Selasa, 23 Desember 2008

SUNDA MEWARNAI CIREBON

SUNDA MEWARNAI CIREBON 


UNTUK memasuki kompleks Keraton Kanoman pada siang hari harus berjuang keras. Keraton yang berada di Kelurahan Lemahwungkuk, Kota Cirebon tersebut terhalang Pasar Kanoman yang semrawut. Satu-satunya jalan menuju keraton juga dipenuhi pedagang kaki lima dan tukang becak. 

Teman saya wartawan Mitra Dialog, Undang Sunaryo, turun dari mobil untuk memandu dan "membersihkan" PKL serta tukang becak dari jalan tersebut. Beberapa pedagang ngedumel. Setelah melewati jalan padat sepanjang 100 meter, akhirnya kompleks keraton yang didominasi warna merah bata itu pun terlihat. Ya, Keraton Kanoman, yang seolah tenggelam oleh kekumuhan pasar.

"Oh, ini rupanya keraton yang tempo hari singgasananya jadi rebutan itu. Apa sih yang diperebutkan?" tanya saya ketika bertemu dengan TD Sudjana pekan lalu, di rumahnya yang sederhana di kompleks kerabat keraton. Lelaki tua berusia hampir 70 tahun itu tersenyum. "Sejarah kerajaan memang dipenuhi intrik, berebut pengaruh, berebut kekuasaan. Selalu saja begitu," tuturnya enteng.

Ketika gonjang-ganjing di Keraton Kanoman berlangsung, Sudjana cuma mengelus dada. Sebagai orang yang bergelut dengan naskah-naskah sejarah Kacirebonan, dia tahu persis bagaimana sebetulnya konflik serupa itu muncul dalam sejarah Kanoman, atau Kasepuhan dan Kacirebonan. Dia tahu baik buruknya orang-orang keraton.

"Ketika ada orang keraton yang merasa paling benar atau merasa paling sah disebut bangsawan, bersikap sombong, sebenarnya saya bisa saja ngajak ngobrol. Saya bisa katakan padanya, dulu kakek kamu itu perilakunya begini. Atau orang yang kamu banggakan itu sebenarnya begini. Nenek moyangmu tingkah lakunya gini. Tapi kalau saya blak-blakan, mereka pasti tersinggung," tuturnya.

Tapi separah apa pun persoalan di lingkungan keraton, tidak tercatat dipicu oleh kasus korupsi dan sejenisnya. Lebih sering disebabkan penyimpangan dalam kebijakan pemerintahan. Menurut naskah yang ada di Belanda, Keraton Kanoman pada zaman kolonial mendapat bantuan sebesar 6.000 gulden. Sebagai perbandingan, pejabat setingkat wedana saja hanya diberi 10 gulden.

Besarnya bantuan tersebut diberikan karena pemerintah kolonial ketika itu sangat memaklumi kebutuhan keraton, antara lain untuk memelihara berbagai situs. Ironisnya, pada zaman republik bantuan untuk keraton di Cirebon sangat kecil. Untuk membayar rekening listrik saja sungguh sulit. 

Diakuinya, keraton-keraton di Cirebon sebenarnya masih punya wibawa di tengah masyarakat, namun tidak lagi menjadi pusat semangat dinamika warganya. Pesonanya terus berkurang dan orang seperti tidak lagi bangga menjadi warga keraton.

Meski begitu, magersari (abdi dalem keraton) hingga saat ini masih saja ada dan bersedia bekerja tanpa dibayar. Begitu pula dengan lurah keraton, setiap hari bekerja tanpa kenal lelah meskipun tidak digaji. Mereka adalah para pengabdi sejati.

Tidak salah memang menemui Sudjana, jika ingin mengetahui seluk beluk sejarah Cirebon. Lelaki ini tidak ubahnya seperti kamus berjalan bagi mereka yang ingin mencari tahu lebih jauh tentang kota tersebut. Dia fasih betul menyebut naskah-naskah yang bercerita soal Cirebon, sekaligus menyebut secara detail tokoh-tokoh di dalamnya dan rentang masa yang dilaluinya.

Sudjana adalah salah satu dari sedikit orang Cirebon yang peduli dan memahami sejarah kotanya. Tidak heran jika para mahasiswa, peneliti, atau pejabat pemda, berdatangan ke rumahnya untuk keperluan yang berkaitan dengan sejarah Cirebon. Orang-orang menyebutnya sejarawan, budayawan, atau seniman. Padahal dia sangat risi dengan panggilan-panggilan tersebut. "Saya ini hanya pensiunan kepala seksi kebudayaan Dikbud Kota Cirebon. Pengetahuan soal sejarah diperoleh secara autodidak," ujarnya merendah. 

Dalam usia setua itu, yang separuh hidupnya digunakan untuk memburu naskah-naskah kuno, Sudjana kini merasa plong. Dia bisa bernapas lega karena "tidak ada keraguan lagi" soal sejarah Cirebon dalam konteks Jawa Barat. "Pak Djana, urang mah ayeuna geus plong yeuh. Teu ragu-ragu deui," ujar Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, sejarawan dari Unpad, suatu ketika, kepada Sudjana. 

Dulu, kata Sudjana, seperti ada garis pemisah antara orang Sunda dan orang Cirebon. Ada ganjalan psikologis, sehingga orang Sunda seperti mungkuran (membelakangi -red) orang Cirebon karena dianggap sebagai orang Jawa. Seperti ada rantai yang terputus.

"Lewat naskah-naskah kuno itu, kita mendapat penjelasan soal silsilah, ketokohan para pendahulu kita, hubungan darah dan sebagainya. Ya semuanya tuntas. Tidak diragukan lagi. Cirebon itu Sunda juga, ya Galuh juga. Bukan orang lain, hanya bahasanya yang beda," paparnya. 

Dalam berbagai tulisan yang mengungkap naskah-naskah kuno berkaitan dengan Cirebon atau Sunda, barangkali tidak akan ditemukan nama Sudjana. Padahal lewat tangannyalah banyak dokumen berharga tersebut dihimpun, dibaca, dan sampai ke tangan para ahli. 

Beberapa naskah penting dan menjadi acuan bagi penulisan sejarah Sunda, ditemukan di wilayah Cirebon. Sudjana terlibat dalam perburuan dokumen-dokumen tersebut. Misalnya naskah Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Cirebon yang ditemukan pada tahun 1972. Kemudian berbagai naskah dari abad ke-17 karya Pangeran Wangsakerta dari Cirebon. Lalu naskah Siksa Kandang Karesian, Sundayana, atau naskah-naskah Koropak Galunggung. 

Pada tahun 1970-an hingga 1980-an memang pencarian naskah giat dilakukan. Pada rentang waktu itu, Atja yang menjabat Kepala Kabid Permuseuman dan Kepurbakalaan Kanwil Depdikbud Jabar serta Kepala Museum Negeri Jabar (kini Museum Sri Baduga), memang sangat gandrung pada aktivitas tersebut. Naskah-naskah tersebut kini banyak disimpan di museum itu.

"Djan, urang nyukcruk yu neangan naskah. Kamana we lah," begitu ajakan Atja kepada Sudjana. Atja pula yang sering mendorongnya untuk terlibat lebih jauh dalam perburuan naskah dan sejarah Cirebon. Naskah Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Cirebon atau naskah-naska karya Pangeran Wangsakerta seperti Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara, Pustaka Pararatwan, atau Pustaka Nagarakretabhumi. Naskah-naskah yang disusun Pangeran Wangsakerta menjadi salah satu naskah yang terkenal.

Ketika naskah ini dipublikasikan, serta-merta memancing sikap pro dan kontra. Terjadi polemik berkepanjangan di media massa, antara Atja dan kawan-kawan yang membela naskah tersebut, dengan Boechari dkk. yang meragukannya. Para ahli yang pro menganggap naskah tersebut sebagai salah satu dokumen penting bagi penulisan sejarah Sunda. Sedangkan yang kontra meragukan naskah itu ditulis pada abad ke-17 karena itu dianggap palsu. Bahkan disebut-sebut sebagai "skandal ilmiah".

Sudjana dan Salana, dianggap menjadi "tersangka" dalam kasus tersebut. "Nah itulah kita, selalu silau dengan kehebatan Barat. Kita ini suka ngece, suka menghina diri kita sendiri, 'masak kita lebih pintar dari Barat?' Pangeran Wangsakerta diragukan karena dia lebih pintar dari orang Barat. Menurut saya naskah itu asli. Saya kira dia jenius di bidangnya. Dia sudah mampu memetakan pembagian zaman dengan istilah-istilah yang dibuatnya sendiri," kata Sudjana.

Melalui tulisannya, Wangsakerta secara rasional mengupas Raja Pajajaran terkenal yang bernama Prabu Siliwangi. Pangeran Wangsakerta tidak melakukan pendekatan-pendekatan yang muskil tentang tokoh besar dalam sejarah Sunda itu. Tidak kental bau mistik. Sebagaimana halnya sejarah modern, Wangsakerta menjelaskan secara rinci dan masuk akal.

Begitu juga saat menerangkan sosok Nyi Roro Kidul, tokoh misterius yang sering disebut-sebut sebagai penguasa Laut Kidul. Menurutnya, Roro Kidul adalah manusia biasa. Bukan dari golongan jin atau makhluk halus. Roro Kidul adalah sebutan bagi perempuan penguasa kerajaan yang terletak di selatan Keraton Jawa. Jadi bukan nama yang melekat pada seseorang saja. Tapi nama gelar seperti juga nama Hamengkubuwono.

Para perempuan penguasa ini, menganut Budha Kalachaka. Mereka menyembah 13 dewa. Wajah Roro Kidul terkenal rupawan. Menurut Wangsakerta, Sunan Kalijaga menikahi Roro Kidul ke-17 yang masuk Islam. Dari perkawinan ini lahir tiga putri, yang kemudian dinikahi tiga orang wali dari jajaran walisongo. Naskah Wangsakerta tentang Roro Kidul belum dipublikasikan secara luas. "Kalau sekarang, Roro Kidul kan dianggap penguasa dunia gaib di laut selatan. Banyak praktik klenik yang berkaitan dengan tokoh ini," katanya. 

**

TIDAK usah bertanya kepanjangan TD di depan nama Sudjana. Karena memang tidak ada artinya. "TD ya TD saja. Tidak ada artinya, bukan singkatan, tidak ada kepanjangannya," katanya. Dia berkisah, di Cirebon begitu banyak orang terkenal bernama Sudjana. Ada Sujana seniman topeng, Sujana seniman lukis, Sujana seniman ukir, dan banyak Sujana lainnya. Untuk membedakannya dari yang lain, dia menambahkan TD di depan namanya. Meski tidak ada makna apa-apa.

Sudjana lahir dari kalangan biasa. Ayahnya seorang guru mengaji merangkap kuncen Palangon, yakni tempat suaka kera di Sumber Cirebon. Dari pernikahannya dengan Ulfiah, yang meninggal pada tahun 1982, Sudjana memperoleh empat anak. 

"Setelah itu saya teh meunang parawan deui. Menikah dengan Ratu Purwanti yang masih kerabat keraton. Dari perkawinan ini mendapat enam anak," tuturnya. Lewat perkawinan kedua itulah Sudjana menjadi penghuni rumah tersebut. Dulu rumah itu didiami Ratu Raja Bunga, kakek Emiruddin, Sultan Kanoman saat ini. Dia pindah dari rumah lamanya di Jln. Pekawatan.

Lelaki kelahiran Cirebon 14 Agustus 1937 ini sempat kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sejak tahun 1959, dengan meraih gelar sarjana muda. Adalah dosennya bernama Notojayadiningrat yang pertama kali membawanya masuk ke dalam dunia sastra, bahasa, dan sejarah. Noto hidup sendirian dan meminta Sujana diam di rumahnya.

Di tempat kerja gurunya itulah, Sudjana melihat begitu banyak buku dalam berbagai bahasa. Notojayadiningrat juga yang memperkenalkannya pada bahasa Sansekerta dan Kawi. Setelah menyelesailkan studinya, Sudjana mencari peruntungan di Jakarta sebagai guru seni rupa hingga menjelang meletusnya G 30 S PKI. 

Begitu kembali ke Cirebon, Sudjana banyak menemukan naskah kuno, dan langsung jatuh cinta. Dasar-dasar bahasa Sansekerta dan Kawi pun diasahnya lagi secara autodidak. Kegemaran barunya itu lebih intensif dilakukan ketika dia menjabat sebagai kasi kebudayaan di Dikbud Kota Cirebon. Bersama Atja, Sudjana malang melintang memburu naskah ke berbagai tempat.

"Ternyata begitu banyak naskah yang berkaitan dengan Cirebon atau Sunda. Dokumen-dokumen itu ditemukan di berbagai tempat seperti Surabaya, Palembang, bahkan ada yang ditemukan di Kuala Lumpur dan Johor Malaysia," ujarnya.

Cara sampainya dokumen itu ke tangan Sudjana pun memiliki keunikan sendiri. Misalnya, tiba-tiba saja seseorang menelefon dan memberi tahu adanya naskah kuno. Komunikasi seperti itu berulang kali dilakukan, karena ujung-ujungnya menyangkut transaksi. Dia tidak memiliki dana yang diminta penelefon. Biasanya Sudjana menghubungi Atja untuk membicarakannya.

Lama-kelamaan, bisnis naskah kuno ini tercium juga oleh calo. Banyak orang yang datang ke rumahnya menjadi perantara jual beli dokumen tersebut. Harga naskah pun menjadi lebih mahal lagi. Para calo menawarkan angka Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta untuk satu naskah. Banyak di antara calo yang langsung datang kepada Atja di Bandung.

Kadang-kadang jika ada kekhawatiran naskah itu akan segera lari jika tidak dibeli, Sudjana tidak jarang menjual barang-barangnya untuk menalangi dulu pembayaran. Setelah itu baru meminta ganti kepada Atja. 

Dalam kurun waktu 5-6 tahun dia benar-benar disibukkan dalam dunia naskah kuno. Jika mendapatkan "barang baru", Sudjana mengaku seperti orang gila. "Ya, jiga kasetanan. Naskah itu langsung dibaca, diterjemahkan, tanpa ingat waktu. Kalau belum selesai, saya benar-benar gelisah. Di kantor baca naskah, di rumah juga begitu," tuturnya.

Dari catatan, diperkirakan tidak kurang dari 2.800 judul naskah yang menyangkut Cirebon. Dari jumlah tersebut, baru terkumpul sekira 600 judul naskah mengenai sejarah. Angka itu diketahui dari katalog yang ditulis sejumlah pengarang dalam buku-buku mereka.

** 

KINI Sudjana tidak muda lagi. Namun di balik usia yang menua dan tubuh kurus legamnya, masih tersimpan semangat besar untuk tetap mengabdikan hidupnya bagi kekayaan budaya Cirebon. Dia masih menekuni berbagai hal berkaitan dengan sejarah kotanya. Sudjana sadar benar, hanya sedikit orang yang memiliki perhatian pada bidang ini. Barangkali tidak lebih dari lima atau enam orang di Cirebon yang punya dedikasi seperti dirinya. 

Dengan terus terang Sudjana mengaku grogi dengan berbagai isu yang menyebutkan pelajaran sejarah akan dihapuskan dari bangku sekolah. "Wah gawat. Saya sudah kayak gini, kok malah pelajaran sejarah mau dihilangkan," ujarnya.

Sedikitnya sudah 15 buku yang ditulis Sudjana tentang berbagai hal mengenai Cirebon. Selain itu ratusan tulisan tersebar di bebagai media massa cetak. Namun dia menyesal, tidak rajin mengumpulkan tulisan-tulisan tersebut, padahal akan sangat bermanfaat jika dijadikan buku.

Ketika ditemui di rumahnya, Sudjana tengah mempersiapkan skenario untuk pementasan tahunan sendratari di Gua Sunyaragi. Skenario berjudul, "Palagan Puteri Selapandan" itu digelar pada 27 Agustus malam, dan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 

Sebenarnya skenario ini sudah dipentaskan pada tahun 1988, tapi pihak Yayasan Sunyaragi memintanya kembali. Sebab materinya sangat relevan dengan peranan kaum perempuan dalam masyarakat. Sudah 13 skenario dia kerjakan untuk pementasan rutin tersebut.

Kemampuan lain yang dimiliki Sudjana adalah membuat lukisan kaca dan dekoratif. Hingga kini masih ada orang yang memesan lukisannya, juga desain untuk bangunan rumah. Dalam sebulan ada dua atau tiga order yang dikerjakannya. 

"Tapi, sekarang terasa perubahan pada kemampuan saya. Kalau menarik garis lurus di atas kertas, tangan saya bergetar. Dulu hanya dalam sehari pesanan gambar rumah bisa selesai. Namun, untuk saat ini butuh beberapa minggu baru bisa rampung," keluhnya.

Matahari amat terik siang itu, ketika Sudjana mengantar kami ke luar halaman rumahnya. Alun-alun Kanoman penuh sampah. Tapi, banyak juga orang yang terlelap di bawah keteduhan pohon tua di sekitar keraton.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar