Selasa, 23 Desember 2008

KENDAN Riwayatmu Dulu

KENDAN

Sejarah Jawa Barat mencatat eksisntensi KENDAN sebagai kerajaan disebut-sebut ada sejak tahun 536 sampai dengan 612 M. Kendan berubah nama menjadi Galuh (permata) ketika masa Wretikandayun, penerus Kendan menyatakan diri melepaskan diri dari Tarumanagara. Karena Terusbawa merubah Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (pura). Sejak tahun 670 M ditatar sunda dianggap ada dua kerajaan kembar, yakni Sunda Pakuan dan Sunda Galuh. 

Naman KENDAN seolah tenggelam dalam kebesaran nama Galuh, sangat jarang diketahui masyarakat tentang wilayah dan kesejarahannya, kecuali beberapa masyarakat yang berminat mendalami sejarah Sunda. Bagi sejarawan sunda eksistensi KENDAN tidak dapat dilepaskan dari Galuh. KENDAN danggap cikal bakal Galuh. Bahkan sejarawan Sumedang di Musium Prabu Geusan Oeloen membedakan Galuh Kendan dengan Galuh Kawali.

Letak KENDAN 

KENDAN didalam catatan sejarah Jawa Barat diperkirakan terletak disuatu daerah diwilayah Kabupaten Bandung, ditepi sebuah bukit (KENDAN), + 500 meter sebelah timur stasiun kereta api Nagreg. Terdapat daerah hunian yang bernama Kampung Kendan, Desa Citaman, Kecamatan Cicalengka. Namun berdasarkan on the spot, letak KENDAN berada di sebelah barat stasiun nagreg dan termasuk Desa Nagreg. 


Disekitar Nagreg dan Citaman ditemukan pula suatu tempat yang disebut masyarakat sekitarnya “tempat pamujaan”, Sayang istilah tempat pamuajaan dalam paradigma masyarakat sunda dewasa ini dikonotasikan negatif, karena sering digunakan “pamujaan”, suatu cara meminta harta kekayaan kepada mahluk gaib, dan dianggap menyekutukan Tuhan. Sama dengan istilah pesugihan. 

Nama KENDAN lebih dikenal dalam dunia arkeologi, identik sebagai pusat industri perkakakas neolitik pada jaman purbakala. Batu Kendan sudah lama disebut-sebut dalam dunia kepurbakalaan. Disinyalir daerah Kendan sudah ramai dihuni penduduk sejak sebelum tarikh masehi. 


Pasir batu bukit KENDAN sampai saat ini masih di ekspoitasi penduduk setempat, karena mengandung bahan perekat yang sangat cocok untuk pembuatan gerabah. Haji Atang pemilik bukit itu sekarang, memanfaatkan bukit kendan untuk dijadikan bahan campuran bata merah. Konon kabar menurut cerita Pak Anang, keponakan Haji Atang, pada waktu jaman belanda kakeknya mengeksploitasi tanah KENDAN untuk dikirim ke Belanda dari stasiun Nagreg melalui Pelabuhan Surabaya, bahkan pembangunan gedung sate dan gedung lainnya di kota Bandung disinyalir menggunakan bahan dari bukit KENDAN. 

Kemudian pernah ditemukan sebuah patung kecil. Para akhli sejarah menyebutnya patung Dewi Durgi. (saat ini disimpan dimusium Jakarta). Sedangkan di dalam prasasti Jayabupati disebutkan, bahwa : kekuatan Durgi dianggap kekuatan Gaib. Dalam cerita Lutung Kasarung, Nini Dugi dianggap berasal dari Kanekes. 


Keberadaan patung Durga ditempat pamujaan menimbulkan spekulasi dari beberapa akhli sejarah. Pleyte (1909) mensinyalir daerah tersebut termasuk daerah “Kabuyutan”. Sama dengan daerah Mandala, atau Kabuyutan yang ada diwilayah Cukang Genteng, dekat Ciwidey Kabupaten Bandung. 


Kerajaan KENDAN disebut-sebut dalam Naskah Carita Parahyangan dan Naskah Wangsakerta. Disinyalir kedua sumber ini berasal dari Pararatwan Parahyangan, naskah tersebut saat ini tidak diketahui rimbanya. Namun karena dijadikan sebagai naskah rujukan maka Pararatwan Parahyangan dipastikan keberadaannya lebih tua dari Naskah Carita Parahyangan dan Naskah Wangsakerta.


Pendiri Kendan


Naskah Wangsakerta yang disusun pada abad tujuh belas menjelaskan Kendan didirikan oleh Sang Manikmaya, ia berasal dari keluarga Calankayana, India. Ia menetap di Kendan sebagai resi. Karena memiliki agama yang sama dengan raja Tarumanagara dan penyembah Wisnu, Manikmaya kemudian dinikahkan dengan Dewi Tirtakancana, putri Suryawarman, raja Tarumanagara.

Istilah atau sebutan Manikmaya dalam kehidupan masyarakat sunda sangat familir dan dikenal dari nama Tokoh Dewa didalam cerita Mahabarata. Sehingga banyak runtutan Kisah yang menghubungkan sejarah para leluhurnya dengan tokoh pewayangan.




Sebelum Sang Manikmaya ketika tiba di KENDAN, dipastikan daerah tersebut sudah ada kehidupan, sebagaimana ditemukannya gerabah yang diketahui berumur pada era sebelum tarikh masehi. Hal ini menjadi sangat masuk akal mengingat perkenalan Sang Manikmaya, pendiri KENDAN dengan penguasa Tarumanara terjadi setelah ia berada di KENDAN dalam kapasitasnya sebagai resi. Dengan demikian sejarah hampir sama dengan terbentuknya Salakanagara.

Sang Manikmaya berkuasa di KENDAN sejak 458 Saka (536 M) sampai dengan 490 Saka (568 M). Pada waktu itu KENDAN mendapat proteksi dari Tarumanagara, karena dianggap wilayah Tarumanagara. Pendirian KENDAN jika diurut kesejarahannya sebagai hadiah dari Suryawarman, raja Tarumanagara. Pada saat pendirian KENDAN, Tarumanagara ikut menyebarkan keberadaan Sang Manikmaya keseluruh negara daerah yang ada diwilayah tersebut. 

Pembentukan KENDAN sama halnya dengan kisah Tarumanagara, semula berada di Wilayah Salakanagara, kemudian pendiri Tarumanagara, Sang Rajadirajaguru (Jayasingawarman) menikahi Minawati Iswati Tunggal Pertiwi, putri Dewawarman VIII. Sekalipun dalam perjalanannya selanjutnya, Salakanagara menjadi kerajaan bawahan Tarumanagara, namun masih belum dapat diketahui, kecuali disebut-sebut Tarumanagara maju lebih pesat dibandibandingkan Salakanagara.


Mungkin juga jika Aki Tirem pada waktu itu jabatannya seorang raja, jalan cerita Salakanagara pun akan sama dengan cerita Tarumanagara dan Kendan. Karena Dewawarman I menikahi Dewi Pohaci, putri Aki Tirem, kemudian menjadi Raja dan Rajaresi di Wilayah yang ia terima sebagai hadiah dari raja yang sekaligus memproteksinya dari gangguan luar.


Suatu hal yang sulit dipahami jika pada periode selanjutnya KENDAN melepaskan diri dari Tarumanagara. Karena KENDAN tidak mungkin menjadi kerajaan yang utuh jika Suryawarman tidak menghadiahi Sang Manikmaya suatu daerah (KENDAN) lengkap dengan rakyat dan tentaranya


Pemberian hadiah ini bukan hanya sekedar warisan mertua kepada menantunya, melainkan suatu bentuk hadiah dari seorang sahabat dan orang yang dianggap berjasa menyebarkan agama di wilayah Tarumanagara. Suryawarman juga menganggap Sang Manikmaya adalah Brahmana ulung dan berjasa terhadap agama.


Para penerus Manikmaya

Setelah Sang Manikmaya meninggal, ia digantikan Sang Suralim, putranya pada tahun 490 Saka (568 M). Sang Suralim, lebih mahir berperang dan banyak waktunya diabdikan sebagai Senapati dan Panglima Tarumanagara, sehingga ia bergelar Baladhika ning widyabala. Sang Suralim berkuasa selama 29 tahun. Kemudian digantikan Sang Kandiawan, putranya.


Lain halnya dengan ayahnya, Sang Kandiawan lebih dikenal karena hidupnya minandita, ia bergelar Rajaresi Dewaraja. Sebelum menggantikan ayahnya ia menjadi raja daerah di Medang Jati atau Medang Gana, sehingga ia bergelar Rahyangta ri Medang Jati. Namun sebagai raja Kendan ia tidak berkedudukan di Kendan, melainkan tetap di Medang Jati. Hal ini dimungkinkan, mengingat di Kendan sudah dianggap terpengaruh oleh Siwaisme, sedangkan ia penyembah Wisnu, sehingga ia pun bergelar Batara Wisnu di Medang Jati.


Sang Kandiawan mempunyai lima orang putra, dan menjadikannya sebagai penguasa daerah yang berada diwilayah Kendan, yakni Mangukuhan di kuli-kuli ; Karungkalah di Surawulan ; Katungmaralah di Peles Awi ; Sandangreba di Rawunglangit ; dan Wretikandayun didaerah Menir.


Berbeda dengan kisah tersebut, didalam Naskah Carita Parahyangan, kelima anak Sang Kandiawan dibedakan karena profesinya, bukan karena diberikan daerah kekuasaan, yakni Mangukuhan menjadi peladang ; Karungkalah menjadi pemburu (panggerek) ; Katungmaralah menjadi penyadap ; Sandangreba menjadi pedagang ; sedangkan Wretikandayun menggantikan Sang Kandiawan menjadi penguasa KENDAN.


Sang Kandiawan menduduki tahta KENDAN selama 15 tahun, sejak tahun 597 Saka (612 M), kemudian ia mengundurkan diri untuk bertapa di Layuwatang (Kuningan), kemudian digantikan Wretikandayun, putra bungsunya.


Pertimbangan Sang Kandiawan menyerahkan kekuasaan KENDAN kepada Wretikandayun tentunya membuahkan pertanyaan besar, karena ia bukan anak pertama, dalam tradisi raja-raja dahulu dianggap pihak yang paling berhak mewarisi tahta ayahnya. Pewarisan demikian sebenarnya tidak bias “digebyah uyah”, mengingat setiap orang ataupun komunitas memiliki cirri khas yang mandiri dan berbeda dengan yang lainnya.


Bisa saja pemilihan Wretikandayun berdasarkan pada tradisi KENDAN karena ia lebih minandita dibandingkan dengan saudara-sudaranya lainnya yang lebih banyak memprioritaskan urusan yang bersifat keduniaan. Alasan ini dapat juga ditenggarai dari sejarah keberadaan KENDAN, yakni suatu wilayah Karesian yang dihadiahkan Suryawarman, raja Tarumanagara kepada Sangresi Manikmaya. Namun untuk sekedar alasan, mungkin jawabannya dapat diketahui dari Carita Parahyangan, tentang lomba menombak Kebowulan.


Carek sang Mangukuhan: "Nam adi-adi sadaya urang moro ka tegalan." 
Sadatang ka tegalan, kasampak Pwah Manjangandara reujeung Rakean Kebowulan. Diudag ku limaan, sarta beunangna pada jangji, yen saha anu pangheulana keuna numbakna, nya manehna piratueun.
Keuna ditumbak ku Sang Wretikandayun, Kebowulan jeung Pwah Manjangandara teh. Kebowulan lumpat ka patapan, sadatangna hos bae paeh. 
Ku Sang Wretikandayun dituturkeun, kasampak pwah Bungatak Mangalengale keur nyusu ka Pwah Manjangandara.


Pwah Bungatak Mangalengale teh ku Sang Wretikandayun di bawa mulang ka Galuh, ka Rahiangta di Medangjati.


Rahiyangan di Medangjati lawasna ngadeg ratu limawelas taun. Diganti ku Sang Wretikandayun di Galuh, bari migarwa Pwah ngatak Mangalengale.


Tradisi penurunan tahta kepada anak bungsu bukan sesuatu yang dilarang didalam tradisi KENDAN, karena Wretikandayun didalam episode Galuh – Kawali mewariskan tahtanya kepada Amara (Mandiminyak), putra bungsunya. Namun memang timbul peristiwa Purbasora dan Sanjaya generasi pasca Wretikandayun. Peristiwa inipun tidak berhenti hanya pada satu generasi, karena jika ditelaah berbuntut pada peristiwa Manarah, yang dikenal dalam sejarah lisan sebagai Ciung Wanara.


Penyerahan tahta kepada anak bungsu raja terjadi pula pasca Manarah, yakni dalam peristiwa Manistri, atau dikenal dalam cerita Lutung Kasarung. Manarah menyerahkan kekuasaannya kepada Purbasari, sedang Purbasari masih memiliki kakak perempuan lainnya, antara lain Purbalarang. Ceritapun berbuntut pada kisah rebutan kekuasaan. Berkat bantuan Sang Lutung (Manistri) akhirnya Purbasari dapat memperoleh kekuasaannya.


Dari Kendan Ke Galuh

Dalam paradigma sejarawan lokal nama KENDAN tidak dapat dipisahkan dari Galuh sehingga disebut juga Galuh Kendan disamping Galuh Kawali, untuk menyebut Galuh sejak Wretikandayun memisah kan diri dari Sundapura. 

Kisah Kendan diriwayatkan dalam Naskah Carita Parahyangan dan Naskah Wangsakerta, Jika saja dikaji lebih jauh dan teliti, Carita Parahyangan dapat secara runtut menjelaskan sejarah yang sebelumya gelap, seperti kisah Sanjaya, yang prasastinya ditemukan di Canggal, Carita Parahyangan justru dapat menjelaskan muasalnya. Carita Parahyangan memiliki uraian yang hampir sama dengan Naskah-naskah Wangsakerta, sehingga para ahli sejarah menganggap berasal dari sumber yang sama, yakni Pararatwan Parahyangan.

Sejarah Sunda lebih hidup dari cerita yang disampaikan secara lisan, banyak sejarah yang dianggap tabu untuk diceritakan dengan alasan “pamali” – “teu wasa” – “tabu”. Mungkin alasan yang diambil para karuhun dimaksudkan agar tidak menyinggung perasaan orang lain yang kebetulan terceritakan. Tetapi hukum dan realitas pemenuhan data kesejarahan resmi seolah-olah menganggap tidak mau tahu dengan urusan ini, sehingga sering menyatakan Urang Sunda kurang bersejarah.

Dari cerita Parahyangan menguraikan pula kisah Kendan serta hubungannya dengan Galuh, sbb :

Enya kieu Carita Parahiyangan teh. Sang Resi Guru boga anak Rajaputra. Rajaputra boga anak Sang Kandiawan jeung Sang Kandiawati, duaan adi lanceuk. Sang Kandiawan teh nyebut dirina Rahiyangta Dewaradja. 

Basa ngajalankeun kahirupan sacara rajaresi, ngalandi dirina Rahiangta di Medangjati, oge katelah Sang Lajuwatang, nya mantenna nu nyieun Sanghiang Watangageung. 

Sanggeusna rarabi, nya lahir anak-anakna limaan, mangrupa titisan Sang Kusika, Sang Garga, Sang Mestri, Sang Purusa, Sang Puntandjala, nya eta: Sang Mangukuhan, Sang Karungkalah, sang Katungmaralah, Sang Sandanggreba jeung Sang Wretikandayun. 

Aya manuk ngaranna si Uwur-uwur, oge katelah Si Naragati, njajang di pangjarahan Bagawat resi Makandria. Anakna dihakan ku jaluna. Dicarekan ku bikangna. 

Carek bikangna: "Kacida hinana, lamun urang teu boga anak teh. Bireungeuh tuh Bagawat Resi Makandria!Tatapa soteh bane bae sangsara da henteu boga anak." 

Carek Bagawat Resi Makandria: "Kumaha rek boga anak. Da kawin oge henteu." 
Ti dinya, carek Bagawat Resi Makandria: "Aing dek indit ka Sang Resi Guru, ka Kendan." Manehna datang ka Kendan. 

Carek Sang resi Guru: "Na nahaon bejana, hidep Bagawat Resi Makandria, nu matak datang ka dieu?" "Pangampura bae; saleresna aya piwartoseun. Dek nyuhunkeun pirabieun. Lantaran kawartosan ku manuk si Uwur-uwur, nu nelah oge si Nagaragati. Sanggemna kacida hinana, lamun urang teu gaduh anak." 

Carek Sang resi Guru: "Jig hidep ti heula ka patapan deui. Anaking Pwah Rababu geuwat susul Bagawat Resi Makandria. Lantaran nya manehna pijodoeun hidep teh, anaking." 

Pwah Rababu terus nyusul, datang ka patapan Sang Resi Makandria, teu diaku rabi. Kabireungeuheun aya widadari geulis, ngarupakeun Pwah Mandjangandara, nya geuwat Rasi Makandria ngajadikeun dirina Kebowulan. Terus sanggama. 

Carek Sang Resi Guru: "Enten, anaking Pwah Sanghiang Sri! Jig hidep indit ngajadi ka lanceuk hidep, ka Pwah Aksari Jabung." 
Ti dinya Pwah Sanghiang Sri indit sarta terus nitis, nya lahir Pwah Bungatak Mangalengale. 

Carek sang Mangukuhan: "Nam adi-adi sadaya urang moro ka tegalan." 
Sadatang ka tegalan, kasampak Pwah Manjangandara reujeung Rakean Kebowulan. Diudag ku limaan, sarta beunangna pada jangji, yen saha anu pangheulana keuna numbakna, nya manehna piratueun. 

Keuna ditumbak ku Sang Wretikandayun, Kebowulan jeung Pwah Manjangandara teh. Kebowulan lumpat ka patapan, sadatangna hos bae paeh. 
Ku Sang Wretikandayun dituturkeun, kasampak pwah Bungatak Mangalengale keur nyusu ka Pwah Manjangandara. 

Pwah Bungatak Mangalengale teh ku Sang Wretikandayun di bawa mulang ka Galuh, ka Rahiangta di Medangjati. 

Rahiyangan di Medangjati lawasna ngadeg ratu limawelas taun. Diganti ku Sang Wretikandayun di Galuh, bari migarwa Pwah ngatak Mangalengale. 

Ari Sang Mangukuhan jadi tukang ngahuma, Sang Karungkalah jadi tukang moro, Sang Katungmaralah jadi tukang nyadap sarta Sang Sandanggreba jadi padagang. 

Nya ku Sang Wreti Kandayun Sang Mangukuhan dijungjung jadi Rahiangtung Kulikuli, Sang Karungkalah jadi Rahiangtang Surawulan, Sang Katungmaralah jadi Rahiyangtang Pelesawi, Sang Sandanggreba jadi Rahiangtang Rawunglangit. 

Sabada Sang Wretikendayun ngadeg ratu di Galuh, nya terus ngajalankeun kahirupan sacara rajaresi sarta ngalandi dirina jadi Rahiangta di Menir. Dina waktu bumen-bumen, harita teh nya nyusun Purbatisti.


Carita Parahyangan menjelaskan Sang Resiguru beranak Rajaputra, Rajaputra beranak Sang Kandiawan dan Sang Kandiawati. Sang Kandiawan menamakan dirinya Rahyangta Dewaraja. Waktu ia menjadi rajaresi ia menamakan dirinya Rahyang ta di Medang Jati, yaitu Sang Layuwatang.Itulah kisah para pendahulu Galuh. 

Memisahkan diri dari Tarumanagara

Pemisahan Kendan Galuh terjadi sejak jaman Wretikandayun yang berkuasa pada 534 Saka (612 M) sampai dengan 702 M, pada saat itu di Tarumanagara masih dipimpin oleh Maharaja Kretawarwan, berkuasa sejak 561 sampai dengan 628 M.


Wretikandayun menggantikan posisi Sang Kandiawan, ayahnya. Kemudian Wretikandayun memindahkan pusat pemerintahannya kedaerah baru yang terletak di Karang Kamulyaan Ciamis. Lokasi tersebut berada ditengah-tengah dua sungai, yakni Citanduy dan Cilumur, yang ia beri nama Galuh (permata). 

Sangat sulit dianalisa tentang alasan Galuh Kendan memisahkan diri, apakah karena Kendan sudah merasa besar dan memiliki kekuatan yang seimbang dengan Tarumanagara, atau karena menganggap tidak ada lagi ikatan emosional antara Tarumanagara yang berubah menjadi Sundapura dengan Galuh. Namun alasan yang terakhir banyak disebut-sebut sebagai trigger-nya, sedangkan alasan pertama hanya dijadkan premis pelengkap.


Kondisi Tarumanagara ketika itu memang sedang menurun dan sudah kurang berwibawa dimata raja-raja daerah, disinyalir terjadi pada masa Sudawarman, Pertama, pemberian otonomi kepada raja-raja bawahan yang diberikan oleh leluhurnya tidak dijaga hubungan baik. Mungkin juga karena ia tidak menguasai persoalan Tarumanagara, Karena sejak kecil tinggal dan dibesarkan di Kanci, kawasan Palawa.


Kalaupun mampu menyelesaiakan tugas pemerintahannya, hal ini disebabkan adanya kesetiaan dari pasukan Bhayangkara yang berasal dari Indraprahasta. Pasukan ini sangat setiap terhadap raja-raja Tarumanagara, mereka hanya berpikir: bagaimana menyelematkan raja. Sehingga setiap pemberontakan dapat diselesaikan dengan baik.


Kedua, pada jaman Sudawarman telah muncul kerajaan pesaing Tarumanagara yang pamornya sedang menaik. Seperti Galuh, ditenggara Jawa Barat, merupakan daerah bawahan. Selain Galuh terdapat kerajaan Kalingga di Jawa Tengah yang sudah mulai ada didalam masa keemasannya. Sedangkan di Sumatera terdapat kerajaan besar, yakni Melayu (termasuk Sriwijaya) dan Pali. 

Kemerosotan pamor Tarumanagara tidak akan berakibat parah jika para penggantinya dapat bertindak arif dan mampu menikan pamor kerajaan kembali. Hingga pada setelah wafatnya Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirtabumi. Kemudian ia digantikan menantunya, yakni Tarusbawa, dengan gelar Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manungmanggalajaya Sundasembawa. 

Tarusbawa memerintah sejak tahun 591 sampai dengan 645 saka (669 – 723 M), sebelum menjadi penguasa Tarumanagara ia menjadi raja Sundapura, raja daerah dibawah Tarumanagara.


Tarusbawa sangat menginginkan untuk mengangkat Tarumanagara kembali kemasa kejayaannya. Ia pun memimpinkan kejayaan Tarumanagara seperti jaman Purnawarman yang bersemayam di Sundapura. Dengan keinginannya tersebut ia merubah nama Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (Sundapura atau Sundasembawa). Namun tentunya sangat berbeda dengan Purnawarman, selain ia menguasai strategi peperangan dan pemerintahan, ia pun dikenal sebagai raja Tarumanagara yang full Power.


Penggantian nama kerajaan yang ia lakukan tidak dipikirkan dampaknya bagi hubungan dengan raja-raja bawahannya. Karena dengan digantinya nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda berakibat raja-raja daerah merasa tidak lagi memiliki ikatan kesejarahan, apalagi Tarusbawa bukan anak Linggawarman, melainkan seorang menantu dan bekas raja Sundapura.


Mengenai penggantian nama Tarumanagara, dimungkinkan sebagai akibat pindahnya ibukota Tarumanagara ke Sundapura, sehingga iapun mengikuti nama Ibukotanya, bukan asal kerajaannya. Karena Purnawarman pun dahulu berkedudukan di Sundapura dengan nama kerajaannya Tarumanagara. 

Jika diurut sejarah raja-raja Galuh maupun Sunda keduanya masih keturunan raja Tarumanagara. Dimungkinkan Tarusbawa masih keturunan Purnawarman, karena ia raja di Sundapura, pada masa Purnawarman menjadi ibukota Tarumanagara. Namun ada juga spekulasi yang berpendapat, Tarusbawa dan leluhurnya menjadi raja Sundapura karena adanya pemberian otonomi kepada raja-raja daerah yang ditaklukan Tarumanagara pasca Purnawarman. Sedangkan Wretikandayun, raja Galuh Kenda adalah cucu dari Tirtakancana, putri raja Tarumanagara.


Tentang letak Sundapura jika dikaitkan dengan prasasti di Kampung Muara Cibungbulang dan Prasasti Kebantenan menimbulkan pertanyaan. Karena bisa ditafsirkan, bahwa perpindahan ibukota Tarumanagara dari Sundapura telah terjadi sejak masa Suryawarman. Selain itu, posisi letak prasasti Muara dahulu termasuk berada diwilayah kerajaan Pasir Muara. Bisa saja Sundapura diduga berada di wilayah Bogor, mengingat kerajaan Pajajaran, kerajaan yang terkait dduga keras terletak di Bogor, sedangkan Tarumanagara diduga keras terletak di Bekasi. 

Didalam Pustaka Jawadwipa diterangkan mengenai lokasi Sundapura, :

“telas karuhun wus hana ngaran deca Sunda 
tathapi ri sawaka ning tajyua Taruma. 
Tekwan ring usana kangken ngaran kitha Sundapura. 
Iti ngaran purwaprastawa saking Bratanagari”.


(dahulu telah ada nama daerah Sunda tetapi menjadi bawahan kerajaan Taruma. Pada masa lalu diberi nama Sundapura. Naman ini berasal dari negeri Bharata). 

Keinginan melepaskan diri dari Sundapura dicetuskan oleh Wretikandayun, penguasa Galuh bukan seuatu yang muskil untuk dilaksanakan, mengingat Galuh telah merasa cukup kuat untuk melawan Tarumanagara, karena memiliki hubungan sangat baik dengan Kalingga, dari cara menikahkan Mandiminyak, putranya dengan Cucu Ratu Sima. Keinginan tersebut ia sampaikan melalui surat. 

Isi surat dimaksud intinya memenjelaskan, bahwa : Galuh bersama kerajaan lain yang berada di sebelah Timur Citarum tidak lagi tunduk kepada Tarumanagara dan tidak lagi mengakui raja Tarumanagara sebagai ratu. Tetapi hubungan persahabatan tidak perlu terputus, bahkan diharapkan dapat lebih akrab. Wretikandayun memberikan ultimatum pula, bahwa Tarumanagara janganlah menyerang Galuh Pakuan, sebab angkatan perang Galuh tiga kali lipat dari angakatan perang Tarumanagara, dan memilki senjata yang lengkap. Selain itu Galuh juga memiliki bersahabat baik dengan kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang siap memberikan bantuan kepada Galuh kapan saja. 

Permintaan untuk memisahkan diri tersebut tidak akan dikabulkan jika jaman Purnawarman. Berdasarkan perhitungan Tarusbawa pasukan Tarumanagara yang ada saat ini dibandingkan pasukan Galuh masih seimbang, sehingga sulit untuk memenangkan peperangan. Tarusbawa juga termasuk raja yang visioner dan cinta damai. Ia memilih mengelola setengah kerajaan dengan baik dibandingkan mengelola seluruh kerajaan dalam keadaan lemah.


Pada kisah berikutnya, : Tarusbawa menerima tuntutan Wretikandayun. Ia merelakan kerajaan terpecah menjadi dua. Dengan menggunakan Citarum sebagai batas negara.


Dalam tahun 670 M, berakhirlah kisah Tarumanagara sebagai kerajaan yang menguasai seluruh Jawa Barat. Namun muncul dua kerajaan kembar. Disebelah barat Citarum menjadi kerajaan Sundapura, sedangkan disebelah timur Citarum berdiri kerajaan Galuh. Kedua kerajaan tersebut dimasa berikutnya disebut juga Sunda Pajajaran dan Sunda Galuh.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar