Jumat, 06 Maret 2009

KI RONGGOWARSITO DAN KARYA-KARYANYA


KI RONGGOWARSITO DAN KARYA-KARYANYA 

Pada hari Senin Legi tanggal 10 Zulkaidah tahun Jawa 1728 atau tanggal 15 Maret 1802 Masehi kurang lebih jam 12.00 siang lahirlah seorang bayi dirumah kakek yang bernama R. Ng. Yosodipuro I, seorang Pujangga Keraton yang terkenal dijamannya. Bayi yang baru lahir itu diberi nama Bagus Burham. Sejak umur 2 tahun sampai 12 tahun Bagus Burham ikut kakeknya.Ayahnya bernama R. Tumenggung Sastronegoro yang mengharapkan anaknya dikelak kemudian hari menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negaranya. Maka oleh sang ayah, Bagus Burham dikirim ketempat pendidikan yang memungkinkan dapat mendidik anaknya lebih baik dari dirinya sendiri.Waktu itu pondok Pesantren di kawasan Ponorogo yang dipimpin oleh Kyai Imam Besari terkanal sampai dipusat Kerajaan Surakarta. Kesanalah Bagus Burham dikirim untuk mendapatkan tambahan ilmu lahir batin serta keagamaan. Pondok Tegalsari yang dipimpin Kyai Imam Besari ini mempunyai murid yang banyak dan memiliki kepandaian yang pilih tanding. 

Bagus Burham berangkat ke Pesantren Tegalsari disertai embannya yang bernama Ki Tanujoyo.  

Ditempat yang baru itu Bagus Burham sangat malas. Ditambah lagi lebih suka menjalankan maksiat dari pada mengaji. Berjudi adalah merupakan pekerjaannya setiap hari. Juga pekerjaan maksiat yang lainnya. Adu ayam termasuk kesukaan yang tidak perbah diluangkan. Dari pada mengaji hari-harinya dihabiskan dimeja-meja judi dari satu desa ke desa lainnya. 

Sehingga terkenallah Bagus Burham bukan sebagai santri yang soleh tetapi sebagai penjudi ulung dikalangan orang-orang di daerah Ponorogo. Dasar seorang anak Tumenggung, uang banyak dan biasanya dimanja oleh orang tua atau kakeknya. Karena kegemarannya bermain judi, adu ayam dan perbuatan-perbuatan maksiat yang lain Bagus Burham banyak berkenalan 
dengan warok-warok Ponorogo yang satu kegemaran. 

Perbuatan putra Tumenggung ini sangat merepotkan hari Kyai Imam Besari. Diharapkan seorang putra priyayi keraton ini akan memberi suri teladan bagi murid-murid (santri-santri) yang lein tetapi ternyata sebaliknya.Seringkali Bagus Burham mendapat teguran dan marah dari Kyai Besari. Namun hal itu tidak merubah sifatnya. Dia tetap penjudi, tetap penyabung ayam, tetap gemar pada tindakan-tindakan yang menjurus ke maksiat. Karena merasa bosan setiap hari mendapat dampratan dari gurunya maka Bagus Burham perni meninggalkan pondok Tegalsari diikuti oleh Ki Tanujoyo. 

(Versi lain mengatakan bahwa kepergian Bagus Burham karena Kyai Imam Besari merasa jengkel akan ulah Bagus Burham. Kemudian pimpinan pondok Tegalsari itu memanggil abdi kinasih Ki Tanujoyo dan menseyogyakan Bagus Burham tidak usah belajar mengaji di pondok Tegalsari). 

Meninggalkan pondok Tegalsari Bagus Burham tidak mau pulang ke Solo. Dengan diiring oleh oleh abdinya yang bernama Ki Tanujoyo. Bagus Burham bertualang sampai di Madiun. Ditempat itu uang sakunya habis. Ki Tanujoyo kemudian berdagang barang loakan. Sedangkan Bagus Burham tetap pada kegemarannya semula. Betapa bingungnya Raden Tumenggung Sastronegoro tatkala mendapat laporan Kyai Imam Besari bahwa puteranya pergi dari Tegalsari. Kemudian dipanggillah di Josono agar mencari Bagus Burham sampai ketemu. Bila ketemu agar diajal kembali ke Tegalsari. Kyai Imam Besari kembali dari Keraton Solo mendapat laporan dari penduduk Tegalsari bahwa sekarang daerah Tegalsari tidak aman. Banyak pencuri serta tanaman diserang hama. Kyai Imam Besari memohon petunjuak dari Tuhan. Mendapatkan ilham bahwa keadaan daerahnya akan kembali aman damai apabila Bagus Burham kembali ke Tegalsari lagi. Oleh karena itu Kyai Imam Besari segera mengutus ki Kromoleyo agar supaya berangkat mencari kemana gerangan perginya Bagus Burham. Bagi Ki Kromoleyo bukan pekerjaan yang sulit mencari Bagus Burham. Sebab dia tahu kehidupun macam apa yang digemari Bagus Burham. Tempat judi, tempat adu ayam. Itulah sasaran Ki Kromoleyo. 

Pada penjudi dan pengadu ayam ditanyakan apakah kenal dengan pemuda yang bernama Bagus Burham. Orangnya tampan. Jejak Bagus Burham akhirnya terbau juga. Ki Kromoleyo dapat menemukan Bagus Burham dan mengajak kembali ke Tegalsari. Namun Bagus Burham tidak mau. Karena bujukan Ki Josono utusan orang tuanya yang kebetulan juga sudah menemukan tempat Bagus Burham maka kembalilah Bagus Burham ke Tegalsari. 

Kyai Imam Besari menghadapi Bagus Burham dengan cari lain. Sebab ternyata sekembalinya dari petualangannya Bagus Burham bukan semakin rajin mengaji tetapi semakin boglok dan bodoh. Tampaknya. Menghadapi murid yang demikian Kyai yang sudah berpengalaman itu lalu mengambil jalan lain. Bagus Burham tidak langsung tidak langsung diajar mengaji seperti santri-santri yang lain. Dia bukan keturunang orang biasa tetapi masuk memiliki darah satriya. Maka tidak mengherankan kalau dia juga memiliki/mewarisi sifat-sifat leluhurnya. Gemar sekali kepada hal-hal yang memperlihatkan kejantanan seperti adu ayam dan lain sebagainya.  

Menurut serat “CANDRA KANTHA” buatan Raden Ngabehi Tjondropradoto antara lain menyebutkan bahwa : Raden Patah berputera R. Tejo ( Pangeran Pamekas). Pangeran Pamekas berputra Panembahan Tejowulan di Jogorogo. 

Panembahan Tejowulan berputra Tumenggung Sujonoputro seorang pujangga keraton Pajang. Kemudian Raden Tumenggung Sujonoputro berputra Tumenggung Tirtowiguno. Sedangkan Tumenggung Tirtowiguno ini mempunyai putra R. Ng. Yosodipuro I pujangga keraton Surakarta. Kemudian sang pujangga berputra R. Ng. Yosodipuro II (Raden Tumenggung Sastronegoro) ayah dari Bagus Burham. (Dari sumber lain menyebutkan bahwa R. Tumenggung Sastronegoro bukan ayah Bagus Burham tetapi kakeknya. Ayahnya bernama Mas Ngebehi Ronggowarsito Panewu Carik Kadipaten Anom). Dari silsilah tersebut diketahui bahwa Bagus Burham masih ada keturunan darah raja. Darah bangsawan yang biasanya sangat suka adu jago tetapi gemar melakukan tapa brata. Kesinilah Imam Kyai Besari mengarahkan. Disamping diberi pelajaran mengaji seperti murid yang lain maka Bagus Burham juga disuruh melakukan “tapa kungkum”. Dari sini terbukalah hati Bagus Burham. Dikeheningan malam, dengen gemriciknya suara air, diatasnya bintang-bintang berkelap-kelip seolah-oleh menyadarkan Bagus Burham yang usianya juga sudah semakin dewasa itu.

Setelah menjalani tapa kungkum selama 40 hari lamanya maka Bagus Burham tumbuh menjadi anak yang pandai. Kyai Imam Besari tersenyum lega melihat perkembangan anak asuhnya yang paling bengal itu. Terapinya kena sekali.

Padahal terapi itu hanya berdasarkan dongenn yang pernah didengarnya. Bahwa dahulu kala ada seorang pemuda yang bengal, nakal, penjudi, pemalas, perampok yang bernama Ken Arok. Namun karena ketekunan seorang pendidik yang bernama Loh Gawe maka akhirnya Ken Arok enjadi raja di Singosari. Menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa. Dari Mojopahit sampai ke Surakarta semua menurut silsilah masih keturunan langsung dari Ken Arok. 

Dan R. Patah pun keturunan Ken Arok. Jadi Bagus Burham juga keturunan Ken Arok. Siapa tahu kenakalannya juga turunan yang dikelak kemudian hari akan menjadi orang yang luar biasa. Bagus Burham menjadi murid yang terpandai.

Selama 4 tahun dipondok Tegalsari ilmu gurunya sudah terkuran habis. Tidak ada sisanya lagi. Kyai Imam Besari memuji keluhuran Tuhannya. Dia melimpahkan habis ilmunya kepada muridnya. Setelah dirasa cukup maka Bagus Burham kembali ke Surakarta. Oleh tuanya Bagus Burham disuruh langsung ke Demak untuk belajar mengenal sastra Arab dan kebatinan jawa pada Pangeran Kadilangu.

Apakah ayahnya punya maksud agar kelak anaknya dapat menandingi kepandaian rajanya ? 
Bagus Burham seorang kutu buku yang luar biasa. Dengan bekal kepandaian yang dimiliki dari beberapa guru-gurunya, Bagus Burham kemudian menekuni soal kesusastraan Jawa serta peninggalan-peninggalan nenek moyang. Buku-buku berbahasa kawi kuna ditelaah dan dipelajarai sebaik-baiknya. 

Jiwa petualang masih juga membara dalam kalbunya. Dia seringkali mengadakan perjalanan dari satu daerah kedaerah yang lain. Bagus Burham meninjau tempat-tempat yang bersejarah, tempat-tempat yang mengandung nilai-nilai historis, tempat-tempat yang keramat, ke candi-candi dan tempat-tempat penting lainnya. Disembarang tempat dipelbagai daerah kalau dianggap ada orang yang memiliki kepandaian lebih maka tidak malu-malu Bagus Burham berguru para orang tersebut. Tidak peduli dia hanyalah seorang juru kunci atau orang biasa. 

Pada usia 18 tahun sebagaimana kebiasaan anak priyayi waktu itu ingin mengabdikan dirinya kepada keraton. Caranya haruslah dengan magang (pegawai percobaan) pada Kadipaten Anom. 
Jiwa senimannya atau darah kepujanggaannya terasa mengalir deras ditubuhnya. TIdak merasa puas dengan pekerjaan magang tersebut. Maka Bagus Burham mohon pamit sebab dirasa tidak ada kemajuan. Dia ingin mengembara ingin bertualan menuruti gejolak darah senimannya. Hampir seluruh pelosok pulau Jawa telah dijelajahi oleh Bagus Burham. Bahkan juga luar jawa sepeti Bali, Lombok, Ujung Pandang, Banjarmasin bahkan ada sumber yang mengatakan pengembaraan Bagus Burham sampai di India dan Srilanka. Melihat perjalanan hidupnya seperti tersebut diatas pantaslah kalau Bagus Burham menjadi manusia yang kritis menghadapi suatu persoalan. (Ungkapan perasaannya tampak ada karyanya ” Serat Kala Tida “. 

Pulang dari pengembarannya Bagus Burham kawin. Karena sang mertua diangkat menjadi Bupati di Kediri maka Bagus Burhampun mengikuti ke Kediri. Ditempat tersebut yang terkenal sebagai tempat bersejarah banyak peninggalan-peninggalan dari jaman terdahulu. Di Kediri pernah berdiri kerajaan besar dimana salah satu rajanya adalah Sang Prabu Joyoboyo. Waktu sang prabu berkuasa agaknya keadaan negara sangat tenteram dan damai terbukti lahirnya beberapa karya sastra besar. 

Sang Prabu memerintahkan kepada Empu Sedah dan Empu Panuluh agar menceritakan kembali atau menyusun ceritera BARATAYUDAHA dalam bahasa yang lebih muda diambil dari buku Maha Barata asli dari India. Demikian indahnya gubahan tersebut sehingga banyak yang mengira bahwa kejadian itu terjadi di tanah Jawa. Sebelum raja Joyoboyo, di Kediri juga lahir hasil sastra yang tinggi mutunya. Smara Dahana kitab karya Empu Darmaja, juga buku Sumana Sentaka karya Triguna merupakan hasil sastra yang sulit dicari bandingannya. Di daerah yang seperti itu tentu saja banyak peninggalan-peninggalan berupa rontal-rontal yang dimiliki penduduk warisan dari nenek moyang. Dengan tekun Bagus Burham di Kediri waktunya dihabiskan untuk mempelajari rontal-rontal yang dapat dikumpulkan dari perbagai daerah. Dari rontal-rontal, pengalaman/pengetahuan selama mengembara dan berguru itulah dia dapat menimba pelbagai ilmu. 

Baru setelah Bagus Burham berumur 38 tahun mulai produktif dengan karya sastranya. Dan pada tahun 1844 pihak keraton mengangkat menjadi Kliwon Carik dan disyahkan menjadi Pujangga Keraton. Namanya Raden Ngabehi Ronggowarsito dan semakin tenar. Kariernya tidak licin sebab agaknya juga dipengaruhi bahwa orang tuanya (Raden Tumenggung Sastronegoro) dianggap bersalah kepada kompeni Belanda sebab pernah merencanakan akan menggempur benteng Kompeni diwaku jaman pemberontakan Diponegoro (1825-1830). Akhirnya R.T. Sastronegoro dibuang dan makamnya ada di Jakarta.  

SERAT JOKO LODANG 
Gambuh 
1. Jaka Lodang gumandhul 
Praptaning ngethengkrang sru muwus 
Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi 
Gunung mendhak jurang mbrenjul 
Ingusir praja prang kasor 

Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon 
kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras. 
Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan 
bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah 
sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan 
(akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir 
dari negerinya. 

2.Nanging awya kliru 
Sumurupa kanda kang tinamtu 
Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti 
Maksih katon tabetipun 
Beda lawan jurang gesong 

Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini. 
Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung 
akan tetap masih terlihat bekasnya. 
Lain sekali dengan jurang yang curam. 

3. Nadyan bisa mbarenjul 
Tanpa tawing enggal jugrugipun 
Kalakone karsaning Hyang wus pinasti 
Yen ngidak sangkalanipun 
Sirna tata estining wong 

Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung, 
namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor. 
(Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi. 
Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik 
tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan). 
Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan 
akan terjadi pada tahun Jawa 1850. 
(Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1). 
Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920. 

Sinom 
1. Sasedyane tanpa dadya 
Sacipta-cipta tan polih 
Kang reraton-raton rantas 
Mrih luhur asor pinanggih 
Bebendu gung nekani 
Kongas ing kanistanipun 
Wong agung nis gungira 
Sudireng wirang jrih lalis 
Ingkang cilik tan tolih ring cilikira 

Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud, 
apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan, 
segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah, 
karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan. 
Yang tampak hanyalah perbuatan-perbuatan tercela. 
Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada 
mati, 
sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya. 

2. Wong alim-alim pulasan 
Njaba putih njero kuning 
Ngulama mangsah maksiat 
Madat madon minum main 
Kaji-kaji ambataning 
Dulban kethu putih mamprung 
Wadon nir wadorina 
Prabaweng salaka rukmi 
Kabeh-kabeh mung marono tingalira 

Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka. 
Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak. 
Banyak ulama berbuat maksiat. 
Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi. 
Para haji melemparkan ikat kepala hajinya. 
Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda. 
Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan. 

3. Para sudagar ingargya 
Jroning jaman keneng sarik 
Marmane saisiningrat 
Sangsarane saya mencit 
Nir sad estining urip 
Iku ta sengkalanipun 
Pantoging nandang sudra 
Yen wus tobat tanpa mosik 
Sru nalangsa narima ngandel ing suksma 

Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut. 
Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin 
menjadi-jadi. 
Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1). 
Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930. 
Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan 
diri 
kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam. 

Megatruh 
1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu 
Jaka Lodang nabda malih 
Nanging ana marmanipun 
Ing waca kang wus pinesthi 
Estinen murih kelakon 

Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih. 
Kemudian Joko Lodang berkata lagi : 
“Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab, 
didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya 
segera dan dapat terjadi “. 

2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun 
Neng sajroning madya akir 
Wiku Sapta ngesthi Ratu 
Adil parimarmeng dasih 
Ing kono kersaning Manon 

Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman. 
Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1). 
Bertepatan dengan tahun Masehi 1945. 
Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan. 

3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk 
Malenuk samargi-margi 
Marmane bungah kang nemu 
Marga jroning kethuk isi 
Kencana sesotya abyor 

Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong 
kecil) 
yang berada banyak dijalan. 
Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut 
isinya tidak lain emas dan kencana. 

SERAT SABDO JATI 
Megatruh 
1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu 
MarGAne suka basuki 
Dimen luWAR kang kinayun 
Kalising panggawe SIsip 
Ingkang TAberi prihatos 

Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan, 
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala 
cita-cita, 
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar 
prihatin. 

2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh 
Galedehan kang sayekti 
Talitinen awya kleru 
Larasen sajroning ati 
Tumanggap dimen tumanggon 

Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama, 
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati, 
agar mudah menanggapi sesuatu. 

3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu 
Angayomi ing tyas wening 
Eninging ati kang suwung 
Nanging sejatining isi 
Isine cipta sayektos 

Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan, 
mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini 
kosong 
namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati. 

4. Lakonana klawan sabaraning kalbu 
Lamun obah niniwasi 
Kasusupan setan gundhul 
Ambebidung nggawa kendhi 
Isine rupiah kethon 

Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran. 
Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan) 
akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul, 
yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak. 

5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu 
Dadi panggonaning iblis 
Mlebu mring alam pakewuh 
Ewuh mring pananing ati 
Temah wuru kabesturon 

Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan, 
sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan 
kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan 
itikad hati yang baik, 
seolah-olah mabuk kepayang. 

6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu 
Hayuning tyas sipat kuping 
Kinepung panggawe rusuh 
Lali pasihaning Gusti 
Ginuntingan dening Hyang Manon 

Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan 
yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya, 
sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek. 
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping. 

7. Parandene kabeh kang samya andulu 
Ulap kalilipen wedhi 
Akeh ingkang padha sujut 
Kinira yen Jabaranil 
Kautus dening Hyang Manon 

Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir, 
tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga 
yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan. 

8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh 
Kewuhan sajroning ati 
Yen tiniru ora urus 
Uripe kaesi-esi 
Yen niruwa dadi asor 

Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran 
melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan 
tercela akhirnya menjadi sengsara. 

9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung 
Anggelar sakalir-kalir 
Kalamun temen tinemu 
Kabegjane anekani 
Kamurahane Hyang Manon 

Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan 
langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan 
kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya. 

10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun 
Yen temen-temen sayekti 
Dewa aparing pitulung 
Nora kurang sandhang bukti 
Saciptanira kelakon 

Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan 
setulus hati. 
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi 
segala cita-cita dan kehendaknya tercapai. 

11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur 
Saka pengunahing Widi 
Ambuka warananipun 
Aling-aling kang ngalingi 
Angilang satemah katon 

Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung 
yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui. 

12. Para jalma sajroning jaman pakewuh 
Sudranira andadi 
Rahurune saya ndarung 
Keh tyas mirong murang margi 
Kasekten wus nora katon 

Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan, 
cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela, 
makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan 
diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak. 

13. Katuwane winawas dahat matrenyuh 
Kenyaming sasmita sayekti 
Sanityasa tyas malatkunt 
Kongas welase kepati 
Sulaking jaman prihatos 

Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan 
tersebut, 
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut. 

14. Waluyane benjang lamun ana wiku 
Memuji ngesthi sawiji 
Sabuk tebu lir majenum 
Galibedan tudang tuding 
Anacahken sakehing wong 

Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877 
(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 
1945). 
Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila, 
hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang. 

15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu 
Kala Suba kang gumanti 
Wong cilik bisa gumuyu 
Nora kurang sandhang bukti 
Sedyane kabeh kelakon 

Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba. 
Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan 
makan 
seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.  

16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput 
Mulur lir benang tinarik 
Nanging kaseranging ngumur 
Andungkap kasidan jati 
Mulih mring jatining enggon 

Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai, 
bagaikan menarik benang dari ikatannya. 
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir 
datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini. 

17.Amung kurang wolung ari kang kadulu 
Tamating pati patitis 
Wus katon neng lokil makpul 
Angumpul ing madya ari 
Amerengi Sri Budha Pon 

Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya, 
kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon. 

18. Tanggal kaping lima antarane luhur 
Selaning tahun Jimakir 
Taluhu marjayeng janggur 
Sengara winduning pati 
Netepi ngumpul sak enggon 

Tanggal 5 bulan Sela 
(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu, 
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873) 
kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan 
sang Pujangga kembali menghadap Tuhan. 

19. Cinitra ri budha kaping wolulikur 
Sawal ing tahun Jimakir 
Candraning warsa pinetung 
Sembah mekswa pejangga ji 
Ki Pujangga pamit layoti 

Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802. 
(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 
1873). 

SERAT KALATIDA 
Sinom 
1. Mangkya darajating praja 
Kawuryan wus sunyaturi 
Rurah pangrehing ukara 
Karana tanpa palupi 
Atilar silastuti 
Sujana sarjana kelu 
Kalulun kala tida 
Tidhem tandhaning dumadi 
Ardayengrat dene karoban rubeda 

Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot. 
Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat 
diikuti lagi. 
Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama. 
Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh 
keragu-raguan). 
Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan. 

2. Ratune ratu utama 
Patihe patih linuwih 
Pra nayaka tyas raharja 
Panekare becik-becik 
Paranedene tan dadi 
Paliyasing Kala Bendu 
Mandar mangkin andadra 
Rubeda angrebedi 
Beda-beda ardaning wong saknegara 

Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, 
Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka 
masyarakat baik, 
namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan. 
Oleh karena daya jaman Kala Bendu. 
Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi. 
Lain orang lain pikiran dan maksudnya. 

3.Katetangi tangisira 
Sira sang paramengkawi 
Kawileting tyas duhkita 
Katamen ing ren wirangi 
Dening upaya sandi 
Sumaruna angrawung 
Mangimur manuhara 
Met pamrih melik pakolih 
Temah suka ing karsa tanpa wiweka 

Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh kesedihan, 
mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang. 
Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur 
sehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan tidak waspada. 

4.Dasar karoban pawarta 
Bebaratun ujar lamis 
Pinudya dadya pangarsa 
Wekasan malah kawuri 
Yan pinikir sayekti 
Mundhak apa aneng ngayun 
Andhedher kaluputan 
Siniraman banyu lali 
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka 

Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu. 
Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar, 
bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali. 
Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin ? 
Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja. 
Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah 
kerepotan. 

5. Ujaring panitisastra 
Awewarah asung peling 
Ing jaman keneng musibat 
Wong ambeg jatmika kontit 
Mengkono yen niteni 
Pedah apa amituhu 
Pawarta lolawara 
Mundhuk angreranta ati 
Angurbaya angiket cariteng kuna 

Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya sudah ada peringatan. 
Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang yang berbudi 
tidak terpakai. 
Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya meyakini kabar angin 
akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya 
kisah jaman dahulu kala. 

6. Keni kinarta darsana 
Panglimbang ala lan becik 
Sayekti akeh kewala 
Lelakon kang dadi tamsil 
Masalahing ngaurip 
Wahaninira tinemu 
Temahan anarima 
Mupus pepesthening takdir 
Puluh-Puluh anglakoni kaelokan 

Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala, 
guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul. 
Sebenarnya banyak sekali contoh -contoh dalam kisah-kisah lama, 
mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya “nrima” 
dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan. 
Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh. 

7. Amenangi jaman edan 
Ewuh aya ing pambudi 
Milu edan nora tahan 
Yen tan milu anglakoni 
Boya kaduman melik 
Kaliren wekasanipun 
Ndilalah karsa Allah 
Begja-begjane kang lali 
Luwih begja kang eling lawan waspada 

Hidup didalam jaman edan, memang repot. 
Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya 
jaman 
tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan. 
Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang 
lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa 
ingat dan waspada. 

8. Semono iku bebasan 
Padu-padune kepengin 
Enggih mekoten man Doblang 
Bener ingkang angarani 
Nanging sajroning batin 
Sejatine nyamut-nyamut 
Wis tuwa arep apa 
Muhung mahas ing asepi 
Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma 

Yah segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan ? 
Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian. 
Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua, 
apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari 
Tuhan. 

9.Beda lan kang wus santosa 
Kinarilah ing Hyang Widhi 
Satiba malanganeya 
Tan susah ngupaya kasil 
Saking mangunah prapti 
Pangeran paring pitulung 
Marga samaning titah 
Rupa sabarang pakolih 
Parandene maksih taberi ikhtiyar 

Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan. 
Bagaimanapun nasibnya selalu baik. 
Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah. 
Namun demikian masih juga berikhtiar. 

10. Sakadare linakonan 
Mung tumindak mara ati 
Angger tan dadi prakara 
Karana riwayat muni 
Ikhtiyar iku yekti 
Pamilihing reh rahayu 
Sinambi budidaya 
Kanthi awas lawan eling 
Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma 

Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan 
persoalan. 
Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib 
ikhtiar, 
hanya harus memilih jalan yang baik. 
Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan 
waspada agar mendapat rakhmat Tuhan. 

11. Ya Allah ya Rasulullah 
Kang sipat murah lan asih 
Mugi-mugi aparinga 
Pitulung ingkang martani 
Ing alam awal akhir 
Dumununging gesang ulun 
Mangkya sampun awredha 
Ing wekasan kadi pundi 
Mula mugi wontena pitulung Tuwan 

Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih, 
mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang 
akhir ini. 
Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana. 
Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami. 

12. Sageda sabar santosa 
Mati sajroning ngaurip 
Kalis ing reh aruraha 
Murka angkara sumingkir 
Tarlen meleng malat sih 
Sanityaseng tyas mematuh 
Badharing sapudhendha 
Antuk mayar sawetawis 
BoRONG angGA saWARga meSI marTAya 

Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa, 
seolah-olah dapat mati didalam hidup. 
Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan. 
Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan 
sekedarnya. 
Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami. 


SABDA TAMA 
Gambuh 
1. Rasaning tyas kayungyun 
Angayomi lukitaning kalbu 
Gambir wanakalawan hening ing ati 
Kabekta kudu pitutur 
Sumingkiring reh tyas mirong 

Tumbuhlah suatu keinginan melahirkan perasaan dengan hati yang hening 
disebabkan ingin memberikan petuah-petuah agar dapat menyingkirkan hal-hal 
yang salah. 

2. Den samya amituhu 
Ing sajroning Jaman Kala Bendu 
Yogya samyanyenyuda hardaning ati 
Kang anuntun mring pakewuh 
Uwohing panggawe awon 

Diharap semuanya maklum bahwa dijaman Kala Bendu 
sebaiknya mengurangi nafsu pribadi yang akan membenturkan kepada 
kerepotan. 
Hasilnya hanyalah perbuatan yang buruk. 

3.Ngajapa tyas rahayu 
Nyayomana sasameng tumuwuh 
Wahanane ngendhakke angkara klindhih 
Ngendhangken pakarti dudu 
Dinulu luwar tibeng doh 

Sebaiknya senantiasa berbuat menuju kepada hal-hal yang baik. 
Dapat memberi perlindungan kepada siapapun juga. 
Perbuatan demikian akan melenyapkan angkara murka, 
melenyapkan perbuatan yang bukan-bukan dan terbuang jauh. 

4. Beda kang ngaji mumpung 
Nir waspada rubedane tutut 
Kakinthilan manggon anggung atut wuri 
Tyas riwut ruwet dahuru 
Korup sinerung agoroh 

Hal ini memang lain dengan yang ngaji pumpung. 
Hilang kewaspadaannya dan kerepotanlah yang selalu dijumpai, 
selalu mengikuti hidupnya. Hati senantiasa ruwet karena selalu berdusta. 

5. Ilang budayanipun 
Tanpa bayu weyane ngalumpuk 
Sakciptane wardaya ambebayani 
Ubayane nora payu 
Kari ketaman pakewoh 

Lenyap kebudayaannya. Tidak memiliki kekuatan dan ceroboh. 
Apa yang dipikir hanyalah hal-hal yang berbahaya. 
Sumpah dan janji hanyalah dibibir belaka tidak seorangpun mempercayainya. 
Akhirnya hanyalah kerepotan saja. 

6. Rong asta wus katekuk 
Kari ura-ura kang pakantuk 
Dandanggula lagu palaran sayekti 
Ngleluri para leluhur 
Abot ing sih swami karo 

Sudah tidak berdaya. Hanya tinggallah berdendang. 
Mendendangkan lagu dandang gula palaran hasil karya nenek moyang dahulu 
kala, 
betapa beratnya hidup ini seperti orang dimadu saja. 

7. Galak gangsuling tembung 
Ki Pujangga panggupitanipun 
Rangu-rangu pamanguning reh harjanti 
Tinanggap prana tumambuh 
Katenta nawung prihatos 

Ki Pujangga didalam membuat karyanya mungkin ada kelebihan dan 
kekurangannya. 
Olah karena itu ada perasaan ragu-ragu dan khawatir, 
barangkali terdapat kesalahan/kekeliruan tafsir, sebab sedang prihatin. 

8. Wartine para jamhur 
Pamawasing warsita datan wus 
Wahanane apan owah angowahi 
Yeku sansaya pakewuh 
Ewuh aya kang linakon 

Menurut pendapat para ahli, wawasan mereka keadaan selalu berubah-ubah. 
Meningkatkan kerepotan apa pula yang hendak dijalankan. 

9. Sidining Kala Bendu 
Saya ndadra hardaning tyas limut 
Nora kena sinirep limpating budi 
Lamun durung mangsanipun 
Malah sumuke angradon 

Azabnya jaman Kala Bendu, makin menjadi-jadi nafsu angkara murka. 
Tidak mungkin dikalahkan oleh budi yang baik. 
Bila belum sampai saatnya akibatnya bahkan makin luar biasa. 

10. Ing antara sapangu 
Pangungaking kahanan wus mirud 
Morat-marit panguripaning sesami 
Sirna katentremanipun 
Wong udrasa sak anggon-anggon 

Sementara itu keadaan sudah semakin tidak karu-karuwan, 
penghidupan semakin morat-marit, tidak ketenteraman lagi, kesedihan 
disana-sini. 

11. Kemang isarat lebur 
Bubar tanpa daya kabarubuh 
Paribasan tidhem tandhaning dumadi 
Begjane ula dahulu 
Cangkem silite angaplok 

Segala dosa dan cara hancur lebur, seolah-olah hati dikuasai ketakutan. 
Yang beruntung adalah ular berkepala dua, sebab kepala serta buntutnya 
dapat makan. 

12. Ndhungkari gunung-gunung 
Kang geneng-geneng padha jinugrug 
Parandene tan ana kang nanggulangi 
Wedi kalamun sinembur 
Upase lir wedang umob 

Gunung-gunung digempur, yang besar-besar dihancurkan 
meskipun demikian tidak ada yang berani melawan. 
Sebab mereka takut kalau disembur (disemprot ular) berbisa. 
Bisa racun ular itu bagaikan air panas. 

13. Kalonganing kaluwung 
Prabanira kuning abang biru 
Sumurupa iku mung soroting warih 
Wewarahe para Rasul 
Dudu jatining Hyang Manon 

Tetapi harap diketahui bahwa lengkungan pelangi yang 
berwarna kuning merah dan biru sebenarnya hanyalah cahaya pantulan air. 
Menurut ajaran Nabi itu bukanlah Tuhan yang sebenarnya. 

14. Supaya pada emut 
Amawasa benjang jroning tahun 
Windu kuning kono ana wewe putih 
Gegamane tebu wulung 
Arsa angrebaseng wedhon 

Agar diingat-ingat. Kelak bila sudah menginjak tahun windu kuning 
(Kencana) akan ada wewe putih (setan putih), yang bersenjatakan tebu hitam 
akan menghancurkan wedhon (pocongan setan). 
(Sebuah ramalan yang perlu dipecahkan). 

15. Rasa wes karasuk 
Kesuk lawan kala mangsanipun 
Kawises kawasanira Hyang Widhi 
Cahyaning wahyu tumelung 
Tulus tan kena tinegor 

Agaknya sudah sampai waktunya, karena kekuasaan Tuhan telah datang jaman 
kebaikan, tidak mungkin dihindari lagi. 

16, Karkating tyas katuju 
Jibar-jibur adus banyu wayu 
Yuwanane turun-temurun tan enting 
Liyan praja samyu sayuk 
Keringan saenggon-enggon 

Kehendak hati pada waktu tersebut hanya didasarkan kepada ketentraman 
sampai ke anak cucu. Negara-negara lain rukun sentosa dan dihormati 
dimanapun. 

17. Tatune kabeh tuntun 
Lelarane waluya sadarum 
Tyas prihatin ginantun suka mrepeki 
Wong ngantuk anemu kethuk 
Isine dinar sabokor 

Segala luka-luka (penderitaan) sudah hilang. 
Perasaan prihatin berobah menjadi gembira ria. 
Orang yang sedang mengantuk menemukan kethuk (gong kecil) 
yang berisi emas kencana sebesar bokor. 

18. Amung padha tinumpuk 
Nora ana rusuh colong jupuk 
Raja kaya cinancangan angeng nyawi 
Tan ana nganggo tinunggu 
Parandene tan cinolong 

Semua itu hanya ditumpuk saja, tidak ada yang berbuat curang maupun yang 
mengambil. Hewan piraan diikat diluar tanpa ditunggu namun tidak ada yang 
dicuri. 

19. Diraning durta katut 
Anglakoni ing panggawe runtut 
Tyase katrem kayoman hayuning budi 
Budyarja marjayeng limut 
Amawas pangesthi awon 

Yang tadinya berbuat angkara sekarang ikut pula berbuat yang baik-baik. 
Perasaannya terbawa oleh kebaikan budi. Yang baik dapat menghancurkan yang 
jelek. 

20. Ninggal pakarti dudu 
Pradapaning parentah ginugu 
Mring pakaryan saregep tetep nastiti 
Ngisor dhuwur tyase jumbuh 
Tan ana wahon winahon 

Banyak yang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang kurang baik. Mengikuti 
peraturan-peraturan pemerintah. Semuanya rajin mengerjakan tugasnya 
masing-masing. Yang dibawah maupun yang diatas hatinya sama saja. Tidak 
ada yang saling mencela. 

21.Ngratani sapraja agung 
Keh sarjana sujana ing kewuh 
Nora kewran mring caraka agal alit 
Pulih duk jaman runuhun 
Tyase teteg teguh tanggon 

Keadaan seperti itu terjadi diseluruh negeri. Banyak sekali orang-orang 
ahli dalam bidang surat menyurat. Kembali seperti dijaman dahulu kala. 
Semuanya berhati baja. 


RAMALAN JOYOBOYO 

Badan Penerbit Kwa Giok Djing, Kudus, 
Sapta Pujangga dan Sejarah Indonesia, hal. 55-68 
Rawa dadi pada dadi bera 
Iblis jalma manungsa 
Iblis menjelis 
manungsa sara 

Wong salah bungah-bungah 
Wong bener thenger-thenger.  

Miturut ramalan saka Prabu Noto Aji Joyoboyo, yen wiwit Tanah Jawa diisi 
manungsa kaping pindone sahingga besuk tekane Kiamat Kubra (gantining 
Jaman), arep ngalami 2100 Taun Surya utawa 2163 taun candra, kang kabagi 
dadi telung periode jaman gedhe utawa diwastani TRIKALI.  

Periode Jaman gedhe mau siji-sijine kabagi meneh dadi Pitung Jaman Cilik 
utawa kang kasebut SAPTA MALOKO. 
Trikali kabagi dadi telu yaiku : 
1. Kalisura (Jaman Alam Kaluhuran) suwene 700 Taun Surya. 
2. Kalijaga (Jaman Panguripan) suwene 700 Taun Surya. 
3. Kalisengoro (Jaman Ngalam Tirta) suwene 700 Taun Surya 
.Ing kene sing arep dibahas namung Kalisengoro, sawijineng Trikali kang 
pungkasan.  

Kalisengoro kabagi dadi Sapta Maloko, yaiku : 
1. Kalajangga (Jaman Kembang Gadung) 
2. Kalasekti (Jaman Kuasa) 
3. Kalajaya (Jaman Hunggul) 
4. Kalabendu (Jaman sengsara lan Angkaramurka) 
5. Kalisuba (Jaman Kamulyan) 
6. Kalisumbaga (Jaman Kasohor) 
7. Kalisurata (Jaman Alus)




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar