Selasa, 23 Desember 2008

Carios Parahiyangan

Carios Parahiyangan 

Generasi penerus penyebaran Islam berikutnya, masih menurut Ridwan Saidi, adalah menak Pajajaran yang seiman dengan Kean Santang, seperti Pangeran Syarif dan Pangeran Papak. Pada saat bersamaan, daya sebar Islam di tanah Betawi mencapai momentumnya oleh peranan para dato, seperti Dato Biru di Rawa Bangke, Dato Tanjung Kait di Tangerang, Kumpi Dato di Depok, Dato Ibrahim dan Dato Tongara di Cililitan. Penyeberan Islam di tanah Betawi penuh dengan peperangan. Menurut Ridwan Saidi sebagai yang dikutipnya dari naskah Sunda kuno Carios Parahiyangan, tercatat sebanyak 15 kali peperangan. Peperangan di pihak Islam dipimpin oleh para dato, dan di pihak agama lokal, agama Buwun dan Sunda Wiwitan, dipimpin oleh Prabu Surawesisa yang bertahta sejak tahun 1521 yang dibantu oleh para resi.


Di atas adalah cuplikan artikel di Republika (online) yang berjudul "Genealogi Intelektual Ulama Betawi".

Hanya untuk koreksi, dalam khazanah naskah Sunda (setahu saya) tidak pernah ada naskah berjudul 'Carios Parahiyangan'. Yang ada adalah 'Carita Parahiyangan', naskah Sunda berisi cerita tentang raja-raja Sunda yang ditulis sekitar abad ke-16 (kalau tidak salah).

Dalam bahasa Sunda, kata carios dan carita memang mengandung arti yang sama. Namun, kata pertama, menurut tatanan undak-usuk bahasa Sunda, lebih 'halus' daripada yang kedua. Dan, sesuai dengan pengetahuan saat ini, undak-usuk bahasa Sunda dikembangkan ketika Tanah Sunda dijajah Mataram, mengadaptasi bahasa Jawa yang 'ditata' oleh Sultan Agung, untuk mengukuhkan perbedaan kedudukan sosial (antara bangsawan/menak dan rakyat jelata) dalam masyarakat Jawa. Pada abad ke-16, kata carios sepertinya belum ada dalam kosakata bahasa Sunda. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar