Selasa, 23 Desember 2008

Silsilah Gunung Jati

Nama-nama Sultan CIREBON sampai dengan pecahnya Kesultanan menjadi Kanoman Kasepuhan Dan Kacerbonan

Syarif Hidayatullah ( Sunan Gunung jati) Nyi Ageng Tepasari,Putri pembesar Majapahit
Mohammad Arifin ( Pangeran Pasarean ) Nyimas Ratu Nyawa : Putri Raden Patah
Pangeran Sedang Kamuning ( Dipati Carbon I ) Nyi Ratu Wanawati : Putri Bagus Pasai ( Patahilah )
Pangeran Mas ( Panembahan Ratu I ) Ratu Gelampok ( Pajang ),Putri Raden Jaka Tingkir
Pangeran Sedang Gayam ( Dipati Carbon II ) Ratu Mataram : Putri senopati Mataram
Pangeran Karim ( Panembahan Ratu II/Panembahan Girilaya ) Putri Sultan Mataram : amangkurat I
 
Keterangan :
Pada masa pemerintahan Sultan Ke VI Pangeran Karim yang bergelar PANEMBAHAN GIRILAYA,Mataram yang sudah pro VOC mencurigai CIREBON telah merintis kekuasaan dengan Banten untuk memberontak.Karena itu Panembahan Girilaya diundang oleh mertuanya Sultan Mataram Amangkurat I dengan tanpa alasan sesuatu.Dalam memenuhi undangan mertuanya itu Panembahan Girilaya mengajak serta istrinya dean kedua putranya pangeran Martawijaya dan Pangeran Kertawijaya.Untuk sementara Kesultanan dimandatkan kepada Pangeran Wangsakerta putra yang termuda.
Undangan yang semula dikira sebagai rasa rindu orang tua terhadap anak menantu.Ternyata sebagai hukuman atas kecurigaan Mataram kepada Cirebon.Sunan Amangkurat I menahan Panembahan Girilaya untuk tidak kembali ke Cirebon selama-lamanya sampai meninggalnya dikubur di Bukit Wonogiri 1667 M.Dengan rasa menyesal dan penuh kesedihan kedua putranya kembali ke Cirebon untuk meneruskan tepuk kepemimpinan.
Kenyataannya setelah kembali ke Cirebon,ketiga orang putra itu masing-masing merasa berhak menggantikan ayahnya.Maka atas kebijakan Sultan Banten An Nashr Kohar yang sudah dianggap seketurunan,dipecahlah Kesultanan Pakungwati menjadi tiga bagian.Masing-masing kasepuhan dipegang oleh Pangeran Martawijaya,Kanoman oleh Pangeran Kertawijaya,Kacirebonan oleh Pangeran Wangsakerta.Kesemuanya terjadi masih dalam tahun 1667 M.
Untuk lebih menampakkan keislaman Pangeran Martawijaya kemudian bergelar Sultan raja Syamsudin,Pangeran Kertawijaya bergelar Sultan Moh.Badridin dan Pangeran wangsakerta mendapat sebutan Panembahan Tohpati.
Hal ini karena atas persetujuan bahwa yang memperoleh gelar Sultan itu hanya Kasepuhan dan Kanoman.

*Pangeran Moh.Arifin belum dikenal Kesultanannya Karena wafat pada tahun kelima dalam pengangkatannya.Demikin pula halnya pangeran Sedang Kamuning,sebab pengangkatannya hanya sebagai mengisi kekosongan dan bukan putra mahkota,maka kedaulatannya tidak banyak mendapat pengakuan keluar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar