Sabtu, 03 Januari 2009

Lakuning Ngaurip

Lakuning Ngaurip
 
Demikianlah perjalanan seorang Jaka Sasana, ketika telah buntu perasaannya, mengurangi makan dan tidur sampai kurus badannya. Kemudian berjalan tidak tentu tujuannya sampai menuruni dan melewati jurang akhirnya masuk kedalam hutan yang angker yg tidak pernah didatangi manusia.

Melihat ke empat penjuru , tidak ada suara mahluk sama sekali. Kemudian angin berhembus membawa bau semerbak mewangi. Harumnya memenuhi udara. Karena belas kasih Dewa kepadanya akhirnya tampak terlihat yang gaib , yaitu ada desa yang berjejer-jejer sangat luasnya.

Terdengarlah suara sedih merintih-rintih, tiada jelas arahnya. Tak lama kemudian ada sesosok mahluk yang tinggi besar , matanya ada tiga, wujudnya sangat menjijikkan, mendekati Jaka Sasana serta bertanya pelan:
“Hai manusia ,apa maksudmu datang kemari; disini adalah tempat yang sangat angker, peribahasanya Jalma mara Jalma mati, Sato mara Sato mati. Barangsiapa yg datang, manusia atau hewan , akan mati. Jika tidak mendapatkan pertolongan, banyak yang akan mati”. 

Berkata Jaka Sasana: “hamba disuruh Sang Wiku Warasabata yakni ayah hamba,yg bertempat di Gunung Gora, untuk mencari dan mengabdi pada orang yg sangat luhur. Itu yg pantas dijadikan tempat mengabdi,
tapi hamba sudah mencari namun tiada menemukan. Setiap kali ada,yang terlihat masih seperti manusia biasa. Namun setelah melihat Tuan, dapat disebut lebih besar dan luhur.
Pertanda lebihnya ialah mata Tuan ada tiga, badan lebih dari manusia biasa,
perasaanku mengatakan tidak ada yang lebih pantas lagi untuk dijadikan tempat mengabdi kecuali Tuan ,serba sesuai, persis sama dengan pesan orang tuaku”.

Sang Raja Gandarwa, mendengar perkataan Jaka Sasana , menjadi tertawa sangat gelinya.
Katanya: “Wahai Manusia , kamu itu keturunan pandito , mengapa pikiranmu begitu tumpul , karena malas bertanya dan meniru. Aku nasehati, jika sudah tiba keberuntunganmu mendekatlah kemari dan duduk bersama-sama.”
Jaka Sasana menuruti , disitu kemudian melihat rumah yang sangat indah dan menyenangkan bentuknya seperti sanggar.

Sang Raja Gandarwa berkata: “Sasana, jika memang engkau benar2 ingin mengabdi, aku mempunyai permintaan , Kahyanganku ini hendaknya kau beri penawar sangar, karena keadaan disini sampai seperti bencana, bayangan kesedihan, tangis yang ramai, tiada keruan kemana-mana mengungsi, sampai sekarang masih menjadikan sedih dan bingung.”

Menjawab Jaka Sasana: “iya saya ingin mengabdi, namun jika Tuan menyuruh saya untuk menangkal bencana, saya tidak dapat.”

Kata Sang Raja Gandarwa: “ada sarananya, asalkan engkau mau memakan hidanganku Sang Raja.” Maka tiba-tiba telah ada hidangan dihadapan, Raja Gandarwa mempersilahkan, katanya:”cepatlah makan, jika kurang kenyang, jangan malu-malu.”

Jaka Sasana menurut , kemudian makan, terasanya sangat nikmat. Tidak lama kemudian berhentilah suara tangis tidak terdengar lagi dan lenyaplah penyakit. Para lelembut bergembira ria telah dapat hidup lagi.

Raja Gandarwa berkata: “Hai Sasana, sangat terimakasihku kepadamu sebab engkau telah menghilangkan penyakit,dengan cara telah kenyang makan.
Ketahuilah ,bahwa sakitnya anak cucuku, karena engkau mengurangi makan dan tidur.
Maka sembuhnya anak cucuku adalah karena engkau mau makan. Bagaimana aku dapat membalasmu . bila engkau mau terimalah nasehatku .

Sebenarnya perjalananmu itu sia2, karena keliru penerimaanmu tentang pesan ayahmu Sang Wiku, jika mau mengabdi carilah orang yang lebih, dan yang agung luhur,. Maksudnya orang yang lebih itu ialah orang yg “sempurna pengetahuannya”, sedangkan orang yang luhur itu ialah Raja, sebab ia menguasai bumi dan seisinya. Akhirnya engkau malah mau mengabdi kepadaku, karena mataku ada tiga, dan badanku tinggi besar?
Begitu itu sudahlah biasa bagi bangsa Bekasakan, dan bangsa Gandarwa semua diberi kelebihan dan kekurangan , anggota badan tidak ada yang genap.

Ketahuilah aku ini yang disebut Rajanya Gandarwa, namaku Raja Wrahaspati anak dari Raja Gandarwa, sedangkan ayahku anak dari eyang Raja Wredati, ceritanya dahulu keturunan raksasa Raja Kirmika.

Setelah perkataan Sang Raja Gandarwa berhenti, menjadikan jelas pendengarannya sangat terang perasaan hatinya kemudian gemetaran, menggigil takut, merasa terseret menurut kepada ilmu yang tidak nyata dan sangat gawat, menunduk sambil bercucuran airmata, mengira bahwa ia tidak dapat kembali ke alam manusia.

“Hei Sasana janganlah engkau khawatir. Sebenarnya akulah yang akan menolong, agar jalanmu mengabdi dapat mudah tercapai. Tetapi jika kira-kira waktunya telah tiba, tunggulah bebarapa hari , aku ingin memberimu wejangan, jika sudah dapat bersiul menyanyikan Tembang Bremara . ajarilah aku , aku akan mendengarkan. Apabila engkau telah dapat bersiul menyanyikan tembang tadi, ada imbalan yang menjadi saranamu untuk mengabdi.”

“iya Tuan , saya ingat bersiul Tembang Bremara tetapi hanya sedikit saja , dikarenakan saya ini orang gunung jadi tidak dapat urut, sangat beda dengan orang kota , dengan maksud hanya sekedar untuk menjaga jagung di gubug supaya jangan sampai lesu dan mengantuk.”

“Sasana, mulailah dan laksanakan saja.”

Jaka Sasana lalu bersiul menembang lengkap seperti menyanyi dengan sunguh2. Sang Raja Gandarwa begitu mendengar langsung bertepuk tangan dan menghentak2kan kaki sambil tertawa terbahak-bahak, katanya :”aduh-aduh anak yang tampan , ternyata engkau itu pandai bernyanyi , membuat senang, segar hingga ke seluruh tubuhku, teruskanlah anakku, bersiullah lagi, biar aku cepat bisa menirukan dan mendengarkan. Aku ingin dan senang bersiul tembang itu.”

Sang Raja setelah dapat menirukan , lalu berkata pelan: “Hei Sasana, wahyumu telah tiba sekarang . aku beri nasehat, hendaklah engkau ingat , bahwa didalam hidup ini Haruslah Melihat Yang Kelihatan atau Mendengarkan Segala Yang Kedengaran . Sebaliknya janganlah melihat Yang Tidak Tampak dan Jangan Mendengar segala Yang Tidak Terdengar. Jangan mencium Yang Tidak Berbau, Jangan Bicara Yg Tak Patut Dibicarakan. Sedangkan manfaat hal yang demikian itu , sudah menjadi kebiasaan orang banyak yang diterapkan dalam hidup ini adalah tindak Madya.

Artinya melihat segala yang terlihat . Baik dan Buruk sebenarnya dapat terlihat ,sehingga jika yang kau lihat itu buruk maka singkirilah,ikutilah yang baik.

Artinya melihat yang tidak terlihat itu ialah jangan memaksa untuk ingin tahu yang sebenarnya kamu tidak tahu yaitu segala larangan rahasia yang disimpan. Karena jika telah tahu malahan jadi susah, menjadi disebut sebagai pendiam artinya dapat mencapai penglihatan dengan mengintip-intip apa yang harus dilihat.

Adapun mendengarkan yang terdengar , segala tingkah dan suara yang aneh , tutupilah telingamu, jangan harus mendengarkan yang tidak baik, yang akhirnya dikatakan sebagai orang gila , hal itu karena rajin mendengarkan perkataan buruk, sehingga dapat membuat salah pendengaran.

Artinya mencium aroma yang tercium, hiruplah aroma itu untuk sementara waktu, jika aroma itu tidak baik, jgn dihirup, jika aroma itu baik harus didekati dan dicium. Dan jangan mencium aroma yg tak sedap, artinya jika aroma itu tak mengena di penciuman maka singkirilah, jikapun menjadi sumber berita , sesungguhnya tidak baik, dapat menjadikan nista, artinya pandai bercerita tentang isu mengandung kebohongan akan kebenaran sebuah perkataan , keluar disembarang tempat tidak terkontrol.

Janganlah membicarakan sesuatu yang bohong , lelucon serta kelakar yg tidak patut, biasanya akan menghilangkan kewaspadaan, yg akhirnya akan dijuluki sebagai pembohong. Terlalu berlebihan berkata yg jelek2 dan senang mencela yang menyangkut badan, maka dari itu orang yang hidup didunia ini mendapatkan pengetahuan dengan bertanya-tanya , dengan berkata pelan dengan menggunakan kata2 yang manis,.
Kita dapat berbuat segala sesuatu dengan meniru-niru. Segala sesuatu dapat terlaksana dengan bertindak dapat berhasil baik. Dengan tekun dn teliti, dimulai dari berhati-hati.
Cukuplah kiranya nasehatku ini sekian saja , jika engkau eling, sesungguhnya ini akan menjadi modal segala tingkah lakumu menemui keselamatan.


Nah, sekarang kuberitahu, yang sepantasnya menjadikan tempatmu mengabdi, mantaplah, hanya kepada Raja “di Kadiri” . Bernama Prabu Aji Pamasa, sebab beliau itu adalah Raja yang berwatak Dewa, yang menguasai dunia.

Dan aku beri sarana agar dapat menghadapnya.
Ini ada dua macam Mustika, yaitu pertama bernama Mustika Pranawa; khasiatnya jika dipakai maka tawar segala yg berbahaya. Kayu dan Tanah yg gersang menjadi tawar dan subur kembali, segala apa yang menakutkan menjadi tawar.
Kedua, bernama Mustika Pramana,khasiatnya,jika dipasang pd mata , maka akan dapat melihat benda2 yang tak nampak seperti didalam air, didalam bumi, didalam batu, meskipunyg gaib2 dalam dunia siluman , semuanya jadi terlihat.

Kedua mustika ini sangat pantas dipersembahkan kepada raja , agar diterima keinginanmu mengabdi, karena jika ingin mengabdi tanpa sarana maka akan susah diterimanya .
Sedangkan sebabnya engkau berhasil dianggap, karena engkau mendapat kasih dari Tuhan.
Engkau aku beri Minyak Pengasihan . Pada zaman dahulu, ketika Dewa Wisnu menjelma menjadi dukun , membuat minyak ini lalu diberikan kepada Warsaya.

Pakailah minyak pengasihan jika sedang menghadap Raja. Akan menjadi jalan untuk mendapatkan keluhuran.

Ada lagi, aku beri Air WayurAmarta yg terbuat dari embun yang terdapat di tembolok ayam . air tersebut dapat menjadi sarana pengobatan; jika diusapkan pada tangan , maka segala yang dipegang akan menjadi obat, segala penyakit menjadi sembuh, hanya dengan jalan melakukan Cipta Sasmita nama saja

tulisan ini mengandung aspek2 beberapa dimensi
walaupun terlihat seperti dongeng..

namun.., cobalah hayati dari segi filosofis, tasawwuf, bahkan kebatinan..

maka akan ditemukan lagi berbagai makna yg terdapat didalamnya..

tulisan ini kumaksudkan sebagai lanjutan pemahaman
"Sadulur Papat Lima Pancer"

akan terbuka hubungannya setelah kukilas balik ceritanya ini.. nanti..
dan darimana asalnya tulisan ini..


Dan untuk mengobati luka, maka luka itu haruslah bersih dahulu, kalau sudah bersih berilah minyak dari lemak ayam dan campurlah dengan prusi yang ditumbuk, serta rumah lebah madu,lalu dihangatkan pada suatu tempat agar bercampur menjadi satu. Kemudian jika lika sudah direndam maka lendirnya dilap dengan kain lunak. Obat yg masih hangat2 kuku tadi ditaruh pada kain sebesar lukanya lalu dipakai sehari semalam. Dan juga ada pantangannya:
1.jangan makan jenis ikan asin, berakibat luka menjadi gatal2
2. jangan makan kacang2an berakibat luka bengkak2 dan melepuh
3. jangan makan manis2an berakibat luka tidak sembuh2
4. jangan makan umbi2an berakibat kambuh2an lukanya

Adapun obat kalau kena ragas (tulang beracun), tiap pagi diusapi dan diberi parem daun akila. Tiap pagi sebelum makan apapun ,ludahilah lukanya, dari atas kebawah, dan mantrailah begini : Bolu bolor bar luwar.

Obat jika digigit ular, pada lukanya sundutlah dengan api, setelah beberapa saat , dibawah dan diatasnya ikatlah dengan benang lawe dan mantrailah begini: Wis wata witawar.

Obat disengat serangga . jika serangga tersebut tertangkap, buanglah sengatnya, pantatnya diberi kecekan (salep), pagi sore obatilah dengan salep kecekan tadi. Cara menempelkan obat yaitu memakai bulu ayam putih mulus. Dan luka harus dibuka dahulu supaya cepat sembuh.
Kerak gigi, air kencing, usapkan melingkar pada luka , mantranya begini:
Kentup katup sap-sap dening jalantahku, mulyat pakarana
(sengat tertutup diusap2 oleh minyakku, sembuh tanpa akibat)

Obat kesurupan atau terkena sihir. Di malam hari saat tengah malam, ambillah tanah didepan pintu , lalu kelilinglah dengan menaburkan tanah itu pada 4 pojokan rumah, mantrailah begini: sing sapa kang hanedya tumeka, nadyan tumeka haywa tumama, lamun sarana baling kamarang sarasaningkang hangsang sangsara
(barang siapa yang mau datang, meskipun telah datang janganlah mempan, jika sarana telah dilempar pulang kepada segala rasa yang mengarah sengsaralah)

sedangkan penyakit2 lainnya , perlu pralambang, daun2nan yang dipakai obat maka gantilah namanya, seperti:
1. Daun kelor gantilah istilahnya menjadi daun limaran
2. Daun lomban rapit istilahnya menjadi daun sabrang
3. Daun randhu menjadi daun baladewa
4. Daun jarak menjadi daun bledhek
5. Daun asam menjadi daun teruna
6. Daun papasin menjadi daun tunang
7. Daun injen2an menjadi daun prastawa
8. Daun sirih menjadi daun haturan

Semua itu masing-masing mempunyai maksud sendiri2. jika mengobati dgn daun , sehari semalam daun tersebut jangan sampai tertiup angin. Perhatikan semua daun yg ingin kaupakai sebagai obat.
Jika daun dari pohon kayu , ketika mengobati , yg sakit harus berdiri.
Jika daun dari tumbuhan merambat,ketika mengobati, yg sakit harus duduk.

Dan lagi aku beri candu sakti, khasiatnya jika memang diinginkan maka dapat masuk ke benda2 halus , dapat menyesuaikan diri dimana saja, dapat masuk ke dunia halus,serta berjalan lebih cepat meskipun jauh cepat dapat sampai tujuan.
Oleh karena itu terima ini semua.
Jaka sasana cepat2 menerima serta sangat menjunjung tinggi. Setelah semua itu Jaka Sasana diizinkan berangkat ke Kediri. Sang Raja Gandarwa segera menghilang ke kahyangannya. Jaka Sasana terbangun, tampaklah ia sampai berada ditengah-tengah hutan lagi,kemudian berjalan.
Ia tidak lupa tempat tinggal manusia, menginjak tanah ladang dan persawahan, melihat petani yang sedang bekerja. Jaka Sasana sangat merana hatinya, berangan-angan seperti ada di panangkilan, bertemu dengan para pekerja. Kerbau, sapi, tersebar di tempat penggembalaan, bagaikan kendaraan kuda ditempat latihan perang.

Sesampai di desa Wanu berjumpa dengan sepupu ayahnya bernama Buyut Kusruta. Kedua-duanya tidak lupa wajahnya. Mereka sangat rindu sehingga tanpa terasa mengeluarkan air mata. Buyut Kusruta lalu bertanya : “Anakku Jaka Sasana , bagaimana engkau bisa sampai kesini sendirian, jauh sekali dari gunung Gora.”
Jaka Sasana memberitahukan keinginannya,dari awal hingga akhir diceritakan semua.

Buyut Kusruta mendengar cerita itu merasa heran, katanya : “He anakku, jika demikian halnya, engkau termasuk yg mendapatkan pertolongan Raja Gandarwa. Untuk membuktikan pemberiannya maka perlu dicoba, supaya tahu kenyataannya, jangan sampai mengecewakan jika dipersembahkan kepada Raja. Jika memang baik dikatakan baik, jadi tidak ragu-ragu. Jika sudah tahu terbukti, pantas dipersembahkan Sang Raja.”

“Paman bagaimanakah cara membuktikannya?” bertanya Jaka Sasana.

“Adikmu si Rara Sruti yg menderita buta,tuli,bisu dari kecil, obatilah, jika terbukti dapat sembuh dapatlah diterima”jawab pamannya.

Ki Buyut dan Sang Jaka lalu berangkat menuju rumah pamannya. Sesampainya dirumah segeralah Jaka dijamu seadanya . kemudian Rara sruti segera dibimbing keluar , duduk didepan ayahnya .
Jaka Sasana lalu minta Air Tuli, Air Buta, Daun Tuli, Daun Bisu.

Yang dimaksud air tuli ialah batu-batuan. Yang dimaksud air buta ialah air yang diciduk dengan mata tertutup dengan memakai pinggan berwarna putih, saat memejamkan mata tidak boleh berucap disertai menahan napas, kemudian air tersebut ditaruh pada wadah yg terbuat dari bokor batu,dicampur wayuramarta sedikit.
Yang dimaksud daun buta ialah daun yang tertelungkup pada pohon, memetiknya dengan mata yg terpejam.
Yang dimaksud daun tuli ialah daun pada pohon yang jika ada angin maka daun itu tidak bergerak, memetik daun ini ialah dengan cara membelakanginya.
Yang dimaksud daun bisu ialah daun yang keriting , memetiknya sambil menahan nafas dan ga boleh berkata-kata.
Kemudian dicampur semuanya pada air yg telah disebutkan tadi. Semua tadi lalu disuruh mengusapkan dan diminumkan tiga kali.
Akhirnya Rara Sruti telah bebas dari penyakit dan sembuh.

Rara Sruti segera dirangkul ayah ibunya dicium-ciumi dan berkata: “dhuh anakku sungguh tak mengira sama sekali engkau mendapat pertolongan dari dewa lewat abangmu Jaka Sasana yang menyembuhkannya. Segeralah berbakti, jangan takut dihati. Sudah selayaknya saudara muda berbakti kepada saudara tua, disamping itu dia yang menyembuhkannya.”

Jaka Sasana setelah melihat Rara Sruti sembuh lalu jatuh cinta. Ki Buyut menangkap isyarat tersebut dan memberi isyarat kepada isterinya. Lalu berkata pelan: “Anakku Jaka Sasana, apakah engkau sudah mendengar janjiku sebelumnya, siapa saja yg dapat menyembuhkan adikmu Rara Sruti dipastikan menjadi suaminya. Seandainya dapat engkau kimpoii sendiri akan lebih baik, saling menjaga jadinya dapat selamat.
Singkatnya, Rara Sruti telah dinikahkan dengan Jaka Sasana,dirayakan selayaknya. Semua orang desa Wanu hormat kepada Jaka Sasana oleh karena pandai di bidang ilmu.

Setelah itu buyut Kusruta berbincang-bincang dengan menantunya, memberitahukan bahwa dibukit sebelah utara desa Wanu sangat keramat. Apa kira2 yg jadi penyebabnya.
Seketika itu Jaka lalu mengambil Mustika Pramana, setelah dilihat-lihat, disitu tampak beraneka macam harta benda yang dijaga dua raksasa, Pisaca dan Pisaci, sebangsa brekasakan.

“Nah paman ,perhatikan sendiri , yang menjadi sebab bukit menjadi keramat, didalamnya ada harta benda tetapi ada yang menjaga dan sangat menakutkan.” Buyut Kusruta menerima mustika pramana ,setelah dilihat, benar ada harta benda wujudnya bagus-bagus. Buyut Kusruta heran dan sangat senang hatinya, tetapi bagaimana cara mengambilnya?

Jaka Sasana kemudian mengambil candu sakti dan mendekati bukit menemui yang menjaga. Pisaca dan pisaci kaget melihat ada manusia dapat masuk dan tiba didunia makhluk halus. Pisaca dan pisaci ingat pada pertanda dari dewa bahwa nanti ia akan melihat letak “Sukma Kawekas”(hakekat ketuhanan) dari seseorang yang pandai menjelma menjadi “dhemit” bernama Sang Sasana.

Pisaca dan Pisaci segera mendekati serta bertanya: “dhuh orang yang sakti baru tampak, bagai pelangi pembawa berkah, pelangi milik orang pandai, tempat keselamatan, izinkanlah hamba menghormat, dan bertanya apakah benar tuan yg disebut Jaka Sasana?”
Jaka Sasana menjawab:”He saudara, apakah sebabnya menanyakan Jaka Sasana?”
Pisaca memberitahukan bahwa kewajiban seorang pria terhadap inti sebuah ilmu, yang sampai pada inti “Sukma Kawekas”,belum mendapat petunjuk yang sungguh-sungguh akhirnya dapat membuat susah. Beberapa lama kemudian ada pertanda dari Sanghyang Wisesa hamba disuruh tinggal disini ini, sedangkan kelak yang memberitahukan Hakekat Ketuhanan itu ialah manusia sakti yang bernama Jaka Sasana,putera seorang wiku. Akhirnya hamba tinggal disini ini kemudian mencipta harta benda beraneka ragam sebagai sarana untuk menyenangkan hati agar kasihnya turun seandainya nanti datang Sang Sasana saat datangnya “Suksma Kawekas”.

Sang sasana mendengar itu hatinya merasa heran, maka pelan katanya: “Nah saudara ,kebetulan sekali,ibaratnya “orang ngantuk di pembaringan” , jika saudara ingin mengerti, sesungguhnya saya inilah yang bernama Jaka Sasana.”
Pisaca segera duduk menunduk hormat sekali, lalu berkata pelan:”E,e, bahagia sekali ,menetes belas kasih dewa,kalau demikian hamba menyerahkan jiwa raga,serta segala harta benda ini semua, saya serahkan kepada tuan,sebagai sarana mencari kasih saya terhadap kesempurnaan jiwa.”

Kata Sang Sasana: “lebih baik sekarang jelaskan siapa namamu, karena saya sudah memberitahukan nama saya, supaya kita sama-sama tidak kehilangan jejak.”
“Pisaca itu sebangsa mahluk halus bekasakan ,nama hamba sebenarnya ialah Drumna,anak Pramnadi, ini isteri hamba bernama Sulistri anak Jarunapa, sama-sama sejenis Pisaca Pisaci; Pisaca adalah garis keturunan dari pria, Pisaci adalah keturunan dari garis wanita.”

Sang Sasana sangat senang, katanya: “Saudara”, sambil tertawa, lalu memberi tahu Hakekat Ketuhanan, akhirnya, semua sudah “duduk” menjadi “tenang”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar