kesehatan,
ilmu-ilmu pengetahuan dan lain sebagainya, hanyalah merupakan
‘bunga-bunga’ dan ‘buah-buah’ kehidupan belaka, yang merupakan hadiah
atau pemberian Sang Purushottama kepadanya, untuk digunakan demi
menunjang kehidupannya selama ia berkelana di dunia ini. la tak akan
pernah lupa, bahwa tujuannya ke dunia ini sebenarnya adalah untuk
mengenal Yang Maha Esa, bekerja demi Yang Maha Esa, dan berusaha untuk
kembali kepadaNya lagi secara sadar. Untuk mencapai Rumah Yang Maha Esa
ini maka semua materi-materi yang merupakan penunjang hidupnya di dunia
ini harus ditinggalkannya, bukan diikat erat-erat dengannya. Seseorang
yang secara sejati telah menyadari akan hakikat ini disebut Vairagi. la
sadar dunia beserta seluruh isinya dapat binasa, tetapi Yang Maha Esa
adalah Abadi. Pemuja semacam ini walau sehari-hari tetap bekerja
seperti biasa dan sesuai dengan kewajibannya, sebenamya secara
spiritual tugas-tugasnya di dunia ini telah selesai, karena walau masih
memiliki raga ia sudah mencapai dan mengenal Sang Misteri Yang Maha
Agung dan Suci, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Yang memiliki
Keajaiban-Keajaiban Yang Tak Tertandingi. Pemuja yang suci ini di dalam
hidupnya telah mencapai Nirvana. Om Tat Sat.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya
Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka bab ini adalah
yang kelima-belas dan disebut: Purushottama Yoga atau Ilmu Pengetahuan
tentang Manusia Utama Yang Maha Agung dan Suci.

Bab 16 - Yang Berhati Suci dan Yang Berhati Iblis
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
1. Tidak memiliki rasa takut, kemurnian hati, ketegaran dalam ilmu dan
yoga, memberikan dana, kendali diri, pengorbanan, mempelajari buku-buku
suci, tindakan disiplin spiritual (meditasi, puasa, pantangan dan lain
sebagainya), menjunjung tinggi kebenaran;
2. Tidak mencelakakan yang lainnya, kejujuran, jauh dari rasa amarah,
penyerahan total hasil dari tindakan-tindakannya, kedamaian, tidak
mencari-cari kesalahan, rasa sayang terhadap semua makhluk hidup,
kesederhanaan, jauh dari rasa ketidak setiaan;

3. Keperkasaan (keberanian), pemaaf, dapat menahan penderitaan,
kesucian, jauh dari rasa iri, bebas dari rasa sombong yang
berlebih-lebihan — ini semua, oh Arjuna, adalah ciri-ciri seseorang
yang lahir dalam keturunan yang suci.
Di dunia ini ada dua jenis manusia, yaitu yang suci dan yang bersifat
iblis. Manusia-manusia yang lahir dengan karakter-karakter yang suci
secara mendasar sudah spiritual sifatnya. Mereka-mereka ini adalah
jiwa-jiwa yang hidup dalam raga tetapi tak terpengaruh oleh Sang Maya.
Mereka ingat dan sadar akan kesucian yang menunjang mereka untuk sampai
ke Rumah Tujuan akhir nanti. Segala perbuatan dan tindak-tanduk mereka
memancarkan kesucian dan kemurnian bagi sesamanya dan diri mereka
sendiri. Dalam tindak-tanduk mereka di dunia ini mereka tidak
menunjukkan nafsu atau keinginan-keinginan duniawi baik dalam cara
berpikir, aspirasi maupun perbuatan mereka. Mereka ini selalu terserap
dalam yoga dan jauh dari segala bhoga (kenikmatan-kenikmatan duniawi).
Semenjak lahir, dalam diri mereka telah nampak tendensi-tendensi suci.
Bakat-bakat kesucian ini mereka bawa dari karma yang terdahulu, dan
dipraktekkan dengan lebih aktif lagi di kelahiran mereka yang
berikutnya secara lebih intensif.

Mereka-mereka yang dianggap memiliki ciri-ciri keturunan suci ini
(daivi sampad), dan telah siap melangkah ke arah pembebasan duniawi ini
menampakkan dua-puluh enam ciri-ciri atau tanda-tanda khas, seperti
berikut ini:
1) Tak memiliki rasa takut. Kita sering sekali dilanda rasa takut dan
khawatir dalam hidup ini seperti takut dan khawatir kehilangan
barta-benda, milik atau seseorang yang tersayang dan lain sebagainya.
Seseorang yang telah menyerahkan atau memasrahkan semua tindakan dan
hasil tindakan mereka kepada Yang Maha Esa, dan yakin akan kehendakNya
semata tak akan pernah takut, khawatir dan gentar mengarungi hidup ini.
Baginya hidup ini adalah suatu tindakan atau pekerjaan yang suci demi
Yang Maha Esa, jadi tak ada lagi rasa takut dalam diri mereka, karena
selain merasa tak memiliki sesuatu apapun juga di dunia ini, mereka ini
juga dapat merasakan kasih-sayang Ilahi Yang Tak Terbatas yang tak
dapat dirasakan oleh mereka-mereka yang belum sadar sepenuhnya.

2) Kesucian atau kemurnian hati. Kebersihan hati berarti lepas dari
segala unsur-unsur atau sifat-sifat palsu, betapa kecilpun sifat palsu
itu. Biasanya seorang yang tabah dalam hidupnya dan sudah lepas dari
segala rasa takut, akan berubah menjadi seorang ‘anak-kecil’ yang
bersih dan murni hati dan tingkah-lakunya. Goethe pernah berkata,
“Bersihkan dirimu dengan merendahkan dirimu.” Untuk menjadi murni dan
bersih ini, seseorang harus selalu berpikir bahwa raga ini adalah ‘kuil
dari Sang Atman Yang Suci dan Agung. Hati yang suci-bersih tak pernah
menuntut atau mengingini apapun juga selain mengasihi Yang Maha Esa dan
menerima semua kehendakNya semata tanpa pamrih. Jadilah dikau hati yang
suci dan murni dalam segala tindak-tandukmu, dalam segala pikiran dan
puja-pujimu.

3) Ketegaran atau keteguhan dalam ilmu pengetahuan sejati mengenai
Yang Maha Esa, dan ketekunan dalam yoga adalah praktek-praktek disiplin
ketat dalam menekuni ilmu-sejati ini. Ketegaran ini dasarnya adalah
moral dan iman yang kuat. Caranya ada beberapa macam dan semuanya
menuntut keyakinan, ketekunan dan keteguhan yang tak ada putus-putusnya
dalam melakukan: (a) meditasi setiap harinya, (b) usaha-usaha spiritual
seperti puasa dan sembahyang dan lain sebagainya yang dipilih
masing-masing individu, (c) cinta-kasih yang tulus pada setiap makhluk,
benda dan sesamanya, (d) melayani atau bekerja tanpa pamrih demi
membantu fakir-miskin, orang-orang tua, orang-orang sakit dan
mereka-mereka yang pantas ditolong, dan semuanya ini harus dilakukan
tanpa pamrih. Dalam melakukan semua usaha-usaha ini akan banyak ditemui
hambatan-hambatan yang sukar dan sering sekali terjadi para pemula
tumbang karena tidak melihat hasil yang nyata dan segera. Tetapi
seseorang yang tegar akan berjalan dan melangkah terus dengan perlahan
tapi pasti, dan suatu saat karena keyakinannya yang tegar ia akan
sampai ke tujuannya yang mulia. la sadar sukar dahulu, mudah kemudian,
itulah jalannya.

4) Dana atau amal dianjurkan bukan saja dalam agama Hindu tetapi
juga dalam agama-agama besar lainnya, dan ini merupakan salah satu
jalan untuk membersihkan diri kita. Yesus sendiri berkata, “Secara
cuma-cuma engkau telah menerimanya, secara cuma-cuma pula berikanlah!”
Lalu apakah dalam hidup ini, kita benar-benar rela memberikan
harta-benda yang kita kira sudah jadi milik kita kepada yang paling
membutuhkannya? Relakah kita berkorban sedikit saja demi sesama makhluk
atau manusia lainnya yang menderita? Sebenarnya dana atau
amal-perbuatan yang baik tidak dihitung dari segi kuantitasnya
melainkan dari segi kualitasnya. Dan yang paling penting dari semua itu
adalah itikadnya, itikad yang ada di balik semua perbuatan baik itu.
Dana atau amal itu datang dari hati-nurani kita yang tulus dan bukan
dari harta-benda atau pun kedudukan kita, bukan juga dari paksaan atau
keadaan tertentu. Sebuah senyum kecil yang simpatik untuk seseorang
yang membutuhkannya adalah dana, memberikan air kepada seorang musafir
yang kehausan adalah dana, menyingkirkan kulit pisang di jalan agar
orang lain tidak terpeleset adalah dana, menyisihkan waktu sedikit
untuk menolong seseorang yang memerlukannya adalah dana. Tiga faktor
utama dalam ajaran agama Islam adalah amal, puasa dan sembahyang.
Alkisah suatu waktu seorang yang bernama Bernard ingin bergabung dengan
St. Francis dalam melakukan misi-misi sucinya, maka berkatalah St.
Francis kepadanya, “Pertama-tama pergi dan juallah apa yang kau punya
dan berikanlah kepada yang miskin dan papa.”

5) Kendali diri, yaitu kendali pada indra-indra kita dan menguasai
selera dan nafsu-nafsu kita yang selalu kelaparan akan obyek-obyek
indra ini. Kuda-kuda liar dapat dijinakkan, begitupun indra-indra ini
adalah ibarat kuda-kuda ini, merekapun harus dijinakkan. Bagaimana
caranya? Jadilah engkau seorang kusir atau penunggang kuda ini dan
bukan sebaliknya! Raga kita sebenarnya diciptakan agar menjadi
karma-kshetra, tetapi kebanyakan diantara kita malahan menjadikannya
bhoga-kshetra (ladang untuk mencicipi kenikmatan). Kuasailah semua
trishna atau keinginan-keinginan dan selera-selera, kendalikanlah
nafsu-nafsu dan hasrat-hasratmu, dan jadilah seorang majikan atas
dirimu sendiri dan bukan sebaliknya! Intisari kebijaksanaan yang
diajarkan oleh filsuf Sokrates adalah kata-kata yang berbunyi,
“Kenalilah dirimu sendiri!” Intisari dari kebijaksanaan Hindu adalah,
“Kuasailah dirimu sendiri!” Sedangkan Pythagoras yang terkenal itu
pernah berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat disebut merdeka
(bebas) yang tak dapat memerintah atas dirinya sendiri!”

6) Pengorbanan, persembahan (yagna), jenis yagna atau pengorbanan
ini ada banyak caranya. Persembahan spiritual ini didasarkan pada
pemikiran bahwa dewa-dewa, manusia, dan makhluk-makhluk halus, semua
ini membentuk suatu simfoni kehidupan. Yagna menunjukkan suatu itikad
berkorban atau menolong sesama makhluk di dunia ini baik yang terlihat
maupun yang tak terlihat, yang membutuhkan pertolongan kita di alamnya
masing-masing. Yagna juga mengajarkan kita untuk menjadi sederhana dan
tulus dalam hidup kita sewaktu kita melakukan yagna ini untuk para
dewa, dan mengajarkan kita akan kewajiban dan perhatian kita pada para
leluhur kita agar mereka tak terlupakan. Karena karma yang lalu para
leluhur yang berada di alam sana hidupnya belum tentu bahagia, jadi
mereka selalu saja membutuhkan pertolongan kita agar kuranglah
dosa-dosa mereka. Pada hakikatnya yagna ini secara bertahap mengajarkan
kita untuk berkewajiban dan berkorban secara murni kepada Yang Maha
Esa. Untuk itu kita harus belajar dahulu dengan ber-yagna untuk para
dewa dan leluhur. Intisari sesungguhnya dari yagna ini adalah berkoban
secara tulus dengan mengorbankan seluruh hidup kita ini kepadaNya tanpa
pamrih, yaitu bekerja demi Ia semata tanpa pamrih dan tanpa
bosan-bosannya!
7) Mempelajari skripsi-skripsi atau ajaran-ajaran suci (ini disebut Svadhaya).
Terangkan dalam ajaran-ajaran ini adalah pemujaan oral (puja-puji dan
nyanyian) kepada Yang Maha Esa pada setiap kesempatan yang ada.


Tapa atau tindakan-tindakan disiplin spiritual yang aneka ragam
bentuknya seperti puasa, meditasi, dan berbagai tindakan disiplin
spiritual lainnya. Intisari dari tapa ini adalah selalu berusaha untuk
tidak berbohong kepada diri sendiri maupun orang lain, jadi setiap
pembicaraan harus benar dan jujur, mencintai kebenaran dan kehidupan
yang jauh dari kemewahan.

9) Menjunjung tinggi kebenaran, tegas dan tulus dalam tindakan
(arjavam). Mereka yang memiliki sifat-sifat yang suci dan agung selalu
berkata dan bertindak tegas dalam setiap aspek kehidupan mereka, tetapi
jiwa mereka sebenamya amatlah lembut, tulus dan jujur akan kebenaran.
Inilah sebenarnya yang mendasari tindakan dan ucapan mereka yang tegas.
Mereka juga amat tinggi dalam menjunjung nilai-nilai kebenaran walaupun
untuk hal-hal yang amat kecil sekalipun.
10) Mereka menjalankan praktek-praktek ahimsa, yaitu tidak menyakiti
seseorang atau makhluk lainnya baik dalam tindakan mereka atau
kata-kata mereka. Di dunia yang penuh dengan manusia-manusia yang
berwajah srigala ini, masih ada saja manusia-manusia tulus dan suci
yang melakukan ahimsa ini secara total. Inilah salah satu ciri khas
dari yang memiliki potensi suci dan agung ini. Tetapi ingat jangan
salah-pergunakan mereka ini, karena demi kebenaran mereka ini adalah
manusia yang amat tegas!

11) Mereka mempraktekkan kebenaran (safram) dalam kehidupan
sehari-hari. Mereka menampakkan diri mereka sebagaimana yang mereka
sadari akan arti kehidupan ini, dan juga akan arti dan hakikat Yang
Maha Esa. Bagi mereka apapun yang benar dibenarkan dan yang salah
disalahkan tanpa memandang kasta, kedudukan dan harta. Bagi mereka
kebenaran itu sekecil apapun kebenaran itu, maka sifatnya adalah di
atas segala-galanya. Bagi mereka seorang yang lahir dengan predikat
kasta pariah bukanlah seorang pariah, tetapi seseorang yang tak dapat
menghormati kata-katanya adalah seorang pariah. Tuhan Yesus sendiri
pernah berkata, “Kebenaran akan membuatmu bebas!” “Kebenaran dan kasih
adalah bagi kami arti sesungguhnya dari Tuhan Yang Maha Esa,” kata TL
Vaswani, pengarang naskah Bhagavat Gita.

12) Orang-orang ini tak mempunyai rasa marah atau geram (akrodhd).
Mereka bahkan tak pernah marah atau benci pada yang menyakiti mereka
walaupun dipancing untuk marah sekalipun.

13) Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang telah melakukan dan
menghayati penyerahan total akan hasil tindakan mereka sehari-hari
(tyaga) yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
(a) penyerahan total secara mental dan dari pemikiran mereka bahwa apa
yang mereka lakukan dan apapun hasilnya adalah kehendak Yang Maha Esa
semata-mata dan seyogyanyalah dilakukan tanpa pamrih,
(b) setiap tindakan mereka jauh dari rasa keberhasilan, egoisme, optimisme, pesimisme, keserakahan, nafsu dan keinginan,
(c) mereka jauh dari obyek-obyek duniawi.

14) Pikiran dan jiwa mereka selalu tenang (shanti) dalam segala tindakan mereka sehari-harinya.

15) Mereka jauh dari segala gosip atau obrolan-obrolan iseng yang
menyangkut orang lain. Jauh juga mereka ini dari segala pikiran dan
pembicaraan mengenai orang lain atau mencela orang lain dan
mencari-cari kesalahan seseorang. Mereka tak mau menyakiti atau
mencelakakan orang atau makhluk lain baik secara mental maupun secara
tindakan.

16) Mereka memiliki rasa kasihan, iba, simpati dan rasa sayang untuk setiap makhluk di dunia ini.

17) Mereka selalu merasa cukup dengan apa adanya, dan tak pernah
memohon atau meminta lebih apapun yang diterima mereka. “manusia ini
tak pernah puas, walaupun memiliki sebuah danau penuh dengan emas,
tetapi masih saja merasa miskin,” kata Hitopadesha. Tetapi
mereka-mereka ini yang telah terpanggil ke jalannya Tuhan, malahan amat
puas dengan apa adanya. Bagi mereka alam semesta dan seluruh isinya
sudah merupakan karunia yang tak ada habis-habisnya. Lalu untuk apa
harus serakah dan menuntut dan menuntut lagi?
Feridoun merasa tak puas dengan kerajaan yang dimilikinya. Sedangkan
Alexander meratap telah menguasai semuanya karena tidak ada lagi yang
bisa dikuasainya. Tetapi seorang anak kecil yang polos dan lugu akan
gembira sekali dan bahagia kalau dapat memenuhi kedua tangannya dengan
pasir dan bermain-main dengannya. Bagi seorang anak kecil yang masih
polos akan hal-hal duniawi ini, maka segenggam pasir dan segenggam emas
sama saja nilainya, karena ia masih suci dan tidak sadar akan
standar-standar yang telah ditentukan oleh manusia dewasa.
Setiap pekerjaan itu baik, karena pekerjaan itu diperlukan dan karena
merupakan bagian terpenting dalam kehidupan kita. Tetapi ingatlah
pekerjaan yang tak diperlukan dan sia-sia janganlah dilakukan dan
jauhilah pekerjaan-pekerjaan ini yang sifatnya negatif dan merusak.
Pekerjaan atau profesi sehari-hari diperlukan dan wajib kita kerjakan
tetapi disertai dengan itikad yang murni dan suci dan dilandasi oleh
rasa bakti kita kepada Yang Maha Esa, kepada masyarakat dan lingkungan
kita, bukan atas keserakahan pribadi atau dilandasi oleh
kepentingan-kepentingan duniawi. Sebuah pekerjaan yang sederhana
sifatnya akan lebih berarti daripada suatu pekerjaan yang nampaknya
canggih, selama pekerjaan itu dikerjakan dengan penuh bakti dan
kesadaran yang tulus akan dharma-bhakti kita kepada Yang Maha Esa.
Suatu pekerjaan yang dianggap besar dan luar biasa akan sia-sia saja
maknanya kalau dilandasi oleh nafsu dan kepentingan duniawi karena yang
timbul darinya hanyalah ambisi dan perjuangan pribadi dan terjebaklah
sang pelaku dalam nafsu-nafsu duniawinya dan segala ekses-ekses yang
timbul dari nafsu itu. Sebaliknya suatu pekerjaan yang sederhana
sifatnya seperti memasak dan menyapu akan terasa suci dan syahdu kalau
dilakukan dengan kesadaran total bahwa itu juga merupakan kewajiban
kita kepadaNya, karena akan turun berkat dan rahmatNya pada si pelaku
pekerjaan ini. Yang Maha Esa tidak memandang kedudukan atau pekerjaan
seseorang, yang dianjurkanNya adalah kesetiaan dan dedikasi kita
kepadanya yang tulus dan tidak ternoda.

18) Mereka-mereka ini memiliki kelembutan hati dan pikiran. Mereka
ini amat penyabar dan pengasih, dan selalu menerima dan sabar
menghadapi segala caci-maki, hinaan, pengkhianatan, dan
tindakan-tindakan keji yang dilakukan oleh orang-orang terhadap mereka,
karena mereka sadar bahwa yang menyakiti mereka ini sebenarnya tidak
tahu apa-apa dan “kurang pengetahuannya atau tersesat jalannya.”
Sebaliknya mereka jadi amat pemaaf dan selalu mendoakan mereka yang
menyakiti ini.

19) Mereka-mereka ini amat sederhana dan pemalu sifatnya. Malu akan
berbuat sesuatu yang salah karena yakin akan kehadiran Yang Maha Esa di
mana-mana.
20) Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang tidak mudah mengubah
keputusan atau pemikiran mereka, tidak mudah terpengaruh dan sangat
stabil pendiriannya. Mereka tak mau mencampuri urusan orang lain dan
jauh dari pikiran maupun tindakan yang tak ada artinya.

21) Mereka memiliki teja, yaitu energi, cahaya dan kharisma yang
luar biasa dan penuh dengan kehangatan. Wajah-wajah mereka selalu
simpatik dan memancarkan cahaya kesucian dan kebaikan, ketulusan hati
yang luar biasa. Sang Kreshna, Sang Buddha dan Kristus memiliki
wajah-wajah semacam ini. Salah satu ciri-ciri teja ini adalah rasa
respek yang luar biasa yang dimiliki oleh orang ini, dan juga
kejantanan (ketegasan) dalam setiap aspek tindak-tinduknya yang tak
dapat ditawar-tawar. Contoh: Sokrates dari Yunani, yang tidak mau
mundur dari pendiriannya dan lebih baik memilih kematian dengan meminum
racun secara tenang.

22) Mereka adalah manusia atau orang-orang yang memiliki rasa
memaafkan terhadap semua dan sesamanya secara luar biasa. Tak ada
kebencian di dalam diri mereka walaupun untuk mereka yang telah mencoba
menyakiti atau membunuh mereka. Nabi Muhamaad SAW memaafkan
musuh-musuhnya. Kristus memaafkan musuh-musuh dan murid-muridnya.
Mahatma Gandhi memaafkan pembunuhnya dan jauh-jauh telah meramalkan
akan dibunuh. Resi Dayanand memaafkan tukang masaknya yang berusaha
meracuni sang Resi. Di era modern ini kita melihat Sri Paus Yohannes
Paulus II memaafkan penembaknya.

23) Mereka memiliki kekuatan luar biasa untuk menghadapi segala
rintangan dan penderitaan hidup ini, dan tidak kehilangan kesabaran
(ini disebut dhriti).

24) Mereka memiliki rasa sancham, yaitu rasa akan kebersihan. Mereka
selalu menjaga agar raga mereka bersih luar dan dalam. Kebersihan
sebenarnya adalah salah satu aspek yang penting dalam agama dan
mendekatkan kita kepadaNya. Pada masa sekarang manusia cenderung untuk
mementingkan peragaan di luar tubuh mereka seperti rias-wajah,
wangi-wangian, busana yang menyolok dan lain sebagainya. Juga banyak
diantara kita yang mengotori tubuh bagian dalam kita dengan merokok,
menghisap ganja dan meminum minuman keras, obat-obatan terlarang dan
makanan yang merangsang rubuh. Juga manusia dewasa ini lebih cenderung
mengkonsumsi makanan yang tidak segar dan penuh dengan zat-zat yang
mengotori dan membahayakan tubuh dari pada menyehatkan tubuh ini dengan
memakan buah-buahan dan sayur-sayuran segar, menghisap udara segar dan
lain sebagainya.

25) Mereka bebas dari rasa iri-hati atau cemburu. Mereka tak mau
berperasangka buruk atau iri-hati pada orang lain atau bahkan berpikir
negatif tentang orang lain. Mereka cukup dengan apapun yang mereka
terima dan selalu berterima kasih kepadaNya. Melihat sukses dan
kekayaan orang lain mereka biasa-biasa saja dan tak terpengaruh sama
sekali. Mereka tak dapat melupakan kebaikan orang lain terhadap mereka
walau sekecil apapun kebaikan itu. Mereka selalu mengabdi demi kebaikan
dan kesejahteraan orang lain baik yang membutuhkan mereka atau tidak,
dan menyatu dalam jiwa dengan yang mereka tolong ini. Rasa benci dan
iri-hati dapat menghancurkan bukan saja kebahagiaan seseorang tetapi
juga menghancurkan kerajaan-kerajaan besar. Lihat saja bagaimana
iri-hati sang Kaikeyi (ibu-tiri sang Rama) membunuh suaminya dan
sekaligus menghantarkan Sang Rama dan Shinta beserta Lesmana ke hutan
Dandaka. Iri-hati dan benci, atau dengki adalah sebenarnya perusak diri
dan hidup kita sendiri.

26) Mereka tidak memiliki rasa sombong atau superior terhadap orang
lain. Rasa sombong atau ahankara ini memang salah satu faktor yang
harus dijauhi setiap manusia, atau tersandung kita nanti dalam
perjalanan hidup spiritual kita.
Kedua-puluh enam faktor atau ciri-ciri khas seseorang yang telah suci
hati dan jiwanya ini disebut daivi-sampad, yaitu harta-benda sejati
seseorang yang suci dan agung, harta Ilahi yang benar dalam melakukan
kehidupan yang sejati.

4. Kemunafikan, mementingkan diri sendiri, iri-hati, rasa amarah,
juga kekasaran dalam pembicaraan dan kebodohan — semua ini, oh Arjuna,
adalah milik seseorang yang lahir dengan sifat-sifat iblis.
Siapakah manusia-manusia yang disebut bersifat sebagai atau bagaikan
iblis ini? Mereka disebut Asura. Dalam salah satu Upanishad terdapat
satu kisah mengenai Prajapati yang pada waktu penciptaan, menciptakan
para dewa (sura) dengan nafas yang dihembuskannya ke atas, dan
menciptakan para asura (raksasa, setan, jin, iblis, dan kuasa-kuasa
gelap) dengan nafasnya yang dihembuskannya ke bawah. Setelah
menciptakan para iblis ini maka terciptalah kegelapan, kebodohan dan
keburukan di sekitarnya. Maka disebut bahwa nafas-bawah tadi adalah
nafas dari segala nafsu yang negatif dan kebatilan, sedangkan
nafas-atas adalah nafas dari segala yang baik, agung dan suci. Nafsu
dengan begitu adalah faktor atau hal-hal yang tidak suci di dalam dunia
ini, karena ia adalah getaran atau vibrasi dari ‘jiwa-bawah’ kita
sedangkan ‘jiwa-atas’ kita penuh dengan kebajikan dan kesucian. Dengan
kata lain, manusia-manusia yang bersifat asura adalah mereka yang
terikat secara duniawi dengan nafsu-nafsu mereka dan selalu tenggelam
dalam kebodohan mereka. Terikatlah selalu mereka ini dengan dunia dan
dengan kelahiran/kematian yang berkelanjutan terus-menerus.
Karakter atau ciri-ciri khas mereka ini adalah:
(a) Kemunafikan — apa yang mereka tampilkan dalam tindak-tanduk mereka
sehari-hari dalam kehidupan mereka penuh dengan sandiwara, kepalsuan
dan topeng-topeng manis belaka, padahal hati dan jiwa mereka mungkin
terikat pada pikiran dan tindakan-tindakan yang tidak sehat dan selaras
dengan topeng-topeng kemunafikan mereka.
b) Dalam setiap hal, mereka selalu mementingkan diri mereka sendiri.
Mereka ini juga penuh dengan rasa iri-hati dan terbius oleh
harta-benda, milik, kekasih dan kekuasaan mereka.
(c) Mereka ini mudah sekali marah.
(d) Tindak-tanduk mereka maupun cara mereka berbicara mencerminkan kekasaran dan amat menyakitkan bagi yang mendengarkan.
(e) Mereka-mereka ini jauh dari kebenaran dan kebijaksanaan yang sejati.
5. Sifat-sifat suci menuntun seseorang ke arah pembebasan, dan
sifat-sifat iblis ke arah keterikatan. Janganlah bersedih, oh Arjuna,
karena dikau lahir dengan sifat-sifat yang suci dan agung.

6. Ada dua jenis makhluk yang diciptakan di dunia ini — yang suci
dan yang bersifat iblis. Yang suci telah dijelaskan secara terperinci.
Sekarang dengarkanlah dariKu, oh Arjuna, mengenai yang bersifat
keiblisan ini.
Dua jenis makhluk hidup atau manusia atau makhluk halus diciptakan oleh
Yang Maha Kuasa di dunia ini, yaitu yang bersifat suci seperti yang
telah kita baca di atas tadi, dan yang bersifat ke iblis-iblisan. Yang
pertama karena dasar sifat-sifatnya telah bebas dan lepas dari
karma-karmanya dan dari kehidupan/kematian, untuk kemudian langsung
bersatu dengan Sang Pencipta, sedangkan yang kedua akan terikat secara
terus-menerus dengan karma-karmanya dan kehidupan dan kematian, tak
bisa lepas dari dunia ini.

7. Mereka-mereka yang bersifat iblis ini tidak sadar akan arti
tindakan atau akan disiplin-disiplin spiritual. Tak mereka miliki
kesucian maupun tindakan-tindakan baik atau pun kebenaran.

8. Mereka berkata bahwa di dunia ini tak ada kebenaran, tak ada
dasar moral, tak ada Tuhan, (dunia) ini tercipta dari penyatuan dua
jenis kelamin yang berlawanan, (dunia) ini adalah produk dari
nafsu-nafsu belaka dan tak ada hal selain itu.

9. Teguh dalam kepercayaan ini, jiwa-jiwa yang tersesat ini yang
pengertiannya tumpul dan tindakan-tindakannya kejam, muncul sebagai
musuh-musuh dan penghancur dunia ini.
10. Menyerahkan diri mereka kepada nafsu-nafsu yang tak pernah
terpuaskan dengan kemunafikan, kedengkian, dan kepentingan
diri-pribadi, tergantung pada ide-ide yang salah akibat ilusi, mereka
ini bertindak dengan itikad-itikad yang tidak bersih.

11. (Mereka) ini terkurung oleh kekhawatiran-kekhawatiran yang tak
terhitung jumlahnya, (mereka) berpikir bahwa pemuasan nafsu-nafsu dan
keinginan sebagai puncak cita-cita mereka, yakin bahwa itulah semua ini.

12. Terperangkap oleh seratus harapan-harapan kosong, menjadi budak
dari nafsu dan kemarahan, mereka menumpuk kekayaan dengan memuaskan
selera-selera panas (mereka) dan melibatkan diri (mereka) dalam
kenikmatan-kenikmatan sensual.

13. “Ini telah kudapatkan hari ini, dan akan kucapai keinginan itu. Harta ini milikku, harta itu pun akan menjadi milikku.

14. “Musuh ini telah kubunuh, yang lainnya pun akan kubunuh. Aku lah
Tuhan dari segalanya. Aku menikmati diriku sendiri. Aku makmur,
berkuasa dan bahagia.

15. “Aku kaya-raya dan lahir dari derajat yang tinggi. Adakah
seseorang yang sepadan denganku? Aku akan menyelenggarakan
pengorbanan-pengorbanan (yagna), aku akan menyumbangkan dana, aku akan
membuat “pesta-pesta kesenangan.” Begitulah mereka berkata, tersesat
dalam kebodohan mereka.

16. Kacau-balau oleh berbagai pikiran, terperangkap dalam jala
ilusi, terbius oleh kepuasan nafsu-nafsu, mereka tenggelam ke neraka
yang menjijikkan (penuh dengan kotoran yang berbau dan menjijikkan).

17. Terlalu percaya pada diri-sendiri, keras-kepala, mabuk-kepayang
akan kekayaan mereka, mereka melakukan pengorbanan-pengorbanan untuk
pertunjukan belaka, tanpa memperhatikan skripsi-skripsi (suci).

18. Terpaku pada rasa ego, pada kekasaran dan kekuatan, dan
nafsu-nafsu dan rasa marah, orang-orang yang berhati iblis ini
membenciKu yang bersemayam di dalam raga mereka dan di dalam raga-raga
yang lainnya.

19. Mereka yang membenciKu dengan cara itu, mereka yang kejam ini,
yang terburuk diantara jajaran manusia, mereka-mereka pelaku perbuatan
iblis ini, Ku giring terus-menerus ke perut para iblis.

20. Terjatuh ke perut-perut iblis, mereka hidup dari satu kehidupan
ke kehidupan yang lainnya, terbungkus oleh kegelapan. Mereka ini tidak
datang kepadaKu, oh Arjuna, tetapi tenggelam ke tempat yang paling
dalam.
Mereka-mereka yang memiliki asuri-sampad (sifat-sifat keiblisan) dan
terikat kepada dunia ini mempunyai ciri-ciri khas seperti berikut:
a. Mereka kurang memiliki rasa perbedaan antara yang baik dan buruk.
Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dan seharusnya tidak
dilakukan.
b. Tidak atau kurang memiliki rasa kebersihan. Mereka tidak bersih dalam pikiran maupun dalam menjaga raga mereka.
c. Mereka tidak kenal atau tidak mau kenal atau mengakui kaidah-kaidah
moral atau hukum-hukum moral dan etika dalam kehidupan ini.
d. Mereka jauh dari kebenaran. Mereka penuh dengan kebohongan dan tipu-daya.
e. Mereka ini umumnya atheis. Bagi mereka alam semesta atau dunia ini
tidak berdasarkan moral, agama atau dasar-dasar spiritual, tanpa Sang
Pencipta atau Tuhan Yang Maha Esa. Bagi mereka dunia ini hanya tempat
melampiaskan nafsu-nafsu, dan pikir mereka semua makhluk tercipta dari
kesatuan atau percampuran pria dan wanita, jadi dasar dunia ini bagi
mereka adalah nafsu-nafsu dan kenikmatan duniawi belaka. Itulah hidup
dan tujuan mereka dalam hidup ini.
f. Cara berpikir mereka penuh dengan kegelapan, karena jiwa mereka telah sesat. Akibatnya daya intelektual mereka menurun.
g. Mereka gemar melakukan pekerjaan-pekerjaan buruk dan keji yang
berada di luar prikemanusiaan. Hidup mereka adalah demi penghancuran
sesamanya, atau makhluk-makhluk lain. Sebenarnya mereka ini adalah
musuh dari dunia dan umat manusia itu sendiri.
h. Kata mereka dunia ini hanya untuk bersenang-senang saja, dan mereka
memasrahkan hidup mereka ke nafsu-nafsu dan kenikmatan yang tak ada
habis-habisnya. Hidup mereka hanya itu dan tak lebih.
i. Mereka adalah orang-orang yang munafik. Untuk mendapatkan suatu
impresi atau keperluan sesuatu, tidak segan-segan mereka menampilkan
wajah-wajah yang lain agar tercapai segala maksud-maksud mereka.
j. Mereka penuh dengan kesombongan
k. Dalam kebutaan pikiran, mereka memegang erat-erat prinsip hidup yang
salah. Contoh: Sang Rahvana yang berpikir tidak ada salahnya mencuri
istri orang lain demi kepuasannya pribadi.
1. Sampai matipun mereka tidak lepas dari rasa khawatir dan ketakutan
yang tak ada habis-habisnya (berbagai ragam sifat-sifat ketakutan).
m. Motto hidup mereka adalah kenikmatan, dan itulah tujuan mereka yang tertinggi.
n. Mereka gemar akan perbuatan-perbuatan amoral yang penuh dengan nafsu dan dosa.
o. Mereka gemar amarah. Selalu murka bahkan hal-hal yang kecilpun mudah menimbulkan rasa amarah mereka.
p. Mereka mengumpulkan harta-benda mereka secara tidak halal.
q. Rasa egoisme mereka amat tinggi. Tidak ada yang tidak dikaitkan
dengan “ke-aku-. an”-nya. “Aku ini yang perkasa, yang berkuasa,
berkedudukan, tanpa aku pemerintahan ini tidak jalan, atau perkerjaan
ini tidak terselesaikan. Aku tak ada tandingannya, yang paling hebat
dan super dan terkaya,” dan lain sebagainya. Mereka ini juga takabur
dan sering berkata, “aku ini Tuhan, aku tak pernah sakit, aku tak bisa
mati,” dan lain sebagainya. Makin lama rasa ego dan keserakahannya
makin bertambah dan ia makin sering membunuh orang-orang yang
dianggapnya musuh karena ia merasa amat berkuasa dan tak punya
tandingan. Demi nama baik mereka, orang-orang ini tidak segan-segan
menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sosial yagna dan dana, yang
sebenarnya hanya kedok belaka, hanya sandiwara untuk tujuan-tujuan
tertentu.
r. Jalan pikiran mereka tak pernah stabil.
s. Mereka terjebak dalam perangkap atau jalan ketersesatan (kegelapan). Duniawi lebih penting bagi mereka daripada Ilahi.
t. Mereka membenci Tuhan Yang Maha Esa yang bersemayam di dalam diri mereka dan dalam diri orang-orang lain.
Orang-orang yang bersifat iblis ini secara terus-menerus berkelana
dalam lingkaran karma dan lingkaran hidup-mati, dan lahir kembali di
tengah-tengah keluarga yang tak bermoral dan penuh dengan kegelapan.
Makin lama makin turunlah taraf kehidupan mereka dan oleh karma mereka
dibawa tenggelam ke arah kehidupan yang makin rendah tarafnya.

Tetapi Yang Maha Pengasih selalu memberikan kesempatan kepada
mereka-mereka ini, yaitu pembersihan diri melalui berbagai penderitaan
dan kesempatan-kesempatan dalam tahap-tahap evolusi kehidupan mereka
ini, karena di dalam setiap jiwa yang sesat pun bersemayam Sang Atman,
Sang Kreshna, Sang Adhyatman Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Yang
tidak akan segan-segannya menunjukkan jalan kepada semua
makhluk-makhlukNya. Dan lambat laun jiwa-jiwa yang menderita dan
tersesat ini akan tergugah juga memohon Yang Maha Kuasa agar dibebaskan
dari penderitaan dan karma mereka. Dan kalau sudah tiba saatnya yang
tepat, maka Yang Maha Esa pun akan menjatuhkan berkahNya kepada makhluk
atau individu ini dan terbukalah jalan ke arahNya lagi, dan suatu saat
mereka-mereka ini pun akan dapat mengalahkan nafsu-nafsu duniawi mereka
dan lepas dari dunia yang penuh dengan penderitaan ini, menyatu
denganNya, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Om Tat Sat.

Maka, kalau sudah merasa suci atau bersih janganlah sekali-kali
memandang rendah atau hina kepada mereka yang berdosa atau pada
makhluk-makhluk yang tak berdaya, tetapi selalulah menuntun
mereka-mereka ini ke jalan yang benar dengan kasih-sayang yang sejati.
Maafkanlah dosa-dosa mereka seperti yang dilakukan oleh Yang Maha Kuasa
terhadap kita juga. Sebenarnya tidak ada seseorang pun yang berdosa di
dunia ini, yang ada hanyalah orang-orang yang kurang pengetahuannya dan
tidak sadar, tersesat oleh kenikmatan duniawi. Jadi tuntunlah selalu
mereka-mereka ini. Yesus Kristus pernah bersabda, “Tidak ada yang baik
selain Tuhan.” Memang benar, hanya Ia Yang Maha Baik, kita manusia
harus selalu belajar untuk menjadi baik dan benar agar diterima oleh
Yang Maha Baik ini. Seorang yang suci dan agung, seandainya tidak lagi
terpakai oleh Yang Maha Kuasa maka ia pasti akan menjadi sampah lagi,
tetapi seorang asura yang menjijikkan akan menjadi suci, sekali Yang
Maha Esa berkenan mengubahnya. Camkanlah hal ini dan jauhikan diri kita
dari rasa jijik, diskriminasi, perbedaan kasta dan derajat. Pandanglah
setiap manusia dan makhluk dengan pandangan yang sama, ingat Yang Maha
Esa hadir di mana-mana dan dalam setiap makhluk, dan la tidak mengenal
diskriminasi, maka seharusnya kita pun bersikap sama. Yang Maha Esa
bisa saja mengubah status seseorang sesuai dengan kehendakNya, maka
jangan sekali-kali pongah atau tinggi hati terhadap seseorang atau
dalam suatu situasi tertentu.
21. Terdapat tiga gerbang untuk menuju ke neraka ini, yang menjadi
penghancur dari diri sendiri — nafsu, kemarahan dan keserakahan. Maka
seyogyanyalah manusia membuang jauh-jauh ketiga faktor ini.

22. Seseorang yang telah lepas dari ketiga gerbang kegelapan ini, oh
Arjuna, maka telah selesailah semua kebutuhan-kebutuhannya dan kemudian
(ia) mencapai tujuan yang tertinggi.
Ada tiga pintu gerbang kegelapan, yang diartikan juga sebagai tiga
pintu masuk utama ke neraka, yaitu nafsu, rasa amarah dan keserakahan
atau rasa iri. Nafsu (kama) atau keinginan yang beraneka-ragam ini
sebenarnya adalah pemuasan membabi-buta untuk indra-indra kita.
Sedangkan rasa amarah timbul kalau jalan ke arah pemuasan nafsu-nafsu
ini terhalang. Keserakahan atau lobha adalah salah satu nafsu untuk
memperkaya diri sendiri dengan obyek-obyek duniawi baik secara material
maupun secara psikologis dan demi memenuhi nafsu indra-indra dan
pribadi. Raga kita sebenarnya diciptakan agar menjadi instrumen atau
alat yang dapat memenuhi kebutuhan akan potensi spiritual kita, agar
tercapai kembali kesatuan antara kita dan Sang Pencipta. Tetapi kalau
diberikan kebebasan dan fasilitas untuk memilih sendiri tujuan kita,
maka banyak manusia akan tersesat dan menggunakan raga mereka demi
tujuan nafsu-nafsu belaka, tanpa sadar bahwa di dalam tubuh dan otak
kita tersimpan potensi spiritual yang amat luarbiasa yang sekiranya
digunakan secara benar akan menimbulkan keajaiban-keajaiban dan keadaan
yang memungkinkan kita mencapai Yang Maha Esa dengan lebih sempurna
lagi. Faktor potensial ini sering lepas dari jangkauan manusia dan kita
melaju makin dalam ke arah kegelapan yang tak ada ujung-ujungnya,
mengembara dari satu neraka ke neraka yang lainnya, tanpa akhir.

Dunia dan isinya ini sebenarnya diartikan sebagai ekspresi dari
kesucian dan keagungan Yang Maha Esa, dari cinta-kasih dan
saling-menolong atau menunjang diantara sesamanya, agar tercapai
kedamaian, keharmonisan dan kehidupan yang layak bagi semuanya. Tetapi
kalau semua potensi dan kekayaan alam semesta ini dipakai manusia hanya
untuk memuaskan pribadi-pribadi manusia-manusia itu sendiri, dan
manusia itu kemudian mengabaikan semua kebahagian, keagungan dan
kekayaan yang telah disediakan Yang Maha Kuasa, maka tak ada jalan
lain, silahkan menuju ke arah neraka yang paling dalam. Selama manusia
mengeksploitasi nafsu-nafsu dan dirinya sendiri, merusak alam dan
makhluk lain sesamanya dengan nafsu-nafsu ini maka selama itu pula
manusia ini akan menjurus kelingkaran setan yang tak ada habis-habisnya.

Dan ingatlah seandainya anda berjalan di jalan nafsu dan keserakahan
maka anda akan menghadapi oposisi dari pihak yang lain, karena anda
sedang berjalan di jalan yang salah. Jalan salah ini berarti anda
sedang melawan Hukum Abadi yang hadir di alam semesta ini, yang tak
nampak tetapi selalu ada dan berkuasa. Dan sekali atau terus-menerus
anda mendapatkan perlawanan ini, maka anda akan meledak dengan
kemarahan yang dahsyat, anda akan membenci dan secara brutal menyerang
mereka-mereka yang beroposisi terhadap anda. Selama itu anda boleh
yakin bahwa anda sedang diikat erat-erat oleh keterikatan duniawi ini,
dan itu berarti anda sedang melaju cepat ke neraka yang dalam.

23. Seseorang yang telah mengabaikan shastra-vidhi (kaidah-kaidah
suci yang terdapat di skripsi-skripsi suci agama Hindu), mengikuti
dorongan-dorongan nafsu — maka orang ini tidak mencapai kesempurnaan,
tidak juga kebahagiaan yang benar, tidak juga tujuan yang tertinggi.

24. Maka seyogyanyalah, jadikanlah kaidah suci ini sebagai pedoman
untuk mengambil sesuatu putusan tentang apa yang harus dilakukan dan
apa yang tak harus dilakukan. Sadar akan apa yang telah disabdakan oleh
kaidah-kaidah suci ini, bekerjalah dikau, oh Arjuna, pekerjaanmu di
dunia ini.
Agar jauh dari gerbang-gerbang kegelapan ini, maka seyogyanyalah
manusia menjauhi dan mengendalikan diri mereka dari semua nafsu-nafsu
dan berpedoman pada skripsi-skripsi suci yang memuat hukum atau kaidah
suci bagi kesejahteraan manusia. Hukum atau kaidah suci yang dikandung
oleh kitab-kitab (shastrci) suci Hindu semenjak masa silam adalah
sumber pengetahuan yang suci dan agung yang tak ada habis-habisnya, dan
merupakan penerangan di jalan kegelapan kita. Dengan kata lain, tidak
usah jauh-jauh mencari sumber kaidah atau hukum suci ini, Bhagavat Gita
adalah intisari dari semua Veda-Veda yang ibarat sebuah sumur yang tak
pernah sarat airnya kalau kita ingin berbicara tentang kaidah-kaidah
suci dari agama Hindu ini. Berpedoman pada ajaran Bhagavat Gita manusia
akan lepas dari keterikatan-keterikatan duniawinya secara tuntas, kalau
mau kita betul-betul menghayati ajaran dan sabda-sabda Sang Kreshna,
seperti sloka di atas, “sadar akan apa yang telah disabdakan oleh
kaidah-kaidah suci ini, bekerjalah dikau, oh Arjuna, pekerjaanmu di
dunia ini.” Yang Maha Esa tidak melarang kita bekerja. Ia malahan
menganjurkannya dengan jalan yang benar bekerja tanpa pamrih demi Ia
semata. Sadarlah akan hal ini wahai manusia, kebahagiaan akan kehidupan
ini dan Yang Maha Esa itu sendiri sebenarnya ada diantara kita-kita ini
juga, Mengapa melangkah jauh-jauh dari ini semua? Om Tat Sat.Dalam
Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya-Sastra
Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, bab ini adalah bab yang
keenam-belas yang disebut: Daivasura Sampad Vibhaga Yoga atau Ilmu
Pengetahuan tentang Perbedaan antara Sifat Yang Suci dan Sifat Iblis.

Bab 17 - Tiga Jenis Kepercayaan
Berkatalah Arjuna:
1. Mereka yang tidak kenal akan kaidah-kaidah suci ini, tetapi
mempersembahkan pengorbanan dengan kepercayaan (iman) –bagaimanakah
keadaan mereka ini, oh Kreshna? Apakah (mereka) ini tergolong sattva,
raja atau tama?
Timbul pertanyaan yang wajar di dalam hati sang Arjuna, apakah perlu
kita semua belajar tentang hukum atau kaidah-kaidah yang dikandung oleh
skripsi kuno dan buku-buku suci lainnya? Apakah Bhagavat Gita sendiri
tidak cukup atau memadai? Dan bagaimana dengan nasib mereka yang
beriman tetapi tidak pernah membaca atau mengetahui tentang naskah atau
skripsi-skripsi kuno ini? Sebenarnya hukum ini — karena sifatnya yang
abadi, spiritual dan alami — secara otomatis akan bekerja sendiri.
Tidak penting apakah setiap orang yang beriman itu pernah mendengar
atau tidak akan hukum/kaidah ini. Sesuai dengan karuniaNya maka
seseorang yang beriman akan belajar sendiri atau dengan kata lain
mendapatkan sendiri semua kaidah-kaidah suci ini secara bertahap, dan
ia akan memahami itu semua dengan baik. Yang penting, kita ini (setiap
individu) harus jujur pada diri sendiri, dan walaupun tak pernah
mendengar tentang sastra-sastra ini, seorang yang telah terpanggil ke
jalanNya akan secara otomatis mempelajari dan mempraktekkan secara
langsung semua kaidah dan hukum-hukum suci ini, sesuai dengan hati
nuraninya, karena memang hukum ini sifatnya amat universal dan alami.
Arjuna yang khawatir akan nasib seseorang yang beriman tetapi tidak
kenal kaidah-kaidah suci ini, sebenarnya tidak perlu khawatir, karena
yang penting adalah penghayatan dan pengamalan kaidah-kaidah itu
sendiri secara tulus, dan bukan dengan membaca atau mengetahuinya.
Kaidah-kaidah itu sendiri secara tulus, dan bukan semua itu datang dari
Satu Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Pengasih dan Penyayang. Walau
nampaknya kaidah-kaidah ini berlainan dalam berbagai ajaran agama,
ajaran moral, kebatinan dan hukum tetapi intisarinya selalu Manunggal,
yaitu Satu, dan semua itu selalu berporos dan kembali kepadaNya juga.
Om Tat Sat.

Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
2. Kepercayaan manusia (makhluk yang dapat binasa), yang lahir dari
sifat-sifat mereka terbagi dalam tiga bagian — sattvik, rajasik dan
tamasik. Dengarkanlah oleh mu semua ini.

3. Iman seseorang, oh Arjuna, adalah berdasarkan sifat seseorang
itu. Manusia dibentuk oleh imannya: begitu imannya, begitu juga
manusianya.
Shradda, atau iman atau kepercayaan, adalah ekspressi dari setiap sifat
sejati atau asli dari individu itu sendiri yang sudah diatur oleh
karma-karmanya. Begitu sifatnya, begitu juga prilaku orang itu.
Kepercayaannya akan Yang Maha Esa, otomatis terpancarkan sesuai dengan
sifat-sifat asli setiap individu yang tentunya berbeda-beda dari setiap
manusia ke manusia yang lainnya, dan faktor ini juga akan
membeda-bedakan prilaku manusia tersebut. Dan ada tiga golongan
kepercayaan pada setiap makhluk yang hidup, terutama yang disebut
manusia (makhluk yang juga dapat binasa), yaitu sattvik (dari sattva),
rajasik (dari raja) dan tamasik (dari tama), yang hadir secara
berbeda-beda dan dominan dalam bentuk dan kekuasaannya masing-masing.

4. Manusia-manusia yang bersih memuja para dewa, manusia-manusia
yang bernafsu memuja para yaksha dan para rakshasa, dan yang lainnya,
yaitu manusia-manusia yang berada dalam kegelapan — memuja hantu-hantu
dan roh-roh yang bergentayangan.
Shradda (iman) yang bersifat sattvik ini menunjukkan kemurnian atau
kesucian orang-orang dengan sifat ini, yaitu memuja Tuhan Yang Maha Esa
atau para dewa-dewa yang dianggapnya Tuhan atau pengganti Tuhan. Dan
sewaktu ajal mereka tiba, mereka ini pergi ke tujuan pemujaan mereka
sesuai dengan imannya masing-masing. Mereka ini dapat saja mencapai
penerangan atau nirvana pada akhir hayat mereka. Sifat-sifat rajasik
adalah sifat-sifat yang penuh dengan energi. Iman rajasik adalah iman
yang penuh energi, nafsu dan keinginan-keinginan bagi mereka yang
menginginkan kekuasaan, harta-benda, sukses dan lain sebagainya.
Mereka-mereka yang punya kepercayaan rajasik ini memuja para yaksha
(dewa-dewa pemberi harta dan kesejahteraan duniawi) dan para rakshasa
(setan dan iblis). Sedangkan sifat-sifat tamasik adalah sifat-sifat
kegelapan total yang dimiliki oleh mereka-mereka yang kurang sekali
pengetahuannya akan kebesaran Yang Maha Esa, mereka amat serakah dan
tidak suci, amat sensual, malas dan penuh akan sifat-sifat gelap
lainnya. Demi hasrat dan jalan pintas ke sukses dan pencapaian
kesejahteraan duniawi ini mereka memuja roh-roh yang sesat, hantu, jin
dan kuasa-kuasa gelap yang cepat mendatangkan kenikmatan bagi mereka.

5. Manusia-manusia yang menjalankan disiplin-disiplin spiritual
secara negatif, yang tidak dianjurkan oleh skripsi-skripsi suci, yang
telah terbiasa dengan kemunafikan dan rasa egoisme dan telah terseret
oleh kekuatan nafsu dan keinginan (duniawi).

6. Manusia-manusia semacam ini tak memiliki akal-budi. Mereka
merusak elemen-elemen raga mereka dan Aku yang bersemayam di dalam raga
ini. Ketahuilah bahwa orang-orang ini berpikiran iblis.
Cara pemujaan juga merefleksikan iman atau shraddha ini. Dan seandainya
seseorang memuja sesuatu unsur alami atau yang lainnya dengan menyiksa
tubuh mereka atau merusak tubuh ini dengan sesuatu ritus-ritus
tertentu, maka tapa, pemujaan atau usaha spiritual ini tidaklah suci
sifatnya, tidak sinkron dengan kaidah-kaidah suci yang tertera di
kitab-kitab suci Hindu kita ini; mereka yang merusak raga mereka demi
kepuasan duniawi ini sebenarnya merusak “kuil yang suci,” kuil Sang
Kreshna yang dilahirkan sebenarnya dengan tujuan yang suci, yaitu
menyembah dan mengenal Yang Maha Esa dan bukan menjadi budak dari nafsu
mereka. Raga ini pantang untuk dirusak karena sebenarnya bukan milik
kita dan seharusnya dipergunakan untuk maksud-maksud yang positif, dan
seandainya orang-orang ini masih saja merasa lebih benar dari yang
dianjurkan oleh skripsi-skripsi ini, maka manusia semacam ini adalah
manusia yang egoistik dan hanya mementingkan diri mereka sendiri dan
menghalalkan segala cara demi tercapainya maksud-maksud duniawi mereka.

7. Pangan yang diperlukan oleh semua makhluk terdiri dari tiga
jenis. Begitupun bentuk pengorbanan, tapa dan dana. Dengarlah
perincian-perinciannya.

8. Makanan yang memperpanjang hidup dan menunjang kesucian, tenaga,
kesehatan, kebahagiaan, dan kegembiraan, yang manis, lembut, penuh
dengan gizi dan sesuai, disukai oleh orang-orang yang bersifat sattvik.

9. Makanan yang pahit, asam, bergaram, terlalu pedas, berbau, kering
dan membakar, yang menimbulkan penderitaan, kesusahan dan penyakit
disukai oleh mereka-mereka yang bersifat rajasik.
10. Makan yang tak segar, tak berasa, basi, cacat, tidak bersih adalah
jenis makanan yang disukai oleh orang-orang yang bersifat tamasik.
Makanan yang dimakan seseorang pun merefleksikan karakter seseorang itu
sendiri, yang didasarkan pada iman orang itu sendiri sesungguhnya.
Seperti juga iman atau kepercayaan yang terbagi tiga, maka jenis
makanan pun dibagi tiga:
a. Makanan sattvik, makanan jenis ini menambah kewibawaan,
intelegensia, intelektualitas, kekuatan, kesegaran, kesehatan,
kenikmatan lahir dan batin, kegembiraan, dan kebahagiaan hidup. Makanan
jenis ini adalah yang mudah dimakan, beraroma, manis, mengandung cairan
seperti sari-buah dan buah-buahan; menyehatkan dan sesuai dengan
mereka-mereka yang bertemparamen sattvik. Contoh: gandum, beras,
kacang-kacangan, mentega, susu, produk dari ternak (bukan daging
ternak), buah-buahan dan sayur-sayuran segar dan matang.
b. Makanan rajasik adalah jenis makanan untuk mereka-mereka yang penuh
dengan nafsu dan keinginan-keinginan duniawi, yaitu jenis-jenis makanan
yang rasanya pahit, asam, bergaram, terlalu pedas, berbau, keras dan
menyengat seperti opium, tembakau, tamarin, cabai, gandum yang dibentuk
alkohol dan lain sebagainya. Makanan sejenis ini menimbulkan sakit,
penderitaan dan kesusahan.
c. Makanan tamasik adalah jenis makanan yang disukai oleh mereka-mereka
yang hidup dalam kegelapan dan berpikiran gelap dan iblis. Mereka ini
menggemari makanan yang tidak dimasak dengan baik, yang kotor, yang
tidak ada rasanya, cacat, basi, tidak dapat digolongkan suci atau
bersih. Contoh: daging, ikan, bawang, telur, daging-mentah, buah-buahan
dan sayur-sayuran yang diasamkan, alkohol dan sisa-sisa makanan orang
lain. Juga makanan hasil korupsi dan kejahatan termasuk golongan ini.
Makanan yang disantap kita seharusnya adalah makanan yang menyehatkan
dan membersihkan diri kita. Hasil kerja kita yang halal adalah sattvik,
dan seandainya kita memakan sesuatu dari uang hasil korupsi atau
pekerjaan haram lainnya, dan seandainya kita menerima sesuatu pemberian
atau makanan dari seseorang yang jelas-jelas kita ketahui uangnya
berasal dari uang yang tidak jujur atau tidak halal, maka yang dimakan
itu tidak sattvik. Sebuah pepatah Jerman mengatakan, “Seorang manusia
adalah apa yang ia makan!” Dan ini memang benar adanya, karena
berdasarkan makanan yang kita konsumsikan kemudian timbul berbagai
jenis pikiran di dalam benak. Pikiran, jiwa dan hati kita, dan semua
pikiran ini, kemudian menghasilkan berbagai aktivitas yang berhubungan
dengan kehidupan kita. Jadi berhati-hatilah akan apa yang kita makan
atau konsumsikan. Makanlah sesuatu dari orang-orang yang sifat dan rasa
magnetismenya suci dan bersih. Seseorang yang pantas dimakan makanannya
adalah ibu kita sendiri, istri yang berbakti, putri, saudara perempuan
dan guru kita sendiri. Dan secara mental selalu mempersembahkan makanan
ini sebagai ahuti (persembahan) kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan cara
ini makanan yang dimakan ini akan memberikan kekuatan untuk pekerjaan
kita dan juga untuk amal kita bagi semuanya. Dan sewaktu bersantap
harap diperhatikan bahwa suasana di sekitar tempat makan ini tenang dan
tidak berisik. Makanlah dengan diam-diam tanpa banyak berbicara,
jauhkanlah pikiran dan pembicaraan yang tidak perlu. Ini penting sekali
baik untuk segi kejiwaan maupun kesehatan badani. Cobalah!

11. Persembahan (atau pengorbanan) yang bersifat sattvik, seandainya
dipersembahkan sesuai dengan kaidah-kaidah suci, oleh orang-orang yang
tidak menginginkan suatu imbalan, dan yang percaya dengan teguh bahwa
persembahan (atau pengorbanan) ini adalah wajib sifatnya.

12. Persembahan (atau pengorbanan) yang dipersembahkan dengan maksud
untuk mendapatkan suatu imbalan tertentu atau demi suatu pertunjukkan
belaka adalah persembahan (atau pengorbanan) yang bersifat rajasik
(penuh nafsu), oh Arjuna.

13. Persembahan (atau pengorbanan) yang tidak sesuai dengan
kaidah-kaidah suci, di mana tak ada makanan yang dibagikan, tak ada
mantra-mantra yang diucapkan, dan tak ada dana atau hadiah yang
diberikan, yang kosong akan iman, adalah bersifat tamasik (gelap).
Pengorbanan atau persembahan pun berhubungan dengan karakter asli dari
para pemuja, dan terdapat tiga kualifikasi dari persembahan atau
pengorbanan ini:
a. Persembahan yang bersifat sattvik dilakukan oleh seseorang karena
merasakan adanya kewajiban berdasarkan kewajibannya terhadap Yang Maha
Esa dan kaidah-kaidah suci. Persembahan atau pengorbanan ini dilakukan
tanpa pamrih, tanpa mengharapkan suatu keuntungan tertentu.
b. Persembahan secara rajasik adalah persembahan atau pengorbanan yang
tidak tulus karena dilakukan dengan mengharapkan pamrih atau untuk
suatu tujuan tertentu. Persembahan atau pengorbanan ini dilakukan demi
mendapatkan kemasyhuran dan ada juga yang demi memamerkan kekayaan dan
kekuasaan seseorang.
c. Persembahan secara tamasik adalah persembahan tanpa iman, yang
dilandasi akan maksud-maksud gelap. Persembahan atau pengorbanan ini
bertolak belakang dengan ajaran-ajaran suci.

14. Pemujaan kepada para dewa, kepada yang lahir dua kali, kepada
para guru, dan kaum bijaksana; kemurnian, kejujuran (yang tidak
ditutup-tutupi), disiplin spiritual bagi diri, dan tidak menyakiti
siapapun — inilah yang disebut sebagai tapa-tapa bagi raga ini.

15. Kata-kata (wicara) yang tidak menyakiti seseorang, yang jujur,
menyenangkan dan menguntungkan, dan mempelajari buku-buku suci secara
konstan - inilah yang disebut sebagai tapa-tapa wicara ini.

16. Ketenangan pikiran, kelembutan, diam-diri, kendali-diri,
berpikir (dan juga merasa) secara baik dan murni - inilah yang disebut
tapa-tapa pikiran ini.
Tapa atau disiplin spiritual bagi seseorang pun dibagi tiga. Tapa yang
benar adalah disiplin diri yang dilakukan pada raga, kata-kata (mulut
dan pembicaraan) dan pikiran kita masing-masing sebagai berikut:
a. Tapa atau disiplin pada raga itu adalah dengan menyembah dan memuja
kepada Yang Maha Esa secara teratur dan konstan; menyembah dan bekerja
untuk para guru dan orang-orang yang bijaksana yang menjadi tempat kita
belajar, kepada para pendeta dan Brahmin yang kita hormati dan pada
individu-individu yang agung dan suci ajaran-ajarannya. Dalam tapa
untuk raga ini tercakup juga disiplin yang kuat dalam membersihkan
tubuh kita dari berbagai kekotoran duniawi dan juga benda-benda lainnya
yang dapat membuat kita sakit. Juga kendali pada semu; indra-indra
sensual kita adalah salah satu dari tapa-raga ini. Menjaga kesehatan
raga kita dari berbagai kemungkinan terkena penyakit kotor dan
penyakit-penyakit lainnya, berolah-raga secara teratur, berekreasi ke
alam bebas, bermeditasi adalah tapa atau disiplin bagi raga kita, yang
amat vital dan penting efeknya pada kehidupan spiritual kita.

Juga termasuk dalam tapa-raga ini, ialah kualitas-kualitas atau
sifat-sifat seperti keterus-terangan atau kejujuran, tidak menyakiti
sesama makhluk dan usaha-usaha bramacharya, yaitu mendisiplinkan diri
dan raga kita agar jauh dari nafsu-nafsu badani. Jauhkanlah kemanjaan
dalam hidup ini, hiduplah secara sederhana saja dai lebih alami. Jangan
berpikir semasih ada pergunakan saja kesempatan dan fasilitas yang
telah diberikan Tuhan kepada kita, kemudian dengan landasan pemikiran
semacam ini, kita berfoya-foya atau hidup yang mewah dan penuh dengan
kenikmatan duniawi. Tetapi berpikirlah selama diberi kesempatan dan
fasilitas ini kita malahan menggunakan secara minim dan yang perlu
saja, dan ingat Yang Maha Esa tidak pernah menciptakan uang, rumah, AC,
mobil dan benda-benda mewah lainnya, yang menciptakan semua ini adalah
manusia. Yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa adalah alam, jadi
kembalilah ke alam yang tak ada habis-habisnya ini, di alam yang murni
ini terletak kebahagiaan dan obat kita untuk mengatasi semua problem
kita. Semua yang nampaknya mewah dan praktis ini sebaliknya malahan
membuat raga kita sakit karena kurang gerak dan jadilah kita budak dari
semua milik kita yang mewah-mewah ini dan timbullah efek dari semua ini
yang biasanya membuat kehidupan kita makin tergantung kepadanya, dan
bukan sebaliknya. Padahal tubuh dan pikiran kita diciptakan sedemikian
rupa agar makin banyak gerak dan semakin alami hidup kita maka semakin
sehatlah raga dan pikiran kita akhirnya. Jauhilah dan kurangilah
pembantu rumah-tangga yang berlebihan jumlahnya, sebisa mungkin kita
bekerja sendiri semua urusan rumah-tangga kita dan bergeraklah
semaksimum mungkin sambil bekerja. Inilah salah satu tapa-raga kita
yang sehat dan sattvik sifatnya.

b. tapa-wicara atau disiplin pada kata-kata atau pembicaraan kita
adalah disiplin diri kita dalam bertutur-kata. Jauhilah bualan-bualan
kosong maupun kata-kata yang penuh dengan nada kebanggaan, sombong dan
egois. Selalu berkata sejujur mungkin, tulus dan mengutarakan kata-kata
yang baik, lembut dan bermakna, yang menyejukkan hati yang
mendengarkannya. Sebuah pepatah Jepang mengatakan, “Satu kata yang
lembut, menyejukkan tiga bulan musim panas.” Kata-kata yang jauh dari
nafsu dan kekotoran adalah kata-kata yang harus selalu melekat pada
bibir dan pikiran kita. Gunakanlah selalu kata-kata yang dapat menolong
seseorang yang memerlukannya, (nasehat-nasehat) dan Jauhilah
argumen-argumen yang menunjukkan rasa egoisme yang pribadi, seperti
“ini punyaku, ini aku yang melakukannya, dan lain sebagainya.” Jauhilah
kata-kata kasar dan didorong rasa amarah. Dekatilah Ia selalu setiap
saat, setiap waktu baik sedang bekerja maupun tidak, dan selalu
mengucapkan doa-doa, mantra-mantra suci dan “berdialoglah denganNya
baik secara verbal maupun secara mental. Inilah tapa-wicara yang
penting dilakukan kita semua, demi tercapainya disiplin spiritual kita
yang lebih tinggi, yaitu disiplin kepada dan bagiNya.

c. Tapa-jiwa (atau pikiran) adalah: (1) Selalu membuat pikiran kita
gembira dan balans (stabil) dengan menenangkan diri dan mencari
ketenangan baik di tengah-tengah kesibukan maupun ketika sedang seorang
diri. (2) Kelembutan atau ramah-tamah, tetapi ini tidak berarti
kelemahan atau rasa pengecut, tetapi bersikap ramah, baik dan
terus-terang, tenang dan welas-asih terhadap semua makhluk, manusia dan
benda-benda. (3) Diam-diri atau tenang-diri tidak berarti kita harus
bermeditasi sepanjang hari, atau diam seperti patung, atau bagaikan
orang-mati dan tidak bergerak sama-sekali, atau juga lari dari
pekerjaan dan kewajiban kita sehari-hari, melainkan berarti
mengusahakan setiap harinya untuk sejenak meluangkan waktu kira-kira 10
menit atau satu jam, dan duduk bermeditasi atau “berdialog” dengan Yang
Maha Esa secara tenang dan tidak terganggu. Ini baik untuk menjauhkan
stress dan berbagai problem, tetapi lebih baik secara spiritual karena
akan makin mendekatkan kita kepadaNya secara lambat laun tapi pasti.
Hal ini dapat dilakukan di kantor, rumah, di toko, atau sambil
berolah-raga jalan kaki misalnya, sambil berdiri di suatu tempat secara
tenang dan lain sebagainya. Yang Maha Esa dapat dihubungi dengan cara
apa saja dan di mana saja karena Ia Maha Hadir di alam semesta ini.
Yang penting luangkan waktu sejenak pada waktu-waktu tertentu atau
secara bebas, dan berusaha tenang dan menyatu denganNya. (4) Kendali
pada pikiran dan (5) membersihkan perasaan kita. Kedua hal terakhir ini
berarti janganlah berpikir yang tidak-tidak atau berspekulasi atau
mencurigai sesuatu atau seseorang. Tetapi fokuskanlah diri padaNya
selalu dan banyak berpikirlah mengenai hal-hal yang positif dan suci,
dan yang tidak merusak jiwa dan mental kita. Seperti raga yang harus
dibersihkan setiap hari dengan air bersih, maka jiwa dan pikiran kita
pun harus dimandikan dan dibersihkan dengan selalu berpikir tentang
Yang Maha Esa dan hal-hal yang positif, bersih, murni dan baik untuk
semua yang di sekitar kita dan di seluruh alam semesta ini, dengan
doa-doa dan mantra-mantra suci bagi semuanya (di alam semesta ini).
17. Ketiga tapa (di atas) ini disebut sattvik, seandainya dilaksanakan
dengan iman yang tinggi oleh mereka-mereka yang stabil pikirannya dan
tanpa mengharapkan pamrih.

18. Tapa-tapa yang dilakukan demi peragaan atau pertunjukan yang
penuh dengan rasa kesombongan agar mendapatkan rasa hormat, kemasyhuran
dan agar dipuja orang, disebut sebagai tapa-rajasik, tapa ini tidak
stabil dan hanya sementara sifatnya.

19. Tapa-tapa yang mengakibatkan penyiksaan pada diri-sendiri atau
pada orang (dan makhluk lainnya), yang dilaksanakan oleh mereka yang
pikirannya telah tersesat disebut sebagai tapa tamasik.
Tapa atau disiplin diri secara sattvik adalah kendali-raga, wicara dan
pikiran dengan penuh iman dan tanpa keserakahan. Sedangkan tapa yang
bersifat rajasik mengarah pada rasa-hormat dan kemasyhuran dan
bermotifkan sesuatu, jadi tidak tulus dan selalu mengharapkan imbalan.
Tapa tamasik bahkan merusak diri atau orang dan makhluk lain. Disiplin
yang amat keras dan fanatik, yang merusak diri sendiri tidak dianjurkan
karena sebenarnya secara spiritual malahan tidak spiritual sama sekali
dan tidak mengarah kepada pembebasan (mukti) dan Yang Maha Esa. Memang
disiplin semacam ini dapat menghasilkan kekuatan-kekuatan gaib tertentu
baik secara ragawi maupun secara batin, tetapi semua kekuatan-kekuatan
ini sebenarnya adalah hambatan-hambatan yang besar ke arah jalan
spiritual yang sejati dan penerangan Ilahi tidak akan turun karenanya.
Sebaliknya yang timbul akibat kesaktian-kesaktian ini adalah rasa
sombong dan ego yang baru sifatnya. Jadi supaya tidak sia-sia jalan
spiritual kita, dianjurkan untuk secara sederhana saja memuja Yang Maha
Esa; dan kekuatan gaib yang datang sendiri karena karuniaNya saja yang
boleh dipergunakan untuk tujuan-tujuan manusiawi dan demi Yang Maha Esa
tanpa pamrih.

Puasa yang berkepanjangan dan menyiksa diri, kemudian
praktek-praktek atau ritus-ritus yang merusak tubuh, yang menyiksa
tubuh, tidak pernah dianjurkan oleh guru-guru maupun ajaran-ajaran suci
di dunia ini. Lebih baik melakukan suatu disiplin diri yang tidak
terlalu keras dan bersifat kejam, tetapi tidak juga yang santai-santai
sifatnya. Yang dianjurkan dengan disiplin ini adalah pengendalian dan
nafsu-nafsu kita yang kalau tidak diajarkan yang baik akan selalu
bergentayangan ke arah obyek-obyek sensual. Semua disiplin ini juga
sebenarnya mengajarkan kita untuk membersihkan dan menguatkan diri dan
jiwa kita, guna menghadapi semua cobaan hidup sehari-hari, semua suka
dan duka, semua kesenangan dan kesusahan, kenikmatan dan penderitaan
secara stabil. Bukankah hidup kita sehari-hari tidak lain dan tidak
bukan ibarat ujian-ujian yang berat saja. Semua itu bisa dihadapi
secara stabil dan teguh, jika kita terbiasa akan disiplin diri ini.
Setiap tindakan disiplin diri yang sejati seharusnya menghasilkan suatu
tekad yang kuat dalam berbagai tindakan dan pemikiran kita,
menghasilkan suatu rasa kasih-sayang yang positif terhadap semua
makhluk dan sesama kita yang menderita, menjauhkan kita dari rasa ego,
rasa marah, dan keinginan-keinginan pribadi kita yang selalu tak pernah
kunjung habis.

Suatu tapa yang baik dan sejati akan menghasilkan seseorang yang
tegar imannya, yang aktif bekerja, berdoa, memuja Yang Maha Esa tanpa
pamrih, yang aktif menolong siapa saja tanpa pamrih, yang aktif
berekreasi dan berolah-raga secara sehat, yang berkewajiban penuh
kepada semua kewajiban-kewajibannya di lingkungannya, di negaranya dan
tempat-tempat yang berhubungan dengan orang itu sendiri, terutama
kewajibannya kepada Yang Maha Esa. tapa yang sejati menghasilkan
sesuatu yang amat besar nilainya secara spiritual dan kejiwaan bagi
seseorang yang melakukannya secara sejati. Sukar dilukiskan ketenangan
orang semacam ini, sukar dikatakan akan kekuatan jiwanya, karena
ketegaran dan kepasrahannya pada Yang Maha Esa akan menghapus semua
rasa takutnya pada apapun juga di dunia ini selain Yang Maha Esa. Kalau
ada yang ingin anda salibkan atau kuburkan sebelum kita ini binasa,
maka saliblah atau kuburkanlah pikiran dan jiwa anda yang penuh polusi,
agar jauh dari kekotoran-kekotoran duniawi. Dengan jiwa dan pikiran
yang terkendali, bersih dan murni akan dihasilkan raga perbuatan yang
bersih, suci, murni dan bebas dari polusi duniawi. Jauhilah unsur-unsur
kenikmatan yang berlebihan dan juga unsur-unsur yang memancing
kenikmatan-kenikmatan ini, kendalikan diri, pergunakan semua fasilitas
yang diberikan olehNya secukupnya saja sesuai kebutuhan kita, dan
jangan sekali-kali menghamburkan tenaga, pikiran dan fasilitas anda
pada semua yang berbau duniawi ini. Kibarkanlah panji-panji kebajikan
mulai dari diri kita sendiri, dan bertapa atau berdisiplin dirilah
secara sejati dan murni, inilah penyaliban atau penguburan diri kita
yang sejati.

Kita pun harus belajar untuk menjadi miskin dalam hidup ini, bukan
berarti lalu setiap orang mengubah dirinya menjadi peminta-minta,
tetapi baik penampilan dan kehidupan sehari-hari diubah sederhana. Pola
hidup sederhana jangan hanya dijadikan semboyan pemanis bibir saja,
tetapi harus dilaksanakan secara lahir dan batin, dimulai sebaiknya
semenjak dini. Dan ini adalah tanggung-jawab orang-orang tua sebenarnya
dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Seandainya anda seorang
yang hartawan, mulailah berdisiplin diri dengan tinggal di sebuah rumah
yang sederhana saja tetapi baik dan sehat lingkungannya, berpakaian dan
makan secara sederhana saja tetapi sehat dan penuh gizi, dan bersifat
makanan sattvik, karena yang penting adalah berpikir dan bertindak
sattvik. Seharusnya kita menyadari bahwa manusia ini sebenarnya amat
miskin, karena sewaktu lahir kita dikirim ke dunia ini dalam keadaan
telanjang-bulat dan sewaktu mati nanti apa yang akan kita bawa serta?
Semua ini hanya pinjaman dan ilusi saja, sebenarnya hanya penunjang
saja untuk kehidupan kita, lalu untuk apa serba mewah dan gemerlapan,
kalau yang terpakai hanya sekedar saja dan sisanya dalam jumlah yang
besar hanya sebagai dekor dan penghias belaka? Sewaktu berlebihan
inilah kita belajar hidup sederhana, agar di kemudian hari sewaktu
mengembalikan semua ini kita sudah siap sedia sama seperti kita datang
ke dunia ini.

Intisari dari semua tapa dan disiplin diri spiritual ini ialah:
Disiplin dan kendalikan diri anda sebegitu rupa agar anda jauh dari
rasa memiliki, rasa ego, dan rasa pamrih. Hanya Yang Maha Esa saja yang
seharusnya tampil sebagai tujuan kita bekerja, dan hanya Ia saja
terpikir senantiasa dalam jiwa sanubari kita, kosongkanlah,
sekosong-kosongnya jiwa dan pikiran kita dari semuanya yang berbau
duniawi. Kalau sudah kosong secara sejati, maka Yang Maha Esa akan
mengisinya!

20. Pemberian yang diberikan, terdorong oleh rasa kewajiban, kepada
seseorang tanpa mengharapkan sesuatu kembali, dan diberikan di tempat
yang tepat dan pada waktu yang tepat dan kepada orang yang
membutuhkannya –pemberian ini disebut sattvik (bersih).

21. Bila suatu pemberian diberikan dengan itikad mendapatkan sesuatu
imbalan atau dengan harapan bahwa di kemudian hari akan ada balasannya,
atau diberikan secara tidak ikhlas - pemberian ini disebut rajasik
(bersifat mementingkan diri sendiri).

22. Pemberian yang diberikan pada tempat dan waktu yang salah atau
kepada orang yang tak pantas menerimanya, atau diberikan tanpa rasa
hormat atau dengan diiringi caci-maki — pemberian ini disebut tamasik
(gelap).
Terdapat tiga jenis pemberian dana atau perbuatan amal yang jelas
diperinci di atas, yang masing-masing didasarkan pada sifat-sifat
seseorang. Seperti kata Nabi Muhammad SAW, maka sebenarnya memberikan
dana atau perbuatan amal itu lebih ditegaskan pada itikadnya, contoh:
memberikan air pada seorang musafir yang kehausan adalah dana,
membersihkan batu atau benda-benda tajam dari jalan agar orang lain
tidak tersandung dan tertusuk adalah dana, tersenyum memberi semangat
pada seseorang yang kesukaran adalah dana. Menggali sumur, menyediakan
tempat minum, membangun jalan, membangun tempat ibadah dan menanam
pepohonan demi kebutuhan masyarakat dan melestarikan alam adalah dana.
Bukankah sebenarnya dengan kata lain pemberian dana atau perbuatan amal
itu adalah kekayaan seorang manusia yang sebenarnya. Pemberian tidak
selalu identik dengan uang, tanpa uangpun seseorang dapat memberi tanpa
habis-habisnya dan itulah kekayaan kita yang sejati. Sadarkah kita akan
hal ini? Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Sewaktu seseorang
meninggal dunia, orang-orang bertanya harta-benda apa saja yang telah
ditinggalkannya, tetapi para malaikat bertanya amal-perbuatan baik apa
saja yang telah dilakukannya sebelum ia meninggal dunia? Pemberian yang
ikhlas dan tanpa pamrih adalah kekayaan sejati, seperti kata sebuah
pepatah: “Hanya orang kaya yang dapat memberikan tanpa merasakan
kehabisan, yang miskin hanya dapat menerima saja tanpa memberi
kembali!” Seseorang disebut miskin kalau sudah menerima apa adanya
masih saja merasa kurang dan meminta terus, dan hal ini berlaku untuk
orang-orang yang merasa kaya-raya tetapi selalu haus akan harta-benda,
kedudukan dan hal-hal duniawi lainnya. Sebaliknya seorang petani yang
miskin secara duniawi mungkin adalah orang yang amat kaya, karena
setiap harinya ia bersyukur ke hadirat Yang Maha Esa untuk semua yang
didapatkannya hari itu. Kalau saja semua ini dapat dihayati oleh semua
insan di dunia ini, damai sentosalah kita semuanya.

Dana atau amal adalah perbuatan yang amat mulia sifatnya, yang
dianjurkan oleh semua agama di dunia ini, karena dengan jalan ini
lahirlah rasa simpati yang dalam dari hati nurani kita kepada
makhluk-makhluk ciptaan Yang Maha Esa yang lainnya seperti sesama
manusia, fauna, flora, makhluk-makhluk halus dan lain sebagainya. Dana
atau amal yang sejati menciptakan kedamaian, kebahagiaan, membuat hidup
ini berarti bagi sesamanya. Perbuatan dana atau amal adalah salah satu
kreasi Yang Amat Indah dan Penuh Makna, ciptaan Yang Maha Esa.
Memberikan dana adalah ibarat menanam pohon yang cabang-cabangnya
menjulang tinggi langit tanpa habis-habisnya. Memberikan tanpa pamrih
adalah inti dari kebahagiaan sejati atau berkah dari Yang Maha Esa
sesungguhnya.

Lihatlah Ibu Theresia, pemenang hadiah Nobel untuk perdamaian dari
India, yang telah menolong jutaan manusia hina-papah di India dan di
bagian-bagian lain di dunia tanpa mengharapkan suatu imbalan apapun
juga. Memulai usahanya tanpa uang sepeserpun dan hanya berbekal iman
pada Tuhan Yang Maha Esa ia masih dapat menolong ribuan manusia setiap
harinya. Ibu Theresia inilah lambang dari Yang Maha Esa sesungguhnya
dalam bentuk manusia di muka bumi ini, yaitu memberi tanpa pernah
merasa akan kehabisan, dan tetap saja Ibu yang suci ini berkata, “Tuhan
belum memberikan aku suatu kesuksesan, la hanya telah membuatku
beriman.” Om Tat Sat.
23. “Om Tat Sat” - inilah yang dikatakan sebagai ketiga faktor penting
dari Sang Brahman (Yang Maha Esa). Dengan ini terciptalah para Brahmin
di masa lalu, Veda-Veda dan persembahan-persembahan (pengorbanan).

24. Maka dengan itu semua tindakan pengorbanan, persembahan
(pemberian) dan disiplin spiritual yang dianjurkan skripsi-skripsi
suci, dimulai dengan ucapan kata Om oleh mereka-mereka yang mengetahui
akan Sang Brahman.

25. Mereka yang menginginkan pembebasan (penerangan) memulai
tindakan pengorbanan, disiplin dan persembahan mereka dengan ucapan
kata Tat (Itu), tanpa mengharapkan pamrih.

26. Kata Sat dipergunakan dengan menyadari realitas dan kebenaran.
Begitu juga, oh Arjuna, kata Sat dipergunakan untuk tindakan-tindakan
terpuji.

27. Keteguhan dalam pengorbanan, disiplin-disiplin spiritual dan
pemberian dana juga, disebut “Sat,” dan juga tindakan yang terpusat
pada hal itu disebut Sat.

28. Apapun yang dilakukan tanpa iman, apakah itu persembahan (dalam
suatu pengorbanan), dana atau disiplin spiritual, atau apa saja yang
lain daripada itu, disebut asat, oh Arjuna! Pekerjaan semacam itu tak
ada nilainya (artinya) baik di sana maupun di sini.

Om Tat Sat adalah tiga patah kata mistik yang disebut-sebut di
pustaka-pustaka suci Hindu. Ada hubungannya yang amat dalam dan
bersifat mistik, suci, sekaligus spiritual antara kata-kata ini dengan
semua tindakan yagna, tapa dan dana.
Om Tat Sat adalah tiga patah kata yang menyatu artinya dan merupakan
manifestasi dari Yang Maha Esa, Sang Para Brahman dan semua
tindakan-tindakanNya. Kata Om berarti supremasi Yang Maha Esa yang
tanpa ada tandingannya. Yang Maha Esa atau Sang Brahman begitu tinggi
dan agung bentuk dan sifatNya sehingga tidak ada suatu kata pun yang
dapat menggambarkanNya atau melukiskanNya dengan pasti apa itu
sebenarnya Yang Maha Kuasa ini. Kata Om maka dari itu dijadikan lambang
dari supremasi atau keagunganNya. Om kata filsuf shankara dapat berarti
“setiap kata tunduk di hadapan Yang Maha Esa.” Begitu agung makna
simbol atau kata Om ini bagi orang-orang Hindu. Manusia hanya bisa
menangkap apa arti Yang Maha Esa tetapi tidak bisa menggambarkan atau
mengekspresikan Apa Itu Yang Maha Esa sebenar-benarNya.”

Setiap agama berusaha untuk menggambarkan atau melukiskan atau
bahkan memberikan nama dan arti untuk Yang Maha Esa dengan versinya
masing-masing, tetapi sesungguhnya kita manusia begitu terbatas
kemampuannya sehingga tak akan pernah dapat dan tahu apa itu Yang Maha
Esa sesungguhnya dengan segala manifestasi dan keagunganNya. Setiap
agama dan ajaran suci memanggilNya dengan nama dan sebutan suci
masing-masing, begitu juga para Aryan yang menjadi nenek-moyang dari
orang-orang Hindu di India memberikanNya suatu nama atau sebutan suci,
yaitu Om. Dengarkanlah gema nama ini dalam alunan Sang Bayu, dan
gelegarnya suara ombak, dalam alunan aliran sungai yang mengalir, dan
dalam cahaya bintang-bintang di langit, dalam kicauan dan lagu-lagu
alam para burung di alam-bebas, dan dalam gegap-gempitanya suara
halilintar, dalam lagu-lagu pujaan seorang bhakta (pemuja)Nya, dalam
suara lonceng-lonceng di gereja dan di kuil, dalam puja-puji dan
kidung-kidung suci di stupa-stupa dan suara azan yang merdu di
mesjid-mesjid. Semua ini menyebut nama Yang Maha Esa, yang Tak Ada
TandinganNya: bagi orang Hindu semua itu suara Om yang tak ada taranya
di alam semesta ini. Sebutkanlah kata sakti ini sekali, dua kali, tiga
kali dan seterusnya, karena Om inilah lagu kehidupan, lagu Yang Maha
Esa, lagu penciptaan Yang Maha Esa, dengan ini diciptakannya alam
semesta beserta segala isinya. Sebutkanlah mantra Om ini tujuh kali
atau seterusnya dan biasakanlah kita ini selalu merasa hadir di
tengah-tengah kebesaran Yang Maha Esa, di tengah-tengah Yang Maha Esa
Itu Sendiri.

Om adalah meditasi, Om adalah kesucian diri kita, Om adalah hidup
kita sehari-hari, Om adalah aspirasi kita kepada Yang Maha Esa, kepada
Sang Kreshna Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Om adalah setiap
tindakan kita yang tanpa pamrih, tanpa keserakahan dan motivasi apapun
juga. Hadirkan diri kita secara suci-bersih di hadapan setiap hal,
tindakan dan kewajiban kita dengan memulai kata Om selalulah
menghayatiNya dengan tulus dan murni.
Kata Tat mengekspresikan universalitas Sang Brahman, Yang Maha Esa. la
adalah Sifat UniversalNya. Tuhan Yang Maha Esa ini menurut Shankara
adalah kesadaran Yang Maha Suci. Tat dengan kata lain dapat dan baik
diartikan sebagai Kesadaran Universal Yang Suci. “Bermeditasilah,” kata
Shankara, “di dalam kesadaranmu sendiri.” Meditasi ini mengarah ke arah
penerangan atau pembebasan. Kata Sat mengekspresikan Kebenaran dan
Kebaikan Sang Para Brahman. Sang Brahman ini adalah Yang Maha Baik, dan
Ia hadir dalam setiap jiwa kita dan para makhluk-makhluk lainnya
sebagai Yang Baik, Yang Suci, dan berbagai manifestasiNya seperti
Itikad Yang Suci, Itikad Yang Baik, semua unsur yang baik dan suci
dalam diri kita. Ia menuntun kita dan menyadarkan dan memberitahukan
kita apa itu yang baik dan apa itu yang buruk. Tuhan Yang Maha Esa
adalah Itu. Ia juga berarti “Apa,” yaitu “Kebaikan.” Sat juga berarti
memproduksi yang baik dan suci. Semua tindakan tanpa pamrih dan demi
kewajiban kita kepada Yang Maha Esa adalah Sat. Semua tindakan yang
bukan demi Yang Maha Esa adalah asat, tidak realis, tidak benar atau
tidak nyata.

Om Tat Sat adalah mantra suci Bhagavat Gita. Mengulang-ulang mantra
ini adalah suatu tindakan sakramental, yang akan membukakan pintu
berkahNya bagi yang melakukannya. Orang-orang Kristen dan Buddhis,
Muslim dan Yahudi pun masing-masing mempunyai ucapan-ucapan atau
formula-formula suci, yang kalau diucapkan menjadi semacam jembatan
spiritual bagi yang melakukannya dengan Yang Maha Esa, dan yang dapat
memberikan semacam sakti atau kekuatan spiritual bagi yang telah
menghayati kata-kata suci ini. Kata-kata suci ini juga menjauhkan kita
dari segala efek-efek dan pengaruh-pengaruh negatif yang gelap, buruk
dan yang bersifat iblis. Penghayatan akan mantra-mantra suci
mempengaruhi jiwa kita sehingga lama-kelamaan menjadi suatu kesatuan
dan tenaga spiritual bagi jiwa-raga kita. Berbagai kata suci dalam
berbagai agama dapat diterangkan secara singkat seperti berikut ini:
“Sat Nam.” “Tuhan,” “kasih,” “Kreshna,” “Kristus,” “Hare Ram,” “Hari
Bol,” “Haq Maujud,” “Rahman,” “Rahim,” dan banyak lainnya. Kalau
diucapkan berulang-ulang setiap saat, hari dan pada setiap kesempatan
yang tersedia, dengan dedikasi dan kesetiaan kita yang tulus, dengan
penghayatan dan maksud membersihkan dan menyucikan diri dan pikiran
kita, dan sambil menjauhkan segala ego kita, maka semua itu akan
mempertebal iman kita kepadaNya. Seorang sufi pernah berkata, “Pintu
kata-kata ini akhirnya terbuka dan Sang Jiwa pun masuk kedalam Keadaan
Yang Nyata.” Mantra-mantra atau kata-kata suci yang diulang-ulang
sepanjang hidup kita pasti suatu saat akan mengantar kita ke alamNya
yang penuh dengan cahaya dan penerangan Ilahi Bagi seorang Hindu,
setiap bentuk perbuatan, pekerjaan, yagna dan lain sebagainya dimulai
dengan kata-kata Om Tat Sat. Mulailah semuanya dengan kata Om, lalu
mulailah dengan puja atau mantra yang akan dibacakan. Tidak ada
pekerjaan, mantra atau suatu tindakan yang tidak dilakukan tanpa
diawali kata Om. Inilah salah satu kaidah atau hukum suci yang terdapat
di kitab-kitab suci Hindu kuno, yang kesemuanya juga adalah hasil
kerjaNya semata, hasil kerja dari Om Tat Sat Itu Sendiri, begitu pun
dengan semua ciptaan dan kreasiNya, semua kasih dan berkahNya, semuanya
adalah Om Tat Sat, berawal dari Itu dan berakhir ke Itu juga.
Demikianlah, seyogyanya kita memulai semua perbuatan kita, apa saja
pekerjaan atau perbuatan itu dengan kata Om Tat Sat.

Semua tindakan tanpa kata-kata suci adalah asat. Walaupun semua
tindakan baik sifatnya, tetapi tanpa penghayatan akan kata-kata suci
ini secara sejati tidak akan menghasilkan apapun juga baik di dunia ini
maupun di loka-loka lainnya. Om Tat Sat adalah pencetusan iman kita
kepadaNya, dengan kata lain mengingatNya dan mendahulukanNya untuk dan
dalam setiap tindakan atau perbuatan kita yang berarti mengutamakanNya
dan bekerja demi la semata secara tulus. lalah semua ini sebenarnya, la
juga Hidup dan Tujuan kehidupan ini sebenarnya. Tanpa iman kepada Yang
Maha Kuasa, semuanya jadi tidak berarti. Om Tat Sat.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya
Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, bab ini adalah bab
ketujuh-belas yang disebut:
Shraddha Traya Vibhaga Yoga Atau
Yoga Ketiga Bentuk Sifat Kepercayaan (Iman).

Bab 18 - Kata Terakhir
Berkatalah Arjuna:
1. Aku berhasrat, oh Kreshna, mengetahui kebenaran tentang sanyasa dan tentang tyaga.
Arjuna sebenarnya bertanya dan ingin mengetahui apakah perbedaan antara
sanyasa dan tyaga. Sanyasa adalah meninggalkan setiap tindakan,
perbuatan dan aksi (kamya-karma), yaitu tindakan dan perbuatan yang
diikuti oleh keinginan-keinginan tertentu. Tetapi dalam hidup ini ada
saja perbuatan atau tindakan-tindakan tertentu yang tidak bermotif
egois seperti makan, tidur, mandi, jalan dan lain sebagainya yang tak
dapat ditinggalkan atau diserahkan kepada Yang Maha Esa dalam arti
harfiah, baik oleh seorang yang teramat suci sekalipun. Sedangkan kalau
seseorang sama sekali tak bekerja atau berbuat sesuatu, maka orang
semacam ini pun tentunya tak dapat disebut seorang sanyasin.
Sedangkan tyaga berarti penyerahan total hasil dari setiap tindakan,
perbuatan dan aksi kita ini. Setiap buah atau hasil dari berbagai
perbuatan kita dipasrahkan atau dikembalikan kepadaNya lagi. Semua
pekerjaan orang semacam ini (sanyasin) adalah kewajibannya kepada Yang
Maha Esa tanpa pamrih atau mengharapkan sesuatu. Pekerjaan dan
perbuatannya penuh dengan dedikasi semata; dedikasi inilah sebenarnya
motor penggerak dari individu-individu semacam ini, dedikasi yang tanpa
pamrih dan demi Ia semata.

Seorang tyagi (penganut tyaga) tidak akan menjauhi ketiga pekerjaan
utamanya, yaitu: yagna, dana, dan tapa. Tindakan-tindakan ini baginya
adalah kewajiban, disiplin bagi diri pribadinya dan untuk tujuan sosial
bagi sesamanya, berdasarkan kewajiban dan dedikasinya kepada Yang Maha
Esa. Perbuatan dan pekerjaan ini bukan merupakan ikatan-ikatan duniawi
tetapi sebenarnya adalah jalan ke arah pembebasan atau penerangan
baginya. Sanyasa atau tyaga tidak berarti menjauhi pekerjaan atau
hal-hal yang bersifat duniawi dan segala efek atau aktivitasnya, tetapi
berarti tetap bekerja tetapi tanpa suatu motivasi, imbalan atau pamrih
yang penuh dengan ego, keserakahan dan harapan. Semuanya seharusnya
dilakukan dan dipersembahkan kembali kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih.

Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
2. Para resi sadar bahwa sanyasa itu adalah penyerahan dari
bentuk-bentuk pekerjaan yang diikuti oleh nafsu dan keinginan-keinginan
tertentu; sedangkan tyaga oleh mereka-mereka yang bijaksana diartikan
sebagai penyerahan total seluruh hasil atau buah sesuatu perbuatan yang
dilakukan seseorang.

3. “Aksi harus dilepaskan karena ibarat iblis,” kata sementara
pemikir. “Aksi-aksi seperti dana dan disiplin spiritual tidak boleh
dilepaskan,” kata yang lainnya.
Banyak pemikir atau orang-orang pintar, para penganut ajaran Kapila
(yang disebut ajaran Sankhya), mengutuk semua bentuk aksi, tindakan dan
perbuatan karena bagaimanapun juga kata mereka tak ada pekerjaan, aksi
atau sesuatu perbuatan yang tanpa maksud dan motif, sekecil apapun
tindakan tersebut. Jadi menurut mereka setiap pekerjaan ada
motivasinya, dan itu berarti menyandang dosha, dan dosha (dosa) inilah
penyebab keterikatan kita pada dunia ini. Jadi semua bentuk aksi atau
tindakan harus dilepaskan. Tetapi para pemikir golongan lainnya, yang
disebut Mimansaka, berpendapat tindakan atau perbuatan pengorbanan
(yagna), tapa dan dana harus dilaksanakan karena tindakan-tindakan ini
menyucikan diri dan membantu seseorang mendaki tahap-tahap evolusi
spiritualnya.
Apa yang dianjurkan oleh Bhagavat Gita sebenarnya adalah melepaskan
semua keterikatan-keterikatan akan hasil atau buah dari semua yang kita
lakukan dan perbuat. Dengan kata lain terjadilah kehendakNya adalah
arti dari ajaran Bhagavat Gita. Semua pekerjaan atau kewajiban
sehari-hari kita harus dilakukan demi kebenaran dan kebaikan (dharma)
dan dedikasi kita kepadaNya. Seseorang benar-benar bertindak seandainya
ia bertindak atau bekerja tanpa pamrih, tanpa mengharapkan sesuatu dari
hasil perbuatannya.

4. Dengarkanlah sekarang, oh Arjuna, kesimpulanKu mengenai
penyerahan total akan buah atau hasil kerja seseorang. Penyerahan total
dari hasil kerja ini terbagi tiga sifatnya.

5. Perbuatan (tindakan) pengorbanan, dana (amal) dan
disiplin-spiritual tidak boleh diabaikan, tetapi wajib dikerjakan,
karena pengorbanan, dana dan disiplin spiritual adalah unsur-unsur yang
menyucikan bagi mereka yang bijaksana.
Yagna atau pemujaan atau pengorbanan/persembahan adalah kewajiban bagi
setiap manusia terhadap Yang Maha Kuasa. Dana atau amal adalah
kewajiban terhadap guru-guru spiritual dan terhadap masyarakat atau
yang membutuhkannya. Tapa atau disiplin spiritual adalah kewajiban kita
terhadap diri sendiri sebenarnya. Mengabaikan ketiga tindakan positif
ini sama saja mengotori diri sendiri dengan unsur-unsur duniawi yang
negatif. Lakukanlah semua tindakan ini secara sattvik dan bersihkanlah
raga, hati dan jiwa kita dari noda-noda duniawi ini.

6. Tetapi tindakan-tindakan ini pun harus dilakukan dengan
mengesampingkan sesuatu pamrih. Inilah, oh Arjuna, keputusan dan
pandanganKu yang final.
Jadi walaupun ketiga faktor penting di atas harus dilakukan, tetapi
tetap saja menurut keputusan akhir (keputusan final) Sang Kreshna,
perbuatan-perbuatan itu harus dikerjakan tanpa mengharapkan sesuatu
imbalan dalam bentuk apapun juga, baik secara spiritual maupun duniawi.
Ini sudah merupakan keputusan Yang Tegas, dari Yang Maha Esa, tidak
bisa ditawar-tawar lagi. Di pihak lain setiap tindakan sehari-hari
apapun juga harus tetap dilaksanakan tanpa pamrih tetapi demi kewajiban
kita kepada semuanya dan terhadap Yang Maha Esa dan lokasangraha
(kesejahteraaan demi kemanusiaan). Yang penting adalah penyerahan total
dari semua nafsu dan keinginan, semua bentuk ego yang mementingkan diri
sendiri. Kalau kita tidak mau menyerahkan pikiran-pikiran negatif ini
secara total, maka timbullah kama (nafsu dan keinginan) yang sebenarnya
sudah ada dan hadir dalam pikiran dan indra-indra kita.
Sering timbul pertanyaan bagaimana caranya untuk menyingkirkan kama
ini? Menurut teori di Barat yang diilhami oleh Freud, maka sebaiknya
kama dijadikan teman saja dan semua keinginannya dipenuhi saja. Tetapi
ajaran Hindu menolak mentah-mentah hal ini, karena kama ini ibarat api
dan kalau dipenuhi terus menerus semua hasrat-hasratnya maka ibarat
memberi minyak pada api ini, yang akibatnya adalah makin membara dan
membesarnya api ini. Lalu ada ajaran yang mengatakan tindaslah kama
atau nafsu ini. Tidak, menindasnya tidak menolong sama-sekali, karena
bentuk nafsu atau kama ini tidak dapat ditindas karena sifat-sifatnya
yang tidak dapat dimengerti dan amat misterius, apalagi oleh mereka
yang masih jauh dari jalan spiritual.
Jalan yang benar untuk menjauhkan kama atau nafsu ini adalah dengan
abhyasa atau meditasi, dengan usaha upaya atau praktek yang
berketerusan. Dengan kata lain, seperti yang dianjurkan oleh Bhagavat
Gita, yaitu dengan kendali diri yang disertai dengan penuh kesadaran
atau mawas diri. Dengan kesadaran dan tekanan pada pikiran kita bahwa
sebenarnya indra-indra dan nafsu kita juga bisa diarahkan ke arah yang
positif secara spiritual dan duniawi, yaitu ketenangan dan kekuatan,
kesucian dan kebenaran. Langkah demi langkah, secara perlahan tetapi
pasti kita harus mengarahkan pikiran kita dan mengendalikannya (bukan
menghentikannya sama sekali, tetapi mengendalikannya!) secara positif.
Secara perlahan pastikan diri kita bahwa pemuasan nafsu-nafsu
indra-indra kita secara tanpa kendali itu bukanlah cara dan jalan yang
baik, begitupun menindas nafsu ini bukan juga jalan keluar. Jalan yang
terbaik adalah yang terletak di tengah-tengah kedua metode tersebut,
yaitu kendali-diri dengan mengendalikan nafsu-nafsu yang beraneka-ragam
ini dan mempergunakannya seperlunya saja dan secara positif. Sadarlah
akan suatu pengetahuan, yaitu tubuh kita ini dibentuk ibarat mata-pisau
yang tajam dan peka; pisau itu dapat dipergunakan untuk tujuan positif
seperti memotong sayur-sayuran dan kayu, atau untuk hal-hal negatif
seperti membunuh atau merampok orang. Lalu bagaimana seharusnya kita
gunakan tubuh ini dan semua indra-indranya. Untuk tersesat di dunia ini
tanpa kendali dan terikat selama-lamanya secara duniawi atau untuk
mengabdi dan kembali mengenal Yang Maha Esa. Dalam melakukan kendali
diri yang penuh kesadaran ini, maka setahap demi setahap akan terbuka
horizon baru dalam kehidupan kita dan akan nampak pergantian yang
ajaib, misterius dan penuh dengan mukjizat yang sukar dilukiskan dengan
kata-kata karena merupakan suatu pengalaman yang misterius dan
spiritual. Seseorang yang indra-indranya terkendali dan terpakai secara
positif akan menemui pengalaman-pengalaman unik, karena jiwa dan
pikirannya yang bersih akan melakukan kontak-kontak ke obyek-obyek
indranya dengan hasil yang berlainan sifatnya dari yang dialami selama
ini. Kontak-kontak spiritual akan berlangsung secara otomatis, ingat
pisau yang bermata dua, begitu pun indra-indra kita dapat dipergunakan
secara duniawi dan secara spiritual, suatu potensi yang tersembunyi
tetapi amat dahsyat karena kita tidak tahu akan hal ini selama kita
terjebak dengan yang duniawi. Setelah itu akan timbul, secara perlahan
tetapi pasti, sinar atau penerangan dalam hidup kita. Dan sekali ini
tercapai maka seseorang yang telah hasil kerjanya secara total kepada
Yang Maha Esa tanpa pamrih, akan menjadi seseorang yang tetap bekerja
di dunia ini sesuai dengan kewajibannya, tetapi sama sekali tanpa nafsu
atau keinginan duniawi, karena ia telah mendapatkan sesuatu yang lebih
menarik lagi dari semua itu, sesuatu kekuatan yang misterius dan
membahagiakannya secara lahir dan batin, ia pun akan menjadi pusat dan
inspirasi atau penerangan bagi mereka-mereka yang masuk ke dalam radius
pengaruhnya. Jalan ke arah ini memang nampaknya sukar untuk manusia,
tetapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini seandainya seseorang
telah beritikad ke arah itu, karena memang setiap manusia diberikan
potensi yang amat besar untuk melakukannya. Jadi terserah kita lagi,
jalannya memang sukar, dan banyak jatuh-bangunnya, banyak jurang dan
jeram yang menghadang, tetapi Yang Maha Esa sendiri secara “pribadi”
akan menuntun kita, akan membimbing kita dan mengajarkan kita cara-cara
mengatasi semua rintangan ini dan individu-individu yang kuat akhirnya
akan sampai kepadaNya, karena itulah janji Yang Maha Esa kepada kita
semua dan itulah tujuan yang dimaksud olehNya, yang telah ditentukan
olehNya. Tanyakanlah kebenaran akan hal ini kepada mereka-mereka yang
dianggap telah mencapai kesadaran ini, dan semua kebenaran akan dijawab
dengan kebenaran. Om Tat Sat.
7. Sebenarnya mengesampingkan pekerjaan-pekerjaan yang sudah seharusnya
itu, adalah tidak benar. Memasrahkan dengan cara tersebut karena
kebodohan, disebut bersifat tamasik (gelap).
Pekerjaan atau perbuatan yang sudah seharusnya menjadi kewajiban
seseorang dan merupakan keharusan sehari-hari (tertera jelas dalam
pustaka-pustaka Hindu), tidak boleh dikesampingkan dengan alasan apapun
juga. Berbuat demikian menandakan kebodohan yang amat dalam dari si
pelaku tersebut. Begitupun tindakan seperti dana, tapa dan yagna,
berulang-ulang ditekankan agar tidak diabaikan, karena merupakan
penyucian dari jiwa dan raga kita.
Tyaga sendiri terbagi dalam tiga sifat, yaitu tamasik, rajasik dan
sattvik. Tyaga yang sejati adalah yang bersifat sattvik di mana lepas
sudah bahkan itikad akan hasil atau buah dari tyaga itu sendiri.
Sedangkan dalam sifat tyaga yang tamasik terlihat jelas dominasi dari
keterikatan (moha), ilusi, kebodohan, kegelapan dan hasrat untuk
mendapatkan imbalan-imbalan tertentu baik secara spiritual maupun
duniawi. Tyaga semacam ini disebut gelap sifatnya. Misalnya: seorang
pria meninggalkan semua pekerjaannya atau kewajiban rumah-tangganya
demi seorang wanita atau demi menuntut suatu kesaktian tertentu untuk
tujuan duniawi, ini disebut cinta-duniawi yang menyesatkan dan bukan
tyaga pemasrahan total.

8. Seseorang yang tidak mau bertindak sesuatu karena merasa tindakan
itu menyusahkannya atau khawatir akan menjadi derita untuk fisiknya,
disebut melakukan tyaga bersifat rajasik. Dan tyaga semacam ini tidak
akan menghasilkan keuntungan apapun juga.
Tyaga bersifat rajasik tidak akan menghasilkan mukti (pembebasan)
karena seorang yang melakukan tyaga ini hanya melakukannya demi
menjauhi derita, tantangan hidup dan kesusahan atau kerja keras.

9. Seseorang yang melakukan sesuatu tindakan seperti yang telah
diwajibkan, oh Arjuna, karena harus dilakukannya, tanpa keterikatan dan
pamrih — tyaga semacam itu dipandang sebagai bersifat sattvik (bersih).
Tyaga yang sejati adalah yang bersifat sattvik, yaitu tyaga yang tanpa
keterikatan, hasil atau buah. Pekerjaan yang dilakukan ini sudah
menjadi kewajibannya sesuai dengan anjuran dan kaidah-kaidah yang
tertulis di buku-buku suci. Dan semua kewajiban ini dilaksanakan
sebagai kewajiban semata tanpa mencari atau mengharapkan sesuatu
keuntungan, imbalan dan rasa egoisme.

10. Seseorang bijaksana yang telah diliputi oleh sifat-sifat sattva
(kesucian), yang keragu-raguannya telah terbuang jauh — seseorang yang
pasrah semacam ini tidak membenci sesuatu tindakan yang tidak
menyenangkan, juga tidak terikat pada suatu tindakan yang menyenangkan.
Seorang tyagi (pelaksana tyaga) yang telah pasrah total kepada Yang
Maha Esa, yang telah menyerahkan diri dan semua tindakan-tindakannya
sekecil apapun perbuatan atau tindakan tersebut kepadaNya dan telah
mencari dan mendapatkan perlindunganNya, tak akan pernah ragu-ragu
dalam bertindak apapun juga. Baik itu tindakan nikmat dan memberikan
kepuasan dan kesenangan ataukah tindakan itu memberikan rasa derita,
kegagalan atau kedukaan, baginya sama saja sifatnya. Baginya yang wajib
adalah bekerja, dan semua emosi, hasil atau efek dari pekerjaan itu
tidak penting sifatnya karena ia sadar bahwa ia tidak menghasilkan atau
memberikan suatu efek kepada setiap tindakannya, melainkan semua itu
sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, dan terjadilah kehendakNya sesuai
dengan keinginanNya, ia hanya alat dan sebuah alat hanya berkewajiban
untuk bekerja sewaktu dipergunakanNya dan tidak berhak untuk memprotes
majikan yang mempergunakannya ataupun menilai hasil kerja dari alat itu
sendiri. Semuanya terserah kepadaNya. Baginya nikmat dan derita sama
saja rasanya, saling mengisi malahan, dan semua itu diterimanya dengan
sama rata dan tanpa banyak mengeluh. Jadi dengan kata lain, Sang
Kreshna Yang Maha Pengasih sedang mengajarkan Arjuna dan kita semua
agar menerima dan memainkan peranan kita masing-masing di dunia ini
secara setia dan penuh semangat. Jangan berduka atau bersuka baik dalam
kegagalan maupun dalam kesuksesan. Pasrahkan semuanya kepada Yang Maha
Esa!” Karena hanya kehendakNya saja yang akan terlaksana, bukankah kita
tidak tahu mengapa kita dilahirkan di dunia ini, dan sekali kita lahir
dan tumbuh, lalu mengapa harus kita yang mengatur hidup ini, mengapa
tidak dikembalikan semua skenario kehidupan ini kepada Sang
Sutradaranya sendiri. Camkanlah pesan ini dan jadilah sebuah alat yang
baik atau seorang pemain sandiwara kehidupan ini yang baik dan penuh
dedikasi.

Seseorang yang bekerja sesuai dengan kewajibannya sadar bahwa suatu
kewajiban yang dilaksanakan tanpa pamrih akan menuntunnya ke arah
penerangan Ilahi, ke arah pembebasan dari ikatan dan derita duniawi.
Seseorang yang secara sejati bekerja tanpa pamrih tidak akan pernah mau
mengkhayal mengharapkan sedikit pun akan penerangan Ilahi, semua
pekerjaan ia lakukan secara tulus dan penuh dengan tekad, yaitu dengan
pemikiran terjadilah kehendakNya semata, dan pekerjaan adalah hukum
alam di dunia ini bagi semuanya, sebagai misi yang diembannya dari Yang
Maha Esa. Itulah kaidah atau hukum spiritual ini — yakinlah akan Yang
Maha Esa dan semua kehendakNya. Tyaga yang sejati berarti bekerja tanpa
pamrih, bukan tidak bekerja sama sekali.
11. Sebenarnya, tidak mungkin bagi seseorang makhluk yang memiliki raga
untuk tidak bekerja secara total. Sebenarnya, seseorang yang
memasrahkan hasil dari setiap pekerjaan atau perbuatannya — disebut
sebagai seorang tyagi.

12. Tidak nikmat, nikmat dan perpaduan keduanya - ketiga sifat ini
adalah hasil dari setiap perbuatan yang akan didapati setelah
meninggalkan dunia ini, bagi mereka-mereka yang tidak menyerahkan
perbuatannya. Tetapi bagi mereka-mereka yang telah menyerahkan hasil
perbuatannya, tak ada semua itu.
Seorang tyagi yang sejati adalah seseorang yang tidak mengabaikan
pekerjaannnya, tetapi hasil atau buah dari pekerjaannya. Dan di sloka
di atas ini Sang Kreshna menyinggung soal hasil atau buah perbuatan
seorang sanyasin, yaitu sesorang yang telah memasrahkan secara total
dan tanpa pamrih seluruh efek dari perbuatan-perbuatan dan
kewajibannya. Bagi orang semacam ini, menurut Sang Kreshna tak akan
menghasilkan suatu efek atau buah (karma), karena
perbuatan-perbuatannya telah menyatu dengan kehendakNya. Di Bhagavat
Gita sering kita jumpai istilah-istilah seperti tyaga dan sanyasa,
tyagi dan sanyasin, yang kesemuanya ini sebenarnya adalah
istilah-istilah alternatif yang dipergunakan oleh Sang Kreshna dalam
mengajar Bhagavat Gita. Sang Kreshna pada prinsipnya tidak menganjurkan
seseorang agar melepaskan atau mengabaikan pekerjaannya. la hanya
menganjurkan agar terjadi peralihan dari semua kamya-karma (pekerjaan
yang bermotivasi sesuatu) ke nishkama (yaitu pekerjaan tanpa pamrih).
Seseorang yang tidak mempunyai motif-motif duniawi untuk setiap
pekerjaannya adalah ibarat sebuah pohon yang lebat di tepi sebuah
sungai (tempat yang subur). Buah pohon ini pergi ke orang-orang yang
membutuhkannya. Sedangkan orang ini sendiri tidak perlu ke mana-mana
lagi, karena ia sudah tegar dalam kewajibannya dan telah menyatu dengan
Yang Maha Esa.

13. Pelajarilah dariKu, oh Arjuna, lima unsur penyebab, penyelesaian
semua tindakan, seperti yang telah disabdakan dalam doktrin Sankhya.

14. Tempat bersemayam semua tindakan (raga ini), Sang Jiwa (Karta)
berbagai organ tubuh (karanam), berbagai ragam usaha (cheshta) dan yang
kelima, yaitu takdir (daivam).
Di sloka ini Sang Kreshna mulai menerangkan tentang lima penyebab atau
unsur atau kondisi dari setiap tindakan sampai selesai atau (akhir dari
tindakan/perbuatan tersebut). Yang pertama adalah adhishthanam, yaitu
raga atau badan kita yang merupakan tempat bersemayam (rumah-tinggal)
Sang Jiwa dan berbagai keinginan kita. Yang pertama ini adalah raga
duniawi atau jasad kasar kita. Yang kedua disebut karta atau sang agen.
Siapakah Sang Agen? Tidak lain dan tidak bukan adalah sang jiwa kita,
personalitas dalam raga ini, sang raja ego. Bergabung dengan Sang
Prakriti, Sang Jiwa ini pun lupa pada bentuknya yang Asal dan Asli,
yaitu Atma-Svanipa, dan dalam keangkuhan rasa egoisme ia pun lain
berkata “aku,” “akulah yang memiliki ini dan itu,” “akulah yang
berbuat,” dan lain sebagainya. Dalam mencapai kebebasan jiwa kita, maka
rasa ego ini harus dilepaskan agar tersingkaplah yang asli ini. Yang
ketiga disebut karanam atau instrumen/alat. Alat-alat ini adalah
kesepuluh indra-indra, pikiran, rasa intelek, dan ahankara kita. Yang
keempat adalah cheshta, yaitu usaha, fungsi prana atau energi-vital
atau nafas dalam raga kita. Yang kelima disebut daivam, takdir, sesuatu
yang tak terjangkau oleh manusia itu sendiri, pada hal ini yang
menentukan dan menjadi jalan hidup kita sebenarnya; yang menghasilkan
setiap usaha dan efeknya yang berhubungan dengan usaha atau perbuatan
tersebut masing-masing. Daivam atau takdir ini adalah yang mengatur
semua tindak-tanduk kita.
Kelima unsur penting ini adalah kelima instrumen yang menjadi penyebab
dari semua tindakan kita baik yang positif maupun yang negatif, baik
atau buruk, dalam perjalanan hidup kita.

15. Apapun tindakan yang diambil seseorang melalui raganya,
kata-kata dan pikirannya, baik yang benar maupun yang salah - kelima
unsur inilah penyebabnya.

16. Dengan begitu, seseorang yang salah pengertiannya, yang karena
tidak terlatih kesadarannya, memandang dirinya sebagai satu-satunya
pelaku (setiap perbuatannya) — sebenarnya orang-orang ini tidak melihat!
Seseorang yang berpikir sebagai pelaku tunggal dari setiap tindakannya
adalah seorang yang egois, yang pandir dan terlalu buta untuk menyadari
atau melihat suatu kenyataan Ilahi. Orang semacam ini disebut sebagai
seorang yang gagal melihat hal yang sebenarnya.

17. Seseorang yang bebas dari itikad, egoisme, yang pengertian
(intelektualnya) tidak tertutup, walaupun ia membunuh orang-orang ini,
ia tidak membunuh, atau terikat (oleh perbuatan-perbuatannya).
Arjuna boleh saja membantai para Kaurawa (Kurawa = bahasa Jawa), dan
selama ia berbuat itu bukan karena ego pribadinya, tetapi melainkan
karena kewajibannya untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, maka
selama itu juga segala perbuatannya tidak akan mengikat dia dan di mata
Sang Kreshna (Yang Maha Esa), ia bukan seorang pembunuh tetapi hanya
sebuah alat dariNya belaka, tidak lebih dan tidak kurang.
Seseorang yang telah berada di atas kesadaran bahwa “akulah yang
sebenarnya berbuat,” dan telah sadar akan Sang Atman, Sang Jati Diri,
dan yang telah dapat mengatasi pikiran-pikiran perbuatannya, maka orang
ini tidak dapat dipuji atau dihukum untuk setiap
perbuatan-perbuatannya. Tetapi jangan sekali-kali menyalah gunakan
sloka ini, karena bagi yang rasa ego, atau fanatismenya (fanatisme juga
adalah suatu bentuk ego yang ekstrim!) masih tinggi, atau yang masih
kurang kesadarannya, maka penghayatan yang salah akan berakibat amat
fatal bagi sesamanya. Lalu bagaimanakah cara yang terbaik untuk
memahami sloka ini? Bhagavat Gita menekankan bahwa ada dua faktor
penting yang harus diperhatikan dalam bertindak atau berbuat sesuatu,
yaitu kebebasan dari rasa egoisme dan kesadaran yang tidak ternoda!
Camkanlah hal ini secara sejati dan dengan hati-nurani yang bersih dan
murni berdasarkan ratio atau intelektual anda sebelum bertindak sesuatu
seperti yang dianjurkan di sloka ini. Mereka yang telah secara total
berlindung di dalam Yang Maha Esa dan pasrah dengan segala kehendakNya,
yang telah melewati rasa dualisme yang bertentangan, akan tahu secara
sadar (sejati) akan makna dan perbuatan yang tertulis di sloka ini!
18. Pengetahuan, obyek pengetahuan (hal-hal yang diketahui), subyek
yang mengetahui (yang mengetahui), adalah tiga unsur stimulus ke arah
setiap tindakan. Sang alat, tindakan, dan sang jiwa adalah tiga unsur
gabungan dari setiap tindakan.

Setiap tindakan ada dua penyebabnya: subyektif dan obyektif. Yang
subyektif ini dimaksudkan dengan rangsangan-rangsangan awal dari setiap
tindakan, yaitu suatu kondisi sebelum suatu tindakan diambil, yaitu
konsep yang tergambar dahulu dalam benak pikiran, yang lalu
ditransformasikan dalam bentuk tindakan ragawi. Keadaan ini disebut
karmachodana, dan hal ini terdiri dari tiga unsur, yaitu pengetahuan,
yang diketahui dan yang mengetahui.
Sedangkan yang obyektif disebut karmasangraha. Sewaktu sesuatu tindakan
dilakukan, maka ada tiga faktor yang menyertainya: karana, yaitu alat,
instrumen atau indra-indra kita; kemudian subyek tindakan/aksi, yaitu
karta, Sang Jiwa; dan akhirnya, obyek tindakan/aksi, yaitu karma itu
sendiri, yaitu akhir atau tujuan yang ingin dicapai oleh tindakan yang
dimaksud. Dengan kata lain, karmachodana ini adalah perencanaan secara
mental dan karmasangraha adalah perbuatan atau tindakan hasil dari
perencanaan secara aktual.

19. Pengetahuan, aksi (tindakan) dan sang pemeran dikatakan dalam
pengetahuan tentang sifat-sifat (guna-guna dalam filosofi Sankhya), ada
tiga jenis saja, sesuai dengan perbedaan sifat-sifat (guna-guna) ini.
Dengarkanlah juga dengan seksama mengenai hal ini.

20. Sesuatu pengetahuan dengan mana seseorang melihat Yang Maha Esa
dan Tak Terbinasakan di dalam semua makhluk — tak terpisah-pisah di
dalam keterpisah-pisahan - ketahuilah pengetahuan tersebut bersifat
sattvik (bersih).
Dalam sesuatu kepercayaan yang bersifat sattvik, maka Yang Maha Esa
dianggap Satu-Satu-Nya Inti Kehidupan yang hadir dalam setiap makhluk
dan benda di alam semesta ini. Yang Maha Esa ini juga disebut sebagai
Avyayam, yaitu Tak Terbinasakan, juga disebut sebagai Avibhaktam, yaitu
Keseluruhan Yang Tak Terpisahkan.
Yang Maha Esa itu hadir secara sama rata dalam setiap makhluk, benda
dan manusia. Baik dalam seorang kaya atau miskin, dalam seorang
kriminal maupun dalam seorang pendeta, hadirlah Yang Maha Esa secara
sama dalam setiap jiwa ini, tanpa diskriminasi atau perbedaan
sedikitpun. Walau di alam semesta ini terdapat jumlah jiwa-jiwa yang
tak terbatas dan terhitung jumlahnya, pada hakekatnya semua jiwa-jiwa
ini ber Intisari atau berasal dari Satu, yaitu Yang Maha Esa. Jadi
dengan kata lain, semua jiwa ini sifatnya Eka atau Satu dan identik
dengan Yang Maha Esa. Pengetahuan atau kesadaran semacam ini disebut
bersifat sattvik.

21. Pengetahuan yang melihat berbagai-ragam kelainan dalam berbagai
makhluk-mahuk, setiap makhluk lain dari yang lainnya, yang
beraneka-ragam pengetahuan itu ketahuilah olehmu sebagai rajasik.
Seseorang yang berpengetahuan rajasik memandang setiap makhluk atau
benda di dunia ini sebagai terpisah-pisah atau berdiri sendiri-sendiri.
Bagi orang semacam ini setiap individu makhluk, atau benda adalah unsur
yang berbeda-beda. Pengetahuan rajasik adalah pengetahuan tentang nama
dan rupa seseorang belaka, bukan pengetahuan tentang Intisari yang
sejati. Ibarat seseorang yang tahu bahwa sesuatu benda disebut
tempayan, tetapi tidak tahu bahwa benda tersebut dibuat dan berasal
dari apa. Ibarat seseorang mengetahui apa itu lampu, tetapi tidak
mengenal unsur cahaya di dalamnya, atau ibarat mengenal yang namanya
baju tetapi tidak tahu unsur apa yang menjadi bahan dasar dari baju
tersebut.
Bagi seorang yang berpengetahuan rajasik semuanya nampak berbeda-beda
dan berlainan derajatnya. Bagi orang semacam ini status seseorang dewa,
brahmana atau seekor tikus itu lain, padahal sabda Sang Kreshna semua
yang ada di alam semesta ini berintikan satu unsur yang sama, yaitu
Yang Maha Esa.

22. Pengetahuan yang tergantung pada suatu unsur atau obyek yang
seakan-akan adalah segala-galanya, tanpa mau tahu akan asal-usul unsur
tersebut, tanpa mau menyadari yang realitas, dan berpandangan sempit -
disebut sebagai pengetahuan yang tamasik.
Pengetahuan yang bersifat tamasik adalah pengetahuan yang palsu dan tak
berdasar sama sekali. Orang yang berpengetahuan ini amat sempit
pandangannya. la melihat suatu obyek kecil sebagai sesuatu yang amat
penting dan lalu bergantung kepada obyek tersebut seakan-akan tidak ada
lagi yang lainnya di dunia ini. Misalnya seseorang yang mencintai
seorang wanita cantik dan menganggap wanita tersebut sebagai
segala-galanya di dunia ini, atau seseorang berpikir bahwa keluarganya
adalah di atas segala-galanya di dunia ini, Tuhan lalu dinomorduakan.
Hal semacam ini disebut moha (keterikatan) dan keterikatan ini disebut
pengetahuan yang bersifat tamasik atau gelap.
Hal yang sama berlaku sekiranya seseorang hanya tergantung pada
pesta-pesta pora, makanan atau kenikmatan dan keterikatan duniawi
lainnya, yang memberikannya kenikmatan yang bersifat sementara dan
merasa itulah arti kehidupan dunia. Pengetahuan semacam ini adalah
hampa dan irasional. Pengetahuan tentang Sang Atman adalah pengetahuan
yang sejati. Pengetahuan tentang logika duniawi yang berdasarkan
perbedaan atau diskriminasi adalah rajasik. Sedangkan pengetahuan yang
tanpa dasar, tanpa pengorbanan atau pengertian pada Yang Maha Esa
adalah sifat tamasik.

23. Suatu tindakan yang berdasarkan moral, yang lepas dari
keterikatan, yang dilakukan tanpa mengharapkan suatu pamrih dan yang
dilakukan bukan karena cinta atau benci — tindakan tersebut adalah
sattvik (bersih).
Suatu tindakan, aksi atau perbuatan yang bersih atau yang benar dan
sejati disebut sattvik, yaitu perbuatan yang berdasarkan nilai-nilai
moral, kewajiban dan prikemanusiaan. Pekerjaan seperti bekerja
sehari-hari, mencari nafkah secara jujur demi kehidupan keluarga adalah
pekerjaan yang bersifat sattvik. Seorang ibu yang mengasuh anak-anaknya
dengan baik adalah seorang yang sattvik dan bekerja sattvik.
Pekerjaan-pekerjaan atau perbuatan yang dianjurkan pustaka-pustaka kuno
seperti yagna, tapa dan dana adalah perbuatan sattvik. Berbicara jujur,
menolong yang harus ditolong, memuja Yang Maha Esa adalah perbuatan
sattvik yang harus dilakukan. Dan semua pekerjaan ini harus dilakukan
tanpa mengharapkan kembali sesuatu pamrih atau imbalan dalam bentuk
apapun juga baik dari siapapun maupun dari Yang Maha Esa atau para
dewa-dewa.
Semua pekerjaan ini harus lepas dari rasa ego dan keterikatan, secara
total harus dihayati bahwa yang berbuat ini sebenarnya hanya alat dari
Yang Maha Esa, tidak lebih dan tidak kurang. Setiap pekerjaan harus
dikerjakan lepas dari hawa-nafsu dan dengan tanggung-jawab dan penuh
kewajiban terhadap sesama makhluk dan terutama terhadap Yang Maha Esa,
karena Ialah sumber atau asal-mula kehidupan ini.

24. Tetapi suatu tindakan yang dilakukan secara penuh dengan
ketegangan (stres) oleh seseorang yang ingin memuaskan
keinginan-keinginannya, dan yang berdasarkan kepentingan dirinya —
disebut bersifat rajasik (mementingkan diri pribadi).
Tindakan atau perbuatan rajasik selalu bercirikan kepentingan pribadi,
dan tindakan ini sebenarnya tidak akan menghasilkan suatu keuntungan
spiritual, melainkan akan menghasilkan duka atau penderitaan.
Tindakan-tindakan rajasik ini memperlihatkan tanda-tanda khas seperti:
a. Tindakan-tindakan ini selalu dilakukan secara bergegas secara
menggebu-gebu, dan penuh semangat yang menderu-deru, tetapi diikuti
oleh rasa tegang yang luar biasa atau stres berat dan penghamburan
energi secara sia-sia.
b. Pekerjaan ini dilakukan karena pengaruh karma (nafsu) atau
keinginan-keinginan duniawi untuk mendapatkan kepuasan seksual,
harta-benda, kedudukan, kekuasaan, wanita dan lain sebagainya.
c. Tindakan-tindakan ini dilakukan berdasarkan kepentingan atau
kepuasan pribadi ego, kesombongan pribadi, dan ini semua disebut
ahankara.

25. Tindakan yang dilakukan berdasarkan moha (cinta dan keterikatan
duniawi) tanpa memperhitungkan akibat-akibatnya - yang merugikan dan
melukai yang lain - yang tak memikirkan kemampuan pribadinya - disebut
sebagai tindakan atau perbuatan yang tamasik.
Ciri-ciri perbuatan atau tindakan tamasik adalah:
a. Dikerjakan karena keterikatan akan hal-hal yang sifatnya duniawi dan gelap.
Orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan ini sudah jauh tenggelam dalam kegelapan duniawi.
b. Dilakukan tanpa memikirkan akibat-akibatnya, yang bukan saja dapat
menghancurkan dirinya, tetapi juga orang-orang atau makhluk-makhluk
lainnya. Semua ini dilakukan tanpa pikir panjang karena mabuk
kekuasaan, karena kenikmatan dunia dan lain sebagainya.
c. Dan perbuatan-perbuatan ini dilakukan tanpa melihat atau sadar akan
keterbatasan orang yang melakukan ini, karena jalan pikiran yang sudah
gelap dan buntu. Dan kalau ia gagal, ia akan menempuh segala jalan baik
yang bersifat kekerasan maupun yang gelap, walaupun itu harus dibayar
mahal olehnya.

26. Seseorang yang bertindak lepas dari keterikatan, yang
pembicaraannya jauh dari rasa egois yang penuh dengan tekad yang teguh
dan antusiasme yang tak tergoyahkan oleh sukses atau kegagalan - orang
ini disebut sattvik karta (orang yang benar atau bersih perbuatannya).
Seorang sattvik karta ini benar-benar bertindak sesuai dengan
kewajibannya, menerima semua kehendakNya. Dalam menghadapi sukses atau
kegagalan ia tenang-tenang saja, dalam menghadapi yang jahat dan suci,
yang busuk dan bersih, ia sama saja sikapnya. la maju terus dengan
tekad yang amat teguh, yaitu selalu bertindak tanpa pamrih, hanya demi
kebenaran dan kewajibannya terhadap Yang Maha Esa semata. Orang semacam
ini memiliki beberapa tanda atau ciri khas:
a. la selalu bertindak tanpa pamrih dan keterikatan. la tidak
membutuhkan pujian, jasa, sanjungan, keagungan dan kehormatan duniawi
untuk apa saja yang dilakukannya.
b. la tidak membual akan apa yang dilakukannya. Tak mau ia berkata
bahwa tanpa dia sesuatu hal mustahil terjadi. Setiap patah katanya jauh
dari rasa egoisme atau demi kepentingan diri sendiri.
c. la penuh dengan kesabaran dan semangat yang tinggi. Dalam setiap
halangan ia penuh dengan tekad, berjuang terus dan tidak patah semangat.
d. la memiliki rasa sama, yaitu selalu bersikap sama baik dalam
menghadapi keuntungan maupun kerugian, baik dalam kesenangan maupun
penderitaan. Tak tersentuh ia oleh kemenangan dan tak terganggu oleh
kekalahan, sama dalam sukses maupun kegagalan.
27. Seseorang yang terombang-ambing oleh kepentingan nafsunya, yang
mencari imbalan dari hasil perbuatannya, yang serakah, merugikan yang
lainnya, yang tidak bersih (perbuatannya), yang terombang-ambing oleh
kesenangan dan penderitaan — orang ini disebut seorang rajasik karta.
Seorang rajasik karta mempunyai beberapa tanda dan sifat-sifat tertentu seperti:
a. Ia tenggelam dalam nafsu duniawi beserta segala kenikmatannya. la terikat pada indra-indranya.
b. la selalu memerlukan imbalan untuk setiap perbuatannya. Setiap tindakannya penuh dengan motivasi tertentu.
c. Ia amat serakah.
d. la bersifat brutal, sifatnya ini selalu merugikan, melukai dan menyakiti orang lain, atau pun makhluk-makhluk lain,
e. Dalam setiap sukses dan kemenangan ia cepat gembira, dalam kegagalan dan kekalahan ia cepat putus asa.

28. Seorang yang tak stabil, kasar, keras-kepala, penuh kepalsuan,
beritikad jahat, malas, tak punya harapan, mudah putus-asa, dan selalu
menunda-nunda sesuatu — disebut seorang tamasik.
Seorang tamasik nampak aneh atau eksentrik dan tak berbudaya dalam
tingkah-lakunya. Hati atau pikirannya tidak tertuju pada
tindakan-tindakannya. la juga pandir dan keras kepala. la penuh
tipu-daya dan licik atau penuh dengan kepalsuan. la gemar menunda-nunda
sesuatu dalam tindakan dan perbuatannya, dan sering membatalkan sesuatu
yang akan dikerjakan dengan alasan-alasan tertentu. la mudah putus asa
dan orang dengan sifat-sifat ini bekerja atau bertindak dengan
motif-motif kejahatan dan berdasarkan pengaruh jahat dan iblis. la bisa
saja berwajah meyakinkan dan hidup mewah dan necis, tetapi secara
kejiwaan ia tak berbudaya dan memiliki semua karakter tamasik di dalam
dirinya.

29. Dengarkanlah olehmu, oh Arjuna, diterangkan secara lengkap dan
berulang-ulang, ketiga bagian, yang didasarkan pada ketiga guna
(sifat-sifat) dari buddhi (intelektual) dan dhriti (kebulatan tekad).
Ada tiga macam atau jenis buddhi (intelektualitas atau kesadaran
manusia). Dan juga ada tiga jenis sifat dari dhriti, yaitu tekad atau
suatu keputusan tetap yang diambil seseorang berdasarkan kadar
intelektualitasnya, atau kadar kesadaran dan pengertiannya.
Buddhi dan dhriti ini sangat dekat dengan setiap tindakan yang kita
ambil. Buddhi menganalisa apa yang harus dilaksanakan seseorang dalam
setiap aksi, sedangkan dhriti memutuskan dan menyelesaikan suatu aksi
atau tindakan sehingga selesailah atau tuntaslah perbuatan tersebut.
Buddhi dengan kata lain adalah suatu kekuatan yang dapat membedakan
antara yang baik dan buruk, yang salah dengan yang benar. Sering sekali
kita manusia memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk ditunjukkan jalan
yang benar dalam menghadapi rintangan-rintangan di depan kita. Yang
memohon ini sebenarnya adalah suatu faktor pengertian atau kesadaran,
dan ini disebut buddhi (intelektualitas). Tindakan selanjutnya
berdasarkan pengertian tersebut adalah yang didasarkan pada kebulatan
tekad atau suatu keputusan yang tuntas, dan ini secara keseluruhan
disebut dhriti.

30. Buddhi yang menyadari akan pravritti (tindakan yang benar) dan
nivritti (tindakan yang tidak harus dilakukan) - apa yang harus
dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan, apa yang harus ditakuti
dan apa yang tidak harus ditakuti, perbuatan dan pekerjaan apa yang
mengikat dan apa yang membebaskan — pengertian (buddhi) tersebut, oh
Arjuna, adalah sattvik (suet dan bersih).
Sloka di atas jelas sekali pengertiannya dan kita manusia seharusnya
tahu akan apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus kita jauhi dan
cegah. Siapakah sebenarnya yang harus ditakuti dalam hidup ini dan
siapa pula yang harus kita lawan dan hadapi. Lebih dari itu pengertian
atau kesadaran yang bersih akan memberikan pengetahuan akan apa yang
mengikat secara duniawi dan apa saja yang akan melepaskan kita dari
lingkaran penderitaan dan karma kita.

31. Sesuatu yang diketahui secara menyimpang, secara salah — tentang
dharma dan adharma (yang betul dan salah), tentang apa yang harus
diperbuat dan yang tidak harus dilakukan - pengertian semacam itu, oh
Arjuna, bersifat rajasik.
Sesuatu pengertian atau buddhi yang bersifat rajasik yang terpengaruh
sifat-sifat raja ini adalah suatu pengertian berdasarkan konsep yang
salah atau menyimpang karena berdasarkan semangat egoisme. Pengertian
semacam ini selalu mencampur-adukkan yang baik dan yang buruk.
Sedangkan pengertian sattvik akan tegas dalam keputusan dan
pengertiannya. Buddhi secara rajasik sering melakukan perbuatan salah
dan menyimpang karena keputusan yang diambil selalu berdasarkan
nilai-nilai yang salah persepsinya. Keputusan semacam ini
mencampur-adukkan kewajiban dengan kesenangan, benar dengan salah, dan
lain sebagainya dan menganggap semua itu adalah tindakan yang benar.
Bagi seorang yang bersifat rajasik, nilai-nilai kebenaran jadi kabur
penghayatannya.

32. Buddhi yang terbungkus oleh kegelapan, yang berpikir bahwa
adharma (kesalahan) sebagai dharma (benar), dan melihat semuanya secara
tidak benar - buddhi (atau pengertian) ini, oh Arjuna, adalah tamasik.
Suatu pengertian yang bersifat tamasik, malahan mengacaukan semuanya,
semua nilai-nilai moral bisa saja jadi kacau-balau oleh pola pemikiran
semacam ini. Semua ini karena kegelapan yang menyelimuti pengetahuan
orang yang bersifat tamasik ini. Yang salah malahan terasa benar
baginya. Buddhi ini tidak sadar atau tahu mana yang benar dan mana yang
salah. Bagi seorang tamasik, pemujaan kepada Yang Maha Esa itu salah,
bersikap anti-Tuhan dan anti-kebenaran malahan benar jadinya. Baginya
kebenaran akan hidup dan dunia ini tidak ada hubungannya dengan Tuhan
Yang Maha Esa. Orang-orang semacam ini lebih condong ke arah
kekuatan-kekuatan gelap.

33. Suatu tekad atau keputusan (yang diambil seseorang) yang tidak
terombang-ambing sifatnya, melalui yoga atau konsentrasi pengendalian
aktivitas-aktivitas pikiran, pernafasan dan indra-indranya — tekad
tersebut, oh Arjuna, adalah tekad (atau keputusan) yang sattvik
sifatnya.
Tekad atau keputusan ini disebut dhriti. Tekad yang bersih dan sattvik karena:
• bersifat tegas dan tidak mudah digoyahkan, alias stabil,
• diperkuat atau didasari oleh latihan-latihan dan konsentrasi yoga,
• mengendalikan secara benar aktivitas-aktivitas pikiran, pernafasan
(meditasi) dan indra-indranya. Orang ini lalu mempunyai potensi
lahir-batin yang amat kuat, tegas, teguh pendirian dan raganya.
Tekad yang bersifat sattvik ini, mengendalikan pikiran atau jiwa kita
ke arah pengetahuan akan tenaga-tenaga yang tersembunyi dan juga
potensi-potensi yang tak nampak tetapi sebenarnya banyak terdapat dalam
diri kita. Juga akan terbuka potensi dan kekuatan yang ada di alam
semesta ini yang dapat dikaruniakan kepada orang yang teguh, yang penuh
dedikasi kepadaNya semata. Tekad sattvik kemudian menimbulkan kendali
pada pemikiran kita, yang kemudian mengendalikan setiap tindakan kita,
sehingga kita pun berubah menjadi sattvik, tanpa pamrih. Hanya
bertindak karena harus dan karena kewajiban yang bersifat dedikasi
semata.
Tekad yang bersih ini mendisiplinkan pikiran, nafas, dan indra-indra
kita, dan diarahkan semua ini ketujuan yang benar. Indra-indra kita
akan terkendali secara otomatis secara bertahap. Dan ini bukan ilusi,
tetapi kenyataan yang telah dialami oleh mereka-mereka yang telah
bersifat sattvik, walaupun dalam abad modern ini.

34. Seseorang yang bertekad kuat pada dharma (kewajiban), pada kama
(kenikmatan), dan pada artha (harta) tetapi menginginkan imbalan untuk
tekadnya ini — tekad semacam ini, oh Arjuna, adalah rajasik.
Tekad yang bersifat rajasik adalah suatu tekad yang hanya dilakukan untuk suatu imbalan tertentu.
35. Sesuatu tekad yang diambil seseorang, yang berasal dari kebodohan,
terlalu banyak tidur, ketakutan, kesusahan, depresi dan kepentingan
diri sendiri –tekad tersebut, oh Arjuna, bersifat tamasik (gelap).
Seseorang yang bersifat tamasik sangat keras sifatnya, tetapi
kekerasannya bersifat ngawur, karena berdasarkan kemalasan dan
kebodohan. Tindakan-tindakannya hanya berdasarkan opini sendiri yang
didasarkan pada sifat-sifat pribadinya yang dominan dan serba gelap. la
pun selalu dekat dengan rasa takut, depresi, penderitaan dan selalu
berada di dalam lingkaran gelap.

36. Dan sekarang dengarlah dariKu, oh Arjuna, tiga bentuk
kebahagiaan. Kebahagiaan ini, bagi seseorang yang mempelajarinya
(mempraktekkannya), akan menghasilkan kebahagiaan yang mengakhiri
penderitaannya.
37. Yang terasa bagaikan racun pada awalnya tetapi serasa air-surgawi
pada akhirnya, dan yang terpancar dari pengertian yang murni dari Sang
Atman -kebahagiaan tersebut dikatakan bersifat sattvik (bersih).
Kebahagiaan sattvik yang sejati timbul dari kesadaran diri atau dari
penampilan/wahyu atau wangsit dari Sang Atman pada diri kita. Tetapi
kebahagiaan ini tidak mudah didapat karena harus dipelajari dan
dipraktekkan untuk jangka waktu yang lama yang tidak dapat ditentukan
oleh seseorang, dan harus diikuti oleh kepasrahan total kepada Yang
Maha Esa. Ada tiga ciri khas sattvik-sukha (kebahagiaan sattvik) ini:
1. Dicapai dengan abhyasa (praktek dan usaha spiritual seperti pemujaan
dan meditasi pada Yang Maha Esa secara berkesinambungan).
2. Sangat sukar dan pahit rasanya pada permulaan ini dilakukan, tetapi terasa nikmat dan manis pada akhirnya.
3. Tidak didapatkan dari suatu unsur luar raga kita, tetapi terpancar
keluar dari diri sendiri yang sudah bersih dari awan-awan gelap dan
kebodohan, terpancar keluar dari lubuk jiwa kita yang paling dalam.
Sang Atman, Sang Jati Diri kita Yang Sejati akan memancarkan kenikmatan
Ilahi ini secara langsung pada waktunya.
Sattvik-sukha ini bersifat ananda, yaitu bersifat amat menenangkan
jiwa, suatu kebijaksanaan atau kesadaran yang amat menentramkan dan
membahagiakan jiwa kita.

38. Sesuatu yang terjadi karena kontak-kontak indra dan
obyek-obyeknya (vishaya), yang pada mulanya, terasa sebagai
air-surgawi, tetapi pada akhirnya terasa sebagai racun - kebahagiaan
atau sukha ini dikatakan sebagai rajasik.
Kenikmatan atau kebahagiaan rajasik itu terasa manis seperti amrita
(air-surgawi) pada mulanya, karena memang bersifat duniawi dan tercipta
akibat hubungan antara obyek-obyek sensual dan indra-indra kita. Tetapi
sesudah itu berakibat penderitaan yang amat menyakitkan. Semua
kenikmatan duniawi baik itu secara seksual, maupun melalui pesta-pora
dan hidup mewah terasa nikmat pada mulanya tetapi selalu terasa pahit
pada akhirnya, karena tidak disertai oleh nilai-nilai moral yang
sejati, yaitu demi dan untuk Yang Maha Esa semata, tetapi demi
kesenangan dan kenikmatan pribadi, dan ini disebut kebahagiaan rajasik,
yaitu bersifat sementara saja.

39. Kenikmatan yang pada mulanya dan kemudian selanjutnya
menyesatkan sang jiwa, dan yang timbul dari tidur, kemalasan dan
kekurangan perhatian –kenikmatan tersebut dikatakan tamasik (gelap).
Kenikmatan tamasik sudah menyesatkan dan menderitakan seseorang dari
awal-mula dan selanjutnya pada akhirnya tetap mendatangkan penderitaan.
Seseorang yang terbius secara tamasik ini tenggelam dalam kenikmatan
yang diakibatkan oleh kebodohan, kekurang-pengetahuan, dan kekacauan
jiwa-raganya.

40. Tak ada satu makhluk pun, baik di bumi atau juga di antara para
disvarga-loka, yang bebas dari ketiga guna (sifat-sifat Prakriti) ini,
yang lahir dari Prakriti (alam).

41. Mengenai para Brahmin, Kshatrya, Vaishya dan para Sudra, oh
Arjuna, aktivitas-aktivitas mereka ini telah dijelaskan, sesuai dengan
guna-guna yang lahir dan sifat sejati mereka.
Svabhava, atau sifat seseorang, adalah pembawaan karma seseorang atau
sesuatu makhluk dari kehidupan masa lampaunya. Keempat varna (sistim
kasta) manusia pun terpengaruh oleh sifat atau guna-guna ini, dan semua
itu mempengaruhi cara kerja atau sifat perbuatannya. Svabhava dengan
begitu menentukan suatu kewajiban atau perbuatan seseorang berdasarkan
guna-guna yang dominan dalam orang tersebut. Kewajiban setiap varna
dengan kata lain datang dari Prakriti itu sendiri.

Sattva dominan dalam seseorang yang ditakdirkan menjadi Brahmin
sejati, raja dominan dalam seorang Kshatriya, dan kemudian setelah
sifat raja ini menyusul dua sifat, yaitu sattva dan tama dalam
Kshatriya. Dalam Vaishya yang dominan adalah unsur atau sifat raja plus
tama, unsur sattva menyusul kemudian.
Dalam Shudra, unsur yang dominan adalah tama, kemudian menyusul raja
dan terakhir sattva. Tetapi ingat dalam naungan Sang Atman, setiap
makhluk dan manusia adalah sama, yaitu hanya satu unsur, yaitu Sang
Atman Sendiri. Dalam IntiNya yang sejati dan secara spiritual kita
semua adalah berasal dari satu unsur yang tunggal. Satu dalam
perjalanan, tujuan dan takdir kita. Tetapi di dalam olahan sang
Prakriti kita berbeda-beda, dan ingat sistim varna atau kasta adalah
produk dari sang Prakriti ini!

Semua bentuk kasta-kasta ini adalah ibarat alat-alat atau anak-anak
dari Yang Maha Esa. Kepandaian, ilmu pengetahuan, dan kekayaan dunia
lahir dan batin, dibagikan secara sama rata kepada masing-masing kasta
ini sesuai dengan kewajiban-kewajibannya di dunia ini untuk mencapai
Yang Maha Esa kembali. Tetapi tidak ada perlombaan kekuasaan atau
kedudukan atau diskriminasi yang dianjurkan di antara mereka-mereka
ini. Yang ada hanya sifat-sifat dominan pada seseorang, dan sifat-sifat
inilah yang menentukan kewajibannya dan kastanya. Jadi kasta itu
ditentukan oleh jenis sifat, pekerjaan dan perbuatan seseorang
sehari-hari dan bukan karena status kelahiran seseorang. Seseorang
dalam perjalanan hidupnya di dunia ini bisa raja berubah dari seorang
yang lahir secara (atau tidak) Vaishya menjadi seorang brahmana sesuai
dengan panggilan atau ketentuan Ilahi, menurut takdirnya masing-masing,
dan begitupun sebaliknya. Mukti atau pembebasan spiritual terbuka untuk
siapa saja tanpa pandang bulu, yang penting seseorang itu mau bertindak
tanpa pamrih, dan penuh dengan dedikasi yang luhur terhadap Yang Maha
Esa.

Sekali lagi ditegaskan di sini, Svabhava adalah sanskara
(penderitaan duniawi) yang diakibatkan oleh perbuatan dari kelahiran
yang silam. Sesuai dengan sanskara ini, maka dalam hidup ini
terciptalah pada seseorang unsur-unsur sattva, raja dan tama. Dan
sesuai atau berdasarkan guna ini timbullah keempat sistim varna (kasta)
atau jenis-jenis profesi dan perbuatan masing-masing orang, bukan
diskriminasi atau perbedaan kekayaan/kedudukan/status seseorang. Status
seseorang, makhluk dan benda di mata Yang Maha Esa adalah sama saja,
yaitu satu: sebagai alatNya belaka, tidak lebih dan benda tidak kurang.
Om Tat Sat.

42. Ketenangan, pengendalian diri, disiplin spiritual, kebersihan
lahir-batin, kesabaran, menjunjung tinggi kebenaran, kebijaksanaan,
pengetahuan dan iman — adalah kewajiban seorang Brahmin, lahir dari
sifatnya yang pribadi.
Keempat sistim varna ini sebenarnya kalau ditinjau dengan kaca-mata
yang benar, maka melambangkan suatu fungsi sehat dari suatu tata-negara
dalam satu negara yang baik dan bijaksana pemerintahannya. Negara yang
sehat dan kuat, aman dan makmur adalah suatu negara di mana kaum
brahmana, kshatriya, vaishya dan sudra bersatu, bergabung, bahu-membahu
bekerja demi kesejahteraan yang lainnya, dan bukan saling mendepak,
menjatuhkan atau merendahkan lainnya.

Tetapi inti dari sistim varna atau kasta ini sebenarnya adalah kaum
Brahmin. Bukan harta-benda atau jumlah tentara yang melimpah-ruah,
bukan perencanaan ekonomi yang fantastis, atau pidato-pidato kosong
yang muluk-muluk para politisi, tetapi kehidupan orang-orang awam yang
berdedikasi, bermoral tinggi dan beragama secara saleh, yang sebenarnya
menjadi dasar atau sendi utama dari varna atau kasta-kasta lainnya. Dan
orang-orang yang sederhana tetapi bermoral tinggi inilah yang
sebenarnya yang disebut brahmin-brahmin dalam arti yang sebenarnya,
yang orientasinya selalu dalam menegakkan dharma dan bhaktinya. tanpa
pamrih demi Yang Maha Esa dan masyarakat banyak. Dan kalau masyarakat
banyak bermoral baik, maka negara itu akan baik, sehat dan kuat. Tetapi
seandainya masyarakat itu sakit, maka negara itupun akan sakit dan
lemah. Semakin banyak yang bersifat brahmin dalam suatu masyarakat atau
negara makin jayalah negara itu, karena akan selalu jauh dari
unsur-unsur yang merugikan. Seorang brahmin sejati adalah seorang guru
bagi sesamanya.

43. Keberanian, semangat, ketegaran, pandai berunding, tidak
bersifat pengecut (tidak lari dari suatu peperangan), bermurah-hati dan
berwibawa sebagai pemimpin (sifat asli seorang pemimpin) - semua ini
adalah kewajiban seorang kshatriya yang lahir dari sifat-sifat
pembawaannya.
Brahmin yang sejati adalah guru, dan kshatriya yang sejati adalah
pengayom masyarakat yang bersedia mati setiap saat ia dibutuhkan demi
tegaknya kebenaran, kedamaian dan kemajuan atau kemakmuran suatu negara
dan masyarakat. Orang-orang yang berjiwa kshatriya tidak mengenal
takut, selalu bersemangat baja, dan tak mudah dipengaruhi oleh uang dan
harta-benda. Harapan bangsa terletak di pundak mereka, dan itulah
dharma-bhakti mereka pada Yang Maha Esa dan masyarakat. Salah satu
contoh adalah Sang Bhishma, suatu waktu Yudhishthira pernah memohon
kepada Sang Kreshna agar ia dijadikan muridnya. Oleh Sang Kreshna ia
diminta berguru ke Bhisma, dan salah satu ajaran Sang Bhishma pada
Yudhishthira adalah, “Di mana Sang Kreshna bekerja, di situ terdapat
dharma (kebenaran), di mana dharma berfungsi, di situ terdapat
kemenangan.” Seorang kshatriya sejati adalah yang bekerja berdasarkan
dharma, dan tak merasa takut akan apapun juga selain Yang Maha Esa.
Biasanya seorang pemimpin semacam itu sudah lahir dengan wibawa dan
kharisma semacam itu. Maka dikatakan, seorang kshatriya adalah seorang
pemimpin bangsa, sedangkan seorang brahmin adalah guru dari masyarakat
(semuanya).

44. Berladang, menjaga ternak dan berdagang adalah kewajiban seorang
vaishya, lahir dari sifat pribadinya. Tindakan atau perbuatan yang
bersifat jasa atau pelayanan (masyarakat) adalah kewajiban seorang
shudra, yang lahir dari sifat pribadinya.
Seorang yang berkarakter atau hidup sebagai seorang vaishya berciri
khas seperti (1) petani dan yang berhubungan dengan pertanian, (2)
beternak dan menjaga agar ternak-ternak dipelihara dengan baik karena
sapi, kerbau dan sejenisnya dianggap suci dan amat bermanfaat dalam
agama Hindu, (3) berdagang atau berwira swasta dalam berbagai bidang
ekonomi adalah sifat-sifat dominan seorang vaishya. Sedangkan yang
digolongkan sebagai shudra adalah orang-orang yang berkerja di bidang
jasa atau pelayanan secara umum, juga sebagai buruh, karyawan, dan
petugas dalam segala bidang pekerjaan milik pemerintah maupun
non-pemerintah.
Dengan demikian jelaslah sudah bahwa sistim varna atau kasta ini
sebenarnya adalah pembagian golongan kerja, dan bukan pembagian hak
hidup seseorang yang dapat diatur semena-mena. Tidak boleh ada orang
yang merasa dilahirkan dalam kasta ini atau kasta itu. Yang benar
adalah sewaktu seseorang tersebut dewasa dan ingin menentukan pekerjaan
dan jalan-hidupnya sendiri maka terserah olehnya pekerjaan apa yang
akan dipilihnya. Jadi sistim kasta yang berlaku sekarang ini yang
membeda-bedakan, hak, status, nama dan sebutan, dan pekerjaan adalah
salah besar. Yang benar itu, kasta ini hanyalah sekedar pembagian
golongan, yang dalam abad modern ini bisa disebut sebagai berikut: para
rohaniwan untuk sebutan modem para brahmana (tercakup di dalamnya para
guru dan ilmuwan dan lain sebagainya yang berhubungan), kemudian para
ekonom adalah sebutan modern atau masa kini untuk para pedagang, bankir
dan lain sebagainya yang berhubungan dengan bidang ekonomi, para petani
dan nelayan termasuk juga dalam golongan ini. Para politisi, pejabat
negara, tentara dan pamong-praja dan lain sebagainya adalah istilah
modern para kshatriya; dan para buruh, pekerja, petugas dan lain
sebagainya yang berstatus bekerja pada seseorang, negara, dan lainnya
disebut shudra. Keempat golongan ini menjadi tiang-tiang utama dari
sebuah negara, dan saling menunjang karena setiap tiang ini sama
kekuatan dan kedudukannya. Satu tiang patah maka patahlah juga
tiang-tiang lainnya, karena tidak akan mampu menyanggah negara yang
ibarat sebuah gedung besar bertiang empat.
Seandainya sesuatu bangsa dan negara tidak melakukan suatu diskriminasi
dengan, golongan-golongan yang ada di dalamnya, dan menghargai setiap
golongan ini, maka aman-sejahtera dan sentosalah negara ini.
Berbeda-beda tetapi eka, berbagai aspirasi tetapi satu tujuan, yaitu
kesejahteraan bagi sesama dan semuanya adalah misi yang dikandung di
sloka-sloka di atas ini, dan ingat bukan perbedaan kasta yang
diskriminatif. Sebuah bangsa dan negara yang besar, maju dan sejahtera
adalah yang masyarakatnya harmonis, dan duduk sama penting di antara
sesamanya.
45. Seseorang mencapai kesempurnaan apabila ia berdedikasi kepada
kewajibanya sendiri. Dengarkanlah olehmu bagaimana kesempurnaan ini
didapatkan oleh seseorang yang setia kepada kewajibannya sendiri.
Yang dimaksudkan dengan kesempurnaan ini adalah penyadaran akan Ilahi.
Seseorang dapat mencapainya dengan bekerja secara setia dan penuh
dedikasi kepada kewajibannya sendiri, yaitu bekerja sesuai dengan sifat
sejati yang dimilikinya. Sewaktu seseorang menyerahkan semua pekerjaan
dan perbuatannya kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih sedikitpun, maka
secara bertahap ia akan mencapai kesempurnaan ini atas karuniaNya.
Tidak menjadi masalah kalau pekerjaan itu secara duniawi sifatnya amat
sederhana atau kecil. Sekali perbuatan atau pekerjaan ini diserahkan
secara total kepadaNya maka terbukalah jalan ke arah Yang Maha Esa.
Bekerjalah demi Yang Maha Esa sesuai dengan sifat-sifat kita yang
sejati, janganlah iri atau berganti-ganti profesi karena harta duniawi,
padahal belum tentu kita menghayati pekerjaan baru kita karena tidak
berbakat ke arah itu. Pekerjaan, profesi atau perbuatan seharusnya
dilakukan karena dedikasi kita kepada Yang Maha Esa, bukan karena nafsu
atau keinginan duniawi. Maka sebaiknya setiap orang mengerjakan
pekerjaan yang disenanginya, dihayatinya dan sesuai kodratnya, walaupun
profesi tersebut tidak menghasilkan sesuatu harta duniawi. Harta
sesungguhnya di dunia ini adalah Yang Maha Esa sendiri dengan segala
karunia-karuniaNya, jadi seyogyanyalah kita selalu bekerja demi Yang
Maha Esa semata, tanpa pamrih dan tulus jiwa-raga. Om Tat Sat.

46. la dari siapa semua makhluk dan benda ini datang dan oleh siapa
seluruh ciptaan ini dijaga — dengan memujaNya melalui kewajibannya
masing-masing, maka seseorang akan mencapai kesempurnaan.
Suatu pekerjaan yang menjadi kewajiban seseorang dapat menjadi pemujaan
kepada Yang Maha Esa seandainya semua itu dipersembahkannya kepada Yang
Maha Esa secara mental dan ragawi, untukNya, demi Ia semata tanpa
pamrih. Tetapi pekerjaan ini harus selaras dengan kewajiban orang
tersebut, yang juga senada dengan kewajibannya terhadap sesamanya
secara tulus, bukan pekerjaan atau perbuatan orang lain yang ditiru
atau dipaksakan olehnya.
Yang Maha Esa adalah sumber segala ciptaanNya di alam semesta, dan Ia
juga yang menjaga semua itu, maka dengan bekerja demi Yang Maha Esa
sesuai kewajiban kita masing-masing sebenarnya seseorang ikut
melestarikan dan menjaga alam semesta ini. Dan Yang Maha Esa pun lalu
tentu dengan senang hati akan membuka jalan ke arah kesempurnaan bagi
sang pemuja yang penuh dengan bakti yang tulus ini.

47. Lebih utama dharma seseorang itu sendiri, walaupun ada
kekurangan-kekurangannya, daripada melakukan dharma orang lain walaupun
dikerjakan dengan baik. Seseorang yang melakukan dharmanya sendiri,
yang didasarkan pada sifatnya pribadi (svabhava), tidaklah berdosa.
Jangan sekali-kali mengabaikan kewajiban anda, untuk sesuatu perbuatan
atau pekerjaan orang lain, walaupun perbuatan atau pekerjaan tersebut
nampak dan terasa lebih baik dan menghasilkan laba yang lebih besar,
atau nampaknya lebih bermanfaat daripada pekerjaan seseorang itu
sendiri. Contoh: seorang yang bersifat dan berpembawaan sejati sebagai
brahmana janganlah melakukan pekerjaan seorang politisi, akibatnya bisa
kacau nanti semua hasil akibatnya lahir dan batin. Pekerjaan atau
kewajiban kita yang asli adalah di mana svabhava (sifat pembawaan) kita
menemukan ekspresi keluarnya yang sejati tanpa berdasarkan suatu rasa
iri-hati, dengki dan cemburu. Biarkanlah alam bekerja melalui diri kita
masing-masing secara alami, dan itu akan lebih utama bagi kita,
daripada menentang kodrat dan kemauan alam yang ada dan hadir setiap
saat dalam diri kita. Seorang tukang pembuat sepatu sebaiknya bekerja
sebagai tukang sepatu, ia boleh bercita-cita setinggi langit, itu
haknya, tetapi ia lebih baik mengembangkan usaha yang dihayatinya
daripada ia merasa iri-hati terhadap salah satu saudaranya yang
diangkat menjadi kepala desa oleh masyarakat setempat. Begitu
iri-hatinya sang tukang sepatu sehingga ia mengorbankan segala-galanya
untuk mendapatkan posisi tersebut, padahal ia sama sekali tidak
menghayati peranan seorang kepala desa yang harus bekerja untuk seluruh
masyarakat di sekitarnya tanpa pamrih. Hal semacam ini tidak akan
diterima oleh Yang Maha Esa, dan semua usahanya sia-sia saja secara
spiritual. Ia, Yang Maha Esa, lebih mengutamakan kewajiban seorang yang
sejati walaupun sifat pekerjaan itu sederhana saja, karena pekerjaan
yang sederhana ini kalau dikerjakan penuh dengan dedikasi kepadaNya
semata akan mengantar orang ini ke moksha. Seorang penjaga toko atau
seorang kusir kereta yang sederhana mungkin lebih dekat dengan
kehidupan yang benar dan sejati dibandingkan seorang raja atau presiden
yang hidupnya bergelimang kemewahan tetapi lupa akan kewajibannya yang
sejati akan rakyat yang menjadi tujuannya mengabdi.

48. Yang sudah menjadi kewajiban seseorang walaupun cacat, tidak
boleh dilepaskan. Karena semua perbuatan itu terselubung oleh kecacatan
ibarat api yang terselubung oleh asap.
Jangan sekali-kali melepaskan kewajiban yang sudah menjadi panggilan
nurani kita yang tulus dan sebenarnya. Walaupun kewajiban tersebut
terasa kurang sempurna dalam pelaksanaannya. Karena sebenarnya tidak
ada sesuatu pekerjaan pun, atau aksi dan perbuatan yang sempurna.
Semuanya selalu ada saja cacat atau kurungnya, yang sempurna adalah
Yang Maha Esa dan segala kehendak-kehendakNya, yang scring sekali tidak
dapat dimengerti oleh manusia. Secacat-cacatnya suatu pekerjaan pada
mulanya, pasti akan lebih sempurna pada tahap-tahap selanjutnya.
Bekerjalah sesuai dengan kewajiban kita semata, dengan segala ketulusan
dan kesucian hati kita, dan secara bertahap akan makin dekatlah kita
kepadaNya.

49. Seseorang yang buddhinya (pengertian) tidak terikat di mana pun
juga, yang telah mengendalikan dirinya, yang keinginannya telah lari
jauh – dengan pemasrahan segala hasil pekerjaannya secara total, orang
ini menuju ke Kesempurnaan Yang Agung yang disebut naishkarmya
(kebebasan dari perbuatan atau tindakan).
Inilah salah satu petunjuk penting dalam Bhagavat Gita, yaitu melalui
suatu perbuatan atau tindakan, seseorang dapat mencapai suatu bentuk
kesempurnaan dalam non-tindakan atau non-aksi (perbuatan). Kesempurnaan
ini adalah suatu kebebasan dari karma, kesempurnaan ini adalah suatu
penyadaran akan Yang Maha Esa secara sejati. Ada tiga tahap dalam jalan
ke arah kesempurnaan ini: a. Pada tahap pertama seseorang melepaskan
rasa ego, rasa “ke-aku’an” nya, rasa memiliki, rasa superior atas
dirinya sendiri, atas setiap tindakan dan perbuatannya. b. Pada tahap
kedua ia melepaskan semua hasil atau buah dari perbuatan, aksi dan
tindakannya, termasuk hasil dari semua pekerjaannya. c. Pada tahap
ketiga ia melepaskan semua pemikiran atau ide-ide mengenai
kewajibannya, ia melepaskan semua karma-karmanya. la menjadi tuan atau
majikan bagi dirinya sendiri, yaitu yang dalam agama Hindu disebut
mencapai suatu kekuatan dari non-perbuatan (non-aksi yang sempurna). Ia
dengan kata lain mencapai penyatuan dengan Sang Brahman, Yang Maha
Agung, yang jauh dari semua tindakan-tindakan di dunia ini. la sadar
sesungguh-sungguhnya bahwa bukan ia yang bekerja, tetapi Ia yang
bekerja dan berbuat, sesuatu non-aksi dalam setiap aksi.
Dalam sloka di atas, sanyasa yang berarti penyerahan total dari setiap
hasil perbuatan disamakan dengan tyaga yang berarti penyerahan atau
pelepasan nafsu dan keinginan. Naishkarmya di sloka di atas bukan
berarti akarma, melainkan berarti tidak berbuat aksi atau tindakan yang
dapat menimbulkan keterikatan duniawi.

50. Pelajarilah dariKu secara singkat, oh Arjuna, bagaimana sesudah
mencapai kesempurnaan, orang itu mencapai Sang Brahman — Yang Maha
Memiliki Kebijaksanaan.
Pada sloka-sloka berikutnya, Sang Kreshna mulai mengajarkan kepada
Arjuna bagaimana seseorang yang telah berhasil melakukan usaha-usaha
non-tindakan, non-aksi dan non-perbuatan ini dapat mencapai Sang
Brahman, yang menjadi tujuan kesadaran dari Sang Atman dalam diri kita.
Berbagai tahap-tahap dalam pencapaian kesadaran diri ini diterangkan di
sloka-sloka berikut ini.
51. Penuh dengan pengertian yang bersih, secara tegar mengendalikan
dirinya, menjauhi suara dan obyek-obyek sensual (indra-indra dan
obyek-obyeknya), melepaskan rasa senang dan rasa benci akan sesuatu.

52. Tinggal di tempat yang sepi dan tenang, memakan secukupnya
(sedikit yang diperlukan saja), mengendalikan kata-kata, raga dan
pikirannya, selalu terserap di dalam yoga meditasi, berlindung
(kepadaNya) tanpa sesuatu keinginan duniawi.

53. Menjauhkan “rasa-kepunyaanku,” kekerasan, kepentingan pribadi,
keinginan (dan nafsu), harta-benda; merasa dirinya bukan apa-apa dan
bersifat damai — orang semacam ini pantas untuk bersatu dengan Sang
Brahman.
Seorang pemuja, untuk mencapai Sang Brahman, harus berjuang melalui
berbagai tahap-tahap yang jauh dari sifat-sifat duniawi. Yang pertama
adalah sadar akan pengetahuan yang sejati dan pengetahuan ini dicapai
melalui karma (tindakan atau perbuatan yang tidak mementingkan diri
pribadi. Yang kedua, lain menyusul dedikasi dalam pemujaannya kepada
Yang Maha Esa.
Sewaktu mencapai pengetahuan sejati melalui tindakan atau perbuatan
yang tidak mementingkan diri sendiri, maka sang pemuja Yang Maha Esa
ini mengalami berbagai hal seperti berikut:
a. Timbul dalam dirinya suatu pengertian yang bersih, suci dan murni,
dan bangkit juga tekadnya akan hal-hal yang bersih, suci dan murni,
yang lepas dari ilusi-ilusi duniawi; dan sang pemuja ini sadar bahwa
raganya lain dengan Yang menumpang raganya, yaitu Sang Atman.
b. la menjauhi semua kenikmatan-kenikmatan sensual atau indra-indranya
seperti menjauhi suara-suara yang berisik, yang penuh polusi dan
rangsangan sensual, dan lain sebagainya yang menyebabkan gangguan pada
jiwa; juga menjauhi melihat dan menyentuh hal-hal yang negatif baginya.
c. la akan mampu mengendalikan dirinya dan berada di atas sifat-sifat
dualislik yang saling bertentangan seperti suka-duka, cinta-benci,
panas-dingin, dan seterusnya.
d. la akan menyenangi tempat yang sepi dan tenang.
e. Makan-minumnya, tidur dan bicaranya akan secukupnya saja, amat
bersahaja dan sattvik sifatnya. Baginya sedikit tetapi mencukupi sudah
amat baik baginya.
f. la terkendali dalam kebutuhan dan gerak-gerik tubuhnya, pikirannya dan pembicaraannya.
g. la selalu terserap dalam meditasi, demi Kebenaran Yang Sejati, demi Yang Maha Esa.
h. Jauh dari rasa keinginan-keinginan duniawi, dari nafsu dan mengarah
kepada hal-hal yang tidak bersifat duniawi atau keterikatan (vairagya).
i. Jauh dari ambisi, rasa memiliki atau “aku,” kepalsuan, kekerasan, kesombongan, ego, nafsu, dan rasa marah.
j. Selalu bersikap damai, penuh dengan ketenangan jiwa, sopan-santun,
budi baik, penuh simpati kepada sesama makhluk, penolong dan tidak
serakah.
54. Menyatu dengan Sang Brahman, jiwanya tenang, ia tidak bersedih,
atau bernafsu. Memandang setiap benda dan makhluk sama rata, ia
mencapai dedikasi nan agung di dalamKu.
Seorang pemuja Yang Maha Esa yang telah menyatu akhirnya dengan Sang
Brahman, tak akan pernah bersedih untuk apapun juga dan tak pernah
bernafsu untuk hal-hal yang bersifat duniawi maupun yang bersifat
spiritual demi kebutuhan-kebutuhan egonya. Raga, jiwa dan batinnya
telah berubah suci, bersih dan murni, dan ia telah lepas dari semua
karma-karmanya. la bahagia dengan dirinya sendiri. la melihat secara
sama-rata pada setiap benda dan makhluk. la mencintai Yang Maha Esa
dengan penuh bakti, kasih yang tulus dan dedikasi yang murni. Bagi Yang
Maha Esa, Sang Kreshna, pemuja semacam ini adalah agung dan merupakan
Sang Atman sendiri secara keseluruhan. Dan bakti pemuja ini dianggap
berada di atas semua sifat-sifat alam (guna-guna) Sang Maya (Prakriti),
di atas semua bentuk karma.
Bakti pemuja semacam ini sesungguhnya mulai setelah ia menyadari atau
mendapatkan penerangan Ilahi. Begitu bergabung dengan penerangan yang
dikaruniakan Yang Maha Esa, maka tindak-tanduknya, intuisi, maupun
pemikiran dan pemujaannya akan sinkron dan selaras dengan kehendak Yang
Maha Esa (Sang Atman), pemujaannya akan penuh dedikasi yang tulus dan
murni, secara sejati ia akan memuja Yang Maha Esa.

55. Dengan dedikasi dan kesetiaan ia mengenalKu, (menyadari) apa
kemampuanKu dan apa Aku ini dalam arti yang sejati, kemudian setelah
mengenalKu secara sejati, maka berlanjutlah ia memasuki Itu, Yang Maha
Agung.
Untuk mencapai atau memasuki Sang Brahman adalah dengan mencintai dan
mengasihi Sang Kreshna setulus-tulusnya. Untuk mencintai Sang Kreshna
adalah dengan mengenal Sang Kreshna dulu, mengenal betapa menakjubkan
Ia, apa saja bentuk sejati dari sifat-sifatNya, keajaiban-keajaibanNya,
mukjizat-mukjizatNya dan kegaibanNya, keagungan dan kebesaranNya. Untuk
mengetahui ini semua adalah dengan memasuki kehidupanNya. Dan seseorang
bekerja dan bertindak bukan untuk dirinya lagi, tetapi hanya demi Ia
semata. Jadi dengan kata lain, klimaks dari kesadaran akan kasih itu
sebenarnya terletak pada bhakti (bakti) dan prema (kasih-Ilahi).
Memasuki atau menyatu dengan Yang Maha Esa bukan berarti
“menyia-nyiakan diri kita,” tetapi lebih berarti bahwa Sang Jiwa kita
harus dilepaskan dari ikatan-ikatan duniawinya, kemudian akan
terbukalah tabir yang selama ini menutupi jiwa kita, dan terlihatlah
sifat gaib Yang Maha Esa dalam diri kita, yang sebenarnya adalah
duplikat atau rupa dari Yang Maha Suci dan Agung, Sang Kreshna Yang
Sejati; Menyatu atau masuk ke dalamNya berarti menjadi gambaranNya,
menjadi seperti Sang Kreshna. Dan karena Sang Kreshna, Yang Maha Esa,
itu kasih adanya, maka menyatu denganNya berarti mencintai dengan kasih
Yang Tak Kunjung Habis secara konstan dan abadi, selama-lamanya,
kepadaNya dan sesama makhluk dan manusia di alam semesta ini. Bayangkan
seperti apakah kasih ini: di luar kata-kata untuk menggambarkan
kebesaran dan keagunganNya, di luar batas-batas khayalan manusia awam!
Mencintai Sang Kreshna adalah dengan (sekali lagi!) mengenalNya,
mengenal sifat-sifatNya yang paling dalam mengenal kebenaran apa saja
Ia ini sebenarnya. Melalui pengetahuan kasih ini, Sang Jiwa kita akan
memasukiNya. Dan dengan dedikasi yang disertai dengan kasih yang tulus
dan sejati, maka Sang Jiwa akan tinggal di dalam Sang Kreshna sampai
saat ajal datang menjemput, kemudian secara abadi ia larut dan bersatu
tinggal di dalam Yang Maha Esa (setelah kematian pemuja yang tulus ini).

56. Melakukan semua tindakan secara konstan, apapun jenis tindakan
ini, berlindung kepadaKu, dengan karuniaKu, ia akan mencapai tempat nan
abadi, yang tak pernah binasa.
Dalam sloka ini Sang Kreshna menggabungkan seluruh doktrin atau
ajaran-ajaranNya yang terdiri dari unsur-unsur karma, gnana dan bhakti.
Seorang pemuja Sang Kreshna yang sejati tidak perlu malu-malu untuk
ber-karma. la dapat melakukan pekerjaan apa saja yang positif tentunya,
selama itu disertai oleh rasa bhakti yang tulus. Dan karunia Yang Maha
Esa akan memutuskan seluruh ikatan-ikatan karmanya. Seseorang yang
secara sejati telah bersandar kepada Sang Kreshna, Yang Maha Esa, walau
ia bertindak apa saja, apapun yang dilakukannya walau mungkin terkesan
salah bagi sebagian orang, sebenarnya hasil atau buah dari perbuatan
itu sudah diambil dan dinetralisir oleh Yang Maha Kuasa. Pemuja ini
sebenarnya sudah bersandar total kepadaNya, dan hanya hidup dan bekerja
atas karuniaNya yang sejati. Ada tiga pemikiran yang dapat disimpulkan
dari sloka-sloka di atas, yaitu:
a. Sang Jiwa dituntun ke arah gnana (pcngetahuan atau kesadaran) oleh
tindakan-tindakan yang tanpa pamrih, atau yang telah dipasrahkan secara
total kepada Yang Maha Esa.
b. Sarnagati, yaitu bersandar pada Yang Maha Kuasa, (walaupun mungkin
dengan motif-motif yang penuh dengan maksud-maksud pribadi),
mendedikasikan berbagai kewajiban-kewajiban kepadaNya.
c. Prema-bhakti, yaitu melalui cinta atau kasih yang agung dan suci.

57. Menyerahkan dalam pikiran semua tindakan kepadaKu, memandangKu
sebagai Yang Maha Agung, berlindung dalam buddhi-yoga, yoga
kebijaksanaan yang dapat membedakan, maka pusatkanlah pikiranmu
senantiasa kepadaKu.
Di sloka ini Sang Kreshna bersabda agar secara mental Arjuna
mcnyerahkan atau memasrahkan semua tindakan-tindakannya kepada Yang
Maha Esa dari lubuk hati dan jiwanya secara tulus dan sejati.
Yang dimaksud di sini amat penting, yaitu menjadikan diri kita tidak
lain dan tidak bukan semacam wakil atau utusan dari Yang Maha Esa Itu
sendiri, yang ditugaskan bekerja dan beribadah kepadaNya di bumi ini,
sesuai dengan kehendakNya, dan senantiasalah berpikir akan Yang Maha
Esa dan memohon petunjuk-petunjuk dan tuntunan-tuntunanNya. Kemudian
secara tulus memasrahkan secara total semua perbuatan itu dan
hasil-hasilnya kepada Yang Maha Esa: terjadilah kehendakNya. Dan
janganlah ini disertai dengan pamrih atau pemikiran akan imbalan
sedikitpun, sekecil apapun, janganlah terlintas pikiran akan pamrih
ini! Dengan belajar, berusaha dan mempraktekkan tahap demi tahap,
langkah demi langkah buddhi-yoga sebagai dasar dari semua yoga-yoga
lainnya, seseorang harus hidup di dunia ini dengan segala
kewajiban-kcwajibannya, dengan segala efek dan aspek dari kewajiban,
perbuatan, pekerjaan dan aksi ini, bukannya melarikan diri dari semua
aspek kehidupan yang kita hadapi ini dengan berbagai alasan, misalnya
berdosa atau sukar melakukan sesuatu. Semua alasan-alasan yang dicari
untuk menghindar dari aksi-aksi yang positif dan sesuai dengan
kewajiban adalah kebodohan yang amat sangat. Bekerjalah, berbuatlah,
berkarmalah, beraksilah, semuanya dengan dasar kewajiban kita, memakai
istilah agama Islam, berdasarkan ibadah kita kepada Yang Maha Kuasa,
dan serahkan hasilnya secara total dan murni kepadaNya semata. Dengan
demikian bersihlah karma kita dari ikatan-ikatan duniawi ini. Sekali
lagi, bersatulah dengan Yang Maha Esa dalam tekad, iman, jiwa dan
kesadaran!

58. Berpikir akan Aku, maka dikau akan mengatasi semua
rintangan-rintangan dengan karuniaKu. Tetapi kalau terdorong rasa
egoisme dikau tak mau mendengarkan Aku, maka dikau akan binasa.
Sang Jiwa harus bermeditasi kepada Sang Kreshna dan melupakan pikiran
akan kepentingan diri-pribadinya sendiri. Seseorang yang telah membunuh
rasa egonya, akan mendapatkan bimbingan Sang Kreshna ke arah sukses
spiritual. Tetapi seseorang yang karena hanya mementingkan egonya dan
tak mau acuh kepada ajaran-ajaran Sang Kreshna akan binasa. Jadi
tinggal memilih sendiri keselamatan atau kehancuran. Kalau kita
menginginkan kehancuran maka percayalah diri-sendiri dan ikutilah
segala kemauan diri ini. Kita bisa saja menentang yang Maha Esa, tetapi
tidak mungkin menentang kehendakNya. Sekali menentangNya, maka jatuh,
hancur dan binasalah kita, dalam arti masuk ke dalam lingkaran setan
kelahiran dan kematian yang seakan-akan tidak ada habis-habisnya.

Seandainya secara salah kita mengidentifikasi diri kita dengan badan
dan pikiran kita, dan hanya tergantung pada “ego” kita, (dan berpikir
bahwa kitalah pelaku setiap tindakan) atau pun yang ada disekitar kita
berdasarkan ego kita pribadi, maka kita pasti akan jatuh. Dengan
demikian kita akan jauh dari Yang Maha Esa, kalau kita makin jauh maka
kita akan bertambah kotor dan penuh dengan polusi duniawi, dan
hancurlah kita kemudian jadinya. Biasanya rasa kesombongan, ego dan
kebesaran kita akan diri kita ini akan hancur dahulu sebelum kita
sendiri kemudian menyusul hancur. Tetapi bergandengan tangan dengan
Sang Kreshna Yang Maha Pengasih dan Penyayang, maka tujuan dan sukses
pasti akan tercapai. Dengan kata lain, kejatuhan sang jiwa kita adalah
karena tidak patuhnya, karena pertentangan kita dengan kehendakNya.
Dalam perjalanan atau evolusi hidupnya Sang Jiwa ini lalu menjadi cacat
dan cemar, dan inilah yang disebut kehancuran dan kejatuhan Sang Jiwa
ini ke dalam kegelapan.

59. Kalau bertahan dalam egoisme, dikau berpikir, “Aku tak akan
berperang,” maka ketahuilah bahwa keputusanmu itu sia-sia saja. Alam
(pembawaan dan takdir) akan memaksamu untuk bertindak!

60. Oh Arjuna, terikat oleh tindakan-tindakanmu sendiri, lahir dari
sifatmu sendiri. Hal-hal yang karena kekurang-sadaranmu tidak ingin kau
lakukan, tanpa daya akan kau lakukan juga.
Seandainya Arjuna yang berstatus kshatriya ini tidak ingin berperang
karena rasa egonya yang salah tidak menginginkan ia berperang. Tetapi
tanpa akan disadarinya segala naluri alaminya, sifat dan pembawaannya
beserta takdir yang sudah digariskan Yang Maha Kuasa akan memaksanya
untuk bertindak dan berperang demi kelangsungan hidupnya atau demi
alasan-alasan lainnya. Semua tindakan ini sebenarnya berdasarkan akan
karma-karma yang kita buat sendiri pada kelahiran-kelahiran yang lalu.
Jalan yang paling benar secara spiritual dan kejiwaan adalah dengan
mempersembahkan secara tulus dan penuh kesadaran jivva-raga kita
kembali kepada Yang Maha Esa. Lalu karma-karma kita secara tahap demi
tahap akan menyesuaikan diri dan berubah karakternya menjadi penuh
dengan dedikasi dan kesetiaan demi Yang Maha Kuasa. Bahkan seorang
yogipun tak akan bisa berubah sekaligus, semua atau setiap orang harus
melalui tahap penyerahan total kepadaNya dulu. Ada suatu hal yang tak
dapat kita perkirakan, yaitu episode-episode yang akan terjadi dalam
perjalanan hidup kita ini, bahkan setiap hari kita jumpai kisah-kisah
yang penuh dengan pengalaman yang unik, dan semua itu bisa saja jauh
dari perkiraan dan rencana kita yang sudah matang. Bahkan sering kita
melakukan hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan dulunya, bahkan sering
sekali kita melakukan hal-hal tanpa kesadaran; sering sekali bahkan
secara suka-rela, sering juga tanpa daya dan terpaksa, hal-hal ini
semuanya ada yang bertentangan dengan diri kita, ada yang selaras, ada
yang setelah dilakukan menimbulkan sesal, ada yang setelah dilakukan
secara terpaksa tetapi kemudian mendatangkan suatu kesenangan
tersendiri. Sebenarnya tanpa kesadaran kita, semua ini telah diatur dan
tercipta sewaktu kita sendiri mulai tercipta di dunia ini bahkan
mungkin sebelumnya. Seperti wayang atau pemain sandiwara kita ini sudah
diatur cara bermainnya oleh sang dalang dan sutradaranya, mau tak mau
kita harus memainkan peranan kita masing-masing, karena itulah
karma-karma kita yang berjalan di bawah kuasa Sang Prakriti.

61. Yang Maha Esa bersemayam di dalam hati (jiwa) setiap makhluk, oh
Arjuna, mengakibatkan mereka terputar oleh Sang Maya (kekuatanNya),
ibarat makhluk-makhluk ini diletakkan di atas suatu alat (yang
berputar).
Sebenarnya semua yang kita berbuat adalah perbuatan atau kehendak Yang
Maha Esa itu sendiri yang bersemayam di dalam jiwa kita dan dalam jiwa
setiap makhluk lainnya. Ia lah yang ‘membolak-balikkan” kita tanpa kita
bisa berdaya atau menentang kehendakNya sedikitpun, dan alat pemutar
ini adalah Sang Maya (ilusi, tenaga alami, dan juga kekuatanNya).
Sering alat-pemutar ini disebut juga ibarat gangsing oleh penterjemah
sloka ini di versi-versi lain dari Bhagavat Gita). Yang Maha Esa adalah
ibarat seorang dalang dalam pertunjukan, Yang Mengatur segala-galanya
baik segi kostum, tata-ruang, penampilan dan semua gerak-gerik dan
dialog kita. Sedangkan motor penggerak atau alat penggerak dibalik
semua itu adalah Ia juga dalam benluk kekuatannya, yaitu Sang Maya yang
diciptakanNya Sendiri; tanpa Sang Maya tidak akan ada kekacauan dan
kebaikan di dunia ini. Sang Maya ini dengan kehendakNya membuat kita
“menang, berlari, jatuh-bangun, tunggang-langgang, terbuai, dan lain
sebagainya.

Yang Maha Esa ini, oh manusia, Yang Menentukan seseorang harus
berperang, berjuang, dan melawan kegelapan, kezaliman dan kekurangan
pengetahuan kita. Prakriti memberikan kepada setiap makhluk, manusia
dan benda peranan-peranan tertentu dalam kehidupan kita ini, tetapi
semua itu juga diikuti oleh ikatan-ikatan duniawi, jadi mau tak mau
harus bertindak, berbuat dan beraksi sesuai dengan pola dari Sang
Prakriti ini (kekuatanNya).
Di alam semesta ini yang merupakan suatu roda dari Sang Waktu, maka
Yang Maha Kuasa telah menggariskan atau merencanakan setiap karma bagi
setiap makhluk-makhluk ciptaanNya yang harus dilaksanakan oleh
makhluk-makhluk ini. Jadi setiap manusia dan makhluk dan benda harus
berputar atau berfungsi ibarat di atas suatu alat pemutar pembuat
keramik, dan sewaktu diputar ini maka keramiknya atau tanah-liat yang
akan dijadikan benda keramik inipun dipoles dan dibentuk sesuai dengan
kehendak dan cita-rasa sang pembuat keramik. Dan dalam proses pembuatan
keramik ini, tentu saja tidak semua keramik ini akan terbentuk dengan
sempurna atau sama. Ada yang cacat, dan ada juga yang pecah berantakan,
tetapi banyak juga yang cantik dan sempurna bentuknya. Jadi dengan kata
lain, tidak ada suatu kejadian atau nasib atau takdir yang kebetulan
sifatnya atau penuh dengan “seandainya,” yang ada hanyalah Yang Maha
Esa dan semua rencana-rencanaNya, tidak lebih dan tidak kurang!

62. Berlarilah mencari perlindungan di dalamNya dengan segenap
jiwa-ragamu, oh Arjuna! Dengan karuniaNya dikau akan mendapatkan
Kedamaian Yang Agung — Tempat Tinggal Yang Abadi.
Sang Kreshna Yang Maha Bijaksana setelah mengajarkan rahasia yang amat
suci dan agung sifat ini, masih saja bersifat amat demokratis dan tidak
mau menang sendiri atau memaksakan ajaran-ajaran ini kepada Arjuna atau
kita semua. Malahan Ia menganjurkan agar semua ajaran dan wejangan ini
dipelajari dan direnungkan dulu, dengan kata lain, kita semua diberikan
kebebasan olehNya untuk bertindak atau memutuskan apa kita ingin
mengikuti semua ajaran-ajaran ini secara semestinya, atau ingin bebas
beritikad sesuai dengan selera kita sendiri.
Pengetahuan tentang kesadaran atau pencapaian Sang Brahman oleh manusia
melalui tindakan atau perbuatan tanpa pamrih secara total adalah sebuah
rahasia atau misteri yang sifatnya lebih dari rahasia itu sendiri,
apapun bentuk rahasia itu. Rahasia yang lainnya adalah bahwa Sang
Kreshna, Yang Maha Esa itu, adalah monitor yang bersemayam di dalam
diri setiap makhluk, yang sebenarnya menyelenggarakan dan yang dengan
kekuatanNya (Sang Maya) mcmbuat kita bertindak, berbuat, bekerja,
beraksi dan “menari-nari” tanpa daya di panggung dunia ini. Maka
berlindunglah selalu kepadaNya semata, kepada Yang Maha Esa, kepada
Sang Kreshna Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kebijaksanaan ini amat
jelas sifatnya, terserah kepada kita semua mau mengikuti semua
ajaran-ajaran kebijaksanaan ini dan mengamalkan kepada sesama kita dan
demi Yang Maha Esa tanpa pamrih atau mengikuti kehendak pribadi kita
sendiri. Yang Maha Esa jelas sifat dan pendirianNya, yaitu amat
demokratis dan tidak memaksa. Semua ini tentunya kembali lagi kepada
kita untuk direnungkan dan dijalani.

63. Demikianlah ilmu pengetahuan yang paling rahasia dari semua
mistik, telah Ku-ajarkan kepadamu; Setelah mempertimbangkan semua ini
sepenuhnya, bertindaklah seperti yang engkau kehendaki.
Setelah sekian banyak ajaran yang telah diberikan Kreshna kepada
Arjuna, hingga saat ini. Dia sepenuhnya menyerahkan segala keputusan
akhir di tangan Arjuna sendiri, yang bebas memilih dan menentukan
sendiri apa yang harus dilakukannya. Disini Arjuna harus menemukan jati
dirinya terlebih dahulu agar dapat menentukan arah yang tepat dan benar
bagi penentuan selanjutnya. Ajaran dari Sri Kreshna ini bukanlah
indoktrinasi dan memberikan kebebasan penuh kepada siswa untuk
mempergunakan penalaran dan kemampuan pemahamannya dalam mengambil
keputusan akhir.

64. Dengarkanlah lagi kata-kataKu yang agung, yang paling rahasia
sifatnya dibandingkan semuanya. Dikau adalah yang amat Kukasihi, maka
akan Kukatakan kepadamu demi kebaikanmu.
Sebenarnya sabda atau wejangan-wejangan Sang Kreshna adalah
“sabda-sabda nan agung” sifatnya, yang menjadi intisari dari Bhagavat
Gita, intisari dari yoga atau ilmu pengetahuan yang sejati.

65. Pusatkanlah pikiranmu padaKu; berdedikasilah kepadaKu;
berkorbanlah demi Aku; sujudkanlah dirimu di hadapanKu. Maka dikau
dengan demikian akan datang kepadaKu. Aku menjamin dikau dengan
kebenaranKu; dikau adalah kesayanganKu!
Arjuna adalah kesayangan Sang Kreshna, maka diturunkanlah ajaran
mengenai bhakti yang amat murni sifatnya ini kepadanya. Sang Kreshna
atau Yang Maha Esa pun menyayangi kita semua, dan diturunkanlah ajaran
Bhagavat Gita kepada kita semuanya, maka dengan memberikan segenap
jiwa-raga kita secara total kepadaNya, dengan mencintai dan
mengasihiNya, memujaNya, selalu mengingatNya, tunduk dan bersujud
selalu kepadaNya bekerja untukNya semata apapun jenis pekerjaan itu
tanpa pamrih, maka kita semua akan menemukanNya, menemukan Tuhan Yang
Maha Esa, Tuhan dari segala bentuk kehidupan dan tujuan kehidupan ini,
kehidupan kita semua ini. Om Tat Sat.

66. Serahkanlah semua kewajiban, datanglah kepadaKu semata untuk
berlindung. Janganlah bersedih! Akan Kubebaskan dikau dari semua
dosa-dosa.
Sloka ini dianggap sebagai sloka yang amat penting dalam Bhagavat Gita,
dan merupakan suatu ungkapan dan ajaran yang dianggap amat rahasia
sekaligus penuh dengan kasih-sayang Yang Maha Esa yang tak terbatas.
Ajaran atau wejangan ini dianggap sebagai suatu kebijaksanaan yang amat
dalam artinya dan menjadi patokan yang amat disegani dan dihormati oleh
umat Hindu yang suci semenjak ribuan tahun yang silam di India dan di
mana saja agama Hindu ini berkembang. “Serahkan semua kewajiban,” pada
sloka ini berarti tanggalkan atau lepaskanlah dharma yang ditekankan
atau terdapat di pustaka-pustaka suci kuno untuk sesuatu yang nilainya
lebih luhur dan agung, yaitu dengan menjadikan Yang Maha Esa secara
tunggal tempat kita berlindung, memohon dan mengabdi, dan memandangnya
sebagai Yang mengayom dan Yang Menuntun kita sesuai dengan kehendakNya
semata. Jangan membuang-buang waktu untuk mendiskusikan soal kasta yang
sudah jelas maksudnya, yaitu pembagian kerja dan bukan perbedaan status
atau diskriminasi. Jangan membuang-buang waktu yang berharga dengan
melakukan tradisi dan upacara-upacara yang membingungkan dan
membuang-buang energi, tetapi langsung saja menuju ke suatu perbuatan
nyata yang hakiki dan sejati sifatnya, yang tanpa pamrih demi dan untuk
Yang Maha Esa semata, dan bukan demi kepuasan mata, kepuasan jiwa atau
indra-indra dan pikiran pribadi kita. Janganlah menerapkan
kewajiban-kewajiban atau instruksi-instruksi dalam dharma-shastra kita
secara ngawur dan salah, secara metafisik dan etika belaka, tetapi
lakukanlah secara murni sesuai dengan sabda-sabda Sang Kreshna, Tuhan
dari semua dewa-dewa dan kekuatan-kekuatan di alam semesta ini. Semua
kewajiban dan instruksi yang terdapat di dalam dharma-shastra ini akan
hilang nilai dan artinya sekali seseorang sudah melakukan bhakti yang
luhur dan tulus kepada Yang Maha Esa secara langsung.
Seorang jignasu (pencari kebenaran) harus menyerahkan secara total,
jiwa dan raganya bagi Yang Maha Esa, dan Yang Maha Esa pasti akan
membebaskannya dari segala dosa-dosa dan keterbatasannya, dari
kekurang-pengetahuannya dan dari semua segi negatifnya. Ini adalah
janji tulus Sang Kreshna, Yang Maha Esa, kepada kita semua dan ini
menunjukkan kasihNya Yang Agung dan Suci. Rahasia ke Tuhan Yang Maha
Suci adalah bhakti yang tulus dan tanpa pamrih, tanpa benci, tanpa
keinginan duniawi, tetapi hanya demi dan untuk Ia semata. Terjadilah
kehendakNya. Om Tat Sat.

Seseorang yang dedikasinya kepada Yang Maha Esa masih dalam taraf
yang belum matang, sewaktu bertindak sesuatu akan menganalisa dan
mengkonfirmasikan setiap tindakan dan efeknya secara mental, fisik,
moral, kewajiban, hukum, kaidah, kegunaan, bahkan dari segi spiritual
juga akan diperhitungkan olehnya. Tetapi sekali ia berjalan dan
berdedikasi secara tulus, tanpa pamrih dan dengan kesadaran yang
matang, maka semua unsur, kaidah, dan nilai-nilai kewajibannya akan
sirna, dan kemudian hanya timbul satu kesadaran Ilahi yang amat sukar
diterangkan dengan kata-kata atau bahasa awam. Kesadaran ini bentuknya
amat spiritual dan orientasinya hanya Yang Maha Esa semata. Di sini
semua yang dikerjakan, diperbuat dan setiap aksi akan menjadi ibadah
atau dedikasi yang amat tulus sifatnya dan setiap bentuk perbuatan
pemuja ini akan sinkron dengan kehendakNya, dan inilah misteri dari
kehendakNya, yang hanya bisa dimengerti secara spiritual dan duniawi
oleh pemuja itu berkat karuniaNya juga. Suatu bentuk pengalaman atau
kehidupan yang sukar dapat diterangkan dengan logika duniawi. Maka
seyogyanyalah jangan menjadikan diri anda sebagai budak dari tradisi,
kewajiban yang belum tentu positif nilainya, atau sesuatu tindakan yang
nampaknya positif berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Ini bukan
wejangan sesat atau ajaran Sang Kreshna yang salah, tetapi bhakti yang
tulus kepada Yang Maha Esa memang akan menimbulkan semacam prema
(kasih-Ilahi) yang tak terbatas agung dan suci yang penuh dengan
pengetahuan-pengetahuan spiritual yang sukar dijangkau dengan logika
duniawi, dan sukar diterangkan dengan kata-kata biasa, dan
kebijaksanaan atau kesadaran Ilahi ini berada di atas semua kebaikan
dan keburukan duniawi. Tanggalkanlah semua baju-baju duniawi anda, dan
secara “telanjang-bulat” lepaslah dari nafsu-nafsu dan keinginan.
Sambutlah Yang Maha Esa dengan bhakti yang tulus, berlindunglah di
dalamNya dan selalulah berdoa “terjadilah kehendakNya.” Inilah intisari
ajaran Bhagavat Gita yang agung dan suci ini. Aliran Ramanuja di India
menyimpulkan sloka 66 ini sebagai intisari atau klimak dari ajaran
Bhagavat Gita. Bekerja, bertindak dan berbuat suatu apapun; misalnya
hal-hal yang dianggap terbaik dan suci, tetapi demi Yang Maha Esa
semata dan tanpa harapan akan imbalan, maka perbuatan ini akan
dilindungi oleh Yang Maha Esa dan sang pemujanya akan diselamatkan dari
segala mara bahaya. Tetapi kalau sang pemuja sebaliknya berpikir bahwa
semua tindakan tanpa pamrih ini malahan akan melepaskannya dari
mara-bahaya dan akan dilindungi oleh Yang Maha Esa, maka pikiran
semacam ini tidak murni lagi karena sudah terkena polusi dari pamrih
itu sendiri. Ingat secercah harapan sekecil apapun merupakan tanda
bahwa dedikasi itu sudah tidak murni lagi. “Terjadilah kehendakNya,”
apapun itu! Baik yang terlihat negatif maupun positif, Yang Maha Esa
yang tahu apakah hasil dan efek yang diberikannya kepada seseorang itu
negatif atau positif. Seorang yang bersatu denganNya secara sejati akan
mendapatkan juga pengetahuan ini, dan ia akan selalu bahagia dengan
apapun yang dibcrikan oleh Yang Maha Esa kepadanya. Om Tat Sat.

67. Jangan sekali-kali dikau bicarakan ajaran ini kepada seseorang
yang tidak berdisiplin secara spiritual dalam hidupnya, juga tidak
kepada seseorang yang tak memiliki dedikasi, juga tidak kepada
seseorang yang tidak ingin mendengarkannya, juga tidak kepada yang
menjelek-jelekkan Aku.
Kebenaran yang sejati ini jangan diajarkan atau dibicarakan dengan
mereka-mereka yang hidupnya penuh dengan kemewahan dan kenikmatan
duniawi, yang sudah terbius oleh semua unsur duniawi ini juga tidak
kepada yang tak memiliki dedikasi atau ibadah kepadaNya, atau kepada
mereka-mereka yang tak mau melakukan disiplin-disiplin spiritual
seperti puasa, pemujaan, sembahyang, meditasi dan kegiatan-kegiatan
spiritual lainnya yang berorientasi kepada Yang Maha Esa, atau
mereka-mereka yang tidak mau memikirkan sesamanya. Jangan juga ajarkan
Bhagavat Gita kepada orang-orang yang anti-Tuhan dan yang senang dan
gemar menjelek-jelekkan Tuhan Yang Maha Esa. Juga jangan ajarkan
Bhagavat Gita kepada mereka yang nafsu sensualnya terlalu besar, atau
mereka-mereka yang selalu mencari-cari kesalahan dalam setiap agama dan
ajaran-ajaran suci lainnya. Karena ini sama saja meletakkan sebutir
mutiara yang berharga dihadapan seekor babi, yang hanya senang makan
kotoran dan tidak sadar atau tahu akan nilai mutiara ini.
Ajarkanlah Bhagavat Gita kepada mereka yang memperlihatkan dedikasi
yang tinggi kepadaNya, yang hidupnya penuh dengan perbuatan baik bagi
sesamanya, yang berdisiplin secara spiritual, karena orang-orang yang
tidak memenuhi syarat-syarat ini akan salah mengerti akan ajaran-ajaran
Bhagavat Gita, dan menyalah gunakannya. Jadi lebih baik tidak
diajarkan, karena malahan akan menimbulkan kekacauan dan kebatilan
daripada kebaikan dan kebenaran.

68. Seseorang yang membukakan (menjelaskan) rahasia agung ini kepada
pemuja-pemujaKu, memperlihatkan dedikasi yang tertinggi kepadaKu - ia,
tanpa diragukan, akan datang kepadaKu.
69. Juga tak ada di antara manusia yang lebih tinggi dedikasinya
kepadaKu selain ia. Juga tak akan ada orang lain yang lebih Kukasihi di
bumi ini selain ia.
Seseorang yang dengan bakti dan dedikasi yang tulus mengajarkan
Bhagavat Gita kepada yang lain-lainnya adalah seorang manusia yang amat
dikasihi oleh Sang Kreshna, oleh Yang Maha Esa, demikian sabda Sang
Kreshna disloka-sloka di atas, karena orang ini membantu orang lain
untuk menyeberangi kehidupan (sansara) ini ke Tujuan Nan Abadi, Tempat
Tinggal Kita Yang Selama-lamanya. Om Tat Sat.

70. Dan seseorang yang mempelajari dialog Kita yang suci ini, maka
ia akan memujaKu dengan mengorbankan (mempersembahkan) ilmu
pengetahuan. Begitulah ketetapanKu.
Mempelajari atau melakukan suatu studi akan Bhagavat Gita secara tulus
adalah suatu bentuk pemujaan akan Yang Maha Esa. Barangsiapa
mempelajari Bhagavat Gita berarti mempersembahkan suatu persembahan
yang tak ternilai harganya bagi Yang Maha Esa. Ini sudah menjadi
ketetapan Sang Kreshna, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Om Tat Sat.

71. Dan seseorang yang penuh dengan iman dan tanpa itikad
mencemoohkan, walaupun ia hanya mendengarkan saja, ia pun, lepas (dari
perbuatan-perbuatan iblis), akan mencapai loka-loka kebenaran nan
terang-benderang.
Bahkan seseorang yang tidak mempelajari Bhagavat Gita, dan hanya
mendengarkan ajaran-ajaran ini dari mulut orang lain, dapat berubuh
menjadi seorang mukta, yaitu yang mendapatkan mukti (kebebasan), selama
ia mendengarkannya dengan penuh iman dan kepercayaan penuh tanpa maksud
untuk mencemohkan ajaran ini. Tetapi kebebasan yang didapatkan orang
ini bukan kebebasan dari lahir dan mati yang berulang-ulang, tetapi
kebebasan dari dosa-dosanya, dari perbuatan-perbuatan buruknya — karena
dosa-dosa atau perbuatan-perbuatan iblis seseorang adalah
hambatan-hambatan yang sukar di jalan bakti atau dedikasi kepada Yang
Maha Esa. Sekali terbebas dari dosa-dosanya, dan setelah
meninggal-dunia, ia akan pergi ke loka-loka di mana tinggal orang-orang
yang selama hidupnya penuh dengan tindakan-tindakan yang suci dan murni.
Bhagavat Gita adalah salah satu karya Ilahi yang berbentuk amat
spiritual; yang menghancurkan kegelapan bagi seseorang yang tekun dan
mau untuk merenungi ajaran-ajaran suci ini. Ajaran ini menghancurkan
keragu-raguan seseorang yang beriman kepadaNya. Dengarkanlah
pesan-pesan Sang Kreshna dengan penuh penghayatan, dan kalau ada yang
kurang di mengerti jangan ragu-ragu untuk bertanya kepada guru atau
pada yang mengetahuinya, dan suatu saat yang tepat nanti kita akan
sampai ke tujuan hidup ini, yang sebenar-benarnya, yaitu kehidupan yang
sejati bersamaNya.

72. Sudahkan dikau dengarkan ini, oh Arjuna, dengan pikiran yang
terpusat pada suatu arah? Sudah hancurkah moha (kegelapan) mu yang
dikarenakan oleh agnana (kekurangan-pengetahuan), oh Arjuna?
Sang Kreshna kini bertanya kepada Arjuna apakah keragu-raguannya yang
dikarenakan oleh kekurang-pengetahuan akan ilmu pengetahuan yang sejati
telah pupus kini, setelah mendengarkan wejangan dan sabda-sabda suci
Sang Kreshna. Apakah moha (kasih-sayang atau keterikatan duniawinya)
akan keluarga dan negaranya telah berganti menjadi kasih-sayang Ilahi
Yang Sejati, yang penuh dengan kesadaran sejati akan arti dan hakikat
misi kita ke dunia ini?

Berkatalah Arjuna:
73. Hancurlah sudah kegelapanku, telah kudapatkan kesadaran ini melalui
karuniaMu, oh Kreshna! Tegarlah daku kini, dan hilanglah sudah
keragu-raguanku. Daku akan bertindak sesuai dengan sabda-sabdaMu.
Akhirnya, Arjuna mendapatkan kesadarannya dan siap melakukan
sabda-sabda Sang Kreshna, tegarlah sudah jiwa, pikiran dan raganya.
Kebenaran Ilahi, kebenaran dan penerangan Sang Atman datang sudah ke
dalam dirinya. Hilang sudah kegelapan dari diri dan jiwanya, dan
sadarlah Arjuna kini, bahwa Sang Jiwa itu sebenarnya adalah abdi Yang
Maha Kuasa yang sifat sejatinya adalah abadi dan tidak bisa binasa.
Tempat sebenarnya dari Sang Jiwa di dunia adalah di telapak kaki suci
Sang Kreshna, Yang Maha Esa. Dengan kata lain, ini berarti Sang Jiwa
seharusnya mengabdi di dunia sesuai dengan kehendakNya dan bukan sesuai
dengan kehendak dan nafsu Sang Jiwa sendiri, dan Arjuna pun sadar
akhirnya bahwa kebijaksanaan yang tertinggi adalah dalam bentuk
penyerahan total jiwa, raga, pikiran dan perbuatan serta hasil
perbuatan-perbuatan itu, secara tulus dan tanpa pamrih, kepada Yang
Maha Esa semata. Tidak mengherankan kalau di sloka ini Arjuna akhirnya
berkata, “Daku akan bertindak sesuai dengan sabda-sabdaMu.”
Begitulah selalu, setelah Sang Jiwa dalam diri kita sadar maka —
egoismenya akan hilang, ilusi-ilusi di sekitarnya hilang, kegelapannya
tersibak dan keragu-raguannya hancur-lebur, maka — akan terdengarlah
sebuah suara kecil dari Yang Maha Esa di dalam dirinya, dan mulailah ia
bertindak mengikuti semua instruksi-instruksi dan tuntunan-tuntunanNya,
ia menjadi alat atau instrumen Yang Maha Kuasa dengan penuh kesadaran
dan penerangan Ilahi penuh dengan ilmu pengetahuan yang sejati.

Berkatalah Sanjaya:
74. Demikianlah telah kudengar dialog yang amat menakjubkan antara Sang
Vasudeva (Kreshna) dan Partha (Arjuna) yang berjiwa luhur (besar),
dialog ini membuat bulu-bulu romaku berdiri.
Sanjaya yang pada awal Bhagavat Gita memulai kisah Bhagavat Gita kepada
Raja Dhritarashtra; telah menceritakan semua yang didengarkan dan yang
dilihatnya ini pada sang raja, dan di sloka-sloka berikutnya ia akan
mengakhiri kisah
Bhagavat Gita.
75. Dengan kebaikan Vyasa, kudengar rahasia agung ini, Yoga yang
diajarkan sendiri oleh Sang Kreshna, Tuhan dari segala ilmu pengetahuan
yang bersabda didepanku.
Sanjaya menerangkan kepada raja Dhristarashtra bahwa dengan pertolongan
Resi Vyasa yang memberikan Sanjaya penglihatan mistik, maka ia telah
mendengarkan sabda-sabda Sang Kreshna kepada Arjuna, tetapi tidak
dengan telinga duniawi milik raganya, karena kekuatan mistik Resi
Vyasa. Bukan saja Sanjaya mendengarkannya, tetapi ia pun bertekad untuk
mempelajari dialog suci ini. Sang raja sebaliknya akan menderita karena
masih penuh dengan itikad-itikad jahat.

76. Mengingat-ingat dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna yang
menakjubkan dan suci ini, oh raja. Aku gemetar dalam kebahagiaan, lagi
dan lagi!
Sanjaya sendiri yang mendengar dan melihat dari jauh tak dapat
melupakan dialog suci ini dan raganya berulang-ulang gemetar kalau
meningat-ingat lagi akan apa saja yang ia saksikan dan dengar.
Sebaliknya raja Dhritarashta, ayah para Kaurawa tidak nampak tertarik
akan ajaran-ajaran suci Sang Kreshna ini, karena ia lebih mementingkan
keluarga dan putra-putranya. Sanjaya di lain pihak akan bertambah terus
keyakinannya terhadap Sang Kreshna dan ajaran-ajaranNya.

77. Teringat, dan teringat juga, bentuk yang menakjubkan dari Sang
Kreshna, besar takjubku, oh raja, dan aku gemetar dengan kebahagiaan,
lagi dan lagi!

78. Di mana hadir Sang Kreshna, Tuhan dari ilmu pengetahuan, di mana
hadir Arjuna, sang pemanah, terjaminlah di sana kemakmuran, kemenangan
(kejayaan), kesejahteraan dan neeti (kebenaran atau moralitas).
Sang Kreshna adalah ilmu pengetahuan yang sejati, dan Arjuna adalah
energi. Kalau kedua unsur ini bergabung maka terciptalah kemenangan,
kejayaan, kesejahteraan, kesentosaan, kemajuan dan kebenaran. Dengan
kata lain, Sang Kreshna adalah Sang Para-Atman yang bersemayam di dalam
diri kita semua. Arjuna adalah tidak lain dan tidak bukan, kita,
manusia di dunia ini. Kalau kedua unsur ini bergabung secara sejati,
maka terciptalah kebenaran yang sejati. Om Tat Sat.

Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya
Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka bab ini adalah
yang kedelapan-belas yang berjudul:
Moksha Sanyasa Atau
llmu Pengetahuan mengenai Pembebasan melalui Penyerahan secara Total
Om Shri Kreshna Arpanam Astu Shubham Bhavantu
Puja-puji bagi Sang Kreshna Yang Maha Pengasih dan Penyayang,
Semoga tercipta kebahagiaan di manapun.
Dengan ini berakhirlah Upanishad Bhagavat Gita,
Semoga damailah setiap benda dan makhluk di alam semesta ini.
Om Tat Sat. Om Shanti, Shanti, Shanti. Om Tat Sat.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar