Jumat, 26 Desember 2008

FALSAFAH MEDITASI (YOGA)


FALSAFAH MEDITASI (YOGA)



Istilah Yoga

Kata ’yoga’, ‘yogi’ begitu popular di masyarakat. Apa sesungguhnya makna kata tersebut? Kata ‘yoga’ digunakan dengan berbagai pengertian. Istilah ‘yoga’ (bahasa Sansekerta) berasal dari akar kata ‘yuj’ berarti ‘menghubungkan’. Dalam konteks ini, ia dimaknai sebagai persatuan spirit individu (jivatman) dengan Spirit Universal (Paramatman).

Pengertian ini dipahami dalam konteks sistem filsafat Vedanta. Sementara Bhagavad-gita mendefinisikan ‘yoga’ sebagai suatu keadaan yang bebas dari penderitaan dan kesedihan

Untuk memperoleh pemahaman tentang bagaimana yoga bisa berkembang seperti yang ada saat ini, maka kita perlu melihat sejenak latar belakang sejarah yang mendasarinya. Yoga merupakan suatu teknik yang telah berkembang sejak ribuan tahun, yang awalnya dikenal dengan praktek “Tantra”. Tantra, pertama kali diperkenalkan di India, 7000 tahun yang lalu oleh seorang yogi besar Sadashiva. Yoga didesain sebagai suatu pengetahuan menyeluruh tentang kehidupan, melingkupi setiap aspek pengembangan pribadi dan sosial. Istilah Tantra mengandung makna “sesuatu yang membebaskan dari kekasaran (ketidakpedulian)’, dan oleh karenanya, latihan-latihannya didasarkan pada suatu cara yang sistematis dan ilmiah, untuk membawa setiap individu dari tingkat ketidakpedulian (ignorance) menuju tingkat pencerahan spiritual (spiritual illumination). Latihan Tantra tidak terbatas pada Meditasi dan Yoga saja, namun meluas hingga mencakup bidang kesenian, musik, sastra, obat-obatan, tari-tarian, kesadaran lingkungan-singkatnya pendekatan hidup yang bersifat holistik.

Sejalan dengan perkembangan zaman, banyak bermunculan cabang-cabang dan bagian-bagian dari Tantra. Cara sederhana untuk melukiskan hal ini terlihat pada diagram. Di dalamnya mungkin terlihat bagaimana menggolongan Tantra terjadi, dan seberapa dekat jenis yoga yang kita miliki saat ini dapat ditelusuri kembali ke asalnya sesuai dengan ajaran Sadashiva. Pembagian Tantra kedalam wilayah khusus yang berbeda tersebut, telah mengakibatkan hilangnya efektifitas dan keharmonisam dari keseluruhan filsafat kehidupan yang lengkap. Hal ini sama halnya dengan cerita lima orang buta yang diminta oleh seorang raja untuk menggambarkan bentuk seekor gajah. Orang pertama, memegang ekor gajah dan berkata bahwa gajah adalah binatang yang panjang dan bulat. Orang berikutnya, memegang telinga gajah dan berkata bahwa gajah adalah seekor binatang yang besar, gendut dan bulat. Demikian seterusnya, masing-masing orang menggambarkan gajah tersebut dengan cara yang berbeda. Meskipun masing-masing dari mereka menggambarkan satu bagian secara benar, namun tidak dalam bentuk gambaran gajah secara utuh.

Hal yang sama terdapat pula pada Tantra. Kelompok-kelompok yang berbeda mungkin memusatkan diri pada bagian tertentu saja, namun pemahaman secara utuh menjadi hilang.Tantra merupakan pengetahuan sepanjang masa dan relevansinya dengan dunia saat ini tidak kurang dibanding masa lalu. Di bidang ilmiah, kesehatan, dan psikologi, para ilmuwan modern mulai memahami dan membuktikan ajaran-ajaran yang terdapat dalam Tantra. Penelitian mereka tentang pikiran manusia telah membuka keseluruhan wawasan baru psikologi. Banyak dokter dan ahli kesehatan telah menyadari bahwa latihan dan postur-postur kesehatan Yoga yang terdapat dalam Tantra telah melampui pengetahuan obat-obatan ortodoks. Dewasa ini, dengan segala kesulitan dan kekacauannya, Tantra merupakan suatu jawaban yang ilmiah atas masalah-masalah yang menimpa umat manusia tersebut. Selanjutnya, Tantra mengajarkan bahwa seseorang harus memandang secara obyektif terhadap seluruh kehidupan dan hidup secara positif, selalu melakukan tindakan-tindakan yang dapat membantu perkembangan evolusi, kemajuan menuju kesadaran tertinggi serta memberikan pedoman untuk membedakan antara hal-hal yang membawa kebesaran dengan hal-hal yang membawa kegelapan. Tantra merupakan pengetahuan yang dapat diterapkan setiap zaman bagi semua orang di segenap penjuru dunia, sebab ajarannya sangat universal siapa saja dapat mempelajari dari berbagai kepercayaan apapun
__________________

Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui.....
namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui



Astanga Yoga

Sekitar 100 SM, Tantra dibagi menjadi delapan cabang atau tahapan oleh Patanjali, selanjutnya diberi nama Astangga Yoga. Yoga mengedepankan kontrol atas aktivitas-aktivitas tubuh, indra, dan pikiran. Ia tidak ingin membunuh tubuh, pada sisi lain, ia merekomendasikan penyempurnaannya. Pikiran yang baik, memerlukan tubuh yang baik pula. Keduanya harus dirawat dan dikendalikan agar mampu mengantarkan kita menuju cita-cita hidup tertinggi. Kemelekatan pada objek-objek duniawi membuyarkan perhatian tubuh dan pikiran. Untuk mengatasi masalah ini, Yoga memberikan delapan tahapan berjenjang untuk mendisiplinkan tubuh dan pikiran. Delapan tangga tersebut disebut Astangga Yoga, yaitu : (1) Yama, (2) Niyama, (3) Asana, (4) Pranayama, (5) Prathyahara, (6) Dharana, (7) Dhyana, dan (8) Samadhi. Dua yang pertama, yaitu Yama dan Niyama dipandang sebagai etika Yoga yang harus dilaksanakan sebelum menginjak tahapan berikutnya.


1) Yama, artinya pantangan yang mencakup pantang menyakiti makhluk lain baik dalam pikiran, kata-kata maupun perbuatan (ahimsa), pantang berbuat salah (satya), pantang mencuri (asteya), pantang mengumbar nafsu (brahmacharya), dan pantang memiliki hak orang lain (aprigraha).

2) Niyama, artinya pembudayaan diri dan termasuk penyucian (sauca) eksternal dan internal, kedamaian (santosa), bertapa (tapa), belajar (svadhyaya) dan pemujaan kehadapan Tuhan (Isvharapranidhana).

3) Asanas secara harfiah berarti “sikap tubuh yang nyaman”. Selama dalam gerakan yang nyaman ini tubuh tetap dalam keadaan yang sangat rileks dan pernafasan yang sangat dalam yang secara alamiah menyertai sikap tubuh ini, membawa sejumlah besar oksigen diserap ke dalam aliran darah. Selama asanas energi dikumpulkan tidak dikeluarkan. Asanas memberi efek pada setiap aspek dari fisik. Menyeimbangkan sekresi kelenjar, mengendurkan dan memperbaiki sistim syaraf dan otot, merangsang sirkulasi, meregangkan tendon, melenturkan persendian, memijat organ-organ dalam dan menenangkan serta mengkonsentrasikan pikiran. (Asanas akan mengontrol kelenjar, kelenjar akan mengontrol sekresi/produksi hormon dan sekresi hormon akan mengontrol kecendrungan pikiran). Kehidupan modern membuat kita selalu berpacu dengan waktu. Tekanan pekerjaan dan peningkatan emosional akan menyebabkan depresi yang meluas bahkan mungkin beberapa penyakit kejiwaan yang disebabkan oleh pikiran. Kita telah kehilangan kedamaian mental kita. Yoga adalah solusi yang jelas. Postur-postur dalam yoga akan menyeimbangkan kelenjar endokrin yang dapat menenangkan dan mengontrol emosi kita. Pernafasan yang dalam selama asanas akan menenangkan dan memberikan energi yang banyak pada pikiran.

4) Mengendalikan Energi vital (Pranayama). Hidup adalah suatu energi (prana) dalam tubuh. Energi atau kekuatan ini menjaga fungsi-fungsi tubuh dengan cara menggetarkan sel-sel, saraf, organ, dan lain-lain. Getaran ini didapatkan dari denyut prana (kekuatan hidup) yang berulang-ulang. Jika seseorang yogi mengarahkan pikirannya menuju lapisan intuisi terhalus, maka ia harus membuat tubuhnya dalam keadaan damai dengan cara mengendalikan denyut prana yakni dengan pranayama, artinya mengontrol nafas dan berkaitan dengan pengaturan-pengaturan nafas ke dalam, menahan nafas dan nafas ke luar. Ini sangat berguna bagi kesehatan dan sangat kondusif bagi konsentrasi pikiran.

5) Prathyahara, artinya mengontrol indra-indra dan terdiri atas penarikan indra-indra dari objek-objeknya. Indra-indra kita mempunyai kecendrungan yang besar bergerak ke luar untuk memenuhi keinginannya. Indra-indra tersebut harus selalu dicek dan diarahkan agar bergerak ke dalam, revolusi ke dalam. Ini merupakan proses introversi diri.

6) Dharana, artinya memusatkan pikiran pada satu objek meditasi seperti ujung hidung atau tengah-tengah jidat atau bayangan suatu deva, dan sebagainya. Pikiran harus ditegakkan, kuat dan terfokus, seperti nyala lilin. Ia tenang, tegak, tak tergoyahkan oleh fluktuasi-fluktuasinya.

7) Dhyana, artinya meditasi dan terdiri atas aliran yang tak terganggu pikiran di sekitar objek meditasi (prtyayaika-tanaka). Ini adalah kontemplasi teguh tanpa adanya istirahat.

8) Samadhi, artinya konsentrasi. Ini merupakan tahapan terakhir di dalam sistem yoga. Di sini pikiran benar-benar diserap di dalam objek meditasi. Di dalam dhyana tindakan meditasi dan objek meditasi tinggal terpisah. Tetapi di sini mereka menjadi satu. Ini merupakan alat bantu tertinggi untuk merealisasikan penghilangan modifikasi-modifikasi mental yang merupakan tujuannya.

FILSAFAT NYAYA

TUHAN (ISVARA) DAN APAVARGA

A. Tuhan (Isvara)

Karena Nyaya meyakini kebenaran Veda, maka penganut Nyaya (Naiyayika) percaya akan adanya Tuhan dan Tuhan disamakan dengan Siva. Acuan terhadap adanya konsepsi Tuhan dapat dilihat di dalam Nyaya Sutra. Nyaya-Vaisesika memberikan penjelasan yang rinci mengenai Tuhan dan hubungannya dengan pembebasan (apavarga). Menurut pemikir sistem ini jiwatman dapat mencapai pengetahuan sejati tentang realitas dan mempunyai pengetahuan ini pembebasan dapat dicapai hanya melalui anugerah Tuhan. Tanpa anugerah Tuhan tidak hanya pengetahuan sejati kategori tidak juga tujuan tertinggi dapat dicapai oleh individu.

Bagaimanakah konsepsi Tuhan di dalam Nyaya Darsana ? Menurut Nyaya, Tuhan adalah penyebab tertinggi penciptaan, pemeliharaan dan peleburan dunia. Ia tidak menciptakan dunia dari ketiadaan tetapi dari atom-atom eternal ; ruang, waktu, ether, pikiran (manas) dan jiwa-jiwa. Penciptaan dunia berarti penataan entitas-entitas eternal yang koeksis dengan Tuhan menjadi dunia motral, dimana roh-roh individu menikmati dan menderita menurut merit perbuatan baik dan perbuatan buruk, dan semua benda fisik melayani sebagai sarana tujuan moral dan spiritual kehidupan kita, Tuhan dengan demikian adalah pencipta dunia dan bukan penyebab materialnya. Ia juga sebagai pemelihara dunia sepanjang dunia dijaga dalam eksistensi oleh keinginan Tuhan. Ia juga sebagai pelebur yang mengijinkan kekuatan destruksi beroperasi ketika tatanan dunia moral menghendakinya. Kemudian Tuhan satu tak terbatas dan eternal, karena dunia ruang dan waktu, pikiran dan jiwa-jiwa tidak membatasinya, tetapi ia dihubungkan dengan Dia. Sebagai tubuh dan roh yang bersemayam di dalamnya, Ia maha kuasa, walaupun Ia dipandu di dalam aktivitas perbuatan buruk. Ia maha tahu sepanjang ia mempunyai pengetahuan benar tentang semua benda dan persitiwa. Ia mempunyai kesadaran eternal sebagai kekuatan kognisi langsung dan teguh semua objek. Kesadaran eternal hanyalah atribut Tuhan yang tidak dapat dipisahkan, bukan esensinya seperti dianut oleh Vedanta. Ia memiliki enam kesempurnaan (Sadisvarya) dan magis, maha agung, megah, indah tak terbatas, mempunyai pengetahuan tak terbatas dan kebebasan sempurna dari kemelekatan.

Tuhan sebagai penyebab efisien dunia, demikian juga Tuhan merupakan penyebab direktif tindakan-tindakan semua makhluk hidup, tidak ada makhluk hidup di dunia ini yang bebas dari kerja, ia secara relatif bebas, yaitu tindakan-tindakannya dilakukan oleh dia dibawah direksi dan arahan Tuhan. Seperti halnya dengan seorang ayah yang arif dan pemurah mengarahkan anak-anaknya mengerjakan suatu aktivitas, menurut hadiah-hadiah, kapasitas dan pencapaiannya sebelumnya ; jadi demikian juga Tuhan mengarahkan semua makhluk hidup melakukan tindakan-tindakan. Sementara manusia adalah penyebab instrumental efisien (Prayojaka karta ). Jadi Tuhan adalah pengatur moral dunia beserta semua makhluk hidup, sementara buah-buah perbuatan dan yang tertinggi dari kenikmatan dan penderitaan kita.

Bukti Eksistensi Tuhan
Bagaimana caranya membuktikan keberadaan Tuhan ? Nyaya memberikan penjelasan yang mendalam di dalam upaya membuktikan keberadaan Tuhan. Teori dan pembuktian Tuhan sistem ini sudah mencakup semua argumen di dalam filsafat Barat. Udayana di dalam bukunya Kusumanjali memberikan bukti-bukti Tuhan sebagai berikut :

Karya. Dunia merupakan sebuah efek dan oleh karena itu ia harus mempunyai penyebab efisien. Agen intelegen ini adalah Tuhan, tatanan desain, koordinasi antara fenomena-fenomena berbeda muncul dari Tuhan (Karyat), ini merupakan argumen kosmologis.

Ayojana. Atom-atom karena secara esensial tidak aktif, tidak dapat membentuk kombinasi-kombinasi berbeda kecuali Tuhan memberikan gerakan kepada mereka, kekuatannya yang tidak nampak (adrsta) membutuhkan intelegensi Tuhan. Tanpa Tuhan ia tidak dapat memasok gerakan kepada atom-atom (ayojanat).

Dhrstya. Dunia diberlanjutkan melalui keinginan Tuhan. Adrsta yang tidak intelejen tidak dapat melakukan hal ini, dunia dihancurkan oleh keinginan Tuhan (adhrtyadeh).

Padat. Sebuah kata mempunyai suatu makna dan mensignifikansikan suatu objek.

Pratyayata. Tuhan adalah pencipta Veda yang bebas dari kesalahan (pratyayata).

Shruteh. Veda mentestimonikan eksistensi Tuhan (Shruteh).

Vakya. Kalimat-kalimat Veda berhubungan dengan ajaran-ajaran moral dan larangan-larangan yang harus dihindari. Perintah Veda merupakan perintah Tuhan. Tuhan merupakan pencipta dan penyebar hukum-hukum moral (Vakyat)

Sankhya Vishesa. Menurut sistem filsafat Nyaya waisesika perpaduan dua atom tidak disebabkan oleh perpaduan tak terbatas dari masing atom, tetapi melalui jumlah kedua atom. Nomor satu secara langsung diketahui, tetapi nomor-nomor lain penciptaan-penciptaan konseptual. Konsepsi numerik dihubungkan dengan pikiran orang yang mengetahui. Pada saat penciptaan, jiwa-jiwa tidak sadar, atom-atom dan kekuatan tak nampak (adrsta) dan ruang, waktu, pikiran, semuanya tidak sadar. Oleh karena itu konsep numerik bergantung kepada kesadaran Tuhan. Jadi Tuhan harus eksis (Sankhyawishesa).

Adrsta. Kita memetik buah-buah tindakan-tindakan kita. Perbuatan baik dan perbuatan buruk muncul dari tindakan-tindakan kita dan simpanan perbuatan baik dan buruk disebut adrsta.

Tetapi semua bukti pada akhirnya sia-sia. Nalar (reason) seperti diperlihatkan oleh Kant ketika mengkritik argumen Descartes bagi eksistensi Tuhan, mengarah kepada antinomi yang tidak terpecahkan. Vedanti seperti Sankara, Ramanuja, Madhwa, Nimbarka, Vallabha menolak argumen Nyaya dan jatuh kedalam Sruti saja bagi eksitensi Tuhan. Kant di Barat dan Vedantin di India dipaksa untuk menghancurkan nalar (reason). Dengan demikian Nyaya penganut Astika menopang Veda dari aspek penalaran (reasoning).

B. Apavarga (Pembebasan)
Sistem darsana, termasuk Nyaya bertujuan untuk mendapatkan pembebasan (apavarga). Nyaya memberi kita pengetahuan tentang realitas untuk merealisasikan tujuan tertinggi, summum bonum. Masing-masing sistem memberikan uraian keadaan jiwa. Bagi Nyayayika ia merupakan keadaan negasi, total dan absolut dari semua penderitaan. Keadaan ini berimflikasi bahwa ia merupakan sebuah keadaan dimana jiwa dibebaskan dari semua ikatan hubungannya dengan tubuh dan indra-indra. Sepanjang jiwa berhubungan dengan tubuh, mustahil bagi jiwa mencapai keadaan bebas dari penderitaan. Tubuh dengan indranya mustahil bisa menghindari kontak dengan objek-objek yang menyenangkan maupun yang menyebabkan penderitaan, oleh karena penderitaan tidak bisa dilepaskan. Dari sini dilihat bahwa pembebasan, jiwa harus dibebaskan dari ikatan tubuh dan indra-indra. Tetapi ketika mencapai apawarga, jiwa berhenti mengalami tidak hanya kenikmatan tetapi juga penderitaan, tidak lagi mengalami hal-hal apapun. Sehingga di dalam keadaan apawarga, jiwatman eksis sebagai sebuah substan bebas dari semua hubungan dengan tubuh, tidak ada penderitaan, tidak juga ada penikmatan, kebahagiaan dan bahkan tidak juga mempunyi kesadaran.

Pembebasan (Apavarga) merupakan negasi penderitaan, tidak dalam artian pengekangan untuk waktu yang lebih lama atau pendek. Keadaan ini merupakan pembebasan absolut dari penderitaan selama-lamanya. Di dalam kitab suci keadaan ini dijelaskan sebagai bebas dari rasa ketakutan (abhyam) bebas dari kehancuran dan perubahan (ajaran) bebas dari kematian (amrtyupadama) dan sebagainya. Dengan demikian dalam keadaan pembebasan (apavarga) jiwa kembali pada hakekatnya sejati sebagai substan yang tidak berkesadaran bebas dari penikmatan karena penikmatan apapun mempresuposisi kemelekatan.

Apawarga dicapai melalui pengetahuan benar tentang jiwatman dan objek-objek pengalaman lain (Tattwajnana). Ia harus tahu jiwatman sebagai berbeda dari tubuh, pikiran, indra-indra, dan sebagainya. Untuk bisa melakukan realisasi jiwatman pertama-tama kita harus mendengarkan ajaran kitab suci mengenai jiwatman (srawana). Kemudian ia harus dengan kita membangun pengetahuan jiwatman melalui sarana penalaran (manana).

Akhirnya, ia harus bermeditasi pada jiwatman sesuai dengan prinsip-prinsip yoga (nidhidhyasana). Hal ini membantu dia merealisasikan hakikat sejati jiwatman yang berbeda dari tubuh dan objek-objek lainnya. Dengan realisasi ini pengetahuan yang salah (nithya jnana) bahwa aku adalah tubuh dan pikiran dihancurkan dan ia berhenti digerakkan untuk bertindak (prawrti) oleh keinginan-keinginan dan dorongan-dorongan, ia berhenti dipengaruhi oleh efek-efek tindakannya sekarang, dilakukan dengan dilandasi oleh keikhlasan, tidak ada dorongan untuk mendapatkan hasil-hasilnya. Karena masa lalunya dihancurkan dengan menghasilkan efek-efeknya, individu tidak lagi mengalami kelahiran di dunia ini (janma). Penghilangan kelahiran berarti akhir hubungannya dengan tubuh dan konskuensinya, yaitu penderitaan (duhkha); dan inilah pembebasan (apawarga). Dengan demikian apawarga hanya mungkin dicapai ketika jiwatman tidak lagi bersemayam di dalam tubuh; atau dengan kata lain ketika seseorang telah meninggal dunia.


Filsafat Samkya

PURUSA DAN PRAKRTI
Ajaran Sankya dan Yoga adalah sangat berpengaruh besar pada ajaran agama Hindu khususnya di Indonesia. Kitab Tattwa Jnana, Wrhaspatitattwa adalah ajaran Sankhya Yoga dalam Saivapaksa, kedua kitab ini termasuk dalam bahasa Jawa kuna. Ajaran Sankhya merupakan ajaran yang sudah tua usianya. Buktinya baik kitab Sruti maupun Smerti dan juga Purana menunjukkan pengaruh ajaran Sankhya. Menurut tradisi pembangunnya adalah Rsi Kapila yang menulis Sankhya Sutra.
Namun karya tulis mengenai Sankhya yang sampai kepada kita ialah Sankhya Karika karya Iswarakrsna. Inilah karya tulis ajaran Sankhya tertua yang kita kenal. Menurut keterangan orang-orang pandai kata Sankhya artinya angka; sistim angka ini dipakai untuk menyusun urutan kebenaran tertinggi dari ajaran ini.
Sesuai tradisi Kapila dianggap anak Brahma, sementara yang lainnya mengatakan ia adalah seorang Awatara Wisnu, yang lain lagi mengidentifikasikan dia sebagai kelahiran Agni. Penjelasan ini kelihatannya bersifat mistik, tetapi yang jelas Kapila adalah Filosof yang telah meletakkan dasar-dasar filsafat Sankhya. Sistem filsafat Sankhya mempertahankan dualisme ontologis Prakrti dan jiwa-jiwa individual (Purusa). Sistem ini percaya dalam evolusi kosmos termasuk materi, kehidupan, dan pikiran di luar Prakrti yang eternal untuk memungkinkan tercapainya tujuan akhir jiwa-jiwa individu yang tak terbatas jumlahnya. Dualisme Prakrti dan Purusa merupakan doktrin fundamental sistem ini.
Sankhya mempertahankan suatu pemisahan yang tegas antara Purusa dan Prakrti dan selanjutnya mempertahankan pluralisme Purusa. Sistem ini tidak membahas keberadaan Tuhan. Dengan demikian Sankhya adalah sebuah spiritualisme pluralistik, sebuah realisme atheistik dan dualisme.
Purusa
Purusa adalah kesadaran murni, Purusa adalah roh, spirit, subyek yang mengetahui. Ia bukan tubuh, bukan pula indriya-indriya; ia bukan otak bukan pula pikiran (manas) ; bukan pula ego (ahamkara), bukan pula intelek (budi), Purusa bukan sebuah substan yang memiki sifat kesadaran. Kesadaran merupakan esensinya. Purusa adalah pengetahuan tertinggi merupakan fondasi semua pengetahuan, ia saksi diam yang terbebaskan, ia di luar jangkauan waktu dan ruangan. Ia disebut nistragunya, udasina, akarta kevala, madhyasta, saksi, drasta, sadaprakashwarupa, dan jnata.
Sankhya memberikan lima bukti bagi keberadaan Purusa, sebagai berikut :

Semua objek-objek majemuk eksis demi Purusha. Tubuh indriya-indriya pikiran (manas) dan intelek (budhi) semuanya sarana-sarana untuk merealisasikan tujuan Purusa.
Semua objek dibentuk atas ketiga guna dan oleh karena secara logika mempreposisi keberadaan Purusa yang merupakan saksi dari guna-guna ini dan ia sendiri berada diluar mereka.
Harus ada suatu persatuan sintetik transedental dari kesadaran murni untuk mengkoordinasikan semua pengalaman.
Prakerti yang tak berkesadaran tidak dapat mengalami produk-produknya. Jadi harus ada sebuah prinsip-prinsip kesadaran untuk produk baru dari duniawi yaitu Prakerti (yang dinikmati).
Ada orang-orang yang mencoba meraih kebebasan dari penderitaan dunia. Keinginan untuk meraih kebebasan dan emansipasi jiwa mengimplementasikan eksistensi dari seorang yang dapat mencoba dan meraih pembebasan.
Menurut Sankhya roh itu banyak jumlahnya yang masing-masing berhubungan dengan satu badan. Adanya banyak roh itu berdasarkan atas pertimbangan-pertimbangan, Sankhya memberikan tiga argumen berikut ini untuk membuktikan pluralitas Purusa, sebagai berikut :

Roh-roh memiliki organ-organ sensori dan motorik, dan mengalami kelahiran serta kematian yang terpisah.
Jika roh itu satu, belenggu pada seseorang harus berarti belenggu dari semua orang dan pembebasan pada seseorang harus berarti pembebasan semua orang.
Walaupun roh-roh yang telah mendapatkan emansipasi semuanya serupa dan berbeda hanya dalam jumlah karena semuanya berada di luar ketiga guna, namun roh-roh yang terbelenggu secara relatif juga berbeda dalam sifat-sifat, karena dalam beberapa hal satwam mendominasi, sementara dalam yang lainnya rajas doniman, dan tetap pada yang lainnya lagi tamas dominan, oleh karena itu mereka berbeda.
Prakrti
Prakrti artinya “yang mula-mula”, yang mendahului apa yang dibuat, ia berasal dari kata ‘pra’ (sebelum) dan ‘kr’ (membuat), yang mirip dengan maya dari Vedanta. Ia merupakan satu sumber dari alam semesta. Ia dibuat pradhana (pokok), karena semua akibat ditemukan padanya dan ia merupakan sumber dari alam semesta dan semua benda.
Pradhana atau Prakrti adalah kekal meresapi segalanya, tak dapat digerakkan dan cuma satu adanya, ia tak memiliki sebab, tetapi merupakan penyebab dari semua akibat. Prakrti hanya bergantung pada aktivitas dari unsur pokok guna-Nya sendiri (sifat metaphisikanya).
Prakrti merupakan ketiadaan kecerdasan, ibarat seutas tali dari tiga untaian yang terbentuk dari tiga guna. Prakrti hanyalah benda mati yang diperlengkapi dengan kemampuan tertentu yang disebabkan oleh guna. Prakrti merupakan dasar dari semua keberadaan obyektif, semua objek adalah untuk menikmati jiwa atau roh. Prakrti hanya menciptakan bila ia bergabung dengan Purusa seperti sebuah kristal dengan sekuntum bunga. Karya ini dilakukan guna pembebasan setiap roh. Seperti fungsi susu untuk menghidupkan anak sapi, demikianlah fungsi Prakrti untuk membebaskan sang roh.
Isvarakrishna, seorang filosof Sankhya memberikan lima bukti eksistensi Prakrti, sebagai berikut : “Efek ada karena apa yang tidak ada, tidak dapat dibuat menjadi ada dengan cara operasi dari sebuah penyebab, karena ada peristiwa kembali ke material, karena tidak ada produksi dari semuanya, karena penyebab yang luar biasa kekuatannya hanya mempengaruhi yang mampu untuk itu, dan karena tidak berada dari penyebabnya”. Argumen di atas lebih lanjut dapat dijelaskan sebagai berikut :

Efek harus ada di dalam penyebab, karena apa saja yang tidak eksis tidak akan pernah dapat dibuat menjadi ada, contohnya : susu tidak akan pernah dapat dibuat / diadakan dari pasir.
Efek harus ada di dalam penyebab, karena setiap efek memiliki penyebab material yang sesuai.
Efek harus ada di dalam penyebab, karena harus ada suatu hubungan kausal antara berbeda-beda yang eksis.
Efek harus secara potensial terkandung dalam penyebab, jika tidak demikian maka setiap penyebab dapat menimbulkan efek apa saja.
Efek harus ada di dalam penyebab, karena efek tidak pernah berbeda dari penyebabnya, misalnya secarik kain mempunyai kualitas yang sama dengan benangnya dari mana kain tersebut di buat /ditenun.
Efek-efek bersifat pluralistik, sementara Prakrti tunggal adanya, efek-efek tersebut ada dalam penyebabnya, sementara Prakrti tidaklah ada pada penyebab lain, efek bersifat terbatas, Prakrti tidak terbatas, efek dibangun oleh bagian, Prakrti tidak memiliki bagian, efek bersifat dapat dibedakan dan heterogen, sementara Prakrti bersifat tak dapat dibedakan dan homogen, efek lebih rendah atau bagian dari Prakrti, sementara Prakrti eksis sendiri dan independen. Prakrti adalah matriks seluruh alam semesta psiko-fisik penyebab pertama dari benda, kehidupan, pikiran, intelek dan ego. Dunia yang tak berkesadaran tidak dapat menjadi sebuah transformasi dari sebuah prinsip yang berkesadaran, karena spirit tidak dapat ditransformasikan menjadi benda.

Filsafat Vaisesika

Perhatian pokok filsafat Vaisesika adalah analisanya yang mendalam tentang alam semesta yang terdiri atas kategori-kategori (padartha). Filsafat Vaisesika merupakan realisme pluralistik, sebuah filsafat identitas dan perbedaan yang menekankan bahwa inti realitas terdiri atas perbedaan atau kebhinekaan. Sebuah kategori disebut padartha dan seluruh alam semesta ini diturunkan menjadi enam padharta. Padartha secara literal berarti objek yang ditandai oleh kata atau makna kata. Semua objek pengetahuan atau semua yang riil berada di bawah padartha. Padartha berarti suatu objek yang dapat dipikirkan (jeneya) dan diberi nama (abhidheya). Ini hanyalah berupa katalog tentang sesuatu benda yang dapat diketahui, atau pengungkapan riil yang beragam tanpa adanya upaya untuk mensintesakan mereka.

Semua objek yang ditandai oleh kata secara lebih luas dibagi menjadi dua klas, yaitu eksistensi (bhava) dan non eksistensi (abhava). Eksistensi termasuk semua entitas positif, seperti benda-benda fisik, pikiran, jiwa-jiwa, dan sebagainya. Non eksistensi (abhava) terdiri atas fakta-fakta negatif, seperti non eksistensi benda-benda. Terdapat enam jenis bhava, yaitu :

1. Substan (dravya)

2. Sifat (guna)

3. Kerja (karma)

4. Universal (samanya)

5. Kekhususan (visesa) dan

6. Inheren (samavaya).

Filosof-filosof Vaisesika belakangan menambahkan satu lagi padartha, yaitu abhava, sehingga menjadi berjumlah tujuh padartha, ketidakadaan atau penyangkalan keberadaan (abhava). Ketiga kategori yang pertama dari benda-benda, sifat dan kegiatan, memiliki keberadaan obyektif yang nyata, sedangkan ketiga kategori berikutnya yaitu, keumuman, kekhususan dan keterpaduan merupakan keberadaan logika yang merupakan hasil dari perbedaan kecerdasan. Rsi Kanada hanya menyebutkan enam kategori sedangkan yang ketujuh ditambahkan oleh penulis berikutnya.

Tanah, air, udara, ether, waktu, ruang, jiwa dan pikiran merupakan sembilan drawiya atau benda-benda. Empat pertama dan yang terakhir dianggap berwujud atom-atom dan empat yang pertama tadi bersifat abadi dan juga tidak abadi. Tidak abadi diberbagai persenyawaan dan abadi pada bentuk atom terakhir dan setelah itu mereka seharusnya kembali keasalnya.

Pikiran meruakan substansi abadi yang tidak meresapi segala sesuatu seperti halnya roh, dan bersifat atom. Ia dapat dikenali hanya ketika seseorang berpikir suatu saat. Pada sembilan substansi tersebut terdapat tujuh belas sifat yang terpadau didalamnya yaitu : warna (rupa), rasa (rasa), bau (gandha). sentuhan (sprasa), jumlah (sankhya), ukuran (parimani), keterpisahan atau kepribadian (prthaktwam), persekutuan dan tanpa persekutuan (samyoga-wibhagam), prioritas dan keturunan (partwa-aparatwa), pemahaman (buddhayah), kesenangan dan penderitaan (sukha-dukha), keinginan dan kebencian (icchadwesa) dan kehendak (prayatnah). Tujuh lainnya dikatakan termasuk didalamnya, yaitu keenceran, kekentalan, kecakapan, jasa, cacat dan suara membuatnya menjadi berjumlah dua puluh empat. Enam belas sifat-sifat ini merupakan milik dari substansi material sedang delapan sifat lainnya yaitu pemahaman, kehendak, keinginan, kebencian, kesenangan, penderitaan, jasa dan cacat merupakan milik dari roh.

Kategori yang ketiga yaitu : karma atau kegiatan, mengandung lima jenis kegiatan yaitu : peningkatan, penurunan, kontraksi, perluasan dan pergerakan, kategori keempat, yaitu : samanya atau keumuman sifat, terdiri dari dua hal yaitu :

1. Keumuman yang lebih tinggi atau lebih rendah, dan

2. Jenis kelamin dan species.

Kategori yang ke lima yaitu wisesa atau kekhususan merupakan milik dari sembilan substansi abadi dari kategori yang pertama, yang kesemuanya memiliki perbedaan akhir yang kekal, yang membedakan yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu sistem ini disebut Vaisesika.

Kategori ke enam yaitu samawaya atau keterpaduan hanya satu jenis yaitu keterpaduan antara substansi dengan sifatnya antara jenis kelamin atau species dengan peribadinya antara sesuatu obyek dengan pemikiran umum yang berhubungan dengan yang dipikirkan menadi satu kesatuan yang nyata. Ada empat macam abhawa, dari kategori ke tujuh yaitu : ketidak beradaan sebelumnya, penghentian keberadaan, ketidak beradaan timbal balik dan ketidak beradaan mutlak.

Pengetahuan tentang padartha merupakan cara pencapaian kebaikan tertinggi. Kebaikan tertinggi berasal dari pengetahuan yang dihasilkan oleh dharma khusus dari intisari paradartha dengan memakai persamaan dan perbedaannya. Rsi Kanada tidak secara terbuka menunjukkan Tuhan dalam Sutra-Nya, kepercayaannya adalah bahwa formasi atau susunan alam dunia ini merupakan hasil dari adrsta yaitu kekuatan yang tak terlihat dari karma atau kegiatan. Beliau menelusuri aktivitas atom dan roh mula-mula terhadap prinsip adrsta.

Para pengikut Kanada memperkenalkan Tuhan sebagai penyebab efisien dari alam dunia, sedangkan atom-atom merupakan penyebab material dari alam semesta ini. Atom-atom yang tak dapat terpikirkan tidak memiliki daya dan kecerdasan untuk menjalankan alam semesta ini secara teratur. Yang pasti aktivitas atom-atom itu diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa yang dikenal dengan maha tahu dan maha kuasa. Kesimpulan dalam kitab suci mengharuskan kita untuk mengakuai adanya Tuhan. Kecerdasan apakah yang membuat adrsta bekerja ? Jawabnya tiada lain adalah kecerdasan Tuhan, sedangkan lima unsur merupakan akibat. Semuanya seharusnya didahului oleh seseorang itu adalah Tuhan. Seharusnya ada yang menjadi pencipta kitab Weda. Karena kandungan Weda terbebas dari kesalahan maka penciptanya pun terbebas dari tipuan dan haruslah merupakan keberadaan yang maha tahu.

Roh-roh dalam keadaan penghancuran kurang memiliki kecerdasan sehingga mereka tak dapat mengendalikan atom-atom dan di dalam atom-atom itu sendiri tak ada sumber pergerakan. Oleh karena itu seharusnya ada penggerak awal dari atom-atom tersebut dan penggerak awal tersebut adalah sipencipta atau Tuhan.

Pada sistem Vaisesika, susunan alam dunia di duga dipengaruhi oleh pengumpulan atom-atom, yang tak terhitung jumlahnya dan kekal, secara kekal mereka mengumpul, bercerai berai dan hancur kembali oleh daya dari adrsta. Sebuah atom didefinisikan sebagai sesuatu keberadaan, tanpa penyebab dan kekal. Ia lebih kecil dari yang terkecil, tak terlihat, tak terbagi, tak dapat dirubah dan tak dapat diamati dengan indrya-indrya. Setiap atom memiliki sebuah wisesa atom inti kekalnya sendiri. Kombinasi dari atom-atom ini mula-mula menjadi berjumlah dua (dwyam, dyad), tiga darinya kembali berkombinasi menjadi sebuah partikel yang disebut trasarenu (Ttriad), yang seperti sebutir debu pada seberkas sinar matahari yang cukup besarnya untuk dapat diamati.

Ada empat golongan paramanu, yaitu paramanu tanah, air, api dan udara. Atom-atom tunggal berkombinasi dengan yang lainnya dan setelah beberapa waktu bercerai berai lagi. Kosmonologi Vaisesika dalam batasan mengenai keberadaan atom abadi berdampingan dengan roh abadi bersifat dualistik dan tidak secara positif memisahkan hubungan yang pasti antara roh dan materi. Badan pada waktu pralaya, halus dan pada waktu penciptaan menjadi kasar, waktu, tempat dan keadaan kelahiran, keluarga dan kehidupan kesemuanya dipastikan oleh adrsta. Roh-roh pribadi sifatnya abadi, bermacam-macam dan secara kekal terpisah satu dengan yang lainnya dan berbeda dengan badan, indrya dan pikiran ; namun mampu terhadap pengertian, keinginan, kehendak, kebencian, kesenangan, penderitaan, jasa dan kekurangan. Sifatnya tak terbatas, ada di mana-mana atau maha ada dan terpencar diseluruh alam semesta. Roh manusia di New York sama banyaknya dengan di Bombay walaupun hanya dapat dirasakan dan dimengerti serta berbuat dimana badan berada. Roh dan pikiran bukanlah obyek pengamatan.

Kesenangan dan penderitaan adalah hasil dari kotak roh , indrya, pikiran dan benda-benda. Dari kesenangan muncul keinginan sesuatu kesan yang sangat kuat dihasilkan oleh pengalaman yang tetap dari benda-benda melalui pengaruh pikiran, seorang pencinta yang matang yang tidak mendapatkan kekasihnya melihat yang dicintai pada setiap benda.

Pengetahuan intuitif tentang sang diri, menghancurkan pengetahuan palsu akibatnya daya tarik, kebencian, kebodohan atau moha dan kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh kegiatan tidak berlangsung dan penderitaan yang berhubungan dengan kelahiran juga lenyap. Untuk dapat lepas dari cengkraman belenggu ini, roh-roh harus menghentikan kerja. Moksa atau pembebasan muncul karena pengetahuan, ketika kerja dihentikan punia dan pap baru tidak dapat diakumulasi dan punia-punia serta pap-pap lain juga secara perlahan-lahan hilang atau memudar. Jiwa dipisahkan dari belenggu pikiran dan tubuh menyadari hakikat murninya. Inilah pembebasan (moksa) yang merupakan penghilangan absolut semua jenis penderitaan. Di dalam moksa sifat-sifat jiwa seperti kebahagiaan tidak ada lagi, karena sifat-sifat itu sifatnya aksidental, jiwa-jiwa tidak berhubungan lagi dengan pikiran (manas) dan tubuh. Moksa adalah keadaan yan tanpa sifat, merupakan hakikat murni roh individu sebagai substansi murni bebas dari semua sifat. Dalam keadaan moksa jiwa individu tidak merasakan, tidak memikirkan dan tidak melaksanakan apa-apa

Fisiologi Psikhis Yoga

Kajian ini bersama-sama dengan setiap asana dan latihan lainnya, anda akan menemukan bahwa hal utama yang dianjurkan adalah konsentrasi. Kadang-kadang pernafasan, kadang-kadang bagian fisik tubuh, dan sering merupakan salah satu dari cakra. Pusat-pusat psikhis ini merupakan perantara yang sangat penting untuk meningkatkan konsentrasi dan dengan sendirinya memiliki makna yang dalam. Jika kita ingin mengendurkan pikiran dan mendapatkan manfaat-manfaat fisik yang optimal dari latihan-latihan yoga kita, maka penting bagi kita untuk berkonsentrasi pada sesuatu. Dengan mengarahkan pikiran pada bagian-bagian tubuh yang khusus atau pada nafas, akibat dari latihan yang khusus itu akan sangat meningkat.
Dalam hal fisik, cakra dihubungkan dengan urat-urat syaraf yang utama dan kelenjar-kelenjar endokrin dalam tubuh. Ini adalah pusat-pusat pengantar dan pengatur yang utama dari susunan organ-organ tubuh manusia, yang mempunyai pengaruh yang luas pada seluruh ‘badan’ seseorang. Banyak asana mempunyai pengaruh yang sangat ampuh dan bermanfaat pada satu kelenjar atau urat-urat syarat atau lebih. Sebagai contoh, sarvangasana menggunakan tekanan yang kuat pada kelenjar gondok pada daerah tenggorokan, yang dihubungkan dengan visuddhi cakra. Gondok tersebut diberi pijatan yang baik dan fungsinya banyak meningkat. Namun, jika konsentrasi ditujukan pada bagian ini selama pelaksanaan asana tersebut, maka manfaatnya bahkan akan lebih besar.

Pada sebagian besar orang, pusat-pusat psikhis ini sedang terhenti dan tidak aktif. Psikologi modern setuju dengan filsafat yoga, karena psikologi merumuskan bahwa manusia secara normal tidak menggunakan lebih dari satu dari kesepuluh kekuatan otak yang mungkin mampu. Dengan konsentrasi pada cakra sambil melakukan asana atau latihan-latihan lainnya, tenaga dirangsang untuk mengalir melalui cakra-cakra tersebut. Ini akan membantu membangkitkan kemampuan yang sesuai dalam tubuh psikhis serta mental, membiarkan orang tersebut mengalami taraf kesadaran yang lebih tinggi, dari apa yang secara normal tidak ia sadari.

Cakra yang utama jumlahnya ada tujuh dan terletak pada bagian urat syaraf tulang belakang, dari titik yang paling bawah pada perineum (tulang ekor) sampai ujung kepala. Cakra-cakra itu dihubungkan dan diberi kekuatan melalui suatu jaringan saluran jiwa yang disebut nadi, yang berhubungan pada tingkat yang lebih besar pada syaraf-syaraf dalam jaringan syaraf. Nadi merupakan saluran (aliran) prana (energi) di dalam tubuh. Nadi jumlahnya ribuan tapi ada juga nadi utama yaitu Ida, Pingala, dan sumsumna, ketiga ini untuk memberikan aliran prana kepada ketujuh cakra diantaranya : 1) Muladhara terletak pada dasar tulang punggung, 2) Swadhisthana terletak sejajar alat kelamin, 3) Manipura terletak bagian pusar, 4) Anahata sejajar jantung, 5) Wisudha terletak pada leher, 6) Ajna berada di tengah-tengahyna kedua alis, 7) Sahasra di puncak kepala (otak besar). Ketujuh cakra ini, merupakan psikhis (astral) hubungan erat dengan badan pisik secara fisiologi.


Ketuhanan dalam Upanisad


Kitab upanisad dalam rentang waktu yang cukup lama. Tidak ada kepastian tentang jumlah kitab upanisad yang sesungguhnya. Dari catatan yang ada : Kitab Rg Veda memiliki 21 sakha, Yajur Veda memiliki 109 Sakha, Sama Veda memiliki 1.000 Sakha dan Atharva Veda memiliki 50 Sakha. Berdasarka jumlah Sakha itu, yaitu 1.180 buah, maka jumlah Kitab Upanisad seyogyanya 1.180 buah. Walaupun demikian secara tradisional telah diakui kepastiannya bahwa jumlah kitab upanisad itu adalah sebanyak 108 buah.
Adapun nama-nama Kitab Upanisad yang tergolong adalah :
a) Isa Upanisad
b) Kena Upanisad
c) Katha Upanisad
d) Prasna Upanisad
e) Mundaka Upanisad
f) Mandu kya Upanisad
g) Taitiriya Upanisad
h) Aitareya Upanisad
i) Chandogya Upanisad
j) Brhad Aranyaka Upanisad
k) Sweta Swatra Upanisad


Di samping itu itu ada pula nama lain yang ditambahkan ke dalam kategori penting, yaitu :
a. Kavsitaki Upanisad
b. Jabala Upanisad
c. Mahanarayana Upanisad
d. Paingala (Pingala) Upanisad

Diantara 11 buah kitab Upanisad di atas, maka Isa Upanisadlah yang merupakan Kitab Uapnisad terpenting karena kitab ini langsung merupakan bagian dari mantra Samhita. 18 mantra dari kitab Isa Upanisad, dan terutama mantra pertama, dapat dinyatakan sebagai ajaran yang paling essensi dari ajaran (agama) Hindu.
Ciri khas dari kitab-kitab Upanisad adalah dalam bentuk penyajian ajaran yang disampaikannya, yaitu selalu berbentuk dialog antara seorang murid yang bertanya kepada seorang guru dalam pendidikan. Demikian pula halnya di Indonesia, kita warisi pula bentuk penyajian semacam ini, misalnya dalam kitab-kitab tattwa seperti Wrhaspati Tattwa, Ganapati Tattwa, Agastya Parwa dan lain-lain.

Pokok-Pokok Ajaran Upanisad

Ajaran yang tercantum dalam kitab-kitab Upanisad itu merupakan reaksi dari kaum Ksatriya terhadap kekuasaan para Brahmana, pada jaman Brahmana. Pertentangan para kaum kstariya terhadap kaum agama itu diungkapkan dalam ajaran-ajaran Upanisad. Akan tetapi, kemudian ketika pengaruh ajaran-ajaran makin meluas, padahal para ksatriya lebih banyak berkecimpung dalam urusan politik, para brahmana menerima ajaran Upanisad ini bahkan memonopolinya sebagai ajaran yang tertinggi yang mereka hasilkan. Hal ini tidak mengherankan, karena Upanisad memang bukan buku filsafat, melainkan kitab keagamaan, yang diwahyukan sesuai dengan keadaan orang yang menerimanya, dan lingkungan ketika agama itu diberikan.
Adapun ajaran-ajaran pokok dalam Upanisad antara lain :

a) Brahman
Kata “Brahman” berasal dari akar kata “brh” berarti yang memberi hidup, menumbuhkan, menjadikan hidup, menjadikan berkembang meluap. Jadi kata “Brahman” berarti suatu pertumbuhan yang tidak henti-hentinya atau dengan kata lain berarti yang memimpin segalanya atau dengan kata lain berarti yang memimpin segalanya atau Tuhan Yang Maha Esa yang memerintah seluruh alam semesta dan segala isinya.
Pada jaman Brahmana, Brahman telah dianggap sebagai asal pertama alam semesta. Di dalam Upanisad ajaran ini dipikirkan secara lebih mendalam lagi, bahwa belum ada kesatuan pendapat di dalam kitab-kitab Upanisad tentang Brahman tadi. ada yang mengemukakan bahwa, Brahman sebagai Dewa tertinggi, yang lebih kuasa dari dewata yang lain. Dewa yang menjadi dewannya para Dewa atau tuhan, dari segala yang dipertaruhkan. Ada juga yang memandang para dewata sebagai penjelmaan Brahman di samping itu ada pandangan yang lebih menonjol lagi bahwa Brahman yang transenden, yang berada di luar alam semesta dan jauh di atas alam semesta dan di dalam diri manusia.

b) Atman
Atman berasal dari kata “an” yang artinya bernafas. Jadi atman adalah pusat segala fungsi jasmani dan rokhani manusia. Atman sebagai hakekat dasar dalam kehidupan manusia dianggap sebagai roh atau jiwa yang menyebabkan manusia itu hidup, mengalami rasa senang dan duka. Tetapi disadari pula jiwa dan atma itu kekal, tidak pernah mati dan karena itu pengalaman suka dan duka bukan merupakan sifatnya.
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka atma merupakan sumber hidup yang menghidupkan semua makhluk dan atma bersemayam dalam badan (jasmani) makhluk.

c) Karma
Pada jaman Upanisad timbullah suatu ajaran yang disebut dengan karma. Kata karma berarti “perbuatan” seperti yang telah kita ketahui tentang ajaran karma bahwa ajaran ini berakar pada ajaran tentang rta pada jaman Veda Samhita. ajaran tentang rta dan yadnya yang memelopori ajaran tentang karma. Sebab ajaran karma mengemukakan bahwa baranh siapa berbuat baik akan mengalami yang baik tetapi jika berbuat jelek maka ia akan mengalami yang jelek.
Semula diajarkan bahwa hukum Karma ini berlaku bagi perbuatan-perbuatan yang diakukan oleh setiap orang dalam hidupnya sekarang ini. Apa yang dilakukan dalam hidup sekarang ini maupun dalam kehidupan yang kemudian. Ajaran ini mengakibatkan timbulnya ajaran tentang samsara (kelahiran kembali).

d) Samsara
Telah juga dikemukakan bahwa pada jaman Brahmana, yang mendahului jaman Upanisad juga diajarkan tentang kelahiran kembali ini. Pada waktu itu kelahiran kembali di pandang masih biasa saja tetapi lama kelamaan timbul persoalan. Apa sebab dalam hidup sekarang ada perbedaan nasib. Ada yang dilahirkan sebagai brahmana, ksatriya dan lain-lain. Ada juga yang dilahirkan sebagai orang kaya, miskin, tinggi, rendah, cakep, jelek, cacat lain sebagainya, dan pada jaman itu timbul ajaran bahwa : karma bukan hanya menguasai hidup yang akan datang, melainkan juga hidup yang lalu. Jadi lingkaran inilah yang disebut samsara yang disebabkan oleh karmanya sendiri.

e) Moksa
Jika orang mati, rohnya yang halus pergi bersama-sama dengan karma wasananya, karena roh itu terikat akan karma wesana. Mengenai kelahiran kembali ini ada bagian upanisad yang mengungkapkan secara mithologis, bahwa orang yang menaklukkan dunia dengan persembahan korban, dengan kedermawaan dan kesederhanaan mereka itu. Jika meninggal jiwanya akan pergi ke alam sorga yang diantar oleh karma wesananya, lalu melalui karma masing-masing akan sampai ke alam Candra Loka (Alam sorga).

Supaya orang dapat memperoleh moksa yaitu bebas dari kelahiran kembali, yang tiada awal dan tiada akhirnya itu, ia harus membinasakan keinginannya atau mengendalikan nafsu-nafsu yang jahat. Syarat untuk menghapuskan diri sendiri, yaitu pengenalan bahwa atman adalah brahman. Manusia dalam mencapai sampai tingkatan hidup ini memerlukan latihan dan waktu yang lama sekali.

Pada umumnya ada tiga tingkatan, yaitu :
a. Srawana : tingkatan harus belajar mengenai kebenaran yang diajarkan dalam upanisad dari seorang guru.
b. Manam : tingkatan harus memantulkan pengetahuan yang telah dipelajarinya dengan maksud untuk meyakinkan diri, akan kebenaran ajaran itu.
c. Dhyana : tingkatan harus dengan tetap menyandarkan kepada kebenaran yang telah diyakini dengan budinya supaya ia dapat mengelami sendiri kesatuan itu.

Dari uraian di atas teranglah bahwa filsafat di dalam Upanisad ditujukan kepada agama, dengan tujuan terakhir ialah kelepasan manusia dari dunia yang fana ini yang disebut dengan moksa.

Konsep Penciptaan

Dalam pustaka suci Agama Hindu, terdapat banyak ajaran yang mengetengahkan tentang terjadinya penciptaan dunia (Srsti). Konsep penciptaan itu meliputi Bhuwana agung (Makrokosmos) dan bhuwana alit (mikrokosmos). Bhuwana agung berarti alam besar, jagat raya termasuk semua gugusan matahari, bintang, planet, bumi, bulan, yang menjadi isi alam semesta. Sedangkan bhuwana alit berarti dunia kecil yang meliputi unsur-unsur pembentuk ciptaan Brahman yang memiliki pramana dan manusia merupakan ciptaan beliau yang tingkatannya lebih tinggi karena memiliki Tri Pramana (Sabda, Bayu, Idep).

Sepanjang sejarah keterbatasan pemikiran manusia, sejauh itu pula proses penciptaan (Srsti) terhadap Bhuwana agung dan Bhuwana alit selalu menjadi pembicaraan dan bahan diskusi bagi pencari kebenaran rahasia alam yang maha tinggi. Eksistensi Bhuwana agung dan Bhuwana alit merupakan pengetahuan tentang rahasia hidup yang sangat rahasia dan utama. Pengetahuan ini harus dikuasai sebagai suatu sarana untuk mencapai moksa. Berbagai pustaka-pustaka suci Hindu dapat dijadikan obor penerang menuju rahasia keagungan Brahman yang maha tinggi. Namun dalam penyajian makalah ini penulis hanya menyajikan beberapa sumber saja mengenai konsep penciptaan (Srsti).Konsep Penciptaan
Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit

* Konsep Penciptaan dalam ajaran
Ganapati-Tattwa
Dalam Ganapati Tattwa disebutkan, pada awalnya dilukiskan tidak ada apa-apa. Tidak ada bumi, tidak ada langit, tidak ada sunia, tidak ada ilmu pengetahuan, dan sebagainya. Yang ada hanyalah Tuhan Yang Maha Esa dalam keadaan Nirguna, Sukha Acintya yaitu berkeadaaan maha bahagia yang tidak terpikirkan. Kemudian terjadilah evolusi Tuhan dalam keadaan Nirguna menampilkan diriNya dalam aspek Saguna. Timbullah keinginan beliau untuk menyaksikan keadaanNya dalam keadaan sekala-niskala. Mulailah beliau mencipta yang berkeadaan nyata (Paras) dan yang berkeadaan tidak nyata (Para). Tuhan Saguna disebut juga Sanghyang Jagat Karana bersemayam dalam Sunya. Dari sanalah beliau mencipta berturut-turut, antara lain : Ongkara Suddha, Suara, Windu, Prana Suci. Dari Windu lahir Panca Dewata (Brahma, Visnu, Rudra, Iswara, Sadasiwa) yang menjadi sumber ciptaan selanjutnya.
Ganapati Tattwa mengajarkan, hakekat alam semesta diciptakan oleh panca dewata dari unsur yang paling halus hingga berwujud nyata. Pertama diciptakan Panca Tan Matra yang berkembang menjadi wujud yang lebih kongkrit dan bentuk nyata yaitu Panca Maha Bhuta. Setelah alam semesta tercipta, kemudian tumbuhlah semua jenis tumbuhan dan binatang dan panca dewata berperan sebagai penjaganya.

Proses penciptaan bhuwana alit tidak jauh berbeda dengan penciptaan bhuwana agung, sama-sama diciptakan Panca Dewata. Brahma dan Wisnu menciptakan tubuh dengan sarana tanah dan air, Rudra menciptakan mata dari teja, Iswara menciptakan nafas dari kayu dan Sadasiwa menciptakan suara dari akasa. Setelah itu terbentuk barulah atma menjelama dalam kehidupan manusia. Dan Panca Dewata pun mulai menempati bagian-bagian tubuh untuk menjaganya dan menumbuhkan kesadaran dan menjiwai bagian-bagian tubuh tersebut. Brahma menempati muladara, Wisnu menempati nabhi (pusar), Rudra menempati hati, Iswara menempati leher dan Sadasiwa menempati ujung lidah. Dalam proses perkembangan manusia selajutnya, manusia berperan sebagai alat melalui sanggama. Sedangkan yang menjadi benih manusia di sebut Rupa Suksma yang berkeadaan abstrak dan gaib. Rupa suksma ini menjadi sukla yang mempunyai warna seperti manik putih kekuning-kuningan. Sedangkan swanita keluar dari Pradhana Tattwa. Keduanya kemudian bercampur dalam rahim si ibu. Disanalah ia terbentuk dan berkembang sehingga mencapai wujud yang sebenarnya.

* Konsep Penciptaan dalam Kitab Upanisad
Kitab Brhad Aranyaka Upanisad menjelaskan bahwa Bhuwana Agung yang diciptakan Tuhan adalah pelukisan dari Tuhan itu sendiri yang dilukiskan dalam wujud personifikasi yang abstraktif. Penciptaan Bhuwana Agung merupakan gambaran dari tubuh Tuhan dalam personifikasi abstraktif dan bumi yang kita tempati merupakan bagian kecil dari tubuh Tuhan.
(Grhad Aranyaka Up. I.1)

(Aum sesungguhnya, fajar adalah kepala dari kuda yajna, matahari adalah matahari, agni adalah nafasnya, mulutnya yang terbuka adalah api vaisavanara ; tahun adalah tubuh dari kuda yadnya, langit adalah punggungnya, antariksa adalah perutnya, bumi sebagai telapak kakinya …….. dst ).

Kitab Mundaka Upanisad masa penciptaan (Srsti) digambarkan seperti halnya seekor laba-laba yang mengeluarkan sarangnya pada masa penciptaan dan menariknya kembali ke dalam perut pada saat peleburan (Pralaya).
(Mundaka Up. I.1.7)
(Seperti laba-laba mengeluarkan dan menarik benangnya, seperti tumbuh-tumbuhan bahan obat tumbuh di bumi, seperti rambut yang tumbuh di kepala dan badan orang, demikian alam semesta ini muncul dari Tuhan Yang Maha Esa.

* Konsep Penciptaan dalam Siva Purana
Terkait dengan proses penciptaan, kitab Siva Purana menyatakan bahwa pada awal penciptaan, semesta masih kosong hanya terdapat Brahman (Esensi ilahi) yang bersifat Nirguna menyebar di mana-mana. Kemudian tidur dilautan maha luas lalu muncullah sekuntum teratai dari pusar beliau dan lahir Brahma dan teratai itu. Setelah sekian lama bertapa lalu Visnu dan Brahma mendengar suara suci “OM” dilantunkan, seiring munculnya Siva dengan lima kepala dan sepuluh tangan. Siva menjelaskan bahwa mereka bertiga merupakan satu kesatuan, dimana Brahma sebagai pencipta, Visnu pemelihara dan Siva pelebur.

Brahmapun ditugaskan untuk mencipta dan oleh Brahma bumi dibagi menjadi 7 wilayah, yaitu Jambudvipa, Plaksadvipa, Salmalidvipa, Kusadvipa, Karuneadvipa, Puskaradvipa dan Sakadvipa, yang dikelilingi 7 samudera yaitu Lavana, Iksu, Sarpi, Dadhi, Dugdha, Jala dan Rasa. Kemudian beliau menciptakan planet-planet, lapisan bumi, sapta patala, berbagai neraka, satuan unit waktu. Kemudian Brahma menciptakan Swayambhu Manu yaitu manu pertama. Dari Swayambhu manu inilah kemudian berkembang sampai pada manvantara yang ketujuh yang diperintah oleh Vaisvasvata manu yang memiliki sembilan orang putra sebagai pendiri dinasty surya.

* Konsep Penciptaan Menurut Kitab
Tattwa Darsana
Dalam Tattwa Darsana disebutkan bahwa konsep penciptaan diawali dengan hukum Kemahakuasaan-Nya. Bermula dari kekuatan Tapa, maka tercipta dua kekuatan yang disebut purusha dan pradana. Persatuan antara purusa dan pradana menciptakan suatu zat yang sangat halus yang disebut “Citta” (alam pikiran). Setalah Citta kemudian terciptalah Buddhi (naluri pengenal dan intuisi), Manah (akal dan pikiran) dan Ahangkara (rasa keakuan). Buddhi, Manah dan Ahangkara menjadi kesatuan alam Citta, kemudian muncullah Dasa Indria (Panca Budhi Indra dan Panca Karmendriya). Setelah Dasa Indria terciptalah Panca Tan Matra (lima benih unsur zat alam). Panca Tan Matra berevolusi menjadi Parama Anu (atom). Parama Anu berevolusi, terbentuklah Panca Maha Bhuta (lima unsur zat alam). Setelah berwujud Panca Maha Bhuta kemudian berevolusi dalam penyempurnaan bentuk menjadi Brahmanda-brahmanda. Dari terwujudnya Brahmanda yang sedemikian banyaknya dalam ruang jagat raya, maka dikenallah lapisan alam jagat raya, maka dikenallah lapisan alam jagat raya yang disebut Sapta Loka (7 lapisan dunia di luar Brahmanda) dan Sapta Patala (7 lapisan yang membentuk kedalam lapisan kedalaman inti Brahmanda). Demikianlah konsep penciptaan Bhuwana Agung.

Dalam-dalam penciptaan Bhuwana alit, dijelaskan sari-sari Panca Maha Bhuta menjadi “Sad Rasa” (manis, pahit, asam, asin, pedas dan sepat). Unsur Sad Rasa bergabung dengan unsur Citta, Buddhi, Manah, Ahangkara, Dasendria, Panca Tan Matra, Panca Maha Bhuta, kemudian membentuk dua unsur benih kehidupan yaitu Sukla dan Swanita. Pertemuan Sukla dan Swanita itu sama halnya dengan pertemuan purusha dan prakerti, maka timbullah ciptaan makhluk hidup yang telah memiliki kekuatan Atma sebagai bagian kecil dari Parama Atma. Unsur Citta, Buddhi, Manah, Ahangkara, Dasendria membentuk indria manusia. Panca Tan Matra dan Parama Anu, Panca Maha Bhuta membentuk tubuh manusia. Atma memberi jiwa pada makhluk, maka terciptalah manusia yang lengkap memiliki jiwa, pikiran, perasaan dan organ tubuh sempurna.

TENTANG MEDITASI




Meditasi Teja Surya adalah salah satu jalan menyatukan diri dengan Atman atau alam semesta, guna lebih mengenal kesadaran dan jati diri. Teja Surya menyinari diri kita dari tempatnya yang sangat tersembunyi yaitu didalam hati. Untuk mengetahuinya perlu kita merenungi dan menyadari diri sendiri dengan hanya mengingat didaerah dada. Dari sinilah awal untuk mengenal dan menyadari keberadaan dari sang pemberi hidup (Atman). Bila kita sampai mendekati kesadaran Atman, Atman pulalah yang akan menuntun kita mencapai kesadaran yang lebih agung yaitu Brahman.

Brahman dan Atman adalah hubungan yang tak terpisahkan, seperti Matahari dengan sinarnya. Brahman itu satu, satu untuk semua, semua dipusatkan untuk yang satu, satu itu berdiri kokoh berbentuk tiang, tiang itu adalah Atman, Atman itu jalan/tujuan yang memiliki ujung dan pangkal, pangkal itu mulai/lahir untuk hidup, ujung itu tujuan akhir yang utama adalah Moksah, menunggal dengan segala unsur yang dimiliki Brahman melalui Atman. Atman yang merupakan percikan-percikan energi suci yang keluar dari Brahman berpencar memberi hidup pada setiap makhluk dengan memecah dirinya dalam dua sifat yaitu bersifat bebas (Atmanam) dan terikat ( Bhuta-Atman).

Bebas

Dalam artian tidak terpengaruh oleh unsur-unsur duniawi, berdiri sendiri berkeadaan murni, berpribadi tinggi, berada dimana-mana, tak dilahirkan, tak terpikirkan dan masih banyak lagi ke-Agungan yang lainnya. Atmanam sesungguhnya bisa berwujud dan tidak berwujud atau yang sejati, Atmanam yang berwujud adalah yang tidak sejati dan yang tidak sejati nampak sebagai Sinar Suci yang memancarkan sinarnya ke-alam Bhur, Bhuah dan Svah. Atmanam memberi energi kehidupan pada setiap makhluk melalui energi Prana/Jiwa. Prana/Jiwa yang berada jauh diatas langit, berwujud Matahari memberi energi kehidupan melalui sinarnya yang putih cemerlang. Sinar terang ini memeroses, merangsang, menghidupkan, mengembangkan dan memusnahkan segala yang ada dialam jagat raya ini.

Terikat

itu berarti Atman dapat menetap disetiap makhluk yang dihidupi-Nya. Sesungguhnya Atman yang telah terikat oleh kenikmatan duniawi bukanlah Atman yang sejati, ini adalah Atman yang lain yang disebut Bhuta-Atman. Bhuta Atman lahir karena adanya kekuatan Positif (Sang Ayah) dan negatif (Sang Ibu) ketika beliau mengadakan penciptaan dengan menyatukan kekuatan Lingga dengan Yoni sehingga muncullah Bhuta-Atman. Bhuta-Atman ini terbentuk dari berbagai macam sifat, dari segala unsur yang ada dan juga unsur rue-bhineda. Dengan adanya kekuatan Bhuta-Atman terkumpul pula berbagai macam Zat sehingga membentuk suatu benda/ tubuh manusia khususnya. Zat–zat tersebut secara garis besarnya terdiri dari lima Unsur yang disebut Panca Maha Bhuta. Agar Atman yang berupa Bhuta ini dapat menetap dalam tubuh maka diikatlah Beliau oleh Satwam, Rajas dan Tamas.

Dari uraian diatas mungkin dalam hati akan timbul pertanyaan, Atman yang mana sebaiknya sebagai obyek bermeditasi?. Jawabannya adalah tergantung dari pengetahuan, keyakinan dan keperluan yang ada pada diri kita. Disini penulis jelaskan sedikit tentang hubungan antara Brahman, Atman dan Bhuta-Atman. Brahman dengan Atman sesungguhnya adalah tunggal, Beliau adalah Sinar Suci yang bersinar diatas sana dalam wujud Matahari. Bila saat bermeditasi dan sampai pada tahapan tertentu untuk menggugah serta menggetarkan Beliau ini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya adalah dengan hanya merasakan dan menyadari diri sendiri, itu berarti tanpa perwujudan apapun dari-Nya. Cara yang lainnya dengan berkonsentrasi atau diikuti mantra suci OM yang digemakan, maka Beliau akan muncul berwujud sinar ke-Emasan dan ketika Mantra Suci OM telah meluluhkan segala yang buruk yang ada pada Sang Diri, maka si meditator akan menunggal dengan-Nya dan ketika kesadarannya mencapai puncaknya yang tertinggi, ketika keduniawian tidak berpengaruh banyak kepadanya, dan ketika sinar kuning emas menembus Siwo-dwaranya kemudian menerangi seluruh tubuh dan membawa tubuh Sukmanya lepas dari tubuh fisiknya, disaat inilah orang akan tahu wujud OM bahkan tahu yang tertinggi dari Atman/Brahman sekaligus si meditator tersebut mengetahui jalan kemoksahan. Hal ini sangatlah sulit untuk dicapai, berbagai macam pengetahuan tentang Beliau adalah faktor pendukungnya, ber-yadnya, Pemujaan, Yoga dan tapa-brata adalah sadhananya, berbagai macam sidhi adalah penghalangnya, Meditasi adalah pembuka jalan dan Semadhi adalah salah satu jalan yang utama. Uraian kalimat diatas penulis rasa sangat sederhana namun dibalik kesederhanaannya ada sesuatu yang amat sulit yaitu mempraktekkannya.

Sekarang bagaimana dengan Atman dan Bhuta-Atman. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa Atman itu adalah Sinar Suci dalam wujud Matahari. Secara spiritual bahwa Atman yang berada diluar yang tak pernah tidur itu memberi energi Prana ke setiap makhluk hidup melalui Antahkarana ( tali penghubung jiwa) dapat berwujud sinar dan gas. Antahkarana yang berwujud sinar putih terang mengalir melalui ubun-ubun (siwo-dwara) dan pengendalinya adalah Cakra Sahasrara. Antahkarana yang berwujud sinar terang ini memberi energi Prana yang bersifat halus dan suci. Sinar suci yang mengalir kedalam tubuh tersebut membentuk lapisan-lapisan tubuh yang disebut Maya Kosa ( sinar tubuh/ Aura). Sinar tubuh ini adalah tempat suci bagi Bhuta-Atman yang tak lain adalah manifestasi Atman itu sendiri yang melaksanakan tugas lanjutanNya yaitu untuk menjaga, menggerakkan dan mengendalikan tubuh. Bhuta-Atman menjaga tubuh yang berwujud sinar dengan empat macam bentuk sinar yaitu sinar yang membentuk tubuh kembar seperti tubuh fisik yang ditempatinya. Beliau diberi nama Sang Anggapati, Beliau keluar-masuk melalui mata dan menetap didalam hati/lever berwarna kemerahan, dengan aksaranya adalah Ang. Tubuh yang kedua, adalah tubuh yang berukuran lebih tinggi-besar dengan wajah yang berbeda diberi nama Sang Prajapati yang bersinar gelap bertempat di empedu, Beliau keluar masuk melalui telinga dengan aksaranya adalah Ung. Yang ketiga, adalah tubuh yang berwujud Harimau putih dan dapat keluar masuk melalui mulut yang diberi nama Sang Banaspati dengan aksaranya adalah Mang. Tubuh keempat adalah berwujud Singa dengan muka merah api dengan bulu keemasan yang lebat, jalan keluar masuknya melalui hidung, Beliau diberi nama Sang Banaspati Raja dengan aksaranya adalah Ong. Selain sinar tersebut Atman juga memanifestasikan Diri sebagai pusat Sinar yang berupa Cakra-cakra didalam tubuh. Bermeditasi pada Cakra atau perwujudan yang dapat dibayangkan adalah suatu meditasi yang ditujukan pada diri sendiri guna mengenal Atman melalui Bhuta-atman atau mengenal jati diri sendiri. Setelah mengenal jati diri tentu kesadaranpun semakin tumbuh, dengan tumbuhnya kesadaran, secara alami pula Bhuta akan berubah menjadi Atman itu berarti anda akan mengetahui yang sejati tinggi.

Kemudian Antahkarana yang berwujud Gas/udara mengalir melalui seluruh lubang pada tubuh. Aliran udara yang utama berupa pernafasan yang keluar masuk lewat hidung. Nafas udara ini terbagi dalam lima nafas yakni Prana, Apana, Samana, Udana dan Wyana. Kelima nafas ini memiliki sifat, warna, tugas dan fungsi yang berbeda-beda. Prana udara mengalir disetiap tubuh agar tubuh tersebut dapat bergerak dengan adanya kekuatan dari Dasa Bayu. Kekuatan Dasa Bayu ini akan dapat dikeluarkan dan digunakan melalui latihan tenaga dalam. Sumber dari tenaga dalam adalah unsur halus dari zat padat yang bisa berupa hawa, getaran/frekwensi, arus dan sebagainya yang kesemuanya bisa dideteksi dan berada dibawah pengendalian Bhuta-Atman. Bhuta-Atman ini dapat dikendalikan melalui pikiran dan pikiran akan menghubungkannya melalui bawah sadar dan bawah sadar berhubungan dengan intuisi, intuisi /kata hati adalah suaranya Atman melalui Bhuta-Atman. Dengan uraian singkat ini berarti Bhuta-Atman adalah tunggal dengan Atman. Bermeditasi pada Bhuta-Atman yang terletak dialamnya intuisi dan intuisi itu sesungguhnya Hati anda yang paling dalam yang berada didalam Anahata atau Jantung. Bermeditasi ini sama artinya menjelajahi alam spiritual secara bertahap yang nantinya akan memberikan pengetahuan yang tinggi tentang adanya Atman. Bermeditasi Bhuta-Atman adalah bermeditasi pada diri sendiri, dengan cara menyadari dan mengendalikan segala sifat buruk yang ada pada diri sendiri. Setelah mengetahui, menyadari dan mampu mengendalikan kekuatan yang bersifat Bhuta yang berada pada diri sendiri, itu berarti anda telah menyucikan segala Bhuta dan meleburnya menjadi Atmanam. Namun ada hal lain dimana Bhuta-Atman akan terus berwujud Bhuta bagi orang yang segala tindak-tanduknya sehari-hari tidak berdasarkan ajaran Agama. Bagi orang yang menginginkan Bhuta menjadi Atman, maka Bhuta yang berada didalam dirinya harus dikendalikan dari hal-hal yang negatif menjadi kearah positif, karena Bhuta tersebut akan berusaha dengan keras mempengaruhinya mungkin dengan cara memberi pertimbangan yang keliru namun bagi pikiran akan dinilai lebih masuk akal sehingga kita menjadi goyah, atau mengganggunya dengan membuat kejadian yang aneh-aneh atau cara lainnya dengan tujuan menghalanginya. Disinilah dibutuhkan tekad yang kuat, tetap teguh, penuh keyakinan untuk mencapai-Nya.

Meditasi “Teja Surya” lebih bertujuan untuk mendapatkan Ketenangan bathin, Kesadaran diri, Kesehatan dan menambah Intelektual. Disamping itu bermeditasi pada Teja Surya akan mampu meningkatkan Tali Spiritual anda dan bahkan mencapai kebebasan spirit secara spiritual. Atau bagi yang melaksanakan Meditasi ini secara tekun, niscaya hasil awalnya dapat diketahui dengan merasakan perubahan–perubahan pada kehidupan sehari-harinya dari hal-hal negatif menuju kearah positif terutama pada sikap, cara berpikir, rasa keakuan ( ego ) dan hal lainnya.


TEMPAT MEDITASI

Dalam melakukan meditasi pilihlah tempat yang suci seperti di Pura, Merajan, atau Pelinggih-pelinggih yang suci. Bila hal ini tidak memungkinkan sediakan kamar suci (sebuah ruangan khusus di rumah anda), yang sebelumnya disucikan terlebih dahulu sesuai kepercayaan dan keyakinan atau tempat-tempat yang suasananya tenang dan memungkinkan untuk melakukan meditasi. Pada kamar suci tersebut buatlah tempat Pemujaan (Pelangkiran, Patung/Pratima) serta pasanglah gambar /symbol-simbol suci misalnya : Gambar Dewa / Dewi, Gambar Guru ( Orang Suci ), Simbol Omkara, tulisan dari mantra-mantra suci. Secara Rohani ini akan sangat membantu untuk menyucikan ruangan dan pikiran anda dari hal – hal yang bersifat negatif.

Sediakanlah tempat duduk dengan kursi atau di atas lantai yang diberi alas cukup tebal (± 5cm ) misalnya dengan menggunakan bantalan tempat duduk. Hal ini untuk menghindari pengaruh daya gravitasi bumi terhadap tubuh fisik.


WAKTU MEDITASI

Waktu untuk melakukan meditasi yang baik yaitu saat dimana suasana terasa tenang dan memungkinkan untuk melatih dalam Pemusatan pikiran. Seperti sebelum fajar antara pukul 03.00 – 06.00 pagi, dimana pada waktu itu udara mulai terasa segar, suasana lingkungan yang tenang, dan di samping itu energi prana yang bersifat kasar semakin menipis sedangkan energi prana yang bersifat halus masih stabil.

Jika anda tidak terbiasa bangun pagi, anda dapat bermeditasi pada waktu Sore hari, antara pukul 20.00 – 22.00, dimana pada saat itu paling tidak suasana akan terasa lebih tenang mungkin akibat ketegangan pikiran dari pengaruh rutinitas pekerjaan atau hal lainnya. Waktu diatas bukanlah suatu keharusan, andapun dapat tentukan sendiri waktu yang baik untuk melaksanakan meditasi dengan mempertimbangan kondisi sendiri dan lingkungan disekitar anda.

SIKAP ( ASANA )


Pada Meditasi Teja Surya, sikap duduk merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan terutama keadaan tulang pungung supaya tegak lurus. Ini dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, terutama bangkitnya api kundalini yang tidak disadari. Karena kebangkitan Ibu Kundalini Sakti, prosesnya melalui Nadi Susumna yang merupakan nadi utama yang terletak di tulang punggung. Bila anda belum terbiasa dengan menegakkan tulang punggung dapat dilatih dengan bersandar pada dinding.

Setelah menguasai keadaan ini selanjutnya kendalikan Panca Indra anda terutama pada mata fisik, dengan memejamkan mata ( jangan sampai tertidur ), atau dengan memandang ujung hidung dalam keadaan mata setengah terbuka. Letakkan kedua tangan diatas kaki, telapak tangan menghadap keatas, satukan ibu jari dengan jari telunjuk sehingga membentuk lingkaran. Ini dimaksudkan untuk mengekang emosi ( ego) yang berasal dari Cakra Swadhistana dan Wisudha, dan melepaskan Tri Guna ( Satwam, Rajas dan Tamas ) melalui ketiga jari yang terbuka.






Pada gambar 1 dan 2 ada sedikit perbedaan yang terlihat. Bila bermeditasi yang sekiranya tidak memerlukan waktu yang cukup lama atau kesadaran anda dalam keadaan terjaga penuh / seperempat kesadaran anda mencapai visualisasi, maka cukup anda gunakan seperti gambar 1. Sedangkan bila bermeditasi lebih dari dua jam atau mungkin anda ingin mencapai kesadaran tahap tetha bahkan ingin sampai semadi sebaiknya gunakan cara seperti gambar 2, karena cara ini membuat keutuhan posisi jari telunjuk untuk tetap menyentuh ibu jari saat kesadaran melupakan tubuh fisik anda. Disaat seperti ini biasanya gerakan tubuh tidak lagi dapat dikontrol disebabkan pikiran berada pada titik konsentrasi yang sangat tinggi pada obyek yang dimeditasikan sehingga pengontrolan tubuh oleh pikiran mendekati titik terendah. Atau dengan kata lain tubuh bergerak tanpa adanya kesadaran pikiran.

Pengaturan Nafas ( Pranayama )

Setelah anda menentukan tempat bermeditasi, dan mengambil sikap yang baik seperti yang telah diuraikan diatas, stabilkan dan tenangkan pikiran anda dari hal-hal negatif, seperti berbagai masalah yang telah anda alami, rasa marah, benci, ataupun kesedihan, jangan biarkan mengganggu usaha meditasi yang akan anda latih. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan tekhnik pernafasan atau Pranayama.


Tekhnik ini dilakukan dengan cara menghirup nafas dari hidung dengan dalam-dalam kemudian menyimpannya dan mengeluarkan secara berirama. Bagi pemula dapat melatih tekhnik pernapasan mulai dari tahapan yang paling ringan dan secara bertahap kemudian ditingkatkan. Bila anda ingin lebih mengenal teknik pernapasan yang lebih baik anda dapat membaca buku–buku tentang tekhnik pernapasan (Pranayama). Tekhnik pernafasan merupakan dasar disiplin yang paling utama untuk menuju ketingkatan yang lebih tinggi.

Pemusatan Pikiran ( Dharana )

Apabila anda sudah cukup tenang, sebelumnya ingatlah berdo’a pada Tuhan / Sesuhunan dan memohon perlindungan-Nya, serta mohon bimbingan dari Guru spiritual anda ( Guru Suci ). Selanjutnya visualisasikan Teja Surya sebagai manifestasi kekuatan Tuhan berbentuk bulatan putih terang dan kalau bisa sampai pancaran sinarnya.
Untuk dapat memvisualisasikan Teja Surya anda melatihnya dengan cara seperti dibawah ini :

Memandang Sinar Matahari Pagi
Pandanglah Matahari dipagi hari antara pukul 06.00 – 07.00
(jangan melewati batas waktu ini, cukup bahaya). Pandanglah Matahari beberapa menit dengan mata terbuka ( sesuai dengan kemampuan). Sambil menatapnya niatkan dalam hati untuk merekamnya. Setelah dirasa cukup lama sekarang pejamkan mata anda sambil mengingat dan membayangkan Matahari yang telah anda pandang tadi. Pada saat memejamkan mata, pusatkan perhatian pada titik pertemuan di ke-dua alis mata ( Ajna ), maka bayangan matahari yang terlihat, mungkin akan berbeda warnanya. Bila anda sudah melihat perbedaan warna ini bukalah mata anda dan ulangi cara diatas beberapa kali semampu anda, sampai bulatan matahari itu terlihat jelas disaat anda memejamkan mata. Bila bayangan Matahari terlihat cukup jelas saat memejamkan mata niatkan dalam hati / pikiran anda untuk tetap merekamnya. Lakukan latihan ini secara teratur setiap hari, sampai Sinar / Matahari bisa anda bayangkan secara permanen.

Seputar Cakra

CAKRA berarti perputaran energi atau pusat aliran energi dalam bentuk roda / cakram. Berputarnya roda energi menimbulkan Pusaran energi, pusaran energi yang terbentuk akan di alirkan ke alat-alat organ dalam pada tubuh fisik kita melalui nadi yang sangat halus (meridian). Aliran energi ini bertanggung jawab atas kerja dan fungsi organ dalam didalam tubuh fisik. Cakra-cakra ini letaknya pada tubuh etheris dan bersesuaian dengan organ dalam pada tubuh fisik.

Diamati secara kewaskitaan pada Tubuh Etheris kita, terdapat cekungan seperti sebuah terompet dimana didalam intinya terdapat bulatan sinar menyerupai Matahari/Bulan kecil yang memancarkan sinar dengan jumlah berkas sinar yang berbeda-beda. Bulatan sinar inilah yang dikenal dengan Cakra. Dalam inti cakra terdapat jalinan simpul yang menyerupai anyaman. Anyaman/Inti cakra ini berhubungan erat dengan cakra-cakra lainnya, melalui nadi-nadi atau jalur meridian (tempat mengalirnya Prana ). Dari beberapa cakra ada cakra-cakra yang akar simpulnya berhubungan langsung dengan nadi utama (Sushumna Nadi ) yang terletak di rongga tulang punggung tubuh fisik.






FUNGSI CAKRA
Sebagai pengaktifan panca indra sehingga menjadi pewaskitaan. Seperti telah djelaskan diatas, cakra merupakan pusat aliran energi baik yang keluar ataupun masuk ke dalam tubuh. Pengetahuan tentang cakra penting sekali untuk diketahui terutama dalam melakukan tekhnik penyembuhan, kebangkitan Kundalini atau meditasi. Secara garis besarnya fungsi cakra tersebut adalah :

Menarik, memberi, memeroses, dan mengalirkan Energi keseluruh tubuh untuk memenuhi keperluan organ-organ tubuh dalam aktivitas dan kreativitas.

Mengendalikan dan bertanggung jawab terhadap energi yang dibutuhkan oleh seluruh tubuh.

Untuk keperluan kesadaran
Psikis dalam mendalami spiritual.
Sebagai alat penyembuhan suatu penyakit.
Sebagai penyaluran tenaga dalam atau tenaga prana.
Sebagai alat pendeteksi.


Cakra disebut aktif apabila cakra tersebut berputar dengan kecepatan rata-rata dari kesemua cakra yang ada. Tegasnya cakra tersebut berputar secara seimbang antara cakra yang satu dengan yang lainnya. Jika ada salah satu cakra yang perputarannya lebih cepat atau lebih pelan ini bisa menimbulkan kelainan pada organ tubuh yang berhubungan dengan cakra tersebut.

Dari titik awal (0 derajat) cakra berputar kearah kanan sekitar 180 derajat kemudian langsung balik ke arah kiri sekitar 320 derajat. Titik akhir perputaran kekiri adalah titik awal perputaran yang kedua yaitu kearah kanan, begitu sampai pada sekitar 180 derajat kekanan berbalik lagi ke arah kiri sekitar 320 derajat dan seterusnya. Sehingga jika terus diamati dengan adanya titik 1, 2, 3 dan seterusnya maka cakra dikatakan berputar ke arah kiri atau aktif karena cakra tersebut lebih banyak menyerap atau menarik energi ( berputar kearah kiri).


JARINGAN ANTAR CAKRA


Hubungan kerja antar cakra lainnya juga sangat berpengaruh terutama cakra Muladhara, Solar-plexus, Anahata, dan Ajna. Khusus cakra Ajna bertugas lebih berat yaitu menyeimbangkan, mengatur dan mengendalikan seluruh cakra dibawahnya atau sebagai pemimpin cakra-cakra.
Jaringan antara Cakra Utama, Cakra Madya dan Cakra Alit semuanya saling berhubungan dengan membentuk suatu jaringan tertentu. Setiap Cakra Utama bisa memiliki lebih dari satu cakra Alit yang mengitari cakra Utama. Letak dari sub cakra utama bisa berada dekat ataupun jauh dari cakra utama. Misalnya Cakra Tangan merupakan perwakilan dari cakra-cakra Utama yang berada pada telapak tangan dan jari tangan. Demikian juga antar cakra-cakra utama, saling berhubungan erat dan saling memberi pengaruh secara psikis.
Cakra Muladhara yang merupakan pondasi utama bersinergi dengan cakra lainnya dengan adanya hubungan nadi-nadi. Kesadaran pada Cakra Muladhara dinaikkan dan dipompa oleh cakra Meng-mein dengan tujuan menunjang proses asimilasi pada cakra Manipura dan proses pembersihan darah dan udara baik pada Ginjal, paru-paru dan jantung.

Khususnya hasil pemerosesan yang berupa zat-zat halus akan dialirkan ke seluruh cakra-cakra Utama terlebih dahulu dimana pengaturannya melalui cakra solar-plexus. Untuk mendukung kerja Solar-plexus maka diperlukan Prana udara dan peran ini dilakukan oleh cakra limpa yaitu menarik Prana udara yang bersifat vital dari pernafasan kemudian diuraikan menjadi prana berwarna dan disebarkan keseluruh cakra sesuai dengan tingkat frekwensi warna cakra yang sudah ada.


BENTUK, WARNA DAN UKURAN CAKRA



Cakra bila dipandang secara pewaskitaan hanya berupa bulatan sinar yang memancar dari tempatnya yang berbentuk sebuah cekungan atau terowongan. Bulatan sinar tersebut ada yang memancar terang dan redup. Sedangkan bentuknya lebih mirip seperti piringan atau lempengan kaset VCD. Dari lubang intinya terdapat akar/anyaman yang fungsinya sebagai jalur penghubung antar cakra-cakra yang disebut Nadi. Khusus pada cakra Wisudha pada intinya terdapat sinar lain yang bergerak-gerak seperti sebuah bandul bergerak bolak balik dan ekor cahayanya kelihatan seperti bintang kukus / comet.
Pada orang yang Cakranya aktif maka Cakra yang terlihat baik sinar dan warnanya menjadi jauh lebih terang serta bentuk dan ukurannya lebih jelas. Sebaliknya bila memandang Cakra orang yang sedang mengalami sakit, Cakra tersebut lebih banyak dibungkus oleh tempatnya dan kelihatan sinarnya sangat redup sehingga sisi diluarnya kelihatan agak gelap dengan bersinar timbul tenggelam, lagi bersinar lagi tidak seperti lampu disco flip-flop yang sangat pelan. Cakra yang bekerja aktif akan mengeluarkan perbedaan warna yang sangat jelas. Pancaran Sinar yang terlihat membiaskan warna berkilauan keperak-perakan seperti warna pada sayap kupu-kupu atau kerang mutiara. Semua warna yang terlihat sangat indah sulit untuk dilukiskan dengan warna yang ada. Warna pada tiap Cakra sangat sulit untuk dibedakan kecuali yang sangat jelas dibedakan yaitu pada Cakra Muladhara dengan warna luar mirip batu permata merah delima dengan titik tengahnya seperti warna lahar dari gunung berapi dengan gerakan cukup teratur, Cakra Wisudha dengan warna biru mirip sayap kupu-kupu yang ada warna biru mudanya (Peacok blue), dan khusus pada Cakra Ajna warna sinarnya tergantung tingkat spiritual seseorang. Namun yang jelas bila Cakra ini aktif dan digunakan untuk pewaskitaan, warna sinar yang memancar kelihatan putih terang seperti Matahari disiang hari atau mirip nyala sinar hasil dari mesin Las listrik yang putih keunguan / kebiruan yang sangat menyilaukan. Berbeda halnya bila Cakra Ajna diaktifkan untuk keperluan lain misalnya untuk kreativitas, marah atau sedang konsentrasi full (hipnotis) maka sinar yang kelihatan seperti sinar Laser kemerahan atau senjata api yang memakai titik sinar sebagai titik focusnya. Sedangkan kalau tidak memancar keluar akan kelihatan seperti nyala api Dupa.

Pembagian Cakra

Cakra yang semakin aktif akan memiliki bentuk semakin jelas dan ukurannyapun semakin bertambah. Menurut ukuran cakra dapat dibedakan menjadi tiga ukuran yaitu :


Cakra Utama

Pada kebanyakan orang cakra ini biasanya sebesar mangkok atau lebih besar sedikit dari kepingan kaset VCD. Kalau ukuran Cakranya lebih kecil dari ini biasanya orang tersebut mengalami gangguan dibagian organ tersebut atau orangnya sakit. Dan bila cakra ini membesar, inipun ada dua kemungkinan yaitu orang tersebut memiliki tingkat spiritual yang sudah maju atau orang tersebut mempunyai keahlian secara khusus tanpa pengetahuan spiritual. Memiliki cakra yang cukup besar dan tidak seimbang dengan cakra utama lainnya, ini malahan bisa menimbulkan suatu penyakit tertentu terutama bagi orang yang cakra utamanya membesar secara tidak sengaja.
Menurutt Kitab Tantra dan Kundalini Yoga di dalam lapisan tubuh terdapat 365 Cakra didalam tubuh termasuk tujuh buah Cakra Utama dan 7 cakra diluar tubuh (tidak termasuk cakra Sahasrara). Tujuh cakra utama tersebut adalah :


Cakra Mahkota ( Sahasrara )

Cakra Ajna (Adnya)
Cakra Wisudha (tenggorok)
Cakra Anahata (Jantung)
Cakra Manipura (Pusar)
Cakra Svadhistana (Sex)
Cakra Muladhara (Dasar)
Disamping Cakra yang diuraikan seperti diatas ada pula cakra – cakra yang diuraikan secara berbeda-beda seperti menurut Kitab Charaka dan Susruta terdapat sembilan buah cakra Utama dengan memakai nama, ada yang sama dan tidak. Namun secara garis besarnya baik letak dan fungsinya hampir sama. Tambahan Cakra tersebut adalah Cakra Lalana yang terletak di daerah pangkal lidah dengan 12 lembar daun dan Cakra Soma yang letaknya didaerah otak besar (Dahi). Sedangkan menurut Lontar yang ada di Bali Cakra-cakra yang telah ada lebih dikembangkan dan ada beberapa penggantian nama dengan nama lain.

Cakra Madya

Cakra madya adalah cakra dengan ukuran sedang yaitu dengan jari-jari sekitar 2-3 cm dan pusaran energinya 5–10 cm. Cakra ini jarang diaktifkan karena dalam meningkatkan spiritual pengaruhnya sangat kecil, cakra ini hanya digunakan dalam membantu penyembuhan. Ada beberapa Cakra Madya yang cukup penting diantaranya Cakra telapak Tangan, Cakra Meng-mein, Cakra Limpa, Cakra Plexus-solar Plexus, Cakra Soma dan Cakra Bindu (Belakang kepala).

Cakra Alit

Cakra ini ukurannya sangatlah kecil bervariasi dari sebesar kelereng sampai sebesar mulut botol. Cakra ini bertebaran diberbagai tempat didaerah tubuh seperti nyala bintang-bintang yang menghiasi tubuh. Cakra ini biasanya banyak digunakan dalam penyembuhan pijat refleksi dan akupuntur dimana hasil yang dirasakan lebih cepat. Hal ini disebabkan cakra Alit lebih berhubungan langsung dengan titik-titik meridian/nadi.










Cakra Dasar - Muladhara Cakra


kemerah-merahan dengan 4 berkas sinar / daun. Bagian tengahnya terdapat warna sinar orange, semakin kedalam terdapat sedikit bulatan sinar kuning. Disinilah bersetananya Dewa Brahma dengan saktinya serta bersemayamnya kekuatan Suci Ibu Kundalini yang berwujud Ular Emas melilit Lingga Swayambu Siwa dengan tiga setengah lilitan utama.Cakra Muladhara dipengaruhi dari unsur-unsur zat padat ( Pertiwi ), dimana unsur ini berhubungan erat dengan kebugaran tubuh fisik, hal-hal material, perkembangbiakan, kreativitas. Pengetahuan tentang cakra ini sangatlah penting mengingat Cakra Muladhara merupakan pondasi yang perlu dikokohkan sebelum menuju ketingkatan spiritual yang lebih tinggi. Bila pondasi yang rapuh menyebabkan anda terhalang ditengah jalan. Salah satu faktor yang cukup penting yakni memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terutama dijaman ini yaitu unsur materialnya

Orang yang cakra Muladharanya aktif dan berkembang cendrung membuat orang tersebut lebih sehat dan kuat karena cakra ini bersifat padat penuh energi, yang mempengaruhi keinginan untuk selalu tetap hidup, teguh pendirian serta mempengaruhi keadaan suhu tubuh. Cakra ini merupakan dasar kekuatan tubuh fisik sekaligus melindungi tubuh fisik dari berbagai energi yang bersifat negatif. Pada tubuh kita cakra ini lebih banyak mempengaruhi sistem :
- Kerangka tulang-tulang
- Urat-urat
- Daging dan otot.
- Kwalitas darah

Bila cakra Muladhara mengalami gangguan (kurang aktif) menyebabkan orang tersebut menjadi agak pemalas, lemah, kadang-kadang menyebabkan keputusasaan. Demikian juga penyakit yang ditimbulkan pada tubuh fisik dapat berupa :
1. Penyakit Reumatik
2. Penyakit Tulang Punggung
3. Pembengkaan pada otot ( Asam Urat )
4. Kanker dan Demam.
5. Kondisi tubuh yang lemah
6. Kurang bersemangat.

Secara emosional Cakra Muladhara dapat mempengaruhi rasa marah dan rasa jengkel atau yang berhubungan dengan emosional lebih bersifat nyata.
Bermeditasi pada Cakra Muladhara serta dapat memahami kesadaran psikisnya, maka orang tersebut dapat terbebas dari berbagai penyakit, penuh kenikmatan duniawi, dan apabila mencapai pada Siddhi yaitu memungkinkan memiliki kekuatan melayang dari tanah secara nyata atau hanya tubuh halus keluar melalui Nadi Sushumna (tulang pungung) menuju ke ubun-ubun. Selain itu daya penciuman yang semakin tajam.

Cakra Sex - Swadhistana Cakra



Swadhistana letaknya bersesuaian dengan daerah kemaluan memancarkan 6 berkas sinar / helai daun berwarna oranye (jingga) mandalanya berbentuk bulan sabit sebagai lambang air . Di cakra ini berstanalah Dewa Wisnu dengan saktinya Dewi Laksmi / Sri . Sesuai sifat air cakra ini mempengaruhi nafsu dan emosi dengan tingkatan yang lebih rendah dari cakra Wisudha seperti tingkah laku yang kasar, hilangnya akal sehat rasa kurang peduli, kurang percaya pada diri sendiri , kecemburuan, keserakahan.
Cakra Swadhistana bekerja mengendalikan organ-organ tubuh didaerah organ sexual seperti :

Kemaluan
Uretra
Kandung kencing
Indung telur, sperma
Kandung kemih

Cakra Swadhistana yang sedang mengalami gangguan menyebabkan berbagai jenis penyakit misalnya:

Impotensi
Berbagai penyakit sexsual
Haid tidak teratur
Kemandulan
Hilangnya daya ingat (Pikun)
Bila bermeditasi pada cakra Swadhistana serta memahami kesadarannya niscaya akan mempunyai sikap pengontrolan diri yang tinggi, daya ingat semakin baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar