Kamis, 02 April 2009


MENELISIK MISTERI SABDO PALON DAN SIAPAKAH BELIAU SUJAKTINING?
Dalam upaya menelisik misteri siapa sejatinya Sabdo Palon, saya mengawali dengan mengkaji Serat Darmagandhul dan ramalan Sabdo Palon. Di sini tidak akan dipersoalkan siapa yang membuat karya-karya tersebut untuk tidak menimbulkan banyak perdebatan. Karena penjelasan secara akal penalaran amatlah rumit, namun dengan pendekatan spiritual dapatlah ditarik benang merahnya yang akan membawa kepada satu titik terang. Dan ini akhirnya dapat dirunut secara logika historis.

Menarik memang di dalam mencari jawab tentang siapakah Sabdo Palon ? Karena kata Sabdo Palon Noyo Genggong sebagai penasehat spiritual Prabu Brawijaya V (memerintah tahun 1453 – 1478 ) tidak hanya dapat ditemui di dalam Serat Darmagandhul saja, namun di dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo (1135 –1157) juga telah disebut-sebut, yaitu bait 164 dan 173 yang menggambarkan tentang sosok Putra Betara Indra sbb :

164. …; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho;
ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong.
(…; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda; tajamnya tritunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong)

173. nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan;
para kawula padha suka-suka;
marga adiling pangeran wus teka;
ratune nyembah kawula;
angagem trisula wedha;
para pandhita hiya padha muja;
hiya iku momongane kaki Sabdopalon;
sing wis adu wirang nanging kondhang;
genaha kacetha kanthi njingglang;
nora ana wong ngresula kurang;
hiya iku tandane kalabendu wis minger;
centi wektu jejering kalamukti;
andayani indering jagad raya;
padha asung bhekti.
(menyerang tanpa pasukan;
bila menang tak menghina yang lain;
rakyat bersuka ria;
karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; 
raja menyembah rakyat;
bersenjatakan trisula wedha;
para pendeta juga pada memuja;
itulah asuhannya Sabdopalon;
yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur;
segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan;
itulah tanda zaman kalabendu telah usai;
berganti zaman penuh kemuliaan;
memperkokoh tatanan jagad raya;
semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi) Serat Darmagandhul;
Memahami Serat Darmagandhul dan karya-karya leluhur kita dibutuhkan kearifan dan netralitas yang tinggi, karena mengandung nilai kawruh Jawa yang sangat tinggi. Jika belum matang beragama maka akan muncul sentimen terhadap agama lain. Tentu ini tidak kita kehendaki. Tiada maksud lain dari saya kecuali hanya ingin mengungkap fakta dan membedah warisan leluhur dari pendekatan spiritual dan historis.

Dalam serat Dharmagandhul ini saya hanya ingin menyoroti ucapan-ucapan penting pada pertemuan antara Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon di Blambangan. Pertemuan ini terjadi ketika Sunan Kalijaga mencari dan menemukan Prabu Brawijaya yang tengah lari ke Blambangan untuk meminta bantuan bala tentara dari kerajaan di Bali dan Cina untuk memukul balik serangan putranya, Raden Patah yang telah menghancurkan Majapahit. Namun hal ini bisa dicegah oleh Sunan Kalijaga dan akhirnya Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Karena Sabdo Palon tidak bersedia masuk agama Islam atas ajakan Prabu Brawijaya, maka mereka berpisah. Sebelum perpisahan terjadi ada baiknya kita cermati ucapan-ucapan berikut ini :

Sabdo Palon :
“Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. … Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, …”

(“Paduka sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilangan jawa-nya), kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol, saya mau mencari asuhan yang bermata satu (memiliki prinsip/aqidah yang kuat), tidak senang mengasuh paduka. … Kalau paduka tidak percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya (Semar) itu saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua adalah saya, …”)

Ucapan Sabdo Palon ini menyatakan bahwa dia sangat malu kepada bumi dan langit dengan keputusan Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Gambaran ini telah diungkapkan Joyoboyo pada bait 173 yang berbunyi :

“…, hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; …”
(“…, itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; …”).
Dalam ucapan ini pula Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah sebenarnya yang dikatakan dalam kawruh Jawa dengan apa yang dikenal sebagai “Manik Maya” atau “Semar”.
“Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane mênyang ngêndi,
ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nêtêpi jênênge Sêmar,
nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. …..”
(“ Sabdo Palon menyatakan akan berpisah, begitu ditanya perginya kemana, jawabnya tidak pergi, akan tetapi tidak bertempat di situ, hanya menetapkan namanya Semar, yang meliputi segala wujud, membuatnya samar. …..”)

Sekali lagi dalam ucapan ini Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah yang bernama Semar. Bagi orang Jawa yang berpegang pada kawruh Jawa pastilah memahami tentang apa dan bagaimana Semar. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa Semar adalah merupakan utusan gaib Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Kuasa) untuk melaksanakan tugas agar manusia selalu menyembah dan bertaqwa kepada Tuhan, selalu bersyukur dan eling serta berjalan pada jalan kebaikan. Sebelum manusia mengenal agama, keberadaan Semar telah ada di muka bumi. Beliau mendapat tugas khusus dari Gusti Kang Murbeng Dumadi untuk menjaga dan memelihara bumi Nusantara khususnya, dan jagad raya pada umumnya. Perhatikan ungkapan Sabdo Palon berikut ini :

Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi, ….. ….., dumugi sapriki umur-kula sampun 2.000 langkung 3 taun, momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, …..”

(Sabdo Palon berkata sedih: “Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun temurun sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-raja Jawa, ….. ….., sampai sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, …..”)

Ungkapan di atas menyatakan bahwa Sabdo Palon (Semar) telah ada di bumi Nusantara ini bahkan 525 tahun sebelum masehi jika dihitung dari berakhirnya kekuasaan Prabu Brawijaya pada tahun 1478. Saat ini di tahun 2007, berarti usia Sabdo Palon telah mencapai 2.532 tahun. Setidaknya perhitungan usia tersebut dapat memberikan gambaran kepada kita, walaupun angka-angka yang menunjuk masa di dalam wasiat leluhur sangat toleransif sifatnya. Di kalangan spiritualis Jawa pada umumnya, keberadaan Semar diyakini berupa “suara tanpa rupa”.

Namun secara khusus bagi yang memahami lebih dalam lagi, keberadaan Semar diyakini dengan istilah “mencolo putro, mencolo putri”, artinya dapat mewujud dan menyamar sebagai manusia biasa dalam wujud berlainan di setiap masa.
Namun dalam perwujudannya sebagai manusia tetap mencirikan karakter Semar
sebagai sosok “Begawan atau Pandhita”. Hal ini dapat dipahami karena dalam
kawruh Jawa dikenal adanya konsep “menitis” dan “Cokro Manggilingan”.
Dari apa yang telah disinggung di atas, kita telah sedikit memahami bahwa
Sabdo Palon sebagai pembimbing spiritual Prabu Brawijaya merupakan sosok Semar
yang nyata. Menurut Sabdo Palon dalam ungkapannya dikatakan :
“…, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun
pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên
ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah
Jawi, langgêng salaminipun.”
(“…, apakah paduka lupa terhadap nama saya
Sabdo Palon? Sabda artinya kata-kata, Palon
adalah kayu pengancing kandang, Naya artinya pandangan,
Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba itu
berlaku sebagai pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”)
Seperti halnya Semar telah banyak dikenal sebagai pamomong sejati yang selalu
mengingatkan bilamana yang di”emong”nya salah jalan, salah berpikir atau salah
dalam perbuatan, terlebih apabila melanggar ketentuan-ketentuan Tuhan Yang Maha
Esa. Semar selalu memberikan piwulangnya untuk bagaimana berbudi pekerti luhur
selagi hidup di dunia fana ini sebagai bekal untuk perjalanan panjang berikutnya
nanti. Jadi Semar merupakan pamomong yang “tut wuri handayani”, menjadi
tempat bertanya karena pengetahuan dan kemampuannya sangat luas, serta memiliki
sifat yang bijaksana dan rendah hati juga waskitho (ngerti sakdurunge
winarah). Semua yang disabdakan Semar tidak pernah berupa “perintah untuk
melakukan” tetapi lebih kepada “bagaimana sebaiknya melakukan”. Semua keputusan
yang akan diambil diserahkan semuanya kepada “tuan”nya. Semar atau Kaki Semar
sendiri memiliki 110 nama, diantaranya adalah Ki Sabdopalon, Sang Hyang Ismoyo,
Ki Bodronoyo, dan lain-lain.
Di dalam Serat Darmogandhul diceritakan episode perpisahan antara Sabdo Palon
dengan Prabu Brawijaya karena perbedaan prinsip. Sebelum berpisah Sabdo Palon
menyatakan kekecewaannya dengan sabda-sabda yang mengandung prediksi tentang
sosok masa depan yang diharapkannya. Berikut ungkapan-ungkapan itu :
“….. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha,
turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa
sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang
mangrêti.”
(“….. Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam,
meninggalkan agama Budha, keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang
memahami kawruh Jawa) tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya
hilang, suka ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin
oleh orang Jawa (Jawi) yang mengerti.”
“….. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng
tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang
wêruha marang bênêr luput.”
(“….. Sang Prabu diminta memahami,
suatu saat nanti kalau ada orang Jawa menggunakan nama tua (sepuh),
berpegang pada kawruh Jawa, yaitulah yang diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan
(yang telah kehilangan Jawa-nya) akan diajarkan agar bisa
melihat benar salahnya.”)
Dari dua ungkapan di atas Sabdo Palon mengingatkan Prabu Brawijaya bahwa
suatu ketika nanti akan ada orang Jawa yang memahami kawruh Jawa (tiyang Jawi)
yang akan memimpin bumi nusantara ini. Juga dikatakan bahwa ada saat nanti
datang orang Jawa asuhan Sabdo Palon yang memakai nama sepuh/tua (bisa jadi
“mbah”, “aki”, ataupun “eyang”) yang memegang teguh kawruh Jawa akan mengajarkan
dan memaparkan kebenaran dan kesalahan dari peristiwa yang terjadi saat itu dan
akibat-akibatnya dalam waktu berjalan. Hal ini menyiratkan adanya dua sosok di
dalam ungkapan Sabdo Palon tersebut yang merupakan sabda prediksi di masa
mendatang, yaitu pemimpin yang diharapkan dan pembimbing spiritual (seorang
pandhita). Ibarat Arjuna dan Semar atau juga Prabu Parikesit dan Begawan
Abhiyasa. Lebih lanjut diceritakan :
“Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging
wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana
banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina
jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah
Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah
sabrang.”
(“Sang Prabu berkeinginan merangkul Sabdo Palon dan
Nayagenggong, namun orang dua itu kemudian raib. Sang Prabu heran dan bingung
kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga : “Gantilah nama Blambangan menjadi
Banyuwangi, jadikan ini sebagai tanda kembalinya Sabda Palon di tanah Jawa
membawa asuhannya. Sekarang ini Sabdo Palon masih berkelana di tanah
seberang.”)
Dari kalimat ini jelas menandakan bahwa Sabdo Palon dan Prabu Brawijaya
berpisah di tempat yang sekarang bernama Banyuwangi. Tanah seberang yang
dimaksud tidak lain tidak bukan adalah Pulau Bali. Untuk mengetahui lebih lanjut
guna menguak misteri ini, ada baiknya kita kaji sedikit tentang Ramalan Sabdo
Palon berikut ini.
Ramalan Sabdo Palon
Karena Sabdo Palon tidak berkenan
berganti agama Islam, maka dalam naskah Ramalan Sabdo Palon ini diungkapkan
sabdanya sbb :
3.
Sabda Palon matur sugal, “Yen kawula boten arsi, Ngrasuka agama
Islam, Wit kula puniki yekti, Ratuning Dang Hyang Jawi, Momong marang anak putu,
Sagung kang para Nata, Kang jurneneng Tanah Jawi, Wus pinasthi sayekti kula
pisahan.
(Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang
Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini
yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus
berpisah.)
4.
Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Mung kula matur
petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep
gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami, Gama Buda
kula sebar tanah Jawa.
(Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula
saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan
mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah
Jawa.)
5.
Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekken
putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen durung lebur atempur,
Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili
lahar.
(Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi
makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya
hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila
kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.)
6.
Ngidul ngilen purugira, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika
medal kula, Wus nyebar agama budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu,
Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging kalamunta
kaowahan.
(Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap.
Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh
Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa
segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.)
7.
Sanget-sangeting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sinengkalan
tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, Upami nyabrang kali, Prapteng
tengah-tengahipun, Kaline banjir bandhang, Jerone ngelebne jalmi, Kathah sirna
manungsa prapteng pralaya.
(Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa
ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah
datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya
menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.)
8.
Bebaya ingkang tumeka, Warata sa Tanah Jawi, Ginawe kang paring
gesang, Tan kenging dipun singgahi, Wit ing donya puniki, Wonten ing
sakwasanipun, Sedaya pra Jawata, Kinarya amertandhani, Jagad iki yekti ana kang
akarya.
(Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah
kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya.
Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.)
Dari bait-bait di atas dapatlah kita memahami bahwa Sabdo
Palon menyatakan berpisah dengan Prabu Brawijaya kembali ke asal mulanya. Perlu
kita tahu bahwa Semar adalah wujud manusia biasa titisan dewa Sang Hyang Ismoyo.
Jadi ketika itu Sabdo Palon berencana untuk kembali ke asal mulanya adalah alam
kahyangan (alam dewa-dewa), kembali sebagai wujud dewa, Sang Hyang Ismoyo.
Lamanya pergi selama 500 tahun. Dan kemudian Sabdo Palon menyatakan janjinya
akan datang kembali di bumi tanah Jawa (tataran nusantara) dengan tanda-tanda
tertentu. Diungkapkannya tanda utama itu adalah muntahnya lahar gunung Merapi ke
arah barat daya. Baunya tidak sedap. Dan juga kemudian diikuti bencana-bencana
lainnya. Itulah tanda Sabdo Palon telah datang. Dalam dunia pewayangan keadaan
ini dilambangkan dengan judul: “Semar Ngejawantah”.
Mari kita renungkan sesaat tentang kejadian muntahnya lahar gunung Merapi
tahun lalu dimana untuk pertama kalinya ditetapkan tingkat statusnya menjadi
yang tertinggi : “Awas Merapi”. Saat kejadian malam itu lahar merapi keluar
bergerak ke arah “Barat Daya”. Pada hari itu tanggal 13 Mei 2006 adalah malam
bulan purnama bertepatan dengan Hari Raya Waisyak (Budha) dan Hari Raya Kuningan
(Hindu). Secara hakekat nama “Sabdo Palon Noyo Genggong” adalah simbol dua
satuan yang menyatu, yaitu : Hindu – Budha (Syiwa Budha). Di dalam Islam dua
satuan ini dilambangkan dengan dua kalimat Syahadat. Apabila angka tanggal,
bulan dan tahun dijumlahkan, maka : 1 + 3 + 5 + 2 + 6 = 17 ( 1 + 7 = 8 ). Angka
17 kita kenal merupakan angka keramat. 17 merupakan jumlah raka’at sholat lima
waktu di dalam syari’at Islam. 17 juga merupakan lambang hakekat dari “bumi sap
pitu” dan “langit sap pitu” yang berasal dari Yang Satu, Allah SWT. Sedangkan
angka 8 merupakan lambang delapan penjuru mata angin. Di Bali hal ini
dilambangkan dengan apa yang kita kenal dengan “Sad Kahyangan Jagad”. Artinya
dalam kejadian ini delapan kekuatan dewa-dewa menyatu, menyambut dan
menghantarkan Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon) untuk turun ke bumi. Di dalam
kawruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah sosok dewa yang dihormati oleh seluruh
dewa-dewa. Dan gunung Merapi di sini melambangkan hakekat tempat atau sarana
turunnya dewa ke bumi (menitis).
SIAPA SEJATINYA “SABDO PALON NOYO GENGGONG” ?
Setelah kita membaca dan memahami secara keseluruhan
wasiat-wasiat leluhur Nusantara yang ada di blog ini, maka telah sampai saatnya
saya akan mengulas sesuai dengan pemahaman saya tentang siapa sejatinya Sabdo
Palon Noyo Genggong itu. Dari penuturan bapak Tri Budi Marhaen Darmawan, saya
mendapatkan jawaban : “Sabdo Palon adalah seorang ponokawan Prabu Brawijaya,
penasehat spiritual dan pandhita sakti kerajaan Majapahit. Dari penelusuran
secara spiritual, Sabdo Palon itu sejatinya adalah beliau : Dang Hyang
Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru yang
akhirnya moksa di Pura Uluwatu.” (merinding juga saya mendengar nama
ini)
Dari referensi yang saya dapatkan, Dang Hyang Nirartha adalah anak dari Dang
Hyang Asmaranatha, dan cucu dari Mpu Tantular atau Dang Hyang Angsokanatha
(penyusun Kakawin Sutasoma dimana di dalamnya tercantum “Bhinneka Tunggal Ika”).
Danghyang Nirartha adalah seorang pendeta Budha yang kemudian beralih menjadi
pendeta Syiwa. Beliau juga diberi nama Mpu Dwijendra dan dijuluki Pedanda Sakti
Wawu Rawuh, beliau juga dikenal sebagai seorang sastrawan. Dalam Dwijendra
Tattwa dikisahkan sebagai berikut :
“Pada Masa Kerajaan Majapahit di Jawa
Timur, tersebutlah seorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau
dihormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui
ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi
masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu
dengan nama “Dharma Yatra”. Di Lombok Beliau disebut “Tuan Semeru” atau guru
dari Semeru, nama sebuah gunung di Jawa Timur.”
Dengan kemampuan supranatural dan mata bathinnya, beliau melihat benih-benih
keruntuhan kerajaan Hindu di tanah Jawa. Maksud hati hendak melerai pihak-pihak
yang bertikai, akan tetapi tidak mampu melawan kehendak Sang Pencipta, ditandai
dengan berbagai bencana alam yang ditengarai turut ambil kontribusi dalam
runtuhnya kerajaan Majapahit (salah satunya adalah bencana alam “Pagunungan
Anyar”). Akhirnya beliau mendapat petunjuk untuk hijrah ke sebuah pulau yang
masih di bawah kekuasaan Majapahit, yaitu Pulau Bali. Sebelum pergi ke Pulau
Bali, Dang Hyang Nirartha hijrah ke Daha (Kediri), lalu ke Pasuruan dan kemudian
ke Blambangan.
Beliau pertama kali tiba di Pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun caka
1411 atau 1489 M ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong.
Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan
paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa,
Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Dang Hyang Nirarta dijuluki pula Pedanda Sakti Wawu
Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem
Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta
kerajaan). Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang
kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur,
hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat
silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman
dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan
ditingkatkan. Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra
yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau
kekawin.
Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim
membimbing umat adalah : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Ulu watu, Bukit
Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok
Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari,
Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dan lain-lain.
Akhirnya Dang Hyang Nirartha menghilang gaib (moksa) di Pura Uluwatu. (Moksa =
bersatunya atman dengan Brahman/Sang Hyang Widhi Wasa, meninggal dunia tanpa
meninggalkan jasad).
Setelah mengungkapkan bahwa Sabdo Palon sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha,
lalu bapak Tri Budi Marhaen Darmawan memberikan kepada saya 10 (sepuluh) pesan
dari beliau Dang Hyang Nirartha sbb:
1. Tuwi ada ucaping haji, utama ngwangun tlaga, satus reka
saliunnya, kasor ento utamannya, ring sang ngangun yadnya pisan, kasor buin
yadnyane satus, baan suputra satunggal. ( bait 5 )
Ada sebenarnya ucapan
ilmu pengetahuan, utama orang yang membangun telaga, banyaknya seratus, kalah
keutamaannya itu, oleh orang yang melakukan korban suci sekali, korban suci yang
seratus ini, kalah oleh anak baik seorang.
2. Bapa mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani
ring kawitan, sang sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa, guru reka, guru
prabhu, guru tapak tui timpalnya. ( bait 6 )
Ayahnda memberitahumu
anakku, tata cara menjadi anak, jangan durhaka pada leluhur, orang yang disebut
guru, tiga banyaknya yang disebut guru, guru reka, guru prabhu, dan guru tapak
(yang mengajar) itu.
3. Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane
tong kaletehan, tong ada ngupet manemah, melah alepe majalan, batise twara
katanjung, bacin tuara bakat ingsak. ( bait 8 )
Lebih baik hati-hati
dalam berbicara, kepada semua orang, tak akan ternoda keturunannya, tak ada yang
akan mencaci maki, lebih baik hati-hati dalam berjalan, sebab kaki tak akan
tersandung, dan tidak akan menginjak kotoran.
4. Uli jani jwa kardinin, ajak dadwa nah gawenang, patut
tingkahe buatang, tingkahe mangelah mata, gunannya anggon malihat, mamedasin ane
patut, da jua ulah malihat. ( bait 10 )
Mulai sekarang lakukan,
lakukanlah berdua, patut utamakan tingkah laku yang benar, seperti menggunakan
mata, gunanya untuk melihat, memperhatikan tingkah laku yang benar, jangan hanya
sekedar melihat.
5. Tingkahe mangelah kuping, tuah anggon maningehang,
ningehang raose melah, resepang pejang di manah, da pati dingeh-dingehang,
kranannya mangelah cunguh, anggon ngadek twah gunanya. ( bait 11
)
Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar, mendengar
kata-kata yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua hal
didengarkan.
6. Nanging da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang
jua agrasayang, apang bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah mangucap, de
mangucap pati kacuh, ne patut jwa ucapang. ( bait 12 )
Jangan segalanya
dicium, sok baru dapat mencium, baik-baiklah caranya merasakan, agar bisa
melaksanakannya, kegunaan mulut untuk berbicara, jangan berbicara sembarangan,
hal yang benar hendaknya diucapkan.
7. Ngelah lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang
patute bakatang, wyadin batise tindakang, yatnain twah nyalanang, eda jwa
mangulah laku, katanjung bena nahanang. ( bait 13 )
Memiliki tangan
jangan usil, hati-hati menggunakan, agar selalu mendapat kebenaran, begitu pula
dalam melangkahkan kaki, hati-hatilah melangkahkannya, bila kesandung pasti kita
yang menahan (menderita) nya.
8. Awake patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren
ngertiang awak, waluya matetanduran, tingkahe ngardinin awak, yen anteng twi
manandur, joh pare twara mupuang. ( bait 14 )
Kebenaran hendaknya
diperbuat, agar menemukan keselamatan, jangan henti-hentinya berbuat baik,
ibaratnya bagai bercocok tanam, tata cara dalam bertingkah laku, kalau rajin
menanam, tak mungkin tidak akan berhasil.
9. Tingkah ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep
matetumbasan, masih ya nu mamilihin, twara nyak meli ne rusak, twah ne melah
tumbas ipun, patuh ring ma mwatang tingkah. ( bait 15 )
Pilihlah
perbuatan yang baik, seperti orang ke pasar, bermaksud hendak berbelanja, juga
masih memilih, tidak mau membeli yang rusak, pasti yang baik dibelinya, sama
halnya dengan memilih tingkah laku.
10. Tingkah ne melah pilihin, da manganggoang tingkah rusak,
saluire kaucap rusak, wantah nista ya ajinnya, buine tong kanggoang anak, kija
aba tuara laku, keto cening sujatinnya. ( bait 16 )
Pilihlah tingkah
laku yang baik, jangan mau memakai tingkah laku yang jahat, betul-betul hina
nilainya, ditambah lagi tiada disukai masyarakat, kemanapun di bawa tak akan
laku, begitulah sebenarnya anakku.
KESIMPULAN
Akhirnya bapak Budi Marhaen mengungkapkan bahwa dengan penelusuran secara
spiritual dapatlah disimpulkan :
”Jadi yang dikatakan “Putra Betara
Indra” oleh Joyoboyo, “Budak Angon” oleh Prabu
Siliwangi, dan “Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu” oleh
Ronggowarsito itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Sabdo
Palon, yang sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha/ Mpu
Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru.
Pertanyaannya sekarang adalah: Ada dimanakah beliau saat ini kalau dari
tanda-tanda yang telah nampak dikatakan bahwa Sabdo Palon telah datang ? Tentu
saja sangat tidak etis untuk menjawab secara vulgar persoalan ini. Sangat
sensitif. Karena ini adalah wilayah para kasepuhan suci, waskito, ma’rifat dan
mukasyafah saja yang dapat menjumpai dan membuktikan kebenarannya. Dimensi
spiritual sangatlah pelik dan rumit. Sabdo Palon yang telah menitis kepada
”seseorang” itu yang jelas memiliki karakter 7 (tujuh) satrio seperti yang telah
diungkapkan oleh R.Ng. Ronggowarsito, dan juga memiliki karakter Putra Betara
Indra seperti yang diungkapkan oleh Joyoboyo. Secara fisik ”seseorang” itu
ditandai dengan memegang sepasang pusaka Pengayom Nusantara hasil karya beliau
Dang Hyang Nirartha, yaitu : Pusaka Oumyang Majapahit (lambang Daya Atman) dan
Pusaka Sabdo Palon (Ki Rancak - lambang Daya Rohul Kudus). Pusaka tersebut
merupakan kata sandi (password) berkaitan dengan hakekat keberadaan
Pura Rambut Siwi sebagai pembuktiannya.”
Dapatlah dikatakan bahwa : Putra Betara Indra = Budak Angon = Satrio
Pinandhito Sinisihan Wahyu seperti yang telah dikatakan oleh para leluhur
nusantara di atas adalah sosok yang diharap-harapkan rakyat nusantara selama
ini, yaitu sosok yang dikenal dengan nama ”SATRIO PININGIT”. Banyak pendapat
yang berkembang di masyarakat luas selama ini dalam memandang dan memahami
isitilah ”Satrio Piningit”. Pemahamannya tentu bertingkat-tingkat sesuai dengan
kapasitas keilmuan masing-masing orang.
Satrio Piningit yang telah menjadi mitos selama perjalanan sejarah bangsa ini
memunculkan misteri tersendiri. Ia merupakan perbendaharaan rahasia bumi dan
langit yang teramat sulit ditembus oleh akal pikiran. Keberadaannya gaib namun
nyata. Bahkan para winasis waskita pun belum tentu mampu menembus aura
misterinya. Karena dalil yang berlaku seperti halnya dalam memandang Semar.
Orang yang hatinya kotor dan masih diliputi dengan berbagai hawa nafsu akan
sulit melihat Semar. Namun Semar dapat terlihat bagi orang yang hatinya
bersih/suci dan melakoni tirakat (tapaning ngaurip/tasawuf hidup)
sepanjang hidupnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak semua orang dapat
menjumpainya. Semua akan terfilter secara alamiah. Atau dengan bahasa lain, jika
seseorang telah mendapatkan hidayah Allah SWT maka dia dapat menjumpai Semar
yang pada hakekatnya adalah pancaran Cahaya Ilahiah itu sendiri. Walaupun tidak
menjumpainya namun daya-daya kehadirannya dapat dirasakan secara luas tanpa
disadari. Fenomena ini dilambangkan dalam cerita pewayangan ketika ”Semar
Ngejawantah” dan kemudian saatnya ”Semar Mbabar Diri” maka pecahlah peperangan
”Bharatayudha Jaya Binangun”. Perangnya kebaikan melawan keburukan. Di saat
inilah kita di jagad nusantara ini sedang memasuki dan menjalani fase
tersebut.
Hakekat Satrio Piningit menurut pandangan bapak Budi Marhaen adalah sosok
seorang ”Guru Sejati”. Sosok guru yang tidak menyebarkan
”ajaran ataupun agama baru” namun menebar kasih ke atas seluruh umat tanpa
membedakan golongan, bangsa, suku, maupun agama atau kepercayaan. Bukan sekedar
sosok Satrio Piningit atau Guru Sejati yang harus kita cari, akan tetapi yang
sangat hakiki adalah ”Kebenaran Sejati” yang harus dicari atau ditembus di dalam
dirinya. Maka dalam perjalanan tasawuf hal ini dikenal dengan dalil ”Man
arofa nafsahu faqad arofa robbahu” (kenalilah dirimu sendiri sebelum
mengenal Allah).
Sehingga kembali dalam konteks ”Satrio Piningit” yang sejatinya adalah Sabdo
Palon, terdapat suatu misteri kata sandi yang harus dipecahkan, yaitu : ”Di
balik SP (Satrio Piningit) terdapat 10 SP.” Angka 10 menyiratkan bahwa untuk
mencari yang 1 (satu = Esa), kita harus mengosongkan diri (0). Angka 0 dan 1
adalah bilangan digit (binary) yang melambangkan kalimah toyyibah : ”La
ilaha ilallah” (tiada Tuhan (0) selain Allah (1).
Dalam konteks ini bapak Budi Marhaen mengungkapkan rahasia sandi tersebut
(mbabar wadi) berdasarkan fenomena spiritual yang ditemuinya berkaitan
dengan sandi-sandi rahasia di dalam karya warisan leluhur nusantara :
Jadi, Satrio Piningit (SP) adalah :
1. seorang Satrio Pinandhito (SP)
2. yang sejatinya adalah Sabdo Palon (SP)
3. berlaku sebagai Sang Pamomong (SP)
4. dikenal juga dengan nama Semar Ponokawan (SP)
5. pemegang pusaka Sabdo Palon (SP)
6. berada di Semarang Pinggiran (SP)
7. tepatnya di daerah Semarang Podorejo (SP)
8. dimana terdapat Sendang Pancuran (SP)
9. dengan nama Sendang Pengasihan (SP)
10. dan Sendang Panguripan (SP)
Jika memang mendapatkan ridho dan hidayah Allah, maka beruntung jika dapat
menjumpainya. Setidaknya inilah jawaban dari apa yang telah diungkapkan oleh
bapak Budi Marhaen berkaitan dengan misteri ”Semarang Tembayat” yang tertulis di
dalam Serat Musarar Joyoboyo. Dibukanya misteri ini berkaitan dengan Sarasehan
Spiritual : Jalan Setapak Menuju Nusantara Jaya, di Semarang pada tanggal 20
Desember 2007 yang telah mencanangkan topik : ”REVOLUSI AKBAR SPIRITUAL
NUSANTARA”. Telah tiba saatnya Misteri Nusantara terkuak.
Dari apa yang telah saya ungkapkan sejauh ini mudah-mudahan membawa banyak
manfaat bagi kita semua, terutama hikmah yang tersirat dari wasiat-wasiat nenek
moyang kita, para leluhur Nusantara. Menjadi harapan kita bersama di tengah
carut-marut keadaan negeri ini akan datang cahaya terang di depan kita. Semoga
Allah ridho. Amin. dan JUga Ida Sang Hyang Widhi Wasa(BAgus Dwijayana)…
from(http://sabdopalon.wordpress.com/menelisik-misteri-sabdo-palon/)
( Nurahmad )
September 30th, 2008 at 2:47 am



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar