Kamis, 25 Desember 2008

VERIFIKASI SAINTIFIK PENGETAHUAN WEDA

VERIFIKASI SAINTIFIK PENGETAHUAN WEDA

(Scientific Verification of Vedic Knowledge)

Dr. Made Wardhana2

Om ajnana-timirandhasya jnananjana-salakaya
caksur unmilitam yena tasmai sri-gurave namah
(Hamba lahir dalam kebodohan yang paling gelap, kemudian Guru Kerohanian hamba membuka mata hamba dengan pelita pengetahuan. Hamba bersujud dengan hormat kepada Beliau)



PENDAHULUAN

Berbicara tentang weda, semua orang akan memahami yang artinya pengetahuan, pada awalnya pengetahuan disampaikan langsung dari sumber yang aslinya yaitu Personalitas Tuhan sebagai Adiguru (Omni-scince), yang maha mengetahui dan kemudian diteruskan kepada personalitas-personalitas agung yang dikuasakan. Pengetahuan tersebut merupakan pengetahuan sejati yang bersifat kekal, karena bersumber dari Personalitas Tertinggi dan yang kekal. Perkembengan berikutnya karena keterikatan manusia dengan duniawi, serta perputaran yuga dari Satya yuga sampai Kali yuga, manusia lebih mengutamakan pengetahuan duniawi dengan dalih untuk kesejahteraan umat manusia. Sains modern yang dihasilkan dari olah pikir manusia dengan metode ilmiah untuk mendapatkan pengetahuan baru. Sesuai dengan sastra ada dua jenis pengetahuan : pengetahuan modern yang bersifat relatif (pengetahuan yang diterima diperguruan tinggi) dan pengetahuan sejati yang bersifat absolut. Dalam upanisad dinyatakan : ”tasmai sa hovaca : dve vidye vediavye iti ha sma yad brahmavido vadanti, para vaivapara ca” - dua macam pengetahuan hendaknya dimengerti yaitu pengetahuan yang lebih tinggi dan yang lebih rendah (Mundaka upanisad I.1.4). Jelas disebutkan pengetahuan yang lebih tinggi (paravidya) yaitu pengetahuan tentang Brahman, kebenaran mutlak dan aparavidya pengetahuan duniawi yang bersifat relatif. Para ilmuwan umumnya kurang memahami aspek paravidya, dan lebih terbuai dengan aparavidya. Sebagai contoh, biologi adalah cabang ilmu yang mengkaji tentang kehidupan, banyak kajian tentang bentuk-bentuk jasad(spesies), anatomi-fisiologi, perilakunya dan lainnya yang semuanya masih bersifat kajian material, belum menyentuh tentang sumber atau tenaga rohani yang menyebabkan sesuatu disebut mahluk hidup, yaitu keberadaan sang roh atau tenaga rohani Tuhan(para-prakrti). Tanpa adanya partikel rohani (roh) ini, mahluk hidur tidak akan berkembang.

Untuk mendapatkan pengetahuan modern, manusia mempergunakan indria-indrianya dengan melakukan upaya pengamatan secara langsung (empiris) maupun dengan cara analisis, namun karena indria manusia sangat tidak sempurna maka pengetahuan yang dihasilkanya pun kurang sempurna. Dalam Manu Samhita 12.105 dinyatakan bahwa : “pratyaksas-canumananca sastranca vividhagamam trayam suviditam karyam dharma-suddhim-abhisata” – ’Jika seseorang ingin mengerti tentang realitas, hendaknya memperhatikan tiga cara(pramana) yaitu; pratyaksa dengan melihat langsung, anumana dengan analisis dan berdasarkan sastra (sabdha) yaitu dengan mendengar langsung dari otoritasnya’. Dibandingkan dengan pratyaksa dan anumana pranama, sabda jauh lebih baik asalkan dari sumber yang benar dan dapat dipercaya, karena akan memperoleh pengetahuan yang asli, seperti halnya untuk mengetahui siapa ayah kita, maka sang ibulah yang punya otoritas sehingga kita percaya penuh apa yang dikatakan ibu dan tidak perlu lagi membuktikan dengan tes DNA. Demikian juga pengetahuan weda hendaknya diterima melalui otoritas, dengan demikian akan mendapatkan pengetahuan yang utuh. Perlu dipahami bahwa ajaran weda bukanlah suatu mistisism, kayalan atau hanya konsep, namun suatu pengetahuan yang mempunyai ketepatan, kebenaran tinggi. Pengetahuan weda pertama kali disabdakan kepada Dewa Brahma pada awal penciptaan, itu berarti peradaban weda telah ada, jauh sebelum disabdakan Bhagavadgita sekitar 5000 tahun yang lalu, namun sampai saat ini masih ada yang menganggap sebagai misteri, dan banyak kalangan hanyalah sekedar karya sastra biasa.

Dalam tulisan singkat ini penulis ingin menguraikan secara singkat antara kedua sains tersebut yang meliputi bukti ilmiah peradaban weda serta aspek ilmiah dari ajaran weda itu sendiri seperti ; penciptaan alam semesta, reinkarnasi, keragaman spesies, hubungan karma-penyakit dan lainnya.



1. Dipresentasikan dalam Forum Diskusi ”Sains dan Agama” diselenggarakan oleh Peshraman Raja Vidya, Minggu, 30 Oktober 2005, di Aula Institut Hindu Dharma Negeri, Denpasar. 2. Ketua Yayasan Institut Bhaktivedanta Indonesia, dan pengikut Sampradaya Vaisnava.



BUKTI ILMIAH PERADABAN WEDA

Bukti-bukti arkeologis, geologis telah terungkap dari penemuan fosil-fosil maupun artefak- alat yang digunakan manusia pada masa itu telah terbukti menunjukkan bahwa peradaban manusia modern telah ada sekitar ratusan juta bahkan miliaran tahun yang lalu. Bukti-bukti tersebut diungkapkan oleh Michael Cremo, seorang arkeolog senior, peneliti dan juga penganut weda dari Amerika, dengan melakukan penelitian lebih dari 8 tahun. Dari berbagai belahan dunia termasuk juga dari Indonesia telah dapat mengungkapkan misteri peradaban weda tersebut secara bermakna. Laporan tersebut ditulis dalam beberapa buku yang sudah diterbitkan seperti ; Forbidden Archeology, The Hidden History of Human Race, Human Devolution : A Vedic alternative to Darwin’s Theory, terbitan tahun 2003. Dalam buku tersebut akan banyak ditemukan fosil, artefak- peninggalan berupa kendi, alas kaki, alat masak dan sebagainya yang telah berusia ratusan juta tahun bahkan miliaran tahun, dibuat oleh manusia yang mempunyai peradaban maju, tidak mungkin dibuat oleh kera atau primata yang lebih rendah. Dari buku-buku tersebut juga ditemukan adanya manipulasi beberapa arkeolog dengan mengubah dimensi waktunya, hal ini bertujuan untuk mendukung teori evolusi Darwin, karena kenyataannya teori evolusi masih sangat lemah. Bukti ilmiah sudah dengan jelas menyatakan bahwa peradaban weda telah ada miliaran tahun. Para ilmuwan telah membuktikan bahwa perang besar di tanah suci Kukrksetra, kota Dwaraka, sungai suci Sarasvati dan sebagainya perupakan suatu peristiwa sejarah, bukan sebagai mitologi. Setiap kali kongres para arkeolog dunia selalu menyampaikan bukti-bukti baru tentang peradaban Barthavarsa purba. Dibawah ini ditampilkan sekelumit dari bukti ilmiah tersebut.

Perang Bharatayuda

Para arkeolog terkemuka dunia telah sepakat bahwa perang besar di Kuruksetra merupakan sejarah Bharatavarsa (sekarang India) yang terjadi sekitar 5000 tahun yang lalu. Sekarang para peneliti hanya ingin mementukan tanggal yang pasti tentang peristiwa tersebut. Dari hasil pengamatan beserta bukti-bukti ilmiah. Dari berbagai estimasi maka dibuatlah suatu usulan peristiwa-peristiwa sebagai berikut :

• Sri Krishna tiba di Hastinapura diprakirakan sekitar 28 September 3067 SM
• Bhishma pulang ke dunaia rohani sekitar January 17 Januari 3066 SM
• Balarama melakukan perjalanan suci di sungai Saraswati pada bulan Pushya 1 Nov. 1, 3067 SM
• Balarama kembali dari perjalanan tersebut pada bulan Sravana 12 Dec. 12, 3067 SM
• Gatotkaca terbunuh pada 2 Desember 3067 SM
Dan banyak lagi penanggalan peristiwa-peristiwa penting sudah di kalkulasi.
Kota kuno Dvaraka

Demikian juga keberadaan kota Dvaraka yang dulu menjadi misteri, kota tersebut disebutkan dalam Mahabharata bahwa Dvaraka tenggelam di pantai. Doktor Rao adalah seorang arkeolog senior yang dengan tekun menyelidiki dengan “marine archaeology” dan hasilnya ditemukannya reruntuhan kota bawah laut, beserta ornamennya, didaerah Gujarat. Dwaraka, kota kerajaan Sri Krishna masa lalu.

Jembatan Alengka

Pemotretan luar angkasa yang dilakukan oleh NASA telah menemukan adanya jembatan mistrius yang menghubungkan antara India dan Sri Langka sepanjang 30 Km, tampak pula jembatan tersebut buatan manusia dengan umur sekitar 1 750 000 tahun angka ini sesuai dengan sejarah Ramayana yang terjadi pada Tretha yuga. Sekarang sedang diteliti jenis bebatuannya. Jadi Ramayana itu adalah ithihasa (sejarah), bukan merupakan dongeng.

Sungai Sarasvati

Keberadaan kota purba Harrapa dan Mohenjodaro serta keberadaan sungai suci Sarasvati telah dijumpai dalam Rig Weda, namun tidak diketahui keberadaannya, kemudian oleh NASA dengan pemotretan dari luar angkasa ternyata dijumpai sebuah lembah yang merupakan bekas sungai yang yang telah mengering, namun dalam kedalaman tertentu masih tampak ada aliran air diwilayah Pakistan yang bermuara ke lautan Arab, arahnya sesuai dengan yang digambarkan dalam sastra.

Sebenarnya masih banyak bukti ilmiah lainnya yang menunjukkan peradaban weda tersebut, sehingga Satya yuga, Tretha yuga, Dvapara yuga dan Kali yuga dengan durasi sekitar 4 320 000 tahun merupakan suatu sejarah peradaban manusia modern yang memegang teguh perinsip dharma.

KEBENARAN AJARAN WEDA

Turunnya Avatara Telah Terdaftar

yada yada hi dharmasya glanir bhavati bharata abhyutthanam adharmasya tadatmanam srjamy aham- Kapanpun, dimanapun pelaksanaan darma merosot, dan hal yang bertentangan dengan darma merajalela, pada waktu itu AKU sendiri menjelma, wahai putra keluarga Bharata.(Gita 4.7). Sloka tersebut merupakan pernyataan Personalitas Tuhan kehendakNya untuk turun ke bumi. Bhagavadgita dan beberapa purana lainnya seperti; Bhagavata purana, Bhavisya purana ditulis oleh, Srila Vyasadeva sebagai Saktyavesa avatar dari Tuhan, sekitar 5000 tahun yang lalu. Dari sloka diatas menunjukkan bahwa Personalitas Tuhan akan langsung turun dari dunia rohani yang kekal (Goloka vrindawan) atau mengirim utusan-utusan yang dikuasakan ke planet bumi. Benarkah hal itu terjadi ?. Turunnya Tuhan ke planet material disebut avatara, dikenal ada beberapa avatara seperti : Purusha, Lila, Guna, Yuga, Manavatar, dan Shaktyavesa avatara. Semua avatara dan jadwal turunNya Personalitas Tertinggi Tuhan tersebut telah dicantumkan secara lengkap dalam Bhagavata purana dan Bhavisya purana. Apa yang tertera dalam purana tersebut ternyata benar terjadi. Personalitas Tuhan telah berkali-kali turun ke dunia material dari tempat tinggal Beliau yang kekal, selain Beliau sendiri yang turun dapat juga mengutus roh-roh yang agung untuk tujuan tertentu yang dikuasakan penuh (saktyavesa) seperti Srila Vyasadeva, Bhuda, Nabi Isa (Yesus), Nabi Muhamad, Sri Caitanya Mahaprabhu, Sankaracarya dan sebagainya. Seperti kemunculan Buddha dinyatakan ”tatah kalau sampravritte sammohaya sura-dvisham buddho namnanjana-sutah kikateshu bhavishyati” – Kemudian, pada awal Kali yuga Tuhan akan muncul sebagai Sang Buddha, putra Anjana di propinsi Gaya, dengan maksud mengelabui orang yang iri kepada orang yang setia dan percaya kepada Tuhan (Srimad Bhagavatam 1.3.24)

Dalam Bhavisya purana (sejarah masa datang)
III.2.23 menyatakan “….ko bhavaanithi tham praaha sahovaacha mudaanwitha eshaputhram cha maam vidhi kumaaree garbha sambahavam aham eesa maseeha nama” - “.. Aku akan lahir sebagai Isa Mahesa/ Esa putra, anak Tuhan dari ibu yang perawan…..” Sekitar tiga ribu tahun setelah purana itu ditulis ternyata benar telah muncul Nabi Isa (Yesus) sebagai anak Tuhan yang lahir dari Ibu perawan. Masih dalam purana yang sama

III.3.3, dengan jelas dinyatakan “…didaerah meleccha akan muncul guru kerohanian bernama Mahamada….” meleccha merujuk suatu masyarakat dengan peradaban yang sangat merosot dan jauh dari weda, Mahamada akan muncul dengan membawa agama baru. Demikian Nabi Muhamad telah diramalkan dalam purana.

Pada zaman Kali, tahun 1489 (sekitar 500 tahun yang lalu) Personalitas Tuhan kembali menunjukkan kemurahanNya dengan kembali turun ke bumi sebagai seorang brahmana yang masih muda yang bernama Sri Caitanya Mahaprabhu, seperti di ungkapkan dalam Garuda-Purana : kalina dakya mananam paritranaya tanu-bhrtam janma prathama sandhyayam karisyami dvijatisu -Pada awal dari Kali-yuga, Aku akan datang sebagai brahmana yang akan menyelamatkan roh-roh yang jatuh sebagai akibat pengaruh jelek dari Kali-yuga. Masih dalam purana yang sama dinyatakan “aham purno bhavisyami yuga-sandhyau visesatah mayapure navadvipe bhavisyami sachi sutah – Aku akan lahir sebagai putra Sachi di Navadvip- Mayapur. Banyak lagi purana yang menyebutkan avatara Beliau di zaman Kali. Ternyata itu adalah suatu realitas ciri-ciri yang disebutkan dalam sastra yang ditulis 5000 tahun yang lalu ternyata benar adanya. Tuhan ber-inkarnasi sebagai brahmana belia yang mengajarkan metode untuk memutus rantai kelahiran –kematian (reinkarnasi) pada Kali-yuga ini dengan cara mengucapkan nama suci Tuhan, ajaran tersebut diteruskan kepada murid-murid Beliau, demikian seterusnya melalui rangkaian garis perguruan weda (parampara), sampai saat ini parampara tersebut masih eksis.

Dengan beberapa bukti sastra tersebut jelas kebenarannya purana tersebut tak terbantahkan lagi, karena yang menyusun purana, Srila Vyasadeva adalah roh yang agung yang telah mencapai kesempurnaan, mengetahui masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang (trikala jna). Dari beliaulah sampai saat ini kita semua mendapatkan pengetahuan sejati.

Masih banyak sekali peristiwa yang terjadi yang telah ditulis 5000 tahun yang lalu, dan telah menjadi kenyataan seperti munculnya Sankaracarya, Nabi Musa, Ratu Victoria dan sebagainya. Dari bukti-bukti tersebut diatas jelas bahwa apa yang tercantum dalam purana-purana telah meramalkan peristiwa-peristiwa penting lainnya termasuk jadwal Tuhan akan turun lagi atau mengutus roh-roh yang agung untuk turun dengan misi tertentu. Bhagavadgita merupakan sabdha suci dari Personalitas Tertinggi menjelang Kali-yuga, sebagai sumber pengetahuan rohani (paravidya), sudah jelas dimana disabdakan, kapan disabdakan, berapa lama disabdakan, siapa saja yang mendengar sabda tersebut. Peristiwa tersebut ditulis kembali oleh Srila Vyasadeva.

Kosmologi : Penciptaan dan Sistem Planetarium
Kapan alam semesta diciptakan, berapa umur alam semesta dan siapa mahluk hidup yang pertama kali diciptakan oleh Tuhan. Para ilmuwan sampai saat ini belum menemukan jawaban atas pertanyaan diatas. Proses penciptaan alam semesta, oleh para ilmuwan masih sangat percaya dengan teori ‘Big Bang’ sebagai awal penciptaan alam semesta. Kaum materialis yakin bahwa alam semesta adalah kekal selamanya (tidak diciptakan). Didapatkan bukti dari teori Big Bang bahwa alam semesta berawal dari ledakan besar yang kemudian terjadi tebaran planet-planet akibat turunnya suhu secara drastis, sayangnya para ilmuwan belum bisa menjawab mengapa hasil ledakkannya bergerak demikian teratur dan siapakah yang ada dibalik ledakan besar tersebut ?. Para ilmuwan tidak memahami kehendak dibalik penciptaan yang demikian rumit, terlalu sulit bila dikatakan hanya sebagai peristiwa kebetulan saja, dan tidak dapat memahami rancangan agung Sang Pencipta (Tuhan), karena tidak memahami tenaga rohani dan tenaga material Beliau dari sumber sastra. Model ‘Big Bang’ sampai saat ini menjadi misteri.

Dalam Bhagavata Purana skanda 3 telah disebutkan proses penciptaan secara lengkap dimulai dari ekspansi Personalitas Tuhan sebagai Maha-visnu (Karanadakasayi Visnu) yang berbaring di lautan karana. Dari badan Mahavisnu diciptakan planet-planet duniawi berupa miliaran gelembung-gelembung dari tubuh Beliau, jadi telah dinyatakan bahwa bentuk bumi adalah bulat, sedang para ilmuwan modern baru dapat membuktikan dunia ini bulat sekitar abad 14. Lautan karana (penyebab) berada di luar angkasa material dan dalam alam semesta ciptaanNya mengapung miliaran balon-balon alam semesta. Semua alam semesta ini keluar dari pori-pori kulit Maha-Visnu pada saat Beliau menghembuskan nafas. Di luar lautan karana ini terbentang angkasa rohani dari Brahmajyoti yang luasnya tak terbatas. Miliaran alam semesta tersebut tersusun demikian rapinya, dengan tenaga materialNya (apara-prakrti) planet-planet tersebut bergerak dengan garis edar yang sudah diatur. Dalam Rig Veda dinyatakan ”suryaha jagat guru gurutvaakarshan” – ”Matahari adalah sebagai guru, matahari sebagai pusat dari planet.” Jelas dimaksud adalah perputaran yang heliosentris. Para ilmuwan modern baru membuktikan perputaran planet secara heliosentris sejak abad 15 oleh Galileo, sebelumnya adalah geosentris. Berikutnya Personalitas Tuhan berekspansi ke masing-masing alam semesta dalam wujud Garbhodakasayi Visnu berbaring di lautan Garbhodaka, dari pusarNya tumbuh bunga padma, dari bunga padma inilah muncul kehidupan pertama yaitu Dewa Brahma yang ada pada setiap alam semesta, Dewa Brahma akan melanjutkan ciptaan-ciptaan lainnya karenanya Dewa Brahma disebut sebagai pencipta kedua. Dalam setiap alam semesta terdapat Dewa Brahma yang berbeda yang bertugas penciptaan lebih lanjut di alam semesta tertentu. Dewa Brahma dikuasakan untuk menciptakan seluruh spesies dan berbagai susunan planet di alam semesta. Dari Dewa Brahma tercipta Parajapati, Rsi-rsi agung dan manu leluhur manusia; Swayambhu serta beraneka jenis mahluk yang lebih rendah. Jumlah seluruh spesies kehidupan adalah sekitar 4 800 000 spesies. Selanjutnya Tuhan berekspansi menjadi Kriodakasayi Visnu yang akan berada dalam setiap mahluk hidup ciptaanNya sebagai Paramatma. Itulah secara singkat proses penciptaan alam semesta ini, semua yang terjadi atas kehendak dari ”The Grand Designer”, bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan.

Dalam purana dinyatakan bahwa 1 hari Dewa Brahma (1 kalpa) adalah 1000 x putaran 4 yuga (1728000 + 1296000 + 864000 + 432000) = 4320 X 106 tahun. Total usia alam semesta adalah 100 kali umur Dewa Brahma atau sekitar 311 triliun 40 miliar tahun. Namun demikian planet Dewa Brahma (satya loka) sebagai planet tertinggi, namun bersifat halus dan jauh lebih tinggi kwalitasnya dibandingkan dengan planet bumi. Satya-loka masih berada dalam angkasa material, sehingga Dewa Brahma tetap dipengaruhi oleh hukum-hukum alam yaitu hukum kelahiran dan kematian. Para ilmuwan saat ini sedang mencari kapan alam semesta diciptakan, dan berapa umur alam semesta, dan siapa mahluk penghuni pertama alam semesta ini. Purana telah menjawabnya.

Keragaman SpesiesTeori evolusi yang menyatakan bahwa nenek moyang kita adalah berasal dari kera, seolah-olah telah menjadi kebenaran di seluruh lapisan masyarakat. Anak-anak sekolah sudah sangat akrab dengan pernyataan “manusia berasal dari spesies kera”, kalau dibiarkan hal ini akan sangat meracuni umat manusia dengan lunturnya keyakinan (sradha) terhadap Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta. Menurut Bhagavadgita bahwa kehidupan atau sang roh itu adalah kekal, keaneka ragaman badan-badan material (biodiversity) berupa mahluk hidup dari tingkat yang sangat sederhana yaitu mahluk bersel satu, parasit, tumbuh-tumbuhan, aneka hewan, sampai manusia merupakan badan-badan material yang telah diciptakan secara utuh yang siap dihuni oleh sang roh. Sang roh akan mendapat badan material tertentu berdasarkan karma dan kesadaran yang dimilikinya pada kehidupan yang lalu. Srila Prabhupada, selalu mengutip sloka Purana dibawah ini yang menjelaskan keaneka ragaman spesies kehidupan yang menjadi terminal perjalanan sang roh :

asitim caturas caiva laksams tan iva-jatisu

bhramadbhih purusaih prapyam manusyam janma paryayat

tad apy aphalatam jatah tesam atmabhimaninam

varakanam anasritya govinda-carana-dvayam

"Seseorang mencapai bentuk kehidupan manusia setelah bertransmigrasi melalui 8 400 000 spesies kehidupan dengan proses evolusi kesadaran secara gradual. Bahwa bentuk kehidupan manusia dilupakan sehingga menjadi orang yang kurang cerdas dan angkuh yang tidak mau berlindung di kaki padma Govinda (Krishna)." (Brahma-vaivarta Purana).

Dalam Padma Purana menyatakan "Ada 900 000 spesies hidup yang hidup di air; 2 000 000 spesies tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan; 1 100 000 spesies serangga; 1 000 000 spesies kehidupan burung ; 3 000 000 spesies binatang buas; dan 400 000 spesies kehidupan manusia."

Proses perkembangan dan perjalanan sang roh melalui 8.400.000 spesies, yang telah berlangsung sejak miliaran tahun yang lalu. Seperti diketahui bahwa jiwa/roh adalah partikel rohani(non-material) yang merupakan jati diri kehidupan. Bila partikel rohani tersebut meninggalkan badan, maka apapun kehebatan badan material tersebut tidak ada artinya lagi. His Holiness Bhaktisvarupa Damodara Swami (DR. TD Singh) menyebut partikel rohani tersebut dengan nama ’spiriton’ yaitu suatu tenaga rohani (para-prakrti) yang memiliki sifat sama dengan Tuhan yaitu kekal, berpengetahuan dan penuh kebahagiaan. Partikel rohani ini merupakan kesadaran murni, yang oleh karena keterikatan dengan sifat alam mendapatkan beraneka badan material. Spiriton (roh) bertransmigrasi dari satu badan ke badan lain, dan terkurung dalam penjara-penjara badan. Sifat alam semesta yang disebut triguna yaitu : sattva-guna (sifat kebaikan), rajo-guna (sifat nafsu) dan tamo-guna (sifat kebodohan). Pengaruh ketiga sifat alam tersebut akan mempengaruhi kesadaran kita, kesadaran pada saat perpindahan sang roh akan sangat menentukan badan-badan yang akan kita peroleh pada kehidupan berikutnya. Sama halnya seperti mencampur warna dasar (biru, merah dan kuning), dari berbagai konsentari warna dasar tersebut akan memperoleh jutaan corak warna yang beraneka ragam. Demikian juga atas pengaruh 3 sifat alam material akan menentukan badan yang akan diperoleh. The Grand Designer, personalitas tertinggi Tuhan, telah merancang pengaturan hukum alam tersebut. Menurut Bhaga­vad-gita (14.5), ”sattvam rajas tama iti gunah prakirti-sambhavah ...” – Alam material terdiri dari tiga sifat ; kebaikan (satwik), nafsu (rajasik) dan kebodohan (tamasik). Mahluk hidup diikat oleh sifat-sifat tersebut dan sulit dikendalikan......”. Teori evolusi Darwin secara arkeologis, genetika dan biomolekuler tidak terbukti, bahkan Darwin sendiri mengatakan bahwa teorinya masih sangat lemah dan perlu pembuktian dimasa mendatang. Kelemahannya adalah karena tidak menyertakan pemahaman tentang sang roh dalam kajian tersebut. Sebenarnya bukanlah evolusi fisik yang terjadi tetapi evolusi spiritual yang akan menentukan badan-badan material yang didapat. Namun teori Darwin sangat didukung oleh paham materialis-atheis seperti ; Marx, Plank, S Freud dan lainnya.

Reinkarnasi adalah suatu proses hukum alam (selanjutnya baca Karma dan Reinkarnasi)

TUJUAN MEPELAJARI WEDA

Tujuan ilmu pengetahuan modern adalah mensejahterakan dan perdamaian umat manusia dalam level badan material yaitu dari lahir sampai mati dan dalam ruang alam material, belum pada level kesejahteraan dan perdamaian yang abadi. Tujuan utama paravidya adalah untuk mencapai pembebasan atau kembalinya mahluk hidup sebagai pelayan kekal Personalitas Tuhan di dunia rohani, disanalah kebahagiaan dan perdamaian yang kekal. Dalam Bhagavadgita dinyatakan ‘ye tu dharmamrtam idam yathoktam paryupasate sraddadhana mat-parama bhaktas te 'tiva me priyah’ - Aku sangat mencintai orang yang mengikuti jalan bhakti yang kekal ini, tekun sepenuhnya dengan keyakinan, dan menjadikan Aku sebagai tujuan tertinggi. (12.20). Dalam sastra telah dinyatakan bahwa kita sebenarnya adalah pelayan kekal personalitas Tuhan YME (nitya sidha), namun kita melupakan hubungan tersebut dan sangat terikat dengan keinginan duniawi, sehingga kita dilahirkan berulang kali. Sri Krishna telah mengingatkan kepada kita hanya dengan bhakti Aku bisa didekati (bhaktya man abhijanathi – Gita 18.55). Srimad Bhagavatam telah menguraikan tentang 9 cara bhakti mulai dari yang paling sederhana ; mendengarkan, mengucapkan, memikirkan sampai menyerahkan diri sepenuhnya.

Sains modern (aparavidya) tidak menyentuh hal-hal yang bersifat transedental tentang sang roh dan tujuan kehidupan yang sebenarnya, paravidya sudah jelas bertujuan untuk membebaskan sang roh (spiriton) dari siklus kelahiran dan kematian, menginsafi jati diri kita sebagai pelayan kekal dari Personalitas Tuhan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan pelayanan terhadap Personalitas Tuhan itulah bhakti yoga. Personalitas Tertinggi Sri Krishna dalam Bhagavadgita berpesan : janma karma ca me divyam vam yo vetti tattvatah tyakta devam punar janma naiti mam eti so ‘rjuna. - Orang yang mengenal sifat rohani, kelahiran dan kegiatanKu, tidak akan lahir lagi di dunia material ini setelah meninggalkan badan, melainkan ia mencapai tempat tinggalKu yang kekal.(Bg 4.9). Itulah tujuan tertinggi dalam perjalanan sang roh adalah mencapai pembebasan, hanya dengan bhakti Aku bisa didekati, demikian pesan Bhagavadgita dalam bab terakhir. Diantara lima ajaran utama wedanta : isvara, jivatman, prakrti, kala dan karma, hanya karma-lah yang disa diubah tergantung pada keinginan kita. Pada dasarnya sang roh mempunyai sifat yang sama dengan sumbernya : sat-kekal, cit-penuh pengetahuan dan ananda-penuh kebahagiaan, sang roh juga diberi kebebasan dalam memilih (free will), namun kebebasan tersebut tidak digunakan dengan baik, kita begitu terikat, sehingga kita kembali dilahirkan berulang kali ke dunia ini. Dengan pemahaman tentang reinkarnasi tersebut maka model pendekatan spiritual (spiritual care) perlu dikembangkan terhadap seseorang yang menderita sakit terutama penyakit terminal, sakit yang tidak mungkin dapat diobati dengan pengobatan modern. Walaupun tujuannya bukan untuk kesembuhan badan, namun untuk sang roh, dengan sisa waktu untuk menunggu perpindahan sang roh perlu dilakukan intervensi dengan mengubah kesadaran penderita, sehingga penderita dapat menerima penderitaannya sebagai suatu karma dan kemudian sepenuhnya sadar akan jati diri yang sebenarnya sebagai roh, dan mulai mengembangkan cinta bhakti rohani kepada Personalitas Tuhan, dengan selalu mengingat lila rohani Tuhan dan mengucapkan nama suci Tuhan. Sehingga pada saat sang roh meninggalkan badan, kita selalu ingat dan menyebut nama suci Beliau, itulah yang disebut kematian dengan bermartabat (death with dignity). Sri Krishna berpesan “pada saat meninggal engkau ingat kepadaKu, maka engkau tidak akan kembali dilahirkan lagi” Untuk memperoleh kesadaran seperti itu, maka mulailah seseorang dilatih dalam dalam bhakti-yoga dengan mengucapkan nama suci Tuhan, karena hal ini sudah direkomendasi oleh sastra weda sebagai kegiatan keagamaan yang utama untuk menghadapi Kali yuga ini.

Itulah esensi ajaran weda, pengetahuan sejati, kebenarannya telah teruji yang mengantarkan kita kepada pemahaman akan jati diri yang sebenarnya. Kehidupan sebagai manusia merupakan karunia yang luar biasa, karena diberikan kesadaran yang lebih dibandingkan dengan mahluk lainnya. Dalam sloka awal dari wedanta-sutra menyatakan : “atatho brahma jijnasa” sudah saatnya kita memahami Brahman, Personalitas Tuhan sebagai sumber segala dunia material maupun rohani, sebagai sumber segala pengetahuan. Sabdha merupakan metode yang paling unggul dalam menerima pengetahuan, yang berati disampaikan langsung melalui sumber yang otoritas sehingga pengetahuan yang murni akan sampai kepada kita. Seperti itulah sistem peradaban weda dalam menerima pengetahuan melalui rangkaian garis guru kerohanian (parampara), kalau tidak demikian kita akan larut dalam situasi yang menghayalkan, penuh spekulasi.

Daftar Pustaka

Singh TD. Vedanta and Science Series : Life and Origin of the Universe. Bhaktivedanta Institute. 2005.
Singh TD. LFE and SPIRITUAL EVOLUTION. Bhkativedanta Institute, Kolkata. 2005.
Singh TD. Hinduism and Science. Bhaktivedanta Institute. www.metanexus.net
Knapp S. The Vedic Prophecies : A New Look Into th Future. The World Relief Network. 1997.
Bhaktivedanta, Sri Srimad A.C. Bhagavad-gita sesuai dengan aslinya. Bhaktivedanta Book Trusth. 2000.
Bhaktivedanta, Sri Srimad A.C. Srimad Bhagavatam. Bhaktivedanta Book Trusth. 2000.
Subhani J. Sang Pencipta Menurut Sains & Filsafat. Lentera. 2004.
Yahya, Harun. Runtuhnya Teori Evolusi dalam 20 pertanyaan. Risalah Gusti, Jakarta. 2003.
Satvarupa Goswami. Pokok-pokok Pikiran Budaya Weda. Terjemahan Ir. Made Amir. 2003
Michael Cremo. Human Devolution. Torchlight Publishing. 2003
Sri Swami Sivananda. Karmas and Diseases. A Divine Life Society Publication. Uttaranchal, India. 2000.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar