Kamis, 25 Desember 2008

WADAG HANYA SANDANGAN SUKMA, JAGAD PASTI DIGANTI

WADAG HANYA SANDANGAN SUKMA, JAGAD PASTI DIGANTI


DALAM pemahaman Sang Guru, hidup di dunia ini ibarat pergi ke pasar. Tentu, tidak lama dan pasti kembali. Tidak mungkin orang ke pasar akan terus-menerus di sana. Meskipun seseorang itu pedagang, pasti akan kembali ke rumahnya. Karena itu, jangan sampai tersesat. Bahkan, lupa akan asalnya.

Dalam bahasa sederhana, piwulang (pelajaran, petuah) Sunan Kalijaga disampaikan dalam bentuk tembang Dandanggula, sebagai berikut:

Urip iku neng ndonya tan lami. Umpamane jebeng menyang pasar. Tan langgeng neng pasar bae. Tan wurung nuli mantuk. Mring wismane sangkane uni. Ing mengko aja samar. Sangkan mengko pada weruha. Yen asale sangkan paran duk ing nguni. Aja nganti kesasar.

Jen kongsiha sasar jroning pati. Dadya tiwas uripe kesasar. Tanpa patokan sukmane. Saparan-paran nglanggut. Kadya mega katut ing angin. Wekasan dadi udan. Mulih marang banyu. Dadi bali nuthing wadag. Ing wajibe sukma tan kena ing pati. Langgeng donya akhirat.

Mengapa diibaratkan pasar? Menurutnya, dunia itu merupakan tempat yang ramai dan beraneka warna keadaannya. Banyak orang yang senang bertindak tidak jujur dan menipu. Di pasar, banyak orang yang kesasar. Karena itu, yang waspada dalam menjalani hidup. Jangan mudah tergoda. Jika akan membeli sesuatu, jangan asal murah dan gampang. Jika sampai keliru barang gelap, pasti akan mencelakakan diri sendiri.

Yang dimaksud barang gelap adalah, barang yang tidak bisa dibeli sebab barang curian. Jika yang mencuri tertangkap, yang membeli pasti dianggap temannya pencuri. Akibatnya, dihukum sebagaimana pencuri. Karena itu, jangan hanya asal pilih murah.

Demikian juga jika akan membeli makanan. Jangan hanya menurut suara penjual. Lebih baik dicicipi. Jika sudah jelas enaknya, bisa dibeli. Jangan hanya asal kelihatan merah. Kalau keliru, tentu akan mencelakakan diri kita juga. Padahal, ke pasar itu tidak lain bertujuan mencarikan makanan untuk anak istri. Jika salah, akan celakalah orang sekeluarga.

Ringkasnya, diberi hidup di dunia ini jangan menuruti kemauan sendiri. Harus tunduk pada yang memberi hidup. Yakni, Tuhan Yang Mahaesa. Jika sampai lupa pada yang membuat hidup, maka sukma orang itu tidak akan mendapatkan tempat. Hidupnya selalu bingung, selalu susah dan tidak tenteram. Sehingga ke utara, selatan, timur, dan barat hanya untuk mencari kesenangan. Itu dikarenakan hidupnya tidak senang. Dan, tentu tidak akan bisa senang jika tidak kembali kepada Gusti Allah yang memberi hidup. Maka, harus bisa berpikir dengan hati yang suci.

Ibarat orang memelihara kuda, mesti ingin senang karena peliharaannya itu. Jika tidak senang, tentu akan menyusahkan yang dipelihara. Karena itu, sebagai makhluk peliharaan Allah, harus mampu memberikan kesenangan kepada Tuhannya. Jangan semaunya sendiri. Jika manusia hidup hanya mementingkan diri sendiri, tentu hidupnya akan sengsara dan celaka.

Berbeda dengan orang yang mau eling (ingat) pada Yang Mahakuasa, dan mau belajar kawruh (pengetahuan) yang sejati melalui wahyu Allah, di akhir nanti pasti akan mendapatkan anugerah dari Allah.

Sebagai orang Jawa tulen, Sunan Kalijaga memahami betul karakter orang-orang Jawa. Karena itu, dalam menyampaikan ajaran-ajaran Islam, ia menggunakan bahasa-bahasa sederhana yang mudah dipahami masyarakat. Misalnya, dengan contoh-contoh yang nyata dan sederhana. Salah satunya, ketika meyakinkan
orang Jawa, bahwa hanya jasadlah yang mati. Sedangkan sukma benar-benar langgeng.

Langgeng dunia akhirat. Badan wadag itu hanya sandangan sukma. Karena itu, jasad itu pasti akan diganti dengan jasad yang lain. Atau diganti dengan badan wadag baru yang sesuai dengan amal perbuatannya. Yang berbuat baik akan mendapatkan pahala. Yang berbuat jelek akan mendapatkan siksa atau hukuman.

Allah sendiri sudah dhawuh (memerintahkan) di dalam wahyu suci yang artinya, “Barang siapa berbuat baik, meskipun perbuatan itu hanya sebesar biji sawi, pasti akan mendapatkan ganjaran. Demikian juga, barang siapa berbuat salah, meski hanya sebesar biji sawi, tentu akan mendapatkan siksa dari Allah. Maka, beruntunglah bagi yang menjalankan perintah Allah Yang Mahaasih.”

Ulat yang jasadnya akan rusak adalah contoh nyata, bahwa sukma benar-benar langgeng. Terbukti, Gusti Allah menciptakan jasad yang berupa entung (kepompong). Kemudian, sukma ulat dipindahkan ke dalam jasad lain yang berupa kepompong itu. Kemudian, dipindahkan lagi ke dalam bentuk lain, kupu-kupu. Bergantinya jasad itu menjadi petunjuk kepada manusia, bahwa jika manusia sudah menjadi mayat dan sudah dikuburkan, akan ada yang merasakan terang benderang, gembira, serta senang. Tetapi, ada juga yang akan merasakan bahwa tempat yang baru itu merupakan tempat yang gelap gulita, susah, dan rasa sakit yang luar biasa.

Contoh sukma yang mendapatkan kemuliaan ketika di alam kubur adalah, orang yang tidur di tempat yang gelap tanpa sedikit pun pelita. Kemudian, Allah mencabut sukma orang itu lantas dimasukkan ke jasad yang baru di alam impian. Seketika, ia merasa menjadi orang yang rupawan dan berada di dalam rumah yang sangat indah. Juga mendapatkan makanan yang enak-enak. Ia juga bertemu dengan sanak saudaranya yang juga terlihat berseri-seri. Padahal, ketika mau tidur ia merasa berada di dalam alam yang sangat gelap. Maka,
ketika sukma itu dikembalikan kepada jasad yang sebenarnya, orang itu merasa menyesal.

Mengertilah, Allah membuat mimpi yang demikian indah menjadi pelajaran seluruh manusia supaya mengerti bahwa mayat yang sudah dikubur dalam tanah itu lebih nyaman dibanding ketika di alam dunia. Karena itu, setiap manusia harus bisa menjaga diri masing-masing, menyucikan diri, dan memegang adat tepa salira. Artinya, jika senang diperlakukan baik oleh orang lain. Maka, harus berbuat baik kepada orang lain.

Jika tidak mau dibenci, jangan membenci orang. Jika tak mau ditipu, jangan suka menipu orang lain. Demikianlah selanjutnya. Dalam bahasa yang sangat terkenal: Jalmo lipat seprapat tamat. Sapa sing seneng nandur pari jagung, mesti bakal ngunduh pari jagung. Sapa wae sing seneng nandur legetan lan kecubung, iya bakal panen legetan. Mula, urip pisan kang waspada, aja manut marang goda.

Adapun contoh sukma-sukma yang akan mendapatkan celaka bisa digambarkan dengan keadaan orang tidur. Misalnya, ketika hendak tidur, ia berada dalam ruang tidur yang indah. Juga ditunggui istrinya sambil memijat-mijat. Tetapi, Allah berkehendak lain. Dalam keadaan tidur, sang sukma ditarik dan dipindahkan ke jasad lain yang jelek rupa dan berada dalam keadaaan yang sangat gelap.

Dalam mimpi tersebut, ia merasa berada dalam penjara yang terus menerus disiksa. Jelas, bahwa keadaan yang sedang tidur itu sangat menderita. Menangis sejadi-jadinya karena tak kuat menanggung rasa sakit yang luar biasa. Baru, setelah Allah mengembalikan sukma itu pada jasad aslinya, orang itu terbangun dan marah-marah kepada istrinya. Ia menuduh istrinya telah memperlakukan dirinya dengan sangat tidak manusiawi.

Mengertilah, sungguh impian tadi merupakan peringatan dari Allah bahwa di alam kubur, siksa yang diterima akan lebih besar. Sebab, di dalam hidupnya hanya menurut keinginannya sendiri. Karena itu, setiap manusia harus bisa berpikir dengan hati yang suci dan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Menurut Sabda Nabi Muhammad SAW, setiap manusia yang akan meninggal, pasti didatangi oleh utusan Allah, yakni malaikat. Yang akan mati harus memahami sejatining urip (hakikat hidup) dan sudah memiliki bekal yang cukup menghadap Allah. Artinya, sudah melaksanakan perintah-perintah Allah dan meningggalkan larangan-larangannya. Tandanya, ketika akan dicabut nyawanya, yang bersangkutan dapat melihat para malaikat yang indah rupanya. Kemudian, menyampaikan salam terlebih dahulu.

Ketika sukma itu dihadapkan pada Allah, pada tiap-tiap langit mendapat penghormatan. Dari langit pertama hingga ke tujuh terus menerus mendapatkan penghormatan dari para penghuni langit.*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar