Senin, 22 Desember 2008

KOSMOLOGI SUNDA

Kosmologi Sunda 


“Pada mulanya kami mengira bahwa ketiga naskah (koropak 420, 421 dan 422) berisi teks yang bertalian dengan ajaran agama Islam, karena dalam katalog naskahnya yang dibuat oleh C.M. Pleyte awal abad 20 naskah koropak 420 berisi ajaran Sunan Gunang Jati (lesjes Soenan Goenoeng Djati). Sunan Gunung Jati adalah tokoh penyebar agama dan penegak kekuasaan Islam di Tatar Sunda yang dipandang sebagai salah satu seorang wali dan Walisanga di Pulau Jawa. 

Sementara naskah koropak 421 disebutkan berisi teks campuran (Gemengd) dan naskah Kropak 422 diberi judul Jatiraga. Ketiga naskah tersebut berasal dari satu tempat, yaitu Kawali (Ciamis), dan diberikan oleh Bupati Galuh R.A. Kusumadiningrat yang memang bertanggung jawab atas penyimpanan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Pajajaran ………..”. 

Itulah Kata Pengantar Tim Penelitia Koropak 420, 421 dan 422 yang ditulis didalam buku Gambaran Kosmologi Sunda, disusun oleh Undang A. Sudarsa dan Edi S. Ekadjati.

Tidak perlu diragukan lagi tentang muasal naskah tersebut ditemukan, karena Kawali pernah menjadi ibukota Sunda – Galuh pada abad 14 – 15 M. Pada pasca itu pula disinyalir Islam sudah mulai masuk kedaerah Galuh. Banyak pula para pembesar dan masyarakat Pajajaran yang masih “tuhu ka Pajajaran” mengungsi ke Kawali setelah Pajajaran diserang dan diduduki pasukan Islam Banten-Cirebon. Selain fakta kesahihan naskah patut pula diperhitungkan tentang posisi Bupati Galuh R.A. Kusumadiningrat, sebagai trah Pajajaran yang memiliki tanggung jawab menyimpan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Pajajaran.


Didalam pengantar Buku Gambaran Kosmologi Sunda dijelaskan nama-nama yang tepat untuk masing-masing koropak. Untuk naskah koropak 420 diberi nama Kosmologi Sunda. Naskah koropak 421 dibagi menjadi 4 macam teks, yakni Silsilah Prabu Siliwangi ; Mantera Aji Cakra ; Mantera Darmapamulih ; dan ajaran Islam. Sedangkan naskah 422 diberi nama Jatiraga.


Pemberian nama terhadap naskah tersebut juga disesuaikan dengan isi naskah. Misalnya Koropak 420 semula dianggap berisi ajaran Sunan Gunang Jati (lesjes Soenan Goenoeng Djati), sebagaimana yang disebutkan Pleyte pada awal abad 20, namun berdasarkan Tim Peneliti dianggap kurang tepat. 


Istilah Gunung Djati dalam naskah tersebut hanya disebutkan satu, itu pun merujuk pada kosmologi Sunda Pra Islam, yakni :


Nu ngeusina Gunung Jati, -
Bukit Tri Jantra si Jati, - 
Dina bukit Palasari, -
Mandala si Pasekulan, - 
Ngaranna Bungawari, -
Ujung Gangga Marangwati, -
Tajak Barat ka - maksahan, -
Ngaran na Puncak Akasa.


(Penghuni di Gunung Jati, - bukit Tri jantra si jatri, - terletak di Bukit Palasari, - ilayah si Pasekulan, - Namanya Bungawari, - Ujung Gangga Marangwati, - Tajak Barat tempat penyempurnaan, - namanya Puncak Angkasa).


Tentunya justifikasi atas perbedaan Kosmologi ini telah diketahui oleh para peneliti Naskah melalui cara membandingkan kedua Kosmologi tersebut.


Dalam uraian Kosmologi Sunda didalam Pikiran Rakyat, edisi Kamis 2 Juni 2005, EDI S. EKADJATI menghubungkan antara naskah Kosmologi Sunda (koropak 420) dengan naskah Jatiraga (koropak 422). Hubungan naskah dimaksud, antara lain sebagai berikut :


Sehubungan dengan adanya jalan ideal yang menghubungkan bumi sakala (alam dunia) dengan buana niskala dan buana jatiniskala (alam akhirat), maka dalam naskah lontar Kropak 420 diutarakan secara panjang lebar tentang ciri-ciri dan sifat kehidupan di bumi sakala, sedangkan dalam Kropak 422 dikemukakan ciri-ciri dan sifat kehidupan di buana niskala dan buana jatiniskala yang menggiring manusia agar memilih jalan ideal yang lurus menuju buana niskala yang berupa surga yang menyenangkan, bahkan buana jatiniskala yang paling tinggi derajatnya. 


Dengan demikian, rasanya kurang lengkap jika membaca naskah Kosmologi Sunda tanpa membaca Jatiraga.




Naskah Kosmologi Sunda dan Jatiraga
Menurut Edi S. Ekadjati didalam Islam jagat raya terdiri dari 5 alam, yaitu alam roh, alam rahim, alam dunia, alam barzah, dan alam akhirat. Kosmologi menurut konsep Islam didasarkan pada kronologis kehidupan manusia (dan makhluk lainnya). Sedangkan Naskah Kosmologi Sunda membagi menjadi 3 alam, yaitu bumi sangkala (dunia nyata), buana niskala (alam gaib), dan buana jatiniskala (dunia atau alam kemahagaiban sejati). 


Bumi sangkala, alam nyata di dunia tempat kehidupan makhluk yang me­miliki jasmani (raga) dan rohani (jiwa), yakni manusia, hewan, tumbuhan, dan benda lain yang dapat dilihat baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Buana niskala, alam gaib tempat tinggal makhluk gaib yang wujudnya hanya tergambar dalam imajinasi manusia, seperti dewa-dewi, bidadara-bidadari, apsara-apsari, dll. Jumlah dan ragam makhluk tersebut banyak dan bisa bergabung satu dengan lainnya serta berkedudukan lebih tinggi dari manusia. Buana niskala, merupakan kata lain dari surga dan neraka”. 


Naskah Kosmologi Sunda mencerminkan gambaran jenis penghuni dan tingkat kegaiban dari masing-masing alam. Digambarkan pula kedudukan masing-masing, baik kosmos maupun penghuninya. Namun naskah tersebut tidak mengungkapkan adanya alam yang dihuni oleh roh manusia sebelum lahir ke alam dunia (bumi sakala). 


Didalam Islam alam roh dan alam rahim yang merupakan alam gaib menjadi tempat kehidupan manusia sebelum lahir ke dunia (alam dunia), sementara alam barzah dan alam akhirat yang juga merupakan alam gaib menjadi tempat kehidupan manusia sesudah mengalami kematian. Kehidupan manusia di alam dunia sangat menentukan kehidupannya di alam kubur dan alam akhirat.


Teks buhun umumnya mengabarkan perihal cita-cita urang sunda buhun jika meninggalkan alam dunya, yakni “balik ka Hiyang, lain ka Dewa”. Namun yang menentukan tempat seseorang sesudah kematian adalah sikap, perilaku, dan perbuatannya selama ia hidup di dunia. Jika sikap, perilaku, dan perbuatannya buruk dan bertentangan dengan ajaran agama, maka akan kembali lagi ke alam dunia dalam wujud yang lebih rendah derajatnya (kepercayaan reinkarnasi) atau masuk ke dalam siksa neraka. Jika sikap, perilaku, dan perbuatannya baik ia (rohnya) akan naik menuju alam niskala yang menyenangkan (surga). Mungkin masalah ini lebih jelas diuraikan didalam Naskah Sewakadarma, sebagaimana yang dijelaskan Ayatrohaedi. Pada intinya menguraikan cara persiapan menghadapi maut dengan cara yang indah, serta bagaimana ketika jiwa setelah meninggalkan raganya.


Jika saja isi dari Koropak 420 dipersamakan dengan sastra nampak ada semacam wawancara imajener, atau mungkin juga bagi para pencari makna hidup dianggap sebagai “dialog bathin”, antara Mahapandita ; Pwah Betari ; dan Pwah Sanghyang Sri. Ketiganya dianggap mewakili penghuni bumi sakala ; kahyangan ; dan Surga. Dialog bathin ketiganya menggambarkan bagaimana para penghuni bumi sakala, Kahyangan dan Surga melaksanakan tugasnya masing-masing.


Suatu contoh isi naskah dimaksud dipaparkan oleh Edi S. Ekadjati, sebagai berikut :


Pernyataan dan pertanyaan Mahapandita :


"Lampah tunggal na rasa ngeunah, paduum na bumi prelaya, maneja naprewasa, ka mana eta ngahingras?" 


(Berjalan teriring rasa senang, saling bagi saat dunia binasa, tembus memancarkan sinar. Ke manakah harus meminta tolong?).


atas pertanyaan diatas, Pwah Batara Sri, menjelaskan : 


"Ka saha geusan ngahiras, di sakala di niskala, manguni di kahyangan, mo ma dina laku tuhu, na jati mahapandita," 


(Kepada siapakah mohon pertolongan, baik di sakala maupun di niskala, terlebih lagi di kahyangan, kecuali dalam perilaku setia, pada kodrat mahapandita).



Naskah tersebut menjelaskan pula tentang kehidupan di bumi sakala :


"Samar ku rahina sada, kapeungpeuk ku langit ageung, kapindingan maha linglang, ja kaparikusta ku tutur, karasa ku sakatresna, kabita ku rasa ngeunah, kawalikut ku rasa kahayang, bogoh ku rasa utama, beunang ku rasa wisisa." 


(Samar oleh keadaan pagi hari, tertutup oleh langit yang luas, terhalangi keluasan langit sebab terjebak oleh cerita, terasa oleh segala kecintaan, tergiur oleh rasa nikmat, tergugah lagi oleh keinginan, senang oleh perasaan luar biasa, terpikat oleh perasaan mulia).


Tentang ajaran moral keagamaan :


setiap makhluk yang ada di jagat raya, baik di bumi sakala maupun di buana niskala, hendaknya mampu menjalankan tugasnya masing-masing sesuai dengan kadar bayu (kekuatan), sabda (suara), dan hedap (iktikad) yang diterima dari Sang Pencipta. Manusia pun hendaknya mampu menyeimbangkan bayu, sabda, dan hedapnya masing-masing melalui berbagai kegiatan tapa (pengabdian) lahir dan batin agar kelak bisa kembali ke kodratnya bagaikan dewa.


Dalam naskah ini dijelaskan pula tentang masalah “Tapa”, sebagai berikut :


melaksanakan tapa manusia hendaknya diiringi oleh penuh rasa keikhlasan, jangan rakus, jangan mengambil hak yang lain supaya tidak tersesat kembali ke bumi sakala dan mengalami sengsara. Apabila hendak berbuat kebajikan, janganlah setengah hati! Itulah kodrat pendeta dan hakikat pertapaannya yang dilakukan tak kenal siang dan malam. Perhatikanlah orang yang benar! Carilah orang yang menjalankan tapa! Semoga berhasil berbuat kebaikan. 

Janganlah menjalankan tapa yang salah! Yaitu tapanya orang yang suka menyiksa badan, berlebihan dalam hal kekuasaan, terperdaya oleh isi hati, dan tersesat karena berahi. Itulah perilaku yang tak bermanfaat. Menjadi pendeta, janganlah hanya mengaku-aku, melainkan hendaknya disertai kekuasaan sejati. 


Kemudian pesan moral lainnya yang terkandung di dalam naskah tersebut, sebagai berikut :


"Mulah cocolongan bubunian, jadi budi nupu manglahangan, ngagetak ngabigal, mati-mati uwang sadu, ngajaur nu hanteu dosa, hiri dengki nata papag, pregi ngajuk ngajalanan,"


(Janganlah mencuri sembunyi-sembunyi, berpikiran tamak menghalangi, menggertak merampok, suka membunuh orang suci, memeras yang tak berdosa, iri dengki melukai memukul, berani mengawali berutang).



Lebih jauh Edi S. Ekadjati menjelaskan tentang makna Kosmologi Sunda yang terkandung dalam naskah, bahwa : konsep kosmologi Sunda Kuna bukan hanya dimaksudkan untuk pengetahuan semata-mata mengenai struktur jagat raya, melainkan lebih ditujukan sebagai media agar kehidupan manusia jelas tujuan akhirnya, yaitu kebahagiaan dan ketenteraman hidup di buana niskala dan buana jatiniskala yang abadi.

Sumber Rujukan : 

1. Gambaran Kosmologi Sunda, Undang A Sudarsa dan Edi S. Ekadjati, Kiblat Buku Utama, Bandung – 2006.
2. Kosmologi Sunda, EDI S. EKADJATI, Pikiran Rakyat, Kamis, 2 Juni 2005.
3. Nganjang ka Kalangengan, agama Urang Sunda Pra – Islam menurut Naskah, Ayatrohaedi, dalam Buku 
Tulak Bala, Kiblat Buku Utama, Bandung – 2003.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar