Selasa, 23 Desember 2008

SERAT DARMAGANDHUL

DARMAGANDHUL


Darmagandhul, karya sastra Jawa klasik, berbahasa Jawa baru, berbentuk puisi tembang macapat, bernafaskan Islam dan berisi ajaran tasawuf atau mistik. Suluk ini ditulis oleh Ki Kalamwadi, waktu penulisan hari sabtu legi, 23 ruwah 1830 Jawa. Amanat ajaran dalam teks dituangkan dalam bentuk dialaog antara Ki Kalamwadi dengan Darmagandhul, isi teks menceritakan jatuhnya kerajaan Majapahit karena serbuan tentara Demak Bintara yang dibantu para wali.


Ki Kalamwadi berguru kepada Reden Budi, sementara Raden Budi mempunyai murid bernama Darmagandhul. Darmagandhul menanyakan kepada gurunya mengenai kapan agama Islam itu datang di pulau Jawa. Ki Kalamwadi menjawab bahwa pada zaman Majapahit saat pemerintahan Prabu Brawijaya, permaisuri Prabu Brawijaya membujuk agar beliau beralaih ke agama Islam. Sayid Rahmat atau Sunan Bonang, kemenakan permaisuri Prabu Brawijaya yang berasal dari Campa, diberi tanah di Tuban dan diizinkan untuk menyebarkan agama Islam. Daerah penyebarannya sepanjang pantai utara Jawa, mulai dari Blambangan sampai Banten. Kemudian datanglah Raden Patah, yakni putra Prabu Brawijaya yang lahir di tanah Palembang, yang diberi tanah Demak dan sebagai adipati, juga diizinkan menyebarkan agama Islam. Penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Bonang di daerah Kediri mendapatkan tantangan dari Ki Buta Locaya penguasa di daerah tersebut. Kemudian Sunan Bonang menuju ke desa Bogem, dan merusak arca kuda berkepala dua karya Prabu Jayabaya. Perusakan arca tersebut mendapatkan tentangan Ki Buta Locaya yang mendesak agar Sunan Bonang pergi dari daerah itu. Patih Gajah Mada menghadap Prabu Brawijaya dan memberitahukan bahwa tanah Kertasana rusak akibat perbuatan Sunan Bonang. Akhirnya, Prabu Brawijaya memerintahkan agar mengusir kaum Islam dari daerah Majapahit, kecuali kaum muslimin yang tinggal di Ngampelgading dan Demak, Sunan Bonang dan Sunan Giri menyingkir ke Tuban dan berlindung ke Demak.


Perlawanan antara pasukan Prabu Brawijaya dengan Sultan Demak , dalam pertempuran sengit itu tentara Majapahit hancur, Gajah Mada gugur di medan laga. Kemudian orang-orang Majapahit yang takluk kepada Demak diperintahkan masuk agama Islam. Akhirnya Sultan Patah yang didukung oleh para wali pergi ke Ngampeldenta untuk menghadap neneknya. Neneknya Nyai Ngampeldenta sangat menyesal perbuatan yang dilakukan oleh Sultan Patah dalam melawan ayahnya.


Ia mempermasalahkan Sultan Patah beserta para wali yang tidak baik misalnya budi kepada Prabu Brawijaya. Ia memberikan beberapa contoh yang tidak baik misalnya kejadian di Mesir yang dialami Nabi Daud, perebutan kekuasaan yang dilakukan Prabu Dewatacengkar terhadap ayahnya, Prabu Sindhula dan peristiwa Prabu Danapati raja Lokapala melawan ayahnya, Sang resi Wisrawa.


Contoh-contoh tersebut merupakan permusuhan antara anak melawan ayahnya, seperti halnya yang dilakukan oleh Sultan Patah terhadap Prabu Brawijaya. Dengan adanya penjelasan dari neneknya tadi, maka Sultan Patah sangat sedih dan menyesal atas segala perbuatannya. Ahkirnya Sunan Kalijaga diutus untuk mencari Prabu Brawijaya dan memohon kepadanya agar bersedia kembali menjadi raja Majapahit. Sekembalinya Sultan Patah ke Demak di sambut dengan gembira. Ia menceritakan hal itu kepada Sunan Bonang, akhirnya Sunan Bonang memberikan penjelasan secara panjang lebar bahwa perlawanannya terhadap ayahnya itu tidak berdosa, karena ayahnya seorang kafir.


Sunan Kalijaga menjumpai Prabu Brawijaya di Blambangan untuk menyampaikan tugasnya. Karena kepandaian Sunan Kalijaga maka bersedialah Prabu Brawijaya kembali ke Majapahit. Ia sangat tertarik atas keterangan Sunan sehingga prasangka buruk akan agama Islam sedikit banyak hilang. Bahkan ia bermaksud untuk masuk agama Islam secara lahir maupun batin.


Penyebaran agama Islam terhadap punakawan Prabu Brawijaya, yakni Sabdapalon dan Nayagenggong, yang berakhir dengan penolakan ( tidak berhasil ) Sabdapalon menilai bahwa Prabu Brawijaya telah menyimpang dari para pendahulunya yang melestarikan agama Budha. Sunan Kalijaga berusaha menghibur hati Prabu Brawijaya utuk bahwa ajaran agama Islam itu baik dan diridhoi Tuhan. Sunan bersabda bahwa air telaga itu berbau wangi, dan terjadilah demikian. Setelah selama seminggu dalam perjalanan yang melewati Panarukan, Besuki dan Prabalingga akhirnya sampailah di Ngampeldenta.


Jatuhnya Kerajaan Majapahit atas serangan Demak yang dilukiskan secara simbolis. Darmagandhul juga minta penjelasan tentang agama Nasrani yang kemudian dijelaskan oleh Kalamwadi. Disebutkan bahwa agama Nasrani itu dibawa oleh Nabi Ngisa, Putra Tuhan. Dijelaskan pula, bahwa sebenarnya Sultan Demak merasa menyesal atas penyerbuannya ke Kerajaaan Majapahit. Ia merasa berdosa melawan ayahnya. Bahkan ia merasa pula bahwa pengangkatannya sebagai Sultan Demak itu juga dari ayahnya. Akan tetapi semuanya telah terjadi, maka Sultan Demak dengan bersedih hati kembali ke Demak. Darmagandhul menguraikan tentang sebab-sebab Nabi Adam dan Ibu Kawa turun dari surga terkena marah Tuhan. Darmagandhul tidak mengetahui bagaimana pandangan kitab Jawa tentang Nabi Adam itu. Ki Kalamwadi menjelaskan bahwa orang Jawa tidak mempunyai kitab yang menceritakan tentang pengusiran Tuhan terhadap Nabi Adam dan Ibu Kawa itu. Kitab yang menjadi pegangan raja hanyalah Manikmaya. Darmagandhul juga menguraikan pendapatnya bahwa baginda, baik agama itu harus konsekuen mengerjakan peraturan yang ada di dalamnya. Namun, yang paling baik bagi orang Jawa adalah agama Budi, sebab agama Budi telah dianut sejak dahulu kala.


Perbedaan agama Islam, Nasrani, Cina dan Jawa. Ki Kalamwadi mencela orang yang naik haji ke Mekah dengan mengharapkan kelak masuk surga. Konon ada anggapan bahwa yang datang naik haji ke Mekah dan mencium kakbah akan terhapus dosanya dan nantinya masuk surga. Hal itu itu tidaklah benar. Orang akan masuk surga apabila dirinya bersih. Perbedaan adanya utusan dan kitab yang menjadi pegangan itu berbeda. Kalamwadi menjawab bahwa itulah kebebasan yang diberikan Tuhan agar manusia memilih agama yang menjadi kesenangannya. Meskipun demikian, agama Budi bagi orang Jawa tetap lebih tinggi dan sesuai.


Kalamwadi membentangkan ajaran itu kepada istrinya, Perjiwati, mengenai hal keutamaan dalam hidup dan mengenai ajaran perkawinan. Bekal perkawinan itu bukannya rupa dan harta akan tetapi hati. Perkawinan diibaratkan sebagai galah dan kemudi, yang masing-masing harus sejalan. Diuraikan pula mengenai 4 kemuliaan, yaitu: (1) kemuliaan yang lahir dari diri sendiri, (2) yang lahir dari harta benda pemilik, (3) kemuliaan karena kepandaiannya, (4) kemuliaan karena pengetahuannya. Generasi sekarang tidak boleh meremehkan generasi pendahulunya (orang kuna).


Menurut Ki Kalamwadi disebutkan bahwa bekas kerajaan Prabu Brawijaya tidak terletak di Kediri, akan tetapi terletak di Daha. Akhir kehidupannya, Prabu Jayabaya muksa diiringkan oleh Patih Tunggulwulung dan Nimas Ratu pagedhongan. Tunggulwulung diperintahkan menjaga Gunung Kelud sedangkan Nimas ratu Pegendhongan menjadi raja jin penguasa laut selatan dengan gelar Ratu Angin-Angin.

serat DARMOGANDHUL




DARMAGANDHUL.
Carita adêge nagara Islam ing Dêmak bêdhahe nagara Majapahit kang
salugune wiwite wong Jawa ninggal agama Buddha banjur salin agama
Islam.
(Kisah mengenai berdirinya Kerajaan Islam Demak dan runtuhnya
Kerajaan Majapahit yang sebenarnya. Awal mulanya Orang Jawa
Meninggalkan Agama Buddha dan Beralih pada Agama Islam)
Gancaran basa Jawa ngoko.
Babon asli tinggalane
K.R.T. Tandhanagara, Surakarta.
Cap-capan ingkang kaping sêkawan 1959
Toko Buku “Sadu-Budi” Sala.

BÊBUKA.
Sinarkara sarjunireng galih, myat carita dipangikêtira, kiyai
Kalamwadine, ing nguni anggêguru, puruhita mring Raden Budi,mangesthi
amiluta, duta rehing guru, sru sêtya nglampahi dhawah,panggusthine
tan mamang ing lair batin, pinindha lir Jawata.

Satuduhe Raden Budi êning, pan ingêmbun pinusthi ing cipta, sumungkêm
lair batine, tan etung lêbur luluh, pangesthine ing awal akhir,
tinarimeng Bathara, sasêdyanya kabul, agung nugraheng Hyang Suksma,
sinung ilham ing alam sahir myang kabir, dumadya auliya.
Angawruhi sasmiteng Hyang Widdhi, pan biyasa mituhu susêtya, mring
dhawuh wêling gurune, kêdah mêdharkên kawruh, karya suka pirêneng
jalmi, mring sagung ahli sastra, tuladhaning kawruh, kyai Kalamwadi
ngarang, sinung aran srat Darmagandhul jinilid, sinung têmbang
macapat.
Pan katêmben amaos kinteki, têmbang raras rum sêya prasaja, trêwaca
wijang raose, mring tyas gung kumacêlu, yun darbeya miwah nimpêni,
pinirit tinuladha, lêlêpiyanipun, sawusnya winaos tamat, linaksanan
tinêdhak tinurun sungging, kinarya nglipur manah.
Pan sinambi-sambi jagi panti, sasêlanira ngupaya têdha, kinarya cagak
lênggahe, nggennya dama cinubluk, mung kinarya ngarêm-arêmi,
tarimanireng badan, anganggur ngêthêkur, ngêbun-bun pasihaning Hyang,
suprandene tan kalirên wayah siwi, sagotra minulyarja.
Wus pinupus sumendhe ing takdir, pan sumarah kumambang karseng Hyang,
ing lokhilmakful tulise, panitranira nuju, ping trilikur ri Tumpak
manis, Ruwah Je warsanira, Sancaya kang windu, masa Nêm ringkêlnya
Aryang, wuku Wukir sangkalanira ing warsi: wuk guna ngesthi Nata
(taun Jawa 1830).

[Bagian Pembukaan tidak diterjemahkan karena penterjemah tidak paham
bahasa Jawa klasik]

DARMAGANDHUL.

Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene “Mau-
maune kêpriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha
salin agama Islam?”

(Pada suatu hari bertanyalah Darmagandhul pada Kalamwadi sebagai
berikut, “Asal mulanya bagaimana, kok orang Jawa meninggalkan Agama
Buddha dan berubah menganut Agama Islam?”)

Wangsulane Ki Kalamwadi: “Aku dhewe iya ora pati ngrêti, nanging aku
wis tau dikandhani guruku, ing mangka guruku kuwi iya kêna dipracaya,
nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin
agama Rasul”.

(Jawabannya Ki Kalamwadi, “Saya sendiri juga tidak begitu mengerti,
tapi saya sudah pernah diberi tahu oleh guru saya, selain itu guru
saya itu juga bisa dipercaya, [Beliau] menceritakan asal mulanya
orang Jawa meninggalkan Agama Buddha dan berganti menganut agama
Rasul (Islam).”)

Ature Darmagandhul: “Banjur kapriye dongengane?”

(Darmagandhul bertanya, “Bagaimana kalau begitu ceritanya?”)

Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: “Bab iki satêmêne iya prêlu
dikandhakake, supaya wong kang ora ngrêti mula-bukane karêben ngrêti”.

(Ki Kalamwadi lalu berkata lagi, “Hal ini sesungguhnya juga perlu
diungkapkan agar orang yang tidak tahu asal mulanya menjadi tahu.”)

Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jênênge nagara Majalêngka, dene
ênggone jênêng Majapahit iku, mung kanggo pasêmon, nanging kang
durung ngrêti dêdongengane iya Majapahit iku wis jênêng sakawit. (1)
Ing nagara Majalêngka kang jumênêng Nata wêkasan jêjuluk Prabu
Brawijaya.

(Pada zaman kuno, Kerajaan Majapahit itu namanya Kerajaan Majalengka,
sedangkan nama Majapathit itu, hanya sebagai perumpamaan, tetapi bagi
yang belum tahu ceritanya, Majapahit itu telah merupakan namanya
semenjak awal. (1) Di Kerajaan Majapahit yang berkuasa sebagai Raja
adalah Prabu Brawijaya.)

Ing wêktu iku, Sang Prabu lagi kalimput panggalihe, Sang Prabu krama
oleh Putri Cêmpa, (2) ing mangka Putri Cêmpa mau agamane Islam,
sajrone lagi sih-sinihan, Sang Rêtna tansah matur marang Sang Nata,
bab luruhe agama Islam, sabên marak, ora ana maneh kang diaturake,
kajaba mung mulyakake agama Islam, nganti njalari katariking
panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau.

(Pada saat itu, Sang Prabu sedang dimabuk asmara, ia menikah dengan
Putri Cempa, (2) karena Putri Cempa itu beragama Islam, maka saat
sedang berdua-duaan, Sang Putri [selalu] berbicara pada sang Raja,
mengenai agama Islam. Tiap kali berkata-kata, tidak ada hal lain yang
dibicarakan, selain mengagung-agungkan agama Islam, sehingga
menyebabkan tertariknya hati Sang Prabu akan agama Islam.)

Ora antara suwe kaprênah pulunane Putri Cêmpa kang aran Sayid Rakhmat
tinjo mênyang Majalêngka, sarta nyuwun idi marang Sang Nata,
kaparênga anggêlarake sarengate agama Rasul.

(Tidak berama lama datanglah pengikut Putri Cempa yang bernama Sayid
Rakhmat ke Majalengka. Ia minta izin pada sang raja, untuk menggelar
penyebaran agama Rasul (Islam).)

Sang Prabu iya marêngake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau.
Sayid Rakhmat banjur kalakon dhêdhukuh ana Ngampeldênta ing Surabaya
(3) anggêlarake agama Rasul. Ing kono banjur akeh para ngulama saka
sabrang kang padha têka, para ngulama lan para maulana iku padha
marêk sang Prabu ing Majalêngka, sarta padha nyuwun dhêdhukuh ing
pasisir.

(Sang Prabu juga mengabulkan apa yang diminta oleh Sayid Rakhmat itu.
Sayid Rakhmat lalu mendirikan sebuah desa kecil (dukuh) di
Ngampeldenta, Surabaya. Ia mengajar agama Islam di sana. Selanjutnya
makin banyak para ulama dari seberang yang datang. Para ulama dan
para maulana itu beramai-ramai menghadap sang raja di Majalengka,
serta sama-sama meminta desa kecil di daerah pesisir.)

Panyuwunan mangkono mau uga diparêngake dening Sang Nata. Suwe-suwe
pangidhêp mangkono mau saya ngrêbda, wong Jawa banjur akeh bangêt
kang padha agama Islam.

(Permintaan tersebut juga dikabulkan oleh Sang Raja. Lama-lama
perkampungan kecil semacam itu makin menjamur, orang Jawa makin
banyak yang beragama Islam.)

Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam
kabeh, dene panggonane ana ing Benang (4) bawah Tuban. Sayid Kramat
iku maulana saka ing ‘Arab têdhake Kanjêng Nabi Rasulu’llah, mula
bisa dadi gurune wong Islam. Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru
marang Sayid Kramat. Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan
padha ninggal agamane Buddha, banjur ngrasuk agama Rasul. Ing
Blambangan sapangulon nganti tumêka ing Bantên, wonge uga padha kelu
rêmbuge Sayid Kramat.

(Sayid Kramat menjadi gurunya orang-orang yang sudah menganut agama
Islam. Tempat menetapnya berada di Benang (juga disebut Bonang -
penterjemah), Tuban. Sayid Kramat itu adalah pemuka agama yang
berasal dari Arab, atau tempat kelahirannya Nabi Muhammad, sehingga
dapat menjadi gurunya para penganut agama Islam. Banyak orang Jawa
yang berguru pada Sayid Kramat. Orang Jawa di pesisir utara, baik
bagian barat maupun timur, sama-sama meninggalkan agama Buddha dan
berpindah masuk Islam. Dari Blambangan ke arah barat hingga Banten,
banyak orang yang telah mematuhi perkataan Sayid Kramat.)

Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kêlakon urip nganti
sewu taun, dene wong-wonge padha manêmbah marang Budi Hawa. Budi iku
Dzate Hyang Widdhi, Hawa iku karêping hati, manusa ora bisa apa- apa,
bisane mung sadarma nglakoni, budi kang ngobahake.

(Pada saat itu agama Buddha telah dianut di tanah Jawa selama seribu
tahun, para penganutnya menyembah pada Budi Hawa. Budi adalah Zat
dari Hyang Widdhi, sedangkan Hawa itu adalah kehendak hati. Manusia
itu tidak dapat berbuat apa-apa selain berusaha menjalankan, tetapi
budi yang mengubah segalanya.)

Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri
Bangsa Cina, miyose putra mau ana ing Palembang, diparingi têtêngêr
Raden Patah.

(Raja Brawijaya memiliki putra dari seorang putri berkebangsaan Cina.
Putranya itu lahir di Palembang, dan diberi nama Raden Patah.)

Barêng Raden Patah wis diwasa, sowan ingkang rama, nganti sadhereke
seje rama tunggal ibu, arane Raden Kusen. Satêkane Majalêngka Sang
Prabu kewran panggalihe ênggone arêp maringi sêsêbutan marang
putrane, awit yen miturut lêluri saka ingkang rama, Jawa Buddha
agamane, yen nglêluri lêluhur kuna, putraning Nata kang pambabare ana
ing gunung, sêsêbutane Bambang.

(Tatkala Raden Patah sudah dewasa, ia mengunjungi ayahnya. Ia
memiliki saudara lain ibu yang bernama Raden Kusen. Setibanya di
Majalengka Sang Prabu bingung hatinya untuk memberi nama pada
puteranya. Sebab menurut tradisi leluhur Jawa yang beragama Buddha,
putra raja yang lahir di gunung, disebut Bambang.)

Yen miturut ibu, sêsêbutane: Kaotiang, dene yen wong ‘Arab sêsêbutane
Sayid utawa Sarib. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka,
padha dipundhuti têtimbangan ênggone arêp maringi sêsêbutan ingkang
putra mau. Saka ature Patih, yen miturut lêluhur kuna putrane Sang
Prabu mau disêbut Bambang, nanging sarehne ibune bangsa Cina, prayoga
disêbut Babah, têgêse pambabare ana nagara liya.

(Kalau menurut ibunya, namanya adalah Kaotiang, yaitu kalau dalam
bahasa Arab disebut Sayid atau Sarib. Sang Prabu lalu memanggip para
patih dan pegawai kerajaan. Mereka diminta pendapatnya di dalam
memberikan nama bagi putranya itu. Patih berkata bahwa kalau menurut
leluhur zaman dahulu, anak raja itu seharusnya diberi nama Bambang,
tetapi karena ibunya berkembangsaan Cina, maka seharusnya disebut
Babah, yang artinya lahirnya ada di negara lain.)

Ature Patih kang mangkono mau, para nayaka uga padha mupakat, mula
Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya, yen putra Nata kang
miyos ana ing Palembang iku diparingi sêsêbutan lan asma Babah Patah.
Katêlah nganti tumêka saprene, yen blastêran Cina lan Jawa sêsêbutane
Babah.

(Pendapat sang patih tersebut juga disepakati oleh para pegawai
kerajaan. Oleh karenanya sang raja mengumumkan bahwa putranya itu
yang lahir di Palembang, diberi nama Babah Patah. Hingga sampai
sekarang, orang yang berdarah campuran Cina dan Jawa diberi nama
Babah.)

Ing nalika samana, Babah Patah wêdi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang
rama, mulane katone iya sênêng, sênênge mau amung kanggo samudana
bae, mungguh satêmêne ora sênêng bangêt ênggone diparingi sêsêbutan
Babah iku.

(Babah Patah, takut kalau tidak mematuhi sabda bapaknya, karena itu
bersikap seolah-olah senang. Padahal ia tidak benar-benar senang-
senang diberi nama Babah.)

Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing Dêmak,
madanani para bupati urut pasisir Dêmak sapangulon, sarta Babah Patah
dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing, kabênêr wayahe kiyai Agêng
Ngampel.

(Kemudian Babah Patah diangkat menjadi bupati di Demak, untuk
mengepalai para bupati di pesisir Demak ke arah barat. Babah Patah
lalu diperintahkan untuk berguru di Ngampelgadhing, yang kebetulan
dikepalai oleh Kyai Ageng Ngampel.)

Barêng wis sawatara masa, banjur boyong marang Dêmak, ana ing desa
Bintara, sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane
wis Islam, anane ing Dêmak didhawuhi nglêstarekake agamane, dene
Raden Kusen ing nalika iku jinunjung dadi Adipati ana ing Têrung (5),
pinaringan nama sarta sêsêbutan Raden Arya Pêcattandha.

(Ketika waktunya telah tiba, ia pindah ke Demak, yakni ke desa
Bintara. Sebetulnya Babah Patah telah beragama Islam saat di
Palembang. Oleh sebab itu, tatkala telah berada di Demak, ia
diperintahkan untuk melestarikan agamanya. Sedangkan Raden Kusen
diangkat menjadi adipati di Terung, dan diberi gelar Raden Arya
Pecattandha.)

Suwening suwe sarak Rasul saya ngrêbda, para ngulama padha nyuwun
pangkat sarta padha duwe sêsêbutan Sunan, Sunan iku têgêse budi,
uwite kawruh kaelingan kang bêcik lan kang ala, yen wohe budi ngrêti
marang kaelingan bêcik, iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair
batin. Ing wêktu iku para ngulama budine bêcik-bêcik, durung padha
duwe karêp kang cidra, isih padha cêgah dhahar sarta cêgah sare.

(Makin lama agama Rasul makin menyebar luas, para ulama menjadi ingin
memiliki gelar, dimana kemudian mereka digelari Sunan. Sunan itu
artinya budi, pohon pengetahuan kesadaran pada yang baik dan buruk.
Jika buah budi itu menyadari akan kebaikan, maka ia wajib menuntut
ilmu lahir dan bathin. Pada saat itu para ulama masih memiliki hati
yang baik, belum memiliki keinginan buruk, masih menahan diri dari
makan dan tidur.)

Sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih, para ngulama sarake Buddha,
kok nganggo sêsêbutan Sunan, lakune isih padha cêgah mangan, cêgah
turu. Yen sarak rasul, sirik cêgah mangan turu, mung nuruti rasaning
lesan lan awak. Yen cêgah mangan rusak, Prabu Brawijaya uga banjur
paring idi. Suwe-suwe agama Rasul saya sumêbar.

(Sang Prabu Brawijaya jadi jatuh hati, para ulama itu dikiranya
Buddha, tetapi kok disebut Sunan. Tingkah laku mereka masih menahan
diri dari makan dan tidur. Apabila mengikuti rasul, maka mereka
[seharusnya] bukan menahan diri dari makan dan tidur, melainkan hanya
menuruti hawa nafsu keinginan. Tatkala kebiasaan menahan diri dari
makan dan tidur telah rusak, tetapi Prabu Brawijaya telah terlanjur
memberikan angin. Makin lama agama rasul makin menyebar.)

Ing wêktu iku ana nalar kang aneh, ora kêna dikawruhi sarana netra
karna sarta lesan, wêtune saka engêtan, jroning utêk iku yen diwarahi
budi nyambut gawe, kang maca lan kang krungu nganggêp têmên lan ora,
iya kudu ditimbang ing sabênêre, saiki isih ana wujuding patilasane,
isih kêna dinyatakake, mula saka pangiraku iya nyata.

(Pada saat itu ada peristiwa-peristiwa yang aneh yang tidak masuk
akal. Peristiwa-peristiwa tersebut diketahui dari ingatan semata.
Apabila membaca atau mendengar, maka perlu dipertimbangkan benar dan
tidaknya. Tetapi karena sampai sekarang masih ada peninggalannya,
maka menurut pendapatku hal tersebut benar-benar terjadi.)

Dhek nalika samana Sunan Benang sumêdya tindak marang Kadhiri, kang
ndherekake mung sakabat loro. Satêkane lor Kadhiri, iya iku ing tanah
Kêrtasana, kêpalangan banyu, kali Brantas pinuju banjir. Sunan Benang
sarta sakabate loro padha nyabrang, satêkane wetan kali banjur niti-
niti agamane wong kono apa wis Islam, apa isih agama Budi.

(Pada saat itu Sunan Benang bersiap-siap untuk mengunjungi Kediri,
yang mengantarnya hanya dua orang sahabat. Ketika tiba di utara
Kediri, yaitu di tanah Kertasana, mereka terhalang oleh air. Sungai
Brantas saat itu kebetulan sedang banjir. Sunan Benang dan dua orang
sahabatnya sama-sama menyeberang, dan ketika telah tiba di seberang
ia mencari tahu apakah orang di sana telah beragama Islam, ataukah
masih menganut agama Budi.)

Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang, sarak Buddha mung
sawatara, dene kang agama Rasul lagi bribik-bribik, wong ing kono
akeh padha agama Kalang, mulyakake Bandung Bandawasa. Bandung
dianggêp Nabine, yen pinuji dina Riyadi, wong-wong padha bêbarêngan
mangan enak, padha sênêng-sênêng ana ing omah. Sunan Benang
ngandika: “Yen ngono wong kene kabeh padha agama Gêdhah, Gêdhah iku
ora irêng ora putih, tanah kene patut diarani Kutha Gêdhah”.

(Menurut Ki Bandar, orang di sana agamanya Kalang, bukan Buddha namun
mirip, sedangkan agama Rasul masih sedikit sekali tersebarnya. Orang
di sana yang sebagian besar beragama Kalang memuliakan Bandung
Bandawasa. Bandung dianggap nabi mereka. Pada saat hari perayaan
keagamaan mereka bersama-sama makan enak dan bersenang-senang di
rumah. Sunan Benang berkata, “Jika begitu maka orang di sini sama-
sama beragama Gedhah, Gedhah itu tidak hitam ataupun putih. Tempat
ini pantas disebut Kutha Gedhah.”)

Ki Bandar matur: “Dhawuh pangandika panjênêngan, kula ingkang
nêkseni”. Tanah saloring kutha kadhiri banjur jênêng Kutha Gêdhah,
nganti têkane saiki isih karan Kutha Gêdhah, nanging kang mangkono
mau arang kang padha ngrêti mula-bukane.

(Ki Bandar menjawab, “Baik, yang mulia, saya yang menjadi saksi.”
Tempat di bagian utara Kediri namanya mulai sekarang adalah Kutha
Gedhah.” Hingga saat ini masih disebut dengan Kutha Gedhah, tetapi
orang jarang mengetahui asal mula nama tersebut.)

Sunan Benang ngandika marang sakabate: “Kowe goleka banyu imbon
mênyang padesan, kali iki isih banjir, banyune isih buthêk, yen
diombe nglarani wêtêng, lan maneh iki wancine luhur, aku arêp wudhu,
arêp salat”.

(Sunan Benang berkata pada sahabatnya, “Carilah air minum di desa,
sungai masih banjir dan airnya keruh. Jika diminum maka akan
menyebabkan sakit perut. Selain itu sudah waktunya salat Lohor. Saya
mau wudhu untuk salat”)

Sakabate siji banjur lunga mênyang padesan arêp golek banyu, têkan
ing desa Pathuk ana omah katone suwung ora ana wonge lanang, kang ana
mung bocah prawan siji, wajah lagi arêp mêpêg birahi, ing wêktu iku
lagi nênun. Sakabat têka sarta alon calathune: “mBok Nganten, kula
nêdha toya imbon bêning rêsik”. mBok Prawan kaget krungu swarane wong
lanang, barêng noleh wêruh lanang sajak kaya santri, MBok Prawan
salah cipta, pangrasane wong lanang arêp njêjawat, mêjanani marang
dheweke, mula ênggone mangsuli nganggo têmbung saru: “nDika mêntas
liwat kali têka ngangge ngarani njaluk banyu imbon, ngriki botên
entên carane wong ngimbu banyu, kajaba uyuh kula niki imbon bêning,
yen sampeyan ajêng ngombe”.

(Salah seorang sahabatnya lalu pergi ke desa mencari air minum. Ia
sampai di desa Pathuk dan menjumpai rumah yang nampaknya tidak ada
prianya. Yang ada hanya seorang gadis perawan menjelang dewasa,
dimana saat itu ia sedang menenun. Sahabat Sunan Benang mendekat
serta berkata perlahan, “Mbok Nganten (panggilan terhadap wanita
dalam bahasa Jawa), saya minta air minum yang bening dan bersih.”
Gadis perawan itu terkejut mendengar suara pria, ketika menoleh ia
melihat seorang pria yang nampaknya mirip santri. Gadis perawan
tersebut salah sangka, ia mengira orang tersebut ingin menggodanya,
maka dijawabnya dengan perkataan kotor, “Anda menyeberang sungai
datang kemari untuk minta air minum. Di sini tidak ada air minum,
selain air kencing saya yang bening, jika Anda ingin meminumnya.”)

Santri krungu têtêmbungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune
dirikatake sarta garundêlan turut dalan, satêkane ngarsane Sunan
Benang banjur ngaturake lêlakone nalika golek banyu. Sunan Benang
mirêng ature sakabate, bangêt dukane, nganti kawêtu pangandikane
nyupatani, ing panggonan kono disabdakake larang banyu, prawane aja
laki yen durung tuwa, sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka
tuwa, barêng kêna dayaning pangandika mau, ing sanalika kali Brantas
iline dadi cilik, iline banyu kang gêdhe nyimpang nrabas desa alas
sawah lan patêgalan, akeh desa kang padha rusak, awit katrajang
ilining banyu kali kang ngalih iline, kali kang maune iline gêdhe
sanalika dadi asat. Nganti tumêka saprene tanah Gêdhah iku larang
banyu, jaka lan prawane iya nganti kasep ênggone omah-omah. Sunan
Benang têrus tindak mênyang Kadhiri.

(Sang santri yang mendengar ucapan kotor itu pergi tanpa pamit dan
jalannya dicepat-cepatkan. Ia menggerutu dalam hati dan menceritakan
pengalamannya di hadapan Sunan Bonang. Ketika mendengar hal itu Sunan
Bonang marah sekali, ia kemudian mengucapkan sumpah serapah pada
warga desa tersebut. Tempat itu dikutuk agar susah mendapatkan air,
para gadisnya akan terlambat menikah dan demikian pula kaum
perjakanya. Sesudah kutukan tersebut diucapkan aliran Sungai Brantas
menjadi kecil. Aliran sungai yang pada mulanya besar itu menyimpang
dan membanjiri desa, sawah, dan ladang. Banyak desa yang rusak karena
diterjang aliran sungai yang berpindah alirannya. Sungai yang pada
mulanya deras alirannya itu menjadi surut. Hingga saat ini tempat
tersebut menjadi susah air serta gadis dan perjakannya terlambat
menikah. Sunan Benang melanjutkan perjalanannya ke Kediri.)

Ing wêktu iki ana dhêmit jênênge Nyai Plêncing, iya iku dhêmit ing
sumur Tanjungtani, tansah digubêl anak putune, padha wadul yen ana
wong arane Sunan Benang, gawene nyikara marang para lêlêmbut, ngêndêl-
êndêlake kaprawirane, kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat
sanalika, iline banjur salin dalan kang dudu mêsthine, mula akeh
desa, alas, sawah sarta patêgalan, kang padha rusak, iya iku saka
panggawene

(Pada waktu itu ada seorang makhluk halus bernama Nyai Plencing,
yakni makhluk halus yang berdiam di sumur Tanjungtani. Anak cucunya
para berkeluh kesah padanya, mereka melaporkan tindakan orang bernama
Sunan Benang yang kegemarannya menyiksa para makhluk halus serta
memamerkan kesaktiannya. Sungai yang mengalir di Kediri dijadikan
surut airnya serta berpindah alirannya ke arah lain yang tidak
seharusnya. Sehingga banyak desa, hutan, sawah, dan ladang yang
rusak. Semua itu akibat ulah Sunan Bonang.)

Sunan Benang, kang uga ngêsotake wong ing kono, lanang wadon ngantiya
kasep ênggone omah-omah, sarta kono disotake larang banyu sarta
diêlih jênênge tanah aran Kutha Gêdhah, Sunan Benang dhêmêne salah
gawe. Anak putune Nyai Plêncing padha ngajak supaya Nyai Plêncing
gêlêma nêluh sarta ngrêridhu Sunan Benang, bisaa tumêka ing pati,
dadi ora tansah ganggu gawe. Nyai Plêncing krungu wadule anak putune
mangkono mau, enggal mangkat mêthukake lakune Sunan Benang, nanging
dhêmit-dhêmit mau ora bisa nyêdhaki Sunan Benang, amarga rasane awake
padha panas bangêt kaya diobong.

(Sunan Bonang juga mengutuk orang di sana, gadis dan perjaka akan
terlambat kawin. Sunan Benang itu kegemarannya bertindak salah. Anak
cucu Nyai Plencing bersama-sama memohon Nyai Plencing agar bersedia
menyantet Sunan Benang sampai mati dan tidak menganggu mereka lagi.
Nyai Plencing yang mendengar keluh kesan anak cucunya itu, segera
pergi menjumpai Sunan Benang. Tetapi makhluk-makhluk halus tersebut
tidak dapat mendekati Sunan Benang, karena tubuh mereka serasa panas
terbakar.)

Dhêmit-dhêmit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri, satêkane ing
Kadhiri, matur marang ratune, ngaturake kahanane kabeh. ratune
manggon ing Selabale. (6) Jênênge Buta Locaya, dene Selabale iku
dununge ana sukune gunung Wilis. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya,
maune jênênge kiyai Daha, duwe adhi jênênge kiyai Daka. Kiyai daha
iki cikal-bakal ing Kadhiri, barêng Sri Jayabaya rawuh, jênênge kiyai
Daha dipundhut kanggo jênênge nagara, dheweke diparingi Buta Locaya,
sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya.

(Makhluk-makhluk halus itu lalu lari ke Kediri. Ketika tiba di sana
mereka melaporkan pada rajanya segala hal yang mereka alami. Raja
makhluk halus itu berdiam di Selabale, namanya adalah Buta Locaya.
Selabale itu letaknya ada di kaki gunung Wilis. Buta Locaya itu
adalah patih Sri Jayabaya, dulu namanya adalah kyai Daha dan memiliki
adik bernama Kyai Daka. Kyai Daha itu asal usulnya ada di Kediri.
Pada saat Sri Jayabaya tiba di sana, nama Kyai Daha itu dijadikan
nama negara dan ia kemudian diberi nama Buta Locaya dan dijadikan
patih oleh Sang Prabu Jayabaya.)

Buta iku têgêse: butêng utawa bodho, Lo têgêse kowe, caya têgêse:
kêna dipracaya, kiyai Buta Locaya iku bodho, nanging têmên mantêp
sêtya ing Gusti, mulane didadekake patih. Wiwite ana sêbutan kiyai,
iya iku kiyai daha lan kiyai Daka, kiyai têgêse: ngayahi anak putune
sarta wong-wong ing kanan keringe.

(Buta itu artinya buteng atau bodoh, Lo itu artinya kamu, caya
artinya bisa dipercaya. Sehingga Kyai Buta Locaya itu artinya bodoh,
tetapi kawan yang setia dan patuh pada pimpinannya. Oleh karena itu
ia dijadikan patih. Yang pertama kali bergelar kyai adalah Kyai Daha
dan Kyai Daka. Kyai itu artinya mengayomi anak cucu dan orang-orang
yang berada di kanan-kirinya.)

Jêngkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka, ana ing kono Sang
Prabu sawadya-balane disugata, mula sang Prabu asih bangêt marang
kiyai Daka, jênênge kiyai Daka dipundhut kanggo jênêng desa, dene
kiyai Daka banjur diparingi jênêng kiyai Tunggulwulung, sarta dadi
senapatining pêrang.

(Sang raja lalu menuju ke rumah Kyai Daka. Di sana Sang Prabu
Jayabaya beserta seluruh pengikut dan pengawalnya disambut dengan
meriah, sehingga sang raja sangat mengasihi Kyai Daka. Nama Kyai Daka
dijadikan nama desa dan selain itu ia diberi gelar Kyai Tunggulwulung
serta diangkat menjadi panglima perang.)

Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu
Pagêdhongan, Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa; Ni
Mas Ratu Pagêdhongan dadi ratuning dhêmit nusa Jawa, kuthane ana
sagara kidul sarta jêjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. Sakabehe lêlêmbut
kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa, kabeh
padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin.
Buta Locaya panggonane ana ing Selabale, dene kiyai Tunggulwulung ana
ing gunung Kêlut, rumêksa kawah sarta lahar, yen lahar mêtu supaya
ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane.

(Ketika Sang Prabu Jayabaya dan putrinya yang bernama Ni Mas Ratu
Pagedhongan telah moksha, maka Buta Locaya dan Kyai Tunggulwulung
juga ikut moksha. Ni Mas Ratu Pagedhongan menjadi ratu makhluk halus
seluruh Jawa. Pusat kerajannya ada di laut selatan dan digelari Ni
Mas Ratu Anginangin. Seluruh makhluk halus yang ada di lautan dan
daratan serta juga kanan kiri Tanah Jawa bersama-sama takluk pada Ni
Mas Ratu Anginangin. Buta Locaya kediamannya ada di Selabale,
sedangkan Kyai Tunggulwulung ada di Gunung Kelut. Ia mengawasi dan
dan lahar agar supaya saat lahar keluar tidak merusak desa dan lain
sebagainya.)

Ing wêktu iku kiyai Buta Locaya lagi lênggah ana ing kursi kêncana
kang dilemeki kasur babut isi sari, sarta kinêbutan êlaring mêrak,
diadhêp patihe aran Megamêndhung, lan putrane kakung loro uga padha
ngadhêp, kang tuwa arane Panji Sêktidiguna, kang anom aran panji
Sarilaut.

(Waktu itu Kyai Buta Locaya sedang duduk di singgasananya yang
dialasi kasur permadani. Datang mengahadap patihnya bernama
Megamendhung dan dua putra tertuanya juga hadir. Yang lebih tua
bernama Panji Sektiguna dan adiknya bernama Sarilaut.)

Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhêp, kaget kasaru
têkane Nyai Plêncing, ngrungkêbi pangkone, matur bab rusake tanah lor
Kadhiri, sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku, wong saka Tuban
kang sumêdya lêlana mênyang Kadhiri, arane Sunan Benang. Nyai
Plêncing ngaturake susahe para lêlêmbut sarta para manusa.

(Buta Locaya sangat terkejut dengan laporan Nyai Plencing mengenai
tingkah polah Sunan Benang yang merusak tanah di utara Kediri. Ia
mengatakan bahwa Sunan Benang yang merusak itu orang dari Tuban yang
berkelana ke Kediri. Nyai Plencing mengisahkan penderitaan para
makhluk halus dan manusia.)

Buta Locaya krungu wadule Nyai Plêncing mangkono mau bangêt dukane,
sarirane nganti kaya gêni, sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta
para jin pêri parajangan, didhawuhi nglawan Sunan Benang. Para
lêlêmbut mau padha sikêp gêgaman pêrang, sarta lakune barêng karo
angin, ora antara suwe lêlêmbut wis têkan ing saêloring
desa Kukum, ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai
Sumbre, dene para lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha ora
ngaton, kiyai Sumbre banjur ngadêg ana ing têngah dalan sangisoring
wit sambi, ngadhang lakune Sunan Benang kang saka êlor.

(Buta Locaya mendengar laporan Nyai Plencing itu menjadi sangat
marah. Wajahnya menjadi merah padam bagaikan api. Ia segera memanggil
anak-anaknya dan juga para makhluk halus jin serta peri. Ia mengajak
mereka melawan Sunan Benang. Para makhluk halus itu bersiap-siap
untuk perang. Mereka berjalan secepat angin, tidak berapa lama mereka
tiba di utara desa Kukum, di sana Buta Locaya beralih wujud menjadi
manusia yang bernama Kyai Sumbre. Ia kemudian berdiri di tengah
jalan, di bawah pohon sambi, menghadang perjalanan Sunan Benang dari
utara.)

Ora antara suwe têkane Sunan Benang saka lor, Sunan Benang wis ora
kasamaran yen kang ngadêg ana sangisoring wit sambi iku ratuning
dhêmit, sumêdya ganggu gawe, katitik saka awake panas kaya mawa. Dene
lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh, ora bêtah
kêna prabawane Sunan Benang. Mangkono uga Sunan Benang uga ora bêtah
cêdhak karo kiyai Sumbre, amarga kaya dene cêdhak mawa, kiyai Sumbre
mangkono uga.

(Tidak lama kemudian, Sunang Bonang datang dari arah utara. Ia sudah
mengetahui bahwa yang berdiri di bawah pohon itu rajanya makhluk
halus yang terlah bersiap-siap untuk menganggu dirinya. Dimana hal
itu diketahui dari hawa panas yang keluar dari makhluk halus
tersebut. Para makhluk halus yang berjumlah banyak tersebut bersama-
sama menyingkir jauh-jauh karena tidak tahan dengan hawa kekuatan
Sunan Bonang. Namun Sunan Bonang juga tidak tahan berada di dekat
Kyai Sumbre, karena kemanapun Sunan Bonang menyingkir, maka Kyai
Sumbre ada di tempat itu pula.)

Sakabat loro kang maune padha sumaput, banjur padha katisên, amarga
kêna daya prabawane kiyai Sumbre.

(Dua orang sahabat Sunan Bonang pingsan, karena kedinginan. Mereka
tidak tahan terkena hawa kekuatan Kyai Sumbre.)

Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: “Buta Locaya! Kowe kok
mêthukake lakuku, sarta nganggo jênêng Sumbre, kowe apa padha
slamêt?”.

(Sunan Bonang menegur Kyai Sumbre, “Buta Locaya! Kamu menghadang
jalanku, serta menyamar sebagai Sumbre. Apa kamu cari mati?”)

Buta Locaya kaget bangêt dene Sunan Benang ngrêtos jênênge dheweke,
dadi dheweke kawanguran karêpe, wusana banjur matur marang Sunan
Benang: “Kados pundi dene paduka sagêd mangrêtos manawi kula punika
Buta Locaya?”.

(Buta Locaya terkejut bukan main, karena Sunan Bonang mengetahui
namanya, sehingga ia merasa ketahuan rahasianya. Lalu bertanyalah ia
pada Sunan Bonang, “Darimana Anda dapat mengetahui bahwa saya adalah
Buta Locaya?”)

Sunan Benang ngandika: “Aku ora kasamaran, aku ngrêti yen kowe
ratuning dhêmit Kadhiri, jênêngmu Buta Locaya.”.

(Sunan Bonang berkata, “Aku tidak tertipu, aku tahu bahwa engkau
adalah rajanya para makhluk halus di Kediri, namamu adalah Buta
Locaya.”)

Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: “Paduka punika tiyang punapa,
dene mangangge pating gêdhabyah, dede pangagêm Jawi. Kados wangun
walang kadung?”.

(Kyai Sumbre menjawab pada Sunan Bonang, “Anda itu orang mana, kok
tingkah lakunya tidak sopan, beda dengan adat istiadat Jawa. Seperti
belalang saja [loncat sini loncat sana.")

Sunan Benang ngandika maneh: "Aku bangsa 'Arab, jênêngku Sayid
Kramat, dene omahku ing Benang tanah Tuban, mungguh kang dadi sêdyaku
arêp mênyang Kadhiri, pêrlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu
Jayabaya, iku prênahe ana ing ngêndi?".

(Sunan Bonang berkata lagi, "Aku orang Arab, namaku adalah Sayid
Kramat, sedangkan rumah saya ada di Bonang, Tuban. Aku ke Kediri
karena ingin melihat peninggalan istana Sang Prabu Jayabaya. Istana
tersebut dulunya berada di mana?")

Buta Locaya banjur matur: "Wetan punika wastanipun dhusun Mênang (9),
sadaya patilasan sampun sami sirna, kraton sarta pasanggrahanipun
inggih sampun botên wontên, kraton utawi patamanan Bagendhawati
ingkang kagungan Ni Mas Ratu Pagêdhongan inggih sampun sirna,
pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna, namung kantun namaning
dhusun, sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking
rêdi Kêlut.

(Buta Locaya menjawab, "Di sebelah timur itu, yakni di desa Menang,
semua peninggalan telah musnah, istana serta tempat pesanggrahan juga
telah tiada lagi. Istana dan taman istana Bagendhawati milik Ni Mas
Ratu Pagedhongan juga telah musnah, pesanggrahan Wanacatur juga telah
sirna, yang tertinggal adalah nama desa itu. Semua itu musnah
tertimbun tanah pasir dan lahar dari gunung Kelut.)

Kula badhe pitaken, paduka gêndhak sikara dhatêng anak putu Adam,
nyabdakakên ingkang botên patut, prawan tuwa jaka tuwa, sarta ngêlih
nami Kutha Gêdhah, ngêlih lepen, lajêng nyabdakakên ing ngriki awis
toya, punika namanipun siya-siya botên surup, sikara tanpa dosa,
saiba susahipun tiyang gêsang laki rabi sampun lungse, lajêng botên
gampil pêncaripun titahing Latawalhujwa, makatên wau saking sabda
paduka, sêpintên susahipun tiyang ingkang sami kêbênan, lepen Kadhiri
ngalih panggenan mili nrajang dhusun, wana, sabin, pintên-pintên sami
risak, ngriki paduka-sotakên, sêlaminipun awis toya, lepenipun asat,
paduka sikara botên surup, nyikara tanpa prakara"

(Sekarang saya hendak bertanya, Anda menyiksa anak cucu Adam,
mengucapkan sesuatu yang tidak patut diucapkan. [Mengutuk] orang
menjadi perawan dan perjaka tua, dan juga mengubah nama menjadi Kutha
Gedhah, memindah aliran sungai, dan selanjutnya mengutuk bahwa di
daerah ini akan susah air. Itu namanya tindakan yang tidak berguna,
menyiksa orang lain yang tak bersalah, menyebabkan susahnya kehidupan
orang lain. Lelaki susah menemukan jodohnya. Tindakan itu
bertentangan dengan titah dari Latawalhujwa. Semua itu berasal dari
kutukan Anda, begitu besarnya kesusahan orang yang kebanjiran. sungai
Kediri berubah alirannya dan menerjang desa, hutan, sawah, berapa
banyak yang rusak. Sedangkan di sini, Anda kutuk selamanya susah air,
sungainya surut. Anda itu hanya menyiksa orang lain yang tidak
bersalah.”)

Sunan Benang ngandika: “Mula ing kene tak-êlih jênêng Kutha Gêdhah,
amarga wonge kene agamane ora irêng ora putih, têtêpe agama biru,
sabab agama Kalang, mula tak-sotake larang banyu, aku njaluk banyu
ora oleh, mula kaline banjur tak-êlih iline, kene kabeh tak sotake
larang banyu, dene ênggonku ngêsotake prawan tuwa jaka tuwa, amarga
kang tak jaluki banyu ora oleh iku, prawan baleg.”

(Sunan Bonang berkata, “Tempat ini aku ganti namanya menjadi Kutha
Gedhah, karena orang di sini agamanya tidak hitam tidak putih,
tepatnya agama biru, yakni agama Kalang. Aku kutuk susah air, karena
saya minta air minum tidak boleh. Oleh karenanya, air sungainya saya
rubah alirannya. Semua yang berada di sini saya kutuk susah air. Saya
mengutuk agar orang di sini menjadi perawan dan perjaka tua, karena
tidak bersedia memberikan saya air minum, yaitu gadis perawan kurang
ajar itu.”)

Buta Locaya matur maneh: “Punika namanipun botên timbang kaliyan sot
panjênêngan, botên sapintên lêpatipun, tur namung tiyang satunggal
ingkang lêpat, nanging ingkang susah kok tiyang kathah sangêt, botên
timbang kaliyan kukumipun, paduka punika namanipun damêl mlaratipun
tiyang kathah, saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari, paduka inggih
dipunukum mlarat ingkang langkung awrat, amargi ngrisakakên tanah,
lah sapunika mugi panjênêngan-sotakên wangsulipun malih, ing ngriki
sagêda mirah toya malih, sagêd dados asil panggêsangan laki rabi
taksih alit lajêng mêncarakên titahipun Hyang Manon. Panjênêngan
sanes Narendra têka ngarubiru agami, punika namanipun tiyang dahwen”.

(Buta Locaya berkata lagi, “Itu namanya orang yang tanpa
pertimbangan. Kesalahan tidak seberapa, dan selain itu hanya satu
orang yang bersalah, tetapi Anda telah membuat susah orang banyak
sekali. Tidak sesuai dengan hukumannya. Anda itu namanya membuat
susah orang banyak. Seandainya diketahui yang memiliki negara, maka
Anda akan dihukum melarat sekali, karenanya merusak tanah. Sudah
begini saja, Anda tarik kembali kutukan Anda. Di sini menjadi
melimpah air kembali, sehingga bisa untuk bercocok tanah. Pria dan
wanita dapat kembali menikah pada usia mudah, sesuai dengan titah
dari Hyang Manon. Anda itu bukan Narendra (gelar Wisnu, mungkin yang
dimaksud Tuhan - penterjemah), tetapi kok datang-datang mengharubiru
agama. Itu namanya orang berengsek.”)

Sunan Benang ngandika: “Sanadyan kok-aturake Ratu Majalêngka aku ora
wêdi”.

(Sunan Bonang berkata, “Meskipun kamu laporkan Raja Majalengka saya
tidak takut.”)

Buta Locaya barêng krungu têmbung ora wêdi marang Ratu Majalêngka
banjur mêtu nêpsune, calathune sêngol: “Rêmbag paduka niki dede
rêmbage wong ahli praja, patute rêmbage tiyang entên ing bambon,
ngêndêlake dumeh tiyang digdaya, mbok sampun sumakehan dumeh
dipunkasihi Hyang Widdhi, sugih sanak malaekat, lajêng tumindak
sakarsa-karsa botên toleh kalêpatan, siya dahwen sikara botên ngangge
prakara, sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wontên ingkang
nglangkungi kaprawiran paduka, nanging sami ahli budi sarta ajrih
sêsikuning Dewa, têbih saking ahli budi yen ngantos siya dhatêng
sêsami nyikara tanpa prakara, punapa paduka punika tiyang tunggilipun
Aji Saka, muride Ijajil.

(Buta Locaya setelah mendengar bahwa Sunan Bonang tidak takut pada
Raja Majalengka menjadi makin marah, kata-katanya menjadi
keras, “Anda itu jelas sekali tidak mencerminkan seseorang yang
bijaksana dan berbudi luhur, melainkan lebih tepat lagi disebut
dengan gelandangan (bahasa asli apabila diterjemahkan secara harafiah
adalah orang yang tinggal dalam rumah bambu- penterjemah). Beraninya
hanya mengandalkan kesaktiannya. Bersikaplah rendah hati sehingga
dikasihi oleh Hyang Widdhi, dikasihi oleh sahabat, dan bukannya
bertindak semau-maunya sendiri dengan tidak melihat kesalahannya. Itu
namanya orang jahat yang tidak menimbang dulu permasalahannya. Di
tanah Jawa ini, khan banyak orang yang kesaktiannya melebihi Anda,
namun semuanya itu berbudi luhur dan tidak berusaha mengungguli para
dewa. Mereka sama sekali tidak menyiksa orang lain tanpa melihat
kesalahannya terlebih dahulu. Mengapa Anda meniru Aji Saka, muridnya
Ijajil?)

Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajêng minggat
saking tanah Jawi, sumbêr toya ing Mêdhang saurutipun dipunbêkta
minggat sadaya, Aji Saka tiyang saka Hindhu, paduka tiyang
saking ‘Arab, mila sami siya-siya dhatêng sêsami, sami damêl awising
toya, paduka ngakên Sunan rak kêdah simpên budi luhur, damêl wilujêng
dhatêng tiyang kathah, nanging kok jêbul botên makatên, wujud paduka
niki jajil bêlis katingal, botên tahan digodha lare, lajêng mubal
nêpsune gêlis duka, niku Sunan napa?

(Aji Saka menjadi raja tanah Jawa, tetapi tiga tahun kemudian pergi
meninggalkannya, sumber air yang ada di Medhang juga dibawanya pergi.
Aji Saka orang dari India, sedangkan Anda adalah orang Arab, karena
itu sama-sama tidak menghargai sesama manusia. Sama-sama membuat
sulit air. Anda itu mengaku-ngaku sebagai Sunan, khan seharusnya
berbudi luhur, menciptakan kebajikan bagi orang banyak, tetapi kok
malah tingkah lakunya seperti itu. Anda itu seperti iblis tingkah
lakunya. Tidak tahan digoda oleh anak kecil, lalu bangkit nafsu
angkara murkanya. Sunan macam apa itu?)

Yen pancen Sunaning jalma yêktos, mêsthi simpên budi luhur. Paduka
niksa wong tanpa dosa, nggih niki margi paduka cilaka, tandhane
paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam, yen sampun dados, lajêng
paduka-ênggeni piyambak, siram salêbêting kawah wedang ingkang umob
mumpal-mumpal. Kula niki bangsaning lêlêmbut, sanes alam kaliyan
manusa, ewadene kula taksih engêt dhatêng wilujêngipun manusa. Inggih
sampun ta, sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulakên
malih, lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya
kula-aturi mangsulakên kados sawaunipun, manawi panjênêngan botên
karsa mangsulakên, sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula-
têluh kajêngipun pêjah sadaya, kula tamtu nyuwun bantu wadya bala
dhatêng Kanjêng Ratu Ayu Anginangin ingkang wontên samodra kidul”.

(Kalau memang Anda sudah Sunan secara lahir bathin, maka seharusnya
berbudi luhur. Anda menyiksa orang tanpa dosa, yaitu karena Anda
dihina. Sehingga dengan demikian setelah ini Anda pantas masuk neraka
jahanam. Kalau sudah mati, Anda akan tinggal di sana. Dimasukkan
kawah air panas yang asapnya melimpah-limpah. Saya ini termasuk
golongan makhluk halus, dan berbeda dengan kalian yang manusia.
Karenanya saya ini masih ingat dengan kesejahteraan umat manusia. Ya
sudah, apa yang sudah rusak saya minta untuk diperbaikik kembali.
Sungai yang surut dan tempat yang rusak diterjang banjir, saya minta
dikembalikan seperti asal mulanya. Jika Anda tidak bersedia
mengembalikannya, semua orang Jawa yang sudah masuk Islam akan saya
santet agar mati semua. Saya tentu juga akan minta bala bantuan dari
Ratu Ayu Anginangin di laut selatan.”)

Sunan Benang barêng mirêng nêpsune Buta Locaya rumaos lupute, dene
gawe kasusahan warna-warna, nyikara wong kang ora dosa, mula banjur
ngandika: “Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan, ora kêna mbaleni
caturku kang wus kawêtu, besuk yen wus limang atus taun, kali iki
bisa bali kaya mau-maune”.

(Sunan Bonang setelah mendengar nasehat Buta Locaya jadi menyadari
kesalahannya karena telah menyebabkan kesengsaraan banyak orang, maka
berkatalah ia, “Buta Locaya, saya ini Sunan, tidak dapat menarik
kembali ucapanku yang sudah keluar, besok jika telah genap lima ratus
tahun, maka sungai ini kembali seperti semula.”)

Buta Locaya barêng krungu kêsagahane Sunan Benang, banjur nêpsu
maneh, nuli matur marang Sunan Benang: “Kêdah paduka-wangsulna
sapunika, yen botên sagêd, paduka kula-banda”.

(Buta Locaya setelah mendengar penolakan Sunan Bonang menjadi marah
kembali, ia mengancam Sunan Bonang, “Harus dikembalikan sekarang
juga, jika tidak bisa, maka Anda saya tahan di sini.”)

Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: “Wis kowe ora kêna
mangsuli, aku pamit nyimpang mangetan, woh sambi iki tak-jênêngake
cacil, dene kok kaya bocah cilik padha tukaran, dhêmit lan wong
pêcicilan rêbut bênêr ngadu kawruh prakara rusaking tanah, sarta
susahe jalma lan dhêmit, dak-suwun marang Rabbana, woh sambi dadi
warna loro kanggone, daginge dadiya asêm, wijine mêtuwa lêngane, asêm
dadi pasêmoning ulat kêcut, dene dhêmit padu lan manusa, lênga têgêse
dhêmit mlêlêng jalma lunga. Ing besuk dadiya pasêksen, yen aku padu
karo kowe, lan wiwit saiki panggonan têtêmon iki, kang lor jênênge
desa Singkal, ing kene desa ing Sumbre, dene panggonane balamu kang
ana ing kidul iku jênênge desa Kawanguran”.

(Sunan Bonang berkata pada Buta Locaya, “Sudah, kamu tidak perlu
mengajari aku, aku pamit mau ke Magetan, buah sambi ini aku sebut
cacil, karena kok seperti anak kecil berkelahi. Makhluk halus dan
manusia berkelahi mengadu pengetahuan masalah rusaknya tanah, serta
kesengsaraan manusia dan makhluk halus. Saya akan minta pada Tuhan,
buah sambi akan menjadi dua warna, dagingnya menjadi masam, bijinya
agar keluar minyaknya. Asam itu menjadi lambang ulat masam, karena
makhluk halus bertengkar dengan manusia. Minyak artinya makhluk halus
menghalangi perginya manusia. Pada masa mendatang jadilah saksi kalau
saya bertengkar dengan kamu. Dan mulai saat ini, tempat ini yang
utara namanya desa Singkah, sedangkan yang di sini namanya Sumbre.
Sedangkan tempat berkumpulnya pasukanmu di bagian selatan namanya
dewa Kawanguran.”)

Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan
kali, katêlah nganti tumêka saprene ing tanah Kutha Gêdhah ana desa
aran Kawanguran, Sumbre sarta Singkal, Kawanguran têgêse kawruhan,
Singkal têgêse sêngkêl banjur nêmu akal.

(Setelah berkata demikian, Sunan Bonang lalu melompat ke timur
sungai. Hingga saat ini di Kutha Gedhah ada desa bernama Kawanguran,
Sumbre, dan Singkal. Kawanguran artinya pengetathuan. Singkah artinya
menemukan akal budi.)

Buta Locaya nututi tindake Sunan Benang. Sunan Benang tindake têkan
ing desa Bogêm, ana ing kono Sunan Benang mriksani rêca jaran, rêca
mau awak siji êndhase loro, dene prênahe ana sangisoring wit
trênggulun, wohe trênggulun mau akeh bangêt kang padha tiba nganti
amblasah, Sunan Benang ngasta kudhi, rêca jaran êndhase digêmpal.

(Buta Locaya mengikuti perginya Sunan Bonang. Sunan Bonang tiba di
desa Bogem, di sana ia melihat ada patung kuda yang berbadan satu
tetapi berkepala dua. Letaknya ada di bawah pohon trenggulun. Buah
trenggulun itu banyak sekali hingga menggunung tinggi. Sunan Bonang
lalu menghancurkan kepala patung kuda itu.)

Buta Locaya barêng wêruh patrape Sunan Benang anggêmpal êndhasing
rêca jaran, saya wuwuh nêpsune sarta mangkene wuwuse: “Punika
yasanipun sang Prabu Jayabaya, kangge pralambang ing tekadipun wanita
Jawi, benjing jaman Nusa Srênggi, sintên ingkang sumêrêp rêca punika,
lajêng sami mangrêtos tekadipun para wanita Jawi”

(Setelah melihat Sunan Bonang menghancurkan kepala patung kuda, maka
bangkit kembali kemarahan Buta Locaya. Ia berkata, “Itu adalah
peninggalan sang Prabu Jayabaya, sebagai lambang tekadnya wanita
Jawa. Besok di jaman Nusa Srenggi, siapa saja yang melihat patung itu
akan sama-sama memahami tekad para wanita Jawa.”)

Sunan Benang ngandika: “Kowe iku bangsa dhêmit kok wani padu karo
manusa, jênênge dhêmit kêmênthus”.

(Sunan Bonang menjawab, “Kamu itu bangsa makhluk halus, kok berani
bertengkar dengan manusia. Itu namanya makhluk halus sombong.”)

Buta Locaya mangsuli: “Inggih kaot punapa, ngriku Sunan, kula Ratu”.

(Buta Locaya berkata, “Lalu kenapa memangnya? Anda Sunan, saya raja.”)

Sunan Benang ngandika: “Woh trênggulun iki tak-jênêngake kênthos,
dadiya pangeling-eling ing besuk, yen aku kêrêngan karo dhêmit
kumênthus, prakara rusaking rêca”.

(Sunan Bonang berkata, “Buah trenggulun ini aku namakan kenthos,
sehingga menjadi peringatan di masa mendatang kalau aku bertengkar
dengan makhluk halus sombong masalah rusaknya patung.”)

Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene, woh trênggulun
jênênge kênthos, awit saka sabdane Sunan Benang, iku pituture Raden
Budi Sukardi, guruku”.

(Ki Kalamwadi menjelaskan, “Hingga sekarang, buah trenggulun namanya
kenthos, karena berasal dari sabda Sunan Bonang. Itu adalah
pemberitahuan dari guruku Raden Budi Sukardi.”)

Sunan Benang banjur tindak mangalor, barêng wis wanci asar, kêrsane
arêp salat, sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane,
sumure banjur digolingake, dene Sunan Benang sawise, nuli sagêd
mundhut banyu kagêm wudhu banjur salat.

(Sunan Bonang lalu pergi ke arah utara. Pada saat itu telah waktunya
salat asar dan ia hendak menunaikan ibadah salat. Di luar desa itu
ada sumur, tetapi tidak ada ember untuk menimba air, karena itu Sunan
Bonang menggulingkan sumur itu sehingga ia bisa menggambil air dari
dalamnya.)

Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene sumur mau karane sumur
Gumuling, Sunan Benang kang anggolingake, iku pituture Raden Budi
guruku, êmbuh bênêr lupute”.

(Ki Kalamwadi menjelaskan, “Hingga saat ini sumur itu disebut sumur
Gumuling. Sunan Bonang yang menggulingkannya. Itu katanya Raden Budi
guruku, entah benar entah tidak.”)

Sunan Benang sawise salat banjur nêrusake tindake, satêkane desa
Nyahen (10) ing kona ana rêca buta wadon, prênahe ana sangisoring wit
dhadhap, wêktu iku dhadhape pinuju akeh bangêt kêmbange, sarta akeh
kang tiba kanan keringe rêca buta mau, nganti katon abang mbêranang,
saka akehe kêmbange kang tiba, Sunan Benang priksa rêca mau gumun
bangêt, dene ana madhêp mangulon, dhuwure ana 16 kaki, ubênge
bangkekane 10 kaki, saupama diêlih saka panggonane, yen dijunjung
wong wolung atus ora kangkat, kajaba yen nganggo piranti, baune
têngên rêca mau disêmpal dening Sunan Benang, bathuke dikrowak.

(Setelah salat maka Sunan Bonang meneruskan perjalanannya, dan tiba
di desa Nyahen. Di sana ada patung raksasa wanita yang terletak di
bawah pohon dadap. Pada saat itu kebetulan pohon dadapnya sedang
banya bunganya dan banyak yang berjatuhan di kanan dan kirinya patung
raksasa itu sehingga nampak merah merona. Sunan Bonang melihat arca
yang tingginya 16 kaki dan lingkarnya 10 kaki. Apabila diangkat orang
800 juga masih belum terangkat. Bahu kanan patung tersebut
dihancurkan oleh Sunan Bonang dan selain itu dahinya juga dirusak.)

Buta Locaya wêruh yen Sunan Benang ngrusak rêca, dheweke nêpsu maneh,
calathune: “Panjênêngan nyata tiyang dahwen, rêca buta bêcik-bêcik
dirusak tanpa prakara, sa-niki awon warnine, ing mangka punika
yasanipun Sang Prabu Jayabaya, lah asilipun punapa panjênêngan
ngrisak rêca?”

(Buta Locaya mengetahui tindakan Sunan Bonang merusak patung itu,
timbul amarahnya kembali, “Anda itu benar-benar orang brengsek.
Patung bagus-bagus kok dirusak tanpa sebab. Patung itu adalah
peninggalan Sang Prabu Jayabaya, lalu mengapa Anda rusak?”)

Pangandikane Sunan Benang: “Mulane rêca iki tak-rusak, supaya aja
dipundhi-pundhi dening wong akeh, aja tansah disajeni dikutugi, yen
wong muji brahala iku jênênge kapir kupur lair batine kêsasar.”

(Jawaban Sunan Bonang, “Arca ini saya rusak supaya jangan disembah-
sembah oleh orang banyak, supaya jangan dimantrai. Yang menyembah
patung itu namanya kafir. Lahir dan bathinnya tersesat.”)

****************
Sebagaimana ia mengajari orang lain, demikianlah hendaknya ia berbuat. Setelah
ia dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, hendaklah ia melatih orang
lain. Sesungguhnya amat sukar untuk mengendalikan diri sendiri.(DHAMMAPADA,
syair 159)

Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi
suci. Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri. Tak seorangpun yang
dapat mensucikan orang lain. (DHAMMAPADA, syair 165)

Buta Locaya calathu maneh: “Wong Jawa rak sampun ngrêtos, yen punika
rêca sela, botên gadhah daya, botên kuwasa, sanes Hyang Labawalhujwa,
mila sami dipunladosi, dipunkutugi, dipunsajeni, supados para
lêlêmbut sampun sami manggen wontên ing siti utawi kajêng, amargi
siti utawi kajêng punika wontên asilipun, dados têdhanipun manusa,
mila para lêlêmbut sami dipunsukani panggenan wontên ing rêca,
panjênêngan-tundhung dhatêng pundi?

(Buta Locaya mengomel lagi, “Orang Jawa itu khan sudah tahu, bahwa
itu hanya sebuah arca batu, tidak punya daya apa-apa, tidak punya
kekuasaan apa, bukan Hyang Labawalhujwa, karena itu dimantrai dan
diberi sesajian, supaya para makhluk halus yang dulunya tinggal di
tanah atau kayu - karena tanah dan kayu itu dimanfaatkan bagi
manusia - maka para makhluk halus itu diberi tempat tinggal di dalam
arca. Anda itu tahu nggak sih?)

Sampun jamakipun brêkasakan manggen ing guwa, wontên ing rêca, sarta
nêdha ganda wangi, dhêmit manawi nêdha ganda wangi badanipun kraos
sumyah, langkung sênêng malih manawi manggen wontên ing rêca wêtah
ing panggenan ingkang sêpi edhum utawi wontên ngandhap kajêng ingkang
agêng, sampun sami ngraos yen alamipun dhêmit punika sanes kalayan
alamipun manusa, manggen wontên ing rêca têka panjênêngan-sikara,
dados panjênêngan punika têtêp tiyang jail gêndhak sikara siya-siya
dhatêng sasamining tumitah, makluking Pangeran. Aluwung manusa Jawa
ngurmati wujud rêca ingkang pantês simpên budi nyawa, wangsul tiyang
bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah, wujude nggih tugu sela, punika
inggih langkung sasar”.

(Sudah wajar kalau para makhluk halus tinggal di gua dan patung.
Selain itu mereka makan bau harum. Makhluk halus itu apabila makan
bau harum, badannya terasa segar. Mereka betah tinggal di patung-
patung batu yang berada di tempat sepi atau yang berada di depan
pohon besar. Apakah Anda sudah pernah merasakan hidup di alam makhluk
halus yang berbeda dengan alam manusia? Mereka yang hidup di dalam
patung baru, Anda siksa, jadi karena itu Anda patut disebut orang
jahil. Orang yang gemar berbuat seenaknya sendirinya terhadap sesama
makhluk Tuhan. Lebih baik orang Jawa yang menghormati patung demi
menguntungkan para makhluk halus, dibandingkan dengan orang Arab yang
menyembah Ka’bah. Wujudnya juga tugu batu, sehingga seharusnya mereka
juga sesat.”)

Pangandikane Sunan Benang: Ka’batu’llah iku kang jasa Kangjêng Nabi
Ibrahim, ing kono pusêring bumi, didelehi tugu watu disujudi wong
akeh, sing sapa sujud marang Ka’batu’llah, Gusti Allah paring
pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing ‘alam pangumbaran”.

(Sunan Bonang menjawab, “Ka’bah itu ada karena jasanya Nabi Ibrahim,
di situ terletak pusatnya bumi. Dibangun tugu dan disembah orang
banyak. Siapa saja yang bersujud pada Ka’bah, Allah akan mengampuni
dosanya selama hidup di dunia.”)

Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Tandhane napa yen angsal sihe
Pangeran, angsal pangapuntên sadaya kalêpatanipun, punapa sampun
angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit?

(Buta Locaya menjawab dengan marah, “Buktinya apa kalau mereka
beroleh pengampunan dosa dari Tuhan, memperoleh pengampunan dari
semua kesalahan. Apakah sudah memperoleh tanda tangan dan cap dari
Tuhan?”)

Sunan Benang ngandika maneh: “Kang kasêbut ing kitabku, besuk yen
mati oleh kamulyan”.

(Sunan Bonang berkata lagi, “Itu semua disebut dalam kitabku. Besok
kalau meninggal akan beroleh kemuliaan.”)

Buta Locaya mangsuli karo mbêkos: “Pêjah malih yen sumêrêpa, kamulyan
sanyata wontên ing dunya kemawon sampun korup, sasar nyêmbah tugu
sela, manawi sampun nrimah nêmbah curi, prayogi dhatêng rêdi Kêlut
kathah sela agêng-agêng yasanipun Pangeran, sami maujud piyambak
saking sabda kun, punika wajib dipunsujudi. Saking dhawuhipun Ingkang
Maha Kuwaos, manusa sadaya kêdah sumêrêp ing Batu’llahipun, badanipun
manusa punika Baitu’llah ingkang sayêktos, sayêktos yen yasanipun
Ingkang Maha Kuwaos, punika kêdah dipunrêksa, sintên sumêrêp asalipun
badanipun, sumêrêp budi hawanipun, inggih punika ingkang kenging
kangge tuladha.

(Buta Locaya menjawab dengan tidak senang hati, “Ketahuilah,
kemuliaan yang ada di dunia ini sudah ternoda, orang tersesat
menyembah tugu batu, ketika mereka sudah melakukan kejahatan. Di
Gunung Kelut banyak batu besar-besar hasil ciptaan Tuhan, kesemuanya
itu terwujud berdasarkan Sabda Allah, itulah yang sesungguhnya lebih
pantas disembah. Berdasarkan izin Yang Maha Kuasa, seluruh umat
manusia harus mengetahui mengenai Ka’bah sejati, tubuh manusia itulah
Ka’bah sejati. Sejati karena ciptaannya Yang Maha Kuasa. Inilah yang
harus diperhatikan. Siapa yang sadar akan asal usulnya, mengetahui
akal budinya, yaitu yang sanggup dijadikan suri tauladan.)

Sanadyan rintên dalu nglampahi salat, manawi panggenanipun raga
pêtêng, kawruhipun sasar-susur, sasar nêmbah tugu sela, tugu damêlan
Nabi, Nabi punika rak inggih manusa kêkasihipun Gusti Allah, ta,
pinaringan wahyu nyata pintêr sugih engêtan, sidik paningalipun
têrus, sumêrêp cipta sasmita ingkang dereng kalampahan. Dene ingkang
yasa rêca punika Prabu Jayabaya, inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos,
pinaringan wahyu mulya, inggih pintêr sugih engêtan sidik
paningalipun têrus, sumêrêp saderengipun kalampahan, paduka pathokan
tulis, tiyang Jawi pathokan sastra, bêtuwah saking lêluhuripun. sami-
sami nyungkêmi kabar, aluwung nyungkêmi kabar sastra saking
lêluhuripun piyambak, ingkang patilasanipun taksih kenging
dipuntingali. Tiyang nyungkêmi kabar ‘Arab, dereng ngrêtos
kawontênanipun ngrika, punapa dora punapa yêktos, anggêga ujaripun
tiyang nglêmpara.

(Meskipun siang dan malam menjalankan salat, tetapi apabila
pikirannya gelap, pengetahuannya amburadul, menyembah tugu batu yang
dibuat nabi. Nabi itu khan juga manusia kekasih Allah, diberi wahyu
sehingga menjadi pandai dan sanggup mengetahui apa yang akan terjadi.
Sedangkan yang membangun arca batu itu adalah Prabu Jayabaya, yang
juga merupakan kekasih Allah. Ia juga menerima wahyu mulia, juga
banyak pengetahuannya dan sanggup mengetahui apa yang akan terjadi.
Anda berpedoman pada kitab, sedangkan orang Jawa berpedoman pada
sastra kuno, petuah dari leluhur sendiri. Lebih baik mempercayai
sastra kuno dari leluhur sendiri yang peningggalannya masih dapat
disaksikan. Orang mempercayai kitab Arab, padahal belum tahu keadaan
di sana, entah benar entah salahnya, hanya percaya perkataannya para
penipu.)

Mila panjênêngan anganjawi, nyade umuk, nyade mulyaning nagari Mêkah,
kula sumêrêp nagari Mêkah, sitinipun panas, awis toya, tanêm-tanêm
tuwuh botên sagêd mêdal, bênteripun banter awis jawah, manawi tiyang
ingkang ahli nalar, mastani Mêkah punika nagari cilaka, malah kathah
tiyang sade tinumbas tiyang, kangge rencang tumbasan. Panjênêngan
tiyang duraka, kula-aturi kesah saking ngriki, nagari Jawi ngriki
nagari suci lan mulya, asrêp lan bênteripun cêkapan, tanah pasir
mirah toya, punapa ingkang dipuntanêm sagêd tuwuh, tiyangipun jalêr
bagus, wanitanipun ayu, madya luwês wicaranipun. Rêmbag panjênêngan
badhe priksa pusêring jagad, inggih ing ngriki ingkang kula-linggihi
punika, sapunika panjênêngan ukur, manawi kula lêpat panjênêngan
jotos.

(Anda menjual kemuliaannya negeri Mekah. Padahal saya tahu seperti
apa sebenarnya Mekah. Tanahnya panas, susah air, tanaman tidak bisa
tubuh, serta jarang hujan. Orang yang sanggup bernalar akan menyebut
Mekah itu negeri celaka. Malah banyak orang yang diperjual-belikan
sebagai budak. Anda itu orang durhaka. Saya minta untuk pergi dari
sini, negeri Jawa yang suci dan mulia, cukup hujan dan air, apa yang
ditanam dapat tumbuh, yang pria tampan, yang wanita cantik. Bicaranya
juga luwes. Kalau Anda bicara masalah pusatnya jagad, maka tempat
yang saya duduki inilah yang merupakan pusat jagad. Silakan Anda
ukur, bila salah pukullah saya.)

Rêmbag panjênêngan punika mblasar, tandha kirang nalar, kirang nêdha
kawruh budi, rêmên niksa ing sanes. Ingkang yasa rêca punika Maha
Prabu Jayabaya, digdayanipun ngungkuli panjênêngan, panjênêngan
punapa sagêd ngêpal lampahing jaman? Sampun ta, kula-aturi kesah
kemawon saking ngriki, manawi botên purun kesah sapunika, badhe kula-
undhangakên adhi-kula ingkang wontên ing rêdi Kêlut, panjênêngan kula-
kroyok punapa sagêd mênang, lajêng kula-bêkta mlêbêt dhatêng
kawahipun rêdi Kêlut, panjênêngan punapa botên badhe susah, punapa
panjênêngan kêpengin manggen ing sela kados kula? Mangga dhatêng
Selabale, dados murid kula!”.

(Anda itu seperti orang tidak waras, pertanda kurang nalar, kurang
memakan pengetahuan akal budi, senang menyiksa orang lain. Yang
membuat arca itu Maha Prabu Jayabaya, yang kesaktiannya melebihi
Anda. Anda apa sanggup mengetahui apa yang akan terjadi? Sudahlah,
saya minta Anda pergi saja dar sini. Jika tidak mau pergi dari sini,
maka akan saya panggilkan adik saya dari Gunung Kelut. Anda saya
keroyok apa bisa menang? Lalu akan saya bawa ke dalam kawah Gunung
Kelut. Apakah Anda tidak sengsara? Apakah Anda ingin berdiam dalam
batu seperti saya? Kalau mau silakan datang ke Selabale, jadi murid
saya!”)

Sunan Benang ngandika: “Ora arêp manut rêmbugmu, kowe setan
brêkasakan”.

(Sunan Bonang berkata, “Saya tidak mau mengikuti perkataanmu, wahai
setan iblis.”)

Buta Locaya mangsuli: “Sanadyan kula dhêmit, nanging dhêmit raja,
mulya langgêng salamine, panjênêngan dereng tamptu mulya kados kula,
tekad panjênêngan rusuh, rêmên nyikara niaya, mila panjênêngan
dhatêng tanah Jawi, wontên ing ‘Arab nakal kalêbêt tiyang awon, yen
panjênêngan mulya tamtu botên kesah saking ‘Arab, mila minggat,
saking lêpat, tandhanipun wontên ing ngriki taksih krejaban, maoni
adating uwong, maoni agama, damêl risak barang sae, ngarubiru agamane
lêluhur kina, Ratu wajib niksa, mbucal dhatêng Mênadhu”.

(Buta Locaya menjawab, “Meskipun saya makhluk halus, tetapi raja
makhluk halus. Mulia dan abadi selamatnya. Anda belum tentu mulia
seperti saya. Niat Anda buruk, gemar menyiksa orang lain. Oleh karena
itu Anda datang ke tanah Jawa. Di Arab Anda tergolong orang hina.
Jika Anda orang mulia maka tidak akan pergi meninggalkan Arab, karena
salah maka melarikan diri dari sana. Buktinya di sni membuat onar,
menghina adat istiadat orang lain, menghina agama, merusak barang
yang bagus, mengharubiru agama leluhur kuno. Raja wajib menyiksa dan
membuang Anda.”)

Sunan Benang ngandika: “Dhadhap iki kêmbange tak jênêngake celung,
uwohe kledhung, sabab aku kêcelung nalar lan kêledhung rêmbag, dadiya
pasêksen yen aku padu lan ratu dhêmit, kalah kawruh kalah nalar”.

(Sunan Bonang berkata, “Pohon dadap ini bunganya aku beri nama
celung, buahnya kledhung, karena aku kalah nalar dan kalah
pembicaraan. Jadilah saksi bila aku bertengkar dengan raja makhluk
halus dan kalah pengetahuan serta nalar.”)

Mula katêlah nganti tumêka saprene, woh dhadhap jênênge kledhung,
kêmbange aran celung.

(Oleh karena itu hingga sekarang, buah dadap, namanya kledhung,
bunganya dinamakan celung.)

Sunan Benang banjur pamitan: “Wis aku arêp mulih mênyang Benang”.

(Sunan Bonang lalu berpamitan, “Sudah saya akan pulang ke Bonang.”)

Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Inggih sampun, panjênêngan enggala
kesah, wontên ing ngriki mindhak damêl sangar, manawi kadangon wontên
ing ngriki mindhak damêl susah, murugakên awis wos, nambahi bênter,
nyudakakên toya”.
Sunan Benang banjur tindak, dene Buta Locaya sawadya-balane uga
banjur mulih.

(Buta Locaya menjawab dengan marah, “Ya sudah, pergilah cepat-cepat.
Di sini membuat susah saja. Makin lama makin membuat susah saja.
Membuat susah air, menyebabkan kekeringan.” Sunan Bonang meninggalkan
tempat itu dan Buta Locaya beserta pasukannya juga pulang
meninggalkan tempat itu.)


semua dalah hasil dari buah pikir leluhur kita yang pada saat itu ada karena alam juga ada untuk mendukungnya. terlepas agama apa yang benar adalah hati kita yang menjawabnya. tapi alangkah besar dan hebatnya pemikiran leluhur kita yang tidak akan pernah terulang lagi pada saat ini.
sebenarnya jika saya diberi pilihan untuk lahir maka saya akan meminta untuk dilahirkan pada masa majapahit atau raja-raja besar jawa.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar