Senin, 22 Desember 2008

KUJANG SENJATA KHAS JAWA BARAT

Kujang Senjata Khas Jawa Barat 

Simbol Ketajaman dan Daya Kritis Pola Pikir

HAMPIR sebagian besar masyarakat Jawa Barat mengenal Kujang. Namun, tak banyak dari mereka yang dapat mengetahui secara mendalam latar sejarah ataupun simbol di balik Kujang. Kujang hanya dikenal sebatas sejenis senjata khas Sunda dengan bentuk yang meruncing. Selebihnya mungkin, Kujang hanya dikenal sebagai lambang pemerintah Provinsi Jawa Barat.
 
Bukan itu saja, meski masyarakat Jawa Barat meyakini Kujang sebagai simbol dari sebuah kebesaran masyarakat Sunda dan cenderung dipandang memiliki kekuatan magis, tak banyak literatur yang memberi penjelasan tentang perkakas ini. Beruntunglah, SundaNet.com sebagai satu-satunya portal kesundaan yang cukup eksis dapat memberikan informasi tersebut. 

Sehingga keterbatasan mengenai informasi tersebut dapat dijembatani oleh sebuah ruang maya yang tak lagi berbatas ruang dan waktu. 

Lambang Jawa Barat

Kujang menurut SundaNet.com adalah sebuah senjata unik baik dari segi bentuk maupun kesejarahannya. Kujang secara umum telah diakui sebagai milik asli Sunda. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, ataupun cindera mata. Lebih dari itu Kujang adalah lambang Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat. Apa sebenarnya yang istimewa dari Kujang? Mengapa ia dikesankan sakral dan memiliki daya magis? Mengapa Jawa Barat memilih Kujang sebagai lambang dan bukan benda lain? Beberapa pertanyaan itu menarik untuk dikaji lebih jauh. Walau tak banyak sumber (literatur) yang dapat memberikan informasi tentang itu.

Meski demikian, data ataupun informasi tentang Kujang beberapa di antaranya tercantum dalam Pantun Bogor, Wawacan Terah Pasundan, Keris and Other Weapon of Indonesia, termasuk sumber-sumber lisan di wilayah Bandung, Sukabumi, Panjalu (Ciamis), Sumedang, Cirebon, dan Garut. 

Data tertulis lainnya dapat diperoleh dari Anis Djatisunda, seorang peneliti lapangan ahli Kanekes yang tinggal di Sukabumi. Anis telah menyusun makalah (1996) berjudul "Kujang Menurut Berita Pantun Bogor" yang disiapkannya untuk sebuah gatrasawala mengenai kujang tetapi batal dilaksanakan. Keterangan lain dapat diperoleh dari buku Wacana Nonoman Terah Pasundan karangan Kadar Rohmat dan H.S. Ranggawulya. Data ini diperoleh dari buku Keris and Orther Weapons of Indonesia karangan Mubirman, Profil Propinsi Republik Indonesia (Jawa Barat), dan Pengabdian DPRD DT. I Jabar yang ketiganya ditemukan di perpustakaan Pemda Jabar. 

Sementara brosur dari Gosali Pamor Siliwangi pimpinan Bayu S. Hidayat dapat menjadi pelengkap, sebab perajin Tosan Aji adalah seorang yang secara sadar berniat melestarikan kujang sebagai cindera mata yang berkelas. Dari tulisan Baju diperoleh informasi mengenai teknik pembuatan kujang yang sudah menggunakan teknologi muktahir. 

Tajam dan kritis

Bila merujuk pada uraian SundaNet.com, maka dapat ditarik satu benang merah bahwa Kujang merupakan sebuah perkakas yang notabene mereflesikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan. Utamanya pada saat diterapkan sebagai lambang Jawa Barat, Kujang menjadi sebuah simbol bahwa masyarakat Jawa Barat (Sunda) adalah masyarakat yang juga tajam dan kritis dalam memandang dan menjalani setiap perjalanan kehidupannya. 

Melihat pada bentuk, fungsi, dan "sertifikasi" para pemakai alat ini, membuktikan Kujang bukanlah semata-mata perkakas biasa. Tetapi sebuah senjata khas yang peruntukannya hanya digunakan oleh orang-orang tertentu dengan kriteria-kriteria tertentu. Alih-alih demikian, maka dapat ditafsirkan, bahwa masyarakat Jawa Barat dengan Kujang sebagai pelambangnya adalah sebuah masyarakat yang gagah berani, dan bukan orang sembarangan ataupun orang kebanyakan. Baik itu dalam karakter individu maupun kolektif masyarakat Kesundaan. Seperti yang terkandung dalam filosofi pangadegna.

Bukan itu saja, dengan Kujang sebagai pelambang, masyarakat Sunda maupun masyarakat internasional lainnya dapat mengetahui sebuah alur penelusuran sejarah tentang kerajaan Pajajaran. Seperti dalam tulisan-tulisan tentang Kujang yang menyuratkan ataupun menyiratkan tentang itu. Sebuah "jalan" yang tentu saja memerlukan penguatan, dukungan, serta analisis terhadap sumber-sumber lainnya tentang Kujang. Sehingga lewat Kujang tergerak semacam upaya penelusuran asal usul. Terlebih Kujang tidak saja dikenal sebagai senjata khas Sunda ataupun cindera mata 

dari sebuah gift shop yang dibeli saat meninggalkan Parahyangan tetapi juga sebuah lambang masyarakat bernama Jawa Barat. Lambang Masyarakat Sunda. 

Kelompok Tertentu

Sekalipun Kujang identik dengan keberadaan kerajaan Pajajaran pada masa silam, namun berita Pantun Bogor (PB) tidak menjelaskan alat itu dipakai oleh seluruh masyarakat Sunda secara umum. Perkakas ini hanya digunakan kelompok tertentu seperti para raja, prabu anom, golongan pangiwa, panengen, golongan agamawan, para putri serta golongan kaum wanita tertentu, dan para kokolot. Sedangkan rakyat biasa menggunakan perkakas-perkakas lain seperti golok, congkrang, sinduk, dan sebagainya. Kalaupun ada yang menggunakan Kujang, sebatas jenis pemangkas untuk keperluan berladang. 

Setiap pemakai Kujang, mempunyai konvensi pembagian bentuk. Hal tersebut ditentukan status sosial masing-masing. Bentuk Kujang untuk raja tidak akan sama dengan Kujang Balapati atau barisan pratulap dan seterusnya. Melalui pembagian tersebut akan tergambar tahapan fungsi para pejabat yang tertera dalam struktur jabatan Pemerintahan Negara Pajajaran Tengah, seperti Raja, Lengser dan Brahmesta, Prabu Anom, Bojapati; Bopati Panangkes atau Balapati, Geurang Seurat, Bopati Pakuan diluar Pakuan; Patih termasuk Patih Tangtu dan Mantri Paseban; Lulugu; Kanduru; Sambilan; Jero termasuk Jero Tangtu; Bareusan,guru, Pangwereg dan Kokolot. 

Jabatan Prabu Anom sampai Berusan, Guru juga Pangwereg, tergabung di dalam golongan Pangiwa dan Panengen. Tetapi dalam pemakaian Kujang ditentukan oleh kesejajaran tugas dan fungsinya masing-masing, seperti Kujang Ciung Mata-9 dipakai hanya oleh raja.

Sumuhun

langitbiru


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar