Kamis, 02 April 2009

CEMERLANG SINAR PENCERAHAN DARI SILAYUKTI


SABAN kali ikut di tengah-tengah arus deras orang-orang tangkil ke Pura Silayukti di Teluk Padang, Karangasem, seperti saat Rabu Kliwon Pahang, 23 Juli lalu, hingga Sabtu Pon Pahang, 26 Juli kemarin, ingatan saya sontak surut ke masa nun 10 abad lampau. Teks-teks babad, historiografi Bali, menyuratkan kawasan bukit menjorok agak miring mendiagonal di Teluk Padang yang dikitari laut Selat Lombok itu merupakan situs pasraman kerohanian Mpu Kuturan.

Betapapun masih tebal teka-teki sosok Mpu Kuturan akibat anakronisme penzamanan dalam teks-teks pasca Bali Kuno, toh bisa dipastikan sosok yang dimaksud babad-babad itu adalah satu di antara pancatirta, lima mahampu suci keturunan Hyang Gnijaya. Mpu Kuturan ini bersaudara kandung dengan Mpu Gana, Mpu Sumeru, Mpu Gnijaya, dan punya adik bungsu, Mpu Baradah.

Mpu Kuturan dengan Mpu Baradah ini kelak juga berbesanan, karena putra Mpu Baradah, bernama Mpu Bahula, menikah dengan Ratna Manggali, putri tunggal Mpu Kuturan. Dari perkawinan ini lahirlah Mpu Tantular, penggubah kakawin Sutasoma pada abad ke-14 yang melahirkan konsep original “bhinneka tunggal ika” dan “pancasila” —dua konsep pemersatu jenius yang oleh para pendiri bangsa Indonesia enam abad kemudian (tahun 1945) masing-masing dijadikan sebagai sesanti dan dasar negara. Mpu Tantular inilah kelak menurunkan Danghyang Siddhimantra, Danghyang Panawasikan, Danghyang Kepakisan, dan Danghyang Smaranatha. Danghyang Smaranatha kelak menurunkan Danghyang Nirarta dan Danghyang Angsoka.

Deretan aliran genetik itu menjadi memikat hati manakala teks-teks babad mencatatkan: Silayukti menjadi pusat pelabuhan denyut kerohanian dan kesucian Bali yang penting dan strategis. Setelah Mpu Kuturan berpasraman di sana, tersurat kemudian empat mpu saudaranya yang lain juga kerap singgah ke Silayukti. Silayukti bahkan disebut-sebut dalam babad-babad sebagai pintu pelabuhan masuk pertama para tokoh suci itu di Bali sedatang dari tanah Jawa. Dari sini disebutkan para mpu ini melanjutkan perjalanan dan tugas suci ke Dasarbuwana di Gelgel, lalu Besakih, berlanjut ke Lampuyang. Dari Silayukti ini pula disebut-sebut para mpu bersaudara itu meninggalkan gumi Bali menuju tanah Jawa. Jalur masuk-keluar Bali-Jawa demikian masih berlanjut semasa generasi putra-putra sang mpu pancatirta ini. Saban kali akan menggelar upacara di kahyangan-kahyangan penting di Bali, saptarsi, tujuh putra Mpu Gnijaya, atawa keponakan Mpu Kuturan-Baradah juga mendarat dari tanah Jawa di Silayukti. Tapi, dalam kisah-kisah kedatangan tokoh-tokoh suci lain ke Bali, seperti Rsi Markandya, Danghyang Siddhimantra, lalu nun jauh belakangan Danghyang Nirarta, pintu masuk dari Jawa ke Bali itu disebutkan justru di sisi barat Bali, bukan Silayukti di Teluk Padang, sisi timur Bali. Bagaimanakah “pergeseran” ini terjadi? Makna apakah bisa ditangkap dari “pergeseran” itu?

Apa pun jawaban ditemukan kemudian, kehadiran Silayukti dalam peta situs kantung-kantung kerohanian Bali tetaplah penting, strategis, dan penuh makna. Dari sinilah pada zamannya, nun sekitar seribu tahun lampau, Mpu Kuturan mengalirkan benih-benih kesucian ke seantero gumi Bali. Bisa dibayangkan betapa sang mpu jenius ini saban hari menyapa sang Fajar Matahari sumber mahasumber energi semesta raya seisinya dengan ritus penyambutan gaya pasraman kuno, sejak matahari masih terasa di bawah garis air laut Selat Lombok di sisi timur. Lalu, saban sore melepas matahari sama melenyap ke balik kaki langit di sisi sebelah barat Bukit Silayukti.
Kesetiaan menyambut lalu melepas sang matahari sumber mahasumber energi seperti dilakonkan Mpu Kuturan itu terang merupakan laku hidup yang sebenar-benarnya mulia. Mudah dimengerti bila lokasi pasraman sang mpu dinamakan Silayukti, karena di sana memang dilakonkan perilaku hidup mendasar (sila) yang memang benar-benar mulia dan benar (yukti). Mudah pula dipahami, betapa nama Teluk Padang itu diberikan sebagaimana diniatkan sang mpu: bahwa betapa dengan dan dari sila yang yukti itu segalanya menjadi benderang, terterangi, tercerahkan, dan bersinar. Kata padang memang mengingatkan pada kata galang apadang, yang berarti terang, terang-terangan, jelas, bersih, cemerlang, jernih, sinar, sekaligus juga cahaya.

Getaran rasa dan makna apakah bisa ditangkap manakala babad-babad menyuratkan Mpu Kuturan yang juga purohita Raja Bali Udayana di abad ke-11 berdialog sepanjang hari sekaligus saling uji ke-ajnyanan dengan Mpu Baradah, purohita Raja Jawa Timur Airlangga, di puncak Bukit Gunung Silayukti? Lalu, lima abad berselang Danghyang Nirarta, sebagai generasi keempat setelah Mpu Kuturan-Baradah, juga mendatangi Bukit Silayukti di Teluk Padang, ketika menjejakkan kaki di gumi Bali. Kelak, Mpu Nirarta ini pun dikenal sebagai purohita Raja Keturunan Majapahit di Gelgel, Dalem Waturenggong —sebelum menyeberang ke tanah gora Lombok hingga ke bumi madu Sumbawa.

Maka, seonggok tanah membentuk Bukit Silayukti itu sesungguhnyalah merekam dialog kesucian, dialog kerohanian nan cemerlang, jernih, bersinar, penuh cahaya tiga purohita, pendeta kerajaan, dari satu alir bening genetik, satu garis silsilah, meskipun bergerak dalam ruang dan waktu berbeda. Bangunan suci pura yang saling berhadap-hadapan dalam lintasan arah kangin-kauh (timur-barat, arah lintasan matahari kewaktuan) dengan arah kaja-kelod (utara-selatan, arah holistik siklus gunung-laut keruangan) seakan mengingatkan sang mahampu yang penuh energi duduk melingkar, berhadap-hadapan, memperbincangkan ajaran susastra-agama kerohanian, kesucian, sila yukti melampaui batas zaman. Di bawah, deburan ombak sambung-menyambung membentur kaki bukit, jukung-jukung nelayan melayar di tengah samudra lepas Selat Lombok.

Begitulah, Mpu Kuturan hingga kini dicatat berjaber-sila yukti dengan mendesain utuh-menyeluruh Bali lewat tata sosial desa pakraman, tata keagamaan kahyangan tiga desa, meru, dll. dengan tata aturan jelas dan tegas. Mpu Baradah ber-sila yukti mendesain Daha menjadi Jenggala dan Kadiri, menundukkan ego-destruktif Calonarang Rangdeng Dirah, besannya, istri Mpu Kuturan. Kedatangan Mpu Baradah di Bali pun direkam otentik dalam prasasti di Pura Batumadeg (Besakih) dan Pura Gaduh Sakti (Selat, Karangasem) dengan candra sangkala nawa sanga hapit lawang, 929 Saka, atau 1007 Masehi.

Adapun Mpu Nirarta lima abad kemudian menyempurnakan memformulasikan ulang konsepsi Trimurti Bali dari meru ke Kemahaesaan Tuhan dalam wujud yantra padmasana, tanpa meniadakan tatanan desain Mpu Kuturan. Dialog zaman terus-menerus yang yukti, karena itu, amat mungkin menghasilkan pembaharuan dan perubahan jernih, jelas, terang, menyegarkan, mencerahkan, bahkan bersinar cemerlang.

Kini terasa benar, betapa Bali amat sangat perlu keteladanan sila yukti yang beneh, saja, sekaligus seken. B-A-L-I sepatutnya berarti: Beneh/becik, Alep/alus/adung/anut/ajeg/awig, Luih/luung, Inget; bukan malah sebaliknya: Beler/belog/bogbog/bangga, Ajum/aag/ajeng/awag, Lengeh/letuh/layah/lengit, Inguh/ibuk/injun. Dari Silayukti di Teluk Padang, pelajaran dialog semangat zaman itu sepatutnya ditimba, tiada henti, agar Bali tak berkeping-keping ke dalam kotak-kotak kecil berantakan. Bila salah tafsir pemaknaan, padang memang bisa berarti binasa, porak poranda. Itu berarti Bali bukan jegjeg, lalu ajeg, melainkan habis ajeng. Pasti bukan itulah maksud Mpu Kuturan berpasraman silayukti di Teluk Padang.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar