Selasa, 23 Desember 2008

Ngahiyang vs Parahiyangan

Ngahiyang vs Parahiyangan 

Setelah terjadi proses Islamisasi, Prabu Siliwangi lalu ngahyang atau meng-hyang. Menurut Ridwan Saidi, dari sinilah muncul kata : 'parahyangan'. Tapi, menurutnya, hingga sekarang masih menjadi pertanyaan besar: Apakah prabu menolak ajakan putranya masuk Islam, atau menerima ajakan itu secara diam-diam?


Maaf sekali, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menyudutkan, namun saya (pribadi) sering tergelitik oleh tulisan2 budayawan Ridwan Saidi.

Kata ngahiyang (ngahyang, mungkin bisa disamakan dengan istilah moksa dalam bahasa Jawa) sangat akrab dalam batin orang Sunda (mungkin tidak bagi golongan muda). Hal ini terkait dengan legenda menghilangnya Prabu Siliwangi, raja terakhir kerajaan Sunda. Sebagian ada yang mempercayai legenda ini, dan sebagian yang lain menganggap ini legenda belaka. Dari sudut sejarah, pertanyaannya malah bertambah: Prabu Siliwangi yang mana?

Kembali ke istilah ngahiyang. Setahu saya, istilah ini tidak mendahului istilah parahiyangan sebagaimana disebut dalam cuplikan artikel di atas. Kata parahiyangan berasal dari kata rahiyang yang diberi imbuhan pa- dan -an. Adapun kata rahiyang sendiri menunjuk pada sebutan untuk raja-raja atau para putra raja. Kata parahiyangan secara khusus tetrdapat dalam naskah Carita Parahiyangan, sebuah naskah Sunda yang menceritakan raja-raja Sunda dari jaman Kendan hingga menjelang runtuhnya pada abad ke-16. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar